Petir Menurut Islam – Hikmah – Doa

Petir merupakan suatu fenomena alam yang sering terjadi pada saat hujan deras. Petir akan terlihat sangat terang di langit yang kemudian akan disusul oleh suara menggelegar. Sebenarnya apakah petir itu? Apakah petir hanya fenomena alam biasa yang hanya menandakan hujan deras saja? ataukah petir memiliki makna tertentu atau hikmah yang bisa kita ambil?

Petir dalam Ilmu Pengetahuan Alam

Jika kita merujuk pada ilmu pengetahuan alam, petir adalah cahaya terang yang terjadi saat ada pelepasan listrik di atmosfer. Biasanya petir terjadi pada saat hujan badai. Petir ini terbentuk ketika ada tegangan listrik pada dua titik terpisah di atmosfer mencapai tingkat tegangan yang tinggi.

Petir bisa bermula dari muatan listrik yang dikandung oleh awan. Awan bisa memiliki muatan listrik, karena awan berjalan secara teratur dan akan bersinggungan dengan awan-awan yang lain. Hal ini membuat listrik muatan negatif akan berkumpul di satu sisi, sementara listrik muatan positif akan ada di sisi lainnya. Semakin lama muatan listrik di awan akan semakin besar, hingga ketika ada perbedaan potensial yang besar antara awan dan bumi akan terjadi pembuangan muatan negatif yang disebut elektron. (Baca juga: Hukum Menuntut Ilmu)

Pembuangan muatan negatif ini akan membutuhkan udara sebagai media perantaranya. Ketika muatan elektron menembus batas isolasi udara, akan terjadilah suara seperti ledakan, atau yang sering kita sebut guntur. Guntur sering terdengar saat musim hujan, karena saat musim hujan udara mengandung kadar air yang lebih banyak yang membuatnya memiliki daya isolasi udara lebih rendah dan arus pun lebih mudah melewatinya. (Baca juga: Ilmu Pendidikan Islam)

Petir memiliki suhu dan tegangan yang sangat tinggi. Sambaran petir bisa meningkatkan suhu udara di sepanjang jalur yang dia lewati, hingga 50.000⁰ Fahrenheit. Suhu ini setara dengan 27.760⁰ Celcius. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati saat mencari tempat berteduh pada saat hujan. Jangan sampai tempat yang kita jadikan tempat berteduh justru merupakan jalur yang potensial dilalui oleh sambaran petir.

baca juga:

Pandangan Islam tentang Petir

Kronologi terjadinya hujan dan petir di atas sebenarnya juga sudah terdapat di dalam al Quran. Dalam surat an Nur ayat 43, Allah berfirman, “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung. Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (Baca juga: Islam dan Ilmu Pengetahuan)

Dalam Bahasa Arab, ada tiga istilah yang digunakan untuk menyebut petir dan guntur, yaitu ar ra’du, ash shawa’iq dan al barq. Ketiga istilah ini memiliki penggunaan yang berbeda. Ar ra’du digunakan untuk menyebut suara guntur, sementara ash shawa’iq dan al barq digunakan untuk menyebut kilatan petir.

Terdapat hadis Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam tentang ar ra’du, yaitu dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dalam hadits marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) pada riwayat At Tirmidzi dan selainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ar ro’du, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ar ro’du adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah”.

baca juga:

Sementara itu, dalam Makarimil Akhlak milik Al Khoro-ithi, “Ali pernah ditanya mengenai ar ro’du. Beliau menjawab, ”Ar ro’du adalah malaikat. Beliau ditanya pula mengenai al barq. Beliau menjawab, ”Al barq (kilatan petir) itu adalah pengoyak di tangannya.” Dalam riwayat lainnya dari Ali menyebutkan pula ‘Al barq itu adalah pengoyak dari besi di tangannya’. (Baca juga: Rukun Iman)

Dari riwayat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ar ra’du adalah malaikat yang bertugas mengatur awan, atau di pendapat lain juga ada yang menyebutnya sebagai suara malaikat. Sedangkan al barq atau ash shawa’iq adalah kilatan cahaya yang berasal dari cambuk malaikat untuk menggiring mendung. Wallahu a’lam bishawab.

