Mengenal Nusaibah Binti Ka’ab, Perisai Rasulullah yang Kematiannya Disambut Malaikat

Rasulullah merupakan sosok yang sangat luar biasa wibawanya. Sehingga banyak sahabat-sahabat di zaman dahulu yang sangat menghormati Rasulullah. Dalam upaya mendakwahkan Islam, sungguh tidak terhitung berapa banyak kaum muslimin yang berkorban. Tidak hanya dari kaum lelaki, namun juga dari golongan wanita.

Salah satu tokoh yang ikut dalam perjuangan disamping Rasulullah, adalah Nusaibah Binti Ka’ab. Tokoh wanita yang dijuluki sebagai ‘Perisai Rasulullah’. yang dalam kematiannya, bahkan malaikat pun ikut menyambutnya. Lantas sebenarnya siapakan Nusaibah binti Ka’ab itu?

Nusaibah Binti Ka’ab, Salah Satu Perempuan yang Ikut Bai’at Aqobah ke 2

Dalam sejarah, dikatakan bahwa Nusaibah binti kaab radiyallahu anha merupakan istri dari Ghazyah bin Amru Al Mazini An Najari. Ghazyah merupakan suami kedua dari Nusaibah binti Ka’ab setelah suaminya yang pertama Zaid bin Ashim Al Mazini An Najjari yang wafat. Dari suami pertamanya Nusaibah dikaruniai dua orang anak yaitu : Abdullah bin Zaid dan Habib bin Zaid.

Nusaibah merupakan satu dari dua perempuan yang ikut dalam bai’at aqobah ke 2. Yang merupakan perjanjian yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap 73 orang pria dan 2 orang wanita dari Yatsrib pada waktu tengah malam, yang mana mereka bersumpah setia kepada Rasulullah dalam melasanakan tiga perkara :

  • Tidak menyekutukan Allah SWT
  • Melaksanakan apa yang Allah perintahkan.
  • Meninggalkan apa yang Allah larang.

Ikut Pertempuran Kaum Muslimin dan Melindungi Rasulullah

Diceritakan bahwa Nusaibah telah mengikuti banyak pertempuran disisi pasukan muslimin. Ghazyah, Abdullah dan Habib kala itu bertempur di garis depan, sedangkan Nusaibah lebih sering mengobati dan mengambilkan minuman untuk pasukan muslimin. Namun jangan salah sangka, Nusaibah juga pandai dalam bertempur melawan musuh-musuh Rasulullah.

Kala itu ditengah perang Uhud, kaum muslimin terpojok. Ibnu Qumai’ah yang datang sebagai musuh hendak membunuh Rasulullah dengan pedangnya. Namun Nusaibah dengan gagah berani melakukan penjagaan kepada Rasulullah dan bertahan menggunakan pedang dan anak panah. Menjaga Rasulullah agar tidak terbunuh. Meskipun tau bahwa dia tidak ada tandingannya dibanding Ibnu Qumai’ah, namun Nusaibah tetap menghalang-halangi Ibnu Quma’ah agar tidak menyentuh Rasulullah.

Baca juga :

Ibnu Qumai’ah yang mengetahui tujuannya untuk membunuh Rasulullah dihalang halangi oleh seorang wanita pun jelas saja sangat murka, dia menyerang dengan membabi buta kepada Nusaibah, tanpa ampun mengayunkan dan melayangkan pukulan agar wanita yang ada di depannya ini lenyap dari hadapannya.

Jelas saja Nusaibah terpojok. Kekuatannya tidak ada-apa apanya dibanding Ibnu Qumai’ah. Namun, menghiraukan luka di sekujur tubuhnya, wanita perkasa ini tetap berdiri.

 “Ia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri kecuali terus berperang demi aku” Ujar Rasulullah.

Diceritakan bahwa setidaknya ada kurang lebih 13 luka di tubuh Nusaibah. Dan meskipun demikian, Nusaibah nyatanya masih hidup untuk terus berperang disamping pasukan muslimin. Atas pengorbanannya dalam perang tersebut dalam menjaga keselamatan Rasulullah, Rasulullah memuji Nusaibah dengan bersabda :

Kedudukan Nusaibah binti Ka’ab lebih baik daripada si fulan dan si fulan”

Rasulullah pun juga berkata kepada putra Nusaibah, Abdullah “Allah memberkahi kalian wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu lebih baik dari fulan dan fulan. Dan kedudukan suami ibumu Ghaziyyah bin Amr lebih baik dari fulan dan fulan, semoga Allah merahmati kalian wahai ahlul bait”. 

Saking kagumnya, Bahkan Rasulullah juga berdoa untuk keluarga Nusaibah,

“Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orang yang akan menemaniku di surga”

Nusaibah dan keluarganya terus berjuang di sisi kaum muslimin bahkan sampai pada masa wafatnya Rasulullah. Itu adalah hari yang paling menyedihkan bagi seluruh umat muslimin. Pasalnya umat muslimin baru saja kehilangan sosok pemimpin bijaksana mereka. Sosok orang yang menjadi panutan mereka. Sosok kekasih yang dicintai.

Masa Kekalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Meskipun kala itu umat islam kehilangan sosok yang dicintai dan ingin dilindungi, namun Nusaibah beserta suami dan kedua anaknya tetap bertempur di sisi kaum muslimin. Hingga tiba pada masa kekalifahan Abu Bakar Ash-Siddiq.  

Baca juga :

Pada masa ini, timbul masalah dimana ada orang-orang yang enggan membayar Zakat. Bahkan muncul sosok Musailamah Al-Kadzab yang dengan kesombongan dan keangkuhannya mengaku sebagai seorang nabi. Abu Bakar jelas saja murka dan mendeklarasikan perang terhadap Musailamah. Dalam perang ini Hubaib bin Zaid (anak bungsu Nusaibah) ikut perang, namun sayangnya tertangkap oleh pasukan Musailamah dan disiksa.

Dalam masa penyiksaan yang pedih itu, Musailamah memaksa Hubaib untuk mengakui bahwa Musailamah adalah seorang nabi. Namun karena keimanan yang kokoh dan hati yang tegap percaya kepada Islam dan Allah, Hubaib menolaknya. Meskipun disiksa seperti apapun, Hubaib tetap menolaknya. Hingga pada akhirnya, Musailamah semakin marah dan memperlihatkan ketidaksukaannya. Nabi palsu itu memotong-motong tubuh Hubaib sampai berdarah-darah dan mati. Hubaib mati syahid.

Ikut Serta dalam Perang Yamamah

Kabar pun sampai ke telinga Nusaibah kala itu, hingga pada akhirnya memotivasi Nusaibah untuk ikut pasukan muslimin dalam perang Yamamah. Ditemani oleh putra sulungnya Abdullah, mereka berdua pun melawan musuh dengan gagah berani. Diceritakan bahwa dalam suasana perang yang berkecamuk itu, seorang musuh berhasil memotong satu tangan Nusaibah.

‘Tanganku terpotong dan aku ingin membunuh Musailamah, aku tidak akan berhenti sampai orang kotor itu terbunuh” Ujar musailamah kepada anaknya Abdullah. Melihat sang ibu yang masih memiliki tekad baja meskipun dengan kondisi tubuhnya yang sudah seperti itu pun membuat Abdullah semakin membara.

Mengingat juga tentang adiknya yang dibunuh secara keji oleh Musailamah, memberikan moral yang meledak-ledak di dalam diri Abdullah. Dia dan pemuda bernama Wahsyi pun kemudian menerjang musuh ke garis depan tanpa kompromi. Tujuannya adalah untuk mencari Musailamah.

Perang Yamamah bergelora sangat hebat. Entah berapa banyak korban yang jatuh. Tidak ada yang bisa menghitung. Abu Bakar menyerang tanpa ampun para musuhnya sembari memimpin kaum muslimin.

Disela suasana perang yang carut-marut, tiba-tiba sebuah kabar tersiar luas. Musailamah sudah terbunuh! Semua pasukan musuh yang tengah melawan pasukan muslimin terkaget. Bagaimana bisa pemimpin mereka mati begitu saja?

Muncul saksi yang melihat bahwa yang berhasil membunuh Musailamah sang nabi palsu adalah Abdullah dan Wahsyi. Nusaibah pun bersujud syukur saat mendengarnya, kematian Musailamah menandakan kemenangan pasukan muslimin.

Baca juga :

Itu merupakan satu dari sekian perang yang diperjuangkan Nusaibah. Entah sudah berapa banyak pengorbanan yang dilakukan Nusaibah binti Ka’ab dalam membela ajaran Allah. Seorang wanita yang semangatnya melebihi 100 lelaki, seorang wanita yang pengorbanannya diakui oleh Rasulullah, dan kedudukanya lebih tinggi dari pasukan muslimin yang lain.

Beberapa tahun setelah perang Yamamah bertepatan pada tahun 13 Hijriyah, Nusaibah meninggal dunia. Meninggalkan tinta-tinta perjuangan yang ditulis dalam lembar sejarah sebagai salah satu perempuan yang paling luar biasa dari kaum Anshar.

Dari cerita diatas, disebutkan bahwa betapa luar biasanya seorang Nusaibah binti Ka’ab. Perempuan yang dijuluki sebagai ‘sang perisai Rasulullah’. Meninggalkan intisari dari sebuah semangat kepada generasi generasi setelahnya.

Semoga Nusaibah binti Ka’ab dan keluarganya diberi tempat yang baik di Jannah. Amin.

Hamsa,