Hukum Bekerja Dengan Non Muslim dalam Islam

Ada beberapa dari kita umat muslim yang mungkin tidak ingin bekerja pada seseorang atau perusahaan yang pemimpinnya merupakan non muslim dan sebagian lagi berpendapat sebaliknya dan tidak mempermasalahkan hal tersebut karena alasan tuntutan ekonomi dalam Islam, kebutuhan keluarga dan semakin sempitnya lapangan pekerjaan.

Akan tetapi, bagaimana sebenarnya hukum bekerja dalam Islam pada non muslim tersebut?. Untuk meluruskan pertanyaan tersebut, maka bisa dilihat dari sebuah hadits riwayat Ka’ab bin Ujrah yakni, “saya mendatangi Nabi pada suatu hari, dan saya melihat Beliau pucat. Maka saya bertanya, ‘ayah dan ibu saya adalah tebusanmu’. Kenapa Engkau pucat ? Beliau menjawab, ‘tidak ada makanan yang masuk ke perut saya sejak tiga hari’, maka saya pun pergi dan mendapati seorang yahudi sedang memberi minum untanya. Lalu saya bekerja padanya , memberi minum unta dengan upah sebiji kurma untuk setiap ember. Saya pun mendapatkan beberapa biji kurma dan membawanya untuk Nabi. Nabi bertanya ‘dari mana ini wahai ka’ab ?’ Lalu saya pun menceritakan kisahnya. Nabi bertanya ‘Apakah kamu mencintaiku wahai ka’ab? Saya menjawab, ‘ya, dan ayah saya adalah tebusanmu’.”(HR. At-Thabrani)

Dalam hadits diatas, Allah SWT tidak mengingkari atas apa yang sudah dilakukan Ka’ab dan ini memperlihatkan jika pada dasarnya, hukum bekerja dengan non muslim diperbolehkan akan tetapi haram jika bekerja pada non muslim yang pekerjaannya diharamkan oleh agama seperti menjual dan membuat minuman keras, menjual daging babi yang merupakan makanan haram dalam Islam, bekerja di bank ribawi dan berbagai pekerjaan haram lainnya.

Umat muslim juga diperkenankan untuk bekerja dengan non muslim jika hanya bekerja seperti menyusui bayi non muslim atau pembantu rumah tangga, sebab hal tersebut juga sudah tertulis dalam kitab’Al masbsuth, “Jika perkejaan dilakukan biasa dipandang rendah seperti pembantu rumah tangga dan menyusui bayi orang kafir, hukumnya adalah makruh”, tak hanya sampai di sana beberapa Ulama pun berpendapat hukumnya adalah haram dan akadnya tidak sah.

Pendapat ini juga kembali diperkuat dengan hadits Hudzaifah pada kitab ‘Majma’uz Zawaid serta silsilah Al Ahadits Ash Shahihah yang berkata jika Rasulullah SAW bersabda, “Tidak pantas bagi seorang Mukmin menghinakan dirinya sendiri.”(HR. At-Tirmidzi, ibnu Majah Al haitsami, dan Syaikh Al Bani)

Pendapat Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali

Mereka juga sependapat dengan memperbolehkan seorang muslim untuk bekerja pada non muslim selama pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan halal dan tidak sampai mempertaruhkan harga diri atau martabat dirinya sebagai orang muslim dan tidak keluar dari dasar hukum Islam.

[AdSense-C]

Pada kitabnya, Raudhah at-Thoolibiin dan Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab Imam Syafi’i mengatakan, “Diperbolehkan non-muslim menyewa orang Muslim untuk mengerjakan sesuatu yang masih ada dalam tanggungan (masih akan dikerjakan kemudian) sebagaimana orang Muslim boleh membeli sesuatu dari orang non-muslim dengan bayaran yang masih ada dalam tanggungan (hutang dalam Islam), dan diperbolehkan orang Muslim boleh menyewakan dirinya (tubuh atau tenaganya) kepada orang non-muslim menurut pendapat yang paling shahih baik ia merdeka atau sahaya.”

Ini mengartikan jika pengikut Imam Syafi’i memiliki pendapat jika orang non muslim bisa menyewa orang muslim untuk bekerja  yang masih ada di dalam tanggungan atau masih bisa dikerjakan setelah itu seperti orang muslim juga boleh membeli dari seorang non muslim dengan bayaran yang masih ada dalam tanggungan atau hutang.

