Sunnah Rasul Malam Jumat Dalam Islam

Setiap umat muslim tentu memiliki kewajiban untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan mengambil contoh dari Rasulullah SAW. Untuk itu, kisah teladan nabi muhammad adalah satu bagian dari fungsi agama bagi umat islam yang diberikan Allah SWT. Dalam ayat Al-Quran, Allah berfirman,  “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS : Al Ahzab : 21)

Bahkan nama nama nabi dan rasul terdahulu pun diperintahkan untuk diikuti teladan baiknya sebagaimana Allah berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS : An Nahl : 120)

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji. “(QS : Al Mumtahanan : 6)

Untuk itu, teladan yang baik sejatinya bersumber dari Rasul-Rasul Allah yang diperintahkan untuk memberikan risalah pembangunan islam di muka bumi. Untuk itu meneladaninya adalah sesuatu yang menjadi kewajiban, bagi kita sebagai umat-nya. Rasul

Pengertian Sunnah Rasul

Sunnah Rasul adalah ucapan-ucapan dan perbuatan atau keputusan-keputusan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW (Nabi Muhammad). Rasulullah dalam menjalankan kehidupannya, terutama dalam pelaksanaan membangun masyarakat dan mengembangakan sosial ataupun menjalankan kehidupan pribadinya adalah berdasarkan landasan Al-Quran sebagaimana yang Allah tunjukkan.

Dalam menjalankan kehidupannya, terutama dalam hal atau kerangka keummatan, Rasulullah senantiasa dijaga oleh Allah. Ketika Rasulullah melaksanakan kekeliruan atau ada yang keliru (karena kekhilafan), ia senantiasa diberikan peringatan langsung oleh Allah sebagaimana kekhususannya sebagai Nabi.

Banyak juga Sunnah Rasul merupakan tafsiran Rasulullah SAW mengenai ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT untuk ummat manusia. Sebagaimana bentuk operasionalisasi ayat-ayat Al-Quran banyak sekali dijumpai bahwa pelaksanaannya bersumber dari Sunnah Rasul, yaitu apa yang disampaikan, dilaksanakan, atau diputuskan oleh Rasullah SAW.

Sunnah Rasul, menjadi hal penting sebagai sumber atau referensi utama hukum islam. Untuk itu, para ulama ijtihad pun memutuskannya berdasarkan sumber Al-Quran dan Sunnah Rasul yang tidak pernah terlewat. Untuk itu, kajian Sunnah Rasul menjadi aspek penting pula dalam memahami ajaran islam yaitu Sunnah Rasulullah SAW.

Penerapan Sunnah Rasul di Masa Modern

Tidak dapat dipungkiri bahwa zaman Rasul dan zaman kekinan sangat jauh berbeda sekali. Mulai dari masalah-masalah, tantangan, dan dinamika zaman yang dihadapi. Dari Masa ke masa tentu antara satu Nabi dengan Nabi yang lain pun juga mendapatkan perbedaan kondisi yang bisa jadi bertentangan dari masa ke masa. Bisa lebih ringan atau bahkan bisa lebih berat lagi.

Tidak berarti masa yang berganti ini menjadi alasan bahwa Sunnah Rasul sudah tidak berfungsi dan tidak perlu dilakukan lagi oleh ummat islam di masa kini. Ada nilai-nilai universal yang tidak bisa diganti dan juga dihilangkan walaupun zaman sudah berganti beberapa abad.

Misalnya saja, Rasulullah di zaman dahulu senantiasa menggunakan onta untuk kendaraan pribadi atau pelaksanaan amal-amalannya (untuk dakwah, untuk berperang, atau membantu sesama). Di masa kini tentu umat islam akan kalah oleh musuh-musuhnya jika masih menggunakan kendaraan onta. Namun, walaupun berganti kendaraan dan alat-alat yang digunakan, prinsip dan orientasi untuk dakwah, membantu sesama yang telah diperintahkan oleh Rasullah tidak akan pernah bisa digantikan.

Antara Teknis dan Substansi Sunnah Rasul

Secara teknis atau penerapan ada yang bisa berubah seiring zaman namun tetap harus sesuai dengan prinsip dasar yang Rasullah SAW terapkan. Namun, ada pula teknis yang tidak bisa dirubah-rubah seenaknya oleh manusia seperti teknis dalam berdoa, shalat wajib, shalat sunnah, berpuasa, dsb.

Secara umum, hal-hal teknis dalam pelaksanaan ibadah muammalah dalam sunnah rasul secara teknis bisa saja mengalami perubahan namun tidak meninggalkan substansi yang telah diajarkan Rasul, namun secara ibadah Ritual atau ibadah Habluminaullah tidak bisa berubah walaupun zaman sudah berubah. Hal ini merupakan hal yang harus dilakukan sebagaimana Rasul lakukan.

Untuk itu, salah jika ada orang yang mengatakan bahwa di zaman ini Sunnah Rasul sudah tidak bisa dilakukan lagi. Yang ada hanyalah Sunnah Rasul adalah abadi sepanjat manusia dan dapat diterapkan, asalkan memahami seluk beluk, sejarah, aspek historis, tujuan, dan juga memahami betul substansi dari apa yang diajarkan Rasullah.

Hakikat dari apa yang dicontohkan rasul senantiasa mengacu pada :

Hal-hal tersebut yang membuat seorang menjadi hamba beriman pada Allah. Ada banyak sekali manfaat beriman kepada Allah SWT dan manfaat tawaqal kepada Allah bagi manusia yang menjalankan misinya sesuai Konsep manusia dalam islam.

Perintah dan Hikmah Menjalankan Sunnah Rasul

Oleh sebab Sunnah Rasul adalah perintah yang harus dilaksanakan, untuk itu ummat muslim yang merupakan bagian dari ummat Rasul wajib untuk bisa meneladani dan menjadikan Rasullah sebagai teladan-teladannya.

Banyak tokoh dan figur yang munkin bisa menjadi teladan. Namun, Rasullah adalah sebaik-baik teladan dalam islam dan orang yang memperjuangkan islam dari masa lalu. Untuk itu berikut hikmah jika kita mengukuti Sunnah Rasul dalam kehidupan kita.

  1. Merasa dekat dengan Rasulullah

Dengan melaksanakan sunnah Rasulullah SAW, tentunya kita akan menjadi merasa dekat dengan Rasulullah. Sesungguhnya bukan hanya perkataan cinta tau ungkapan kagum saja yang membuat kita dekat dengan Rasulullah. Melaksanakan sunnah Rasul tentu menjadi bagian untuk bisa merasakan kedekatan dan rasa cinta pada Rasullah SAW. Keutamaan cinta kepada Rasulullah salah satunya adalah kelak di hari akhir akan mendapatkan safaat dan tergolongan sebagai umatnya Rasullullah. Tentu bagi mereka yang juga melaksanakan  Rukun Iman dan Rukun Islam.

Melaksanakan Sunnah Rasul jika diiringi dengan pemahaman yang benar dan mampu memaknai tujuan dari pelaksanaan ibadahnya akan membuat kita menjadi hamba Allah yang benar-benar bersyukur bahwa ada Rasulullah yang memberikan risalah islam pada umat-nya.

Untuk itu, pelaksanaan Rasulullah harus diiringi oleh pemahaman sejarah islam, dinamika masalah saat itu, pemahaman hadist, dan tentu metode yang benar ketika memahaminya. Melaksanakan Sunnah Rasul jika diiringi oleh pemahaman yang benar tersebut tentu akan menambah semangat dan merasakan kedekatan dengan Rasulullah dan ajarannya.

  1. Menjadi Bagian dari Umat Rasulullah

Rasullah pernah bersabda bahwa, bukan bagian dari umat-nya barang siapa yang tidak mengikuti dan melasanakan Sunnahnya. Untuk itu, mengikuti dan melaksanakan Sunnah dari Rasulullah akan membuat kita merasa menjadi bagian dari umat Rasul.

Bagaimana mungkin sesorang diakui menjadi bagian dari sebuah kelompok atau komunitas jika dia sendiri tidak pernah melakukan kegiatan dan apa-apa yang diinginkan oleh pemimpinnya. Untuk itu, jika ingin menjadi bagian umat rasul pelaksnaan sunnahnya tentu harus dilakukan. Bahkan mempelajarinya setiap saat, dengan baik dan benar.

  1. Mendapatkan Hikmah dan Kebaikan dari Pelaksanaan Sunnah tersebut

Segala apa yang dilakukan Rasullah sebagai sunnahnya, terutama sunnah yang dianjurkan terdapat hikmah dan prospektus kebaikan yang mungkin manusia jarang mengetahuinya. Jika ketika mempelajari dan menerapkan Sunnah Rasul manusia benar-benar memahami dan melaksanakannya dengan benar, maka akan benar-benar besyukur.

Salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada umat islam adalah diberikannya teladan Rasul. Dengan adanya teladan Rasul, akhirnya kita memiliki figur atau role model yag bisa dicontoh dalam pelaksanaan nilai-nilai islam dan perjuangan dalam membangun kehidupan di muka bumi. Tentu nikmat tersebut harus disyukuri dalam bentuk ucapan dan perbuatan di kehidupan.

Tidak Semua Hadist Benar dan Bernilai Sunnah Rasul

Informasi tentang sunnah rasul tentu bisa kita dapatkan dari berbagai sumber. Dalam Al-Quran terdapat sejarah dan informasi tentang sunnah rasul, dari sejarah yang dituliskan para ilmuwan, ataupun dari hadist-hadist rasul yang diriwayatkan oleh orang-orang setelah Rasul meninggal.

Pada kenyataannya, tidak semua hadist yang ada bernilai valid atau sah keberadaannya. Kenyataannya ada yang sangat bertentangan dengan sunnah rasul lakukan, bertentangan dengan fungsi agama ajaran islam, tidak pernah rasul ajarkan atau bicarakan dan bahkan dibuat-buat atau dikarang oleh pihak-pihak tertentu yang memang memiliki kepentingan atau yang ingin menghancurkan islam. Sebagaimana pihak sejarah yahudi dalam islam yang ingin menghancurkan islam.

Untuk itu, berikut orang-orang atau golongan yang biasa memalsukan hadist untuk kepentingannya atau memang ingin menghancurkan islam.

  1. Kaum Zindiq

Kaum zindiq adalah mereka yang sengaja berpura-pura masuk islam namun sebetulnya adalah kaum kafir atau kaum munafik. Mereka memiliki kebencian terhadap ajaran islam atau Rasullah, dan ingin menghancurkan islam dari dalam.

  1. Pengikut Hawa Nafsu

Kaum ini adalah kaum yang memang tidak sungguh-sungguh menjalankan ajaran islam, sedangkan mereka hanya mengikuti apa yang menjadi keinginan atau nafsu mereka masing-masing. Ajaran islam yang tidak sesuai atau relevan dengan hawa nafsunya tentu akan dibuat menjadi sesuai dengan keinginannya.

  1. Pembuat Hadist Palsu dengan Nasehat Baik

Kaum ini merasa memiliki nasehat yang baik dan memiliki tujuan yang baik menurut prasangkaan mereka. Namun, pada kenyataannya nasehat ini bukanlah bersumber dari Rasullah atau berdasarkan dari Risalah islam. Mereka membuatnya sendiri, walaupun bisa jadi berisi nasehat baik. Namun hal tersebut belum tentu bernilai sunnah rasul.

  1. Al Qashshaas (Tukang cerita)

Kaum ini membuat hadist palsu dengan memasukkanya pada cerita-cerita yang mereka buat sendiri.

  1. Kaum Penjilat

Kaum ini membuat hadist-hadist demi untuk mendapatkan simpati penguasa dan juga kedudukan di masyarakat. Tentu kaum seperti ini bukanlah kaum yang harus diikut dan hadist yang dihasilkannya bukanlah sunnah rasul yang asli.

Maksud Sunnah Rasul Malam Jumat dan Kevalidannya

Ada beberapa pendapat beredar mengenai sunnah Rasul di malam jumat. Maksud dari sunnah rasul disini merujuk pada hubungan suami istri yang dilaksanakan di malam jumat atau hari kamis malam. Mereka yang menguncapkan hal tersebut biasanya adalah mereka yang ingin mengucapkan mengenai hubungan suami istri namun dalam istilah yang lebih halus atau tidak dianggap vulgar jika diucapkan.

Namun, pada kenyataannya sunnah rasul malam jumat ini setidaknya bukan hanya kebutuhan suami istri itu saja. Selain itu, menjadi persepsi yang tergeser mengenai makna sunnah di hari kamis tersebut.Dalil atau hadist yang membuat adanya istilah sunnah rasul malam jumat ini adalah dari hadist berikut :

  • “Dari Aus bin Abi Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan, dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khotbah, dia berjalan dan tidak berkendara’an, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun.”(H.R. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
  • Adapun hadist palsu yang populer juga mengenai sunnah rasul malam jumat berikut. “Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi”. Dalam hadits yang lain ada di sebutkan sama dengan membunuh 1000, ada juga yang menyebut 7000 Yahudi. “

Pendapat Mengenai Sunnah Rasul Malam Jumat

Seorang ulama hadist dari Indonesia, yaitu alm. Prof DR KH Ali Mustafa Yaqub, MA menerangkan bahwa hadist tersebut belum ada dalam kitab-kitab hadist manapun, bahkan yang sifatnya dhaif sekalipun, apalagi yang sifatnya shahih. Menurut beliau, hadist tersebut tidak memiliki sanad atau memiliki sambungan terhadap sahabat, apalagi kepada keluarga atau Rasullullah langsung.

Sunnah rasul diatas jika dilihat dari keberadaan sumber dan hadistnya tentu bukanlah Sunnah Rasul yang shahih atau valid. Dalam kenyataannya, tidak ada hal mengenai hubungan suami istri yang diwajibkan atau disunnahkan waktunya karena hal tersebut tentu sangat personal atau private. Rasulullah pun juga tidak mungkin menjelaskan mengenai waktu-waktu beliau melakukan hal tersebut dengan istri-istrinya apalagi keluarga rasul tentu harus dijaga kehormatan dan privasinya.

Tidak ada satupun hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan, berhubungan suami istri pada malam-malam tertentu, termasuk malam Jum’at atau bahkan di waktu tertentu. Ajaran islam hanya menjelaskan dan menerangkan prinsip dasarnya, sedangkan pelaksanaannya tentu sangat bergantung pada situasi dan kondisi masing-masing yang tidak  boleh mendzalimi atau merugikan.