Hukum Rentenir Dalam Islam Dalilnya

Zaman semakin maju, dan kebutuhan ekonomi masyarakat pun semakin meningkat. Memang setiap orang dituntut usaha dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, terkadang dengan begitu banyaknya kebutuhan dan gaji atau upah yang didapat sangat pas-pasan kebutuhan pun tidak tercukupi.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi atau menutupi kekurangan tersebut seperti meminjam uang ke bank misalnya. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan, mudah saja untuk melakukan pinjaman ke bank, lalu bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya di daerah pedesaan?

Jalan yang akan mereka pilih satu-satunya mungkin dengan meminjam uang kepada seorang rentenir. Sebelum memutuskan untuk meminjam ,alangkah baiknya mengetahui hukum riba dalam islam terlebih dahulu agar anda bisa berpikir ulang.

Berdasarkan sedikit pemaparan di atas, maka dalam artikel kali ini yang akan kita bahas yaitu mengenai hukum rentenir dalam Islam. Selain itu anda juga wajib tau cara menghindari riba. Untuk selengkapnya, silahkan simak penjelasan mengenai rentenir di bawah ini.

1Pengertian Rentenir

Menurut wikipedia rentenir atau sering juga disebut tengkulak (terutama di pedesaan) merupakan orang yang memberi pinjaman uang tidak resmi atau resmi dengan bunga tinggi.

Pinjaman melalui rentenir tidak diberikan melalui badan resmi seperti bank, dan apabila si peminjam tidak mampu membayar maka sang rentenir akan mengirimkan bodyguardnya untuk menagih dengan mempermalukan si peminjam bahkan memukuli atau menganiayanya.

Rentenir dalam Pandangan Islam

Pada zaman yang semakin modern ini, yang diherankan justru praktek-praktek renten atau riba malah semakin marak. Bagaimana tidak? Dapat dilihat dari begitu banyaknya korban yang berjatuhan karena praktek rentenir tersebut.

Dampak negatif dari praktek rentenir ini begitu banyak dan sangat membahayakan untuk itu Islam menghimbau ummatnya untuk berwaspada karena Allah Subahanu Wa Ta’ala dengan jelas sangat melarangnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 275 yang artinya:

“ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah [2] : 275)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam juga bersabda yang artinya:

“ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam melaknat pemakan riba rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Kata Beliau, ‘ semuanya sama dalam dosa’.” (HR Muslim no. 1598)

Bahkan tentang dosa riba ini pun tidak tanggung-tanggung, Rasulullah menetapkan dengan tegas dosa dan bahaya riba tidak ada bedanya dengan dosa membunuh manusia karena dengan menjalankan riba maka akan menyebabkan adanya kerusakan dunia dan akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah:

[AdSense-B]

“ Jauhilah olehmu tujuh perkara yang merusak”. Para sahabat bertanya: “ Wahai Rasulullah, apa saja tujuh perkara itu?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam menjawab: “ Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa dengan tidak ada alasan hak-hak, memakan hasil riba, memakan harta anak yatim, lari dari ajang pertempuran melawan musuh agama dan menuduh berbuat zina wanita-wanita mukmin yang terpelihara kehormatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pengertian Riba atau Renten

Menurut bahasa, riba dapat di artikan ke dalam beberapa definisi, karena pada dasarnya pengertian riba menurut islam sendiri di masyarakat lebih dikenal dengan renten. Berikut ini pengertiannya :

  • Menambah, karena menambahkan seuatu yang telah dipinjamkan atau dihutangkan merupakan salah satu perbuatan dari riba.
  • Mengembangkan, karena salah satu unsur riba juga yaitu dengan membungakan uang atau benda atas yang dihutangkan atau yang dipinjamkannya kepada orang lain.
  • Melebihkan, karena praktek riba juga harus melebihkan uang atas yang dipinjamkannya ketika melunasinya.

Adapun menurut para ahli, riba dapat didefinisikan sebagai berikut:

  • Menurut Syaikh Muhammad Abduh, riba merupakan penambahan-penambahan yang diisyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya (uangnya), karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang ditentukan.
  • Sedangkan menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud riba ialah menolong atau membantu, namun mencari keuntungan dibalik pertolongan tersebut bahkan mencekik dan menghisap darah.

Beberapa tafsir Al-Quran Mengenai Riba

  • Tafsir yang pertama mengenai riba yaitu terdapat dalam surat Ali-Imran ayat 130

Arti dari ayat tersebut yaitu:

“ Hai orang-orang yang  beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS Ali-Imran [3] : 130)

  • Tafsir yang kedua berada dalam surat An-Nisa ayat 160-161

Arti dari ayat tersebut yaitu:

“ Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang didahuluinya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesunggunya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.” (QS An-Nisa : 160-161)

[AdSense-A]

  • Tafsir yang ketiga ada pada surat Ar-Ruum ayat 39

Arti dari ayat ini adalah:

“ Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS Ar-Ruum : 39)

  • Tafsir yang terakhir ada pada surat Al-Baqarah ayat 275-279

Arti dari ayat tersebut yakni:

“ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala disisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al-Baqarah [2] : 275-279)

Dalil-dalil haramnya jika memakan hasil riba

Berikut Dalil tentang haramnya seseorang menggunakan uang hasil riba, antara lain:

  • Dosa seorang rentenir atau yang memakan hasil riba dosanya lebih buruk dibandingkan dosa seorang pezina

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam:

“ Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

  • Bahkan dapat dikatakan dosa memakan hasil riba bagaikan dosa orang yang telah menzinai orangtua (ibu) kandungnya sendiri

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam:

“ Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR Al hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

  • Dengan maraknya riba maka secara tidak langsung itu merupakan suatu pernyataan dari suatu kaum bahwa mereka mendapatkan hak dan layak di adzab oleh Allah Ta’ala

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

“ Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri  mereka untuk di adzab Allah.” ( HR Al Hakim)

[AdSense-C]

Dampak Dari Perbuatan Riba

Dari macam macam riba yang ada di masyarakat pada umumnya dan beredar luas, dampak yang ditimbulkan ialah :

  • Sangat berbahaya bagi masyarakat serta agama.
  • Pendapat para ahli ekonomi menyatakan bahwa riba dapat menjadi penyebab utama krisis ekonomi karena dengan membayar bunga pinjaman dengan singkat.
  • Mendapatkan dosa yang setimpal setara dengan meniduri ibu kandungnya sendiri.
  • Akan mendapatkan laknat pada hari akhir atau yaumil qiyamah.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat disimpulkan dengan jelas bahwa Allah sangat melarang perbuatan riba atau renten. Dan itu artinya hukum rentenir menurut Islam sangatlah diharamkan. Dan kita sebagai umat Islam semoga dihindarkan dari perbuatan keji tersebut.

Mungkin sekian dulu artikel mengenai hukum rentenir menurut Islam kali ini. Semoga setelah membaca artikel kita pembaca semakin paham mengenai rentenir dan hasil riba yang didapatnya. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan dan terima kasih telah meluangkan waktunya untuk singgah pada artikel kali ini. Terima kasih, Sampai Jumpa!

Hukum Meminjam Uang di Bank Syariah

Di era globalisasi yang semakin berkembang bahkan dapat dikatakan semakin maju ini, maka semakin meningkat pula tuntutan kebutuhan ekonomi masyarakat. Memang, untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya setiap manusia dituntut untuk berusaha dan bekerja, bahkan ada orang yang bekerja melebihi batas untuk memenuhi gaya hidup.

Dalam hidup ini, Allah menguji manusia dengan memberikan kelapangan rizki yang berlimpah dan ada kalanya menguji dengan menyempitkan rizki, kemiskinan misalnya. Maka dari itu terdapat amalan memperlancar rezeki sebagai upaya paling tepat untuk membantu mendapatkan rezeki.

Ketika manusia diuji dengan kemiskinan, rizki yang sempit serta masalah ekonomi yang terhambat maka dia akan mencari solusi untuk masalahnya tersebut dengan melakukan pinjam meminjam misalnya.

Pinjam meminjam ini bisa dilakukan dengan meminta tolong kepada sesama manusia lainnya, dan bisa juga dilakukan dengan meminjam ke bank. Mungkin anda wajib tau terlebih dahulu hukum hutang piutang dalam islam agar tidak sembarangan dalam meminjam.

Mungkin sebagian besar, bank konvensional dijadikan solusi oleh orang-orang untuk meminjam uang sebagai modal usaha. Namun sebagian lagi mengambil pinjaman melalui bank syari’ah. Lantas bagaimana menurut Islam hukum pinjam meminjam uang di bank syari’ah?

Dalam artikel kali ini kita akan membahas bagaimana hukum pinjam uang di bank syari’ah. Artikel ini bertujuan agar kita semua paham apa itu pinjaman bank syariah dan bagaimana hukumnya menurut Islam? Sebelum kita mengetahui hukum pinjaman bank syari’ah kita perlu tahu terlebih dahulu definisi bank syari’ah.

Apa itu bank syari’ah?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bank syari’ah merupakan bank yang didasarkan atas dasar hukum Islam. Sedangkan menurut UU No. 21 bank syari’ah merupakan bank yang menjalankan aktivitas usahanya menggunakan landasan prinsip-prinsip syari’ah yang terdiri dari BUS (Bank Umum Syari’ah), BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah), dan UUS (Unit Usaha Syari’ah).

Setelah kita mengetahui pengertian bank syari’ah itu sendiri, maka di bawah ini akan kita bahas mengenai fungsi dari bank syari’ah. Mari kita simak penjelasan tentang fungsi bank syari’ah di bawah ini.

