Hukum Nikah Jarak Jauh Menurut Islam

Menikah adalah proses yang sakral bagi setiap manusia, menikah bukan hanya perkara sah di mata hukum, akan tetapi juga sah di mata agama. Namun saat ini banyak hal yang menjadi menyimpang, karena pernikahan bukan sekedar menyatukan dua insan, namun bersama-sama suka, duka, sedih, bahagia haruslah bersama-sama.

ads

Hukum nikah jarak jauh, solusinya adalah taukil atau perwakilan, seorang ayah kandung dari anak gadis yang seharusnya menjadi wali dalam akad nikah dan mengucapkan ijab, dibenarkan dan dibolehkan untuk menunjuk seseorang sesuai syarat yang memenuhi seorangwali. Baca juga tentang Hukum Mengajukan Syarat Sebelum Menikah Dalam Islam

Cukup ditetapkan siapa yang akan menjadi wakil dari wali, yang penting tinggalnya satu kota dengan calon suami. Lalu dilakukanlah akad nikah secara langsung di satu masjid yang dihadiri oleh minimal 2 orang saksi laki-laki, si wakil wali mengucapkan ijab yang bunyinya seperti ini:

“Saya sebagai wakil dari fulan (nama ayah si gadis) menikahkan kamu (nama calon suami) dengan fulanah binti fulan (nama gadis dan nama ayahnya) dengan mahar sekian sekian.”

Lalu calon suami menjawab (qabul), seperti ini:

“Saya terima nikahnya fulanah binti fulanah dengan mahar tersebut tunai.”

Dan akad itu sudah sah.

Penjelasan diatas adalah apabila pasangan yang akan melakukan nikah jarak jauh, namun bagaimana jika pasangan yang telah menjalani pernikahan namun harus menjalani LDR?

Salah satu yang saat ini dianggap hal biasa yaitu menjalani pernikahan jarak jauh, pernikahan semacam ini memang sering kali menghadapi tantangan yang besar. Misalnya tentara yang bertugas di perbatasan, pedalaman, kerja di pengeboran minyak, karena itu istri tidak ikut suami dengan alas an karena tempat kerja suami yang jauh yang tidak memungkinkan suami mengajak istri dalam pekerjaannya.

Tujuan pernikahan dalam islam adalah terwujudnya sakinah, mawadah, warahmah. Kasih saying baik senang maupun duka dijalani bersama-sama.Seperti terdapat dalam ayat Al Qur’an yang artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. ArRum : 21)

Kebersamaan suami istri dalam satu rumah memang penting, menumpahkan kasih sayang, saling membantu, dan mendukung masing-masing pribadi. Namun, jika terpaksa suami istri harus berpisah maka menunaikan hak dan kewajiban harus tetap ada. Seperti suami yang wajib menafkahkan istrinya, dan istri yang senantiasa menjaga dirinya dan anak-anak.

Jika terpaksa harus menjalani pernikahan jarak jauh, Syaikh Dr Su’ad Shalih mengatakan jika batas maksimum suami diperbolehkan berada jauh dari istrinya adalah empat bulan, dan menurut ulama Hanbali batasnya adalah 6 bulan, dan batas ini merupakan waktu maksimum seorang wanita dapat bertahan berpisah dari suaminya. Baca juga tentang Hukum Berfoto Berdua dengan yang Bukan Muhrim

Surga adalah hadiah terindah bagi istri yang mau mengorbankan kesenangannya bersama suami. Termasuk keadaan yang harus ia terima untuk jauh dengan suami. Banyak berdoalah dan memohon pada Allah untuk melindungi kehidupan rumah tangga yang dijalani.

, , , ,




Post Date: Tuesday 17th, July 2018 / 02:17 Oleh :
Kategori : Pernikahan
Yuk Join & Subs Channel Saya Islam

Tukar Uang untuk THR Idul Fitri, Haram?

Kalau Sahur Jangan Buka Medsos, Mending Amalin Ini

Wajib Tonton ! Rekomendasi Film Religi Terbaik Pas Buat Nemenin Ramadhanmu