4 Bentuk-Bentuk Istidraj dalam Islam

Dalam al-Qur’an dan Hadist telah dijanjikan bahwa Allah senantiasa memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya yang bertakwa dan beriman. Mulai dari kenikmatan untuk bernapas, sehat, dan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Namun kenikmatan-kenikmatan tersebut tidak hanya diberikan kepada makhluk-Nya yang beriman dan bertakwa akan tetapi juga diberikan kepada makhluk lain yang tidak bertakwa kepada-Nya.

Dalam surat an-Nahl ayat 18 telah dijelaskan tentang betapa banyaknya kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia yang berbunyi:

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ ١٨

Artinya:

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nahl : 18)

Sering kita lihat orang-orang  yang memiliki kehidupan serba berkecukupan dan bahagia walaupun ia selalu lalai dalam kewajiban-kewajibannya bajyang memiliki kehidupan serba berkecukupan dan bahagia walaupun ia selalu lalai dalam kewajiban-kewajibannya bahkan mungkin sering dzalim terhadap manusia lain. Seakan kejahatan dan dosa yang ia lakukan semakin membuat harta dan kebahagiaannya bertambah. Contohnnya seperti orang-orang yang berkorupsi namun seumur hidupnya tidak pernah tertangkap malah  anak, cucu hingga keturunan selanjutnya mendapatkan warisan harta yang berlimbah dari hasil korupsi tersebut.

Namun ketahuilah bahwa hal tersebut merupakan istidraj yakni sebuah Ujian yang diberikan oleh Allah subhana hua ta’ala kepada makhluk-Nya yang membangkang berupa kelapangan rezeki dan kebahagiaan duniawi. Namun karena tertutup dengan keserakahan dan bisikan setan, seringnya kita tak menyadari bahwa harta dan kebahagiaan yang kita dapatkan merupakan ujian atau istidraj.

Baca juga:

Mengenai perkara istidraj telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 178 yang berbunyi:

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ خَيۡرٞ لِّأَنفُسِهِمۡۚ إِنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِثۡمٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ١٧٨

Artinya:

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS ali Imran : 178)

Untuk lebih memahami hal tersebut, berikut adalah penjelasan mengenai bentuk-bentuk istidraj, yakni ketika Allah tetap melancarkan rejeki kepada manusia padahal manusia tersebut masih melakukan perbuatan-perbuatan tercela seperti:

  1. Tidak Mendirikan Sholat

Sholat adalah tiang agama yang menduduki rukun Islam kedua. Setiap umat muslim diwajibkan untuk melaksanakan ibadah sholat namun ketika ibadah tersebut tidak dilakukan maka ia akan menanggung dosa yang tidak main-main ganjarannya.

Adapun seorang manusia yang senantiasa diberikan kelancaran rejeki dan kenikmatan-kenikmatan lainnya adalah manusia yang tengah mendapat ujian istidraj dari Allah. Semakin besar harta yang ia miliki maka semakin besar pertanggung jawaban yang ia emban hingga di akhirat nanti.

Kewajiban sholat bagi umat muslim dijelaskan dalam surat an-Nisa ayat 103 yang berbunyi:

فَإِذَا قَضَيۡتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ فَإِذَا ٱطۡمَأۡنَنتُمۡ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا ١٠٣

Artinya:

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS an-Nisa : 103)

  1. Tidak Melaksanakan Ibadah Puasa

Puasa juga merupakan ibadah wajib yang menduduki posisi ketiga dalam rukun iman. Dimana aka nada dosa dan ganjaran yang berat bagi siapapun yang tidak melaksanakannya.

Allah berfirman tentang kewajiban puasa dalam surat al-Baqarah ayat 185 yang berbunyi:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥

Artinya:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (al-Baqarah : 185)

     3. Berzina Dan Bermaksiat Tanpa Rasa Bersalah

Islam memiliki aturan yang ketat mengenai hubungan atau pergaulan antar sesama manusia. Mulai dari pandangan mata, saling menyapa hingga kontak fisik. Terlalu lama saling berpandangan mata dengan seseoran yang bukan muhrim atau mahramnya adalah termasuk zina mata, terlebih jika yang terjadi adalah kontak fisik seperti berpegangan tangan atau bahkan berhubungan layaknya suami istri.

Banyak orang yang justru memanfaatkan kekayaan dan jabatannya untuk melakukan zina dan maksiat walaupun mengetahui hal tersebut dosanya besar, namun mereka mengabaikan bahkan tidak merasa bersalah sama sekali.

Maka Allah berfirman dalam surat al-isra ayat 32 yang berbunyi:

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢

Artinya:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS al-Isra’ : 32)

Begitu tercelanya perbuatan zina, Allah bahkan menambahkan penjelasan mengenai zina dalam surat an-Nur ayat 2 yang berbunyi:

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِي فَٱجۡلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا مِاْئَةَ جَلۡدَةٖۖ وَلَا تَأۡخُذۡكُم بِهِمَا رَأۡفَةٞ فِي دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ وَلۡيَشۡهَدۡ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٞ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢

Artinya:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS. An-nur : 2)

  1. Tidak Menjaga Aurat

Menutup aurat hukumnya wajib dalam agama Islam. Selain untuk mentaati aturan agama, menutup aurat juga dilakukan untuk menghindari berbagai hal-hal negative seperti menutup tubuh dari terik matahari maupun dinginnya udara dan untuk menghindari perbuatan jahat dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Allah berfirman dalam alQuran yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ فَلَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٥٩

Artinya:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS al-Ahzab : 59)

Masih banyak contoh bentuk-bentuk istidraj yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita seperti Pelit untuk bersedekah padahal hartanya berlimpah; Terlalu bangga dan membanggakan dengan apa yang dimiliki padahal semuanya hanya titipan Allah; Mengabaikan dan menyepelekan perintah Allah subhana hua ta’ala padahal segala kenikmatan yang didapatkan sumbernya dari kemurahan hati Allah; Menunda-nunda taubat karena merasa masih muda padahal perkara mati tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya; Terlalu sibuk urusan duniawi dan enggan menuntut ilmu syar’I padahal penyelamat sesungguhnya terjadap diri kita bukanlah duniawi saja akan tetapi akhirat dan ilmu syar’I; dan masih banyak lainnya yang diberikan oleh Allah namun manusia mengingkarinya.

Baca juga:

Demikianlah penjelasan mengenai bentuk-bentuk istidraj dalam agama Islam. Sesungguhnya segala kenikmatan dan kesulitan yang Allah berikan semata-mata adalah sebagai salah satu bentuk ujian untuk umat manusia agar lebih bersyukur dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah Subhana hua ta’ala. Oleh karenanya jangan terlena dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi karena itu sifatnya hanyalah sementara. (Baca juga: Hikmah Sedekah dalam IslamAzab Selingkuh Dalam Islam)

Semoga penjelasan dalam artikel kali ini dapat menambahkan khazanah keilmuan dan meningkatkan keimanan kita semua. Amin.