Fenomena LGBT Menurut Islam dan Dalilnya

Realitas LGBT telah ada sejak zaman terdahulu, khususnya ada dalam sejarah Nabi Luth AS. Masyarakat Nabi Luth yang tidak mau taat Rukun Islam, Rukun Iman, Fungsi Agama, Hubungan Akhlak dengan Iman, dan Akhlak Dalam Islam .

ads

Mereka memilih untuk hidup menyukai sesama jenis ketimbang lawan jenisnya. Semua itu didasarkan mereka atas dasar hawa nafsu dan kebodohan. Dapat kita lihat sendiri akhirnya mereka mendapatkan adzab dari Allah berupa hujan batu yang menghancurkan kotanya.

Di zaman sekarang ini realitas tersebut bukan tidak ada lagi. Realitas LGBT atau homoseksual atau penyuka sesama jenis tetap masih ada. Dalam perkembangannya argumentasi tentang LGBT pun meluas menjadi argumen kebebasan dan menjadi hak asasi masing-masing manusia dalam memilih dengan siapa pasangannya, termasuk sesama jenis atau lawan jenis.

Berikut adalah penjelasan mengenai LGBT menurut pandangan islam, dengan dalil-dalil Al-Quran dan ilmu pengetahuan.

Melawan Argumentasi Tentang LGBT

Beberapa argumentasi dan dukungan terhadap LGBT kemudian muncul dengan derasnya untuk melegalisasi hubungan LGBT. Sebagai umat islam tentunya kita harus menjaga hukum-hukum Allah di muka bumi dan menerapkan hukum keseimbangannya agar tidak terjadi keburukan dan kerusakan di muka bumi sebagaimana dalam sejarah Nabi Luth.

Berikut adalah argumentasi-argumentasi dalam menentang adanya legalisasi LGBT.

  1. Melawan Fitrah Manusia

LGBT tentu saja melawan fitrah manusia. Fitrah manusia tidak bisa dirubah apalagi diganti oleh manusia. Fitrah adalah bawaah dan pemberian yang Allah berikan. Jika hal tersebut ditentang dan dirubah oleh manusia maka pasti akan merusak hukum keseimbangan yang telah Allah tetapkan.

Misalnya saja, jika ada seorang laki-laki yang ingin merubah dirinya menjadi wanita. Tentu hal ini akan merusak dirinya sendiri. Mulai dari aspek fisik, kelami, hormonal, psikologis semuanya saling mempengaruhi sedangkan apa yang Allah ciptakan sangat kompleks dan tidak mungkin manusia rubah sendiri satu persatu.

Untuk itu, sebagai manusia harus menyadari jati dirinya sebagai apa dan menjaga fitrah tersebut tetap ada dalam diri manusia. Semua keseimbangan dalam diri manusia dan masyarakat berawal dari manusia menyadari fitrah dan jati dirinya.

  1. Hubungan LBGT tetap ada yang Menjadi Laki-Laki dan Perempuan

Kita bisa menelisik bahwa hubungan LGBT yang dilakukan oleh seseorang pada hakikatnya adalah hubungan yang tidak konsisten. Dalam sebuah hubungan LGBT pasti ada satu orang yang menjadi laki-laki dan satu orang yang menjadi perempuan. Jika dua-duanya menyerupai laki-laki atau perempuan maka tidak akan ada timbul rasa senang dan suka diantaranya.

Untuk itu, kita bisa melihat dan mengambil pelajaran hakikatnya secara fitrah manusia selalu berpasang-pasangan. Tidak mungkin ada yang mau dengan pasangan yang sama-sama laki laki atau sama sama perempuan. Fitrahnya kecintaan dan ketentraman itu lahir dari karakteristik dan jenis yang berbeda.

LGBT tidak mau menerima fitrah insani tetapi ia sendiri tidak konsisten menjalankan hubungannya dengan bentuk yang pada hakikatnya kembali ke fitrah manusia.

  1. Hilangnya Keturunan

Jika hubungan LGBT ini terus disosialisasikan dan dilegalisasi di masyarakat, maka ummat manusia bisa punah dan hilangnya keturunan di muka bumi. Hubungan LGBT tidak akan bisa menghasilkan keturunan karena fitrahnya keturunan lahir dari adanya laki-laki dan perempuan.

Walaupun teknologi dihasilkan untuk menciptakan manusia baru sekalipun, hal ini tidak akan bisa menggantikan peran dari seorang ibu, ayah yang sama-sama melahirkan anak ke dunia. Anak-anak hasil dari teknologi tentu tidak akan mungkin menjadi manusia yang benar-benar mendapat kasih sayang, kejelasan status keluarga, status diri, pertanggungjawaban hak asuh, dsb.

  1. Hak Asasi Manusia Tidak Boleh Melawan Fitrah

Orang-orang LGBT sering kali mengangakat isue dan pembelaan diri tentang dirinya dengan argumentasi hak asasi manusia. Manusia tentunya memiliki hak untuk memilih, akan tetapi setiap pilihan disertai konsekwensi dan pertanggungjawaban yang harus diemban.

Hak asasi manusia tentu tidak boleh merusak atau bahkan menghilangkan hukum keseimbangan yang ada di muka bumi. Untuk itu, sebagai muslim tentunya kita harus mencegah terjadinya kerusakan tersebut dengan cara yang benar dan objektif.

Menentang LGBT tentu tidak bisa dilawan dengan kekerasan atau bahkan dilawan dengan cara-cara radikal. Islam senantiasa menyuruh menyelesaikan persoalan dengan cara yang benar, sesuai konteks masalah dan juga menyelesaikan tanpa ada efek yang negatif.


Dalil Tentang Hidup Berpasang-pasangan

Di dalam islam, Allah memerintahkan agar manusia hidup berpasang-pasangan, membentuk keluarga, dan menghasilkan keturunan yang shalih-shalihah. Semua itu dilakukan dalam bingkai keluarga yang sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah. Berikut adalah ayat-ayat Allah yang berkenaan dengan berpasang-pasangan di dalam Al-Quran.

  1. Menciptakan Manusia Berpasangan

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS Adz-Zariyat : 49)

Allah dalam ayat diatas menjelaskan bahwa manusia diciptakan berpasanga-pasangan. Bahkan hewan pun Allah ciptakan berpasangan untuk bisa melestarikan jenisnya sendiri. Begitupun manusia, Allah ciptakan laki-laki dan perempuan bukan sesama jenis saja agar manusia bisa saling melengkapi, melahirkan keturunan, dan tercipta rasa tentram di dalamnya.

Tentu tidak akan terjalin suatu yang baik, tentram, dan harmonis jika suatu hubungan cinta timbul dari sesuatu yang sejenis. Begitupun sama dengan hewan, fitrahnya selalu berbeda-beda hingga menimbulkan satu yang baru. Untuk itu, dari berpasangan ini supaya manusia dapat membentuk Keluarga Bahagia Menurut Islam , Keluarga Dalam Islam, Keluarga Sakinah Dalam Islam, Keluarga Harmonis Menurut Islam, dan Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah Menurut Islam.

  1. Manusia Terdiri Dari Pria dan Wanita

dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.” (QS An Najm : 45)

Allah di dalam Al-Quran tidak menyebutkan kembali selain dari golongan pria dan wanita. Untuk itu, yang seharusnya adalah adanya pria dan wanita. Jika ada pria yang seperti wanita dan wanita seperti pria tentunya hal ini menjadi suatu permasalahan. Jika pun ditinjau dari aspek fisik dan psikologis, hal ini perlu diperbaiki dan perlu menjadi fokus untuk diselesaikan.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS An Nur : 26)

Begitupun ayat di atas menjelaskan bahwa Alah menyebutkan wanita untuk laki-laki dan laki-laki untuk wanita. Tidak ada lagi informasi jenis kelamin selain dari hal tersebut. Untuk itu, sebagai manusia tentunya kita harus menerima akan ketetapan Allah terhadap diri kita, apakah jati diri kita laki-laki atau perempuan, tentunya harus bisa dipahami dan dimaknai oleh manusia.


Untuk itu LGBT harus dihindari salah satunya dengan Cara Meningkatkan Akhlak , mempelajari Cara Menjadi Wanita Baik , atau Pria yang Baik dalam Islam, mencari Cara Mendapatkan Jodoh menurut Islam, dan meningkatkan Fungsi Iman Kepada Allah SWT.

, , , , ,




Post Date: Monday 03rd, April 2017 / 08:42 Oleh :
Kategori : Akhlaq