Mengenai diperbolehkanya menyewa, tidak ada  orang pun yang berbeda pendapat. Akan tetapi, apakah diperbolehkan seorang muslim menyewa dirinya seperti tubuh dan tenaga pada orang non muslim?. Maka dalam kasus ini, ada dua pendapat yang disebutkan oleh mushannif pada awal kirab Ijarah. Namun pendapat yang shahih merupakan pendapat yang mengatakan diperbolehkan.

Demikian penjelasan terkait hukum bekerja dengan non muslim. Selain informasi bermanfaat di atas, terdapat beberapa hukum Islam lainnya, seperti Hukum Selfie Dalam IslamHukum Mendengarkan Musik Dalam IslamHukum Tiup Lilin Ulang Tahun dalam IslamHukum Menghina Allah Dalam Hati, dan juga Hukum Lepas Pasang Jilbab bagi muslimah.

Hukum Bekerja Dalam Islam dan Dalilnya

Semua manusia membutuhkan harta supaya bisa memenuhi segala kebutuhan dalam hidup dan salah satu cara untuk mendapatkan harta tersebut adalah dengan bekerja. Tanpa adanya usaha, manusia tidak akan mendapatkan apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dalam Islam, sebenarnya kekayaan dalam bentuk materi atau spiritual menjadi keutamaan dan memiliki nilah lebih jika dibandingkan dengan kemiskinan, akan tetapi kekayaan dalam bentuk materi sendiri bukan lantas menjadi hal yang paling utama dan menjadi tujuan akhir hidup manusia.

Kekayaan yang diperoleh dengan cara bekerja hanya menjadi jalan untuk memakmurkan bumi sehingga dalam Al Quran sendiri juga mencela orang yang hanya bekerja untuk menumpuk harta akan tetapi tidak peduli dengan nasib lainnya. [Al Quran 104:1-9]

Artikel terkair:

Pengertian Bekerja Dalam Islam

Bekerja di dalam Islam merupakan sebuah usaha yang dilakukan dengan serius dengan cara mengerahkan semua pikiran, aset dan juga dzikir untuk memperlihatkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus mentaklukkan dunia dan memposisikan dirinya menjadi bagian masyarakat paling baik [Khairu Ummah].

Bekerja menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis serta sosial. Dengan jalan bekerja, maka manusia bisa mendapatkan banyak kepuasan yang meliputi kebutuhan fisik, rasa tenang dan aman, kebutuhan sosial dan kebutuhan ego masing-masing. Sedangkan kepuasan di dalam bekerja juga bisa dinikmati sesudah selesai bekerja seperti liburan, menghidupi diri sendiri dan juga keluarga.

Jika dilihat secara hakiki, maka hukum bekerja di dalam Islam adalah wajib dan ibadah sebagai bukti pengabdian serta rasa syukur dalam memenuhi panggilan Ilahi supaya bisa menjadi yang terbaik sebab bumi sendiri diciptakan sebagai ujian untuk mereka yang memiliki etos paling baik. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan apa-apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, supaya Kami menguji mereka siapakah yang terbaik amalnya”. (Al-Kahfi : 7)

Kebudayaan bekerja dalam Islam juga bertumpu pada akhlaqul karimah umat Islam yang akan menjadikan akhlak untuk sumber energi batin yang treus berkobar dan membantu setiap langkah kehidupan untuk menuju jalan yang lurus dan semangatnya adalah minallah, fisabilillah, Illah (dari Allah, dijalan Allah, dan untuk Allah)

Artikel terkait:

Hukum Bekerja yang Sesuai Syariat Islam

Reseki memang menjadi urusan Allah dan kita sebagai manusia hanya diwajibkan untuk selalu berusaha sekuat tenaga sekaligus tidak merasa sombong dengan rezeki yang sudah didapatkan. Meskipun sudah berusaha sekuat mungkin, namun tanpa adanya campur tangan dari Allah SWT, maka bukan tidak mungkin jika rezeki tersebut tidak akan datang pada kita. Seseorang yang bekerja apa saja biasanya akan cenderung melihat sebara banyak upah atau imbalan kerja yang akan didapat dan memikirkan apakah upah tersebut adalah baik dan juga halal.

[AdSense-B]

Jika dilihat secara umum, maka umat Islam berorientasi pada sabda Rasulullah SAW yaitu, “Berikanlah upah kepada pekerja”, Namun seringkali lupa dengan adanya kelanjutan yang berbunyi, “Sebelum kering keringatnya”. Ini mengartikan jika pekerjaan yang mendapatkan upah merupakan pekerjaan memeras otak serta tenaga, sementara bekerja dalam bentuk apapun yang tidak menuntut tanggung jawab atau tidak mengeluarkan keringan dan tidak perlu digapai dengan susah payah, maka tidak halal jika diterima upahnya.

  • Kewajiban Mencari Rezeki Halal

Berikut hadits yang menguatkannya:

“Bekerja mencari yang halal itu suatu kewajiban sesudah kewajiban beribadah”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

  • Ancaman Jika Tak Mau Bekerja Halal

Hadits Sahih mengatakan:

“Orang yang paling rugi di hari kiamat kelak adalah orang yang mencari harta secara tidak halal, sehingga menyebabkan ia masuk neraka”. (HR. Bukhari)

  • Etos Bekerja Dalam Islam

Seorang muslim yang dapat menghayati etos dalam bekerja dengan sikap dan tingkah laku berlandaskan ibadah dan prestasi yang baik maka bisa dihasilkan dengan mengikuti beberapa etos bekerja dalam Islam

  • Istiqamah.
  • Jujur.
  • Menghargai waktu.
  • Komitmen dengan akad, aqidah dan i’tikad.
  • Memiliki harga diri.
  • Bertanggung jawab.
  • Hidup hemat dan efisien.
  • Bahagia karena melayani.
  • Memperhatikan kesehatan.
  • Pantang menyerah.
  • Memperluas jaringan silahturahmi dan sebagainya.

Artikel terkait:

Tujuan Bekerja Menurut Islam

Bekerja dalam ajaran Islam tidak sekedar berlandaskan tujuan yang bersifat duniawi, namun lebih kepada bekerja untuk ibadah. Bekerja akan membuahkan hasil dan hasil itulah yang bisa memberikan makan, tempat tinggal, pakaian, menafkahi keluarga sekaligus menjalani bentuk ibadah lain dengan baik.

“Bahwa Allah sangat mencintai orang-orang mukmin yang suka bekerja keras dalam usaha mencari mata pencaharian”. (HR. Tabrani dan Bukhari)

“Dari ‘Aisyah (istri Rasulullah), Rasulullah Saw bersabda : “Seseorang bekerja keras ia akan diampuni Allah”. (HR. Tabrani dan Bukhari)

  • Memenuhi Kebutuhan Diri dan Keluarga

Bekerja di dalam Islam merupakan cara untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga seperti istri, anak dan orangtua. Islam teramat menghargai semua itu sebagai sebuah sedekah, ibadah dan amalan saleh.

  • Memenuhi Ibadah dan Kepentingan Sosial

Apabila bekerja dianggap sebagai hal yang suci, maka begitu pun juga dengan harta benda yang didapatkan dari bekerja. Alat untuk memuaskan kebutuhan dan juga sumber daya manusia lewat proses kerja merupakan hak orang yang yang sudah bekerja dan harta dianggap menjadi satu bagian yang suci. Jaminan hak milik perorangan dengan fungsi sosial lewat institusi zakat, shadaqah dan juga infaq menjadi sebuah dorongan kuat untuk lebih keras dalam bekerja yang pada dasarnya merupakan penghargaan Islam pada usaha manusia.

[AdSense-A]

Hadits Anjuran Bekerja Dalam Islam

Islam sangat menghargai pekerjaan, bahkan jika kiamat semakin mendekat dan kita belum emnikmati hasil dari pekerjaan, maka kita juga tetap diberikan perintah untuk tetap bekerja untuk mewujudkan penghargaan terhadap pekerjaan itu sendiri seperti yang tertulis dalam hadits, “Bekerjalah seakan-akan engkau hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah seakan-akan besok engkau akan mati”(Al-Hadis)

Hadits tersebut adalah anjuran Nabi Muhammad untuk umat yang sudah bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridho Allah dan bahkan sampai diwajibkan umat Muslim untuk mencari rizki halal seperti yang tertulis dalam hadits, “Sesungguhnya, Allah senang pada hamba-Nya yang apabila mengerjakan sesuatu berusaha untuk melakukannya dengan seindah dan sebaik mungkin.” (al-Hadits)

Selain menjadi sebuah kewajiban, Islam juga memberikan penghargaan mulia untuk setiap pemeluknya yang dengan ikhlas dalam bekerja dan mengharapkan keridhaan Allah SWT dan penghargaan tersebut tertuang dalam beberapa riwayat hadits berikut ini.

  1. Akan Diampuni Dosanya Oleh Allah SWT

Ibnu Abbas ra berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut.” (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Ausath VII/ 289)

  1. Dihapuskan Dosa Tertentu

Beberapa dosa tertentu juga akan dihapuskan dimana beberapa dosa itu tidak bisa dihapuskan dengan melaksanakan shalat, puasa dan juga shadaqah.

Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu terdapat suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, haji dan juga umrah.” Sahabat bertanya, “Apa yang bisa menghapuskannya wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Semangat dalam mencari rizki”. (HR. Thabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Ausath I/38)

  1. Mendapat Cinta Allah SWT

Ibnu Umar ra bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu’min yang bekerja dengan giat”. (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Aushth VII/380)

  1. Lebih Baik Dari Meminta-Minta

Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Meraih Sisi Allah Dengan Taat

Abu Zar dan Al-Hakim, “Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itulah kamu harus bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Jika datangnya rezeki itu terlambat maka jangan memburunya dengan bermaksiat karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan taat pada-Nya.”

  1. Makan Dari Hasil Sendiri

Hadits riwayat Bukhari, “Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)

  1. Serupa Dengan Mujahid di Jalan Allah

Hadits riwayat Ahmad, “Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah.”

Artikel terkait:

Secara garis besar, hukum bekerja dalam Islam adalah wajib dan menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan manusia meliputi diri sendiri dan keluarga serta ibadah dan juga kepentingan sosial. Islam sendiri teramat menjunjung tinggi nilai bekerja namun Islam juga memberikan balasan dalam memilih jenis pekerjaan yang halal dan juga yang haram.

Hukum Bekerja di Bank Menurut Islam

Seiring dengan kemajuan zaman, legiatan perekonomian juga semaking berkembang dengan pesat termasuk dengan munculnya berbagai lembaga keuangan seperti bank dan sistem perbankan. Sistem perbankan konvensional adalah suatu sistem dimana terjadi kegiatan ekonomi yang mencakup kegiatan menanbung, pinjaman, penukaran mata uang, jaminan surat berharga, giro, transfer dan lain sebagainya.

Terkadang kondisi ekonomi suatu bangsa juga dapat dilihat dari sistem perbankannya, semakin maju sistem perbankan maka semakin maju pula negaranya. Sebenarnya pokok aktifitas suatu bank adalah menampung dana dari masyarakat dan disalurkan pada masyarakat yang lain atau dengan kata lain menyalurkan dana dari pihak yang kelebihan pada pihak yang kekurangan. Pihak bank sendiri biasanya mendapat keuntungan dari bunga pinjaman maupun potongan dari tabungan yang diberikan pada nasabah.(baca perkembangan islam dan islam dan ilmu pengetahuan)

Sistem Perbankan Menurut Islam

Dalam perekonomian modern yang diaplikasilah dewasa ini, pada dasarnya bank adalah lembaga perantara yang biasa disebut financial intermediary. Meskipun bank memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat atau nasabah, bank bukanlah termasuk lembaga sosial. Sebenarnya bank dapat dikategorikan sebagai lembaga yang bergerak di bidang perdagangan dan peredaran uang di masyarakat dan tempat menyimpan harta (baca harta dalam islam dan pembagian harta dalam islam). Dalam aktivitasnya tersebut bank kemudian memunculkan istilah bunga.(baca pengertian riba, jenis dan larangannya dalam islam). Sistem bank konvensional yang menerapkan riba ini dibawa oleh masyarakat barat dan dipengaruhi oleh kaum yahudi (baca sejarah yahudi dan sejarah islam dunia)

Bunga yang dianut dalam sistem perbankan dalam hukum islam dianggap sebagai riba atau kelebihan yang bredasarkan pendapat para ulama haram hukumnya. Riba sendiri adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT karena dapat merugikan orang lain sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah SWT dalam ayat berikut ini (baca hukum riba dalam islam)

Hukum Bekerja di Bank

Meskipun ulama berpendapat bahwa bank konvensional yang menerapkan bunga adalah aktifitas riba, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahaimana hukum bekerja di bank itu sendiri. Untuk lebih jelasnya simak beberapa pendapat ulama berikut ini

a. Menurut Yusuf Qardhawi

Dalam pendangan dan pendapat Yusuf Qardhawi, bekerja dibank sebenarnya tidak diharamkan karena tidak semua aktifitas atau transaksi dalam dunia perbankan konvensional mengandung unsur riba. Dalam sistem perbankan juga terdapat transaksi yang sifatnya halal dan diperbolehkan. Meskipun tetap saja Yusuf Qardhawi mengharamkan bunga atau rioba dari bank. Demikian juga orang yang bekerja di bank menurutnya hal tersebut diperbolehkan atas dasar alasan berikut

  • Tidak semua transaksi perbankan mengandung riba dan mereka yang bekerja dibank tidak sesalu melakukan aktifitas ribawi yang merugikan pihak lainnya dan tidak semuanya terkait hutang dan pinjaman. (baca hutang dalam pandangan islam)
  • Agar sistem perbankan tidak dikuasai oleh orang nonmuslim maka sistem perbankan konvensional pun sebaiknya dipegang atau dikuasai oleh orang muslim sehingga seorang muslim menurut Yusuf Qardhawi boleh saja bekerja dan mencari nafkah di bank. (baca wanita karir dalam pandangan islam dan hukum wanita bekerja dalam islam)
  • Bekerja dibank hukumnya boleh terutama jika orang tersebut hanya dapat bekerja di sektor perbankan dan hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak. Apalagi seorang umat islam tentunya dianjurkan untuk bekerja sebagaimana yang tercantum dalam hadits berikut
  • Gaji yang diterima orang yang bekerja di bank dalam keadaan mendesak hukumnya diperbolehkan sebagaimana suatu perkara yang haram dapat menjadi halal jika dalam keadaan mendesak. Adapun hal ini sependapat dengan ulama Mesir yakni Jad Al Haq yang menyetakan bahwa bekerja di bank halal hukumnya meskipun bank tempatnya bekerja menggunakan sistem riba selama bank tersebut juga memiliki aktifitas perbankan lain yang sifatnya halal.[AdSense-B]

b. Menurut Abdul Aziz bin Baz

Ulama Abdul aziz bin Baz menyatakan bahwa semau transaksi yang dilakukan oleh bank konvensional adalah haram dan tidak diperbolehkan. Begitu juga jika seseorang bekerja di bank konvensional maka haram hukumnya. Bunga yang diperoleh dari bank adalah riba dan seseorang haram hukumnya memakan uang riba. Berikut ini adalah alasan-alasan mengapa bekerja di bank haram hukumnya menurut Abdul Aziz bin Baz

  • Memakan gaji hasil riba bank konvensional hukumnya sama saja dengan memakan uang atau harta yang haram sementara riba itu sendiri hukumnya haram. Sesuai dengan sabda Rassulullah SAW berikut
    “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya
  • Membantu aktifitas bank yang menggunakan riba sama saja dengan mengakui perbuatan riba dan memperbolehkannya oleh karena itulah sebagian ulama mengharamkan hukum bekerja di bank konvensional. Sementara kita sebagai umat islam haruslah mengetahui bahwa riba haram hukumnya dan pelakunya akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT.
  • Bekerja di bank yang melakukan transaksi dan aktifitas riba sama saja hukumnya dengan membantu mereka melakukan riba yang sifatnya haram sementara Allah melarang umat muslim untuk membantu satu sama lain dalam hal yang bathil atau diharahkam sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT dalam Qur’an surat Al Maidah ayat 2يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُم فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.(QS Al Maidah : 2)Hal ini juga disebutkah dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam muslim bahwasanya rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau mengatakan, ‚Mereka itu sama saja‛.(HR. Muslim)[AdSense-C]

Dengan demikian kita mengetahui bahwa hukum bekerja adalah subhat atau masih diprtentangkan karena ada yang menyebutnya halal dan ada pula yang menyebutkan bekerja di bank adalah haram. Ada baiknya jika kita sebagai muslim sebaiknya menghindari hal-hal yang sifatnya meragukan sebagaimana hal tersebut. Umat islam sebagai umat yang berpikir seharusnya senantiasa menanamkan ajaran agama dalam kehidupannya (baca fungsi agama dalam kehidupan manusia) dan menanamkan pendidikan anak dalam islam sejak dini agar tidak dipengaruhi oleh budaya kapitalisme barat. Semoga bermanfaat. (baca juga bahaya riba dunia akhirat dan cara menghidari riba)