Kisah Nabi Muhammad Membelah Bulan

Rasul-rasul yang diturunkan Allah sejatinya adalah nikmat yang sangat besar diturunkan Allah pada manusia. Tanpa adanya Nabi atau Rasul manusia akan tersesat, tidak memiliki pemimpin atau figur sebagai contoh atau keteladanan dalam menjalankan misi manusia. Misi tersebut adalah sebagaimana Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam.

ads

Rasulullah SAW yaitu Nabi Muhammad adalah Rasul atau Nabi bagi umat islam hingga akhir zaman. Nabi Muhammad adalah teladan sekaligus petunjuk bagi umat islam. Untuk itu banyak Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW yang dapat kita ambil hikmah dan amalkan. Walaupun keberadaannya di dunia sudah tidak ada, namun ajaran, teladan, kisah, dan peninggalannya masih dapat kita rasakan walaupun telah belasan abad berlalu.

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (QS An Nisa : 164)

Untuk itu, kisah Rasul sebagaimana dalam Al-Quran senantiasa abadi dan dapat diambil hikmahnya walaupun sudah berlalu beberapa abad. Hal ini karena memang kisah Rasul adalah teladan bagi umat islam dan tidak ada bandingannya dengan manusia manapun karena mukjiazatnya dikenang sepanjang zaman. Termasuk permasalahan mukjizat Nabi mengenai membelah Bulan. Hal ini akan dibahas dalam artikel berikut ini mengenai Kisah Nabi Muhammad Membelah Bulan :

Penjelasan Al-Quran Mengenai Rasul

Dalam Al-Quran ada sangat banyak pembahasan dan penjelasan mengenai Rasul-Rasul Allah. Hal ini sebagai pelajaran dan hikmah dari sejarah perjalanan hidupnya untuk umat manusia. Mereka dibimbing Allah langsung dan mendapatkan mukjizat untuk dapat memberikan petunjuk dan membimbing manusia ke jalan yang baik dan benar, sesuai tuntutan agama.

  1. Rasul diutus oleh Allah Langsung

Para Rasul-Rasul Allah sejatinya diutus oleh Allah langsung. Mereka diutus Allah dan diberikan mukjizat atas kehendak Allah bukan atas kehendak dirinya sendiri. Termasuk Nabi Muhammad yang mendapatkan wahyu Al-Quran dan berbagai hal lainnya, tentu bukanlah keinginan pribadi darinya melainkan ketetapan Allah yang sudah tidak bida diganggu gugat. Tugas mereka untuk menegakkan fungsi agama, rukun iman, rukun islam, dan Fungsi Iman Kepada Allah SWT dalam kehidupan.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)” (QS Ar Rad : 38)

  1. Rasul Diutus untuk Memberikan Peringatan dan Kabar Gembira

Rasul-Rasul Allah diutus untuk memberikan kabar gembira kepada ummat. Kabar gembira yang dimaksud dalam hal ini adalah petunjuk dan jalan kebenaran sehingga mengeluarkan umat manusia dari kejahiliahan menuju umat yang thoyibah. Peringatan Rasul tentunya adalah agar manusia tidak masuk kepada jurang kesengsaraan hidup di dunia maupun di akhirat.

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS An Nisa : 165)

  1. Rasul diturunkan di Tiap Umat

Tiap umat memiliki Rasulnya tersendiri. Rasul-rasul yang diturunkan oleh Allah tentunya untuk dapat memberikan petunjuk dan sebagai pemimpin yang adil di tengah ummat. Rasul-rasul tentu tidak pernah membuat ummatnya teraniya namun justru menyelamatkan ummat dari kekacauan dan kerusakan atau kedzaliman.

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.” (QS Yunus : 47)

  1. Rasul Memiliki Teladan yang Baik

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab : 21)

Rasul dipilih Allah karena memiliki teladan dan akhlak yang mulia. Oleh sebab itu Rasul Allah senantiasa mengarah dan mengajak ummatnya untuk berbuat amaliah yang mulia dan membawakan kemaslahatan.

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Al Mumtahanah: 6)

Keberadaan Rasul di Masyrakat sejatinya adalah untuk menuntun manusia sekaligus menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di tengah-tengah ummat saat itu. Rasul yang diturunkan Allah senantiasa memiliki latar belakang misi atau masalah berat yang terdapat di ummatnya. Untuk itu, adanya Mukjizat yang ditunjukkan senantiasa berkaitan dengan masalah yang ada di ummatnya.


