Rumah Tusuk Sate dalam Islam

Rumah dalam kehidupan manusia adalah salah satu fasilitas untuk berlindung dan berteduh. Rumah yang dibangun oleh manusia tentu sebagia tempat juga untuk berkumpul bersama keluarga dan bercengkrama dengan mereka. Tentu setiap manusia menginginkan rumah yang nyaman, aman, dan tentram baik secara kondisi fisik ruangan, bangunan, keadaan interior, ataupun budaya yang terbangun di dalam rumah tersebut. Namun, dalam perkembangan rumah ada beberapa orang yang menginginkan rumah dengan model tertentu. Salah satu nya adalah rumah dengan tusuk sate di atasnya. Berikut adalah mengenai rumah tusuk sate menurut islam.

Kedudukan Rumah dalam Islam

Dalam islam memiliki dan membangun rumah tentu bukanlah sesuatu yang dilarang. Hanya saja, Allah memberikan rambu-rambu agar tidak bersikap berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Termasuk dalam membangun dan memiliki rumah tentu saja larangan tersebut pun berlaku.

Rumah adalah salah satu harta benda yang dimiliki oleh manusia dan pada titik tertentu menjadi sebuah kebanggan. Orang-orang yang sering membanggakan harta bendanya salah satunya menjadi rumah sebagai simbol kekayaan dan kebanggan dirinya. Bahkan tidak jarang yang menjadikan rumah sebagai salah satu alat ukur kesuksesan mereka. Kebaggan ini tentu menjadi catatan bagi Allah bahwa jangan sampai di luar batas dan bersikap berlebihan.

Sejatinya rumah adalah fasilitas hidup, tempat berlindung dan beraktivitas juga membangun keluarga. Apabila hal itu menjadi sebuah kebanggan, kemewahan, rumah yang dihuni hanya 4 orang namun luasnya sampai berhektar-hektar tentu termasuk berlebihan. Tentunya mengambil hak-hak rumah untuk orang lai yang tidak bisa memilikinya.

Untuk itu, sejatinya dalam islam kedudukan rumah adalah untuk membangun rumah tangga yang sesuai dengan tujuan Keluarga Dalam Islam . Membangun Rumah Tangga Menurut Islam tidak hanya sekedar membangun hubungan cinta antara suami dan istri dan anak-anak saja. Pembangunan keluarga pada intinya adalah bertujuan mencapai Keluarga Sakinah Dalam Islam dan Keluarga Harmonis Menurut Islam. Hal ini dikarenakan Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah  adalah tujuan dari adanya pernikahan yang dibangun yang diperintahkan oleh Allah.

Untuk mencapai rumah yang seperti itu maka harus juga memperhatikan:

Ayat Al-Quran Mengenai Larangan Berlebihan

Rumah adalah salah satu fasilitas yang secara substansi berorientasi agar terbentuk keluarga yang baik. Rumah juga merupakan harta yang pernting dan perlu dijaga. Membangun Rumah Menurut Islam tentu diperbolehkan dan juga dibutuhkan oleh setiap manusia. Rumah Ideal Menurut Islam tentu tidak sampai berlebihan atau sampai bermewah/bermegah-megahan.

Berikut adalah ayat-ayat yang diperingatkan oleh Allah agar manusia tidak lalai dan berlebihan dalam menggunakan atau memiliki harta termasuk Harta berupa Rumah.

  1. Rumah adalah Rezeki atau Nikmat dari Allah

Rumah adalah salah satu nikmat atau rezeki Allah yang harus disyukuri oleh Manusia. Sejatinya pemberian tersebut adalah titipan Allah yang akan kembali dan diminta pertanggungjawaban oleh Allah.

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)”(QS An-Nahl : 80 )

  1. Larangan untuk Bersikap Berlebihan dan Bermegah-Megahan

Allah melarang manusia, khususnya umat islam untuk bersikap berlebih-lebihan dan bermegah-megahan. Sikap ini dibenci oleh Allah SWT.

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS Al-Ar’raf : 31)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).“ (QS At-Takatsur : 1-3)

  1. Larangan Bersikap Bangga Terhadap Harta

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS Al Hadid : 20)

Rumah yang merupakan harta juga dilarang untuk bersikap bangga terhadapnya. Kebanggaan berlebihan terhadap harta akan membuat manusia lalai dan malah mencintai harta yang padahal tidak berguna jika kelak di akhirat dimintai pertanggungjawaban.

Rumah dengan Ornamen Tusuk Sate

Rumah dengan ornamen tusuk sate dalam islam tentu bukanlah sesuatu yang dibahas secara eksplisit dalam islam. Boleh atau tidaknya rumah seperti ini bergantung kepada motif/niat, tujuan, dan perlakuan orang tersebut dalam membangunnya. Sebagaimana rumah-rumah lain di berbagai daerah juga sangat beragam dan bervarian. Misalnya terdapat Rumah Gadang, Rumah di Suku Papua, Rumah Moderen, Rumah Minimalis, Rumah di Kutub Utara, dan lain sebagainya.

Rumah-rumah di setiap suku, daerah, bahkan ras atau benua juga memiliki perbedaan masing-masing. Semuanya bergantung kepada kebiasaan, budaya, kondisi cuaca atau iklim, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya rumah tersebut dapat melindungi manusia dan beraktivitas secara produktif di dalamnya.

Termasuk dengan Rumah Tusuk Sate. Jika tusuk sate tersebut hanyalah sebagai ornamen biasa atau sekedar untuk hiasan, tentu islam tidak melarang. Apalagi jika berkaitan dengan keindahan, kesenian, dan juga estetika yang mengandung kekaguman. Namun, tentunya tidak boleh berlebihan atau sampai bermegah-megahan dengan biaya yang mengalahkan kebutuhan pokok lainnya.

Berikut adalah hal-hal yang harus diperthatikan dalam Rumah Tusuk Sate:

  1. Tidak Mengandung Kesyirikan

Rumah yang dibangun dengan ornamen tusuk sate tidak boleh mengandung kesyirikan. Syirik Dalam Islam adalah dosa besar dan sangat berat, bahkan bisa tidak diampuni oleh Allah. Taubatan Nasuha tentu adalah hal yang harus dilakukan ketika manusia bersikap seperti ini tanpa sadar.

Dalam hal ini misalnya memiliki keyakinan bahwa dengan adanya ornamen tersebut dapat memberikan keberkahan, rezeki yang lebih banyak, dapat dikabulkannya keinginan, atau dapat menghindari malapetaka. Tentu hal seperti ini dilarang oleh Islam karena hanya Allah lah tempat bergantung hidup dan meminta pertolongan. Bahkan Allah sendiri yang menyuruh manusia untuk meminta langsung kepada Allah.

Jika mengandung kepercayaan atau keyakinan tersebut yang mendorong manusia untuk memasang tusuk sate tersebut, maka tentu saja ini dilarang oleh Islam dan diharamkan tentunya. Oleh karena itu, Ornamen Tusuk Sate tidak boleh mengandung kepercayaan atau keyakinan apapun sehinga kedudukannya hanyalah untuk hiasan atau sekedar estetika saja. Sehingga, wada atau tidak adanya Tusuk Sate tersebut tidak perlu menjadi masalah bagi pemiliknya.

  1. Tidak Berlebih-Lebihan atau Bermegah-Megahan

Ornamen tusuk sate di rumah tentu tidak boleh menjadi berlebihan atau bermegah-megahan. Misalnya pembuatannya sampai menghabiskan uang yang sangat banyak, menjadi hal yang mewah dan dibuat oleh harta benda yang juga mahal. Tentu rumah sejatinya adalaah untuk membangun keluarga yang sakinah dan sebagai tempat untuk melindungi diri.

  1. Tidak Menjadi Kesombongan atau Kebanggan

Rumah tusuk sate yang dimiliki atau dibangun tidak boleh menjadikan kesombogan atau kebaggan bagi pemiliknya. Seharusnya dianggap biasa saja tidak perlu ada yang berlebihan atau dianggap sesuatu yang megah sehingga lahir kesombongan.