Sejarah Sekularisme dalam Islam

Yang dimaksud sekularisme, secara mudah adalah adanya batasan pemisah antara unsur politik dan unsur agama. Maksudnya adalah, antara politik dan agama tidak bisa dijadikan satu. Hal ini dikarenakan untuk menghindari kontradiksi yang berlawanan arah. Tentunya berbeda ceritanya apabila mekanisme yang baik dari islam diadopsi sebagai sistem di suatu negara.

Contohnya perihal beberapa negara eropa yang mulai memprakktekkan kegiatan perbankan tanpa riba. Karena hal tersebut baik ban merupakan upaya yang berguna bagi pengembangan negara mereka sendiri, maka sah-sah saja dilakukan. Adapun contoh-contoh negara islam berdiri menggunakan pemerintahan dengan unsur keislaman dengan memperhatikan batasan-batasan tertentu untuk tetap pada batas sekularis agar pemerintahan mereka stabil. Lalu, bagaimana sejarah sekularisme dalam islam?

Alasan Lahirnya Sekularisme

Paham sekularisme merupakan bentuk dari kekecewaan masyarakat eropa pada abad ke 15. Yang mana pada masa itu eropa jatuh para krisis yang dikenal sebagai masa kegelapan (the dark age). Pada masa itu, pihak Kristen yang sudah melembaga (Gereja) menguasai segala macam aspek pemerintahan, ekonomi, politik, pendidikan dan semuanya.

Hingga sistem pemerintahan yang terjadi menjadi tidak teratur dikarenakan pemerintahan dan dakwah dijalankan secara bersamaan. Disisi lain, Islam kala itu mencapai puncak kejayaan. Yang mana pada akhirmya pada saat perang salib Eropa mengalami kekalahan yang luar biasa. Namun, pergesekan antara islam dan Kristen pada masa tersebut memberikan perspektif baru pada masyarakat eropa.

Mereka mulai mengadopsi aspek pemerintahan yang diterapkan oleh bangsa Islam dengan membaca catatan catatan yunani berbahasa arab dan karya-karya filsuf islam dan pada akhirnya menginspirasi kebangkitan eropa di abad berikutnya. Sejatinya, penggabungan antara pemerintahan dan keyakinan beragama di kalangan kristen sebenarnya sudah menyalahi falsafah kristen itu sendiri.

Pasalnya di falsafah mereka, dikenal yang namanya “Dua kerajaan” Yaitu kerajaan Langit dan Kerajaan Bumi. Yang memiliki makna kekuasaan atas dunia tidak bisa digabungkan dengan kekuasaan atas langit. Sehingga saaat disatukan menjadi “satu kerajaan” (Pemerintahan dibawah naungan gereja) maka sudah salah.

Sekularisme Islam pada Zaman Rasulullah

Dalam sejarah sekularisme dalam islam, di zaman pemerintahan yang ada pada masa Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam, sekularisme sudah dipraktekkan. Rasulullah sendiri lah yang mencontohkan untuk membedakan antara kegiatan pemerintahan dan kenabian. Hal ini dikarenakan pada saat itu rasulullah yang menjadi kepala kekuasaan di madinah, paham bahwasannya rakyatnya tidak hanya berasal dari kalangan muslim saja.

Rasulullah salalallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh bahwa, kekuasaan dan agama merupakan dua hal yang berbeda dan harus dipisah. Hal ini dibuktikan tatkala Rasulullah menjadi kepala negara di Madinah. Dalam memerintah, Title yang dipegang dibelakang nama Muhammad bukanlah Rasulullah, melainkan Bin Abdullah.

Sejarah penandatanganan Piagam Madinah pun juga menjadi bukti konkrit pada masa itu, bahwasannya simbol Allah (lafaz bismillahirrahmanirrahim) di Piagam Madinah dihapuskan dan diganti dengan Muhammad Bin Abdullah, atas usulan orang Yahudi, yang kemudian diterima dan disepakati. Piagam tersebut merupakan bukti yang kredibel yang mana memberikan pemahaman atas politik yang diajarkan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam tugasnya sebagai rasul Allah, beliau menjalankan misi ketuhanan dan kemanusiaan berdasarkan kepada wahyu. Sedangkan ketika bertugas sebagai penguasa, beliau menjalankan misi kenegaraan dan kemanusiaan berdasarkan pada pendapat pribadi dan juga pendapat warga negara yang lain melalui asas musyawarah.

Apakah Sekularisme itu Baik?

Jika Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan demikian, maka tentu saja hal itu baik. Kita tidak bisa mengingkari apabila kita menilik kedua contoh diatas yang mana berdasarkan pada sejarah rakyat eropa pada masa kegelapan (the dark age) dibandingkan dengan masa kejayaan Islam.

Tentu harus ada tembok pemisah antara urusan langit dan urusan bumi. Pasalnya urusan bumi merupakan urusan untuk manusia, sedangkan urusan langit merupakan urusan untuk Allah dan diri sendiri.

Cara Menghindari Paham yang Bertentangan dengan Sekularisme

Tentu dalam memahami secara penuh arti dari sekularisme, kita harus mengetahui hal-hal yang harus dihindari agar pemerintahan dan urusan keagamaan yang ada tidak berbenturan satu sama lain. Baik hukumnya bila berjalan beriringan, namun juga harus memperhatikan beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain :

1. Toleransi antar umat beragama

Menghargai pendapat agama lain tentu saja sudah dicontohkan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan tidah boleh diingkari terhadapnya. Memerangi suatu agama tanpa alasan juga tidak dibenarkan, pasalnya hal tersebut bisa mendatangkan konflik yang lebih banyak mudharat dibandingkan manfaatnya.

2. Tidak menyerukan perihal pembentukan negara satu agama

Pencanangan pembentukan negara islam sering kita dengar dari masyarakat kita sendiri. Mereka berpendapat bahwa aturan yang baik adalah aturan yang berasal dari  Al-Qur’an dan Hadist. Yang tentu saja benar adanya. Namun, apabila aturan dari Al-Qur’an dan Hadist diterapkan sebagai aturan negara, maka secara otomatis, pihak-pihak non muslim juga akan terikat dengan aturan tersebut. Dan hal itu akan menciderai toleransi antar umat beragama.

Kita harus memahami bahwasannya Aturan dari Al-Qur’an dan Hadist merupakan petunjuk untuk umat manusia. Yang mana orang-orang yang harus mengamalkannya adalah diri kita sendiri, baik apabila diingatkan kepada orang lain namun apabila dipaksakan kepada orang-orang yang bahkan bukan non muslim, hal itu bisa saja menyulut perpecahan.

3. Belajar secara seimbang atas ilmu politik dan ilmu keagamaan

Hal ini bisa menjadi tolak ukur kecerdasan. Seperti yang dilakukan oleh perbankan di eropa, sudah banyak yang mulai melaksanakan kegiatan perbankan tanpa riba. Meskipun kita bisa paham bahwa kemungkinan pelopornya tidak semuanya adalah para cendikiawan muslim, namun mengadopsi yang baik karena paham ilmunya tentu saja boleh. Diadopsi dan dilaksanakan sebagai upaya untuk menjadikan sistem yang lebih baik. Tentu saja dalam mengesahkannya harus ada musyawarah yang disepakati oleh setiap pihak yang bersangkutan.

Demikianlah penjelasan perihal sejarah sekularisme dalam islam. Semoga apa yang dijelaskan diatas dapat menjadi penambah keimuan agar kita lebih bijaksana dibanding hari kemarin. Amin  InsyaAllah.

Hamsa,