Cara Penentuan Hari Raya dalam Islam

Hari raya merupakan hari kemenangan yang dinanti-nanti banyak orang, terutama umat Islam di seluruh dunia. Setelah berpuasa sebulan lamanya, orang-orang dengan antusias mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut hari raya. Mulai dari pakaian terbaik, sajian untuk keluarga dan tamu, properti yang bagus dan lain-lain.

Boleh saja menyambut hari raya dengan meriah. Namun, jangan sampai berlebihan hingga mengurangi esensi dari hari raya itu sendiri. Melatih diri untuk konsisten dalam beribadah selama bulan Ramadhan hendaknya juga berlanjut ke bulan-bulan selanjutnya setelah Ramadhan.

Hari raya Idul Fitri yang datang setelah usainya bulan Ramadhan dihitung berdasarkan kalender hijriah (Islam). Kalender hijriah ini berbeda dari kalender masehi yang sifatnya tetap dari tahun ke tahun. Sistem penghitungan dalam kalender hijriah berdasarkan penampakan bulan atau yang disebut dengan hilal.

Rata-rata siklus fase sinodis Bulan berlangsung selama 29,53 hari, oleh karena itu setiap bulan dalam kalender hijriah berjumlah 29 atau 30 hari. Hal ini jelas lebih pendek dari kalender masehi yang berjumlah 30 atau 31 hari, kecuali Bulan Februari 28 atau 29 hari (tahun kabisat).

Baca juga:

Rata-rata siklus fase sinodis Bulan berlangsung selama 29,53 hari, oleh karena itu setiap bulan dalam kalender hijriah berjumlah 29 atau 30 hari. Hal ini jelas lebih pendek dari kalender masehi yang berjumlah 30 atau 31 hari, kecuali Bulan Februari 28 atau 29 hari (tahun kabisat).

Cara Penentuan Hari Raya dalam Islam

Dalam menentukan jatuhnya hari raya Idul Fitri pun digunakan beberapa metode khusus yang dilakukan oleh para ahli dari seluruh dunia. Berikut ini beberapa cara penentuan hari raya berdasarkan sumber Islami.

Hisab

Hisab adalah penghitungan secara matematis dan astronomis dalam mengetahui posisi bulan sehingga dapat ditentukan kapan dimulainya awal bulan dalam kalender hijriah.

Rukyat

Rukyat adalah kegiatan mengamati penampakan hilal sebagai salah satu cara penentuan hari raya. Hilal yaitu bulan sabit (bulan baru) yang muncul pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Pelaksanaan rukyat dilakukan dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu optik, misalnya teleskop. Hilal hanya akan muncul setelah matahari terbenam atau tepat waktu maghrib.

Hilal ini memiliki intensitas cahaya yang sangat redup dan tipis sehingga harus diamati dengan teliti dari beberapa sudut di muka bumi. Jika hilal telah terlihat maka petang hari waktu setempat sudah memasuki awal bulan baru dalam kalender hijriah. Namun, jika belum terlihat maka awal bulan baru ditentukan pada maghrib di hari berikutnya.

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)

Baca juga:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ

“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya. Apabila kalian tertutup mendung, genapkanlah bulan tersebut.” (HR. Bukhari dengan berbagai lafazh).

Berdasarkan hadits ini dikatakan bahwa awal dan akhir bulan Ramadhan diketahui dengan melihat hilal.

Jadi, pengamatan hilal ini dilakukan untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan jatuhnya hari raya. Ada baiknya Anda juga mengetahui keutamaan menghidupkan malam hari raya Ied dan mengamalkannya untuk mendapatkan ridha-Nya.

Itulah cara penentuan hari raya yang dapat Anda ketahui. Semoga dapat memberikan manfaat untuk pembaca sekalian. Perluas lagi pengetahuan Islami Anda dengan membaca berbagai artikel Islami kami di website ini. Terimakasih.