Kisah Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyai

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kisah teladan istri Nabi atau wanita-wanita islam yang memiliki kecerdasan serta keutamaan masing-masing. Terkadang merupakan gambaran serta teladan yang bisa diikuti langkah kebaikannya di era saat ini. Apalagi wanita teladan yang satu ini adalah Shafiyah binti huyai. Shafiyah yang dikenal dengan paras cantiknya. Mari simak lebih lanjut tentang kisah ummul mukminin Shafiyah binti Huyai ini.

Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyai adalah seorang wanita tawanan yang bertakwa, bersih dan suci. Shafiyah wanita yang mempunyai dua mata yang berkaca-kaca, kejernihan yang paling jernih. Nasabnya adalah Shafiyah binti Huyai. Mari simak lebih lanjut tentang kisah ummul mukminin Shafiyah binti Huyai ini.

Perkenalan

Shafiyah binti Huyai adalah salah satu istri Nabi yang cerdas dan berasal dari keturunan terhormat pula. Shafiyah memiliki paras yang sangat cantik dan agamanya juga bagus. Sebelum Shafiyah menikah dengan Rasulullah, ia adalah istri dari Salam bin Abi Al-Ahqiq, lalu menikah dengan Kinanah. Kinanah adalah penyair yang berasal dari Yahudi. Kinanah terbunuh saat perang Khaibar terjadi. Salah satu tawanan perang pada perang Khaibar adalah Shafiyah.

Shafiyah adalah putri dari Huyaiy bin Akhtab, Huyay bin Akhtab adalah pemimpin kaumnya. Mereka adalah dari golongan masyarakat Yahudi Khaibar yang memerangi. Huyay kala itu sedang memerangi dan menampakkan permusuhan dengan Rasulullah, meskipun dia tahu bahwa Rasulullah merupakan Nabi terakhir, sebagaimana telah termajtub dalam kitab taurat. Shafiyah juga merupakan anak kesayangan bapak dan pamannya, sebagaimana Shafiyah pernah menuturkan sendiri.

Terjadi Perang Khaibar

Menurut kisah ummul mukminin Shafiyah binti Huyai, ketika tentara Muslim membawa kemenangan pertempuran dengan orang-orang Yahudi Khaibar, Huyay bin Akhtab mati terbunuh dalam perang Khaibar. Sementara keadaan dari Shafiyah tertangkap sebagai salah satu tahanan atau tawanan perang.

Baca juga :

Sampai suatu hari Shadiyah mendengarkan percakapan antara ayah dan pamannya. Disitulah Shafiyah mengetahui bahwa Rasulullah SAW berada dalam pilihan jalan yang benar. Ternyata selama ini kaumnya tidak pernah memberitahukan tentang Nabi Muhammad kepada Shafiyah.

Faktor Shafiyah tidak diberitahu adalah karena faktor kedengkian dan iri hati, bukan karena Nabi Muhammad Salah. Kedengkian yang selama kaum Yahudi pendam terhadap Islam dan Nabi merupakan suatu bentuk kejahatan dan penghianatan besar.

Walaupun setelah kaum tersebut mengetahui ada bukti nyata pada diri mereka bahwa Nabi Muhammad adalah utusan akhir zaman. Pada pertengahan kedua bulan Muharram tahun 7 H, Rasulullah berangkat bersama segenap pasukan muslim disertai persenjataan dan perlengkapan perang yang lengkap menuju Khaibar.

Shafiyah dengan Kinanah

Dalam kisah ummul mukminin Shafiyah binti Huyai, pertempuran berdarah antara Yahudi dan Kaum muslimin akhirnya dimenangkan oleh Kaum Muslim. Saat itu Kinanah (suami dari Shafiyah) tertangkap, lalu pasukan muslim mendesak Kinanah untuk mengatakan dimana gudang kekayaan Khaibar.

Awalnya kinanah tidak mengakui, bahkan sempat mengaku bahwa ia tidak mengetahui dimana gudangnya. Rasulullah saw pun bersabda

“Jika terbukti ucapanmu bohong dan kami dapatkan bukti bahwa harta itu terdapat dirumahmu, maka kami akan membunuhmu”

Kinanah pun menjawab “Ya, aku bersedia dibunuh

Maka ketika Rasulullah saw, menemukan harta itu di rumah kinanah. Maka beliau mengirim Kinanah kepada Muhammad ibnu Salam agar mendapatkan hukum pancung sesuai perbuatannya. Dan itu dilakukan untuk membalas atas terbunuhnya Mahmud Ibnu Salamah.

Sementara untuk para wanita Qumush pun digiring sebagai tawanan. Rombongan itu dipimpin oleh Shafiyah istri Kinanah ditemani dengan seorang saudari sepupunya. Mereka digiring oleh sang Muadzin Rasulullah, Billal bin rabbah.

Baca juga :

Bilal membawa mereka melewati medan pertempuran yang telah berakhir. Kala itu sepupu Shafiyah menjerit dan histeris melihat pemandangan tersebut. Sepupu Shafiyah juga menutupi wajahnya dan meratapi kepergian suami dan keluarganya.

