Perdebatan Antara Adam dan Musa Tentang Kenapa Adam Memakan Buah Khuldi

Dalam kisah-kisah dan hikayat para Nabi, kita sering mendengar bahwa alasan manusia diusir dari surga adalah karena Nabi Adam memakan buah khuldi dari pohon yang dilarang oleh Allah. Pernahkah kita sebagai keturunannya mempertanyakan, kenapa sebenarnya Nabi Adam harus memakan buah khuldi tersebut sehingga kita ikut terkena imbasnya? Jika seandainya Nabi Adam tidak memakan buah Khuldi bukankah kita hari ini akan tetap tinggal di surga?

Sebelum kita, sebenarnya sudah ada keturunan yang mempertanyakan hal tersebut terlebih dahulu. Beliau adalah Nabi Musa alaihis salam. Yangmana Nabi Musa kala itu mencurahkan isi hatinya tersebut langsung di hadapan Nabi Adam alaihis salam. Lantas bagaimana kedua orang yang berbeda zaman tersebut dapat dipertemukan? Berikut kisah perdebatan antara Adam dan Musa tentang Adam yang memakan buah khuldi yang jelas dilarang oleh Allah SWT.

Perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW

Di dalam bagian perjalanan isra’ Mi’raj Rasulullah Muhammad sallā Allāhu ʿalayhi wa-sallam, dijelaskan bahwasanya dalam tingkatan langit tertentu, beliau dipertemukan kepada Nabi Adam, lalu kemudian kepada Nabi Musa. Sebelum akhirnya Rasulullah dibawa ke langit ke tujuh dan bertemu Nabi Ibrahim, yang mana Nabi Ibrahim lah yang menemani Rasulullah ke Sidratul Muntaha.

Pada masa tertentu dalam perjalanan tersebut, Rasulullah menjadi saksi bahwasanya Nabi Musa dipertemukan dengan Nabi Adam. Dalam pertemuan tersebut, mereka berdebat. Musa alaihis salam mengingat masa-masa dimana dia menjadi kilafah di bumi, dan bagaimana kejadian di zamannya dibumbui dengan rasa sakit, perang, kematian dan perselisihan antara kaumnya (kaum beriman) dan kaum kafir (Fir’aun dan bala tentaranya).

Nabi Musa pun mempermasalahkan hal tersebut kepada Nabi Adam. Jika seandainya Nabi Adam tidak memakan buah khuldi, maka sesungguhnya manusia tidak akan diusir dari surga oleh Allah. Dan tidak perlu menjalani kehidupan yang pahit di bumi.

Baca juga :

Itulah kenapa saat Nabi Musa bertatap dengan Nabi Adam, beliau akhirnya mengutarakan kegalauan hatinya kepada Nabi Adam, yangmana menyebabkan dirinya dan anak cucunya diusir ke bumi.

Perdebatan yang Terjadi Antara Nabi Adam dan Nabi Musa

Namun Nabi Adam nyatanya memiliki jawaban atas permasalahan Nabi Musa tersebut. Hal ini, dijelaskan dalam sebuah Hadist.

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Adam dan Musa pernah berbantahan.

Musa berkata : ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Tetapi engkau telah mengecewakan kami karena menyebabkan kami keluar dari surga.’

Adam menjawab,

‘Engkau wahai Musa, engkau telah dipilih dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan kehendak-Nya engkau dapat bercakap-cakap dengan-Nya. Apakah engkau mencelaku karena urusan yang telah ditakdirkan Allah atasku sejak 40 tahun sebelum aku diciptakan-Nya?’

Demikianlah Adam membantah Musa, demikianlah Adam membantah Musa, demikianlah Adam membantah Musa.”(HR. Bukhari, no. 3407 dan Muslim, no. 2652)

Atas hadist tersebut, Rasulullah bertutur bahwasanya jawaban Nabi Adam lebih unggul daripada pertanyaan Nabi Musa.

Berdasarkan kepada kisah diatas, kita pada dasarnya dapat mengimani beberapa poin, yang mana poin tersebut bisa menjadi sebuah pesan keimanan dan moral yang dapat kita ambil dan aplikasikan terhadap kehidupan sehari-hari. Apa saja poin-poin tersebut? Mari kita kaji,

1. Memperdebatkan Sesuatu Itu Boleh Sebagai Upaya Mengungkap Kebenaran

Memperdebatkan sesuatu itu boleh, asal pada batas yang sewajarnya. Tidak melukai hati maupun fisik dan argumentasi yang dibuat didasari dari niatan untuk menghilangkan rasa kecewa dan penasaran. Nabi Musa pastinya akan menerima jawaban Nabi Adam karena jawaban yang diberikan masuk akal dan mudah dipahami. Setelah berdebat, akan muncul rasa damai karena tidak ada sesuatu hal lagi yang mengganjal dan membebani hati.

Baca juga :

Kita juga sepantasnya mencontoh karena perdebatan yang sehat pada dasarnya adalah perdebatan yang meluruskan segala yang salah dan membenarkan kenyataan yang ada.

2. Seseorang yang Melakukan Kesalahan dan Bertaubat Tidak Sepantasnya Disalahkan Terus Menerus

Kita mengetahui bahwasanya alasan Nabi Adam memakan buah khuldi adalah karena hasutan setan. Dan seandainya Nabi Adam dan Siti Hawa tidak dihasut oleh setan, maka tidak mungkin beliau dengan sengaja melakukan sesuatu yang akan membebani seluruh keturunanya.

Kita sebagai manusia juga sama, bahwasanya seburuk apapun kita melihat orang bermaksiat dan berperilaku tercela, namun apabila mereka sudah meniatkan taubat dan beritikad menjadi lebih baik maka kita juga tidak boleh mengingat terus-menerus kesalahan mereka. Memaafkan dan berbesar hati adalah sesuatu yang wajib dilakukan antara sesama umat muslim dan sesama manusia.

3. Semua Merupakan Ketetapan Allah SWT

Tidak ada hal yang terjadi di muka bumi ini yang tidak diketahui Allah. Bahkan hal yang belum terjadi pun diketahui-Nya. Jika alasan Nabi Adam diusir dari surga adalah ketetapan Allah, maka sesungguhnya Allah telah menyiapkan design takdir yang luar biasa bagi Nabi Adam dan seluruh keturunannya. Allah berfirman dalam QS, Al-Baqarah ayat 38 :

قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Allah menjatuhkan Nabi Adam ke bumi karena suatu alasan, dan karena alasan itu pula kita harus bersyukur karena Allah memberikan kita petunjuk dari segala sesuatu yang ada. Dan disetiap petunjuk yang ada sesungguhnya akan menuntun kita ke jalan yang lurus.

Kesimpulan dari kisah perdebatan antara Adam dan Musa diatas adalah, bahwasanya manusia sebagai ‘penduduk surga’ diturunkan ke bumi bukan utamanya karena dihukum. Melainkan memang pada awalnya Allah sudah mentakdirkan kita untuk menjalani hidup seperti yang dikehendaki-Nya.

Baca juga :

Allah berfirman dalam QS, Al-Baqarah ayat 30 bahwa :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Karena Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui, kita harus khusnudzon (berprasangka baik) atas segala ketetapannya. Karena Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui, kita harus percaya dengan segala petunjuk yang diberikan-Nya.

Allah juga mengetahui apa yang tidak kita ketahui, kita harus beriman kepad Qadha dan Qadhar. Agar kita terhindar dari prasangka dan kebohongan.

Demikian artikel tentang perdebatan antara Adam dan Musa, tentang kenapa Adam memakan buah khuldi. Semoga kita selalu diberi perlindungan dan petunjuk di jalan yang benar. Amin.

Hamsa,