20 Firman Allah tentang Wanita

Wanita dalam keseharian memiliki peran penting. Wanita dibutuhkan pada hampir setiap aspek kehidupan, mulai dari yang terkecil yaitu dalam keluarga, tentu akan terasa berbeda tanpa kehadiran seorang wanita atau ibu. Wanita juga mampu bekerja sama dalam hal apapun, dalam kehidupan masyarakat, partner kerja, juga sebagai pendukung atau pemberi motivasi bagi orang lain.

Wanita memang memiliki beragam karakter dan sifat. Wanita dalam pandangan islam adalah makhluk yang mulia, yang diberi syariat agar dirinya terjaga dari segala mara bahaya. Wanita juga dipandang sebagai sosok yang lemah, yang memerlukan seorang lelaki untuk membimbing dan melengkapinya.

Allah bahkan menciptakan surat khusus yang diberi nama An Nisa yang berarti adalah wanita. Untuk memahami dan mengetahui lebih lanjut mengenai wanita, baik buruknya, kelebihan dan kemuliannya, serta hal lain yang berhubungan dengan wanita, yuk kita simak 20 firman Allah tentang wanita :

1. QS At Tahriim : 11

Wanita adalah seorang pejuang. Dalam firman Allah tentang wanita terdapat kisah tentang Asiyah istri Fir’aun yang kafir tetapi ia tetap kuat dan berjuang dalam kesholehannya. Is tidak tertarik dengan janji Fir’aun yang semu, ia tetap menjadi seorang wanita yang taat pada Allah walaupun berada dalam kondisi dimana ia dikelilingi oleh kaum yang zalim.

Ya Allah, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya serta dari kaum yang zalim”. Wanita seperti yang diceritakan oleh ayat tersebut termasuk ciri ciri wanita penghuni surga sebab memiliki akhlak mulia dan senantiasa berjuang demi islam.

2. QS Maryam : 20

Ada juga wanita yang mulia, yaitu yang senantiasa menjaga kesuciannya dan menjauhkan diri dari zina. “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki laki sedang tidak pernah ada seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina”. kecantikan wanita dalam islam bukan dilihat dari fisiknya, tetapi dari hatinya yang senantiasa menjaga kesucian karena takut dan ingin mendapat ridho Allah.

3. QS Al Lahab : 1-5

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Demikian pula istrinya pembwa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut”. Contoh wanita yang dilaknat Allah ialah wanita yang senantiasa berkata buruk serta mengumbar fitnah, baginya adalah siksa neraka. wanita tersebut disiksa karena mendapat azab menghina nabi Muhammad dengan memfitnah dan menyebarkan berita bohong.

4. QS Yusuf : 23

Firman Allah tentang wanita ialah tentang wanita penggoda, wanita dengan karakter demikian ialah contoh wanita yang merendahkan dirinya sendiri. “Dan perempuan yang dia tinggal di rumahnya menggoda dirinya. dan dia menutup pintu pintu lalu berkata, marilah mendekat kepadaku”. Kisah tersebut ialah tentang Nabi Yusuf yang digoda oleh Zulaikha tetapi tidak terpengaruh karena Nabi Yusuf memiliki ciri ciri laki laki sholeh menurut islam sehingga tidak terjerumus perbuatan maksiat.

5. QS At Tahrim : 10

Lalu kedua istri iitu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat sedikitpun membantu mereka dari siksa Allah”. Seorang wanita yang sholeh ialah yang berbakti pada suaminya, wanita yang memiliki karakter pengkhianat akan mendapat siksa Allah di akherat nanti sebab ketidaktaatan pada suaminya.

[AdSense-B]

6. QS Al Ahqaf : 15

Wanita mendapat keistimewaan dengan kepercayaan dari Allah untuk bisa mengandung dan melahirkan serta mendapat pahala luas karenanya, dan hal tersebut tidak bisa diberikan kepada lelaki. “Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan”. dan  kehamilan dalam islam yang hanya dialami oleh wanita ialah salah satu anugrah terbesar dari Allah.

7. QS Ar Rum : 21

Wanita menjadikan dunia lebih indah dan penuh kasih sayang, wanita menjadikan lelaki merasa tentram dan mejadi pelengkap bagi lelaki. “Dia menciptakan untuk kalian istri dari jenis kalian sendiri suaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang diantara kalian”.

8. QS An Nisa : 19

Tidak halal bagimu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka”. Wanita tidak boleh diperlakukan secara kasar atau dibebani dengan sesuatu yang bukan merupakan tanggung jawabnya. Hal yang demikian tidak di Ridhoi oleh Allah.

9. QS An Nuur : 23

Friman Allah tentang wanita ialah wanita yang baik baik tidak selayaknya difitnah, bagi yang melakukan hal tersebut maka akan mendapat azab dari Allah. “Orang orang yang menuduh wanita yang baik baik yang tidak berbuat zina lagi beriman mereka dilaknat di dunia dan akherat, dan bagi mereka azab yang besar”.

[AdSense-A]

10. QS An Nisa : 4

Wanita berhak mendapat mahar atau pemberian ketika ada seorang lelaki menikahinya, hal tersebut merupakan bentuk memuliakan wanita sebagai syarat dinikahinya seorang wanita oleh lelaki. “Berikanlah mahar kepada wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan pebuh kerelaan”.

11. QS An Nisa : 3

Wanita berhak diperlakukan dengan cara yang adil, jika seorang lelaki tidak sanggup berbuat adil jika poligami, maka lelaki tersebut tidak diperbolehkan menikah dengan lebih dari satu wanita, sebab perbuatan tidak adil pada wanita tidak di Ridhoi oleh Allah. “Maka nikahilah seorang wanita sahaja atau budak budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk kalian dan tidak berlaku aniaya”.

12. QS An Nahl : 97

Barang siapa yang menegrjakan amal saleh baik lelaki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami berikan balasan kepada mereka di akherat dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. Allah tidak membedakan antara lelaki dan wanita dalam hal pahala, Allah akan membuka pintu surga kepada siapa saja yang berbuat amal kebaikan. Wanita memiliki banyak peluang untuk bisa masuk surga Allah dengan kesholehannya.

13. QS Al Ahzab : 59

Allah memberikan syariat pada wanita untuk menutup aurat dengan tujuan yang mulia, yaitu untuk melindungi wanita dari gangguan atau dari disakiti. Allah melindung wanita melalui syariat syariat Nya. “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu atau disakiti”.

14. QS An Nahl : 58-59

Allah tidak menyukai manusia yang tidak menerima ketika diberikan anugrah anak perempuan, sebab di mata Allah lelaki dan wanita sama sama hamba yang dicintai Nya dan Allah hanya memandang dari amal perbuatannya. “Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak wanita, hitamlah mukanya, dia sangat marah. Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”.

15. QS An Nisa : 19

Lelaki tidak boleh memperlakukan wanita dengan seenaknya, dalam bergaul dengan wanita lelaki wajib memperlakukan mereka dengan baik, diantaranya ialah dengan sikap dan tutur kata yang baik, dengan perlindungan, dengan kasih sayang, dan dengan dipenhi kebutuhan lahir batinnya. “Dan bergaullah dengan mereka secara patut”. keutamaan memuliakan istri adalah kewajiban bagi suami.

16. QS An Nisa : 25

Allah  melindungi wanita yang mampu menjaga diri dengan kebaikan yang banyak, diantaranya ialah Allah memberinya lelaki atau suami yang sholeh dan menjadikannya seseorang yang mampu memberikan ketenangan pada orang lain. “Sedang mereka pun wanita wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan pula wanita wanita yang mengambil laki laki hanya sebagai teman mainnya”.

[AdSense-C]

17. QS Al Ahzab : 33

Allah melindungi wanita dengan cara menjaganya, Allah menganjurkan wanita untuk berada di rumah kecuali jika terdapat keperluan yang diijinkan oleh syariat islam dan mendapat ijin dari suaminya. Hal demikian bertujuan untuk melindungi wanita dari segala marabahaya. “Dan hendaklah kalian menetap di rumah kalian serta janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang orang jahiliyah dahulu”.

18. QS Al Ahzab : 32

“Kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu berbicara hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf”. Allah menganjurkan wanita untuk menjaga diri dengan menjaga tutur katanya, wanita tidak diperkenankan berkata lemah lembut pada lelaki yang bukan muhrimnya, hal itu semata untuk melindungi wanita dari fitnah dan dari perbuatan maksiat.

19. QS Al Baqarah : 233

Firman Allah tentang wanita ialah Allah memberinya keistimewaan untuk bisa menyusui serta mendapat pahala kebaikan luar biasa banyak dari air susuan yang diberikan pada bayinya. Sedang lelaki tidak mendapat keistimewaan pahala seperti ini. “Para ibu hendaknya menyusukan anak anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”.

20. QS An Nisa : 34

Wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sebab itu Allah menciptakan lelaki untuk menjaga dan melindunginya, Allah memerintahkan lelaki untuk memuliakan istrinya dengan cara kasih sayang dan kesabaran. “Suami itu pelindung bagi wanita (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) di atas sebagian yang lain (wanita)”.

Demikian artikel kali ini mengenai firman Allah tentang wanita. Ternyata wanita memiliki banyak keistimewaan dan dilindungi serta dimuliakan oleh Allah. Allah memberi banyak jalan istimewa bagi wanita untuk menggapai surga Nya sebab itu sebagai wanita wajib menjalankan perintah dan menjauhi larangan Nya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda dan dapat menjadi penyemangat wanita untuk menjadi hamba Allah yang senantiasa memperbaiki diri serta mensyukuri nikmatNya. Terima kasih sudah membaca, salam hangat dari penulis.

17 Cara Bergaul yang Baik Menurut Islam

Kita sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan orang lain pasti membutuhkan sosialisai dengan sesama baik itu dengan orang tua, keluarga, juga dengan teman teman dan tetangga di lingkungan masyarakat. Sosialisasi sering disebut dengan istilah bergaul. Orang yang banyak bergaul pun umumnya orang yang supel, ramah, serta disukai banyak orang sehingga memiliki banyak teman dalam kesehariannya.

Rasulullah sendiri pun telah melakukan hubungan dengan umatnya dalam rangka menyebarkan syariat islam atas perintah Allah. Beliau bergaul dengan cara yang diajarkan oleh Allah dan mengajarkan ajaran islam dengan sabar walaupun sering mendapat penolakan bahkan ancaman bahaya dari orang orang kafir.

Bergaul dalam islam memiliki cara tersendiri dimana syariat tersebut akan menjadikan manfaat dan mencegah dari berbagai perbuatan maksiat atau keburukan di dunia maupun di akherat. agar kita dapat bergaul sesuai syariat dalam kehidupan sehari hari, yuk kita simak artikel kali ini tentang 17 cara bergaul yang baik menurut islam,

Bergaul Dengan Lawan Jenis

Dalam kehidupan sehari tidak terlepas dari bertemu dan bergaul dengan lawan jenis, cara bergaul yang baik menurut islam sebagaimana ayat tentang pergaulan dalam islam dalam hubungannya dengan lawan jenis ialah dengan memperhatikan syariat islam diantaranya sebagai berikut :

1. Menjaga Pandangan

“Janganlah engkau iringkan satu pandangan kepada wanita yang bukan mahram dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu halal bagimu, tetapi tidak yang kedua!“. (HR Abu Daud). Lelaki dan perempuan tidak boleh memandang lawan jenis yang bukan muhrimnya, sebab termasuk zina mata dan mengarah pada perbuatan maksiat. Menjaga pandangan termasuk salah satu cara menjauhi zina.

2. Menutup Aurat

Lelaki dan wanita yang bukan muhrim dalam bergaul sehari hari wajib menutup aurat. Setiap umat muslim tentu memahami batasan aurat lelaki dan wanita serta larangan untuk menunjukkan di hadapan lawan jenis yang belum menjadi muhrimnya. Hendaknya dalam bergaul setiap mukmin mengikuti syariat Allah tersebut.

3. Tidak Bersentuhan

“Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita”. (HR Malik, Tirmizi dan Nasa’i). Bergaul dengan lawan jenis yang terdapat urusan bersalaman, berdekatan, apalagi mencium tangan tidak diperbolehkan dalam islam. Sebab hukum mencium tangan dalam islam hanya diperbolehkan kepada muhrimnya.

Kesimpulannya ialah bergaul dengan lawan jenis tidak dilarang secara keseluruhan, tetapi diperbolehkan selagi bertujuan untuk kebaikan dan atas urusan yang diperbolehkan dalam syariat islam. Serta wajib mematuhi kehendak dan ajaran Islam tentang akhlak dan adab adabnya.

[AdSense-B]

Bergaul dengan Sesama Jenis

Sebagai makhluk sosial tentu kita memiliki teman atau sahabat dekat, nah dalam bergaul dengan sesama jenis yang merupakan teman atau sahabat kita tersebut tetap wajib menjalankan sesuai syariat islam.

4. Tetap Menutup Aurat

Tidak diperbolehkan laki laki melihat aurat (kemaluan) laki laki lain, begitu pula perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain”. (HR Muslim). Jelas dari hadist tersebut bahwa walaupun dengan sesama jenis tetap wajib memakai pakaian sopan yang melindungi aurat. Sebab itu dalam bergaul dengan sesama jenis harus diperhatikan batas aurat laki laki dalam islam dan batas aurat wanita dalam islam.

5. Tidak Menyukai Sesama Jenis

Allah sudah menciptakan hamba Nya berpasangan, walaupun jarang ditemui, tetapi tetap ada seseorang yang menyukai lawan jenis padahal hal tersebut sungguh tidak dibenarkan dalam islam. “Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian, bukan kepada wanita. Kalian adalah kaum yang melampaui batas”. (QS Al A’raaf : 81). Firman Allah tersebut juga berlaku untuk lelaki dan wanita, menyukai sesama jenis ialah perbuatan yang melampaui batas.

[AdSense-A]

Bergaul dengan Non Muslim

Di jaman modern ini kita memang tidak sepantasnya menutup diri atau hanya mau bergaul dengan agama tertentu, diperbolehkan bergaul dengan orang yang non muslim asalkan tetap sesuai dengan syariat islam.

6. Teguh dalam Agama

“Bagi kami amal amal kami dan bagi kamu amal amal kamu”. (QS Asy Syura : 15). Sebagai seorang muslin wajib menjalankan kewajiban dalam keadaan apapun, misalnya ketika waktunya shalat 5 waktu dan kita sedang bergaul dengan teman non muslim maka jangan sampai melalaikan kewajiban shalat tersebut.

7. Tidak Mengikuti Kebiasaan Orang Kafir

“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku lah agamaku”. (QS Al Kafirun : 4-6). Dalam bergaul tidak boleh mengikuti kebiasaan orang kafir, misalnya valentine yang merupakan hari orang kafir dan tidak ada dalam islam, maka sebagai umat muslim tidak selayaknya mengikuti urusan tersebut hanya karena alasan bergaul.

Bergaul dengan Sesama Muslim

Bergaul dengan sesama muslim ditujukan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan sehingga timbul kedamaian dan ketenangan.

8. Memperbanyak Silaturahmi

“Dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS An Nisa : 1). Silaturahmi dianjurkan sebab disukai oleh Allah dan dapat melapangkan rejeki, contohnya ialah menghadiri acara ketika mendapat undangan (pernikahan, khitanan, dan lain lain).

9. Saling Tolong Menolong dalam Kebaikan

Tidak ada salahnya bergaul dengan tujuan saling memberi pertolongan dan mencegah permusuhan. Setiap orng yang menolong orang lain dengan niat yang ikhlas karena Allah akan mendapat pahala dan dilebihkan derajatnya dari hamba Allah yang lain. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan pada orang lain dan kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS An Nahl : 90).

Bergaul dengan Orang Sholeh

Merupakan anjuran dari Allah agar dapat berpengaruh ke akhlak kita juga dan mencegah maksiat sebab terbiasa dengan urusan urusan yang baik.

10. Dianjurkan Oleh Allah

“Dan hendaklah kamu bersama orang orang yang benar (jujur)”. (QS A Taubah : 119). Orang yang jujur atau baik, darinya kita akan mendapat dan melakukan yang serupa, sehingga dapat menularkan kebiasaan baik pada diri kita. Juga sebagai tips memperbaiki diri dalam islam agar kita senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan.

Bergaul dengan Orang Tua dan Keluarga

Merupakan kewajiban sebab orag tua dan keluarga adaah tempat dimana kita pertama kali bergaul dan tempat yang paling memberi ketentraman dalam keseharian. Dimanapun kita berada tentu yang paling nyaman adalah bersama keluarga.

11. Berkata Lemah Lembut

“Janganlah engkau mengatakan kepada orang tua perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya”. (QS Al Isra : 23). Bergaul dengan orang tua harus dengan kalimat yang lemah lembut dan sikap yang baik sebagai wujud bakti dan hormat pada mereka.

12. Saling Mendoakan

“Ya Rabb ku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil”. (QS Al Isra : 24). Selain doa orang tua yang menjadi ridho bagi Allah, seorang anak juga wajib mendoakan orang tuanya sebagai bentuk kasih sayang, sebab apapun yang diberikan oleh anak tidak akan bisa mengganti jasa orang tua.

13. Mengajarkan Kebaikan

Antar keluarga baik orang tua dan anak atau saudara dengan saudara wajib saling mengingatkan dalam kebaikan, jika ada anggota yang melanggar syariat dan angggota keluarga tidak emngingatkan, maka dia ikut menanggung dosanya. “Harta dan anak anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar”. (QS Al Anfal : 28).

[AdSense-C]

Bergaul dengan Tetangga

Tetangga kadang menajdi seseorang yang lebih dekat dari saudara sebab seringnya berinteraksi dalam keseharian, sebab itu bergaulah dengan baik dengan tetangga anda dengan cara berikut :

14. Saling Menghormati

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memulikan tetangganya”. HR Bukhari No.5589). penjelasan dari dirman tersebut ialah memuliakan dengan menghargai, menjamu ketika bertamu, datang ketika diundang, menolong ketika tetangga terkena musibah, dan perbuatan mulia lainnya.

15. Tidak Boleh Menyakiti

Sungguh tidak beriman orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”. (HR Bukhari No. 6016). Kita wajib senantiasa berbuat baik pada tetangga, sebab Allah maha adil, tentunya ada balasan menyakiti hati orang lain dalam islam, sebaiknya kita senantiasa berbuat kebaikan agar mendapat balasan kebaikan pula.

Bergaul dengan Suami atau Istri

Suami atau istri adalah teman bergaul yang paling dekat, serta paling berpengaruh terhadap ridho Allah dan diterimanya amal perbuatan kita. Sebab itu bergaul dengan suami atau istri hendaknya didasarkan dengan kasih sayang, kesetiaan, dan saling memuliakan satu sama lain.

16. Suami adalah Pemimpin

Cara bergaul yang baik menurut islam dalam kehidupan suami istri ialah suami menajdi pemimpin. Istri wajib taat pada perintah suami. Suami wajib melindungi dan memberi nafkah lahir batin pada istri, serta istri wajib melayani suami dalam aspek apapun tanpa terkecuali. “Suami itu pelindung bagi wanita (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) di atas sebagian yang lain (wanita)”. (QS An Nisa : 34).

17. Istri Sholehah

Dalam bergaul dengan suami istri, jika memiliki istri sholehah akan menjadikan ketenangan dalam keluarga tersebut dan menjadikan suami menjadi seorang lelaki yang juga mampu memuliakan istrinya karena memiliki wanita terbaik di sisinya. Sebagaimana janji Allah bahwa wanita sholehah adalah untuk lelaki sholehah pula.“Wanita terbaik yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelesihi sesuai pada diri dan hartanya. Serta melayani suami sebaik mungkin dan menjauhkan suami dari benci”. (HR Ahmad).

Sekian dulu artikel mengenai 17 cara bergaul dalam islam, semoga bermanfaat untuk sobat semua. Terima kasih sudah membaca, salam hangat dari penulis.

17 Keutamaan Istri Melayani Suami

Sebagai seorang wanita, salah satu tujuan dalam pernikahan adalah saling berkasih sayang dalam rangka ibadah kepada Allah. Wanita sudah memiliki kodrat dibimbing dan dipimpin oleh lelaki, dalam rumah tangga memiliki kewajiban mutlak melayani suami. Melayani tersebut mencakup semua aspek, mulai dari menyiapkan keperluan sehari hari, menyediakan makanan yang menyenangkan lidah suami, menjalankan perintah suami, serta melayani suami dalam urusan saling berkasih sayang.

Allah menciptakan suami sebagai mahkluk yang indah dan dimuliakan. Seorang wanita yang mendapat anugrah dari Allah dengan diberikan seorang suami padanya merupakan hal terindah yang wajib disyukuri sebab seorang suami tersebut yang akan menjadi pendamping di sisa hidupnya hingga di akherat nanti.

Sebagai wujud rasa syukur tersebut, seorang istri wajib mewujudkannya dengan memberi pelayanan yang terbaik untuk suaminya yang termasuk salah satu tips disayang suami dalam islam. Tidak ada keringanan dalam hal apapun, misalnya dalam kondisi lelah atau sedih, seorang istri tetap wajib bersikap lembut, bertutur kata baik, serta menampilkan wajah yang berseri di hadapan suaminya. Sebab terdapat 17 keutamaan istri melayani suami yang merupakan kewajiban mutlak, berikut uraian dan penjelasannya menurut berbagai hadist dan firman Allah, yuk kita simak dan pahami bersama :

1. Hak Lelaki

Keutamaan istri melayani suami ialah hal tersebut merupakan hak mutlak suami. Suami memiliki hak sebagai seorang pemimpin yang memiliki tanggung jawab sebagai kewajiban laki laki setelah menikah. Tanggung jawab tersebut berlaku di dunia dan di akherat dan lelaki mendapat kenikmatan pula sebagai seseorang yang lebih tinggi kuasanya di hadapan istri serta memiliki hak besar pula atas istrinya. “Suami itu pelindung bagi wanita (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) di atas sebagian yang lain (wanita)”. (QS An Nisa : 34)

2. Lelaki Dilebihkan Oleh Allah

Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka (istri)”. (QS Al Baqarah : 228). Lelaki dilebihkan oleh Allah di atas istrinya, sebab itu lelaki berhak memerintah apapun sesuai keinginanya dan berhak meminta pelayanan dalam hal apapun kepada istrinya. Jika seorang istri tidak melayani dengan ikhlas, merupakan ciri ciri istri durhakan pada suami.

3. Wujud Taat pada Suami

Setelah orang tua atau wali menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka kewajiban taat wanita tersebut dalam melayani suami menjadi kewajiban tertinggi setelah kewajiban taat kepada Allah dan Rasul Nya. “Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya”. (HR Timidzi no. 1159). Hadist tersebut menjelaskan betapa besarnya nilai ketaatan seorang istri, sebab itu keutamaan istri melayani suami adalah sebuah kewajiban mutlak sebab ia telah diserahkan oleh orang tuanya kepada suaminya.

4. Jalan Masuk Surga

Dan seorang istri yang taat pada suami nya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya”. (Hadist Hasan Shahih no.1296). Taatnya seorang istri terwujud dalam sikapnya yang menjalani perintah suami serta melayani suami tanpa mengeluh, penuh keihklasan, serta meniatkan segalanya karena Allah. Istri wajib melayani dan menerima suami dalam keadaan apapun sebab hal itu termasuk ciri ciri istri shalehah dan menjadi jalan masuk surga.

5. Kasih Sayang kepada Suami

Wanita yang menjadi penghuni surga ialah yang penuh kasih sayang, banyak kembali kepada suaminya yang apabila suaminya marah ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata : aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha”. (Mu’jamul Ausath no.5644). Ciri wanita penghuni surga ialah yang memiliki rasa kasih sayang terhadap suami yang diwujudkan dengan melayani suami dengan sungguh sungguh sebab hanya mengharap ridho dari suaminya.

[AdSense-B]

6. Wujud Kehidupan di Akherat

Perhatikan bagaimana hubunganmu dengannya karena suami merupakan surgamu dan nerakamu”. (HR Ahmad). Hadist tersebut menjelaskan tentang gambaran kehidupan seorang istri di akherat, seorang mukmin wanita yang melayani suaminya dengan sebaik mungkin hingga mendapat ridho dari suaminya tersebut akan mendapatkan sruga sebagai balasan Allah atas ketaatan pada suaminya, begitu pula sebaliknya.

7. Mencegah Laknat

Keutamaan istri melayani suami salah satunya adalah dalam hubungannya dengan bersetubuh sebagai bentuk berkasih sayang, dalam kondisi selain yang diperbolehkan dalam syariat islam, seorang wanita tidak diperkenankan untuk menolak keinginan suami untuk dilayani. “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk bersetubuh dan istri menolaknya hingga suaminya murka, maka si istri akan dilaknat oleh malaikat hingga waktu subuh”. (HR Muslim no.1436)

8. Merupakan Ridho Allah

Seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya”. (Al  Mawaarid no. 1290). Jelas dari firman tersebut bahwa mendapat pelayanan adalah hak dari seorang suami dari istrinya dan menjadi lebih utama  dari segala bentuk amalan serta merupakan salah satu tips menikah dalam islam agar mendapat ridho Allah.

[AdSense-A]

9. Menyenangkan Suami

Keutamaan istri melayani suami ialah untuk menyenangkan suami, suami yang senang akan istri akan berdampak pula kepada istri yaitu akan mendapat keseimbangan dalam kasih sayang serta merasakan kesempurnaan dalam kehidupan rumah tangga. “Suami memiliki hak untuk bersenang senang dengan istrinya setiap hari sekaligus merupakan kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya setiap saat”. (Syarah Shahih Muslim).

10. Lebih Tinggi dari Amalan Sunnah

Hak suami merupakan kewajiban bagi istri. Melaksanakan kewajiban harus didahulukan daripada melaksanakan amalan sunnah”. (Fathul Baari). Penjelasan dari hadist tersebut ialah melayani suami merupakan hal yang lebih utama dari seorang seorang istri daripada menjalankan sebuah amalan sunnah, misalnya ialah ketika istri ingin menjalanakan puasa sunnah tetapi suami ingin dilayani di waktu tersebut maka istri harus mendahulukan untuk melayani suaminya.

11. Mendapat Pahala Jihad

Seorang wanita tidak perlu berperang untuk mendapat pahala jihad, cukup dengan melayani suami dengan sungguh dan senantiasa mampu memberikan kesenangan pada suami, akan mendapat pahala dari Allah seperti pahala jihad. “Seorang suami yang pulang ke rumah dalam keadaan gelisah dan tidak tentram, kemudian sang istri menghiburnya, maka ia akan mendapatkan setengah dari pahala jihad”. (HR Muslim).

12. Tanggung Jawab Istri

Keutamaan istri melayani suami adalah tanggung jawab seorang wanita kepada suaminya yang kelak akan dipertanyakan di akherat. jika istri tidak menjalankan tanggung jawabnya tersebut maka ia tidak mampu menjadi istri sholehah untuk suaminya. “Dan wanita adalah pelayan untuk suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban”. (HR Bukhari Muslim).

13. Ridho Suami adalah Ridho Allah

Seorang istri yang melayani suami dalam hal apapun dan dalam kondisi apapun baik dalam kondisi lelah tetap memberikan yang terbaik untuk suaminya hingga suaminya merasa amat membutuhkan serta menenangkan dirinya, akan mendapat ridho Allah hingga ia meninggal sebab segala urusan yang dilakukannya memiliki pahala lebih sebagai balasan ketataan dan keihklasan dalam melayani suaminya. “Istri yang meninggal dunia dan suaminya ridho terhadapnya maka ia masuk surga”. (HR Tirmidzi).

14. Jauh dari Laknat Allah

Siapa saja di kalangan istri yang tidak berbakti dalam melayani suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia”. (HR Muslim). Jelas dari firman tersebut bahwa seorang wanita yang tidak sungguh sungguh dalam melayani suami akan dilaknak oleh Allah dan seluruh alam, hal demikian misalnya ialah tidak mau melayani jika tidak diberi imbalan dan sejenisnya.  Maka wanita tersebut tidak ikhlas dalam melayani suaminya sehingga tidak mendapat ridho suami dan menjadi penyebab hilangnya ridho Allah padanya pula.

[AdSense-C]

15. Syarat Diterimanya Shalat

Keutamaan istri melayani suami ialah dalam hal diterimanya amal perbuatan, sungguh sia sia bagi seorang wanita yang menjalankan ibadah kepada Allah seperti shalat tetapi kurang sempurna dalam kesungguhan melayani suaminya. Jika hingga membuat suaminya marah, maka amalannya tidak aakn diterima sampai wanita tersebut mendapat maaf dari suaminya. “Allah tidak menerima shalat istri yang dimurkai oleh suami hingga suaminya memafkannya”. (HR Muslim).

16. Memuliakan Suami

Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita setelah hak Allah daripada hak suami”. (Majmu ‘Al Fatawa). Seorang istri wajib memuliakan suaminya dengan cara melayani suami yang memang sudah menjadi hak suaminya secara lahir batin. Dalam tindakan dan perbuatan wajib dilakukan dengan kelembutan, dan dalam hati senantiasa menjalankan dengan bahagia dan mengharap ridho suaminya. Tidak ada urusan yang utama dari hal yang demikian.

17. Ciri Wanita Terbaik

Wanita terbaik yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelesihi sesuai pada diri dan hartanya. Serta melayani suami sebaik mungkin dan menjauhkan suami dari benci”. (HR Ahmad). Wanita terbaik yang disebut oleh rasulullah seperti dalam hadist ialah yang terbaik pelayanannya kepada suaminya. Wanita tersebut ialah contoh teladan wanita sholehah yang menjadi sosok terbaik di mata suami, Allah, dan RasulNya.

Demikian artikel kali ini mengenai 17 keutamaan istri melayani suami, sebagai seorang wanita wajib mensyukuri kehadiran suami dan mewujudkannya dengan memberikan pelayanan yang terbaik untuk suami. Bagi wanita yang sholeh, tidak ada yang lebih indah melebihi kebahagiaan dan ridho suami untuknya.

Semoga artikel ini dapat membuka hati untuk memperbaiki diri dengan meningkkan kualitas pelayanan kepada suami. Melayani suami dengan kesungguhan secara lahir dan batin. Terima kasih sudah membaca. Salam hangat dari penulis.

Hukum Membeli Anjing dalam Islam

Anjing adalah hewan yang dikenal oleh hampir semua orang. Anjing terkenal dengan kesetiaan kepada pemilik dan kesungguhannya dalam menjalankan tugas, seperti ketika menjaga rumah, siang dan malam seekor anjing akan senantiasa siap dan waspada jika ada sesuatu yang mencurigakan di dalam rumah majkannya, anjing akan dengan tanggap berteriak atau melawan sekuat tenaga demi melindungi majikannya.

Sebab itulah anjing banyak dijadikan sebagai hewan favorit, sebagai hewan untuk penjaga ternak atau rumah, juga sering dilibatkan dalam aparat resmi negara untuk mengungkapkan berbagai kejahatan. Dalam islam, anjing dikenal sebagai hewan tidak boleh dipelihara di rumah dan termasuk hewan yang masuk dalam jenis jenis najis dalam islam.

Lalu bagaimanakah hukumnya jika ada seorang muslim yang dengan sengaja membeli anjing? Entah itu untuk dipelihara atau keperluan lain, apakah diperbolehkan dalam islam? Untuk lebih mendalami hal ini, mari kita simak hukum membeli anjing berdasarkan berbagai hadist Rasulullah dan firman Allah dalam uraian berikut.

Hukum Membeli Anjing dalam Islam Menurut Hadist Rasulullah

1. HR Muslim No. 1575

Barang siapa yang membeli atau memelihara anjing kecuali untuk menjaga hewan ternah, berburu, dan menjaga tanaman, maka akan dikurangi pahalanya setiap hari sebanyak satu qitrah”. Jelas dari hadist tersebut ya sobat, akan dikurangi pahala seseorang yang membeli atau memelihara anjing tanpa kepentingan yang jelas. Walaupun bagi sebagian orang anjing adalah hewan yang lucu dan setia, tetapi setiap muslim wajib melakukan segala urusan dengan mendahulukan syariat islam terlebih dahulu sumber syariat islam berasal dari Al Qur’an dan hadist yang sudah pasti kebenarannya.

2. HR Muslim No. 279

Sucinya wadah kalian apabila dijilat anjing, adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali, basuhan pertama dengan debu”. Penjelasan dari hadist tersebut ialah hukum membeli anjing dalam islam tidak diperbolehkan jika digunakan untuk urusan hewan peliharaan, jika ditempatkan di dalam rumah, hingga air liurnya mengenai suatu benda dalam rumah tersebut maka barang tersebut menjadi najis.

Sebagai seorang muslim yang wajib shalat lima waktu dalam keadaan suci, tentu tidak wajar bukan jika dengan sengaja membeli anjing untuk dipelihara? Selain mendapat pengurangan pahala, hal tersebut juga menjadi penyebab amal ibadah ditolak dalam islam dimana ibadah wajib dilakukan dalam keadaan suci.

3. HR Muslim No. 280

Rasulullah menyebutkan dalam sabdanya bahwa jilatan anjing adalah najis, “Jika anjing menjilati wadah”. Dalam hadist tersebut tidak dijelaskan bagian tubuh yang lain seperti misalnya bulu atau bagian lainnya. Tetapi yang wajib dipahami dalam hal ini ialah kebiasaan anjing menjilati tubuh dan bulunya, jika bulu yang terkena jilatan tersebut mengenai manusia, tentu hukumya tetap najis.

Seseorang yang membeli anjing sebab suatu urusan yang lebih banyak manfaatnya seperti contohnya aparat negara yang membeli anjing dan dimanfaatkan untuk mengungkap berbagai tindak kejahatan karena penciumannya yang tajam, hal tersebut diperbolehkan dalam islam.

Sebab tindakan menyelesaikan tindak kejahatan yang akan berdampak pada keamanan serta ketenangan banyak pihak jauh lebih bermanfaat daripada membiarkan tindak kejahatan tersebut. Tentunya seseorang yang berperan dalam urusan tersebut wajib sering membersihkan diri dan mencegah terkena najis, sebab salah satu syarat diterimanya amal ibadah ialah amalan yang dilakukan dalam keadaan suci dari najis.

[AdSense-B]

4. HR Muslim

Rasulullah pernah menunggu Jibril ketika malaikat mulia tersebut berjanji akan datang hingga waktu yang ditentukan tetapi Jibril tidak kunjung datang. Beliau kemudian menoleh dan mendapati anjing terdapat dalam rumah beliau. Segera beliau mengeluarkan anjing tersebut dan datanglah Jibril.

Jibril pun berkata pada Rasulullah “Aku tidak dapat masuk ke dalam rumah yang ada anjing dan gambar”. Dari hadist tersebut disimpulkan bahwa membeli anjing untuk dipelihara hukumnya adalah haram. Sebab menyebabkan malaikat penyebar rahmat tidak dapat masuk ke dalam rumah tersebut.

5. HR Muslim No. 1933

Hukum membeli anjing dalam islam yang tujuannya dilakukan untuk konsumsi atau makanan jelas tidak diperbolehkan sebab dagng anjing termasuk dalam jenis makanan haram menurut islam “Setiap hewan yang bertaring maka memakannya adalah haram”. Maka setiap muslim tidak diperbolehkan membeli anjing untuk dijadikan makanan.

6. HR Bukhari No. 2237

Rasulullah melarang upah dari jual beli anjing, upah pelacur, dan upah tukang ramai”. Maksud dari hadist tersebut ialah, hendaknya setiap muslim menjauhi urusan jual beli anjing. Menjual atau membeli anjing dapat menyebabkan terjadinya urusan yang tidak sesuai dengan syariat islam.

Yaitu menyebabkan orang lain melanggar perintah Allah, seperti menyebabkan seseorang menjadi pemelihara anjing, menjadi pemakan daging, dan lain lain. Sebab itu jika ada seorang muslim yang dengan sengaja membeli anjing untuk diperdagangkan dan mencari keuntungan darinya, hendaknya meninggalkan urusan tersebut dan mencari jalan rezeki lain yang dihalalkan oleh Allah.

[AdSense-A]

Hukum Membeli Anjing Menurut Firman Allah

7. QS Al Maidah Ayat 4

Dihalalkan bagimu yang baik baik dan buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu waktu melepaskanya”.

Penjelasan dari firman tersebut ialah diperboleh membeli binatang buas misalnya anjing yang pandai berburu untuk membantu manusia berburu mencari makanan dengan syarat tidak ada hal lain yang bisa membantunya selain hal tersebut. Misalnya adalah pada masyarakat pedalaman yang memang masih rekat dengan alam dan berburu untuk mencukupi kebutuhan sehari hari.

Jika tidak menggunakan bantuan dari hewan buas seperti anjing justru akan membahayakan keselamatan bagi dirinya sendiri. Tentu tetap harus diingat baik air liur anjing dan bagian tubuhnya yang terkena adalah najis. Sehingga jauh lebih baik tidak berada di dekat anjing tersebut kecuali jika untuk keperluan yang diperbolehkan dalam syariat islam.

8. QS Al Kahfi Ayat 9

Dalam Al Qur’an diceritakan bahwa pada jaman terdahulu terdapat sekelompok hamba Allah (Ashabul Kahfi) yang bersembunyi di sebuah gua dan memiliki seekor anjing yang mengikuti selama pelarian dan pemsembunyian di tempat tersebut.

Atau kamu mengira bahwa orang orang yang mendiami gua dan raqim (anjing) itu, mereka termasuk tanda tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”. Firman tersebut menjelaskan bahwa dalam masa lampau sebelum masa kenabian Rasulullah, anjing sudah dipeliharan oleh orang sebagai penjaga atau pemburu.

Jelas dari firman tersebut bahwa membeli anjing untuk keperluan penjagaan atau kemananan diperbolehkan dalam islam sebab bertujuan untuk urusan yang lebih darurat seperti melindungi diri dari musuh, mencari makanan, dan membantu menemukan bukti tindak kejahatan demi kepentingan orang banyak. Anjing yang diceritakan pada masa tersebut ialah anjing yang telah dilatih untuk berburu dan bekas gigitan pada tubuh binatang buruan tidak boleh dimakan.

9. QS Ali Imron Ayat 32

Allah tidak menyukai orang kafir”. (QS Ali Imron : 32). Contoh urusan membeli anjing yang menyerupai orang kafir seperti bermain atau berlarian dengan anjing, tidur bersama anjing peliharaan, bahkan mencium anjing yang memiliki sifat najis dalam air liurnya. Hal tersebut haram hukumnya.

10. QS Al Ahzab Ayat 36

Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka”. Penjelasan firman tersebut ialah misalnya seseorang berniat membeli anjing untuk kepentingan keamanan penjagaan rumahnya, sebaiknya mengupayakan atau mempertimbangkan pilihan lain terlebih dahulu.

Terlebih di jaman modern ini begitu banyak alat modern yang membantu manusia, misalnya memasang pagar canggih, memasang cctv, atau memperkerjakan seseorang untuk menjaga keamanan. Jika hal tersebut memungkinkan maka jauh lebih baik untuk memilih jalan tersebut yang sudah jelas diperbolehkan oleh Allah.

[AdSense-C]

Urusan yang Berhubungan dengan Hukum Membeli Anjing dalam Islam

  • Berdasarkan Niat

Seperti yang telah dijelaskan dalam berbagai hadist serta firman Allah, membeli anjing tidak memiliki suatu hukum yang khusus, seperti halnya urusan yang lain misalnya shalat hukumnya wajib, zina hukumnya haram, dan lain lain. Membeli anjing hukumnya disesuaikan dengan niat atau kepentingan yang berhubungan dengan urusan tersebut.

  • Tidak Boleh Dibunuh Seenaknya

Walaupun anjing adalah binatang yang najis liurnya, tidak serta merta manusia diijinkan untuk membunuh anjing dengan seenaknya. Anjing tetaplah makhluk Allah yang wajib diperlakukan dengan baik sesuai dengan aturan atau syariat islam yang berlaku. Tidak diperkenankan membunuh anjng kecuali jika hewan tersebut membahayakan atau menyerang.

  • Tidak Menyiksa

Hukum membeli anjing dalam islam yang bertujuan untuk kepentingan diri sendiri tanpa memperlakukan anjing tersebut dengan baik juga tidak diperbolehkan dalam islam, misalnya membeli anjing untuk menjaga ternak hingga tidak mencukupi kebutuhan makan dan minum anjing tersebut, maka pemilik anjing tersebut berdosa sebab termasuk perbuatan menyiksa makhluk Allah.

Dapat disimpulkan bahwa hukum membeli anjing dalam islam ialah tidak diperbolehkan kecuali untuk berburu atau menjaga hewan ternak dan tanaman dengan syarat tidak tersedia sarana lain untuk hal tersebut.  Sampai disini dulu ya sobat artikel kali ini, semoga menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk anda. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel berikutnya. Salam hangat dari penulis.

17 Keutamaan Memuliakan Istri yang Wajib Diketahui

Sebagai seorang wanita, salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup ialah ketika memiliki suami yang sholeh dan senantiasa memperlakukannya dengan baik. Sebagai seorang lelaki pun, menjadi seorang suami yang mampu membahagiakan dan memuliakan istri juga merupakan kebanggaan dan kebahagiaan dari dirinya.

Dalam berbagai kisah sering kita mendengar bahwa Rasulullah pun senantiasa berbuat baik kepada istri istri nya. Dalam keadaan bahagia, susah, kebingungan, ataupun dalam keadaan marah, Rasulullah tidak pernah sekalipun berkata kasar apalagi berbuat sesuatu yang menyakiti istrinya. Beliau senantiasa memuliakan dan amat menyayangi istri istrinya.

Dari teladan Rasulullah tersebut dapat diketahui bahwa memuliakan istri adalah termasuk dari perbuatan yang utama, yang dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah. Sebagimana seorang muslim yang menjalankan perintah Allah dan Rasul Nya, kita juga wajib memuliakan istri, sebab dalam islam hal terdapat 17 keutamaan memuliakan istri, apa sajakah keutamaan tersebut? Mari kita simak dan pelajari bersama.

1. Ciri Suami Terbaik

Seorang suami dalam menjalankan tugas dan kewajibannya dalam hubungannya dengan berkeluarga yaitu menikah dan berumah tangga karena Allah, tugas tersebut tentunya akan lebih berkah jika ia mampu menjadi suami yang terbaik untuk istrinya sebagaimana teladan cara rasulullah menyayangi istri . Selain mendapat keberkahan rumah tangga dan kasih sayang dari istri, suami terbaik yang memiliki ciri memuliakan istrinya juga mendapat derajat sebagai suami yang terbaik di mata Allah dan Rasul Nya. “Sebaik baik suami adalah yang paling baik kepada istrinya, sejelek jelek suami adalah yang paling buruk kepada istrinya”. (HR Muslim).

2. Suami Sebagai Pemimpin

Sebagai pemimpin, seorang suami memiliki keutamaan memuliakan istri dengan menuntun istrinya dengan cara yang baik, dengan cara membahagiakan istri tercinta, serta memberi teladan baik, secara langsung istrinya akan berbuat baik pula padanya dan menjalankan segala kewajiban rumah tangga dengan perasaan bahagia. “Kaum pria adalah qawwam (pemimpin) bagi kaum wanita”. (QS An Nisa : 34).

3. Sebagai Pertanggungjawaban di Akherat

Suami kelak akan ditanya bagaimana dia memperlakukan dan memimpin istrinya selama di dunia. Suami yang memuliakan istri akan terhindar dari keburukan di akherat sebab mampu memberi kebahagiaan pada istrinya serta mendapat ridho Allah. Lelaki yang mampu menjadi seseorang yang bertanggung jawab akan mendapatkan ciri ciri istri shalehah dalam diri istrinya yang akan dipertanyakan di akherat nanti. “Suami kelak akan ditanya pertanggungjawaban tentang mereka (keluarganya)”. (HR Al Bukhari no.2554)

4. Mendapat Rahmat Allah

Karena disebabkan rahmat Allah lah engkau dapat bersikap lemah lembut dan lunak kepada mereka (keluarganya). Sekiranya engkau adalah seorang yang kaku, keras, lagi berhati kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (QS Ali Imran : 159). Jika anda mampu memuliakan istri, hal tersebut merupakan rahmat dari Allah dan akan mendatangkan rahmat atau kebaikan kebaikan yang berikutnya.

[AdSense-B]

5. Cara Bergaul yang Baik

Bergaul yang baik adalah bergaul dengan cara yang lembut yang tidak menyakiti satu sama lan. Bergaul yang baik kepada istri adalah salah satu keutamaan memuliakan istri, yaitu timbal balik dalam hal kebaikan, bersikap baik sebagaimana seorang suami ingin mendapat pelayaanan terbaik dari istrinya. “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik”. (An Nisa : 19).

6. Perintah dari Allah

Allah memerintahkan suami untuk memuliakan istri dengan cara dalam firman Nya berikut, “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (istri) dan perbagus perbuatan dan penampilan kalian sesuai kadar kemampuan”. (Al Hafidz Ibnu Katsir). Sebab seorang istri merupakan anugrah untuk suami dimana seorang suami hidupnya tidak akan terasa lengkap jika tidak memiliki pendamping hidup. Istri memberikan kebahagiaan, ketenangan, dan pelayanan untuk suami. Sebab itu Allah pun memerintahkan suami untuk memuliakannya agar tercapai kesempurnaan dalam kehidupan rumah tangga.

7. Merupakan Hak Istri

Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”. (QS Al Baqarah : 228). Keutamaan memuliakan istri adalah salah satu hak istri, dimana suami sebagai kepala keluarga memiliki kewajiban memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya. Nafkah batin diberikan dengan cara memuliakan istrinya.

8. Teladan dari Rasulullah

“Dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap keluargaku (istriku)”. (HR Muslim). Hadist tersebut merupakan teladan dari Rasulullah sekaligus sebagai perintah untuk mencontoh beliau, yaitu bersikap baik terhadap istri dan memuliakannya.

9. Merupakan Akhlak Mulia

Wajahnya senantiasa berseri seri, suka bersenda gurau, dan bercumcu rayu dengan istri. Bersikap lembut dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama istri istrinya. (Tafsir Ibnu Katsir). Contoh dalam hadist tersebut merupakan kebiasaan Rasulullah pada istrinya sebagai wujud kemuliaan akhlak beliau. Hal demikian tentu tidak hanya dapat dilakukan oleh Rasulullah, seorang suami dapat mecontohnya dan melakukan hal yang sama pada istrinya agar senantiasa menjadi seorang suami yang berakhlak baik.

[AdSense-A]

10. Menyenangkan Istri

Keutamaan memuliakan istri adalah dapat memberikan kesenangan baginya. Rasulullah mmeberi teladan dengan memberikan perhatian dan mendengarkan keluh kesah istrinya setiap hari sehingga tercapai komunikasi yang baik dan kasih sayang antar keduanya. “Setelah shalat isya’, beliau (Rasulullah) masuk rumah dan berbincang bincang sejenak dengan istrinya sebelum tidur guna menyenangkan mereka”. (Tafsir Ibnu Katsir).

11. Sebagai Curahan Kasih Sayang

Istri berhak mendapat curahan kasih sayang dari suami dengan cara dimuliakan oleh suaminya. Istri akan menjadi seorang yang lembut jika diperlakukan dengan lembut.“Karena para istri adalah makhluk Allah yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang”. (Tuhfatul Ahwadzi).

Sebagaimana hadist tersebut seorang istri adalah makhluk yang lebih, ada sebagian istri yang mudah menangis, ada pula yang memiliki sifat keras, tetapi dari  segala sifat yang tampak tersebut dalam naluri istri yang terdalam ia tetaplah makhluk lemah yang butuh kasih sayang dan perlindungan serta dimuliakan oleh suaminya.

12. Sikap Lemah lembut

Rasulullah senantiasa memberi teladan sikap memuliakan istri dengan bersikap lemah lembut terhadap istri istrinya, dalam keadaan apapun misalnya dalam kondisi sedih atau marah, beliau tetap memuliakan istrinya dengan cara yang mulia dan tidak pernah menyakiti hatinya. “Hendaklah engkau bersikap lembut”. (HR Muslim no.2594).

13. Dicintai Oleh Allah

Keutamaan memuliakan istri ialah dicintai oleh Allah sebab mampu bersikap lemah lembut dimana lelaki diciptakan dengan naluri seseorang yang keras dan teguh sebagai tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, tetapi mampu menyingkirkan itu semua ketika sedang berkasih sayang dengan istrinya. “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal”. (HR Al Bukhari no.6024).

14. Tercapai Tujuan

Suami yang memuliakan istri akan dimuliakan pula oleh istrinya dengan senantiasa  didoakan kebaikan untuknya serta didukung dalam kondisi apapun sehingga ketika suami istri saling bekerja sama dalam kebaikan, akan mudah tercapai segala tujuan dan menghadapi segala ujian dengan kasih sayang dalam kebersamaan. “Dengan kebaikan tersebut akan dimudahkan tercapainya tujuan tujuan yang diinginkan dan akan dimudahkan segala tuntutan”. (Syarah Syahih Muslim).

15. Sebagai Pembimbing

Seorang istri diciptakan dengan segala kelemahan dan kelebihannya, ia butuh dibimbing dan diluruskan sebab merupakan makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Butuh kelembutan dan kesabaran agar ia tak patah. Tugas suami ialah melakukan hal tersebut, memuliakan istri dengan membimbingnya dengan kelembutan. Sebagaimana sabda Rasulullah “Berwasiatlah kalian kepada para istri dengan kebaikan karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok”. (HR Al Bukhari no. 5186).

16. Kesempurnaan dalam Rumah Tangga

Keutamaan memuliakan istri yaitu akan merasakan nikmat yang sempurna yaitu memiliki keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Hal terebut terjadi karena suami memuliakan istri sehingga istri pun memberikan pelayanan yang terbaik untuk suaminya. Kehidupan rumah tangga akan terasa tenang dan jauh dari kegundahan. “Merasakan kenikmatan dengan istri tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadapnya dan memuliakannya”. (Syarah Shahih Muslim).

[AdSense-C]

17. Memberikan Ketenangan

Memuliakan istri akan memberikan ketenangan dalam hidup, sebab dari sikap suami yang memuliakan istri akan muncul ikatan batin serta kasih sayang yang lebih dalam diantara keduanya. Walupun sudah hidup bersama dalam rumah tangga selama bertahun tahun, tidak akan ada rasa jenuh atau perubahan dalam kasih sayang, melainkan senantiasa dalam ikatan cinta yang lebih dalam. Sebab kebersamaan suami istri yang dilandasi kasih sayang akan memberikan rasa tenang, “Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu itu, agar jiwa tersebut merasa tenang bersamanya”. (QS Al A’raf : 189).

Di balik kesuksesan seorang suami, biasanya ada peran istri di sampingnya, ketika suami sedang berjuang keras di luar rumah, seorang istri pun juga bekerja keras dalam keikhlasannya mengabdi dan memberi dukungan serta menata keindahan dan ketentraman di rumahnya dengan harapan ketika suami pulang ke rumah akan mendapatkan kesejukan, kebahagiaan, dan kelapangan yang tidak bisa didapatkan di luar rumah.

Sampai disini dulu ya sobat artikel kali ini, semoga dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dalam kehidupan sehari hari. Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di artikel berikutnya. Salam hangat dari penulis.

Hukum Zakat Profesi Menurut Islam

Zakat profesi atau zakat pendapatan sebenarnya tidak banyak dibahas, karena pada zaman dahulu umat islam belum banyak yang memiliki profesi atau pendapatan layaknya masyarakat sekarang. Saat ini, banyak masyarakat yang mengantungkan hidupnya dari bekerja.

Terdapat banyak jenis pekerjaan yang bisa dilakoni, mulai dari buruh, karyawan, pegawai, polisi, dokter dan banyak lagi. Rata-rata penghasilan dari pekerjaan yang tergolong mapan memiliki nilai nominal yang cukup fantastis.

Tentunya dalam hal ini, masih sering terjadi perdebatan dimana apakah setiap penghasilan yang didapatkan dari profesi yang ditekuni wajib terkena zakat. Dalam sebuah hadist Imam Al Bukhari meriwayatkan pengakuan sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tentang hal ini:

لقد عَلِمَ قَوْمِي أَنَّ حِرْفَتِي لم تَكُنْ تَعْجِزُ عن مؤونة أَهْلِي وَشُغِلْتُ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَسَيَأْكُلُ آلُ أبي بَكْرٍ من هذا الْمَالِ وَيَحْتَرِفُ لِلْمُسْلِمِينَ فيه.

Sungguh kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaanku dapat mencukupi kebutuhan keluargaku, sedangkan sekarang, aku disibukkan oleh urusan umat Islam, maka sekarang keluarga Abu Bakar akan makan sebagian dari harta ini (harta baitul maal), sedangkan ia akan bertugas mengatur urusan mereka.” [Riwayat Bukhary]

Untuk memahaminya, dan mengupasnya lebih jauh, maka akan dijelaskan secara singkat dalam uraian berikut.

Hukum Zakat Profesi Dalam Menurut Islam

Zakat termasuk kedalam rukun islam yang keempat. Islam sendiri memandang zakat sebagai sesuatu yang dapat menyucikan harta benda. Dalam islam kita mengenal istilah zakat fitrah yakni zakat yang wajib di berikan pada akhir bulan ramadhan dan akan diberikan kepada penerima zakat . Sedangkan yang kedua ialah zakat maal atau zakat harta dimana harta dalam islam yang kita miliki wajib dibayarkan zakatnya apabila telah masuk nisabnya simak juga cara menghitung zakat maal .

Dalam islam sendiri tidak terdapat hadist yang menerangkan mengenai kewajIban zakat profesi sebagaimana hukum zakat pendapatan . Oleh karena itu, dalam hukum zakat profesi terdapat dua pendapat. Berikut akan diulas mengenai hukum zakat profesi dalam islam.

1. Hukum Kewajiban Mengeluarkan Zakat Profesi

  • Berdasarkan Al-Quran

Dalam surat Al baqarah ayat 267 Allah memerintahkan umat islam untuk menafkahkan sebagian hartanya untuk kebaikan atau dalam hal ini sebagai zakat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al Baqarah : 267)

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Az-Zariyat ayat 19 berikut :

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (Az zariyat : 19) [AdSense-B]

Juga dijelaskan dalam QS At-Taubah ayat 103 berikut :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah:30)

Dalam petikan firman Allah SWT diatas, mengeluarkan zakat merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat muslim di seluruh dunia.

Kewajiban ini juga termasuk terhadap kepemilikan dari harta yang dihasilkan dari profesi yang di geluti atau segala sumber pendapatan yang diperoleh melalui usaha. Maka dalam hal ini gaji yang diperoleh dari profesi yang di lakoni juga termasuk wajib dikeluarkan zakatnya.

Imam Al-Qurtubi dalam Tafsier Al-Jaami’ Li Ahkaam Al-Qur’an pernah mengutip perkataan Muhammad bin Sirin dan Qathadaah yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata-kata “Amwaal” (harta) pada QS. Adz-Zaariyaat: 19, adalah zakat yang diwajibkan, artinya semua harta yang dimiliki dan semua penghasilan yang didapatkan, jika telah memenuhi persyaratan kewajiban zakat, maka harus dikeluarkan zakatnya. (Tafsir Al-Jaami’ Li Ahkaam Al-Qur’an, Jilid 9, hal 37).

  • Pendapat Ulama Terdahulu 

[AdSense-A] Beberapa pendapat para ulama baik terdahulu ataupun sekarang telah mewajibkan zakat profesi. Meskipun terdapat perbedaan penyebutan didalamnya, sebagian menggunakan istilah “al-Amwaal”, sebagian lagi menggunakan istilah “al-maal al-mustafaad”.

Abu Ubaid meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra tentang seorang laki-laki yang memperoleh hartanya (al-maal al-mustafaad) beliau berkata: “Dia keluarkan zakatnya pada hari dia mendapatkan harta itu” (Al-Amwaal, hal. 413).

Abu Ubaid meriwayatkan dari Hubairah bin Yarim berkata: “Adalah Ibnu Mas’ud ra memberi kami al-‘athaa’ lalu beliau mengambil zakatnya” (Al-Amwaal, hal. 412).

Abu Ubaid menyebutkan bahwa Umar bin Abdul ‘Aziz apabila memberi al-‘umalah kepada seseorang maka beliau mengambil zakatnya; apabila mengembalikan al-mazhaalim (kepada yang berhak) maka beliau mengambil zakatnya; beliau juga mengambil zakat dari al-a’thiyah apabila diberikan kepada penerimanya” (Al-Amwaal, hal 432).

  • Dari Sudut Keadilan 

Islam memandang bahwa ketetapan terhadap lewajiban zakat terhadap seluruh harta yang dimiliki merupakan sebuah bentuk keadilan. Selaim itu, hal ini juga telah sangat jelas, ketimbang hanya menetapkan zakat pada komoditas tertentu saja bersifat konvensional.

  • Bagian Dari Perkembangan Hidup Manusia

Dengan semakin berkembangnya waktu dan zaman, maka kegiatan penghasilan yang diperoleh dari keahlian dan profesi juga akan semakin berkembang. Selain itu, perkembangan ini juga akan berpengaruh kepada perkembangan dalam kegiatan perekonomian. Sehingga penghasilan profesi akan semakin mendominasi sebagaimana yang terjadi pada negara-nega maju dan pusat industri besar.

2. Pendapat yang Menyatakan Tidak Wajibnya Zakat Profesi

Selain adanya pendapat yang mewajibkan mengeluarkan zakat dari penghasilan dan profesi. Terdapat juga pandangan yang bertolak belakang. Dimana beberapa ulama dibawah ini menyatakan ketidakwajiban mengeluarkan atas zakat profesi yang diperolehnya.

  • Dr. Wahbah Az-Zuhaili

Beliau merupakan salah satu tokoh ulama kontemporer menuliskan pikirannya di dalam kitabnya, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu sebagai berikut :

والمقرر في المذاهب الأربعة أنه لا زكاة في المال المستفاد حتى يبلغ نصاباً ويتم حولا

Yang menjadi ketetapan dari empat mazhab bahwa tidak ada zakat untuk mal mustafad (zakat profesi), kecuali bila telah mencapai nishab dan haul.”

  • Syeikh Abdullah bin Baz mufti

Kerajaan Saudi Arabia simak juga sejarah islam di arab   di masanya bisa dikategorikan sebagai ulama masa kini yang juga tidak sepakat dengan adanya zakat profesi ini. Berikut petikan fatwanya :

“Zakat gaji yang berupa uang, perlu diperinci: Bila gaji telah ia terima, lalu berlalu satu tahun dan telah mencapai satu nishab, maka wajib dizakati. Adapun bila gajinya kurang dari satu nishab, atau belum berlalu satu tahun, bahkan ia belanjakan sebelumnya, maka tidak wajib dizakati.”

  • Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin

Pendapat serupa juga ditegaskan oleh Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, salah seorang ulama di Kerajaan Saudi Arabia di masanya.

“Tentang zakat gaji bulanan hasil profesi. Apabila gaji bulanan yang diterima oleh seseorang setiap bulannya dinafkahkan untuk memenuhi hajatnya sehingga tidak ada yang tersisa sampai bulan berikutnya, maka tidak ada zakatnya.  Karena di antara syarat wajibnya zakat pada suatu harta (uang) adalah sempurnanya haul yang harus dilewati oleh nishab harta (uang) itu. Jika seseorang menyimpan uangnya, misalnya setengah gajinya dinafkahkan dan setengahnya disimpan, maka wajib atasnya untuk mengeluarkan zakat harta (uang) yang disimpannya setiap kali sempurna haulnya.”

Itulah tadi hukum mengenai zakat profesi dalam islam. Meskipun terdapat perbedaan pendapat namun, dari kedua pendapat tersebut disimpulkna bahwa  sebagai umat muslim kita diwajibkan memgeluarkan zakat harta apabila telah memenuhi hisabnya. Semoga semakin dapat meningkatkan pengetahuan kita lebih dalam akan ajaran islam. Dan semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Hukum Melanggar Nazar Dalam Islam

Nazar adalah janji untuk melakukan atau memberi suatu hal ketika seseorang mengharap sesuatu (hajat) untuk tercapai, misalnya berjanji akan beramal pada anak yatim piatu sebesar Rp 1 juta jika memiliki nilai yang bagus. Nazar yang diucapkan tersebut wajib dipertanggungjawabkan dan ditepati.

Dalam perjalanan kehidupan, kita semua sebagai hamba Allah tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari. misalnya dalam contoh bernazar akan beramal pada anak yatim piatu tadi, jika hajatnya tercapai tetapi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan nazarnya misalnya karena uang yang dimiliki untuk keperluan yang lebih penting sehingga tidak mampu untuk beramal pada anak yatim hingga terjadilah pelanggaran nazar tersebut baik berupa penundaan atau bahkan dibatalkan dan dilupakan padahal hajatnya sudah tercapai.

Bagaimana pandangan islam jika hal tersebut terjadi? Berikut penjelasan lengkap mengenai hukum melanggar nazar dalam islam diambil dari firman Allah dan berbagai hadist.

Hukum Melanggar Nazar Menurut Al Qur’an

Hukum melanggar nazar dalam Al Qur’an yang diantaranya berisi  sumber syariat islam dan petunjuk Allah untuk segenap umat manusia adalah haram, sebab nazar disebut sebagai janji yang wajib ditepati. berikut firman firman Allah tentang hukum melanggar nazar :

1. QS Al Haj Ayat 29

Melaksanakan nazar merupakan sesuatu yang wajib sebab Allah tidak pernah meminta hamba Nya untuk bernazar melainkan datang dari kemauan hamba Nya sendiri. tidak menepati janji termasuk perbuatan ingkar dan hall demikian tidak sesuai syariat islam.

Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar nazar mereka”.

2. QS Al Insan Ayat 5-7

“Sesungguhnya orang orang uang berbuat kebajkan minum dari gelas yang campurannya adalah mata air dari surga yang daripadanya hamba hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana mana”.

Hukum menunaikan nazar ialah wajib, Allah berfirman dalam firman tersebut bahwa orang orang yang menunaikan nazar karena takut pada azab Allah dan karena menyadari hal tersebut adalah kewajiban yang telah dipilihnya sendiri maka termasuk orang yang berbuat kebajikan.

3. QS Al Baqarah Ayat 270

Manusia sekali tidak bisa menipu Allah barang sedikitpun sebab Allah maha mengetahui, walaupun seseorang pura pura lupa akan nazarnya dan secara sengaja tidak melaksanakan nazar tersebut tetap dikenakan dosa sebab Allah mengetahui apa saja yang telah menjadi nazar hamba Nya. “Apa saja yang kmu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

[AdSense-B]

4. QS Ali Imran Ayat 76

Barang siapa yang menepati yang dibuatnya dan bertaqwa maka sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaqwa”. Menepati nazar termasuk orang bertaqwa yang disukai oleh Allah, begitu juga sebaliknya.

5. QS Al Maidah Ayat 89

hukum melanggar nazar dalam islam yaitu memberi makan orang miskin, memberi pakaian, meemerdekakan budak, atau berpuasa jika tidak mampu melakukan hal tersebut. Sesuai dengan firman Allah berikut,

Allah tidak menghukum kamu disebabkan nazar yang tidak dimaksudkan untuk sumpah, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan nazar yang disengaja. Maka kaffarat (denda) melanggar nazar itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat nazar mu bila kamu bersumpah dan kamu langgar. Maka jagalah sumpahmu”.

[AdSense-A]

Dari berbagai firman Allah dalam Al Qur’an yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa hukum melanggar nazar adalah wajib, bagi yang melanggar maka wajib membayar denda. Jika melanggar nazar dan tidak disertai iktikad baik untuk membayar denda maka orang tersebut berdosa.

Hukum Melanggar Nazar Menurut Hadist

hukum melanggar janji dalam islam atau pun sering disebut nazar  juga terdapat dalam berbagai hadist Rasulullah sebab nazar sudah ada sejak zaman dahulu kala dan sudah pernah terjadi dalam lingkungan Rasulullah (terjadi pada sahabat sahabat dan kaum pada jaman tersebut). Berikut hadist Rasulullah tentang hukum melanggar nazar dalam islam :

6. HR Bukhari no. 6696

Nazar yang berisi kebaikan, misalnya akan rutin shalat dhuha jika mendapatkan pekerjaan, hukumnya wajib ditepati. Meskipun shalat dhuha bukanlah termasuk shalat wajib tetapi hukumnya menjadi wajib bagi orang tersebut karena dia telah bernazar.

Barang siapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut”.

7. HR Bukhari no.2043

Dari Ibnu Umar beliau berkata, “Dahulu di masa jahiliyah, Umar r.a pernah bernazar untuk beri’tikaf di masjidil haram yaitu i’tikaf pada suatu malam, lantas Rasulullah bersabda padanya “tunaikanlah nazarmu”.

Hadist tersebut juga berisi tentang nazar yang diucapkan oleh sahabat Rasulullah yang oleh Rasulullah diperintahan untuk menepati nazar tersebut.

8. HR Muslim

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir dari Rasulullah bersabda, “Kalimat nazar itu kaffarat sumpah”.

Hadist tersebut seperti yang dijelaskan Allah dalam QS Al Maiddah ayat 89 yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu kalimat nazar adalah sebuah sumpah yang jika dilanggar hukumnya haram dan wajib membayar kaffarat (denda).

9. HR Abu Dawud no. 2876

Dari Ibnu Abbas bahwa Saad bin Ubadah meminta fatwa dari Rasulullah, dia berkata “Sesungguhnya ibuku telah meninggal sedangkan dia masih berkewajiban melaksanakan nazar yang belum ditunaikannya. Maka Rasulullah bersabda, tunaikanlah nazar itu olehmu untuknya”.

Hukum nazar tetap berlaku walaupun orang tersebut sudah meninggal dan wajib ditunaikan oleh ahli waris.

10. HR Bukhari no. 2651

Sebaik baik kalian adalah orang yang berada di generasi ku, kemudian orang orang setelahnya dan orang orang setelahnya lagi merupakan kaum yang bernazar lalu mereka tidak menunaikannya”.

Jelas dari hadist tersebut dijelaskan bahwa orang orang yang bernazar dan tidak menunaikannya termasuk golongan orang yang tidak baik akhlaknya, secara langsung orang tersebut mempermainkan kalimat nya sendiri dan mengingkari janji.

Melanggar Nazar yang Diperbolehkan dalam Islam

Ada nazar yang diperbolehkan untuk dilanggar, yaitu nazar dalam kategori sebagai berikut

  • Nazar Orang Kafir

Sebab tidak termasuk nazar yang sah karena dilakukan oleh seorang yang menyembah selain Allah sehingga nazar yang diucapkannya ditepat ataupun tdak ditepati tidak akan berpengaruh pada amal perbuatannya sebab segala yang dilakuannya tidak dalam ridho Allah sebagaimana dijelaskan bahwa orang orang kafir amal baiknya tidak diterima Allah.

  • Nazar Anak Anak dan Orang gila

Sebab merupakan sesuatu yang tidak memiliki nilai kesungguhan dan tidak memahami arti atau hukum dari nazar itu sendiri. Orang gila juga mengucapkan segala sesuatu yang tidak sesui akal pikirannya.

  • Nazar Karena Paksaan

Kalimat nazar yang diucapkan karena paksaan dari orang lain dan pada saat itu dalam keadaan tertekan serta tidak ada pilihan lain, atau jika tidak menuruti paksaan tersebut akan terjadi bahaya pada dirinya, boleh untuk dilanggar sebab tidak sungguh sungguh berasal dari niat dirinya sendiri.

  • Hanya Sebatas Niat

Misalnya nazar yang masih direncanakan atau terfikirkan dalam batin tetapi belum diucapkan secara lisan.

  • Nazar yang Mustahil

Misalnya lelaki tua yang sakit sakitan dan cacat tidak mampu berjalan ingin berhaji lalu membuat nazar jika dirinya diberi rezeki dan mampu berhaji akan melakukan haji dengan jalan kaki dari rumahnya di Indonesia ke Arab saudi. Tentu hal yang mustahil bukan? Apalagi dengan kondisinya yang cacat.

Nazar tersebut boleh dilanggar yaitu dengan rezeki yang telah dikabulkan untuk diberikan padanya oleh Allah lelaki tua tersebut menggunakannya untuk berangkat haji denagn cara yang semestinya (naik pesawat). Dalam hal ini lelaki tua tersebut tetap diwajibkan membayar denda sebab nazarnya berhubungan dengan kebaikan yang wajib dilaksanakan (ibadah haji).

  • Nazar yang Buruk

Barang siapa bernazar untuk menaati Allah maka hendaklah dia mentaati Nya. dan barang siapa bernazar untuk mendurhakai Nya maka janganlah dia mendurhakai Nya”. (HR Al Bukhari).

Hadist di atas berhubungan dengan cerita nazar lelaki tua yang diceritakan di atas, nazar yang baik tetap wajib dilakukan, tetapi jika nazarnya tentang janji melanggar agama atau ebrbuat maksiat maka nazar tersebut wajib ditinggalkan serta banyak banyak memohon ampun kepada Allah karena telah berniat sesuatu yang tidak di ridhoi Nya.

Anjuran Rasulullah tentang Hukum Melanggar Nazar

Rasulullah menganjurkan agar umat muslim menjauhi nazar sebab nazar termasuk ciri orang yang pelit sebab hanya mau berbuat kebaikan atau memberi sesuatu jika hajat nya tercapai, tidak karena ikhllas ingin beribadah atau ingin berbuat baik.

Nazar yang dilanggar juga termasuk perbuatan dosa sementara sebagai umat mansuia kita tidak tahu kehendak Allah apa yang akan terjadi pada kita di esok hari yang barangkali akan menyulitkan kita untuk melakukan hal tersebut.

Jadi dianjurkan untuk tidak bernazar, lebih baik lakukan kebaikan karena niat beribadah ekpada Allah, bukan karena agar hajatnya atau keinginannya terkabul.

[AdSense-C]

Hal ini disabdakan Rasululullah dalam berbagai hadist :

  • HR Bukhari no. 6693

Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit”.

  • HR Bukhari no. 6694

Sungguh nazar tidak membuat dekat seseorang pada apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nazar tersebut itulan yang Allah takdirkan. Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan”.

Sampai disini dulu ya sobat pembahasan pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat bagi sobat semua. Sampai jumpa di lain kesempatan dan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Salam hangat dari penulis.

Hukum Tawar Menawar Dalam Islam

Tawar menawar adalah hal yang biasa, umumnya terjadi pada urusan jual beli. Sering kita temui para pembeli yang menawarkan dagangan baik secara langsung atau melalui media online dan ditawar oleh calon pembeli yang minat untuk memiliki barang yang dijual tersebut. Barang akan diserah terima kan ketika sudah ada kesepakatan antara keduanya.

Tawar menawar tidak hanya terjadi dalam urusan perdagangan saja, dalam kehidupan sehari hari seperti ketika ditetapkan suatu peraturan dalam masyarakat, ketika seorang murid diberi tugas oleh guru, ketika seorang anak atau diberi uang oleh orang tuanya, sering pula terjadi tawar menawar misalnya seorang anak yang merasa menginginkan uang lebih dari orang tua nya karena keperluan tertentu dan sebagainya. Sering dialami dalam kehidupan anda pula bukan?

Jadi seperti apakah hukum tawar menawar dalam islam menurut syariat agama yang berdasarkan Al Qur’an dan Hadist? Dihalalkan ataukah memiliki hukum yang lain? Simak penjelasan dalam artikel ini agar dapat menambah pengetahuan anda tentang hukum tawar menawar dalam islam.

Hukum Tawar Menawar Berdasarkan Al Qur’an

Hukum tawar menawar dalam islam berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an ialah halal atau diperbolehkan selama dijalankan sesuai sumber syariat islam. Tak apa jika berada dalam suatu perniagaan (jual beli) dilakukan tawar menawar harga hingga tercapai kesepakatan kedua belah pihak agar tidak ada rasa keterpaksaan dalam urusan jual beli tersebut. Berikut firman firman Allah yang menjelaskan hal tersebut :

1. QS An Nisa Ayat 29

Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan yang dilakukan atas dasar suka sama suka diantara kamu”.

Penjelasan dari firman Allah tersebut ialah diperbolehkan melakukan tawar menawar dalam urusan jual beli agar tidak ada slah satu yang merasa dirugikan karena telah menjual dan membeli atas dasar suka sama suka.

Jalan yang batil contohnya ialah jual beli menurut islam yang merugikan salah satu pihak, misalnya seorang penjual berdagang dengan harga tinggi agar mendapatkan harta lebih dan pembeli terpaksa membelinya karena faktor kebutuhan atau tidak menemukan barang yang dicari tersebut di tempat lain.

2. QS Al Hasyr Ayat 9

Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang yang beruntung”.

Kikir yang dimaksud disini dapat berlaku baik bagi pembeli atau penjual yang melakukan hukum tawar menawar dalam islam. Sering kita menemui seorang pembeli yang menawar dengan merendahkan harga secara tidak wajar atau hingga memaksa dan membanding bandingkan dengan penjual lain, juga contoh pembeli yang tidak jadi membeli padahal sudah tercapai kesepakatan harga, tentu hal tersebut dapat mengecewakan penjual. Menawar yang bertujuan karena kikir atau tidak mau mengeluarkan harta lebih tidak dibenarkan dalam islam. Karena etika jual beli dalam ekonomi islam wajib diutamakan agar sama – sama untung antara penjual dan pembelinya.

[AdSense-B]

3. QS Al Munafiqun Ayat 9

Hai orang orang beriman, janganlah hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang orang yang rugi”.

Dalam perdagangan, yang dicari ialah keberkahan dan relasi serta kepercayaan dari pembeli. Orang yang terlalu sibuk mencari keuntungan dengan melakukan tawar menawar berlebihan dengan tujuan yang penting dirinya mendapat keuntungan harta hingga melalaikan sedekah ialah contoh perbuatan orang orang yang rugi seperti yang dijelaskan dalam firman Allah tersebut.

[AdSense-A]

4. QS Al Shaf Ayat 10

Hukum tawar menawar tidak berlaku dalam hal syariat agama islam, contohnya ialah kewajiban shalat 5 waktu, kewajiban menutup aurat, dan sebagainya wajib dijalankan sesuai perintah Allah dan tidak boleh ditawar, hal demikian lah yang nantinya dapat menyelamatkan dari azab neraka, seperti pada firman Allah,

Hai orang orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu”.

Dari berbagai firman Allah di atas dapat disimpulkan bahwa hukum tawar menawar dalam islam ialah halal atau diperbolehkan dengan ketentuan tidak bertujuan untuk harta duniawi semata dan dengan kesepakatan kedua belah pihak. Hendaknya urusan tawar menawar dilakukan sesuai syariat yang telah Allah tetapkan dalam firman Nya agar urusan tersebut berkah dan mendapat rdho Nya.

Hukum Tawar Menawar Berdasarkan Hadist

Rasulullah pernah melakukan perdagangan dengan tawar menawar, diriwayatkan dari AnasRasulullah pernah menjual anak panah dan alas pelana dengan tawar menawar”. (HR Muslim). tawar menawar menurut hadist hukumnya halal juga dengan syariat syariat yang tentunya menajdi sesuatu yang bermanfaat untuk kedua belah pihak, berikut hadist hadist nya :

5. HR Muslim

Dua orang yang sedang melakukan jual beli diperbolehkan tawar menawar selama belum berpisah, jika mereka itu berlaku jujur dan menjelaskan ciri dagangannya maka mereka akan diberi barakah dalam perdagangannya itu”.

Tawar menawar boleh dilakukan ketika kedua belah pihak belum berpisah, setelah keduanya sepakat dan jual beli sudah dilakukan maka hukum tawar menawar dalam islam sudah tidak berlaku lagi atau tidak diperbolehkan menawar lagi karena sebelumnya sudah tercapai kesepakatan.

6. HR Baihaqi Melalui Abu Hurairah r.a

Allah mencintai seorang hamba yang mudah berlaku baik jika menjual dan mudah bila membeli”.

Penjelasan dari hadist tersebut ialah hukum tawar menawar dalam islam yakni halal dengan cara tidak berlebihan dalam tawar menawar, misalnya penjual yang menawarkan dengan harga terlalu tinggi dan pembeli yang menawar dengan harga terlalu rendah di luar batas wajar. Kedua belah pihak wajib hendaknya memudahkan urusan atau rejeki satu sama lain.

7. HR Muslim no. 1412

Janganlah seseorang menjual di atas jualan saudaranya kecuali jika ia mendapat ijin akan hal itu dan janganlah kalian menawar atas tawaran saudaranya”.

Di tempat jual beli seperti pasar, banyak ditemui penjual dan pembeli, ada penjual yang berdagang barang hampir serupa di tempat yang sama, tidak jarang ketika ada pembeli yang sedang menawar, penjual yang lain turut menawarkan dagangannya padahal pembeli tersebut sudah bertransaksi dengan penjual lain.

Hal demikian tidak diperbolehkan menurut hukum tawar menawar dalam islam kecuali jika sudah mendapat ijin seperti yang dijelaskan dalam hadist.

8. Kitab Al Mawa’idh Al Ushfuriyah Tentang Rasulullah Menawar Pahala Allah Untuk Umatnya

Tawar menawar sudah ada sejak jaman dahulu kala, Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dalam kitab Al Mawa’idh Al Ushfuriyah yaitu ketika Rasulullah menawar pahala sedekah yang ditentukan Allah untuk umat islam.

Kisah tersebut diawali ketika ketika turun wahyu QS Al Zalzalah ayat 7  yang berisi tentang orang yang berbuat kebaikan walaupun sebesar dzarrah akan mendapat balasan. Rasulullah memohon kepada Allah, “Ya Rabb ini sedikit menurut hak Nya umat ku”. Allah menjawab, “Jika kamu menganggap ini sedikit maka satu kebaikan akan dibalas dengan dua kebaikan” dan turunlah wahyu QS Al Qashash Ayat 54 yang berisi hal tersebut.

Rasulullah menawar lagi, “Ya Rabb tambahkanlah lagi kepada umat ku”. Dijawab oleh Allah, “Kalau begitu satu kebaikan dibalas 700 kali lipat” dan turun wahyu berikut, “Perumpamaan orang yang menafahkan hartanya di jalan Allah (sedekah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas karunia Nya lagi maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah : 261).

Rasulullah masih menawar lagi hingga menurunkan wahyu yang menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan dengan ikhlas dan dalam keadaan sabar (dalam sempit dan lapang tetap bersedekah) akan mendapat pahala dari Allah dengan jumlah tak terbatas, berikut wahyu tersebut, “Sesungguhnya hanya orang orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS Az Zumar : 10).

Hal tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah atau menawar syariat tetapi Rasulullah melakukannya karena amat menyayangi hamba Nya dan berharap umatnya mendapat amal pahala yang lebih agar kelak dapat menjadi bekal di akherat. Rasulullah memang amat menyayangi umatnya bahkan di akhir hayat nya pun masih tetap memikirkan umatnya.

[AdSense-C]

Dapat disimpulkan dari hadist hadist di atas bahwa Rasulullah juga menghalalkan tawar menawar dengan jalan kejujuran dan niat karena Allah, bukan semata berniat untuk memberi keuntungan pada diri sendiri sehingga tidak merugikan kedua belah pihak.

Demikian artikel tentang hukum tawar menawar dalam islam, tawar menawar yang djalankan sesuai syariat islam akan menghasilkan kesepakatan atas dasar suka sama suka dan ke depannya dapat terjalin relasi atau silaturahmi sehingga menjadi jalan untuk kelapangan rejeki.

Ketika penjual dan pembeli saling percaya dan memiliki kepuasan dari hubungan perniagaan yang dilakukan maka akan perniagaan selanjutnya tentu akan terjadi lagi dan menjadikan keuntungan untuk kedua belah pihak.

Semoga dapat menambah pengetahuan anda mengenai tawar menawar yang sesuai adab agama islam dan syariat islam. Terima kasih. Salam hangat dari penulis.

Hukum Meniup Makanan Dalam Islam dan Dalilnya

Islam merupakan agama yang sempura. Dimana setiap tatanan telah di atur sedemikian rupa berikut dengan ajarannya yang mencakup semua aspek dalam kehidupan manusia termasuk juga seperti manfaat sujud  dan shalat sunnat serta larangan ibu hamil menurut islam. Mulai dari aturan beribadah, makan, bahkan hingga buang hajat telah diatur dengan jelas. Hal yang samapun disampaikan oleh Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu kepada seorang musyrikin yang berkata,

“Sungguh nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu sampai-sampai perkara adab buang hajat sekalipun.” Salman menjawab: “Ya, benar…” (HR. Muslim No. 262)

Dari hadist diatas dapat disimpulkan bahwa ajaran islam sangat mendetail. Bahkan dalam islam juga diatur berbagai hal yang dipandang sepele misalnya cara menghilangkan stress dalam islam . Seperti salah satunya adalah hukum meniup makanan. Dijelaskan dalam hadist berikut bahwa :

Hadis dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan… “(HR. Bukhari 153).

Dari hadist diatas, makna dari kata bernafas didalam gelas adalah sama dengan meniup minuman. Tentunya hal ini kuga berlaku dalam makanan. Dalam hal ini meniup makanan merupakan hal yang tidak diajarkan oleh Rosulullah SAW.

Hukum Meniup Makanan Dalam Islam

Meskipun secara tegas tidak terdapat hadist yang menyatakan larangan meniup makanan, tetapi secara garis besar baik makanan ataupun minuman merupaka  kenis yang sama. Yakni yang sama-sama dikonsumsi oleh manusia. Sehingga dalam hal ini, menhenai hadist yang berkaitan dengan minuma maka juga akan berlaku sama untuk makanan dan sebaliknya.

1. Larangan Meniup Makanan

Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas. (HR. Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Hadist diatas secara jelas menerangkan bahwa tidak diperkenankan meniup makanan atau minuman yang masih dalam kondiso panas. Filosofi yang dapat digunkan ialah bagaimana kita dapat melatih kesabaran lewat makanan.

Karena ternyata menunggu makanan menjadi dingin juga membutuhkan kesabaran yang lumayan. Sehingga tentunya larangan meniup makanan ini juga memiliki manfaat lain yakni dapat sekaligus melatih kesabaran. [AdSense-B]

2. Dapat Mengotori Makanan atau Minuman

Larangan meniup makanan juga didasari oleh kekhawatiran bahwa ketika kita meniup makanan akan menimbulkan kotoran di mukut berpindah ke makanan. Tentu saja hal ini dapat brrbahaya bagi kesehatan. Anda bisa bayangkan berapa banyak kuman yang ada di dalam mulut, kemudian saat kita meniup makanan maka tentu saja kuman dan bakteri tersebut dapat berpindah. Hal ini sesuai dengan hadist An-Nawawi dimana aia mengatakan,

Larangan bernafas di dalam gelas ketika minum termasuk adab. Karena dikhawatirkan akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang jatuh dari mulut atau dari hidung atau semacamnya.“(Syarh Shahih Muslim, 3/160)

3. Menimbulkan Bau yang Bercampur

Selain kotor kekhawatiran lain yang tidak bisa di kesampingkan adalah timbulnya bau. Dalam hal ini, seorang yang memiliki bau mulut jika ia meniup makanan maka yang akan terjadi adalah baru makanan dan bau mulut menjadi bercampur.

[AdSense-A] Tentu saja hal ini sedikit menjijikkan dan alhasil dapat menghilangkan selera makan. Hal senada juga disampaikan Ibnul Qoyim dalam hadist berikut :

Meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulup orang yang meniup. Sehingga membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika terjadi bau mulut. Kesimpulannya, nafas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman itu. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan larangan bernafas di dalam gelas dengan meniup isi gelas.” (Zadul Ma’ad, 4/215).

4. Lebih Berkah Makanan yang Telah Dingin

Larangan menyantap atau meniup makanan yang masih panas juga disampaikan dalam hadist berikut Dari Asma binti Abu Bakr,

sesunguhnya beliau jika beliau membuat roti tsarid wadahnya beliau ditutupi sampai panasnya hilang kemudian beliau mengatakan, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya makanan yang sudah tidak panas itu lebih besar berkahnya”. [HR Hakim no 7124].

Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa, Rosululkah sendiri menyatakan dengan egas bahwa makanan yang sudah tidak panas memiliki berkah saat di konsumsi. Tentunya dengan menggunakan pedoman hadist ini, maka semakin menegaskan bahwa meniup makanan yang masih panas bukan merupakan ajaran islam yang di anjurkan.

6. Nikmati Makanan Setelah Dingin

Pada poin sebelumnya telah dijelaskan bahwa makanan yang sudah tidak panas memiliki keberkahan didalamnya atau lebih berkah dibandingkan dengan makanan yang masih panas. Dalam sebuaj hadist Albani mengatakan,

“Terdapat riwayat yang sahih dari Abu Hurairah, beliau mengatakan “Makanan itu belum boleh dinikmati sehingga asap panasnya hilang”. Diriwayatkan oleh al Baihaqi.

Artinya bahwa hadist diatas menegaskan anjuran untuk menyantap makanan apabila panasanya sudah hilang. Yang dimaksud dengan panas yabg suda hilang disini adalah hilang dengan sendirinya. Bukan karena ditiup menggunakan mulut atau menggunakan alat bantu seperti kipas. Bukankah lebih nyaman menyantap makanan yang telah dingin, dibandingkan menyantap makanan yang masih panas.

Bahaya Meniup Makanan Menurut Ilmu Kesehatan

Tahukah anda, bahwa ajaran islam yang tidak menganjurkan untuk meniup makanan atau minuman panas juga berkorelasi dengan ilmu kesehatan. Dimana terdapat fakta bahwa meniup makanan yang panas memiliki dampak negatif bagi tubuh. Dalam sebuah studi, meniup makanan ternyata dapat menjadi perantaa dari tertularnya penyakit menular.

Bayangkan jika anda memiliki penyakit TBC atau flu. Ketika anda meniup makanan tentu terjadi transfer kuman-kuman yang ada didalam tubuh berpindah ke makanan. Maka bayangkan sendiri apa jadinya jika kuman tersebut kembali masuk ke tubuh anda.

Selain itu, saat meniup makanan maka mulut akan mengeluarkan senyawa CO2 atau karbondioksida. Reaksi antara karbondioksida dan air (H20) akan membentuk senyawa Karbonat Acid atau asam karbonat. Senyawa karbonat ini bersifat asam, sehingga dapat menberikan dampak negatif bagi kesehatan. Namun hal ini masih menjadi perdebatan karena reaksi ini akan terjadi pada suhu dan tekanan yang tinggi.

Namun, selain hal diatas masih terdapat fakta mencengangkan mengenai larangan meniup makanan atau minuman panas. Halitu ialah, Alasan lain jangan meniup adalah sebenarnya yang bermasalah bukan pada airnya tapi pada komponen yg berada di air. Dalam air jika mengandung Kapur tohor (CaO) apabila ditiup oleh nafas manusia, bereaksi dengan CO2 dalam nafas, akan menjadi batu kapur (CaCO3) dan batu kapur ini salah satu dari batu ginjal yang paling sering ditemui.

Itulah tadi, 6 hukum meniup makanan dalam islam dan bahayanya bagi kesehatan. Sesungguhnya islam merupakan ajaran yang sempurna, setiap ajaran dan larangannya ternyata dapat dibuktikan secara jelas bahkan melalui ilmu moderen seperti ilmu kedokeran. Sedungguhnya Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan tujuannya termasuk juga tujuan penciptaan manusia , proses penciptaan manusia , hakikat penciptaan manusia dan konsep manusia dalam islam . Sebagaimana firman Allah SWT :

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

hukum Memotong Kuku Saat Menstruasi Dalam Islam

Akan ada banyak pertanyaan yang muncul ketika seseorang mengalami haid, seperti : Apakah seorang wanita berdosa ketika memotong rambut, kuku dan membuang dari keduanya pada waktu haid? Apakah disela-sela waktu haid, harus dicuci terlebih dahulu sebelum dibuang? Sepertinya kita memangharus mengetahui tentang hukum memotong kuku saat haid.

Masalah ini seringkali terjadi pada kebanyakan para wanita. Terkait dengan hukum memotong rambut, kuku dan semisalnya diantara sunah fitrah disela-sela haid.

Hal itu timbul karena keyakinan yang salah pada sebagian diantara mereka. Bahwa anggota tubuh manusia akan kembali kepadanya di hari kiamat nanti. Kalau dihilangkannya sementara kalau dia dalam kondisi hadats besar baik janabat, haid atau nifas. Maka ia akan kembali dalam kondisi najis yang belum dibersihkan. Perkataan ini salah dan tidak ada kebenarannya seperti hukum menunda mandi wajib setelah haid.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagaimana dalam ‘Majmu’ Al-Fatawa, (21/120-121) ditanya tentang seseorang dalam kondisi junub dan dia memotong kuku, kumis atau menyisir rambutnya. Apakah dia terkena sesuatu. Sebagian mengisyaratkan akan hal ini. Dengan mengatakan,

”Kalau seseorang memotong rambut atau kukunya maka anggota (tubuhnya) akan kembali kepadanya di akhirat. Maka ketika dibangkitkan hari kiamat ada bagian junub sesuai dengan apa yang berkurang darinya. Dan pada setiap rambut ada bagian dari janabat, apakah hal itu (benar) atau tidak?”

Maka beliau rahimahullah menjawab: “Telah ada ketetapn dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dari hadits Hudzaifah dan hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhuma ketika disebutkan kepadanya masalah junub berkata (Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis) dalam shoheh Hakim (Baik waktu hidup maupun mati). Sepengetahuan saya tidak ada dalil syar’I larangan menghilangkan rambut orang junub dan kukunya seperti hukum memotong rambut saat haid dalam islam.

Bahkan Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda (Hilangkan rambut kekufuran anda dan berkhitanlah). HR. Abu Dawud (356) dinyatakan hasan oleh Al-Albany di ‘Irwaul Gool (1/120). Maka beliau memeritahkan orang yang baru masuk islam untuk mandi. Dan tidak memerintahkan mengakhirkan khitan dan memotong rambut dari mandi.

Keumuman perkataannya mengandung diperbolehkan kedua hal tersebut. Begitu juga orang haid diperintahkan menyisir sewaktu mandi. Padahal menyisir dapat menghilangkan sebagian rambutnya. Wallahu’alam.” Selesai [AdSense-B]

Syeikhul Islam mengisyaratkan hal itu pada hadits Aisyah radhiallahu’aha ketika haid pada haji wada’, maka Nabi sallallahu’alaihi wasallam memerintahkan kepadanya (Uraikan rambutmu dan bersisirlah. Serta berihlal (talbiyah) dengan haji dan tinggalkan umroh). HR. Bukhori, (1556) dan Muslim, (1211).

Bersisir seringkali sebagian rambutnya berjatuhan. Meskipun begitu Nabi sallallahu’alaihi wa sallam mengizinkan hal itu bagi orang yang berihrom dan orang haid. Para ahli fiqih dari kalangan Syafi’iyyah mengatakan seperti dalam kitab ‘Tuhfatul Muhtaj, (4/56):

“Yang sesuai nash, bahwa orang haid diperbolehkan mengambilnya. Selesai (maksudnya adalah kuku, bulu kemaluan, bulu ketiak. Maksud nash disitu adalah madzhab).

Telah ada dalam ‘Fatawa Nurun ‘Ala Ad-Darb’ oleh Syekh Ibnu Utsaimin (Fatawa Az-Ziinah Wal Mar’ah/ soal no 9): “Saya mendengar bahwa menyisir waktu haid tidak diperbolehkan, begitu juga (tidak diperbolehkan) memotong kuku dan mandi. Apakah hal ini dibenarkan atau tidak? [AdSense-A]

Maka beliau rahimahullah menjawab,

“Ini tidak benar. Orang haid diperbolehkan memotong kuku dan menyisir rambutnya. Diperbolehkan mandi dari janabat. Seperti ketika dia bermimpi sementara dia dalam kondisi haid, maka dia mandi janabat. Atau bercumbu dengan suaminya tanpa bersenggema sampai keluar (air mani), maka dia mandi jenabat. Sepengetahuan saya bahwa pendapat yang dikenal dikalang sebagian wanita bahwa tidak boleh mandi, tidak bersisir, tidak menyentuh kepala dan tidak memotong kukunya adalah tidak ada asalnya dalam agama.” Selesai

Dan tidak dikenal pendapat yang memakruhkan hal itu satupun dari pendapat para ahli fikih yang terkenal. Akan tetapi disebutkan pada sebagian kitab ahli bid’ah dari golongan yang menyalahi ahlus sunnah. Sebagaimana dalam kitab ‘Syarkh An-Nail Wa Syifai’ ‘Alil, (1/347) karangan Muhammad bin Yusuf Al-Ibadhii.

Hal ini juga sangat jelas seperti yang dijelaskan dalam kitab Fatawa Al Kubra dijelaskan jika, “Dan aku tidak mengetahui atas makruhnya menghilangkan rambut bagi orang yang sedang junub dan menghilangkan kukunya dalam dalil Syar’i, akan tetapi, sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah berkata kepada orang yang masuk Islam:

Jatuhkanlah (hilangkan) darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah. Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang masuk Islam untuk mandi, dan tidak menyuruh untuk mengakhirkan khitan dan menghilangkan rambut dan mendahulukan mandi. [Fatawa Al-Kubra: 1/275]

Hadis Rasulullah SAW memberi penegasan, “Sesungguhnya yang paling besar dosa dan kejahatannya dari kaum muslimin adalah orang yang bertanya tentang hal yang tidak diharamkan, lantas hal tersebut menjadi diharamkan karena pertanyaannya tadi.” (HR Bukhari).

Dengan mengkaji ulang dan menilik kembali semua hadist maupun dalil diatas sebenarnya belum ada penjelasan secara terperinci dan pasti apakah memotong kuku benar dilarang atau bersifat makruh seperti amalan di bulan ramadhan bagi wanita haid.

Dan dengan menarik kesimpulan bahwa ada sebagian ulama yang mengharamkan ada sebagian ulama yang membolehkan. Disnilah peranan kebijakan kita sebagai seorang muslimah di perlukan. Kembali lagi kepada dasar islam yaitu kebersihan adalah pangkal dari keimanan seseorang. maka setidaknya potonglah kuku Anda jika memang sudah sangat kotor walaupun anda sedang berada dalam fase menstruasi. Sekian dari kami semoga bermanfaat.