Tasawuf Dalam Islam

Ilmu tasawuf merupakan salah satu daripada cabang ilmu agama Islam yang utama yakni ilmu Tauhid (Ushuluddin) dan ilmu Fiqih. Jika dalam ilmu Tauhid mempelajari mengenail I’tiqad (kepercayaan) seperti I’tiqad (kepercayaan) mengenai hal Ketuhanan, kerasulan, hari akhir, ketentuan qadla’ dan qadar Allah  dan sebagainya, dan ilmu Fiqih tentang hal-hal yang berkaitan dengan ibadah yang bersifat lahir, maka ilmu Tasawuf  ini membahas mengenai hal yang berkaitan dengan akhlak, amalan ibadah, budi pekerti, taubat, sabar, dan lain-lainnya.

ads

Ilmu tasawuf dikenal juga dengan sebutan ilmu sufisme. Singkatnya, ilmu tasawuf atau sufisme ini ialah ilmu yang mempelajari atau mengetahu bagaimana cara untuk mensucikan jiwa, membangun akhlaq yang baik dan benar secara lahir dan bathin, serta demi memperoleh kebahagian yang kekal.

Dasar – Dasar Tasawwuf

Sesuai kesepakatan para alim ulama dan para pengkaji ilmu tasawuf,  menyatakan bahwa dasar daripada ilmu tasawuf ialah zuhud; yakni merupakan implimentasi atau penerapan daripada nash-nash Al-Qur’an dan hadist, yang berlandaskan kepada akhirat dan usaha untuk menjauhkan diripada kesenangan dunia yang berlebihan agar terbentuk diri yang suci dan bertawakkal kepada Allah SWT, mengharap ridha serta takut kepada ancaman dan larangan Allah.

  1. Firman Allah SWT yang dijadikan sebagai landasan kezuhudan dalam kehidupan dunia, yakni (yang artinya): “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Q. S. Asy-Syuura : 20).
  2. Firman Allah yang memerintahkan kepada orang-orang beriman agar selalu menyiapkan bekal amal ibadah untuk akhirat, yang artinya: yang Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q. S. Al-Hadid: 20).
  3. Firman Allah SWT berkaitan dengan kewajiban seorang mukmin untuk selalu bertawakkal kepada Allah, yang artinya: “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q. S. Ath-Thalaq: 3).
  4. Firman Allah yang berkaitan dengan rasa takut dan hanya berharap kepada-Nya; yang artinya; “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap. Maksud dari perkataan Allah Swt : “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya” adalah bahwa mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.” (Q. S. As-Sajadah : 16). Adapun yang dimaksud dengan “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya” ialah mereka yang tidak tidur pada waktu dimana biasanya orang lain telah terlelap, yakni untuk melaksanakan ibadah atau shalat malam.

Sejarah

Ada perbedaan pendapat mengenai sejarah daripada ilmu tasawuf; ada yang menganggap tasawuf telah berkembang di zaman sebelum Nabi Muhammad SAW belum menjadi Rasul, ada pula yang berpendapat bahwa ilmu ini ada setelah beliau menjadi Rasulullah.

Jika dilihat dari zaman sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasulullah, dikatakan bahwa tasawuf awalnya berkembang ketika orang-orang dari daerah Irak dan Iran yang baru masuk Islam (sekitar abad ke-8 M). Setelah masuk Islam, hidup mereka tetap seperti dulu yakni sederhana dan bersahaja serta mereka juga menjauhkan diri daripada kemewahan dan kesenangan dunia.

Mereka senantiasa memakai pakaian yang terbuat dari kulit domba yang masih berbulu yang mana pada masa itu merupakan pakaian yang sangat sederhana, yang kemudian dikenal sebagai tanda mereka; yang dianggap sebagai penganut paham bahwa dalam hidup mereka harus berenda-rendah di hadapan Tuhan. Paham itu kemudian dikenal dengan sebutan sufi, sufisme, atau tasawuf, sedangkan orang sufi adalah sebutan untuk penganut paham itu.

Sponsors Link

Sementara pendapat lain yang menyatakan bahwa ilmu tasawuf bermula sejak zaman Kerasulan Nabi Muhammad SAW yang berbekal dari pada pengetahuan beliau. Dikatakan bahwa tasawuf itu berasal dari kata suffa yang artinya beranda; sedang Al-Suffa adalah sebutan untuk penganutnya.

Tasawuf pada masa setelah kerasulan Nabi Muhammad dilihat dari perilaku dan  kehidupan beliau. Dimana ketika terjadi peristiwa turunnya wahyu dan Rasulullah pun berkhalwat di gua Hira. Juga dilihat dari kehidupan sehar-hari beliau yang sangat sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpengaruh apalagi tergoda oleh kehidupan dan kemewahan dunia. Hal itu sendiri juga dibuktikan dengan salah satu doa Nabi Muhammad kepada Allah SWT yang artinya;

“Wahai Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin.” (H. R. Al-Tirmizi, Ibn Majah, dan Al-Hakim).

Pokok – pokok Ajaran Tasawuf

  1. Tasawuf Aqidah

Bagian dari ilmu tasawuf yang menekankan pada masalah metafisi (gaib; tidak nampak wujud atau bentuknya) seperti keimanan terhadap Tuhan, malaikat, surga dan nerak, qada dan qadar, dan lain-lain. Para sufi menekankan pada pencapaian kehidupan akhirat yang bahagia sehingga untuk mencapai hal tersebut diperlukan bekal berupa perbanyak amal ibadah.

Dalam tasawuf aqidah menggambarkan bagaimana Ke-Esa-an atau Ketunggalan Hakikat Allah SWT sebagai sesuatu yang mutlak. Demi untuk menunjukkan hal tersebut kemudian dilukiskan kembali melalui sifat-sifat ketuhanan-Nya; salah satunya ia dengan Asmaul Husna yang oleh tarekat tertentu dijadikan sebagai dzikir. (baca juga: sifat-sifat Allah dan asmaul husna)

  1. Tasawuf Ibadah

Bagian dari ilmu tasawuf yang menekankan pada masalah rahasia ibadah  Asraru al-‘Ibadah (rahasia ibadah), terdiri dari;

  • Asraru Taharah (rahasia taharah)
  • Asraru al-Salah (rahasia shalat)
  • Asraru al-Zakah (rahasia zakat)
  • Asrarus al-Shaum (rahasia puasa)
  • Asraru al-Hajj (rahasia haji)

Kemudian, orang-orang yang melakukan perbuatan ibadah dibedakan ke dalam 3 (tiga) tingkatan, yakni:

  • Al-‘Awam; tingkat pertama, yaitu tingkatan orang-orang yang biasa.
  • Al-Khawas; tingkat kedua, yaitu tingkatan orang-orang yang istimewa (Para wali/al-auliya’).
  • Khawas al-Khawas; tingkat ketiga, yaitu tingkatan orang-orang yang istimewa atau luar biasa (Nabi/al-anbiya’).
  1. Tasawuf Akhlaqi

Bagian dari ilmu tasawuf yang menekankan pada masalah budi pekerti atau akhlak yang di dalamnya dibahas tentang:

  • At-Taubah (tobat) ; kesadaran akan perbuatan salah kemudian insaf (bertaubat) dan menyesali serta tidak akan melakukan perbuatan buruk itu lagi.
  • Asy-Shukru (bersyukur) ; bersyukur atau berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya. Tidak hanya nikmat saja, melainkan bersyukur atas segala hal yang telah diberikan-Nya kepada kita.
  • Ash-Sabru (bersabar) ; tahan atau kuat dan lapang dada menjalani kehidupan terutama saat masalah datang mendera.
  • At-Tawakkul (bertawakkal) ; memasrahkan segala sesuatu kepada Allah SWT, bukan berarti menyerah tetapi tetap berjuang untuk menggapai tujuan.
  • Al-Ikhlas (ikhlas, tulus) ; mendasari segala perbuatan hanya untuk Allah SWT dan menjauhkan diri dari sifat suka dipuji (riya’) serta melakukan perbuatan atau memberi pertolongan kepada orang lain dengan tulus.
    Sponsors Link

Tujuan Tasawwuf

Seyogyanya, ilmu tasawuf memiliki tujuan agar manusia mengenal Allah SWT serta dapat berjalan di atas jalan kebenaran, memperkuat aqidah, untuk menuju kemenangan abadi di akhirat kelak. Ilmu tasawuf mengenalkan bahwa tujuan hidup ialah untuk beribadah kepada Allah SWT; dengan semangat, dan tujuan yang jelas yakni akhirat.

Tasawuf juga mengajarkan manusia untuk melihat Tuhan dengan ma’rifatullah; yakni melihat Allah SWT dengan hati yang jelas dan nyata serta sadar atas segala kenikmatan dan kebesaran-Nya, tetapi tidak kaifiyat (tidak menggambarkan Allah sebagai sesuatu apapun). Dengan ilmu tasawuf, diharapkan orang-orang yang beriman dapat mencapai kesempurnaan hidup; yakni derajat dan martabatnya yang baik (insal kamil).

 

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

,




Post Date: Monday 28th, December 2015 / 15:14 Oleh :
Kategori : Tauhid