Sedangkan Shafiyah sangat tenang, terlihat terdiam, dan tampak bersedih. Namun, Shafiyah sama sekali tidak bersuara atau meratap sedikit pun. Shafiyah dan saudarinya juga dibawa menghadap Rasulullah. Saat itu ketenangan menyelimuti wajah Shafiyah yang cantik jelita.

Shafiyah Menjadi Istri Rasulullah

Setelah Dahiyyah datang membawa Shafiyah. Setelah Rasulullah melihat Shafiyah, beliau berkata kepada Dahiyyah,

“Ambillah budak yang lain dari tahanan yang ada”.

Dahiyah pergi tanpa membawa Shafiyah. Ketika Shafiyah dan Rasulullah berada pada satu tempat, Rasulullah memberikan pilihan kepada Shafiyah. Apakah ingin dimerdekakan, kemudian dikembalikan kepada kaumnya yang masih hidup diwilayah Khaibar ataukah ingin masuk islam kemudian dinikahi oleh Nabi.

Shafiyah memilih untuk masuk islam dan menikah dengan beliau, mas kawinnya yaitu memerdekakan dia. Pilihan Shafiyah sebagai indikasi kebikjasanaan dan kecerdasannya. Shafiyah termasuk bagian dari Ummul Mukminin dan menjadi orang yang mulia dan terhormat.

Di hari pernikahan Shafiyah dengan Rasulullah, Shafiyah disisir rambutnya dan dirias oleh Ummu Sulaim. Shafiyah memaki pakaian yang bagus serta wewangian. Shafiyah pun menjadi pengantin cantik dengan wajah berseri. Semua bergembira di hari pernikahan Rasulullah dan Shafiyah lalu walimatul ursy pun dilakukan. Mereka berdua juga mendapat jamuan Khaibar.

Setelah menikah dengan Rasulullah, shafiyah mengalami kesedihan karena ia berasal dari keturunan yahudi dan kebanyakan istri Rasulullah merupakan keturunan Arab. Mengetahui kesedihan Shafiyah Rasulullah mengatakan hal ini kepada shafiyah,

“Katakanlah kepada mereka ‘Bagaimana kalian bisa lebih baik daripada aku sementara suamiku Muhammad, ayahku adalah Harun dan Pamanku adalah Musa”

Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Ia kembali bersabar dengan segala ucapan tentang dirinya.

Kisah Shafiyah Melapangkan Rasulullah

Shafiyah juga merupakan wanita cantik yang mempunyai kecerdikan. Bukti kecerdikannya adalah ketika Shafiyah dimarahi oleh Rasulullah tentang masalah biasa mewarnai kehidupan rumah tangga. Shafiyah mengetahui posisi Aisyah dihati Rasulullah. Sehingga Shafiyah berkata,

Baca juga :

Aisyah, apakah kamu bisa membuat Rasulullah memaafkan saya? Jika ya, kamu boleh ambil giliran saya

Aisyah menjawab,

Ya saya bisa ”.

Aisyah pun mengambil sebuah baju ditetesi minyak Za’faran dan Aisyah pun duduk disamping Rasullullah. Seketika beliau bersabda

Hai Aisyah, menjauhlah dariku hari ini bukan giliranmu

Akhirnya Aisyah memberitahukan kisah sebenarnya kepada Rasulullah.  Sampai Rasulullah memutuskan untuk mau memaafkan Shafiyah. Begitulah dengan modal kecerdasan yang dimiliki Shafiyah. Shafiyah berhasil melapangkan Rasulullah dengan mengetahui kedudukan Aisyah di mata Rasulullah saw.

Sepeninggal Rasulullah, Shafiyah turut andil dalam urusan politik, masyarakat dan agama. Ia selalu memberikan pendapat dan meriwayatkan hadis nabi. Walaupun sepanjang perjalanan hidupnya terus menerus mendapat tekanan karena ia berasal dari keturunan yahudi sedangkan para istri Rasulullah dari keturunan Arab. Shafiyah pun meninggal pada tahun 50 H dan dimakamkan di tanah Bani bersama mukminin lainnya.

Nasihat Shafiyah untuk Umat Islam

Dalam kisah ummul mukminin Shafiyah binti Huyai ini, Maka dapat dilihat bahwa salah satu bukti nyata yang menujukkan pemahaman Shafiyah yang mendalam terhadap Islam dan Ibadah digambarkan dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Abu Na’im Al-Ashbahani. Bahwa dalam suatu perkumpulan, Shadiyah mempunyai maksud yang ingin disampaikan.

Maksud yang disampaikan Shafiyah adalah dia ingin memberikan pemahaman dan bimbingan kepada mereka, bahwa indikasi khusyu’ dalam ibadah adalah tangisan karena takut kepada Allah Swt. Tidak hanya sekedar menyebut namanya tanpa air mata.

Demikianlah kisah ummul mukminin Shafiyah binti Huyai yang meruakan salah satu istri nabi dari kalangan Yahudi yang turut ambil andil dalam perkembangan Islam.

fbWhatsappTwitterLinkedIn