Hukum Berburuk Sangka Kepada Allah dan Dalilnya

Berburuk sangka dalam bahasa arab disebut su’uzhan, yang terdiri dari dua kata, yaitu su’u dan zhan. Su’u artinya jelek. Adapun zhan disini ( dalam konteks su’uzhan kepada Allah) adalah sangkaan yang tidak ada dalilnya atau dibangun diatas kebodohan. Sehingga berburuk sangka kepada Allah adalah mempunyai sangkaan yang jelek kepada Allah.

ads

Berburuk sangka kepada Allah sangat dilarang dalam Islam. Sebagaimana Firman Allah:

dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk kepada allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahanam, dan (neraka Jahannam) itulah sejahat jahatnya tempat kembali.” (QS. Al-Fath :6).

Orang yang berburuk sangka kepada Allah adalah orang yang meragukan bahkan membantah kebesaran Allah SWT sehingga patut diragukan keimanannya.  Dalam sejarah Agama Islam,  di masa jahiliyah,  banyak yang terang-terangan meragukan kebesaran Allah.

ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنۢ بَعْدِ ٱلْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاسًا يَغْشَىٰ طَآئِفَةً مِّنكُمْ ۖ وَطَآئِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ ظَنَّ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ ٱلْأَمْرِ مِن شَىْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ ٱلْأَمْرَ كُلَّهُۥ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِىٓ أَنفُسِهِم مَّا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَٰهُنَا ۗ قُل لَّوْ كُنتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ ٱلَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِىَ ٱللَّهُ مَا فِى صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِى قُلُوبِكُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

Artinya: ” Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”.

Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”.

Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Q. S. Ali Imran : 154)

Baca juga:

بَلْ ظَنَنتُمْ أَن لَّن يَنقَلِبَ ٱلرَّسُولُ وَٱلْمُؤْمِنُونَ إِلَىٰٓ أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَٰلِكَ فِى قُلُوبِكُمْ وَظَنَنتُمْ ظَنَّ ٱلسَّوْءِ وَكُنتُمْ قَوْمًۢا بُورًا


Artinya: ” Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.” ( Q. S. Al Fath: 12)

Terkadang,  secara tidak sadar mungkin kita pernah berprasangka buruk kepada Allah SWT,  misalnya saja jika kita mengucapkan ‘seharusnya seperti ini,  bukan seperti itu’.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

Tiada apa pun yang menimpa seorang mukmin berupa bencana dan menderita kesusahan, kecuali semua itu menjadi sebab untuk menghilangkan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari Muslim)

Sahabat Ibnu Mas’ud juga meriwayatkan dari hadis lain ia menyebut: “Bahwasanya tiada seorang muslimpun yang tertimpa kesukaran dan penyakit, atau bencana yang lebih ringan lagi, kecuali Allah SWT akan menggugurkan dosa-dosanya, bagaikan gugurnya daun dari dahan pohon.”

Baca juga:

Maka hendaknya kita harus selalu bersangka baik kepada Allah SWT karena ia akan selalu memberikan yang terbaik bagi kita. Sebagaimana firman Allah SWT:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: ” Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.( Q. S. Al Baqarah: 216)

Setiap ujian ataupun musibah sebaiknya dilalui dengan baik karena Allah selalu tahu apa yang terbaik untuk kita.  Allah juga tidak akan menimpakan hamba-nya dengan ujian diluar batas kemampuan hamba-nya. Ujian yang diberikan merupakan salah satu tanda Allah sayang pada hambaNya.  

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

Artinya: ” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Q. S. Al Baqarah: 286)

Selalu berdoa dan tawakal kepada Allah SWT akan membuat kita tetap tegar dalam menghadapi musibah dalam Islam. Ummul Mukminin Sayidah Aisyah meriwayatkan pula sabda junjungan

Rasulullah SAW: “Barang siapa diuji dengan beberapa kesulitan, dan ia dapat mengatasi kesulitan itu dengan ketabahan dan menerimanya dengan keikhlasan, tertulis baginya disisi Allah dengan derajat yang mulia dan dihapus dosa-dosanya.”

Berburuk sangka kepada Allah SWT dapat terjadi pada 3 hal di bawah ini;

  1. Berprasangka bahwa Allah akan melestarikan kebatilan dan menumbangkan al haq (kebenaran). Perbuatan seperti ini tidak pantas ditujukan pada Alloh dan hanya orang kafir dan munafik yang melakukan hal buruk seperti ini.
  2. Mengingkari Qadha’ dan Qadar yakni menyatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi di alam ini yang di luar kehendak Allah dan taqdir Allah.
  3. Mengingkari adanya hikmah yang sempurna dalam takdir Allah.

Baca juga:

Selalu bersyukur atas setiap pemberian Allah SWT akan membuat kita jauh dari sikap su’udzhon kepada Allah SWT.  Demikianlah artikel tentang berburuk sangka pada Allah yang singkat ini.  Semoga kita semua terhindar dari sifat yang tercela ini.  Aamiin.

, , , ,




Post Date: Monday 05th, March 2018 / 04:17 Oleh :
Kategori : Akhlaq