13 Cara Bertamu yang Baik Dalam Islam

Manusia adalah mahluk sosial. Sejak dilahirkan hingga meninggal, setiap manusia pasti memerlukan bantuan dari orang lain. Hal ini sudah menjadi fitrah bagi manusia dan diatur dalam Islam (hablum minannas).

Salah satu bentuk hubungan manusia dengan manusia lainnya adalah silaturahmi. Setiap orang pasti pernah bersilaturahmi atau menerima tamju, sebagaimana dalam sebuah hadist:

“Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR.Bukhari dan Muslim).

Baca juga:

Adab bertamu dalam Islam

Salah satu bentuk silaturahmi adalah dengan bertamu atau mengunjungi kerabat, teman atau saudara. Dalam bertamu, Islam telah mengajarkan adab-adab yang seharusnya dilakukan agar silaturahmi dapat memberikan kemaslahatan bagi tamu maupun si tuan rumah.

  1. Menggunakan pakaian yang rapi dan sopan

Dengan menggunakan pakaian yang rapi dan, berarti Anda sopan menghargai diri sendiri dan sang tuan rumah. Tamu dengan pakaian yang rapi dan sopan akan lebih dihargai oleh tuan rumah.

Sebagaimana firman Allah SWT:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآَخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا (7)

Artinya:

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (17: 7)

  1. Mengetuk pintu tiga kali

Ketuklah pintu hingga tiga kali, jika belum ada jawaban juga, maka sebaiknya Anda pulang.

Sebagaimana sabda Rasul:

“Meminta izin itu tiga kali, jika diizinkan maka masuklah, jika tidak, maka pulanglah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meminta izin dengan mengetuk pintu hingga tiga kali juga dijelaskan dalam Al-Quran.

“ Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.An-Nur:28)

  1. Minta izin dan mengucapkan salam sebelum masuk rumah

Allah SWT berfirman:

 Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (Q.S. AN-Nur:27)

[AdSense-B]

Dalam sebuah riwayat, bahwasanya seorang laki-laki meminta izin ke rumah Nabi Muhammad SAW sedangkan beliau ada di dalam rumah. Ia berkata : bolehkah aku masuk? Rasul bersabda pada pembantunya: temuilah orang itu dan ajarkan kepadanya minta izin dan katakan kepadanya agar ia mengucapkan “Assalamualaikum, bolehkah aku masuk?”. Lelaki itu mendengar apa yang diajarkan Rasul, lalu ia berkata “Assalamualaikum, bolehkah aku masuk?”. Rasul memberi izin kepadanya, lalu masuklah ia. (HR.Abu Daud).

Hikmah yang terkandung dalam permintaan izin memasuki rumah saat bertamu adalah untuk menjaga pandangan mata, sebagaimana sabda Rasul:

“Meminta izin itu dijadikan suatu kewajiban karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR.Bukhari dan Muslim).

  1. Tidak boleh mengintip ke dalam rumah

Walaupun niat Anda hanya untuk memastikan apakah ada orangatau tidak di dalam rumah, tapi Anda tetap tidak diperkenankan untuk mengintip ke dalam rumah.

Rasulullah bersabda:

Dari Sahal bin Saad ia berkata: ada seorang lelaki mengintip dari sebuah lubang pintu rumah Rasulullah SAW dan pada waktu itu beliausedang menyisir rambutnya. Maka Rasulullah SAW bersabda : “Jika aku tahu engkau mengintip, niscaya aku colok matamu. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk meminta izin itu adalah karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR.Bukhari)

Disebutkan juga dalam riwayat lainnya bahwa:

“Barang siapa melongok ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka mereka boleh mencungkil matanya, tanpa harus membayar diyat dan tanpa qishash.” (Syarh Shahaih Muslim dna Fathul Bari).

  1. Kenalkan diri sebelum masuk rumah

Jika tuan rumah belum mengenali siapa Anda,maka perkenalkanlah diri Anda terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk ke dalam rumah.

Diriwayatkan dalam sebuah hadist :

“ Dari Jabir ra ia berkata: aku pernah datang kepada Rasulullah SAW, lalu aku mengetuk pintu rumah beliau. Nabi SAW bertanya: “Siapakah itu?” Aku menjawab: “Saya” Beliau bersabda: “Saya, saya…!” seakan-akan beliau marah.” (HR.Bukhari).

Hadist ini menunjukkan bahwa jika sang tuan rumah bertanya kepada tamu, maka hendaklah menjawab dengan menyebutkan nama, bukan hanya sekedar menyahut.

[AdSense-A]

  1. Laki-laki dilarang bertamu ke rumah yang hanya terdapat seorang perempuan di dalamnya

Tidak diperbolehkannya seorang lelaki masuk ke dalam rumah yang di dalamnya hanya seorang perempuan adalah untuk menghindari fitnah. Sebaiknya bertamulah di luar rumah atau teras saja. Hal ini juga untuk menghindari diri perempuan dari bahaya terhadap lelaki tersebut.

  1. Duduk dengan sopan

Setelah tuan rumah mempersilakan masuk ke dalam rumah, hendaklah duduk dan bertamu dengan sopan.  Jangan menebar pandangan kemana-mana karena akan membuat tuan rumah menjadi tidak nyaman dan curiga.

Islam juga mengatur cara duduk yang sopan dalam bertamu,yakni:

  • Tidak membangkitkan orang yang sudah duudk agar Anda bisa duduk di tempat itu.
  • Orang yang berhak duduk di satu tempat adalah yang pertama mendudukinya
  • Tidak duduk dengan cara menyela dua orang yang sudah duduk
  • Tidak duduk di tengah-tengah majelis
  • Duduk dengan membaca basmallah dan dzikir kepada Allah
  1. Menerima jamuan dengan baik

Jika tuan rumah telah menyiapkan jamuan untuk Anda, maka terimalah dengan senang hati. Jangan tampakkan wajah tidak suka terhadap jamuannya. Segera nikmati jamuan begitu tuan rumah mempersilakan, jangan menunggu dipersilakan hingga berkali-kali.

Baca juga:

  1. Nikmati jamuan dengan basmallah dan akhiri dengan hamdallah

Rasulullah bersabda:

Jika seseorang diantara kamu hendak makan maka sebutlah nama Allah, jika lupa menyebut nama Allah pada awalnya, hendaklah membaca: Bismillahi awwaluhu waakhiruhu.” (HR. Abu Daud)

  1. Makanlah dengan tangan kanan dan pilih makanan yang paling dekat

Islam mengajarkan adab makan dan minum dengan tangan kanan, tidak sopan dengan tangan kiri kecuali tangan kanan sedang bermasalah.

  1. Habiskan hidangan hingga piring bersih

Dengan menghabiskan makanan yang ada di piring berarti menunjukkan penghargaan Anda kepada si tuan rumah.

  1. Pulang dengan segera

Jangan terlalu lama dalam bertamu karena tuan rumah bisa saja bosan dan ingin melakukan aktivitas lainnya.  Perhatikan sikap tuan rumah pada Anda saat berbicara, jika ia merasa gelisah, sebaiknya anda segera mengakhiri kunjungan Anda.

Baca juga:

  1. Bertamulah sesuai waktu yang dianjurkan

Diriwayatkan oleh sahabat Anas:

“Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Biasanya ia datang kepada mereka pada waktu pagi atau sore.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Dari hadist di atas kita mengetahui bahwa waktu yng baik untuk bertamu adalah sebelum isya. Islamtelah memberikan aturan waktu bertamu, yakni jangan bertamau di waktu aurat. Waktu aurat adalah sehabis dzuhur, sesudah isya’, dan sebelum subuh.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (58) وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (59)

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang isya;. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nur:58)

[AdSense-C]

Manfaat bersilaturahmi

Silaturahmi bukan hanya sekedar mempererat hubungan antar manusia, tapi juga ada banyak manfaat lainnya. Sebagaimana terlihat dalam beberapa hadist:

“Barang siapa yang menginginkan diperluas rezekinya dan diperpanjang umurnya maka sebaiknya ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)

“Bersilaturahmi baik budi pekerti dan bertetangga yang baik, akanmeramaikan kampung dan dapatmenambah umur.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Dari beberapa hadist di atas dijelaskan bahwa silaturahmi memberikan banyak kemaslahatan bagi tamu maupun yang menerima tamu. Selain itu, dapat menumbuhkan sikap toleran terhadap orang lain, membawa ampunan, mendapat ridho dari Allah, membuat iblis dan setan marah. Silaturahmi bukan hanya sekedar mendatangi rumah kerabat, tapi juga bisa dilakukan melalui teknologi seperti panggilan telepon, SMS, bahkan media sosial.

Baca juga:

Demikianlah artikel mengenai 13 cara bertamu yang baik dalam Islam. Semoga artikel ini bermanfaat dan kita semua dapat mencontoh teladan Rasulullah SAW. Amin.

4 Hikmah Silaturahmi Antar Saudara dan Hadistnya

Manusia adalah makhluk sosial. Dimanapun dan kapanpun manusia pasti membutuhkan manusia yang lainnya untuk bisa membantu, saling menolong, mendukung, bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Untuk itu, dalam islam silaturahmi sangat penting. Hal ini menjadi bagian dari Tujuan Penciptaan Manusia dalam Islam, Proses Penciptaan Manusia, Hakikat Penciptaan Manusia, Konsep Manusia dalam Islam, dan Hak dan Kewajiban dalam Islam .

Manusia tidak hanya membutuhkan aspek materi, namun juga membutuhkan aspek lainnya seperti kasih sayang, cinta, perhatian, dan dukungan dari orang lain. Tanpa adanya silaturahmi tentu hidup manusia akan hambar dan tidak akan berwarna.

Pengertian dan Hadist Bersilaturahmi

Silaturahmi berasal dari kata shilah yang artinya hubungan dan rahim artinya kerabat. Rahim sendiri juga berasal dari Ar Rahmah yang berarti kasih sayang, sehingga sering disebut dengan berkasih sayang atau menjalin kekerabatan pada istilah silaturahmi.

Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda bahwa,

[box title=”” align=”center”]“Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi”. (HR Bukhari)[/box]

Menyambung silaturahmi menurut hadist di atas juga termasuk ke dalam bagian dari ajaran islam. Untuk itu Rasulullah memerintahkan agar umat islam menjaga dan menyambung kekerabatan khususnya bagi sesama muslim. Silaturahmi sesama muslim juga bagian dari membangun Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, Akhlak Dalam Islam, Hubungan Akhlak dengan Iman, Cara Meningkatkan Akhlak,  dan memahami Tasawuf Akhlaki .

Di hadist yang lain juga disbeutkan bahwa “Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan” (HR Bukhari dan Muslim). Hal ini berarti sangat penting hubungan silaturahmi dilakukan dan dengan itulah umat islam bisa kuat dan saling menyokong satu sama lain. Jika tidak maka akan bercerai berai.

[AdSense-B]

Hikmah dari Silaturahmi

Ada banyak sekali hikmah silaturahmi dan manfaat yang bisa didapatkan. Tentunya, semua hikmah silaturahmi membawa manfaat yang positif dan terasa dalam hidup kita jika dijalankan secara konsisten. Berikut adalah 6 manfaat atau hikmah silaturahmi menurut islam.

  1. Merekatkan Ukhuwah

Dengan bersilaturahmi kita bisa merekatkan ukhuwah islamiyah. Sebagai manusia tentu saja kita tidak bisa lepas dari salah dan khilaf. Pasti saja ada masalah-masalah dan konflik yang terjadi bahkan sering kali kita menyakiti hati orang lain. Silhaturahmi memberikan manfaat untuk merekatkan kembali ukhuwah dan juga kekerabatan yang mulai pupus atau berkurang.

Pengertian Ukhuwah Islamiyah, Insaniyah dan Wathaniyah adalah kesatuan antara sesama muslim tanpa memandang lagi batasan atau perbedaan di antara muslim baik suku, bahasa, budaya. Asalkan masih tetap dalam ketauhidan.

Bisa juga karena jarak dan waktu sering kali kita tidak pernah menyapa bahkan mendengar kabar saudara atau sahabat lama kita. Untuk itu, inilah manfaat silahutrahmi. Sebagaimana juga Rasulullah sampaikan,

[box title=”” align=”center”]“Orang yang menghubungkan silaturahmi bukanlah orang yang membalas hubungan baik. Akan tetapi, orang yang menghubungkan silaturahmi adalah orang yang ketika kekerabatannya diputus, ia menghubungkannya.”  (HR Bukhari)[/box]

  1. Memberbanyak Rezeki

Dalam beberapa hadist dan juga apa yang dikatakan oleh umat islam, bersilhautrahmi bisa memperbanyak rezeki. Tentu saja rezeki ini bisa bersifat langsung ataupun efek yang tidak langsung. Misalnya saja, dengan bertemu shaabat kita bisa menawarkan produk bisnis kita, membangun bisnis bersama, atau mendapatkan berkah lainnya dari silaturahmi. Dzikir Pembuka Rezeki  salah satunya dengan kita melaksanakan silahutrahmi.

Tentu saja, hal ini harus diniatkan dengan ikhlas dan lillhitaalla mengharap ridha Allah SWT bukan sekedar mengharap imbalan atau pemberian orang lain. Orang yang berniat ibadah Allah akan berikan berlipat ganda, sedangkan yang tidak ikhlas dan tidak lurus beribadah akan mendapat hanya yang dia inginkan saja.

  1. Saling Mengenal dan Memperluas Persaudaraan

Dengan bersilahutrahmi kita juga bisa saling mengenal dan memperluas persaudaraan. Awalnya hanya mengenal satu orang, kemudian akan banyak mengenal sahabat-sahabat atau saudara yang lain yang bisa jadi tidak kita kenali sebelumnya. Tanpa islahturahmi tentu hal ini sulit terjadi. Kita tidak akan mengenal keluarga, sahabat yang lain, padahal semua umat islam adalah saudara. Inilah Fungsi Agama  yang memerintahkan silaturahmi. Membawakan efek yang sangat baik bagi kehidupan manusia.

[AdSense-C]

  1. Menambah Ilmu dan Hikmah Hidup

Masing-masing orang tentunya memiliki cerita hidup, hikmah, dan pengalaman yang berbeda-beda. Jika sering bersilaturahmi maka kita akan bisa untuk menambah ilmu dan hikmah hidup yang banyak dari berbagai orang. Jika tidak bersilhaturahmi kita hanya mendapat hikmah dan ilmu dari diri kita saja dan orang yang terdekat. Islam dan Ilmu Pengetahuan  tentu sangat berhubungan erat, untuk itu pasti dalam hidup kita membutuhkannya dan harus selalu memperharuinya.

Menjalin silaturahmi akan memperluas ilmu, khazanah pengetahuan, dan berbagai pelajaran hidup lainnya. Sehingga kita bisa meluaskan pandangan, lebih empati, dan juga mendapatkan pencerahan yang bervariasi. Hidup kita pun lebih berwarna dan kita bisa lebih bijak menyelesaikan persoalan.

  1. Menambah Empati dan Menjauhi Sikap Egois

Bersilaturahmi juga bisa menambah empati dan menjauhi sikap egois. Saat bersilhautrahmi kita dibiasakan untuk menghargai orang lain, menghormati mereka, mendengarkan cerita dan masalahnya dan hal-hal lainnya. Untuk itu, silahutrahmi secara tidak langsung jika dijalankan secara konsisten akan membentuk empati dan menjauhi sikap egois.

Mencari Ketenangan dalam Islam Sesuai Dalil Al-Quran salah satunya harus memperkuat emosi kita dengan hal positif seperti empati dan menjauhi sikap egois melalui aktifitas silaturahmi.

  1. Menambah Kekuatan dan Kesatuan Islam

Dalam kacamata islam, Rasulullah sering kali menyuruh umat islam untuk saling bersatu agar tidak bercerai berai. Tentu saja efek silaturahmi kekuatan umat islam bisa bersatu dan saling bahu membahu. Andai umat islam hidup individualistis dan tidak saling membantu, maka umat islam bisa bercerai berai dan kesatuan islam akan terancam. Untuk itu dibutuhkan saling bersilaturahmi.

Waktu yang Tepat Untuk Bersilahturahmi

Untuk bersilaturahmi tentu saja kita harus mempertimbangkan etika dalam pemilihan waktu. Waktu yang tidak tepat tentu akan mengganggu orang yang kita datangi dan temui. Jika kurang tepat maka pasti akan mengganggu kenyamanan dan perasaan dalam bersilahutrahmi. Maka lebih baik mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum mendatangi orang yang dituju.

  1. Hari Raya Umat Islam

Hari besar umat islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha adalah waktu yang tepat untuk bisa saling bersilaturahmi dan maaf memaafkan. Waktu-waktu ini setelah shalat id biasanya menjadi moment yang putih, suci, dan bersih sehingga umat islam bisa saling membuka hati memberikan ruang kembali pada keluarga, sahabat, dan kerabatnya, apalagi jika pernah menuai konflik atau kesalahan di masa lalu.

  1. Menyesuaikan dengan Waktu Kerabat

Jika kita hendak bersilaturahmi di luar waktu idul adha dan idul fitri, maka hendaknya kita membuat janji atau bertanya terlebih dahulu kepada orang yang dituju. Tentunya agar tidak mengganggu, tidak nyaman, sehingga membuat suasana silahutrahmi menjadi kurang berbahagia.

Walaupun silaturahmi adalah ibadah, penting kiranya kita selalu memperhatikan waktu ini sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kita terhadap saudara atau kerabat. Itulah mengapa kita dapat mengambil banyak manfaat dan hikmah silaturahmi antar saudara.

[accordion]
[toggle title=”Artikel Terkait”]

[/toggle]
[toggle title=”Artikel Lainnya”]

[/toggle]
[/accordion]