Dua Pendapat dalam Kisah Nabi Membelah Bulan

Kisah Nabi Muhammad dapat membelah bulan adalah salah satu kisah yang dimulai saat Nabi Muhammad diangkat Allah menjadi Nabi. Mukjizat Nabi Muhammad dapat membelah bulan ini muncul untuk meyakinkan pada para kaum Quraish yang meragukan kenabian Muhammad.

Hal ini terdapat dua pendapat yang berbeda diantara ulama. Tentunya pendapat yang diterima sesuai dengan pertanggungjawaban dan keyakinan dari masing-masing pembaca, asalkan dengan pengetahuan yang benar.

  1. Pendapat yang Membenarkan Adanya Mukjizat Membelah Bulan

Beberapa orang mendasarkan adanya kejadian ini pada QS Al Qamar (54) ayat Pertama dan Kedua. “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”.

Al Zamakhsari adalah salah satu komentator Al-Quran yang membenarkan adanya mukjizat tersebut pada Nabi Muhammad. Anas bin Malik juga menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW membelah bulan sesaat setelah kaum Paganis di Mekkah meminta Nabi Muhammad menunjukkan mukjizatnyaselain Al Quran. Tradisi dari Jubair Ibnu Mut’im umat Mekah mengatakan bahwa dua bagian dari bulan yang terbelah nampak seakan akan ada di puncak gunung.


  1. Pendapat yang Mengatakan Tidak Ada

Pendapat yang mengatakan tidak ada berasal dari para ulama yang memahami bahwa QS Al Qamar bukan mengenai bulan dibelah oleh Muhammad SAW. Menurut Abdullah Yusuf Ali seorang peneliti muslim dari India mengatakan bahwa bulan akan terbelah kembali setelah kiamat terjadi. Ia pun menyatakan bahwa ayat dari Al Qamar memiliki makna alegoris yang berarti segala sesuatu akan menjadi sejelas bulan.

Ulama dan Filsuf Muslim sebagian mengatakan bahwa benda-benda langit tidak dapat diganggu gugat yang dapat berefek kepada kehidupan di bumi tentunya. Mereka berpendapat bahwa benda langit tidak dapat ditembus oleh suatu hal. Untuk itu, beberapa muslim rasional memiliki pendapat bahwa peristiwa bulan terbelah adalah sekedar penampakan alami atau bias di dalam bumi.

Sikap Muslim Mengenai Kisah Membelah Bulan

Dalam hal ini, walaupun ada muslim yang berpendapat bahwa Muhammad tidak mendapatkan Mukjizat membelah bulan, tentu sebagai muslim tidak perlu meragukan kenabian Muhammad. Hal ini dikarenakan Muhammad memiliki mukjizat yang utama yaitu Al-Quran dan kebenarannya tidak dapat dirgaukan lagi. Bahkan Akhlak mulia nabi adalah cerminan bahwa ia memang utusan Allah yang menjadi teladan bagi ummat manusia.

Perbedaan pandangan di kalangan ulama ini tentunya terdapat pertanggungjawaban masing-masing dari data dan pengetahuan yang di dapatkan. Kesulitannya, memang di Al-Quran belum ditemukan ayat secara eksplisit mengenai kisah Nabi Muhammad membelah bulan ini. Untuk itu, selagi memiliki kepercayaan terhadap Rasul dan Wahyu yang dibawanya tentu Umat Islam masih wajib melaksanakan perintah-perintah islam dan jalan hidup Nabi Muhammad.

Berbeda dengan kaum kafirin dan munafik, ketidak percayaan mereka terhadap kisah mukjizat ini membuat mereka semakin membuat mereka benci dan tidak mau beriman terhadap islam bahkan menjadikan Nabi Muhammad sebagai lelucon mereka. Padahal, tentu walaupun kisah tersebut ada benarnya mereka tidak akan pernah mau mengikuti jalan hidup Nabi.

Untuk itu sebagai ummat Nabi Muhammad SAW alangkah baiknya jika terus meneladani Rasulullah dengan melaksanakan sunnahnya seperti: cara makan Rasulullah , cara mandi dalam Islam , macam -macam shalat sunnah , adab ziarah kubur , cara tidur Rasulullah , dsb. Hal ini sebagai pembeda antara akhlak dan keyakinan seorang muslim dengan orang-orang kafir atau munafik.

, , , , ,




Post Date: Wednesday 09th, November 2016 / 16:05 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah