Sejarah Natal Menurut Islam dan Dalilnya

Kata Natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir akan tetapi secara istilah mengartikan upacara umat kristiani untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih. Perayaan Natal sendiri dimulai pada tahun 325 – 254 Sebelum Masehi yang dilakukan oleh Paus Liberus yang kemudian ditetapkan pada tanggal 25 Desember yang juga bersamaan dengan peristiwa penyembahan Dewa Matahari dimana penyembahan Dewa Matahari secara kebetulan juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 28 April, 18 Mei dan juga 18 Oktober yang kemudian disahkan pada tanggal 25 Desember.

ads

Sementara dalam ajaran Islam meyakini jika Yesus merupakan Nabi yang dikenal dengan Nabi Isa AS. Tanggal kelahiran Nabi Isa bagi umat Kristen bertentangan dengan Al Quran yang kita imani. Lalu, seperti apa arti hari Natal menurut Islam beserta pandangannya?, berikut kami berikan ulasan selengkapnya untuk anda.

Dalil Al-Quran tentang Nabi Isa AS

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, ” Maka rasa sakit akan melahirkan memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal pohon kurma, ia berkata, ’Aduhai, alangkah baik aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.’ Maka Malaikat Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, ’Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.’ Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” [QS. Maryam (19): 23-25]

Dari ayat Al Quran diatas dijelaskan jika Isa Al Masih dilahirkan oleh Maryam pada saat musim panas di saat pohon pohon kurma sedang berbuah dengan lebat dan kemudian makan buah kurma tersebut untuk mereka berdua.

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.” [QS. Maryam: 22]

”Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. [QS. Maryam: 23]

“ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” [QS. Maryam: 24]

“ dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” [QS. Maryam: 25]

“ Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”. [QS. Maryam: 26]

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” [QS. Al-Maa’idah’ 5:104]

Dalam beberapa ayat diatas memperlihatkan jika kelahiran dari Nabi Isa AS bukan pada tanggal 25 Desember namun pada musim gugur kurma sebab Maryam mengambil kurma untuk makanan mereka berdua.

Sponsors Link

Menurut dasar hukum Islam, apa yang menjadi alasan umat Kristen meyakini jika tanggal 25 Desember merupakan kelahiran Nabi Isa AS adalah karena pada tanggal 25 Desember merupakan hari lahirnya Dewa Matahari dan pada hari tersebut, penduduk Romawi sedang menggelar pesta meriah dengan banyak makanan dan minuman.

Rakyat Romawi tidak ingin masuk ke dalam agama Katolik sebab tidak ingin kehilangan pesta pada tanggal 25 Desember meskipun Kaisar mereka sudah masuk ke agama Katolik. oleh karena itu Kaisar membuat siasat dengan tujuan agar rakyat Romawi mau masuk ke dalam agama Katolik dengan mengumumkan jika tanggal 25 Desember akan terus diadakan karena merupakan kelahiran Isa Al Masih tersebut.

Dengan pengumuman tersebut, maka rakyat Romawi membuat sebuah kesimpulan jika Nabi Isa Al Masih merupakan putar Dewa Matahari sehingga menurut Islam, Natal yang dirayakan umat Kristen bukanlah untuk merayakan kelahiran Nabi Isa AS akan tetapi kelahiran dari Dewa Matahari. Pada kenyataannya, fungsi agama Islam sendiri tidak mengenal dengan istilah Dewa dan maka benarlah keputusan para ulama yang menyatakan haram untuk mengucapkan selamat Natal dan juga fatwa MUI yang menyatakan haram untuk mengucapkan selamat Natal beserta dengan atribut Natal.

Dalil Mengenai Natal

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Dalam hadits di atas sudah dijelaskan mengenai hukum mengucapkan selamat Natal dan memakai atribut Natal. Rasulullah melarang umat Islam untuk menyerupai kaum dan jika kita menyerupai mereka maka kita juga masuk dalam golongan mereka. Ini mengartikan jika mengikuti orang Kristen maka kita termasuk orang Kristen sehingga kita sudah keluar dari agama Islam.

Pendapat Menteri Agama Tentang Ucapan Selamat Natal

Sementara untuk pendapat dari Menteri Agama menyatakan jika diperbolehkan untuk umat muslim mengucapkan selamat Natal pada kaum Kristiani yang sedang merayakan hari Natal tersebut sebab banyak keutamaan menyambung tali silaturahmi yang bisa di dapat. Hal ini dilakukan tidak untuk mengikuti ritual agama Kristen namun merupakan wujud toleransi pada umat beragama yang berbeda beda di indonesia.

ads
Hukum mengucapkan selamat Natal dalam Islam diperbolehkan dan ini bukanlah sebuah ritual namun merupakan penghargaan atas sesama kaum beragama dan juga sesama penduduk Indonesia. Jika beberapa waktu ke belakang ini timbul kontroversi mengenai wacana ucapan selamat Natal dari umat muslim untuk umat Kristiani, maka Ketua Majelis Ulama Indonesia [MUI] sebagai contoh pernah menyatakan jika ucapan tersebut dianggap hal yang haram namun pendapat tersebut tidak disetujui oleh sebagian ulama sebab dinilai sebagai ekspresi toleransi dan tidak akan mengganggu keimanan umat Muslim.

Suryadharma Ali juga mengatakan jika ucapan selamat Natal yang menyatakan haram perlu dilihat kembali apakah pernyataan tersebut merupakan fatwa atas nama lembaga atau hanya sebagai pendapat pribadi. Meskipun ada pendapat seperti itu, maka sebenarnya arus utama masyarakat muslim indonesia harus tetap merujuk pada sikap dari pemerintah dan memperlihatkan bukti Islam agama damai.

Selama pemerintah tidak mempermasalahkan mengenai ucapan selamat Natal atau pun hari raya agama lainnya maka mengucapkan selamat Natal bukanlah perbuatan haram dimana Presiden, Wakil Presiden dan juga Menteri Agama juga selalu menghargai perayaan Natal bersama.

Ucapan Natal merupakan perwujudan dari toleransi antar agama di Indonesia sehingga diperbolehkan semata mata hanya untuk menghargai sesama umat beragama di indonesia. Namun, Menteri Agama juga menghargai dengan adanya perbedaan pendapat mengenai hal ini dimana ada sebagian umat muslim yang tidak sejalan dengan pemerintah sebab di dalam hukum Islam, para ulama juga selalu merujuk pada sumber pokok ajaran Islam dan hukum yakni Al Quran, sunnah, Qiyas dan juga ijma. Selain itu, para ulama juga memiliki ilmu yang mendalam untuk mengkaji setiap masalah menggunakan pendekatan yang berbeda beda dengan hasil yang juga tentunya berbeda.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”[QS. Al Mumtahanah: 8]

“Ia adalah makhluk Allah yang hidup dan dapat mati serta bisa dibangkitkan saat kiamat menurut Islam kelak seperti makhluk lainnya. Akan tetapi Allah SWT memberikan keselamatan pada beberapa kondisi tersebut yakni dihidupkan, dimatikan dan dibangkitkan yang merupakan kondisi paling sulit untuk para hambat dan semoga keselanatan terlimpah pada beliau. [Tafsir Al Qur’an Al Azhim, 5-230]

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan Allah kepadaku pada hari aku dilahirkan yakni saat di dunia dari gangguan setan. Pendapat ini adalah pendapat sebagian ulama menurut surat Al Imran. Pada hari aku meninggal dan pada waktu aku dibangkitkan dan Allah memberikan keselamatan di semua fase tersebut.” [Al Jami Li Ahkamil Qur’an, 11/105]

“Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” [QS. Maryam: 33]

QS Al-Mumtahanah 60:8 “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

QS An-Nisa’ 4:86 “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).”

QS An-Nahl 16:90: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”

Demikian ulasan mengenai sejarah Natal menurut Islam yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan anda seputar ilmu pendidikan Islam.

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , ,




Post Date: Monday 23rd, October 2017 / 06:57 Oleh :