Cara Menangkap Isyarat Cinta Allah SWT

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Banyak tanda-tanda pada diri kita yang sebenarnya merupakan bukti cinta Allah ﷻ kepada kita. Hanya saja, kitanya yang kurang peka dan mengerti tentang tanda-tanda tersebut bahkan sering kali menganggapnya sebagai penghalang dari meraih kebahagiaan hidup.

Banyak yang masih berpikir jumud dan takut untuk belajar agama, menjadi muslim yang taat agama dan baik perilakunya. Alasannya cukup sederhana, yaitu terlihat tabu di mata manusia dan tidak bebas dalam menjalani hidup. Seakan-akan sedang terkurung di dalam ruangan penuh ribuan aturan kehidupan.

Ya, begitulah pandangan orang-orang yang hanya mencari kesenangan, kebebasan hidup tanpa aturan sampai tidak sempat terpikir dalam benaknya mengenai arti ketenangan, kebahagiaan itu sendiri dan menganggap kesenangannya itu kebahagiaan yang sebenarnya.

Pada hakikatnya, dengan belajar agama sampai kita mengetahui aturan-aturan dan hukum islam itu membuahkan pribadi yang punya prinsip, tidak semena-mena dalam bertindak dan sekaligus dicintai Sang pencipta alam semesta (Allah).

Kita saja ketika dicintai kekasih, bahagianya tidak karuan. Bagaimana jika Allah ﷻ yang mencintai kita? Jawabannya tentu Allah ﷻ sebagai Tuhan akan memberikan anugerah yang istimewa, baik anugerah yang tidak kita minta sebelumnya atau yang sudah kita damba-dambakan dalam hati, maka kita sebagai hamba tentunya dalam hati ini berbunga-bunga lantaran dicintai Dzat yang tiada tandingannya.

Munculnya keinginan, dorongan untuk belajar agama atau dalam fase mendalaminya itu isyarat dan tanda Allah ﷻ bahwa Dialah yang menginginkan kita menjadi pribadi lebih baik. Pernyataan tersebut berdasarkan Hadis Nabi ﷺ yang dalam maknanya,

(مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah ﷻ untuk mendapatkan kebaikan, Allah akan memberinya pemahaman tentang ilmu agama.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut sangat singkat. Namun, para Ulama tidak menyederhanakan pemahaman Hadisnya dan berusaha mengungkap rahasia-rahasia yang terdapat di dalam kandungannya.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani (773 H) rahimahullah meneliti penggunaan kata khaira dalam bentuk nakirah (tidak spesifik) pada redaksi hadisnya,

“نَكَّرَ خَيْرًا لِيَشْمَلَ الْقَلِيْلَ وَالْكَثِيْرَ وَالتَّنْكِيْرُ لِلتَّعْظِيْمِ لِأَنَّ الْمَقَامَ يَقْتَضِيْهِ.”

“Pemilihan isim nakirah pada lafadz khaira itu menunjukkan keumuman. Tujuannya untuk mencangkup kebaikan yang sedikit dan kebaikan yang banyak. Ditambah lagi fungsi dari penggunaan isim nakiroh sendiri. Diantaranya untuk sebuah pengagungan, yakni kebaikan yang mempunyai nilai besar dan mulia.”

Tidak berhenti di situ saja, kemudian beliau memberi pemahaman Hadisnya

وَمَفْهُومُ الْحَدِيْثِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِيْ الدِّيْنِ أَيْ يَتَعَلَّمْ قَوَاعِدَ الْإِسْلَامِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوْعِ فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ.

“Pemahaman Hadis ini bahwa siapapun yang tidak mendalami ilmu agama, yaitu tidak belajar kaidah-kaidah islam dan apa-apa yang berhubungan dengannya seperti perkara furu’nya (cabang-cabangnya), sungguh dia telah diharamkan dari mendapat kebaikan.”

.فَتْحُ الْبَارِيْ بِشَرْحِ صَحِيْحِ الْبُخَارِيِّ ج ١، ص١٥١

Fath Al-Bari Bisyarh Shohih Al-Bukhari juz 1, halaman 151.

Untuk dapat memahami lafadz yufaqqihhu pada Hadis di atas, kita merujuk kepada penjelasan As-Syeikh Al-‘Aini (762 H) rahimahullah dalam karyanya,

قَوْلُهُ : (يُفَقِّهْهُ) أََيْ : يُفَهِّمُهُ ، إِذْ الْفِقْهُ فِيْ اللُّغَةِ الْفَهْمُ . قَالَ تَعَالَى : ( يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ) أََيْ : يَفْهَمُوْا قَوْلِيْ ، مِنْ فَقِهَ يَفْقَهُ مِنْ بَابِ: عَلِمَ يَعْلَمُ ، ثُمَّ خُصَّ بِهِ عِلْمُ الشَّرِيْعَةِ ، وَالْعَالِمُ بِهِ يُسَمَّى فَقِيْهًا

“Perkataan yufaqqihhu artinya menjadikan dia paham ilmu agama. Karena Fikih secara bahasa artinya faham. Allah ﷻ berfirman dalam (Qs. Thoha: 28 ): “Yafqahu qauli”, yaitu mereka memahami perkataan-Ku. Akar katanya dari faqiha, yafqahu dengan pola wazan ‘alima, ya’lamu. Kemudian istilah ini digunakan secara khusus untuk ilmu agama. Orang yang mengerti ilmu syariat disebut Faqih (Orang yang mengerti tentang agama islam).

.عُمْدَةُ الْقَارِئِ شَرْحُ صَحِيْحِ الْبُخَارِيِّ ج ٢، ص ٤٢

’Umdatu Al-Qori’ Syarah Shohih Al-Bukhari juz 2, halaman 42.

Adapun Imam An-Nawawi (631 H) Pendekar Mazhab Syafi’i memahami Hadis tersebut secara menyeluruh. Salah satunya yaitu belajar agama sebagai sebab terwujudnya sifat takwa kepada Allah ﷻ dalam diri seseorang.

فِيْهِ فَضِيْلَةُ الْعِلْمِ ، وَالتَّفَقُّهِ فِيْ الدِّيْنِ ، وَالْحَثُّ عَلَيْهِ ؛ وَسَبَبُهُ : أَنَّهُ قَائِدٌ إِلَى تَقْوَى اللهِ تَعَالَى.

“Dalam Hadis ini, terdapat keutamaan esensi ilmu dan keutamaan memahami ajaran islam serta dorongan untuk mendalaminya. Sebab ilmu adalah sebagai pengantar seseorang untuk dapat mewujudkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dalam dirinya (menjalani perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya).”

شَرْحُ صَحِيْحِ الْمُسْلِمِ ج ٧، ص ١٢٨

Syarah Shohih Muslim juz 7, halaman 128.

Yang perlu ditangkap oleh hati kita adalah isyarat-isyarat Allah ﷻ yang menunjukkan kebaikan. Dan yang perlu diabaikan oleh mata pandangan kita adalah kenikmatan-kenikmatan yang sebenarnya di dalamnya terdapat keburukan dan melalaikan.

Semoga tulisan singkat ini memberi kita benih-benih kesadaran akan isyarat-isyarat dan tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ. Wallahu’alam bisshowab.

fbWhatsappTwitterLinkedIn