8 Kisah Khalifah Muslim yang Membawa Perubahan Islam

8 Kisah Khalifah Muslim yang Membawa Perubahan Islam

ads

1. Khalifah Al-Mu’tadhid

Kisah ini diabadikan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidâyah wa AN-Nihâyah (11/99):

Ibnul Jauzi berkata, “Pada suatu hari, khalifah Al-Mu’tadhid keluar istana dan mendirikan sebuah perkemahan di dekat gerbang Asy-Syamasiyah dan melarang siapa pun untuk mengambil apa pun dari kebun milik orang lain. Saat berada di kemahnya, dibawalah menghadap kepadanya  seseorang berkulit hitam, karena telah mencuri satu tandan buah anggur.

Khalifah berpikir sejenak, lalu memerintahkan agar pencuri itu dijatuhi hukuman. Sang pencuri memandangi wajah para bangsawan yang menyertai khalifah. Ia berkata, “Orang-orang awam mengikuti putusan khalifah ini. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hukuman potong tangan dalam kasus pencurian buah dan mayang kurma.” (HR. At-Tirmidzi dan hadits ini shahih).

Ucapan si pencuri tersebut menyebabkan khalifah membatalkan hukuman, yaitu memotong tangan dan membunuhnya. Khalifah mengatakan, “Sesungguhnya aku membunuhnya bukan karena ia mencuri. Ketahuilah, lelaki itu sejatinya adalah orang Negro yang mendapatkan jaminan keamanan saat ayahku masih hidup. Dahulu ia bertikai dengan seorang muslim. Ia memukul muslim itu dan memotong tangannya hingga ia mati.

Ayahku membiarkan darah muslim itu tumpah secara sia-sia demi melindungi orang Negro itu. Sejak itulah aku bertekad, jika aku sanggup, maka aku akan membunuh laki-laki Negro itu. Baru sekarang aku dapat membunuh laki-laki itu sebagai balasan atas kematian laki-laki muslim yang dulu dibunuhnya.

Sumber: Buku 155 Kisah Langka Para Salaf, penerbit Pustaka Arafah

2. Al-Manshur rahimahullah

“Manusia itu ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak, orang terbaik pada masa jahiliyah akan menjadi orang terbaik juga dalam Islam, apabila mereka memahami (Islam),” sabda Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang tercantum dalam Shahih Muslim (4/2031, no. 2638)

Ahmad bin Musa berkata, Rabi’ pernah bercerita, “Aku tidak melihat seseorang yang lebih tegar dan lebih tabah dibandingkan seorang laki-laki yang diadukan kepada Amirul Mukminin Al-Manshur bahwa ia memegang titipan dan perbendaharaan harta Bani Umayyah, Al-Manshur kemudian memerintahkanku untuk mendatangkan laki-laki tersebut.

Aku pun berupaya mendatangkan laki-laki itu. Setelah berhasil mendapatkan laki-laki itu, aku menghadap kepada Amirul Mukminin bersamanya. Al-Manshur kemudian berkata kepadanya, “Kami diberi laporan bahwa seluruh harta perendaharaan Bani Umayyah ada padamu. Sekarang, keluarkanlah harta itu!”

Laki-laki itu menjawab, “Maaf wahai Amirul Mukminin, apakah Anda menjadi ahli waris dari Bani Umayyah?”

“Bukan.”

“Apakah Anda menjadi orang yang diwasiati untuk mendapatkan harta-harta dan rumah-rumah mereka?”

“Tidak.”

Laki-laki itu bertanya lagi, “Lalu, apa maksud pertanyaan Anda dengan harta yang ada di tangan saya?”

Mendengar pertanyaan itu, Khalifah Al-Manshur menundukkan kepala sejenak lalu sebentar kemudian mengangkatnya sambil berkata, “Sesungguhnya Bani Umayyah telah berbuat zhalim terhadap kaum muslimin dalam harta itu, dan aku sebagai wakil dari kaum muslimin bermaksud mengambil hak mereka, Dan, aku ingin mengambil harta yang mereka dapatkan secara zhalim untuk aku masukkan ke dalam Baitul Mal mereka.”


Mendengar alasan itu, laki-laki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Anda membutuhkan bukti yang adil bahwa harta yang ada pada saya merupakan harta kaum muslimin yang dikhianati dan dizhalimi Bani Umayyah. Padahal, Bani Umayyah memiliki harta lain yang bukan termasuk harta kaum muslimin.”

Baca juga :

Al-Manshur pun menundukkan kepada sejenak kemudian berkata lagi, “Sungguh benar apa yang dikatakannya, wahai Rabi’. Orang tua ini tidak pantas dituduh seperti itu.” Al-Manshur kemudian melanjutkan, “Apakah kamu memiliki kebutuhan?”

“Wahai Amirul Mukminin, kebutuhan saya adalah hendaknya Anda mengirimkan surat yang saya tulis kepada keluarga saya agar mereka merasa tenang dengan keselamatan saya. Karena kepergian saya yang jauh membuat mereka menjadi takut.” Jawabnya. Ia melanjutkan, “Saya juga mempunya satu kebutuhan lagi, wahai Amirul Mukminin.”

“Apa itu?”

“Hendaknya Anda mempertemukan saya dengan orang yang telah mengadukan saya kepada Anda. Demi Allah, saya tidak memegang sedikit pun dari harta Bani Umayyah. Tetapi mengingat saya berada di hadapan Anda, lalu Anda menanyakan kepada saya tentang harta itu, maka saya tahu bahwa yang dapat menyelamatkan saya dari Anda adalah jawaban yang saya berikan tadi. Karena saya tahu bahwa Anda akan bersikap adil.” Jawab lelaki itu.

Rabi’ berkata, “Ini lebih mendekatkan kepada kebebasan dan keselamatan.”

Al-Manshur kemudian berkata, “Wahai Rabi’, panggillah orang yang telah mengadukan laki-laki ini kepadaku!” Aku pun segera memanggil orang tersebut. Setelah keduanya dipertemukan ternyata mereka sudah saling kenal.

Laki-laki itu kemudian berkata, “Wahai Amirul Mukminin, orang ini adalah budak saya. Ia telah mencuri uang saya sebesar 3.000 dinar, lalu kabur. Karena takut akan dituntut, ia kemudian mengadukan saya kepada Amirul Mukminin.”

Baca juga :

Mendengar hal itu, Al-Manshur lalu membentak dan mengancam budak tersebut. Akhirnya ia mengaku bahwa dirinya adalah budak laki-laki tersebut. Ia juga mengaku telah mencuri uang darinya sebesar tiga ribu dinar, dan setelah itu kabur. Setelah itu ia mengadukan kepadanya dengan penuh kedustaan agar bisa selamat darinya.

Mendengar pengakuan jujur sang budak, Al-Manshur berkata kepada laki-laki tua itu, “Aku harap kamu bersedia memaafkannya.”

“Saya telah memaafkannya, dan juga mengampuni kesalahannya. Bahkan saya juga membebaskannya. Mengenai uang tiga ribu dinar yang telah diambilnya, sudah saya berikan kepadanya. Bahkan, saya akan memberinya lagi uang tambahan sebesar tiga ribu dinar,” jawabnya.

Al-Manshur berkata, “Kamu tidak perlu menambahinya lagi.”

Laki-laki itu menjawab, “Ini untuk menghormati kebenaran perkataan Anda, wahai Amirul Mukminin.”

Setelah itu, laki-laki itu pergi. Al-Manshur sungguh dibuat takjub oleh sikap laki-laki itu. Maka setiap kali mengingatnya, Al-Manshur berkata kepada Rabi’, “Wahai Rabi’, sungguh aku belum pernah melihat laki-laki seperti lelaki tua itu.”

3. Umar bin Abdul Aziz

Seorang Wanita datang kerumah Umar bin Abdul Aziz -Khalifah Islam-, dia datang dari Irak. Ketika dia tiba di pintu rumah Umar, dia bertanya kepada orang orang “Apakah Amirul Nukminin mempunyai Ajudan?”

Orang orang menjawab : “Tidak. Langsung masuk saja, jika ibu ingin bertemu dengan nya.”

Maka Wanita tersebut mengetuk pintu dan penghuni rumah mengizinkan nya masuk. Wanita ini masuk bertemu dengan isteri Umar yakni Fathimah yang sedang duduk di rumah nya, saat itu Fathimah sedang mengerjakan sesuatu dari kapas, wanita ini mengucapkan salam kepada Fathimah dan Fathimah pun mrnjawab salam nya. “Silahkan masuk.” kata Fathimah.

Ketika wanita itu masuk dan duduk didalam rumah, maka dia menebarkan pandangan nya ke penjuru rumah, melihat isi rumah dan keadaan rumah Amirul Mukminin. Ternyata dia tidak melihat sesuatu yang berharga, maka dia berkata : “Aku hadir ke sini untuk meramaikan rumah ku dari rumah yang rusak dan lapuk ini.”

Maka Fathimah menjawab “Rusak dan lapuknya rumah ini, hanya karena ramainya rumah rumah seperti rumah kalian.”

Tidak lama kemudian, Umar pulang sehingga dia masuk rumah. Umar melangkah ke sebuah sumur disamping rumah, dia menimba air lalu menuangkan nya ke tanah didepan rumah. Umar melakukan hal itu sambil melihat isterinya, Fathimah berkali kali.

Melihat sikap Umar itu, Wanita Irak tersebut berkata kepada Fathimah : “Berhijablah dari TUKANG BATA tersebut, aku melihatnya selalu memandang mu.”

Fathimah menjawab : “Dia bukan tukang bata, tetapi dia itu adalah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz.”

Ternyata wanita itu tidak tahu Umar bin Abdul Aziz rahimahullah.

Setelah selesai dari menimba air, Umar masuk ke dalam rumah mengucapkan salam dan shalat sunnah dirumahnya, kemudian membawa makanan untuk wanita tersebut dan memenuhi hajat wanita tersebut.

(Sirah Umarr bin Abdul Aziz hal 169, Ibnu Abdil Hakam. Umar bin Abdul Aziz : Ulama dan Pemimpin Adil hal 309 – 310)

4. Umar bin Abdul Aziz

An-Nadhr menceritakan bahwa ayahnya berkata, “Pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz sedang duduk dan ia berkata kepada budak perempuannya, “Tolong kipasi aku..”

Kemudian budak perempuan itu mengambil kipas. Ia mulai mengipasi Umar. Namun, ia tak mampu menahan kantuknya dan tertidur.

Umar terjaga dari tidurnya. Ia melihat budak perempuannya tertidur pulas. Wajahnya memerah karena kepanasan. Badannya mengeluarkan keringat yang sangat banyak.

Melihat itu, Umar lantas mengambil kipas lalu mengipasi budaknya itu.

Sang budak terjaga dari tidurnya. Ia memegang kepala dan berteriak. Tapi Umar menenangkannya dan berkata kepadanya, “Sebagaimana aku, kamu adalah manusia. Kamu kepanasan sebagaimana aku juga kepanasan. Aku ingin mengipasimu sebagaimana kamu juga telah mengipasiku.”

[Akhbar Abi Hafsh Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah wa Siratih, hal.86, Abu Bakar Muhammad bin Al Husain bin Abdullah AL Ajiri]

5. Khalifah Harun Ar Rasyid

Dikisahkan bahwa Bahlul ini adalah seorang yang gila hidup di zaman Khalifah ‘Abbâsî Harun ar-Rasyid…

Pada suatu hari, Harun ar-Rasyid melewati si Bahlul yang sedang duduk² di atas salah satu kuburan.

Lalu Harun berkata kepada si Bahlul dg berteriak , “Wahai Bahlul, wong edan… Apa kamu sudah waras?”

Si Bahlul pun segera berlari dan memanjat satu pohon paling tinggi, lalu dia menyeru Harun dengan suara yang keras : “Ya Harun, ya orang gila… Kapan kamu waras?”

Harun pun datang mendekat di bawah pohon, sedangkan beliau berada di atas punggung kudanya.
Lalu dia berkata : “Yang edan ini sebenarnya saya atau kamu yang duduk² di atas kuburan?

Bahlul pun menjawab, “Bahkan, saya ini orang yang waras.”

