Adakah Doa untuk Menolak Hujan? – Hukum – Dalil

Bismillahirrahmanirrahim.

Hujan merupakan salah satu bentuk rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Banyak amal shalih yang dianjurkan untuk kita lakukan pada saat hujan. Tapi tetap saja kebanyakan orang masih merasa bahwa hujan adalah sebuah musibah karena menjadi salah satu penyebab banjir, jalanan becek, terganggunya suatu kegiatan, dan lain-lain. Benarkan semua itu karena hujan? Lalu bolehkah manusia meminta kepada Allah agar hujan tidak turun atau dapatkah manusia menolak turunnya hujan?

Berikut penjelasan para ulama terkait turunnya hujan dilansir dari muslim.or.id

  1. Hujan adalah kuasa Allah semata.

Hal ini tersirat pada quran surat al-waqiah ayat 68 sampai 69.

”Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)

Tidak ada sesuatu yang sia-sia jika Allah yang menentukannya. Turunnya hujan adalah salah satu bukti kekuasaan Allah dalam mengatur alam semesta. Allah mengetahui bahwa tanah yang tandus butuh air agar tanaman-tanaman yang indah dan bermanfaat dapat tumbuh, meskipun manusia tidak menyadari itu. Mungkin di suatu daerah hujan dianggap suatu yang biasa saja, tetapi untuk daerah yang lainnya, hujan bisa saja merupakan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Hal ini terdapat dalam quran surat Al-Fushsilat ayat ke 39:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41] : 39).

Sehingga, manusia tidak dapat menolak ataupun mengatur kapan atau dimananya hujan itu harus turun. Melalui ilmu pengetahuan, manusia pun hanya dapat memperkirakannya.

Baca juga:

  1. Berdoalah kepada Allah

Berdoa agar hujan yang datang adalah hujan yang akan memberi manfaat dan tidak merusak apapun. Ketika hujan turun dengan derasnya secara terus menerus, sebagian dari kita pasti khawatir hujan tersebut akan menimbulkan suatu bencana. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam mengajarkan sebuah doa yang bertujuan untuk memohon kepada Allah agar Allah menurunkan hujan yang tidak menimbulkan kerusakan dan agar Allah memalingkannya ke tempat-tempat yang memang sangat membutuhkan hujan tersebut.

“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”

Dalam hadits Anas bin Malik, doa tersebut dipanjatkan ketika hujan tak kunjung berhenti selama seminggu, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memohon pada Allah agar cuaca kembali cerah. (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897).

Doa tersebut juga terdapat versi lebih pendeknya, yakni:

“Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa” [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan yang merusak kami]

Maka, kita memang tidak bisa menolak turunnya hujan, tetapi kita bisa memohon kepada Allah agar dihindarkan dari dampak buruk turunnya hujan yang terus menerus. Terlebih untuk saudara-saudara kita yang berada di daerah rawan banjir, sangat dianjurkan untuk membaca doa ini.

Baca juga:

[AdSense-B]

  1. Dilarang untuk mencela hujan meskipun di dalam sebuah doa.

Seringkali terdengar dari lisan manusia kata-kata seperti, “Aduh hujan lagi!” atau, “Yah, hujan!” dan semacamnya. Meskipun sebagian dari mereka sudah memahami bahwa hujan merupakan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, hal ini dilarang karena mencela hujan sama saja dengan mencela rahmat-Nya.

Terlebih hujan adalah salah satu ciptaannya yang tidak mengetahui apa-apa dan tidak bersalah karena semuanya tetap Allah yang mengatur. Manusia harus selalu ingat bahwa setiap perkataannya akan dicatat oleh malaikat dan kita tidak tahu mana perkataan yang dapat menjerumuskan ke surga dan bisa saja ada perkataan yang dapat menjerumuskan seseorang ke neraka. Naudzubillahimindzalik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”[HR. Bukhari no. 6478]

baca juga:

Pada intinya, memang tidak ada dalil yang menerangkan tentang doa menolak hujan, karena hujan merupakan kuasa sekaligus rahmat-Nya atas seluaruh manusia di muka bumi ini. Hanya saja, kita bisa memohon kepada-Nya agar hujan yang turun ke bumi membawa manfaat dan tidak sampai menimbulkan kerusakan. Selain itu, tidak semua kerusakan seperti banjir, tanah longsor, dan semacamnya merupakan akibat dari hujan semata. Pasti ada campur tangan dan kesalahan manusia di dalam peristiwa tersebut.

Contoh sederhananya adalah, membuang sampah sembarangan, menebang pohon sembarangan sehingga tanah gundul, dan mengurangi daerah resapan air dengan membangun berbagai macam bangunan mewah dan megah yang sebetulnya tidak terlalu diperlukan bahkan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Kalau bukan manusia, siapa lagi yang melakukannya?

baca juga:

Peristiwa Hujan Batu dalam Alquran

Apakah anda pernah mendengar kisah tentang hujan batu? Jika anda tak mempercayainya, maka peristiwa hujan batu pernah benar-benar terjadi dan diabadikan dalam alquran. Bahkan, di dalam islam, mungkin peristiwa itu menjadi salah satu yang harus kita imani.

Hujan Batu untuk Tentara Raja Abrahah

Peristiwa hujan batu terselip dalam surat Al Fiil yang menceritakan tentang peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Peristiwa ini terjadi di tahun yang sama dengan kelahiran Rasulullah Shalallahi’alaihi wa Sallam. Berikut ayat yang membahas peristiwa ini,

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fiil: 1-5).

Pada peristiwa ini, pasukan gajah atau ashabul fiil yang digerakkan oleh Raja Abrahah bermaksud menghancukan rumah Allah atau Ka’bah. Mereka menyiapkan diri dengan ribuan bala tentara yang termasuk dengan pasukan gajah tersebut yang kekuatannya dipercaya dapat menghancurkan ka’bah. Belum jelas apakah pasukkan gajah itu terdiri dari tentara-tentara yang masing-masingnya menaiki satu gajah, atau hanya terdapat satu gajah di dalam pasukkan.

Baca juga:

Ketika tentera bergajah tersebut mendekati Makkah, orang-orang Arab ketakutan dan memilih untuk bersembunyi karena tidak memiliki apa-apa untuk menghadang mereka. Ketika itulah Allah menurunkan bala bantuan, berupa bantuan burung-burung yang berpencar, datang secara kelompok demi kelompok dan masing-masingnya membawa batu untuk melindungi ka’bah.

Batu-batu yang dibawa oleh para burung itu digunakan untuk meempari para pasukan bergajah, Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, batu-batu yang dibawa oleh para burung tersebut berasal dari lumpur yang dibentuk menjadi batu. Ada juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut merupakan batu yang telah dibakar. Dalam surat Al Fiil, pasukan yang terkena batu tersebut akan hancur seperti daun-daun yang dimakan.

Baca juga:

[AdSense-B]

Hujan Batu untuk Kaum Nabi Luth

Selain pada peristiwa penyerbuan kabah oleh raja Abrahah, hujan batu juga diceritakan dalam Alquran pernah diturunkan untuk kaum Sodom, yakni kaum Nabi Lut yang sebagian besarnya gemar melakukan perbuatan yang keji. Mereka tidak juga berubah meskipun telah diberi peringatan oleh Nabi Luth.

Mereka gemar melakukan hubungan sesama jenis, perilaku homoseksual dan lesbian sangat marak pada zaman itu, sehingga Allah mengazab mereka dengan hujan batu sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-A’raf ayat ke 84, Hud ayat ke 82, Al Hijr ayat ke 74, Al- Furqon ayat ke 40 dan Asy-Syuara ayat ke 173:

“Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.” (QS Al-A’raf:84)

“Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir-balikkan negeri kaum Lut, dan kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar,” (Q.S Hud: 82)

[AdSense-A] “maka Kami jungkir-balikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras” (Q.S Al-Hijr: 74)

“Dan sungguh, mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui negeri (Sodom) yang (dulu) dijatuhi hujan yang buruk (hujan batu). Tidakkah mereka menyaksikannya? Bahkan mereka itu sebenarnya tidak mengharapkan hari Kebangkitan.” (Q.S Al-Furqan:40)

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu” (QS. Asy-Syu’arâ: 173).

“Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu” (QS. An-Naml : 58).

Hujan batu tersebut memporak-porandakan tempat tinggal sekaligus merenggut nyawa mereka, kita kota Sodom rata dengan tanah.

Baca juga:

Hujan Batu sebagai Azab Allah

Pada surat Al-Ankabut ayat ke 40 juga disebutkan bahwa hujan batu kerikil merupakan salah satu dari banyaknya azab Allah yang diturunkan kepada orang-orang yang berdosa , yang disebutkan pada ayat sebelumnya.

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S Al-Ankabut: 40)

Demikianlah kisah-kisah peristiwa hujan batu yang terdapat dalam al-quran. Alquran merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah, yang mengandung kabar-kabar gembira untuk orang-orang yang beriman tentang kasih sayang Allah dan ganjaran terbaik yakni surga kelak sekaligus pembawa peringatan untuk orang-orang yang ingkar kepada Allah. Oleh karena itu, kita harus mengimani bahwa peristiwa hujan batu itu pernah terjadi kepada umat-umat terdahulu yang ingkar kepada Allah sebagai peringatan untuk kita bahwa azab Allah itu nyata dan pelajaran agar umat islam saat ini tidak melakukan hal-hal yang membuat Allah murka.

Wallahu’alam.

15 Makna Hujan dalam Islam – Berkah atau Musibah?

Hujan merupakan kejadian alam yang sering kita temui di Indonesia yang beriklim tropis. Seringkali hujan yang datang merupakan hujan yang ditunggu-tunggu, terutama oleh para petani, yang berbulan-bulan sebelumnya merasa kesulitan air dan mengalami kekeringan. Namun, tidak jarang hujan disambut dengan penuh antisipasi akan datangnya banjir, macet atau bencana alam lain di wilayah-wilayah tertentu.

Dari hal di atas, kita mungkin berpikir bahwa hujan bisa menjadi berkah dan bisa juga menjadi bencana, tergantung apa yang dibawanya. Seakan-akan hujan hanyalah fenomena alam biasa yang memiliki sisi positif dan negatif untuk manusia. Padahal, dalam Islam hujan memiliki makna dan arti yang sangat spesial. Oleh karena itu, simak terus pembahasan di bawah mengenai 15 makna hujan dalam Islam:

  1. Hujan adalah berkah

Di dalam al Quran terdapat ungkapan bahwa hujan adalah berkah, yaitu ayat yang berbunyi, “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf (50) : 9).

Dari ayat-ayat di atas, kita mengetahui bahwa Allah menurunkan hujan sebagai rahmatnya sesuai dengan kebutuhan seluruh makhluk-Nya. (Baca juga: Hujan menurut Islam)

  1. Allah memenuhi kebutuhan semua makhluk-Nya

Dengan adanya hujan, tumbuh-tumbuhan akan kembali subur, hewan-hewan bisa mendapat minum yang cukup, dan manusia juga bisa memenuhi kebutuhan dan melakukan aktivitasnya tanpa terganggu. Maka, hujan merupakan cara Allah memenuhi kebutuhan makhluk-Nya untuk melanjutkan hidupnya. (Baca juga: Dzikir Pembuka Rezeki)

Dalam surat al Anbiya’ ayat 30, Allah berfirman, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Menurut Al Baghowi, tafsir ayat di atas “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu”.

  1. Rahmat Allah selalu cukup dan sesuai menurut perhitungan-Nya

Hujan merupakan bentuk dari keseimbangan alam yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa ada hujan, kuantitas air di bumi tidak akan mencukupi untuk mendukung kehidupan di dalamnya. Tidak hanya kehidupan manusia, melainkan juga kehidupan tumbuhan dan hewan. (Baca juga: Doa Agar Dimudahkan Rezeki)

Dalam surat Az Zukhruf ayat 11, Allah berfirman, “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)”.

  1. Dunia diciptakan dengan penuh keseimbangan

Berkaitan dengan poin sebelumnya, dimana Allah Menurunkan hujan sesuai kadar perhitungan-Nya, maka kita bisa mengambil hikmah bahwa dunia dan seisinya diciptakan dengan seimbang. Tidak ada kelebihan atau kekurangan yang diberikan oleh Allah. Jika memang ketika hujan terjadi banjir atau bencana alam, bisa dipastikan bahwa itu adalah hasil dari kerusakan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

baca juga:

[AdSense-B]

  1. Menunjukkan kebesaran Allah

Jika ilmuwan masa kini sudah mengetahui proses terjadinya hujan berkat kemajuan teknologi yang dimiliki, Allah sudah menunjukkan kebesaran ilmu-Nya dengan menjelaskan proses hujan dalam al Quran. Di surat An Nur ayat 43, “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”

  1. Memberi kabar gembira

Selain merupakan berkah, turunnya hujan juga memiliki makna datangnya kabar gembira bagi manusia. Setelah cukup lama manusia mengalami kekeringan, gagal panen karena kurangnya air dan banyak musibah lain akibat tidak turunnya hujan, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan hujan yang membawa kegembiraan untuk manusia. hal ini tercermina dalam surat Asy Syuura ayat 28 yang berbunyi, “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.”

baca juga:

  1. Sebagai pengingat bagi manusia

Dalam hadis dikatakan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu khawatir pada saat muncul mendung, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Dari hadis tersebut, kita bisa mengambil hikmah bahwa hujan bisa bermakna bahwa kita harus selalu takut dan memohon perlindungan Allah dari murka-Nya. (Baca juga: Azab Menghina Al-Quran)

  1. Memunculkan rasa syukur di hati manusia

Di poin sebelumnya dikatakan bahwa hujan merupakan berkah dari Allah. Maka, pada saat hujan artinya kita diingatkan untuk selalu bersyukur pada Allah. Bahwa dengan turunnya hujan tersebut Allah masih menjaga kehidupan kita dan memberi rahmat-Nya pada kita.

Baca juga:

Hal ini tercermin dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an”. Arti dari doa tersebut adalah “Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat”.

[AdSense-A]

  1. Mengajak manusia untuk berpikir

Dalam surat al Waqiah ayat 68-69, Allah berfirman ”Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kami kah yang menurunkannya?”

Baca juga:

Dari ayat tersebut Allah mengajak kita untuk merenungkan bahwa semua terjadi karena kebesaran dan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, kita harus selalu beriman kepada Allah yang Maha Kuasa.

  1. Bahwa manusia tidak boleh sombong

Berkaitan dengan poin sebelumnya, dimana Allah mengajak kita untuk berpikir tentang air yang kita minum bahkan diciptakan dan diberikan oleh Allah. Maka, kita sebagai manusia tidak memiliki sedikit pun hal yang bisa disombongkan. Sungguh, semua hal ada karena Allah lah yang menciptakannya. (Baca juga: Sombong dalam Islam)

  1. Allah yang Menciptakan segala sesuatu

Di dalam al Quran, juga terdapat ayat-ayat lain yang berisi tentang berkah hujan. Seperti dalam surat Fushshilat ayat 39, berbunyi “Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

baca juga:

  1. Sebagai penyuci dalam thaharah

Turunnya hujan berarti turunnya air yang suci untuk manusia. Dalam surat al Anfal ayat 11 disebutkan, “Dan Dia menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu”. Dengan demikian, air hujan bisa menjadi penyuci diri kita dari kotoran dan najis yang ada. (Baca juga: Cara Membersihkan Najis)

  1. Memberi kesempatan manusia untuk berdoa

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni menganjurkan kita untuk berdoa saat hujan turun. Hal ini didasarkan pada riwayat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2) Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun. (Baca juga: Doa Agar Dimudahkan Rezeki)

  1. Penunjuk kewajiban shalat berjamaah

Selama ini kita mungkin berpikir bahwa shalat berjamaah bukanlah merupakan kewajiban. Dari Ibnul Qayyim rahimahullah, “Tentang wajibnya shalat jama’ah, dapat berdalil dengan adanya jama’ antara dua shalat yang disyariatkan ketika terjadi hujan agar dapat dilakukan secara berjama’ah. Padahal salah satu di antara shalat tersebut telah berada di luar waktunya, sedangkan (melakukan masing-masing shalat pada) waktu (yang telah ditetapkan) adalah wajib”.

Baca juga:

Dari poin di atas, dalam Badai’ al Fawaid, hal. 1098 tahqiq al Imran, al Jam’ Baina Shalatain, karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, hal. 167 disebutkan, “Sekiranya berjama’ah itu tidak wajib, maka waktu yang wajib (untuk dilakukan shalat di dalamnya) ini tidak ditinggalkan untuk melakukan jama’ ini”.

  1. Perumpamaan umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan umatku adalah seperti hujan, tidak diketahui apakah yang pertama yang lebih baik ataukah yang akhirnya”. Menurut al Baidhawi, “Yang dimaksud adalah mengingkari perbedaan, karena setiap tingkatan di antara mereka memiliki keistimewaan yang pasti mengandung sisi kelebihbaikannya, sebagaimana setiap naubah dari naubnya hujan, memiliki faedah dalam menumbuhkan, tidak mungkin dapat diingkari dan dihukumi tidak bermanfaatnya. Hal itu karena generasi pertama-tama telah beriman dengan apa yang mereka saksikan yang berupa mu’jizat, menerima dakwah Rasul dan beriman. Sedangkan orang-orang yang akhir, mereka beriman kepada perkara ghaib, karena telah sampai kepada mereka secara mutawatir, yaitu ayat-ayat, mereka mengikuti generasi yang sebelumnya dengan baik…”. (Faidh al-Qadir, jilid 5, hlm. 517)

Wallahu a’lam bishawab.

baca artikel Islam lainnya:

Hujan menurut Islam – Nikmat atau Ujian?

Di dalam islam, segala apa yang diciptakan oleh Allah pasti memiliki makna dan tujuan tersendiri yang ingin dicapai. Semua gejala alam yang ada di semesta ini Allah ciptakan bukan tanpa tujuan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Allah ciptakan angin, udara, air, tanah, manusia lain di muka bumi ini semata-mata agar manusia dapat hidup dengan baik dan beribadah hanya kepada Allah SWT.

Dari seluruh gejala alam, ada yang berupa kenikmatan dari Allah, berbentuk ujian, bahkan adzab bagi manusia. Salah satunya adalah mekanisasi hujan yang ada di bumi kita ini. Hujan bukan sekedar turunnya air di muka bumi, melainkan memiliki tujuan dan makna tersendiri bagi islam.

Hujan dibahas dalam Al-Quran karena fenomena alam adalah bagian dari Islam dan Ilmu Pengetahuan yang tidak bisa dipisahkan. Selain itu mempelajari fenomena alam, salah satunya hujan merupakan bagian dalam memperkuat  , Ilmu Tauhid IslamIlmu Filsafat Islam , dan Ilmu Kalam dalam Islam.

Berikut adalah penjelasan mengenai hujan menurut islam disertai hikmah dan makna yang bisa kita ambil.

Nikmat Hujan di dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan dan menyebutkan masalah hujan dalam kehidupan manusia. Untuk itu, hujan menyimpan berbagai makna dan fungsi mendalam yang jika kita renungkan sangat berpengaruh terhadap hajat hidup manusia di muka bumi. Berikut adalah ayat-ayat Allah yang berkenaan dengan hujan dan kenikmatan di balik peristiwa hujan.

  1. Hujan adalah Nikmat Bagi Manusia

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. “ (QS Al A’raf : 57)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa hujan adalah sebagai kabar gembira bagi manusia. Air hujan memberikan nikmat kepada manusia, menyuburkan tanah yang tandus dan menjadikan tanah-tanah tersebut menjadi subur dan tumbuh lah tanaman-tanaman yang bermanfaat bagi manusia. Buah-buahan, sumber makanan tentunya didapatkan dari proses antara siklus hujan dan juga panen.

Sering kali manusia mengeluh jika hujan datang, namun di sisi lain seharusnya manusia bersyukur karena hujan adalah nikmat yang Allah berikan. Hujan Allah berikan dalam sunnatullah yang sempurna. Hujan tidak datang setiap hari melainkan sesuai siklusnya. Jika tanpa hujan tentu manusia tidak akan bisa menikmati air yang bersih, akan kehausan, kurangnya sumber makanan dan buah-buahan, serta kekeringan.

  1. Hujan untuk Mensucikan Diri

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)” (QS Al-Anfal : 11)

Jika kita memahami ayat di atas, maka kita bisa memahami bahwa air hujan dapat mensucikan diri kita. Air hujan adalah sumber air di muka bumi kita. Untuk itu dari air tersebut dapat digunakan dalam hal :

  • Berwudhu
  • Mandi
  • Membersihkan Hadas
  • Menjaga kenetralan suhu udara dalam tubuh, dsb

Manusia dapat membayangkan sendiri apabila tanpa air hujan yang Allah turunkan dengan segala hukum alam yang dibuat-Nya dengan Kebesaran-Nya, tentu manusia tidak akan bisa menikmati rezeki dalam bentuk kesucian dan kebersihan diri. Seperti yang kita ketahui bahwa kebersihan dan kesucian diri adalah awal dari kesehatan lahir dan batin diri manusia.

  1. Hujan adalah Sumber Rezeki Manusia

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 22)

Di balik peristiwa hujan, terdapat banyak sekali sumber rezeki disana. Buah-buahan dan sumber kehidupan berasal dari air. Bahkan bumi kita ini sebagian besarnya dipenuhi oleh air. Begitupun tubuh manusia yang juga didominasi oleh air. Air menjadi kebutuhan dasar atau utama manusia. Untuk itu, adanya siklus hujan membuat kita bisa melaksanakan kehidupan di muka bumi ini dengan jumlah air yang cukup.

Kasus-kasus kekeringan tentunya mengajarkan kita bahwa betapa pentingnya air dari hujan yang diturunkan oleh Allah. Tanpa-nya manusia akan kekeringan dan kehilangan hidupnya.

[AdSense-B]

Hujan Bisa menjadi Ujian atau Peringatan dari Allah

Selain dari bentuk kenikmatan dari Allah, hujan  juga bisa menjadi bentuk ujian atau peringatan dari Allah terhadpa manusia. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam ayat-ayat Al-Quran sebagai berikut.

  1. Hujan Batu adalah Peringatan Allah

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (QS Asy syuara : 173)

Hujan batu adalah bentuk peringatan oleh Allah terhadap manusia yang ingkar dan mendustakan ayat-ayat dan hukum-hukum Allah. Tentunya hal ini pernah terjadi dalam sejarah yaitu kaum dari Nabi Luth yang menolak dakwah nabi Luth dan membudayakan homoseksual di masyarakatnya.

Untuk itu, angin besar dan hujan batu Allah turunkan kepada masayrakat Nabi Luth yang tidak mau mengikuti kebenaran. Kali ini hujan yang Allah turunkan bukan beruba kenikmatan melainka peringatan seperti adzab bagi mereka yang ingkar pada rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman.

  1. Ketakutan Saat Hujan

“atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir” (QS Al Baqarah : 19)

Ketakutan bisa saja muncul ketika hujan terjadi. Hujan yang disertai oleh petir dan kilat tentu saja adalah peristiwa yang bisa membuat manusia memunculkan ketakutan. Untuk itu, biasanya orang-orang akan khawatir atau takut mati ketika muncul peristiwa tersebut. Untuk itu Allah mengingatkan bahwa orang-orang kafir akan takut mati tetapi mereka tidak pernaah taat dan mengikuti apa yang Allah perintahkan.

[AdSense-C]

  1. Hujan dapat menjadi Bencana

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Rum : 41)

Sebagaimana yang Allah sampaikan dalam ayat di atas, bahwa di muka bumi bisa saja terjadi peristiwa yang membuat manusia merugi. Hal tersebut adalah karena manusia berbuat kerusakan. Adanya hujan bisa menjadi bencana bagi manusia contohnya saja banjir atau longsor sampah akibat manusia lalai dalam menerapkan sunnatullah dalam hal alam.

Sejatinya segala yang Allah ciptakan bisa menjadi nikmat, rezzeki, ujian bahkan adzab bagi kita sesuai dengan apa yang kita lakukan dan telah laksanakan di muka bumi. Tentunya kita ingin selalu jadi hamba Allah yang bersyukur dan senantiasa menjadikan apa yang Allah berikan sebagai bentuk usaha kita dalam mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama.