Sikap Fanatik yang Dianjurkan Oleh Agama Islam

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Fanatik atau dalam arti cinta buta kepada yang disukai dan antipati kepada yang tidak disukai hal ini dapat dihubungkan dengan perasaan cinta diri yang berlebihan atau narsisme.

Fanatik bisa disebutkan bermula dari kekaguman yang kemudian membanggakan kelebihan yang ada pada diri orang lain dan selanjutnya bisa menjadi tindakan yang buruk seperti dapat berkembang menjadi rasa tidak suka kemudian menjadi benci terhadap seseorang yang bertentangan kepada dirinya. Sifat ini merupakan perwujudan dari egoisme yang sempit antar umat manusia.

Banyak yang mengatakan bahwa fanatik sifat alami manusia, tetapi merupakan hal yang dibuat oleh orang itu sendiri. Baca juga Hukum Memainkan Musik di Masjid

Pergaulan dapat dilakukan dimanapun dan oleh siapapun tanpa membedakan jenis suku, ras, warna kulit, maupun agama yang dianut oleh orang tersebut.

Anak-anak dari berbagai jenis bangsa dapat bergaul akrab secara alami sebelum ditanamkan suatu pandangan oleh orang tuanya atau masyarakat disana. Dan dalam hal ini fanatik bukan merupakan bawaan manusia, hal itu datang dari sifat mereka sendiri atau bisa juga dari faktor lingkungan. Nyatanya fanatisme itu sering muncul dengan penyebab yang berbeda-beda.

Dalam hal ini ada teori lain yang lebih masuk akal yaitu bahwa fanatisme itu berakar pada pengalaman hidup orang tersebut. Baca juga Hukum Menonton Film Horor dalam Islam

Seseorang yang selalu gagal terkadang merasa tidak disukai oleh orang lain yang lebih sukses dari dirinya. Perasaan itu kemudian berkembang menjadi merasa terancam oleh orang sukses yang akan menghancurkan dirinya sendiri, perasaan itu memang lumrah ditemui disekitar kita.

Munculnya kelompok dalam suatu masyarakat biasanya berawal dari terpinggirkannya peran sekelompok orang dalam sistem sosial (ekonomi dan politik) masyarakat dimana orang-orang itu berada di suatu lingkungan.

Kita bisa menelaah fenomena gerakan ekstrim radikal pada masa orde baru dimana kelompok yang ekstrim selalu berasal dari kelompok yang terpinggirkan atau merasa terancam, dan kelompok-krlompok itu sering bertukar peran untuk melakukan hal yang dikatakan fanatik.

Menurut Dr. Abd. Rahman Isawi, seorang psikolog dari Universitas Iskandariyah, jalan fikiran orang fanatik itu bermula dari perasaan bahwa orang lain tidak menyukai dirinya, dan bahkan mengancam eksistensi dirinya itu. Baca juga Cara Memperlakukan Istri Dalam Islam

Perasaan ini berkembang sedemikian rupa sehingga ia menjadi seseorang yang frustrasi. Frustrasi menumbuhkan rasa takut dan tidak percaya kepada orang yang disekitarnya. Selanjutnya perasaan itu berkembang menjadi rasa benci kepada orang lain disekitarnya.

Dari empat teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengurangi perilaku fanatik seseorang atau sekelompok orang, tidak cukup dengan menggunakan teori-teori saja, karena fanatik bisa disebabkan oleh banyak faktor, bukan oleh satu atau dua faktor saja.

Munculnya perilaku fanatik pada seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat atau di masa yang akan datang mungkin ada, dan belum ada yang berkata fanatik yang baik bagaimana, hanya kita sebagai manusia hanya tidak harus berlebihan dalam menggambarkan sesuatu. Baca juga Hukum Reksadana dalam Islam

Oleh karena itu islam melarang seseorang bersifat fanatik bukan hanya terhadap orang lain namun juga terhadap benda. Karena sesuatu yang berlebihan sangat tidak baik. Semoga bermanfaat informasi ini.

fbWhatsappTwitterLinkedIn