Peristiwa Fathu Makkah di Bulan Ramadhan, Kembalinya Kesucian Kota Mekkah

Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Begitu pula dalam sejarah umat Islam. Salah satu peristiwa paling mengesankan dalam sejarah agama Islam adalah penaklukkan kota Mekkah yang terjadi pada bulan Ramadhan. Berikut kisah tentang peristiwa Fathu Makkah di bulan Ramadhan.

ads

Pengkhianatan Bani Bakr dan Quraisy

Peristiwa penaklukan kota Mekkah atau biasa disebut dengan Fathu Makkah diawali dengan adanya perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini menyatakan adanya pembolehan bagi siapa saja yang ingin bergabung dengan Nabi Muhammad atau dengan suku Quraisy. Maka kaum Bani Bakr memilih untuk bergabung dengan Quraisy, sedangkan kaum Khuza’ah bergabung dengan Nabi Muhammad.

Kedua kabilah ini merupakan musuh sejak dulu. Melihat perjanjian damai ini, kaum Bani Bakr bukannya menjaga ketenangan dan kedamaian, mereka justru memanfaatkan momen ini untuk menyerang Khuza’ah diam-diam. Penyerangan ini pun dilancarkan pada malam hari dan menewaskan beberapa orang dari suku Khuza’ah. Penyerangan ini dibantu oleh kaum Quraisy dengan menyediakan senjata dan tunggangan.

Baca juga :

Maka berangkatlah Amr bin Salim al-Khuza’I sebagai seorang muslim dari Mekkah untuk mengabarkan pengkhianatan ini kepada Nabi Muhammad saw. Merasa telah melakukan kesalahan, maka kaum Quraisy pun mengirimkan Abu Sufyan untuk memperbarui perjanjian dengan Rasulullah saw.

Namun begitu ia berjumpa dengan Rasulullah, ia pun tidak dipedulikan. Ia pun mencoba bertanya pada Ali. Ali pun menjawab,

“Demi Allah, aku tidak mengetahui sedikit pun solusi yang bermanfaat bagimu. Akan tetapi, bukankah Engkau seorang pemimpin Bani Kinanah? Maka, bangkitlah dan mintalah sendiri perlindungan kepada orang-orang. Kemudian, kembalilah ke daerahmu.”

Abu Sufyan berkata,

“Apakah menurutmu ini akan bermanfaat bagiku?”

Ali menjawab,

“Demi Allah, aku sendiri tidak yakin, tetapi aku tidak memiliki solusi lain bagimu.”

Abu Sufyan kemudian berdiri di masjid dan berkata,

“Wahai manusia, aku telah diberi perlindungan oleh orang-orang!”

Baca juga :

Pengkhianatan Seorang Muhajirin

Menanggapi pelanggaran perjanjian ini, maka Rasul pun memerintahkan seluruh pasukannya untuk mempersiapkan perang. Maka Rasul pun memerintahkan 80 pasukan untuk berangkat. Namun ternyata Allah Maha Melihat dan Mengetahui, Rasul diberi tahu akan perbuatan Hatib bin Abi Balta’ah yang mengirimkan pesan pada suku Quraisy.

Maka Rasul pun memerintahkan Ali dan Al Miqdad untuk mengejar seorang wanita yang dibayar oleh Hatib sebagai penyampai pesan. Mereka pun berhasil mengejar wanita tersebut, namun sang wanita berbohong mengenai pesan tersebut.

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam tidak bohong. Demi Allah, engkau keluarkan surat itu atau kami akan menelanjangimu.”

Dengan ketakutan, wanita tersebut menyerahkan surat yang ia simpan dalam gelangnya. Ali kemudian menyerahkan surat yang tertulis nama Hatib tersebut kepada Rasul. Hatib pun langsung menjelaskan pada Rasulullah,

“Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama Anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Oleh karena itu, aku ingin ada orang yang bisa melindungi kerabatku di sana.”

Dengan serta merta Umar bin Al Khattab menawarkan diri,

“Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan RasulNya serta bersikap munafik.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan bijak menjawab,

“Sesungguhnya Hatib pernah ikut perang Badar… (Allah berfirman tentang pasukan Badar): Berbuatlah sesuka kalian, karena kalian telah Saya ampuni.”