1. Sebagai Penghimpun Dana

Fungsi utama dari bank syari’ah ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan bank konvensional pada umumnya, yakni sebagai penghimpun dana dari berbagai masyarakat. Cuma terdapat perbedaan diantara keduanya, pada bank syari’ah bagi yang menabung akan mendapatkan bagi hasil sebagai balas jasa. Sementara pada bank konvensional si penabung mendapatkan bunga sebagai jasanya.

2. Sebagai Penyalur Dana

Penyalur dana merupakan fungsi utama bank syari’ah yang selanjutnya. Bank syari’ah akan menyalurkan kembali dana yang telah dihimpun dari para nasabah kepada nasabah lainnya dengan sistem membagi hasil.

[AdSense-B]

3. Sebagai Pemberi Layanan Jasa Bank

Yang ketiga adalah sebagai pemberi layanan jasa bank juga merupakan fungsi bank syari’ah. Yang dimaksudkan disini fungsi bank syari’ah sama seperti bank konvensional yaitu memberikan layanan jasa penarikan tunai, pemindah bukuan, jasa transfer, dan juga jasa perbankan yang lainnya.

Itulah beberapa fungsi dari bank syari’ah. Dari penjelasan di atas sebenarnya fungsi antara bank syari’ah dengan bank konvensional itu sama saja, perbedaannya hanyalah jika bank konvensional menerapkan sistem bunga sementara bank syari’ah menerapkan sistem bagi hasil.

Hukum Pinjam Uang di Bank Syari’ah

Para ulama masih  memperdebatkan hukum pinjam uang di bank syari’ah karena ada bank syari’ah masih menerapkan beberapa sistem yang ada pada bank konvensional. Sebagaimana hukum hutang piutang dan hukum pinjam uang di bank, maka meminjam uang di bank pun hukumnya halal jika meminjam pada bank yang berlandaskan hukum Islam. Di bawah ini ada beberapa dalil tentang hutang piutang serta masa tenggang waktu yang diberikan untuk melunasi hutang.

Seperti firman Allah dalam surat Al – Baqarah ayat 280 yang artinya:

“ Dan jika (orang berutang) itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS Al – Baqarah [2] : 280)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam juga bersabda:

“ Barang siapa memberi tempo waktu kepada orang yang berutang yang mengalami kesulitan membayar utang, maka ia mendapatkan sedekah setiap hari sebelum tiba waktu pembayaran. Jika waktu pemayaran telah tiba kemudian ia memberi tempo lagi setelah itu kepadanya, maka ia mendapat sedekah pada setiap hari misalnya.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, al Hakim)

[AdSense-A]

Dasar hukum bank syari’ah

Berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tanggal 01 Mei 1992 mengawali sistem perbankan syari’ah di Indonesia. Kemunculan bank syariah ini sendiri berdasarkan umat muslim di Indonesia ingin melakukan semua kegiatan perbankan sesuai dengan syari’at Islam yang tidak mengandalkan riba atau bunga bank seperti sistem perbankan konvensional.

Adapun landasan hukum yang mendasari berdirinya bank syari’ah ini berdasarkan dalil dalam Al-Quran serta hadist mengenai riba, seperti yang akan di paparkan di bawah ini.

  • Surat Ali – Imran ayat 130

Ayat ini berisi tentang larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada umatnya untuk melakukan transaksi pada bank konvensional karena memakan harta riba dengan menggunakan bunga bank.

Arti dari ayat ini adalah:

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Ali-Imran : 130)

  • Surat Ar – Ruum ayat 39

Agama islam sangat mengharamkan riba yang ditambahkan pada harta manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nur ayat 130 yang artinya:

“ Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, (maka yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS Ar – Ruum : 39)

  • Surat An – Nisa ayat 161

Dalam surat An-Nisa ini juga disebutkan mengenai riba serta menjadi dasar hukum kemunculan sistem perbankan syari’ah. Dan dijelaskan tentang larangan umat Islam untuk memakan riba yang terdapat di dalam hartanya.

Arti dari ayat tersebut adalah:

“ Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS An – Nisa : 161)

Pinjaman bank syari’ah yang tidak sesuai

Islam memang memperbolehkan umatnya untuk melakukan pinjaman melalui bank syari’ah. Namun hal itu diperbolehkan dengan cara – cara tertentu, dan apabila bank syari’ah meminjamkan uangnya dengan menambahkan jumlah pada saat pengembalian tetap saja itu dinamakan riba dan Islam sangat melarangnya. Karena hukum riba dalam islam sudah sangat jelas dilarang dan tentu saja diharamkan.

Pinjaman yang diberikan oleh bank syariah tidak boleh diberikan tambahan pada saat pengembalian dalam bentuk bunga atau apapun istilahnya, karena sistem yang digunakan bank syariah yaitu sistem bagi hasil bukan sistem bunga bank.

Istilah lain sebagai tambahan atas pinjaman tetap diartikan sebagai riba dan tidak dapat merubah hukumnya serta bisa menjadi penambah dosa orang yang melaksanakannya karena telah mekakukan pengelabuan terhadap syari’ah Islam. Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiallau ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda: “ Janganlah kalian melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, sehingga kalian menghalakan hal-hal yang diharamkan Allah dengan sedikit tipu muslihat.” (Riwayat Ibnu Batthah dan dihasankan oleh Ibnu Katsir serta disetujui oleh al-Albani)

Riba dalam pinjaman

Jika seseorang meminjam uang melalui bank syari’ah dengan tanpa adanya biaya tambahan ketika melunasi pinjamannya maka hukumnya sah-sah saja dan diperbolehkan. Namun ketika meminjam pada bank syari’ah dengan menambah biaya, tetap dianggap riba apapun itu namanya. cara menghindari riba

Untuk itu, siapapun yang hendak meminjam ung di bank syari’ah lebih baik melakukan pertimbangan lebih dahulu serta mencari tahu sitem pembayaran yang digunakan sebagai cara menghindari riba. Kita harus memastikan bahwa pada bank syari’ah itu tidak terdapat unsur riba karena riba merupakan budaya dan kebiasaan orang-orang Yahudi.

[AdSense-C] Sementara memakan harta yang terdapat riba di dalamnya hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah dalam surat An – Nisa ayat 160 – 161 yang atinya:

“ Disebabkan kedzaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesunggunya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil.” (QS An – Nisa : 160 – 161)

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan artikel ini dikemas secara singkat dan menarik. Dari pemaparannya, kita bisa mengetahui apa itu bank syari’ah, bagaimana hukumnya menurut Islam dan apakah boleh kita melakukan pinjam meminjam uang melalui bank syari’ah. Semoga setelah membaca artikel ini kita bisa membedakan antara bank konvensional dengan bank syari’ah.

Sekian dulu artikel tentang pembahasan hukum pinjam uang di bank syari’ah. Penulis berharap semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan dan terima kasih telah meluangkan waktunya untuk singgah pada artikel kali ini. Sampai jumpa!

Jual Beli Terlarang dalam Islam

Setiap hari, manusia pasti akan melangsungkan proses atau transaksi ekonomi. Transaksi ekonomi tentunya melibatkan pejual dan pembeli. Tidak jarang dalam proses jual beli, manusia memiliki kejahatan, kecurangan, bahkan penipuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal atau keuntungan sebesar-besarnya namun dengan cara penipuan.

Tentu saja proses jual beli yang seperti itu diharamkan oleh islam. Islam memperbolehkan jual beli dan menghalalkannya sebagai jalan atau langkah mencari rezeki karena memang proses jual beli dapat memudahkan manusia dan menguntungkan satu sama lain. Aturan ekonomi islam tentu saja tidak terlepas dari landasan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman.

Pengertian Jual Beli yang Terlarang

Jual beli yang dilarang dalam islam tentunya bukan atas dasar atau pertimbangan apapun. Jual beli dalam islam senantiasa memperlihatkan aspek-aspek keadilan dari masing-masing pihak baik penjual maupun pembeli.

Aturan Jual beli dalam islam bukan berarti membatasi manusia untuk menjalankan ekonomi dan mendapatkan keuntungan. Aturan tersebut ditentukan Allah justru untuk membuat manusi.  Jual beli yang diharamkan oleh islam bukan saja karena jual beli tersebut salah secara normatif. Setiap aturan islam tentu saja memiliki alasan mengapa diharamkan dan memiliki dampak negatif jika terus dilakukan. Termasuk proses jual beli yang diharamkan, tentu saja memiliki banyak dampak negatif jika terus dilakukan.

Di masa kini, jual beli tidak hanya dapat dilakukan secara langsung melainkan secara online atau virtual. Hal ini tentu saja memiliki dampak postif dan resiko yang harus diambil. Jual beli yang haram atau pun terlarang bisa juga terjadi dalam jual beli dalam proses online. Misalnya, penipuan bukti transaksi atau transfer, penipuan akun penjualan, tidak mengirimkan barang sesuai kondisi yang ditawarkan, dsb.

Tentunya hukum islam berlaku juga di masa saat ini. Proses online pun tentu harus juga sesuai landasan hukum islam dan tidak melanggar dari apa yang sudah Allah tetapkan.

Kriteria Jual Beli yang Haram

Agar manusia khususnya umat islam dapat melaksanakan transaksi yang halal dan sesuai dengan aturan islam, maka kita pun perlu mengetahui contoh dari jual beli yang terlarang dalam islam. Berikut adalah kriteria dari jual beli terlarang dalam islam.

  1. Jual Beli Barang Haram

 “Sesungguhnya  Allah  jika  mengharamkan  atas  suatu  kaum memakan  sesuatu,  maka  diharamkan  pula hasil penjualannya.” (HR Abu Daud dan Ahmad)

Jual beli barang yang diharamkan Allah tentu saja adalah jual beli yang diharamkan. Jual beli barang haram bisa berbentuk makanan, minuman, aset, ataupun saham. Tentu saja efek dari jual beli barang haram ini lebih besar kepada kerusakan sosial. Misalnya, penjualan narkoba, minuman beralkohol dapat mengakibatkan kepada rusaknya moral, rusak nya kultur, dan peradaban.

Untuk itu, umat islam hendaknya memastikan terlebih dahulu apakah barang yang dijual dan dibeli sudah sesuai dengan islam ataukah memiliki hal yang bisa jadi merubah proses jual beli menjadi haram.

  1. Jual Beli Mulamasah

Jual beli mulamasah adalah jual beli yang dilakukan ketika orang menyentuh barang jualan seseorang maka dia diwajibkan untuk membayar atau membelinya. Hal ini tentu tidak dibenarkan dalam islam. Memegang barang jualan asalkan tidak merusak dan menjadikannya tidak layak jual tentu tidak menjadi masalah. Dalam proses jual beli tentunya manusia akan melihat dan meraba terlebih dahulu barang yang diinginkannya untuk menentukan kualitas dan kondisinya.

Hal ini seperti jual beli yang memaksa padahal belum tentu si pembeli akan membelinya. Untuk itu, jual beli seperti ini diharamkan oleh Allah.
[AdSense-B]

  1. Jual Beli Al’inah

Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah dan kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian” (HR Abu Daud)

Al-Inah sendiri adalah jual beli yang mengandung riba. Riba dalam artian disini bisa secara terbuka atau terselubung. Allah sudah mengingatkan manusia bahwa riba dapat mengantarkan manusia pada neraka dan siksaan di akhirat.

Tentu saja riba ini diharamkan bukan karena alasan. Selain masalah keseimbangan ekonomi, riba juga dapat mencekik orang-orang yang tidak mampu atau merugikan salah satu pihak. Untuk itu jual beli yang mengandung riba, baik secara langsung atau terselubuhng adalah hal yang haram untuk dilalaikan.
[AdSense-C]

  1. Jual Beli Melalaikan Kepada Allah

Jual beli yang diharamkan oleh Allah adalah yang dapat melalaikan atau meninggalkan manusia dari jalan Allah.  Aktivitas tersebut misalnya :

  • Harus melakukan kebohongan dalam jual beli
  • Meninggalkan ibadah ketika harus jual beli
  • Jual beli mensyaratkan hilangnya keimanan manusia
  • Proses jual beli menggadaikan Akidah
  • Jual Beli bukan niat karena kebaikan, melainkan untuk kemaksiatan
  • Dsb

Jual beli tersebut tentunya adalah jual beli yang diharamkan islam, dan jangan sampai manusia terjebak pada jual beli yang melalaikan tersebut. Jual beli adalah proses dan sebagai instrument agar manusia semakin taat bukan malah menjauh dari Allah SWT dan Islam.

  1. Jual Beli dengan Mengurangi Timbangan

Jual beli yang diharamkan adalah mengurangi timbangan. Hal ini tentu saja sebuah kecurangan atau penipuan. Artinya, proses jual beli ini tidak didasari oleh keadilan, keterbukaan, kejujuran, dan juga prinsip keseimbangan islam. Tentu saja, mengurnagi timbangan adalah kecurangan yang awalnya sudah disepakati jumlah dan harganya lalu dikurangi. Untuk itu, jual beli seperti ini dilarang islam.

Kerugian seperti ini bukan dalam jangka pendek. Bagi penjual yang tidak jujur sebetulnya akan merugikan ia di masa mendatang, karena akan kehilangan kepercayaan dari pembeli. Tentu tidak akan ada pembeli yang mau membeli di penjual yang tidak jujur dan menipu.

Selain hal tersebut, umat islam juga bisa mempelajari mengenai Transaksi Ekonomi dalam Islam, Contoh Transaksi Ekonomi dalam Islam, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, Tujuan Ekonomi Islam, Ekonomi Dalam Islam, Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam, Macam-macam Riba, Hak dan Kewajiban dalam Islam, Fiqih Muamalah Jual Beli, dan Jual Beli Kredit Dalam Islam sebagai referensi mempelajari ekonomi dalam islam.

6 Prinsip-prinsip Ekonomi Islam Berdasarkan Ayat Al-Quran  

Ekonomi adalah hal mendasar yang dibutuhkan manusia untuk bisa hidup dan berkembang di muka bumi. Tanpa terpenuhinya kebutuhan ekonomi manusia, tentu saja aktivitas dan proses hidup manusia di muka bumi akan terganggu. Dapat diketahui bahwa dalam keseharian manusia membutuhkan makan, minum, hidup, berumah tangga, tentu semuanya membutuhkan modal dan transaksi ekonomi secara intens.

Dalam hal ini, tentu saja masalah ekonomi pun juga harus diatur agar tidak terjadi kesenjangan sosial, terjadi permasalahan beda kelas sosial yang sangat tinggi, atau ketidak adilan ekonomi yang bisa berakibat pada kemiskinan atau ketidakberdayaan manusia. Untuk itu, salah satu ajaran islam mengantarkan manusia untuk juga mengarahkan aktivitas ekonominya sesuai dengan prinsip-prinsip dasar dan ajaran islam mengenai hal ekonomi.

Pandangan Islam Terhadap Ekonomi

Islam adalah agama yang berorientasi kepada kebaikan dan keadilan seluruh manusia. Islam senantiasa mengajarkan agar manusia mengedepankan keadilan, keseimbangan dan juga kesejahteraan bagi semuanya. Islam tidak mengajarkan pada kesenjangan sosial, prinsip siapa cepat siapa menang, atau pada kekuasaan hanya dalam satu kelompok atau orang tertentu saja.

Prinsip ini pun diajarkan islam dalam hal ekonomi. Dalam hal ekonomi, islam pun ikut mengatur dan memberikan arahan atau pencerahan agar umat manusia tidak terjebak kepada ekonomi yang salah atau keliru.

Aturan-aturan islam mengenai ekonomi diantaranya seperti:

  • Masalah kewajiban zakat, infaq, shodaqoh
  • Larangan judi dan mengundi nasib dengan panah
  • Membayar pajak
  • Menjual dengan neraca yang adil
  • Membuat catatan keuangan
  • Dan lain sebagainya

Ekonomi islam tentunya sangat berbeda dengan ekonomi yang mengarah kepada prinsip kapitalisme atau liberalisme. Ekonomi islam bertujuan agar dapat terpenuhinya kebutuhan manusia, bukan hanya satu orang saja melainkan seluruh umat manusia secara keseluruhan agar dapat hidup berkualitas dan menunanaikan ibadah dengan baik. Sedangkan prinsip liberalisme atau kapitalisme hanya berdasarkan kepada pemilik modal, pasar bebas, dan tidak berpihaknya pada masyarakat lemah atau kurang mampu.

Ayat Al-Quran Mengenai Prinsip Ekonomi

Prinsip dasar dari ekonomi islam tentunya tidak hanya bergantung atau memberikan keuntungan kepada salah satu atau sebagian pihak saja. Ajaran islam menghendaki transaksi ekonomi dan kebutuhan ekonomi dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran manusia hidup di muka bumi.

Prinsip dasar ekonomi ini juga tentu berlandasakan kepada Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Berikut adalah Prinsip-prinsip Ekonomi Islam dalam islam yang senantiasa ada dalam aturan islam.

  1. Tidak Menimbulkan Kesenjangan Sosial

Prinsip dasar islam dalam hal ekonomi senantiasa berpijak dengan masalah keadilan. Islam tidak menghendaki ekonomi yang dapat berdampak pada timbulnya kesenjangan. Misalnya saja seperti ekonomi kapitalis yang hanya mengedepankan aspek para pemodal saja tanpa mempertimbangkan aspek buruh, kemanusiaan, dan masayrakat marginal lainnya.

Untuk itu, islam memberikan aturan kepada umat islam untuk saling membantu dan tolong menolong. Dalam islam memang terdapat istilah kompetisi atau berlomba-lomba untuk melaksanakan kebaikan. Akan tetapi, hal tersebut tidak berarti mengesampingkan aspek keadilan dan peduli pada sosial.

Hal ini sebagaimana perintah Allah, “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS An-Nur : 56)

Zakat, infaq, dan shodaqoh adalah jalan islam dalam menyeimbangkan ekonomi. Yang kaya atau berlebih harus membantu yang lemah dan yang lemah harus berjuang dan membuktikan dirinya keluar dari garis ketidakberdayaan agar mampu dan dapat produktif menghasilkan rezeki dari modal yang diberikan padanya.

  1. Tidak Bergantung Kepada Nasib yang Tidak Jelas

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”…” (QS Al-Baqarah : 219)

Islam melarang umatnya untuk menggantung nasib kepada hal yang sangat tidak jelas, tidak jelas ikhtiarnya, dan hanya mengandalkan peruntungan dan peluang semata. Untuk itu islam melarang perjudian dan mengundi nasib dengan anak panah sebagai salah satu bentuk aktivitas ekonomi.

Pengundian nasib adalah proses rezeki yang dilarang oleh Allah karena di dalamnya manusia tidak benar-benar mencari nafkah dan memakmurkan kehidupan di bumi. Uang yang ada hanya diputar itu-itu saja, membuat kemalasan, tidak produktifnya hasil manusia, dan dapat menggeret manusia pada jurang kesesatan atau lingkaran setan.

Untuk itu, prinsip ekonomi islam berpegang kepada kejelasan transaksi dan tidak bergantung kepada nasib yang tidak jelas, apalagi melalaikan ikhtiar dan kerja keras.

  1. Mencari dan Mengelola Apa yang Ada di Muka Bumi

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumuah : 10)

Allah memberikan perintah kepada manusia untuk dapat mengoptimalkan dan mencari karunia Allah di muka bumi. Hal ini seperti mengoptimalkan hasil bumi, mengoptimalkan hubungan dan transaksi dengan sesama manusia. Untuk itu, jika manusia hanya mengandalkan hasil ekonominya dari sesuatu yang tidak jelas atau seperti halnya judi, maka apa yang ada di bumi ini tidak akan teroptimalkan. Padahal, ada sangat banyak sekali karunia dan rezeki Allah yang ada di muka bumi ini. Tentu akan menghasilkan keberkahan dan juga keberlimpahan nikmat jika benar-benar dioptimalkan.

Untuk itu, dalam hal ekonomi prinsip islam adalah jangan sampai manusia tidak mengoptimalkan atau membiarkan apa yang telah Allah berikan di muka bumi dibiarkan begitu saja. Nikmat dan rezeki Allah dalam hal ekonomi akan melimpah jika manusia dapat mencari dan mengelolanya dengan baik.

  1. Larangan Ekonomi Riba

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah :278)

Prinsip Islam terhadap ekonomi yang lainnya adalah larangan riba. Riba adalah tambahan yang diberikan atas hutang atau transaksi ekonomi lainnya. Orientasinya dapat mencekik para peminam dana, khususnya orang yang tidak mampu atau tidak berkecukupan. Dalam Al-Quran Allah melaknat dan menyampaikan bahwa akan dimasukkan ke dalam neraka bagi mereka yang menggunakan riba dalam ekonominya.

  1. Transaksi Keuangan yang Jelas dan Tercatat

Transaksi keuangan yang diperintahkan islam adalah transaksi keuangan yang tercatat dengan baik. Transaksi apapun di dalam islam diperintahkan untuk dicatat dan ditulis diatas hitam dan putih bahkan ada saksi. Dalam zaman moderen ini maka ilmu akuntansi tentu harus digunakan dalam aspek ekonomi. Hal ini tentu saja menghindari pula adanya konflik dan permasalahan di kemudian hari. Manusia bisa saja lupa dan lalai, untuk itu masalah ekonomi pun harus benar-benar tercatat dengan baik.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” (QS Al Baqarah : 282)

  1. Keadilan dan Keseimbangan dalam Berniaga

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS Al Isra : 35)

Allah memerintahkan manusia ketika melaksanakan perniagaan maka harus dengan keadilan dan keseimbangan. Hal ini juga menjadi dasar untuk ekonomi dalam islam. Perniagaan haruslah sesuai dengan neraca yang digunakan, transaksi keuangan yang digunakan, dan juga standar ekonomi yang diberlakukan. Jangan sampai ketika bertransaksi kita membohongi, melakukan penipuan, atau menutupi kekurangan atau kelemahan dari apa yang kita transaksikan. Tentu saja, segalanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Dari prinsip-prinsip tersebut dapat dipahami bahwa manusia diberikan aturan dasar mengenai ekonomi islam agar manusia dapat menjalankan kehidupannya sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. Tentu saja dari prinsip tersebut dapat terlihat bahwa islam hendak memberikan rahmat bagi semesta alam, terlebih bagi mereka yang beriman dan taat dalam melaksanakan perintah Allah tersebut.

Tujuan Ekonomi Islam Kepada Masyarakat Islam

Di dalam menjalankan kehidupan di muka bumi, tentunya manusia selalu membutuhkan kebutuhan pokok hingga kebutuhan tambahan lainnya yang harus dipenuhi. Ketidakmampuan manusia mendapatkan modal dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dapat berakibat pada minimnya manusia untuk bisa bertahan beraktifitas dan menghasilkan berbagai perubahan.

Sejak zaman dulu, masalah ekonomi telah dilakukan sebagai aktivitas keseharian manusia. Walaupun belum pada tataran ekonomi yang kompleks, hal-hal sederhana seperti barter, bercocok tanam, mengembangkan ekonomi di laut sudah dilakukan oleh masyarakat zaman dahulu. Tentu saja hal itu masih dilaksanakan hingga kini dengan teknologi yang sudah kompleks.

Islam lahir di tengah-tengah ummat, untuk memastikan apakah pemenuhan kebutuhan tersebut sudah sesuai dan dapat berjalan dengan baik. Ekonomi islam bukan hendak memojokkan atau menyudutkan salah satu saja.

Ekonomi Menurut Ajaran Islam

Di dalam ajaran islam, permasalahan ekonomi tidak terpisah dengan ajaran yang lainnya. Ekonomi islam adalah bagian dari sektor kehidupan manusia yang turut diatur oleh Allah. Secara umum, pengaturan ekonomi islam dalam Al-Quran bersifat prinsip-prinsip dasar bukan teknis. Sedangkan masalah teknis tentu saja umat islam harus mengembangkannya lebih baik lagi dengan kapasitas ilmunya, seiring dengan berkembangnya jalan.

Tujuan ekonomi islam itu sendiri, dapat dirangkum dalam beberapa hal, diantaranya adalah :

  1. Memastikan Kebutuhan Ummat Manusia

Ekonomi islam bertujuan agar manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah sendiri menjamin bahwa Allah akan terus memberikan rezeki dan juga limpahan nikmat kepada manusia dengan asumsi bahwa manusia harus taat dan terus berikhtiar dan meminta kepada Allah.

Landasan ekonomi islam adalah ketauhidan atau ketaatan kepada Allah. Orang-orang yang taat dan beriman kepada Allah akan mendasarkan aktivitas ekonominya berdasarkan kepada etika, keseimbangan, universalitas, dan keadilan dalam melangkah. Tentu ia tidak akan asal-asalan dan juga serabutan dalam ikhtiar.

Untuk itu, pelaksanaan ekonomi islam adalah jaminan bahwa kebutuhan manusia akan selalu terpenuhi dengan rezeki dan limpahan nikmat Allah asalkan perekonomian tersebut dijalankan dengan benar.

  1. Menjauhi Ketimpangan Sosial

Ketimpangan sosial tentu akan terjadi jika pemusatan harta dan juga sumber daya hanyalah ada pada subjek atau kelompok tertentu saja. Untuk itu, islam memiliki prinsip untuk dapat menyebar dan juga memberikan rezeki tersebut tidak hanya pada satu orang atau kelompok saja dengan aturan zakat, infaq, dan shodaqoh.

Aturan zakat ini bukan hanya sekedar masalah pembersihan harta atau sekedar beramal shaleh melainkan juga dapat menggerakkan ekonomi ummat kepada yang tidak mampu atau tidak berdaya karena kurangnya sumber daya ekonomi. Untuk itu kewajiban berzakat, berinfaq, dan bershodaqoh adalah karena memang hal tersebut berusaha juga untuk menghindari ketimpangan sosial.

  1. Pemenuhan Ekonomi yang Beretika dan Bermartabat

Ekonomi islam juga bertujuan untuk menghindari pemenuhan ekonomi yang tidak beretika dan bermartabat. Hal ini misalnya pencurian, penipuan, atau melakukan kecurangan lainnya. Untuk itu, ekonomi islam pun dilandasi dengan nilai moral dan aqidah agar pelaksanakaan kebutuhan manusia tidak dilakukan secara sembarangan dan dapat terjamin bisa berkualitas sesuai kebutuhan manusia.

Islam untuk itu juga mengharamkan jual beli barang halal, jual beli yang tidak memiliki keterbukaan, kejujuran, dsb. Ekonomi islam ada agar manusia dapat memberikan kejujuran, halalnya barang, kualitas barang, kualitas produksi, distribusi, dan konsumsi dengan bingkai akhlak dan aqidah.

  1. Mengatur Keadilan dan Keseimbangan

Keadilan dan kesimbangan adalah prinsip dasar dari islam. Islam mengatur agar manusia tidak melakukan transaksi ekonomi yang tertutup atau tidak transparant. Untuk mengaturnya, contoh kecilnya islam selalu memberikan perintah adanya saksi, pencatatan keuangan, dan juga menerapkan standart atua neraca yang disepakati dalam hal transaksi ekonomi.

  1. Terhindar dari Riba

Riba adalah tambahan yang diberikan, salah satunya pada hutang dari peminjam. Riba sendiri dapat menjerat manusia dan akan terasa tercekik untuk membayarnya. Bahkan pada sebagian orang yang tidak mampu, riba seperti cekikan yang tiada henti. Kebanyakan orang miskin meminjam uang adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, tentu saja akan terasa tercekik apabila manusia memberikan riba padanya berkali-kali lipat. Untuk itu, Allah memberikan ancaman dan sanksi neraka apabila manusia melakukannya.

[AdSense-B]

Ekonomi Menurut Ulama

Ekonomi islam dengan tujuannya yang telah dijelaskan diatas, menuai ilmu tersendiri dan menarik perhatian para ulama. Diantaranya terdapat beberapa ulama yang juga konsen dan fokus terhadap masalah-masalah ekonomi islam. Berikut adalah pengertian ekonomi islam menurut para ulama.

  1. Menurut Dawam Rahardjo

Menurut Prof Dawam Rahardjo, ekonomi islam memiliki 3 bagian. