Cara Putra Dan Putri Rasulullah dalam menjalani Hari Raya Idul Fitri

Bagaimana carapPutra dan putri Rasulullah dalam menjalani Hari Raya Idul Fitri? Hari kemenangan umat muslim adalah hari raya Idul Fitri. Setelah satu bulan lamanya umat muslim berpuasa, akan datang hari dimana kita akan bermaaf-maafan dan merayakan kegembiraan dengan suka cita. Pasalnya pada hari tersebut, seluruh dosa dilebur dan seluruh kesalahan antar sesama akan dinetralkan.

ads

Tentu saja tujuannya adalah agar setelah hari tersebut, maka tidak akan ada dendam dan kesalahan masa lalu yang akan dingkit ungkit lagi. Banyak kegiatan yang menyertai perayaan hari raya tersebut. Dan yang paling mulia adalah menyambung tali silaturahim antar sesama umat muslim. Perayaan Hari raya dengan suka cita tersebut, juga diriwayatkan dalam sebuah Hadist.

Anas radiyalllahu ‘anhu berkata bahwasanya :

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْر

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)

Di Zaman Rasulullah, Hari Raya juga dirayakan para sahabat dan keluarga Rasulullah. Mereka semua merayakan hari kemenangan tersebut dengan cara mereka masing-masing. Tentu saja diawali dengan salat Idul Fitri dipagi hari.

Baca juga :

Membahas keluarga Rasulullah. Ada kisah tentang cara putra dan putri Rasulullah dalam menjalani Hari Raya Idul Fitri. Kisah ini merupakan kisah dari Fatimah. Fatimah Az-Zahra yang merupakan anak kesayangan Rasulullah, menikah dengan seorang pemuda yang sangat miskin. Pemuda tersebut.

Bernama Ali Bin Abi Thalib. Saking miskinnya, diriwayatkan bahwa Ali bahkan tidak sanggup membayar mahar untuk menghalalkan Fatimah. Hingga pada akhirnya, pernikahan mereka disahkan dengan mahar baju Zirah kepunyaan Ali.

Keutaman Sedekah yang Diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib

Alkisah disuatu sore, Ali pulang dari Masjid dengan wajah bersedih. Dia memasuki rrumah kecilnya dengan raut yang murung. Hal tersebut pun disadari oleh Fatimah. Istri yang berbakti itu pun bertanya kepada suaminya.

“Sebentar lagi kita akan menyambut Hari Raya. Kenapa kau berwajah murung, wahai suamiku.” Ujar Fatimah.

Sedangkan Ali menatap istrinya dengan tatapan sendu.

“Hampir sebulan kita berpuasa menahan lapar dan haus. Segala puji sykur selalu kita haturkan karena Allah masih memberi kita kenikmatan rezeki.” Jawab Ali.

Fatimah mendengarkan dengan seksama. Lalu curhatan Ali tersebut berbuntut dengan sebuah gagasan dimana seluruh simpanan pangannya harus disedekahkan untuk fakir miskin. Fatimah yang mendengarkan ide dari suaminya pun terdiam. Tidak bisa berkata-kata karena kebesaran hati sang suami.

“Wahai suamiku, jika itu yang kau inginkan maka tidak apa apa.” Jawab Fatimah memutuskan.



Sore hari menjelang malam takbir. Ali, Fatimah beserta kedua anaknya Hasan dan Husein sibuk mendorong-dorong gerobak berisi beberapa karung gandunm dan kurma hasil kebunnya. Berkeliling perkampungan untuk membagikan makanan tersebut kepada fakir dan Yatim Piatu. Mereka berkeliling hingga larut malam, sembari melantunkan takbir untuk menyambut idul fitri esok harinya.

Baca juga :

Cerita Ali dan Fatimah Dalam Merayakan Idul Fitri

Esok harinya dikala hari raya Idul fitri. Kediaman mereka disambangi oleh dua karib Ali bi Abi Thalib. Mereka adalah sahabat yang sering berjuang bersama bahkan dalam peperangan. Kedua sahabat itu adalah Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali

Betapa terkejutnya mereka berdua saat mendatangi kediaman Ali. Pasalnya mereka mengetahui Ali dan sekeluarga tengah mengkonsumsi gandum dan roti kering yang sudah basi. Mereka mengetahuinya dari bau menyengat yang mereka cium. Kedua sahabat itu pun terdiam.

Namun meskipun begitu, mereka tetap disambut hangat oleh keluarga Ali. Mereka berdua singgah hanya sebentar karena mereka merasa tak kuat melihat pemandangan itu. Mereka kemudian berpamitan.

Disepanjang jalan, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali merasa sedih karena melihat keadaan keluarga Ali yang merayakan hari raya dengan kondisi seperti itu. Hari raya harusnya diisi dengan suka cita. Namun melihat pemandangan yang menyedihkan, entah kenapa membuat dada mereka sakit.

Namun Abu Al Aswad Ad Du’ali nampaknya memilik pemikiran yang lebih jauh. Pasalnya dia juga menyadari bahwa Hasan dan Husein juga ikut mengkonsumsi makanan basi bersama orang tuanya. Itulah kenapa Abu Al Aswad Ad Du’ali mengadu kepada Rasulullah.

“Ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ad Du’ali terbata-bata.

Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah menenangkan.

“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, Ya Rasulullah. Saya khawatir cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.” Lapor Ad Du’ali kepada Rasulullah

“Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?” Rasulullah kembali bertanya.


Baca juga :

Namun Ad Du’ali tak kuasa menceritakannya.

“Saya tak kuat menceritakan itu sekarang, lebih baik baginda menengoknya sendiri.”

Rasulullah pun bersegera untuk melihat kediaman Ali. Mencoba memastikan keadaan Fatimah dan Hasan juga Husein. Namun berbeda dari yang dikatakan oleh Ad Du’ali. Yang dilihat Rasulullah adalah riuh kebahagiaan yang terpancar dari keluarga tersebut. Ali dan Fatimah tengah berbincang bahagia sembari menyiapkan kurma yang segar dan layak dikonsumsi untuk tamu.

Rasulullah nampaknya menyadari bau menyengat dari sisa-sisa gandum dan roti kering basi. Rasulullah yang menyadari apa yang terjadi pun menangis haru.

Makna Idul Ftri yang Diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib dan Keluarganya

Idul Fitri seharusnya menjadi hari yang penuh suka cita. Dimana normalnya kita akan berbangga dengan baju baru, makanan lezat dan hadiah-hadiah lain saat merayakan. Namun Sayyidina Ali dan Fatimah memilih makan makanan yang sudah basi dikarenakan hendak menyedekahkan persediaan mereka untuk fakir dan Yatim Piatu.

Bahkan setelahnya, mereka masih mampu memuliakan tamu yang datang kepada mereka dengan kurma yang layak dimakan.Sayyidina Ali dan keluarganya tentu saja mengajarkan kepada kita betapa mudahnya sebenarnya memaknai Idul Fitri. Bersyukur.

Setiap kesombongan dan gengsi tidak termasuk dalam Ibadah. Dan Segala macam sandang merk terbaru tidak akan bisa mengalahkan hati yang bersih. Adapun makanan yang lezat bermacam-macam juga tidak mampu mengalahkan niat Ikhlas lillahi ta’ala.

Demikianlah cara putra dan putri Rasulullah dalam menjalani Hari Raya Idul Fitri. Semoga dapat menjadi pengingat kita dan menjadikan kita sebagai orang yang lebih baik dari hari kemarin. Demikian kajian tentang cara putra dan putri Rasulullah dalam menjalani Hari Raya. Semoga menjadi Manfaat. Insya Allah.

Hamsa,

, ,




Post Date: Friday 03rd, May 2019 / 02:53 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah