Konsep Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Islam

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Sebelum kita membahas tentang kesetaraan gender, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu perbedaan antara jenis kelamin dan gender. Jenis kelamin adalah pembagian dua jenis kelamin secara biologis sejak lahir, yakni pria dan wanita. Sedangkan gender adalah sifat yang melekat pada pria dan wanita yang memberikan perbedaan sifat pada jenis kelamin.

Saat ini sedang gencar diteriakkannya masalah kesetaraan gender antara pria dan wanita di setiap negara.  Berbagai tuntutan seperti persamaan kedudukan pria dan wanita di lembaga pemerintahan hingga kesetaraan kewajiban dalam berkarir.  Seluruh tuntutan tersebut dilantangkan dengan membawa nama hak asasi manusia.

Baca juga:

Pemikiran tentang emansipasi wanita pun digaungkan ke seluruh penjuru. Meneriakkan batas-batas hak dan kewajiban wanita yang menurut mereka tidak seharusnya ada. Mulai dari kebebasan berpakaian yang tidak seharusnya diatur menggunakan pakaian tertutup hingga sahnya sholat yang dipimpin oleh seorang wanita, walaupun makmumnya pria

Jauh sebelum dunia modern menuntut tentang kesetaraan gender, Islam telah mengatur berbagai hal yang berhubungan dengan kedudukan antara ptia dan wanita.

Dalam sejarah agama Islam, dahulu sebelum Islam tiba, wanita adalah mahluk yang dianggap lemah dan tidak pantas melakukan apa pun layaknya wanita jaman sekarang. Bahkan jika ada bayi yang lahir dengan jenis kelamin wanita, bayi itu langsung dibunuh atau dikubur hidup-hidup.

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

Artinya:  “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (QS. An-Nahl : 58)

يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلْقَوْمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓ ۚ أَيُمْسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُۥ فِى ٱلتُّرَابِ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ

Artinya: Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl : 59)

Namun setelah kedatangan Islam, hak-hak dan kewajiban wanita dalam kehidupan bermasyarakat diatur dengan baik. Bahkan Islam memuliakan wanita dengan berbagai keistimewaanya. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا۟ ٱلنِّسَآءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا۟ بِبَعْضِ مَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّآ أَن يَأْتِينَ بِفَٰحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Artinya :  “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S. An Nisa : 19)

Begitu pula dengan Rasulullah SAW yag bersabda : Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

Dari ayat dan hadist di atas, dapat kita ketahui bahwa Islam sangat memuliakan wanita. Namun konsep kesetaraan gender yang dilantangkan para feminis berbeda dengan konsep kesetaraan gender dalam perspektif Islam. Kesetaraan gender yang digubah dalam kalangan feminis melewati batas-batas kodrat wanita yang sesungguhnya. Mereka menyamaratakan seluruh aspek dalam kehidupan pria dan wanita sehingga mendobrak dan menghancurkan keteraturan hidup.

Baca juga:

Sedangkan dalam Islam, wanita dan pria adalah dua jenis mahluk yang berbeda. Pria memiliki fisik yang jauh lebih kuat daripada wanita. Dan wanita memiliki perasaan dan sensitivitas yang lebih daripada pria. Keduanya berbeda namun saling melengkapi. Inilah salah satu fungsi agama dalam keteraturan hidup yang memang dirancang Allah SWT. Tidak ada akhlak dalam Islam yang mengajarkan tentang menyamakan pria dan wanita, keduanya punya porsi tersendiri sesuai kemampuan masing-masing.

Konsep kesetaraan gender dalam Islam adalah kesetaraan dalam keimanan dan ketakwaan. Islam memandang sama pria dan wanita dalam tingkat keimanan masing-masing. Sebagaimana firman Alah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwadi antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. al-Hujurât:13)

Jumlah amal seseorang baik itu pria maupun wanita diukur dengan kadar yang sama tanpa melihat jenis kelaminnya. Inilah konsep kesetaraan gender dalam Islam yang sesungguhnya tanpa melewati batas kodrat manusia itu sendiri.

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Maka Wanita yang saleh adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (memberi taufik kepadanya)” (Q.S. an-Nisâ :34)

Baca juga:

Bukti lain bahwa Islam sangat menghargai wanita adalah :

  1. Wanita wajib menutup aurat ketika keluar rumah

Islam sangat menghargai wanita. Wanita ibarat perhiasan berjalan yang akan menarik perhatian siapa pun. Untuk itulah Islam mewajibkan wanita untuk memakai jilbab demi menjaga harga dirinya agar tidak diganggu dan mudah dikenali sebagai Muslim. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu/disakiti. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. al Ahzab:59)

  1. Wanita wajib berada di rumah dan hanya boleh keluar jika ada izin suami

Dengan beradanya wanita di dalam rumah, maka ia akan terjauh dari perbuatan dosa dan fitnah.

وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Artinya: Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (istri-istri Nabi) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.S. al Ahzâb : 33)

Baca juga:

Kesetaraan gender dalam Islam bukanlah menyamakan atau membuat wanita menjadi pria atau sebaliknya. Justru hal itu akan membuat Allah SWT menjadi marah karena telah menyalahi kodrat yang telah ditentukan.

Umar bin Khattab berkata: “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Azza wa Jalla memuliakan kita dengan agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam ini, pasti Allah Azza wa Jalla akan menjadikan kita hina dan rendah”.

Demikianlah pembahasan tentang kesetaraan gender dalam perspektif Islam. Islam merupakan agama yang sangat adil dan mulia terhadap umatNya. Semoga kita semua selalu berpedoman pada Al-Quran dan hadist yang menjadi sumber syariat Islam agar terhindar dari berbagai ancaman yang mampu merusak aqidah kita. Aamiin.

fbWhatsappTwitterLinkedIn