Mengenal Sikap Abu Thalib dalam Melindungi Rasulullah

Semasa Hidup, Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam. dikenal sebagai seorang yang luar biasa dalam memimpin, kebijaksanaannya pun merupakan suri tauladan bagi yang lain. Namun meskipun begitu, Rasulullah tak ayalnya hanya manusia yang sama seperti lelaki pada umumnya.

ads

Berdarah apabila dilukai, menangis pula apabila merasa sedih. Dibanyak kesempatan, apabila Rasulullah tidak didukung oleh orang-orang yang membantu dakwahnya, kemungkinan juga Agama Islam tidak bisa sebesar sekarang. Dan arilah kita mengenal sikap Abu Thalib dalam melindungi Rasulullah dalam berdakwah.

Satu dari sekian deretan nama dari orang-orang yang memiliki jasa dalam melindungi Nabi adalah Abu Thalib. Abu Thalib merupakan Paman dari Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam. Paman sedarah daging yang selalu melindungi Rasulullah dalam menyebarkan Islam terlepas dari dirinya yang belum menerima keislaman sampai akhir hayatnya.

Bukan rahasia lagi kalau kaum Kafir Quraisy sangat membenci Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan agama yang diajarkannya. Tahun demi tahun berlalu, musim demi musim berganti dan kebencian tersebut semakin menggunung di benak para pemuda kaum Kafir Quraisy. Namun meskipun begitu, mereka tidak ada yang berani menganggu Rasulullah secara langsung. Alasannya adalah karena kehadiran seorang Abu Thalib.

Cinta Abu Thalib dalam Membela Rasulullah

Abu Thalib dikenal sebagai lelaki yang tegas. Berpendirian mantap dan tidak bisa diatur oleh siapapun. Pada suatu ketika, Kaum Quraisy mencoba membujuk Abu Thalib untuk menghentikan dakwah Rasulullah, berdasar kepada berbedanya pendapat dan ketidak setujuan para kaum Quraisy atas ajaran Islam, mereka meyakinkan ke Abu Thalib bahwa apa yang diajarkan Muhammad adalah ajaran yang salah.

Baca juga :

Pada waktu itu, kaum kafir Quraisy menawarkan dua buah pilihan kepada Abu Thalib, yaitu menyuruh Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghentikan usaha dakwahnya atau menyerahkan beliau kepada mereka untuk dibunuh.

Awalnya, Abu Thalib yang mendapat dua pilihan tersebut memberitahukan kepada Rasulullah untuk menghentikan usaha dakwahnya. Namun atas dua pilihan tersebut, Rasulullah dengan lantang menjawab :

“Demi Allah, saya tidak berhenti memperjuangkan amanat yang diberikan Allah ini. Meskipun seluruh anggota keluarga dan sauadara akan membenci dan mengucilkan saya.”

Mendengar jawaban yang keluar dari keponakannya itu, Abu Thalib merasa terharu. Dia kemudian berkata;

“Teruskanlah, demi Allah aku akan terus membelamu.”

Abu Thalib sangat menyayangi Rasulullah. Bahkan kala Rasulullah berdakwah dan menyebarkan ajaran islam,  di hadapan seluruh pemimpin dan pemuka kaum kafir Quraisy, Abu Thalib mendeklarasikan akan menghukum siapa saja yang berani menyakiti Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam.


Dalam pertemuan yang tegang dengan para pemuka kaum Kafir Quraisy itu, Abu Jahal terdiam dan para pemimpin Quraisy lainnya merasa ketakutan. Mereka paham bahwasanya berhadapan langsung dengan Abu Thalib merupakan resiko yang sangat besar, tidak ada lagi yang berani mengganggu dakwah damai Rasulullah secara langsung.

Kaum Kafir Quraisy juga merayu Rasulullah untuk berhenti dengan mengiming-iminginya harta dan wanita, Namun keimanan Rasulullah tinggi dan menolak semua hal tersebut.

Setelah masa itulah, Kafir Quraisy mulai melakukan intimidasi-intimidasi dengan cara menyiksa dan melakukan kontak fisik kepada para sahabat-sahabat yang memeluk islam.

Cara Abu Thalib dalam Menjaga Rasulullah

Baca juga :

Suatu ketika, para pemimpin kaum kafir Quraisy berkumpul untuk berdiskusi. Mereka berdiskusi perihal strategi untuk menjatuhkan dakwah Rasulullah. Dalam diskusi tersebut, didapatkanlah hasil untuk melakukan embargo ekonomi dan sosial kepada kaum bani Hasyim (Bani Hasyim merupakan garis keturunan Rasulullah yang ditarik dari ayahnya kakek Rasulullah). Keputusan tersebut ditandatangani oleh setidaknya 50 pemuka kaum Quraisy dan ditempel di dinding ka’bah.

Abu Thalib, yang kala itu berperan sebagai pemimpin Bani Hasyim. Tentu saja tidak menyerah begitu saja. Abu Thalib meminta seluruh keturunan Bani Hasyim untuk pindah ke lembah yang berada ditengah dua bukit untuk berlindung dari Intimidasi.

Dalam upaya berlindung tersebut, kurang lebih 400 orang bani Hasyim termasuk Rasulullah dan keluarganya mendirikan pemukiman. Namun karena gerak yang terbatas dikarenakan penekanan dari kaum Quraisy, mereka mengalami hari-hari yang sulit. Susahnya komunikasi, perdagangan dan sosial karena Bani Hasyim diintimidasi oleh kaum Quraisy dan Bani yang lain membuat mereka menjalani 3 tahun yang berat.

Tak jarang mereka terkadang kekurangan makanan dan memanfaatkan tumbuh tumbuhan yang ada di sekitar sebagai upaya menyambung hidup. Sesekali, Ali bin Abi Thalib dan Hakim Bin Mizan (kemenakan Khadijah) menyelundupkan makanan agar para penduduk bani Hasyim bisa makan.


Namun malam hari terasa sangat mencekam dalam lembah tersebut. Upaya pembunuhan Rasulullah dan desas-desus akan adanya penyusup di malam membuat Abu Thalib menjaga Rasulullah tanpa henti. Bahkan seringkali Ali diminta untuk menggantikan Rasulullah tidur di tempatnya untuk mengecoh penyusup yang bisa datang kapan saja.

Meskipun dalam masa-masa sulit seperti itu, Abu Thalib sebagai pemimpin Bani Hasyim tidak hilang harapan. Dia selalu menatap Rasulullah karena mengikatnya dengan saudaranya Abdullah (Ayah Rasulullah).


Baca juga :

Masa Wafatnya Abu Thalib

Sepeninggalnya Abu Thalib, Rasulullah berkabung dan dilanda sedih. Beliau merasa sangat kehilangan atas pamannya yang selalu menindunginya dikala masa-masa dakwah dalam mengajarkan ajaran Islam.

Namun disela kesedihan itu, kaum Kafir Quraisy malah bergembira. Pasalnya, mereka tau bahwa saat Abu Thalib meninggal, maka tidak akan ada lagi orang yang bisa menghalangi mereka untuk menghunuskan pedang-pedang mereka ke badan Rasulullah. Itulah saat dimana mereka melancarkan operasi untuk membunuh Rasulullah.

Namun atas perlindungan para sahabat, Rasulullah nyatanya berhasil diajak kabur oleh Abu Bakar dan bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari.  Dalam masa tiga hari tersebut, mereka berdua benar-benar mencoba mengurung diri agar tidak ditemukan oleh kaum kafir Quraisy. Sepeninggalnya Abu Thalib Rasulullah pun Hijrah ke Madinah, dan mulai menyusun strategi dakwah disana.

Abu Thalib merupakan sosok paman yang luar biasa. Pasalnya, rasa cintanya kepada Nabi Muhammad tidak main main. Sampai masa dimana dia meninggal, Abu thalib memang tidak mengakui Keislaman (wallahu a’lam). Namun dia hanya memandang wajah Rasulullah, dan mencintainya sepenuh hati. Keponakan kesayangannya yang selalu mengingatkannya kepada Ayahnya, Abdullah.

Demikian kajian tentang mengenal sikap Abu Thalib dalam melindungi Rasulullah. Semoga dapat menjadi pengingat dan penambah keilmuan yang lebih baik dibanding hari kemarin. InsyaAllah

Hamsa,

, ,




Post Date: Monday 29th, April 2019 / 10:28 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah