Hikmah Kisah Cinta Fatimah Az Zahra dan Ali bin Abi Thalib

Sungguh banyak kisah – kisah pada zaman Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam yang bisa diteladani. Membicarakan tentang kisah cinta yang ada mulai dari kisah cinta Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam sendiri hingga kisah cinta anak perempuan kesayangannya Fatimah Az Zahra. Kisah cinta di masyarakat pada umumnya memang berbeda dengan kisah cinta orang – orang beriman yang sudah dijamin di surganya Allah. Karena dibalik kisah cinta mereka selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Sehingga kita sebagai umat dari Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam bisa menjadikan kisah ini sebagai sebuah suri tauladan dalam menjalani kisah percintaan.

ads

(Baca : Wanita Yang Dirindukan Surga)

Ali Bin Abi Thalib dikenal sebagai salah satu dari 4 Sahabat Rasulullah yang menjadi Khalifah setelah Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam wafat. Selain menjadi sahabat Rasulullah, Ali Bin Abi Thalib ini juga merupakan menantu dari Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. Kisah Ali Bin Abi Thalib dalam meminang Fatimah sungguh luar biasa.

Ali Bin Abi Thalib sempat merasa berkecil hati karena sebelumnya Fatimah Az Zahra juga dilamar oleh sahabat Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam lainnya. Namun, Rasulullah menolak lamaran tersebut. Sehingga Ali Bin Abi Thalib memberanikan diri untuk mendatangi Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam untuk melamar Fatimah Az – Zahra, putri kesayangannya. (Baca : Sejarah Ali Bin Abi Thalib).

Pada saat Ali Bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, Ali tidak langsung menyampaikan niatnya. Ali hanya terdiam membisu karena merasa grogi, sampai akhirnya Rasulullah yang membuka pertanyaan kepada Ali Bin Abi Thalib. “Apakah kamu datang ingin melamar Fatimah?” Dari pertanyaan yang diberikan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam tersebutlah akhirnya Ali bisa bersuara dan menjawab “Ya Rasulullah, Aku ingin melamar Fatimah”. (Baca : Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak yang Sudah Menikah)

Hikmah Kisah Cinta Fatimah Az Zahra

Fatimah Az – Zahra adalah putri kesayangan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam yang sudah dijamin masuk ke surganya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, hal ini tidak semerta – merta membuat Rasulullah mendidik Fatimah supaya menjadi anak yang santai dalam beribadah. Istri Rasulullah, Aisyah pernah berkata, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih mirip cara bicaranya seperti Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam seperti Fatimah.” (baca juga: Cinta Menurut Islam)

Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam sungguh menyayangi Fatimah. Sampai – sampai apabila Fatimah berkunjung ke rumah Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, Rasul pun berdiri untuk menyambut kedatangan putrinya dan mencium putri kesayangannya. Begitu juga apabila Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam datang ke rumah Fatimah. Fatimah pun berdiri dan menyambut kedatangan ayahanda tercinta kemudian mencium ayahandanya. (Baca : Kewajiban Anak Perempuan Terhadap Orang Tua setelah Menikah).

Sponsors Link

  • Kesederhanaan

Kehidupan Fatimah setelah menikah begitu sederhana. Karena Ali Bin Abi Thalib memang bukan berasal dari keluarga kaya yang memiliki banyak harta. Saat dia melamar Fatimah pun dia sempat bingung karena merasa tidak memiliki Mahar yang cukup. Namun, Rasulullah tidak mempersulit hal tersebut dan menanyakan kepada Ali bahwa Ali memiliki baju besi yang dahulu pernah diberikan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam. (baca: Cinta dalam Diam Menurut Islam)

Dan, Rasulullah menyetujui baju besi tersebut sebagai Mahar pernikahannya. Mahar pernikahan dalam Islam di peristiwa pada zaman Rasulullah sungguh bermacam – macam. Karena tujuannya untuk sebuah hubungan pernikahan dua insan manusia, maka dari itu mahar yang ada bisa disesuaikan. Berikut Sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam :

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu’man] Telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Abu Hazim] dari [Sahl bin Sa’dari] radliallahu ‘anhu, bahwa seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menawarkan dirinya pada beliau, maka beliau pun bersabda: “Hari ini aku tak berhasrat pada wanita.” Tiba-tiba seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya.” Maka beliau bertanya: “Apa yang kamu miliki (untuk dijadikan sebagai mahar)?” ia menjawab, “Aku tidak punya apa-apa.” Beliau bersabda: “Berikanlan ia (mahar) meskipun hanya cincin besi.” Laki-laki itu berkata, “Aku tak punya apa-apa.” Akhirnya beliau bertanya: “Apa yang kamu hafal dari Al Qur`an?” laki-laki itu menjawab, “Surat ini dan ini.” Beliau bersabda: “Aku telah menikahkanmu dengan wanita itu dan sebagai maharnya adalah hafalan Al Qur`anmu.”

  • Keteguhan Hati

Fatimah Az – Zahra, sebelum dilamar oleh Ali Bin Abi Thalib juga sempat dilamar oleh sahabat terdekat Rasulullah lainnya. Sehingga, hal ini pernah membuat hati Ali Bin Abi Thalib menjadi sedih. Namun, ketika mendengar bahwa lamaran – lamaran tersebut ditolak, maka Ali Bin Abi Thalib merasa mempunyai kesempatan untuk menemui Rasulullah dan melamar putri kesayangannya. Kalau diimplementasikan dalam kehidupan sekarang ini, keteguhan hati Ali ini bisa menjadi cara mendekatkan jodoh dalam Islam yang sudah ada tuntunannya dalam ajaran agama kita.

  • Tidak Ada Percintaan Sebelum Pernikahan

Sebelum menikah, Fatimah Az – Zahra dan Ali Bin Abi Thalib tidak pernah mengutarakan cinta antara satu denga yang lainnya. Namun, pada zaman sekarang ini banyak yang sudah mengumbar kata – kata sayang dan cinta padahal belum memiliki ikatan yang halal. Dari kisah cinta Fatimah Az Zahra dan Ali Bin Abi Thalib ini bisa diberi kesimpulan bahwa memang tidak ada percintaan sebelum pernikahan. Kalau pun ada cinta sebelum pernikahan itu hanyalah hawa nafsu semata. Bukan berarti dengan melakukan pacaran, seorang laki – laki dan perempuan bisa saling mengenal satu sama lain.

baca juga:

Namun, taaruf menurut islam bisa berarti saling mengenal satu sama lain antara perempuan dan laki – laki. Yang perlu dipahami dalam ingatan bahwa laki – laki yang baik tidak akan merusak perempuan yang baik. Dan begitu juga sebaliknya, perempuan yang baik tidak akan merusak laki – laki yang baik. Apalagi dengan melakukan pacaran yang belum tentu berujung dengan pernikahan. Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam bersabda :

“Wahai sekalian pemuda, siapa diantara kalian telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.”

Sponsors Link

  • Amalan

Kehidupan rumah tangga Fatimah Az Zahra dan Ali Bin Abi Thalib begitu sederhana. Bahkan tangan Fatimah menjadi kasar karena menumbuk gandum sendiri. Saat itu Fatimah memiliki bayi yang bernama Hasan dan Fatimah juga sedang hami Hussein anak keduanya sehingga merasa kewalahan. Karena, mereka tidak mampu membayar seorang pembantu untuk melakukan pekerjaan rumahnya.

Suatu ketika, Fatimah mendengar kabar bahwa Ayahandanya membawa tawanan perang yang bisa dijadikan pembantu di rumahnya. Setelah mendengar kabar itu, Fatimah pun berkunjung ke rumah Rasulullah  Shallahu Alaihi Wassalam untuk meminta hal tersebut. Namun, sayangnya ayahanda sedang tidak di rumah. Jadi, Fatimah hanya sempat menceritakan hal tersebut pada istri Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, Aisyah.

baca juga:

Setelah sholat Isya, Aisyah menceritakan tersebut pada Rasulullah dan Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam mendatangi rumah Fatimah dan mengatakan bahwa ayahanda tidak bisa memberikan pembantu tersebut kepada Fatimah. Namun, Rasulullah mengajarkan suatu amalan yang membuatnya lebih baik dibanding seorang pembantu. Karena esok hari miliki Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga apabila kita mendatangi tempat tidur sebaiknya dalam keadaan mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara membaca Subhanallah sebanyak 33 kali, Alhamdullillah 33 kali dan Allahu Akbar 34 kali.

Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam bersabda :

“Laksanakanlah oleh kalian amalan semampu kalian, sesungguhnya sebaik-baik amalan adalah yang di kerjakan secara terus menerus walaupun sedikit.”

Demikian kisah cinta Fatimah Az-zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang mengajarkan tentang kesederhanaan namun tetap memiliki keteguhan islam di dalam diri masing – masing insan ini.

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , , ,




Post Date: Wednesday 14th, June 2017 / 07:33 Oleh :
Kategori : Info Islami