4 Tujuan Mempelajari Ilmu Tauhid dan Dalilnya

Islam mewajibkan setiap muslim untuk mempelajari ilmu agama hingga akhir hayat, terutama ilmu tauhid. Ilmu tauhid merupakan ilmu yang sangat penting untuk dipelajari dan ditanamkan sejak kecil. Namun masih banyak orang yang belum mengetahui tujuan dari mempelajari tauhid yang sebenarnya. Berikut ini adalah beberapa tujuan mempelajari ilmu tauhid yang perlu diketahui:

ads

1. Mengikuti perintah Allah

Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Dalam Syarh Tsalatsatil Ushul libni AL ‘Utsaimin halaman 39, tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya. Maka dari itu, mempelajari ilmu tauhid sangat diutamakan karena manusia dan jin memang diwajibkan untuk mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta.

Baca juga:

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, tatkala mereka mengatakannya maka mereka telah menjaga darah mereka dan harta mereka dariku, dan hisab mereka tanggung jawab Allah” (HR. Bukhori –muslim).

2. Terhindari dari syirik

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An Nisa’: 48).

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Muslim, no. 93)

Baca juga:

Inilah salah satu tujuan utama dalam mempelajari tauhid yakni agar terhindar dari dosa syirik yang mana merupakan salah satu dosa besar dalam Islam.

Imam Ath Thabari rahimahullah menafsirkan: “maksudnya, jika engkau berbuat syirik terhadap Allah wahai Muhammad, maka akan terhapus amalanmu. Dan engkau tidak akan mendapatkan pahala, juga tidak mendapatkan balasan, kecuali balasan yang pantas bagi orang yang berbuat syirik kepada Allah” (Tafsir Ath Thabari, 21/322).

Seseorang yang jatuh ke dalam kesyirikan tidak akan pernah diterima amal ibadahnya oleh Allah SWT meskipun ia melakukan banyak kebaikan. Seseorang yang jatuh ke dalam dosa syirik adalah orang yang tidak mempelajari ilmu tauhid dengan baik sehingga ia gampang menerima berbagai hal yang berbau syirik, apalagi yang dihubungkan dengan ajaran nenek moyang atau leluhur.

Baca juga:

3. Jalan menuju surga

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya dalam surga apa pun amalnya.” (HR. Bukhari, no. 3435 dan Muslim, no. 28)

Allah berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al Maidah: 27).

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabb-Nya maka amalkanlah amalan kebaikan dan jangan mempersekutukan Rabb-nya dengan sesuatu apapun” (QS. Al Kahfi: 110)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah keada Allah semata dan mengikhlaskan amalan hanya kepada-Nya” (QS. Al Bayyinah: 5).

Baca juga:

Tujuan yang satu ini berhubungan dengan tujuan pada poin kedua dimana setiap amalan orang yang terjerat dalam dosa syirik tidak akan diterima oleh Allah SWT. Maka dari itu, mempelajari tauhid merupakan salah satu cara atau jalan menuju surga. Tidak akan bisa seseorang masuk ke dalam surga-Nya tanpa memiliki aqidah dan tauhid yang kuat dalam hatinya.

4. Warisan Rasulullah

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ إِنِّي عِنْدَ النَّبِيِّ إِذْ جَاءَهُ قَوْمٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا فَدَخَلَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَبِلْنَا جِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ وَلِنَسْأَلَكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَا اْلأَمْرِ مَا كَانَ قَالَ كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ

Dari Imran bin Hushain, berkata: “Aku bersama Nabi, tiba-tiba datanglah kaum dari golongan Bani Tamim (penduduk Najd). Nabi berkata kepada mereka: “Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim!” Mereka menjawab: “Engkau telah memberi kami kabar gembira kepada kami, oleh karena itu berilah kami [harta benda]!” Lalu datanglah orang-orang dari penduduk Yaman. Nabi berkata kepada mereka: “Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena Bani Tamim tidak mau menerimanya!” Penduduk Yaman menjawab: “Kami menerima kabar gembira itu wahai Rasulullah dengan senang hati. Kami datang kemari untuk mempelajari ilmu agama dan untuk menanyakan perihal permulaan apa yang ada di dunia ini!” Nabi menjawab: “Allah itu ada, pada saat sesuatu apa pun belum ada. Arasynya Allah itu ada di atas air. Kemudian Allah menciptakan langit dan bumi dan mencatat segala sesuatu dalam lauh mahfuzh.” (HR. al-Bukhari [6868]).

Itulah beberapa tujuan mempelajari ilmu tauhid dalam Islam. Mempelajari ilmu tauhid memang sangat penting dan seharusnya sudah ditanamkan sejak usia dini. Semoga artikel ini mampu menambah kesadaran akan tauhid dan keimanan kita pada Allah SWT. Aamiin.

, , ,




Post Date: Monday 08th, July 2019 / 09:28 Oleh :
Kategori : Tauhid