Hukum Menitipkan Anak dalam Islam dan Dalilnya

Di era yang serba modern ini, tak dapat disangkal bahwa wanita ikut berkecimpung dalam dunia kerja. Berdasar pada alasan pendidikan yang tinggi membuat wanita merasa harus mengejar karir dan membuktikan kemandirian finansial mereka. Jika wanita tersebut belum menikah dan belum mempunyai anak, mungkin tidak terlalu masalah. Tapi bagaimana jika ia sudah menikah dan mempunyai anak?

ads

Kebanyakan para wanita karir yang juga ibu rumah tangga menitipkan anak mereka pada ibu kandung, ibu mertua atau tetangga. Bagi sebagian besar orang, menitipkan anak pada orang tua sudah menjadi hal yang lumrah. Padahal dalam Islam, wanita disarankan untuk lebih banyak berdiam di rumah sambil mendidik anak-anak. Selain karena wanita adalah aurat, wanita juga berkewajiban mendidik anak-anak agar menjadi anak yang soleh dan solehah. Lalu bagaimana fenomena menitipkan anak ini dipandang dari hukum Islam?

Kedudukan wanita dalam Islam

Islam memandang  mulia derajat seorang wanita. Seorang wanita telah bersusah payah mengandung anak selama 9 bulan bahkan ketika sang anak lahir, ia pun harus kembali bersusah payah mendidik anaknya karena ia adalah raíyah (pemimpin) dalam masalah kerumahtanggaan. Jika ia berhasil melaksanakan kewajibannya ini, ia akan mendapat balasan pahala yang begitu besar.

Al-ummu madrasah al-ulla, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama sang anak. Anak belajar pertama kali dari ibunya. Sejak di dalam rahim, anak sudah belajar mengenali ibunya. Mulai dari suara hingga sentuhan sang ibu di perut. Begitu pula ketika ia lahir, pelukan sang ibu saat menyusui menjadi pelekat hubungan antara ibu dan anak. Sang anak belajar untuk pertama kalinya dalam menyentuh, mengenali, tertawa, sedih dan berbagai hal lainnya dari sang ibu.

Islam memberikan tanggung jawab yang besar tapi sangat mulia kepada seorang wanita. Wanita menjadi penentu masa depan suatu bangsa karena tanggung jawabnya dalam mendidik anak-anak. Jika ia mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang berguna bagi agama dan negara, maka ia berhasil menghasilkan calon pemimpin masa depan bangsa.

Rasulullah pernah bersabda :

“…pria adalah pemimpin dalam keluarganya, ia akan ditanya tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin rumah suami dan anak-anaknya, ia akan ditanya tentang kepemimpinannya…” (H.R. Bukhari Muslim)

Hadist di atas menunjukkan bahwa kelak seorang wanita akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap anak-anaknya. Tanggung jawabnya tidak akan berpindah begitu saja ke orang lain jika ia menitipkan anaknya pada orang lain.

Baca juga:


Islam Memandang Orang Tua yang Menitipkan Anak

Kewajiban orang tua adalah hak anak. Salah satunya adalah menjaga anak-anak dari api neraka.

Sebagaimana firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”( Q.S. At Tahrim:6)

Dari ayat di atas sudah jelas bahwa kewajiban mendidik anak adalah kewajiban orang tua. Lalu bagaimana jika keduanya bekerja dan menitipkan anak-anaknya pada orang tua mereka?

Emansipasi wanita membuat banyak wanita lebih memilih meneruskan karirnya dibanding mendidik anak-anak mereka di rumah. Bahkan wanita cenderung gengsi bila hanya menjadi ibu rumah tangga. Tuntutan sosial menjadi salah satu pemicu enggannya wanita berdiam diri di rumah bersama anak-anak mereka. Alhasil anak-anak pun dititipkan pada kedua orang tua atau kakek neneknya ketika mereka bekerja.  Belum lagi jika wanita tersebut memiliki jam kerja yang padat dari pagi hingga malam, atau bahkan sering keluar kota untuk urusan bisnis. Sudah pasti tidak akan ada waktu menjaga dan mendidik anak-anak.

Baca juga:

Jika Anda termasuk dari mereka yang sering menitipkan anak pada orang tua, apakah Anda sudah yakin bahwa orang tua atau mertua Anda akan mendidik anak-anak dengan baik? Apakah mereka tidak terganggu dengan kehadiran buah hati Anda yang sering membuat mereka lelah menghadapinya?

Imam Abu al-Hamid al-Ghazali ra. berkata  “ Jika anak dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, maka dia akan tumbuh menjadi baik danmenjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat kelak. Setiap orang yang mendidiknya (orang tua maupun pendidik lain) akan turut mendapatkan pahala sebagaimana pahala sang anak atas amal shalihnya. Jika dibiasakan dengan keburukan dan ditelantarkan seperti hewan ternak, maka ia akan menjadi orang yang celaka dan binasa. Dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya.”

Kebanyakan nenek dan kakek akan sangat memanjakan cucu-cucu mereka. Mereka juga terbatas dalam pemahaman akan dampak dari tindakan memanjakan cucu. Lalu apakah Anda sudah yakin menitipkan anak-anak Anda kepada kedua orang tua Anda?

Baca juga:

“ Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, tidak mengajarkan kewajiban dan ajaran agama ketika mereka kecil. Membuat mereka tidak berfaedah bagi dirinya dan orang tuanya hingga ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durjana kepada ku ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkan ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta.” 

Itulah sebabnya dikatakan jika Anda ingin anak yang soleh maka jadilah Anda orang tua yang soleh. Sungguh sangat besar dampak yang akan kita terima jika kita tidak peduli terhadap masa depan anak-anak kita. Kemanjaan yang mereka terima dari nenek dan kakek mereka bisa saja menjadi bumerang bagi diri Anda dan anak-anak Anda. Pendidikan haruslah tegas namun lembut, bukan lembut dan memanjakan.

Selain karena perbedaan cara dalam mendidik anak, apakah Anda yakin orang tua atau mertua Anda tidak merasa kesusahan dan keletihan dalam menjaga anak-anak Anda? Mereka sudah terlalu letih menjaga dan mendidik Anda, dan kini harus kembali melakukan hal yang sama di usia yang sudah tak lagi muda.

Jika mereka merasa kepayahan dalam mendidik dan menjaga anak Anda, bukankah hal ini justru menjadi sebuah kdzaliman terhadap orang tua? Apalagi jika Anda tidak memberikan uang lagi saat mereka tidak lagi menjaga cucu-cucunya. Bukankah mereka akan merasa tersinggung karena diperlakukan seperti dibayar untuk menjaga cucu?

Pikirkanlah baik-baik manfaat atau kemaslahatan apa yang Anda dapatkan jika Anda mengutamakan karir. Pilihlah pilihan yang terbaik bagi keluarga Anda, terutama anak-anak Anda. Diskusikan mengenai karir dan tanggung jawab Anda sebagai ibu dan istri kepada suami Anda. Jangan sampai mengesampingkan kewajiban Anda sebagai pendidik dan mendzalimi orang tua hanya untuk mengejar karir. Naudzubillah min dzalik. Semoga kita semua terhindar dari siksa api neraka.

Baca juga:

, , ,




Post Date: Tuesday 16th, January 2018 / 03:20 Oleh :
Kategori : Hukum Islam