Harun : “Koq bisa begitu?”

Bahlul : “Karena aku tahu bahwa itu (sembari menunjuk istana Harun) adalah fana (hanya sementara) sedangkan ini (sembari menunjuk kuburan) adalah kekal… Karena itu aku mendiami yg di sini (maksudnya kuburan) sebelum yg di sana (maksudnya istana di surga). Sedangkan Anda, sudah mendiami duluan di sana (maksudnya istananya) dan Anda hancurkan yang di sini (yaitu kuburan)… Sedangkan Anda tidak suka jika dipindahkan dari bangunan mewah itu ke puing² ini padahal anda tahu bahwa ini adalah tempat kembali Anda yang tak terelakkan… Saya katakan sekali lagi, katakan kepadaku siapa dari kita yang sebenarnya gila?? “

Hati Harun ar-Rasyid pun bergetar, lalu dia menangis sampai membasahi jenggot nya, lalu dia berkata :” Demi Allah, sungguh kamu benar… “

Kemudian Harun berkata kembali, “tambahkan lagi (nasehat) untukku wahai Bahlul…

Bahlul pun berkata : “CUKUPLAH KITÂBULLÂH BAGI ANDA DAN TEKUNI (MEMBACANYA)”

Harun : “Apakah kamu ada kebutuhan yang bisa kupenuhi?”

Bahlul : “Iya, ada 3 yang saya butuhkan. Jika dapat Anda penuhi maka saya akan sangat berterima kasih kpd anda.”

Harun : “Ajukanlah”

Bahlul : “Saya minta Anda menambah usiaku!!”

Harun : “Saya tidak mampu”

Bahlul : “Saya minta Anda melindungi diriku dari Malaikat Maut!!”

Harun : “Saya tidak mampu juga”

Bahlul : “Saya minta Anda memasukkan diriku ke surga dan menjauhkanku dari neraka!!”

Harun : “Saya juga tidak mampu…”

Bahlul : “Ketahuilah, kalo begitu Anda ini adalah “mamlûk” (budak/yang dimiliki), bukanlah “malik” (penguasa/yang memiliki).. Saya tidak butuh lagi meminta kepada Anda… “

Dia adalah Abû Wahîb Bahlûl bin ‘Amrû ash-Shirfî atau ash-Shûfî. Dia besar di Kufah dan dipanggil oleh Khalifah Harun ar-Rasyid ke Baghdad. Dia adalah seorang penyair zuhud dan tukang cerita. Dia adalah salah satu sahabat Imam Ja’far ash-Shâdiq dan salah seorang yang meriwayatkan darinya. Diantara karyanya adalah, “al-Qashîdah al-Bahlûliyah”. Dia wafat tahun 197 H, menurut pendapat sebagian ahli sejarah.

Sumber : Kitab ‘Uqolâ al-Majânîn

6. Khalifah Al Manshur

Seorang laki-laki datang kepada Khalifah Abu Ja’far Al Manshur. Ia bercerita bahwa ia pergi berdagang. Harta yang didapatnya ia serahkan kepada istrinya. Saat ia meminta kembali, istrinya mengatakan bahwa harta itu dicuri dan ia tidak tahu siapa pencurinya.

Al Manshur bertanya, “Sejak kapan engkau menikahi istrimu?”

“Sudah setahun,” jawabnya.

“Gadis atau janda?” tanya Al Manshur lagi.

Dijawab, “Janda.”

“Apa ia punya anak dari suami sebelum kamu?” Al Manshur kembali bertanya.
Setelah dijawab tidak, Al Manshur meminta sebuah botol minyak wangi yang wanginya sangat menusuk hidung dan warnanya aneh,

“Pakailah minyak wangi ini, ia akan menghilangkan pusingmu,” ujar Abu Ja’far Al Manshur.
Setelah laki-laki itu keluar, Al Manshur berpesan kepada empat orang kepercayaannya agar masing-masing menjaga diperbatasan kota. Yang mencium minyak wangi itu segera lapor kepadanya.

