Kisah Ummu Dzar, Tanda Bakti Istri kepada Suami

Perkenalkan Ummu Dzar adalah istri dari sahabat Rasulullah yang bernama Abu Dzar. Sebelum Ummu Dzar masuk islam, beliau telah mengetahui bahwa patung itu tidak mendatangkan mudarat dan tidak memberikan manfaat. Karena itu hanyalah batu yang keras, dan Ummu Dzar juga menyadari bahwa dirinya pasti memiliki Pemelihara yang Maha Agung dan Mahamulia dalam Karunia-Nya.

ads

Setelah Ummu Dzar masuk islam, mereka memutuskan untuk berusaha sampai ke Madinah. Dari Suaminya Ummu Dzar mendengarkan apa yang diajarkan Rasullullah S.A.W. Keduanya pun belajar akhlak mulia dan hikmah dari beliau. Bahkan Ummu Dzar telah berpengang teguh dengan ajaran – ajaran Nabi sesuai dengan yang telah Ummu Dzar pelajari dari suaminya. Berikut lebih lengkap lagi tentang Kisah ummu Dzar ini.

Tanda Bakti Ummu Dzar kepada Suaminya

Diriwayatkan bahwa ketika Ummu Dzar berpergian ke Damaskus, Ummu Dzar mendapati bahwa pendudukan dari negeri Damaskus lebih cenderung kepada urusan dunia dan bisa dikatakan sangat mencintainya. Oleh sebab itu, perdebatan pun terjadi antara Ummu Dzar dan Mu’awiyah. Perdebatan ini pun sampai kepada Utsman, Utsman pun mengizinkan permintaan dari Abu Dzar demi kebaikan.

Abu Dzar akhirnya pergi dan memilih untuk tinggal di suatu tempat bernama Rabadzah. Disana Abu Dzar membangun masjid dan Utsman telah memberinya sejumlah uang. Ummu Dzar sebagai istri juga tidak rela jika harus tinggal jauh dari Abu Dzar. Maka, Ummu Dzar memutuskan untuk tinggal seatap dengan suaminya apapun yang terjadi.

Meski banyak rintangan hidup yang menerpa bahkan sampai membuat suaminya sakit, karena umur yang sudah mulai tua serta tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan cuaca disana. Ummu Dzar terus Melayani dan Merawatnya Suaminya tanpa mengeluh atau bahkan merasa lelah. Ummu Dzar juga memilih menjadi wanita yang menepati janji dan memurnikan diri dalam keimanannya.

Baca Juga :

Kesetiaan Ummu Dzar Mendampingi Kepergian Abu Dzar

Ummu Dzar mengisahkan, “ketika itu orang yang berhaji sudah berangkat. Sehingga jalan – jalan pun terhambat. Sementara itu, saya terjebak di gurun sahara yang luas. Saya pun pulang kembali menuju tempat meninggalnya Abu Dzar” .

Tiba – Tiba saya melihat orang – orang yang datang dengan menunggang onta. Maka saya langsung melambaikan pakaian sebagai pertanda butuh pertolongan. Melihat hal itu, mereka bersegera menuju saya dan bertanya, “ada apa denganmu? “

Saya pun menjelaskan bahwa seorang muslim telah meninggal dunia. “Siapakah namanya? ” tanya mereka. “Abu Dzar ,” jawab saya singkat.


Mereka kembali bertanya, “Apakah dia salah satu sahabat Rasulullah?” Maka saya pun mengiyakannya. Seketika itu, mereka memanggil orang tua mereka untuk bersama – sama memelihara jenazah Abu Dzar. Salah satu dari mereka tampil untuk mengkafani. Kemudian mereka beramai – ramai menguburkannya. ( HR Al – Hakim dan Ahmad )

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Ummu dzar Menuturkan, ketika Abu Dzar meninggal dunia aku menangis, lalu Abu Dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? ”

Ummu Dzar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan engkau akan mati ditengah padang pasir, dan aku tidak sanggup menguburmu sendirian; aku juga tidak memiliki kain untuk mengafanimu

Dan Abu Dzar pun berkata, “Jangan menangis berilah kabar gembira

Dari Riwayat Abu Dzar ini, kita dapat memahami bahwa orang yang meninggal dunia masih bisa berbicara karena jati diri manusianya masih terhubung dengan tubuhnya; belum meninggalkannya secara total. Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah juga bercerita, “ ketika Nuh meninggal dunia, dia memanggil anak – anaknya dan berkata kepada mereka, “ Aku hendak berpesan kepada kalian …

Baca juga :

Allah berfirman, “( yaitu ) orang – orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan ( kepada mereka ), “ Salamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (QS An Nahl : 32)

Malaikat Maut mencabut nyawa itu dari tubuh manusia sedikit demi sedikit sementara jati diri manusianya masih berhubungan dengan tubuh. Dengan kata lain, roh masih berhubungan dengan tubuh orang yang wafat, karena itulah dia masih dapat berbicara, mendengar dan memahami. Malaikat pun memberikan kabar gembira kepada orang Mukmin dengan mengatakan “Salamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan

Jadi, orang mukmin akan diberikan kabar gembira masuk surga oleh malaikat ketika dia masih hidup di dunia, sebelum kehidupannya benar – benar berakhir.


Hikmah Kisah Ummu Dzar

Hikmah kisah ini sebelumnya juga telah mengamalkan ajaran dari Rasulullah. Secara  singkat beginilah kisah Nabi mencintai istrinya

“Suatu ketika beliau duduk mendengarkan Aisyah, yang sedang menceritakan kisah sejumlah wanita yang berkumpul dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan apapun sehubungan dengan keadaan suami mereka. Itulah yang dikenal dengan kisah Ummu Dzar. Kisah tersebut panjang. Tetapi Rasullullah S.A.W tidak bosan mendengarkan. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ( HR Bukhari dan Muslim )”

Dari kisah Ummu Dzar lebih cenderung bagaimana seorang istri yang sholehah dalam menjalankan bakti atau kewajibannya kepada suaminya. Apalagi Ummu dzar terlihat begitu yakin dengan pilihannya untuk mematuhi dan mengikuti ajaran Rasullullah seperti merawat suaminya yang sedang sakit tanpa mengeluh dan merasa lelah.

Sebagai muslimah kisah Ummu Dzar memberikan hikmah bahwa dalam suatu rumah tangga sebagai seorang istri belajar bersama mengenai agama islam adalah hal yang mengarah ke kebaikan. Selain itu, menjadi istri yang baik adalah tetap setia mendampingi suaminya ketika susah ataupun senang, bukti kesetiaan dari Ummu Dzar adalah mendampingi suaminya bahkan sampai kepergiannya dijemput oleh malaikat maut.

Baca juga :

Hal–Hal yang Dilakukan Ummu Dzar Bisa Menjadi Panutan

Ummu Dzar memperlakukan suaminya dengan sangat baik bahkan hal yang dilakukan juga bisa dianggap sebagai tanda bakti istri kepada suami. Berikut dibawah ini rangkuman hal – hal yang dilakukan oleh Ummu Dzar yang bisa menjadi referensi atau panutan :

  1. Menghormati keputusan suami.
  2. Belajar agama islam bersama suaminya, tidak hanya membangun kokohnya imannya namun kedekatan dengan suaminya juga ikut terjalin disini.
  3. Merawat suami tanpa pernah mengeluh atau merasa lelah bahkan begitu sabar dalam menjaganya sampai kepergiannya.
  4. Mengikuti suaminya karena sebagai istri juga memiliki kewajiban terhadap suami dan juga terkadang sebagai istri tidak bisa jauh dari suaminya dalam jangka lama.
  5. Mendampingi suaminya ketika meninggal dunia, bahkan sampai meminta pertolongan agar suaminya dibantu untuk segera dikuburkan.

Agama Islam telah mengajarkan kepada para umatnya melalui utusannya seperti para nabi yang mulia untuk bersikap dan memiliki iman yang baik. Sikap yang baik ini bisa timbul karena keimanan umat islam tidak hanya sekedar dipelajari namun juga di amalkan. Melalui kisah diatas peran Rasullullah dalam membimbing umatnya, membuat Ummu Dzar bisa begitu berbakti kepada suaminya.

Selain itu juga kesetiaan dan tanda bakti bisa dilihat dari banyak hal yang dilakukan oleh Ummu Dzar dalam menjalankan kewajibannya kepada Suaminya. Semoga bermanfaat.

, ,




Post Date: Sunday 14th, April 2019 / 12:39 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah
Yuk Join & Subs Channel Saya Islam

Tukar Uang untuk THR Idul Fitri, Haram?

Kalau Sahur Jangan Buka Medsos, Mending Amalin Ini

Wajib Tonton ! Rekomendasi Film Religi Terbaik Pas Buat Nemenin Ramadhanmu