Kisah Ummul Mukminin Juwairiyah Binti Al-Harits

Juwairiyah binti al-Harits adalah salah satu di antara istri-istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang cantik dan memesona. Siapapun yang melihatnya, pasti akan jatuh cinta padanya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

ads

“Juwairiyah adalah gadis yang cantik dan manis, setiap orang yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud)

Juwairiyah binti al-Harits juga dikenal sebagai wanita yang banyak keberkahannya. Mengapa demikian? Berikut adalah kisah Ummul Mukminin Juwairiyah Binti Al-Harits.

Nasab

Juwairiyah Binti Al-Harits adalah putri al-Harits bin Abi Dhirar bin Habib bin A’idzin bin Malik bin al-Musthalik al-Khuzaiyah. Sejatinya beliau memiliki nama asli Barrah binti al-Harits bin Abi Dhirar bin Habib ‘A-idz bin Malik bin Jadzimah dari kabilah Khuza’ah dan merupakan anak dari kepala kabilah Bani Musthaliq sekaligus istri dari anak pamannya yaitu Musafi’ bin Shafwan bin Dzi al-Syafr.

Baca juga :

Perang Muraisi’

Suatu hari, terbetik kabar bahwa Bani Musthaliq sepakat untuk menyerang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pasukan Bani Musthaliq sendiri dipimpin oleh al-Harits bin Abi Dhirar. Sementara itu, di pihak kaum muslimin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan pasukan dan keluar menghadapi pasukan Bani Musthaliq. Kedua pasukan bertemu di sebuah mata air yang disebut al-Muraisi’. Karena itulah perang antara Bani Musthaliq dan kaum muslimin disebut juga dengan Perang Muraisi’. Perang ini terjadi di abad ke-5 H.

Di perang itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Bani Musthaliq. Pimpinan pasukan Bani Musthaliq yang bernama al-Harits bin Abi Dhirar beserta anggota pasukan termasuk suami Juwairiyah binti al-Harits pun tewas di medan pertempuran. Akibat kekalahan yang dialami Bani Musthaliq, para kaum wanita-termasuk Juwairiyah binti al-Harits- dan anak-anak Bani Musthaliq pun kemudian menjadi tawanan dan diserahkan kepada para sahabat.

Baca juga :

Memeluk Islam

Dalam kisah Ummul Mukminin Juwairiyah Binti Al-Harits ini, selama menjadi tawanan, Juwairiyah berada di tangan Tsabit bin Qais bin asy-Syammas radhiyallahu ‘anhu. Karena merasa tidak nyaman, beliau pun ingin menebus dirinya sendiri agar bisa bebas karena beliau termasuk seorang tokoh bagi kaumnya. Namun, karena ia tidak lagi memiliki apa-apa lagi untuk membayar tebusan, ia pun segera pergi ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memohon bantuan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan tawaran yang lebih baik dan lebih utama dari apa yang diinginkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melamar Juwariyah binti al-Harits dan menanggung pembebasannya. Tawaran tersebut diterima oleh dan Juwariyah pun memeluk Islam.

Keberkahan Juwairiyah

Juwairiyah binti al-Harits pun menikah di usia 20 tahun atau pada tahun ke-6 H. Pernikahannya dengan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa keberkahan dan kebaikan bagi dirinya, keluarganya, dan sebagian besar kaumnya. Hal ini disebabkan tawanan Bani Musthaliq yang dibebaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejatinya tidak hanya Juwairiyah melainkan 100 orang tawanan Bani Musthaliq. Para tawanan ini pun kemudian memeluk Islam. Itulah sebabnya, Juwairiyah dikenal sebagai wanita yang banyak keberkahannya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

“Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar biaya pemerdekaan Juwairiyah dan menikahinya. Orang-orang pun mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahi Juwairiyah. Mereka berkata, “Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melepas tawanan Bani Al-Musthaliq yang ada pada mereka. Sungguh dengan Juwairiyah, Allah Ta’ala memerdekakan seratis orang dari Bani Al-Musthaliq. Aku tidak tahu ada wanita yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyah.” (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud).

Keutamaan

Sebagai salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Juwairiyah rajin sekali beribadah. Beliau rajin menunaikan puasa sunnah. Ia pun rajin berdzikir mulai dari usai shalat subuh hingga terbit matahari. Di salah satu riwayat disebutkan, Ia pun wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 56 H, di masa pemerintahan Muawiyah.

Baca juga :

Demikianlah kisah Ummul Mukminin Juwairiyah Binti Al-Harits. Semoga bermanfaat.

, ,




Post Date: Friday 08th, March 2019 / 06:33 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah