Kisah Asiyah, Istri Fir’aun yang Dijamin Masuk Surga

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Dari Aisyah Rasullullah SAW bersabda, “Ada 4 wanita ahli surga. Mereka adalah Maryam Binti Imran, Fatimah binti Rasulullah,  Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.”

Nama Maryam Binti Imran sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ia adalah ibunda Nabi Isa AS yang selalu menjaga kesucian dirinya dan bertaqwa kepada Allah SWT. Fatimah adalah putri Rasullullah tercinta, ketaatannya pada suami tercinta menjadikannya salah satu perempuan yang dirindukan surga.

Begitupun dengan Khadijah binti Khuwailid, wanita pertama yang masuk Islam serta istri pertama Rasullullah SAW. Istri yang selalu mendukung perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam. Khadijah rela mengorbankan tenaga, fisik, pikiran, hingga seluruh harta bendanya demi jalan Islam yang mulia, demi tegaknya ajaran Islam yang dibawa Rasulullah.

Dan wanita yang terakhir adalah Asiyah? Siapa itu Asiyah? Mengapa perempuan mulia ini dirindukan oleh surga? Berikut kisahnya.

Asiyah Tidak Mengakui Fir’aun Suaminya adalah Tuhan

Kita semua tahu siapa Fir’aun. Karena kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki, ia mencap dirinya sebagai Tuhan. Dan masyarakat kaumnya waktu itu harus mengakui hal itu. Siapa yang tidak patuh terhadap perintah Fir’aun dan tidak mengakuinya sebagai Tuhan, Fir’aun tidak segan-segan untuk membunuhnya dengan cara yang keji dan kejam.

Namun, Fir’aun tidak tahu Asiyah diam-diam tidak percaya hal itu. Dia begitu mengingkari dan tidak menyukai perbuatan Fir’aun yang mencap dirinya sebagai Tuhan. Asiyah diam-diam beriman kepada Allah SWT, zat yang menciptakan dan membangkitkan di akhirat kelak.

Asiyah Menyelamatkan Nabi Musa AS Semasa Bayi

Kala itu, Fir’aun bermimpi akan lahir bayi laki-laki yang kelak akan menghancurkan segala kekuasannya. Setelah bermimpi hal seperti itu, dengan cepat Fir’aun memerintahkan kepada seluruh prajurit dan rakyatnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir atau menguburnya hidup-hidup.

Gamanglah perasaan ibunda nabi Musa AS Bagaimanapun, dia tidak ingin anak laki-lakinya dibunuh dengan keji. Diam-diam, ia meletakkan nabi Musa AS yang masih merah ke dalam keranjang, dan menghanyutkannya ke sungai. Aliran sungai kemudian, membawa keranjang yang berisi nabi Musa kecil di dalamnya.

Saat itu Asiyah beserta dayang-dayangnya baru selesai mandi di sungai, dan mendapati keranjang nabi Musa. Saat melihat ada bayi yang masih merah di dalamnya, Asiyah sudah jatuh cinta pada bayi tersebut. Sudah lama, dia dan Fir’aun belum dianugerahi keturunan. Sehingga saat melihat bayi dalam keranjang yang tidak lain adalah Nabi Musa AS, membuat Asiyah memutuskan untuk merawatnya.

Apa yang tidak pada Asiyah? Fir’aun begitu mencintai istrinya itu. Dia tidak sanggup menolak permintaan istrinya yang ingin memelihara Musa. Fir’aun goyah pada keputusannya kalau setiap bayi laki-laki yang baru lahir wajib dibunuh. Namun, permintaan istrinya tidak kuasa dia tolak. Fir’aun luluh dan membolehkan Musa untuk dirawat oleh Asiyah, istrinya hingga dewasa kelak.

Asiyah Meyakini Ajaran yang Dibawa oleh Nabi Musa AS

Saat nabi Musa dewasa dan menyampaikan perintah Allah kepada rakyat Fir’aun untuk menyembah Allah, Asiyah meyakini ajaran yang dibawa nabi Musa As. Awalnya, Fir’aun tidak tahu hal ini. Diam-diam Asiyah mengaku beriman kepada Allah SWT. Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Fir’aun bukan Tuhan.

Pada akhirnya, Fir’aun mengetahui hal ini. Fir’aun murka pada Asiyah. Dia menyiksa Asiyah dengan dijemur di padang pasir, tidak diberi makan, dan mengalami penyiksaan fisik. Segala bentuk penyiksaan itu akan dilepas jika Asiyah mengaku Fir’aun adalah Tuhan.

Namun ternyata, keimanan di dada Asiyah lebih besar dibandingkan rasa sakit atas segala penyiksaan yang dilakukan Fir’aun. Kerinduan akan surga dan bertemu dengan Allah lebih dirindukan daripada keindahan dunia yang semu beserta segala isinya.

Terakhir, saat sebuah batu besar akan dihantamkan ke dadanya agar mengaku Fir’aun adalah Tuhan. Asiyah, tetap menolak. Asiyah tetap mengatakan bahwa Tiada Tuhan Selain Allah. Dia kemudian menutup matanya dan meminta kepada Allah

“…Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim,” (Q.S. At-Tahrim ayat 11)

Saat mengatakan hal ini, batu besar itu menghantam dada Asiyah hingga akhirnya Asiyah menutup matanya selama-lamanya, meninggalkan dunia yang fana, dan kala itu doanya langsung diijabah oleh Allah SWT.

Asiyah dibangunkan sebuah rumah di surga. Hal ini karena benar-benar Asiyah memperjuangkan keimanannya kepada Allah SWT. Tidak peduli nyawa taruhannya. Asiyah hanya berkata, Tiada Tuhan selain Allah.

fbWhatsappTwitterLinkedIn