Renungan Akhir Ramadhan (Amalan untuk Menebar Kebaikan)

Rasulullah SAW teramat mengagungkan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kita sebagai manusia yang penuh dengan dosa dan kesalahan, hendaknya juga lebih bersungguh-sungguh sehingga bisa mendapat pengampunan dari Allah swt dan untuk itulah kita juga perlu meniru Rasulullah saw dalam mengagungkan 10 hari terakhir ramadhan ini.

Di 20 hari pertama Ramadhan merupakan kesempatan kita untuk mengumpulkan ketaatan dan juga penyucian jiwa dengan melaksanakan kewajiban dan juga fadhoilul amal, sedangkan untuk 10 hari terakhir Ramadhan ini lebih dikhususkan untuk lailatul qadar yang merupakan malam-malam terbaik dari 1000 bulan dalam sejarah manusia.

Artikel terkait:

Bagi mereka yang beritikaf disunahkan untuk menggunakan waktu berdzikir, baca Al quran, shalat sunnah dan juga perbanyak tafakur mengenai masa lalu, hari ini dan masa yang akan datang serta perbanyak merenung hakekat hidup di dunia dan akherat. Orang yang beritikaf juga disarankan untuk menghindar dari hal tidak berguna seperti mengobrol dan bercanda yang akan mengganggu itikaf sebab itikaf memiliki tujuan untuk keutamaan bukan membuat diri sibuk pada hal yang tidak disunahkan.

Beritikaf dengan meninggalkan kewajiban dan tugas juga tidak dibenarkan sebab seseorang tidak pantas untuk meninggalkan sesuatu yang wajib atau sunnah. Saat sedang beritikaf maka diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itikaf jika ada hal yang mendesak seperti makan, minum, mandi, berobat dan sebagainya.

Ada hikmah sangat besar di balik itikaf yaitu menghidupkan kembali sunnah Rasul saw sekaligus menghidupkan hati dengan cara taat serta beribadah pada Allah. Kegunaan itikaf lainnya adalah dengan merenungkan masa lalu dan memikirkan semua hal yang akan dikerjakan esok hari. Dengan beritikaf juga akan memberikan ketenangan, rasa tenteram dan juga hati penuh dosa yang akan diterangi oleh cahaya.

Itikaf adalah jalan bagi kita supaya bisa lebih dekat dengan Allah dan jangan sampai bulan Ramadhan hanya akan dilalui sambil terus melakukan aktivitas duniawi sekaligus lalai akan tanggung jawab serta tugas.

Artikel terkait:

Renungan di Akhir Bulan Ramadhan

Dengan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan berlalu yang merupakan bulan suci penuh dengan kebaikan, maka kita berharap semoga Allah bisa menerima seluruh amal kebaikan yang sudah kita lakukan dan membuat kita itiqamah hingga nanti saatnya kita bertemu dengan-Nya.

Akan tetapi, meski Ramadhan sudah berlalu tetapi amal dari seorang mukmin tidak akan pernah putus dengan mudahnya sehingga mendatangkan kematian. (QS. Al-Hijr: 99), Allah Ta’ala berfirman: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

  1. Mengikuti Puasa Enam Hari Bulan Syawal

Jika puasa Ramadhan sudah berlalu maka ibadah untuk puasa yang lain juga disyariatkan untuk sepanjang tahun. (HR. Muslim), Abu Said Al-Khudri RA meriwayatkan, bahwsanya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari pada bulan Syawal, maka hal itu laksana puasa setahun.

Artikel terkait:

2. Melakukan Puasa Sunnah

(HR. Bukhari dan Muslim), Dari Abu Hurairah RA berkata: Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara: Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua rakaat dan supaya aku shalat witir sebelum tidur.

(HR. Muslim), Dari Abu Qatadah RA berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Arafah, lalu beliau SAW menjawab: Menghapus dosa tahun lalu dan tahun mendatang. Kemudian  menurut (HR. Muslim), Dari Abu Qatadah RA , bahwasanya Rasulullah SAW ditanya tentang puasa pada hari Asyura, lalu beliau SAW menjawab: Menghapus dosa tahun lalu.

Selanjutnya, (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih), Dari Abu Hurairah RA , dari Rasulullah SAW bersabda: Amalan-amalan dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka apabila dihadapkan amalanku ketika aku sedang puasa.

Artikel terkait:

3. Melakukan Ibadah Qiyamulail (Ibadah Shalat Malam)

Jika Qiyam Ramadhan atau Tarawih sudah berlalu, maka ibadah Qiyamullail atau shalat malam juga disyariatkan setiap malamnya.

(HR. Bukhari dan Muslim), Dari Aisyah RA berkata: Bahwasanya Rasulullah SAW shalat malam sampai bengkak kakinya. Lalu akupun bertanya kepada beliau: Mengapa engkau lakukan ini -wahai Rasulullah- padahal telah diampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang Beliau menjawab: “Apakah tidak sepatutnya aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur!”. Kembali (HR. Muslim), Dari Abu Hurairah RA , bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam.

Kemudian (HR. Bukhari dan Muslim), Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Rabb kita tabaraka wa taala- turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia (Allah) berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu, Aku kabulkan doanya Siapa yang meminta kepadaKu, Aku beri permintaannya Siapa yang memohon ampunan kepadaKu, pasti Aku ampuni dia.

Artikel terkait:

Banyak amal kebaikan lainnya yang bisa kita sebagai umat muslim lakukan untuk sepanjang tahun dan Allah yang kita sembah di bulan suci Ramadhan juga merupakan Allah yang juga kita sembah di bulan Syawal serta beberapa bulan lainnya.

4. Melakukan Perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW

(QS. Al-Mukminuun: 57-61), Allah–subahanahu wa ta’ala memuji orang-orang yang melakukan ketaatan kepadaNya dalam firmanNya: “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”

(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad), Ibunda’Aisyah –radhiallahu anha berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah –sallallahu’alaihi wa ‘ala alihi wasallam tentang ayat ini, aku berkata: Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr, berzina dan mencuri? Beliau–sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam menjawab: “Tidak, wahai puteri Ash-Shiddiq! Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah dan mereka takut amal mereka tidak diterima (Allah –subahanahu wata’ala). Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan.”

(QS. Al-Maa’idah:27), SahabatAli –radhiallahu ‘anhu berkata: “Mereka lebih memperhatikan dikabulkannya amal daripada amal itu sendiri. Tidakkah kamu mendengar Allah –subahanahu wa ta’alaberfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (mengabulkan) dari orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al-Maa’idah:27), Dari Fadhalah bin ‘Ubaid –rahimahullah berkata: Sekiranya aku mengetahui bahwa amalku ada yang dikabulkan sekecil biji sawi, hal itu lebih aku sukai daripada dunia seisinya, karena Allah –subahanahu wa ta’alaberfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (mengabulkan) dari orang-orang yang bertakwa.”

Artikel terkait:

Lakukan I’tikaf sebagai Bagian dari Renungan Bulan Ramadhan

Ramadhan yang sebentar lagi akan berlalu selayaknya harus lebih dikhusyukkan untuk beribadah dan juga berdoa. Rasulullah saw sudah mengajarkan bagaimana cara mengakhiri bulan Ramadhan dan lebih mendekatkan diri pada Allah. Salah satu diantara sunnah Rasullulah saw yang pasti dilakukan saat terakhir Ramadhan adalah irikaf. itikaf mengartikan menetapi sebuah sesuatu hal dan lebih menahan diri supaya tetap dalam lindungan-Nya.

Allah berfirman, “Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang beri’tikaf (menyembah) berhala mereka, dan seterusnya” (QS al-A’raf : 138).

Sementara secara syar’i, itikaf memiliki arti seorang muslim yang menetap dalam masjid untuk beribadah pada Allah dan ulama juga setuju jika hukum itikaf adalah sunnah kecuali seseorang melakukan nadzar untuk melakukan hal tersebut maka hukumnya menjadi wajib. Ini juga diperkuat dalam hadits Umar bin Khaththab yang diriwayatkan Bukhari serta Muslim, Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan i’tikaf sejak tinggal di Madinah hingga akhir hayat beliau saw.

Itikaf ini disunahkan kapanpun, akan tetapi yang utama itikaf pada bulan suci Ramadhan terutama pada 10 hari terakhir dan ini merupakan waktu itikaf terbaik seperti yang sudah diriwayatkan dalam hadits (HR Bukhari dan Muslim), “Bahwasanya Nabi saw selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau”.

Artikel terkait:

Hendaknya, kita umat muslim lebih bersemangat dalam melakukan semua ketaatan sekaligus menjauhi semua larangan, keburukan dan juga dosa supaya kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan serta sukses dunia akhirat. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita dan membuat kita istiqamah sampai bertemu dengan-Nya.