Setelah pulang, laki-laki itu keluar untuk suatu keperluan. Karena akan keluar, ia menitipkan minyak wangi itu kepada istrinya. Usai istrinya menerima minyak wangi itu dan menciumnya, ia menyerahkan kepada seorang laki-laki yang ia cintai. Kepada laki-laki itulah, istrinya memberikan harta yang diakuinya telah dicuri. Maka kekasih istrinya itu mengenakan minyak wangi tersebut lalu melewati salah satu perbatasan kota. Seorang penjaga perbatasan yang ditugasi Al Manshur menjadi mata-mata, membawa laki-laki itu kepada Al Manshur setelah ia mencium bau minyak wangi itu darinya.

Al Manshur berkata kepada orang itu, “Dari mana kau mendapatkan minyak wangi ini?”

Orang itu gelagapan tidak bisa menjawab. Dia pun diserahkan kepada polisi.
Al Manshur berkata lagi, “Kalau engkau memberikan harta itu engkau akan aku lepas. Jika tidak akan aku cambuk 1000 kali.”


Namun ia tetap tidak mau mengaku dan tidak mau mengembalikan harta itu sampai pakaiannya dibuka untuk dicambuk. Akhirnya, ia mengaku dan mengembalikan harta itu.

Sipemilik harta pun di panggil. Al Manshur berkata kepadanya, “Jika aku mengembalikan hartamu yang hilang itu, apakah engkau membolehkan aku memutuskan perkara istrimu?”
“Ya.” kata si laki-laki itu,.

Al Manshur pun berkata, “Ini hartamu dan ceraikan istrimu darimu.”

Sumber: Ath Thuruq Al Hikmiyah, Ibnul Qoyyim, hal.46, dikutip dari buku “Kecerdasan Fuqaha & Kercerdikan Khulafa, Syaikh Muhammad Khubairi, Pustaka Al Kautsar.

Baca juga :

7. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz

Di antara tawadhu’ ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz adalah ucapannya kepada seorang hamba sahaya pada suatu hari, “Wahai pelayan, kipasi aku.” Maka pelayan itu mengambil kipas dan mulai mengipasinya, namun pelayan ini mengantuk dan tertidur, maka ‘Umar terkejut karena kipas itu terhenti, dia menoleh dan melihat pelayannya tertidur dalam keadaan wajahnya memerah dan berkeringat deras. Lalu ‘Umar mengambil kipas dan mulai mengipasi pelayannya yang tidur. Pelayan itu bangun terkejut, dia meletakkan tangannya di atas kepalanya dan berteriak, maka ‘Umar berkata kepadanya, “Kamu juga manusia, kamu kepanasan seperti aku, aku ingin mengipasimu seperti kamu mengipasiku sebelumnya.”

Sumber: Akhbar Abu Hafsh, Al-Ajurri, hal. 86. Dicantumkan dalam “’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz”, Asy-Syaikh Dr. ‘Aliy Muhammad Ash-Shollabi. Edisi terjemah; “Perjalan Hidup Khalifah Yang Agung Umar Bin Abdul Aziz”. Penerbit Darul Haq.

8. Sulaiman bin Abdul Malik

Suatu hari Khalifah Sulaiman bin Abdilmalik pergi haji. Ketika akan shalat, ia melihat seorang arab badui di sampingnya dan Khalifah pun merasa senang. Kemudian Khalifah berkata kepada arab badui tersebut, “Apa kamu ada kebutuhan yang bisa saya bantu?”

Arab badui itu menjawab, “Saya malu kepada Allah, berada di rumah-Nya tapi meminta kepada selain Dia”

Dan ketika arab badui ini keluar dari masjid, Khalifah mengikutinya. Sesampainya di luar Khalifah berkata padanya , “Sekarang kita sudah keluar dari masjid, apa kamu ada kebutuhan yang bisa saya bantu?”

Arab badui ini berkata, “Apa dari kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?

Khalifah berkata, “Tentu dari kebutuhan dunia!

Arab badui menjawab, “Sesungguhnya aku tidak meminta dunia dari Yang Memilikinya, maka bagaimana aku memintanya dari orang yang tidak memilikinya?!

Demikian, Sampai jumpa di artikel berikutnya, terima kasih.

, , , , ,




Post Date: Saturday 09th, March 2019 / 02:27 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah