Hukum Merayakan Hari Valentine Bagi Umat Islam

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Hari Valentine adalah hari yang bertepatan pada tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari kasih sayang. Pada hari itu, setiap orang yang memiliki pasangan akan mengutarakan rasa kasih sayang kepada pasangannya.

Banyak sekali legenda yang mengisahkan mengapa 14 Februari bisa dijadikan sebagai hari Valentine. Sejarah hari valentine ini berasal dari literasi ilmiah agama Romawi kuno. Pada hari itu Paus Gelasius I tahun 496 M memasukan upacara Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga pada saat itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama hari Valentine.

Sedangkan, asal usul dari cokelat velentine sendiri bermula pada abad ke-17 yang dilakukan oleh masyarakat di Eropa dan Amerika Tengah. Cokelat ini sebagai simbol makanan manis yang bisa diberikan kepada mereka yang disayang sebagai ungkapan cinta.

Namun, setiap orang pasti punya pandangan sendiri tentang hari kasih sayang dan juga bagaimana merayakannya. Lantas bagaimana Islam memandang hari Valentine ini? Dan hukum kaum muslim merayakan valentine dalam islam?

Hukum Merayakan Hari Valentine

Dalam kaidah umat muslim, sangat jelas bahwa merayakan hari Valentine adalah haram dan tidak diperbolehkan. Karena hari Valentine termasuk ke dalam hari besar Nasrani. Larangan valentine day dalam islam ini bisa diilihat dari sudut sejarah saja sudah sangat jelas tidak ada kaitannya dengan sejarah Islam.

Allah berfirman dalam surah Al-Kafirun,

قُلْ يٰٓأَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَ(1)لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ(2)وَلَآ أَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ أَعْبُدُ (3)وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْ (4)وَلَآ أَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِىَ دِيْنِ(6)

Artinya : “Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyebah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku lah agamaku.” (QS. Al-Kafirun :1-6).

Dalam Islam, perlakuan bukti dan cinta bukan ada pada sebuah hari melainkan dalam ikatan sakral dan penuh khidmat yakni sebuah pernikahan. Islam tidak mengenal budaya cinta diluar pernikahan karena hal tersebut sangat melenceng dari ajaran yang Allah SWT berikan.

Sebagai seorang muslim, patutlah menjaga identitas dan tidak mengikuti ajaran selain yang diperintahkan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sebagaimana dalam firman Allah,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Artinya : “Katakanlah (Muhammad), Wahai ahli Kitab! Marilah (berpegangan) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan atara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain Tuhan-Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka, katakanlah (kepada mereka) Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim.” (QS. Al-Imran 3 : 64).

Begitulah seruan yang Allah berikan kepada kaum muslim untuk tidak menyembah dan mengikuti perayaan yang akan merusak identits dirinya sebagai seorang muslim. Karena ajaran hari kasih sayang sudah jauh diluar konteks agama Islam sendiri.

Memberikan dan mengutarakan kasih dan sayang tidaklah harus mesti di sebuah hari tertentu. Islam mengajarkan untuk memberi rasa kasih dan sayang kepada siapapun dan dimana pun dalam hal wajar. Seperti ajaran Rasulullah mengenai penebar kasih sayang.

Nabi adalah wujud nyata yang selalu memberikan kasih dan sayangnya kepada para umatnya. Bukan hanya kepada kekasih, kita dianjurkan untuk saling menyayangi kepada sesama manusia di muka bumi ini.

Dan bagi tiap penganut agama, pasti telah ditetapkan syariat apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Maka, hukum merayakan hari Valentine dalam Islam adalah sangat tidak dibolehkan. Allah berfirman dalam surah Al-Hajj,

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ

Artinya : “Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan.” (QS. Al-Hajj : 67).

Masing-masing dari kepercayaan memiliki hari rayanya dan umat muslim hanya boleh merayakan hari raya pada hari Idul Fitri dan hari Idul Adha. Hal ini pula yang menjadi alasan valentine dilarang dalam islam dan tidak boleh bagi seorang muslim mengikuti ciri khas seperti orang kebarat-baratan yang akan merusak citra muslimnya.

Hari Valentine juga merujuk pada kegiatan pasangan yakni banyak dari mereka melakukan ikatan yang dilarang dalam agama Islam yakni hubungan pacaran. Jelas hal ini bisa memicu dekatnya dengan zina dan Allah sangat jelas melarang hal-hal yang mendekatkan kita pada zina.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya ina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra : 32).

Sangat jelas bahwa Allah melarang kita untuk mendekati perzinahan karena hal tersebut masuk ke dalam pendekatan menuju zina. Dalam budaya Romawi Kuno, dinyatakan bahwa dengan kasih sayang mereka memberikan apapun kepada pasangannya termasuk ke dalam menyerahkan diri.

Allah SWT melaknat bagi siapapun yang melakukan dan mendekati diri kepada perbuatan zina. Zina dalam islam sendiri bisa mendatangkan dosa.

Semoga kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa mengingat dan menjalanin hidup sesuai dengan kaidah dan ajaran yang Allah SWT berikan. Menjadi muslim yang pandai menjaga identitasnya dan menjunjung tinggi Islam dengan menolak ajaran apapun kecuali yang Allah perintahkan.

fbWhatsappTwitterLinkedIn