Baca Juga :

Penyucian Kota Mekkah

Dengan 10.000 sahabatnya, Rasulullah meninggalkan Madinah menuju Mekkah untuk kembali menyucikan kota itu. Ketika malam tiba, Rasul sudah mencapai Marra Dhahraa. Malam itu, Umar bin Khattab pun dipilih untuk menjadi penjaga.

Saat malam itu pula, Abbas berkeliling mencari penduduk Mekkah yang sedang berada di luar agar meminta jaminan keamanan dari Rasulullah. Ia pun berjumpa dengan Abu Sufyan.

Abu Sufyan bertanya,

“Ada apa dengan dirimu, wahai Abbas?”

Abbas menjawab,

“Itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam di tengah-tengah orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy. Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung bighal ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, lalu meminta jaminan keamanan kepada beliau!”

Abu Sufyan pun mengikuti Abbas menuju kepada Rasulullah. Keesokan paginya, Abu Sufyan masuk ke dalam tempat Rasulullah berada. Rasul bersabda,

”Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?”

Abu Sufyan mengatakan,

“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan selain Allah, tentu aku tidak membutuhkan sesuatu apa pun setelah ini.”

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

”Celaka kamu wahai Abu Sufyan, bukankah sudah saatnya kamu mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?”

Abu Sufyan menjawab,

”Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.”

Abbas menyela,

“Celaka kau! Masuklah Islam! Bersaksilah laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!”

Akhirnya Abu Sufyan pun memeluk Islam dengan jujur.

Baca juga :

Tepat pada tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasul bergerak menuju Mekkah. Abu Sufyan diperintahkan untuk berada di sisi kota Mekkah agar bisa melihat betapa besarnya pasukan Nabi Muhammad.

Abu Sufyan berkata, “Subhanallah! Tidak ada pasukan manapun yang bisa menang menghadapi mereka”. Kemudian ia bersegera menuju kaumnya, lalu berteriak, “Wahai orang-orang Quraisy, ini Muhammad. Ia telah datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak akan sanggup kalian lawan”. Mendengar hal itu, orang-orang pun kocar-kacir. Mereka berlarian ke rumah-rumah mereka dan ke masjid (Uyunil Atsar fi Funun al-maghazi wa asy-Syamail wa as-siyar, 2/188).

Rasul kemudian menghancurkan semua berhala yang jumlahnya mencapai 300an dengan busurnya sambil berkata,


جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Qs. Al-Isra’: 81)

جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (Qs. Saba’: 49).

Kemudian beliau memegangi pintu Ka’bah, dan berkata

“لا إِله إِلاَّ الله وحدَّه لا شريكَ له، لَهُ المُلْكُ وله الحمدُ وهو على كَلِّ شَيْءٍ قديرٌ، صَدَقَ وَعْدَه ونَصرَ عَبْدَه وهَزمَ الأحزابَ وحْدَه

“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Merekapun menjawab,

“Saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”

Beliau bersabda,

“Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya:

لاَ تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ

‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!” (as-Sirah an-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam, 5/74).

Kemudian beliau memberikan kunci Ka’bah pada Utsman bin Thalhah dan memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan.

Di hari kedua setelah penyucian kota Mekkah, Rasulullah ﷺ berkhutbah:

“Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat. Tidak halal bagi orang sebelumku (berperang di dalamnya), ataupun orang sesudahku, demikian juga atas diriku, kecuali hanya sementara waktu. Tidak boleh diburu hewan-hewannya. Tidak boleh dicabut durinya. Tidak boleh menebang pepohonanya. Dan tidak boleh diambil barang temuannya, kecuali bagi mereka yang hendak mengumumkannya.” (HR. al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, 4059).

Sejak peristiwa ini, maka penduduk kota Mekkah pun berbondong-bondong masuk Islam. Itulah kisah dari peristiwa Fathu Makkah di bulan Ramadhan yang menjadi bagian dari cerita sejarah islam.

, , ,




Post Date: Saturday 15th, June 2019 / 07:29 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah