13 Tanda Hati yang Mati Menurut Islam

Dalam Islam dikenal konsep kematian sesuai ayat tentang kematian dalam islam ,sebuah hati dan tanda sebuah hati yang mati. Sebuah hati adalah organ tubuh yang Allah ciptakan tidak ada duanya, tidak seperti organ tubuh lainnya yang Allah ciptakan berpasang pasang. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Swt.:

ads

 “Allah tidak menjadikan bagi seindividu dua sebuah hati dalam rongganya” (Al Ahzab:4).

Sebuah hati Merupakan segumpal darah yang mempunyai peran penting dalam jiwa maupun raga manusia, dan perlu tips menjaga hati dalam islam , sebagaimana sabda Nabi Saw. berikut:

 “Ketahuilah, dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, seluruh tubuh akan baik. Jika daging itu rusak, seluruh tubuh juga akan rusak. Ingatlah, segumpal daging itu adalah sebuah hati” (HR Bukhari dan Muslim).

Karena sebuah hati mempunyai peran penting bagi jiwa manusia, dan ada penyebab matinya hati dalam islam , kita yang mempunyai organ tubuh tersebut harus semaksimal mungkin menjaga agar jangan sampai terkotori. Menjaga sebuah hati tidak semudah menjaga organ tubuh yang lainnya karena penyakit sebuah hati jauh lebih banyak dan lebih susah mengobatinya dibandingkan penyakit pada organ tubuh lainnya.

Sebagaimana organ tubuh lain, sebuah hati pun bisa mati atau tidak berfungsi seperti bunuh diri dalam islam, hanya saja sebuah hati yang mati tidaklah sama dengan organ tubuh lain. Lantas apa tanda tanda sebuah hati itu mati? 13 Tanda Sebuah Hati yang Mati Menurut Islam adalah sebagai berikut:

1. Tidak gelisah saat tidak ibadah

 “Termasuk tanda-tanda sebuah hati yang mati adalah tidak merasa gelisah atas ibadah yang tertinggal tidak terlaksanakan dan tidak menyesal atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan.”

2. Berani meninggalkan sholat

Sebuah hati yang telah mati tidak akan mengingat Allah dan senang melakukan dosa paling berat dalam islam sehingga akan berani meninggalkan sholat yang wajib hukumnya. Sebuah hati yang berani meninggalkan sholat akan merasa tenang-tenang saja ketika meninggalkan sholat. Padahal perintah untuk wajib untuk melakukan sholat telah tertuang dalam Al Qur’an

3. Tenang saat melakukan dosa besar

Tenangnya individu yang sedang berbuat dosa dan maksiat itu karena sebuah hatinya tidak lagi merasakan jeleknya perbuatan dosa yang dilakukan. Sehingga dosa yang dikerjakan menjadi suatu kebiasaan baginya. Lebih parah lagi dia tidak akan peduli dengan pandangan Allah dan Rasul dan dia tidak akan malu pada manusia serta mengacuhkannya. Dia akan bangga terhadap maksiat yang dilakukannya.

4. Tidak tersentuh bahkan menjauhi ayat-ayat Al-Qur’an

Sebuah hati yang telah mati, ketika disampaikan nasehat dan ancaman Allah ia tidak akan tersentuh sebuah hatinya. Dia juga tidak akan terpengaruh, tidak mendengar, lalai membaca Al-Qur’an sehingga berpaling dari Al Qur’an. Padahal AL-Qur’an adalah sebenar-benarnya petunjuk dari Allah untuk menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

5. Terus menerus berbuat maksiat

Lalai sungguh merupakan penyakit yang berbahaya, ketika ia sudah menajalar dalam sebuah hati dan bersarang dalam jiwa manusia maka ia akan menutup sebuah hati individu hamba dan menjadikan anggota badan saling mendukung untuk menutup datangnya hidayah, sehingga sebuah hati akan terkunci rapat. Sebuah hati yang terkunci rapat akan selalu dapat berbuat maksiat. 

6. Sibuk mengumpat, fitnah, dan berburuk sangka

Berbicara itu mudah, yang berat adalah mempertanggungjawabkan apa yang telah keluar dari mulut kita. Sebenarnya apa yang keluar dari mulut kita menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Perkataan yang buruk menunjukkan keburukan kita sendiri dari pada individu yang kita hina. Sedangkan perkataan yang baik adalah pembuktian kemusliman seindividu.


Hendaknya kita dapat memastikan apa yang keluar dari mulut kita adalah perkataan yang baik-baik dan bermanfaat. Sibuknya mengumpat, memfitnah, dan berburuk sangka perlahan-lahan akan menutupi sebuah hati dan membuatnya mati.

7. Sangat benci dengan nasihat baik dan para ulama

Individu yang telah tertutup sebuah hatinya akan memiliki sebuah hati yang membatu, sebuah hatinya keras dan tidak mempan dengan berbagai macam nasehat. Ia jugasangat membenci nasihat-nasihat baik dan para ulama.

Sebuah hati dan anggota tubuhnya sudah tidak bisa menerima kebenaran. Ia mempunyai mata namun untuk melihat yang maksiat dan tidak melihat kebenaran. Mereka punya telinga, namun tidak untuk mendengar kebaikan apalagi mendengar kitabullah serta mereka hanya mendengarkan kebatilan.

8. Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, kuburan, dan akhirat

Sebuah hati yang telah mati tidak akan merasa takut walaupun telah ada peringatan tentang kematian, azab kubur, dan azab di akherat nanti. Sungguh sebuah hati yang telah mati, tidak akan melihat peringatan-peringatan tersebut. Sebuah hati yang tidak memiliki rasa takuts edikitpun akan peringatan-peringatan itu akan menyesal dikemudian hari.

Allah berfirman dalam QS. As-Sajdah / 32:12 yaitu:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Artinya: “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika individu-individu berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah individu-individu yakin.” (As-Sajdah/32:12)

9. Gilanya pada dunia tanpa peduli dosa

Sesungguhnya hidup didunia hanyalah sementara. Namun bagi sebuah hati yang telah mati, hidup didunia adalah selamanya. Ia tidak akan merasakan bahwa kematian sedang setiap detik sedang mengejarnya. Tanpa peduli juga akan dosa-dosa yang telah ia lakukan. Dia telah terlena pada dunia yang fana dan terlalu mendewakan apa yang ia dapatkan didunia.
Firman Allah SWT :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٣٢ 

maksudnya : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi individu-individu yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”  (Surah Al-An’Am ayat 32)
Firman Allah SWT juga dalam al-Quran :

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا 

الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (١٢٨)وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٢٩

Artinya : “Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata; ‘Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan, dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan buat kami telah datang.’ Allah berfirman.’Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain.’ Sesungguhnya, Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui. Dan demikianlah Kami jadikan sebagian individu-individu yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”. (Surah al-An’aam ayat 128-129).
Allah SWT juga berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ (٨٣ 

maksudnya : “Kebahagiaan di kampung akhirat itu Kami sediakan hanya bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi individu-individu yang bertakwa”.  (Surah al-Qashash ayat 83).

10. Senang melihat individu susah dan menderita

Hasud ( dengki ) adalah sikap batin tidak senang terhadap kenikmatan yang diperoleh individu lain dan berusaha untuk menghilangkannya dari individu tersebut.
Rasululloh s.a.w. bersabda :

ﺩَﺏﱠﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْﺩَﺍۤﺀُﭐْﻷُﻣَﻢِﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْﺑَﻐْﻀَﺎﺀُﻭَﺣَﺴَﺪٌﻫِﻲَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺪﱢﻳْﻦِﻻَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺸﱠﻌْﺮِ

( ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺣْﻤَﺪُﻭَﭐﻟﺘﱢﺮْﻣِﺬِﻱﱡ )

Artinya : “Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat terdahulu (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut”. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

11. Tidak pernah bersyukur kepada Allah

Ketika sebuah hati telah mati, jelas sulit untuk bersyukur pada Allah barang sedetikpun. Sebuah hati yang telah mati akan senantiasa mengeluh dan mengeluh. Ia tidak akan pernah merasa cukup karena tidak pernah ia bersyukur. Kufur lah nikmatnya dan tidak tenanglah sebuah hatinya. Melimpahnya harta dan tingginya jabatan tidak pula membuatnya cukup. Maka Allah telah mencabut kenikmatan yang seharusnya ia dapatkan.
Bersyukur merupakan perintah Allah Ta’ala.Dalam QS. Al-Baqarah: 152 Allah berfirman bahwa:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al Baqarah: 152)

Pada ayat tersebut Allah memerintahkan khusus untuk bersyukur atas nikmat-Nya. Sedangkan dalam QS. Adh Dhuha: 11 Allah cinta kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa memuji Allah Ta’ala: 

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Artinya: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (QS. Adh Dhuha: 11)
Lain dalam QS. Ali Imran bahwa Allah akan memberikan balasan kepada individu yang bersyukur sebagaimana firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Artinya: “Dan kami akan memberi balasan kepada individu-individu yang bersyukur” (QS. Ali Imran: 145)



Begitu pula Allah berfirman dalam QS. Ibrahim: 7 sebagai berikut:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

12. Tidak berbakti pada orang tua atau suami bagi yang telah berkeluarga

13. Selalu memiliki rencana untuk berbuat keburukan

Sebuah hati merupakan bagian organ tubuh yang sering berbolak-balik, bisa jadi pagi hari mengatakan iya sorenya mengatakan tidak. Hal tersebut sesuai dengan namanya dalam bahasa Arab yaitu al-qalb yang artinya ‘sesuatu berbolak-balik’. Oleh karena itu, selain kita perlu menjaga sebuah hati dengan tidak mengkonsumsi makanan haram, kita juga dianjurkan untuk berdoa agar senantiasa memiliki hati yang bersih dan mementingkan akherat.

Sampai jumpa di artikel berikutnya, terima kasih.

, , , , ,




Post Date: Thursday 30th, May 2019 / 07:38 Oleh :
Kategori : Info Islami