Kisah Utbah, Pemanah Hebat Tapi Sederhana

Utbah bin Ghazwan adalah pemanah hebat yang memiliki gaya hidup sederhana. Kesederhanaan ini juga ia ajarkan kepada para rakyatnya agar bisa lepas dari gaya hidup mewah. Karena Utbah sendiri memiliki rasa takut bahwa kaum muslim akan lupa diri karena harta di dunia. Dan Utbahlah yang mendirikan kota Basrah setelah mendapatkan kemenangan di perang yang ia lalui. Namun, Utbah mendapat perintah dari Umar untuk menjadi pemimpin di Basrah. Berikut dibawah ini beberapa kisah Utbah, pemanah hebat tapi sederhana.

Perkenalan

Utbah bin Ghazwan adalah seorang yang masuk islam dengan menjabat tangan kanan Rasulullah Saw. Ia bersama kawan-kawabnya memegang peinsip hidup yang mulia. Walaupun mendapat tekanan dari para orang Qurays. Ketika Orang-orang Qurays sering menggangunya Uthbah selalu membawa panah dan tombak. Ia melemparkan tombaknya dengan tepat,

Setelah Uthbah masuk Islam, Uthbah selalu mengiringi Rasulullah dalam beberapa peperangan. Ketika Rasulullah wafat pun, Ia tak meletakkan senjatanya, Ia terus berjuang membela kebenaran Islam. Dan ketika menghadapi tentara Persi, Ia telah siap melakukan perjuang yang hebat. Meskipun Uthbah seorang yang hebab namun Ia tetap sederhana.  

Kesederhanaan Utbah

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab mengirim Utbah ke Ubullah untuk membebaskan negeri itu, Utbah pun pergi untuk melaksanakan tugasnya yang juga merbersihkan buminya dari orang-orang persi. Utbah menyusun kekuatannya dengan membawa senjata tombak diatnagnnya. Lalu Ia berseri dihadapan para tentaranya,

Allahu Akbar, Shadaqa Wa’dah ” terjemahan kalimat tersebut adalah Allah Maha Besar, Dia menepati janji-Nya

Baca juga :

Lalu pasukan Utbah maju melawan orang dari Persi yang bersiap. Setelah meloalui perjuangan yang hebat, akhirnya pasukan Utbah dapat mengalahkan pasukan persi. Atas kemenangan itu maka, Utba bisa membangun kota Basrah di Ubullah, Namun, umar mengutusnya untuk kembali ke Basrah.

Dan memintanya untuk memimpin kota tersebut dan membimbing rakyat untuk melaksanakan shalat, menegakkan hukum yang memegang keadilan, memberi pengertian dalam masalah agama, serta memberikan contoh teladan tentang hidup sederhana. Lambat laun rakyat yang semula terbiasa hidup mewah, kini mulai mengalami perubahan secara perlahan menjadi hidup sederhana.

Ketakutan Utbah Lupa diri karena Harta

Utbah membangun Kota Basrah. Utbah menyediakn sarana lengkap di kota ini, termasuk adanya sebuah masjid besar, Utbah berpikir bahwa tugasnya telah selesai. Dan bermaksud meninggalkan negeri itu, lalu memilih kembali ke Madinah. Utbah ingin menjauhkan diri dari urusan pemerintahan, Namun Amirul Mukminin Umar menyuruhnya tetap disana

Utbah pun memenuhi keinginan dari Khalifah umar. Dia mengajari rakyatnya pokok-pokok gama, membimbing rakyat mendirikan shalat, menegakkan  hukum secara adil, serta memberinya teladan yang sangat mengagumkan tentang kesederhanaan. Dengan tekun Utbah terus mengajak masyarakat untuk tidak hidup berlebi-lebihan.

Tetapi, ajakan Utbah ini menimbulkan kejengkelan sebagian orang yang telah terbiasa gaya hidup mewah. Bahkan masyarakat berusaha mengubah pendirian Utbah. Suatu hari, Utbah berpidato di tengah-tengah mereka para rakyatnya.

Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rasulullah SAW. Sebagai salah seorang kelompok tujuh yang tak mempunyai makanan kecuali daun-daun kayu sehingga bagian dalam mulut kami pecah-pecah dan luka luka. Sampai suatu ketika, Aku memperoleh rezeki sehelai baju burdah, lalu kubagi menjadi dua. Yang sebelah kuberikan kepada Sa’ad Bin Malik dan sebelah lagi kupakai

Baca juga :

Utbah menjadi ketakutan karena Kaum muslimin akan lupa diri. Karena sebab itu, Utbah selalu membimbing mereka untuk hidup bersahaja. Utbah bahkan selalu berdoa

“Aku berlindung kepada Allah dari sanjungan orang terhadap diriku karena kemewahan dunia, tapi kecil disisi Allah”

Ketika Utbah masih menjabat sebagai Gubernur kota Basrah, dia pernah mengatakan,

Sungguh dunia telah mengingatkan kepadamu akan habis dan rusak berjalan terus dengan cepat, tiada sisa dari padanya melainkan sebagai sisa minuman dalam cerek yang dituangkan oleh yang punya. Dan kamu bakal kembali dari padanya ke tempat yang tiada habisnya. Karena telah dikabarkan bahwa kalau sebuah batu dilemparkan ke dalam Jahannam, maka menyelam dengan tujuh tahun sebelum sampai ke dasarnya

Utbah Ditawan Pasukan Quraisy

DalamPara sahabat Rasulullah SAW mengetahui perintah beliau yang menyatakan bahwa ia tidak memaksa dari mereka untuk ikut serta dalam ekspedisi ini. Namun di perjalanan Utbah bin Ghazwan dan Sa’ad Bin Abu Waqqash. Keduanya tertinggal karena masih mencari unta mereka yang hilang karena hanya berdua, Quraisy menemui mereka dan menawannya.

Mengetahui hal tersebut, Maka pasukan kaum muslimin pun bergerak hingga sampai di lembah. Dalam upaya menemukan Sa’ad bin Abu dan Utbah bin Ghazwan. Terdapat tindakan gegabah dari pasukan Abdullah Bin Jahsy yang membunuh di bulan-bulan Haram. Hal tersebut menjadi kesempatan emas bagi kaum Quraisy untuk menyudutkan kaum muslim.

Karena kondisi semakin tidak terkendali dan tekanan terus berpihak kepada Abdullah Bin Jahsy beserta pasukannya. Maka, disaat itu juga Allah menurunkan firmannya :

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram. Katakanlah, ‘ Berperang di bulan itu dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dan jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dan sekitarnya, lebih besar (dosanya) disisi Allah dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh

(QS Al Baqarah ayat 217)

Kemudian Rasulullah mengambil kafilah Quraisy dan dua tawanan mereka. Dua tawanan tersebut akan dijadikan beliau sebagai tebusan untuk mendapatkan Sa’ad bin Abu dan Utbah bin Ghazwan, Tidak lama setelah itu, Sa’ad bin Abu dan Utbah bin Ghazwan tiba di madinah. Kemudian Rasulullah menyerahkan kedua tawanan tersebut kepada utusan orang-orang Quraisy.

Baca juga :

Wafatnya Utbah

Sewaktu musim haji tiba, Utbah mewakilkan pemerintahan pada temannya. Utbah lalu menunaikan ibadah hhaji. Setelah selesai, ia pun pergi ke madinah dan meminta kepada Umar bin Khattab agar diperkenankan mengundurkan diri. Namun, umar tidak mengabulkan permintaan dari Utbah dan malah menyuruhnya untuk kembali ke kota Basrah

Namun Sebelum Utbah kembali ke Basrah, Utbah berdoa kepada Allah SWT. Pada saat itu juga tiba-tiba tangannya menjadi lunglai. Dan tubuhnya pun melemah dan akhirnya utbah meninggal dunia.


Utbah bin Ghazwan adalah seorang muslim yang masuk islam dengan menjabat tangan kanan Rasulullah. Pada masa itu setiap Utbah diganggu oleh kaum Quraisy, Ia selalu membawa panah dan tombak. Ia melemparkan tombak kepada Kaum Qurais.

Dan dalam masa kepimimpinan Utbah mengajarkan mengajari rakyatnya pokok-pokok gama, membimbing rakyat mendirikan shalat, menegakkan  hukum secara adil, serta memberinya teladan yang sangat mengagumkan tentang kesederhanaan.

Wafatnya Sebelum Utbah kembali ke Basrah, Utbah berdoa kepada Allah SWT. Pada saat itu juga tiba-tiba tangannya menjadi lunglai. Dan tubuhnya pun melemah dan akhirnya utbah meninggal dunia Sehingga berakhir kisah Utbah bin Ghazwan. Namun, hal yang bisa dipetik adalah kesederhanaan Utbah dan tekun dalam menjalankan perintah Allah dan Rasulnya.

Demikianlah kisah Utbah, pemanah hebat tapi sederhana yang turut mengajarkan kesederhanaan pada rakyatnya. Mohon maaf bila ada salah kata.