Tasawuf Syiah : Pengertian, Konsep, dan Ajarannya

ads

Syiah merupakan salah  satu aliran, mahdzab, yang sangat berkaitan erat dengan masalah perpolitikan juga sejarah islam di masa lalu. Pada dasarnya syiah menolak dan tidak mengakui kekhalifahan yang dipegang oleh sahabat-sahabat terdahulu nabi, yaitu Abu bakar, Umar Bin Khattab, dan Usman Bin Affan. Mereka lebih mengakui akan keimaman keluarga Nabi, salah satunya yang dianggap sebagai pengganti nabi adalah Ali. Untuk itu, Ali dianggap sebagai imam besar dalam syiah.

Dalam sejarah, syiah dilatarbelakangi oleh para pengikut Ali, walaupun Ali tak berkehendak seperti apa yang akan terjadi di zaman ini. Mereka meyakini bahwa Nabi memilih Ali sebagai penggantinya dan bukan sahabat-sahabat yang lain. Mereka menganggap bahwa keturuan dan keluarga Nabi adalah orang-orang yang suci dan terpilih. Mereka disebut dengan Ahlul Bait.

Konsep Ajaran Syiah

Ajaran syiah dan pemikirannya memiliki karakteristik tersendiri dengan beberapa point-point penting. Syiah memiliki banyak sekali sekte dan satu sama lain juga sangat berbeda. Namun ada beberapa yang menjadi poin penting dan kesamaan di beberapa sekte yang ada tersebut. Berikut adalah penjelasan mengenai pemikiran syiah secara substantif.

  1. Ahlul Bait adalah Yang Layak Melanjutkan Kepemimpinan Nabi

Kelompok syiah meyakini bahwa keluarga Nabi atau keturunan Nabi adalah orang yang paling pantas untuk menjadi imam umat muslim. Mereka yakin bahwa ahlul bait dijaa kesuciannya oleh Allah, untuk itu sangat pantas jika menggantikan Nabi. Mereka menggap juga bahwa Nabi adalah guru terbaik yang keturunannya juga akan mewarisi hal tersebut.

  1. Imam Ali adalah Pemimpin Pengganti Nabi

Kelompok syiah berpendapat bahwa Ali Bin Abi Thalib yang menjadi sepupu dari Rasulullah dan ahlul bait lainnya merupakan penerus nabi yang paling cocok. Untuk itu dalam hal ini syiah mengalami konflik politik sejak dulu kala dengan orang-orang sunni. Orang-orang syiah tidak sepakat bahwa sahabat-sahabat Rasul layak menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad.

Selain itu, orang Syiah meyakini bahwa sebelum meninggal, Nabi Muhammad menunjuk Ali untuk menjadi pemimpin. Hal ini berdasar hadist yang juga masih dalam perdebatan dengan orang-orang sunni. Akhirnya permasalahan ini tidak kunjung selesai dan berakhir konflik panjang dengan orang-orang sunni.

  1. Imamah – Kepemimpinan Illahi

Masalah imamah atau kepemimpinan adalah hal yang paling sering dibahas dan cukup penting bagi pemeluk syiah. Hal ini juga yang menjadikan syiah menjadi berbagai macam sekte atau aliran. Tentunya perbedaan pandangan ini juga berakibat pada konflik yang tajam terutama ketika sudah masuk pada masalah penafsiran Al-Quran, Sunnah, Sahabat, dan segala hal yang berkenaan dengan dasar atau sumber pemahaman islam (epistemologi islam).

Ajaran Tasawuf Syiah

Dalam Tasawuf Syi atau Tasawuf syiah terdapat dua terminologi yaitu tasawuf falsafi dan tasawuf amali. Hal ini memiliki perbedaan dan tentunya memiliki fungsi tersendiri bagi pemeluk syiah.

  1. Tasawuf Falsafi

Tasawuf falsafi memiliki penekanan pada masalah filosofis atau dengan pendekatan filsafat. Tasawuf falsafi juga berkenaan dengan masalah cinta, ma;rifah, hulul, wihdatul, dan lain sebagainya. Selain itu tasawuf juga sering disebut dengan tasawuf spekulatif dikarenakan hasil pemikirannya yang masih bersifat spekulatif.

  1. Tasawuf Amali

Berbeda dengan tasawuf falsafi. Tasawuf amali bertujuan untuk meninggikan amalan atau akhlak manusia. Imam Al Ghazali adalah tokoh dari Tasawuf Amali ini. Dalam hal ini Imam Ghazali berpendapat bahwa ibadah, harus memiliki makna terdalam, dan hal ini adalah soal tasawuf. Imam Aghazalli juga berpendapat bahwa ibadah tidak hanya dilakukan karena ingin memenuhi kebutuhan. Shalat harus dipahmi tujuannya tersendiri yang paling dalam. Jika tidak tentu tidak akan dapat mencapai tujuan.

Sponsors Link

  1. Menurut Pendapat Ulama

Imam Ayatullah Khoeimeni menekankan juga masalah falsafi dan amali. Imam ayatullah khomeini berkomentar bahwa dalam masalah tasawuf tidak ada perbedaan antara sunni dan syiah. Hal ini karena keduanya sama-sama membahas mengenai Tasawuf Falsafi dan Tasawuf Amali. Namun, secara umum banyak orang syiah yang menggunakan Tasawufnya dengan pendekatan Al Gahzali.

Perbedaan dengan sunni lainnya adalah persoalan mengenai fiqh. Salah satu fiqh yang menjadi perdebatan dan pertentangan adalah kawin mut’ah atau kawin kontrak. Namun, tidak semua syiah menyepakitnya dan ada banyak juga yang menolak. Fiqh ja’fari memberikan peluang untuk hal tersebut,namun dengan syarat yang pastinya sangat berat. Tentu tidak mudah untuk dilakukan. Hanya kasus darurat istimewa saja kawin mut’ah ini diperbolehkan oleh islam atau para ulama.

Menguji Pemikiran Syiah dan Tasawuf

Ada banyak sekali pemikiran syiah dan tasawuf yang berkembang. Tentunya tidak hanya satu jenis atau satu aliran saja. Untuk itu perlu kiranya umat muslim dan seluruh penganut pemikiran syiah memahami bahwa tidak asal langsung membenarkan saja apa yang disampaikan. Tentu dalam menjalankan agama islam harus kembali kepada tuntunan al-quran dan sunnah rasul serta metode yang benar dalam memahaminya.

Sponsors Link

Untuk mengujinya maka umat islam harus Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam .

Selain itu, umat islam juga harus selalu menilai apakah pemikiran atau aliran tasawuf syiah ini sesuai dengan rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia . Hal ini dikarenakan apa yang disampaikan manusia tidak seluruhnya benar dan bisa dibenarkan. Manusia sangat banyak memiliki kekurangan dalam menafsirkan dan memahami agama. Untuk itu, umat islam harus terus mengenal, mempelajari, dan tidak asal-asalan dalam belajar. Termasuk juga tidak asal-asalan dalam memberikan informasi sesat pada yang lain.

Hal ini disampaikan oleh Allah untuk selalu mempertanggung jawabkan pengetahuan dan apa yang kita sampaikan atau lakukan, sebagaimana dalam ayat berikut:

  • (QS Al-Isra: 36), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
  • (QS An-Najm : 30), “Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”
ads

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , , ,
Post Date: Friday 23rd, December 2016 / 02:24 Oleh :
Kategori : Fatwa Ulama