Dalam surat ar Ra’d ayat 12-13 di al Quran, disebutkan “Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan mendung. Dan guruh bertasbih memuji-Nya (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakan kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia Mahakeras siksaan-Nya”. Maka, dari petir dan guntur kita bisa belajar bahwa seluruh dunia dan isinya bertasbih memuji Allah dan semua terjadi atas kuasa Allah subhanahu wa ta’ala.

Baca juga:

Dengan adanya ayat-ayat di al Quran dan beberapa hadis di atas, kita hendaknya mulai mengimani bahwa fenomena petir bukanlah fenomena alam biasa. Ada hikmah dan kekuasaan Allah di dalamnya yang bisa menjadi pelajaran untuk kita ambil.

Doa saat Mendengar Petir

Dari pembahasan di atas, kita bisa mengetahui bahwa petir akan mendatangkan pengharapan sekaligus ketakutan di dalam hati manusia. Suaranya yang menggelegar membuat sebagian manusia mengharapkan akan turunnya hujan yang berkah, sementara sebagian lainnya merasa ketakutan karena gelegarnya yang keras dan mengkhawatirkan badai.

Dalam surat al Baqarah ayat 19 disebutkan, “Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah Meliputi orang-orang yang kafir”. Oleh karena itu, sebagai umat muslim kita harus selalu berdoa dan memohon perlindungan Allah dari bencana apapun. Untuk itu, Islam juga mengatur umatnya untuk membaca doa saat melihat kilatan petir juga saat mendengar gelegar suaranya.

Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwa Ibnu ‘Abbas mengucapkan kalimat berikut ketika beliau mendengar petir, “Subhanalladzi sabbahat lahu” yang berarti “Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya”. Setelah itu, Ibnu ‘Abbas pun berkata bahwa sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.

Baca juga:

Sahabat lainnya, seperti ‘Abdullah bin Az Zubair juga memberi teladan untuk berdoa saat mendengar suara petir. Ketika ‘Abdullah bin Az Zubair mendengar suara petir, beliau akan menghentikan pembicaraan lalu mengucapkan, “Subhanalladzi yusabbihur ra’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih”. Doa ini memiliki arti, “Maha suci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya”.

Biasanya, petir dan guntur akan disertai hujan yang turun. Seperti yang kita ketahui, waktu hujan adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi sallam dari Sahl bin a’ad radhiallahu ‘anhu, “Dua doa yang tidak pernah ditolak; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan.

Baca juga:

Menurut Imam an Nawawi, sebab dari doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak pada saat kehujanan adalah karena saat itu sedang turun rahmat dari Allah, khususnya pada saat hujan pertama di awal musim. Hujan ini merupakan penawar dari panas dan kekeringan yang dialami sepanjang musim sebelumnya. Oleh karena itu, kita sangat dianjurkan untuk banyak berdoa ketika hujan turun.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari,  Aisyah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bila melihat hujan maka beliau akan berdoa, “Allahumma shayyiban naafi’an. Doa ini memiliki arti “Ya Allah, jadikanlah (hujan ini)  hujan yang bermanfaat”. (Baca juga: Hujan menurut Islam)

Menurut Ibnu Hajar al Asqolani rahumahullah, doa tersebut dianjurkan untuk dibaca setelah hujan turun untuk mendapat berkah yang lebih. Sementara itu, Imam an Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa doa tersebut dibaca saat hujan sedang turun. Beliau berpedoman pada hadis dari Anas bin Malik radhiallahu ‘ anhu, yang berbunyi, “Kami pernah kehujanan ketika bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyingkap bajunya hingga beliau terguyur air hujan. Maka itu kami bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal demikian? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Karena hujan itu baru mengenali Rabb-nya ta’ala”.

baca juga:

Semoga pmebahasan kali ini bermanfaat sebagai penambah iman kita akan kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu di langit dan bumi. Wallahu a’lam bishawab.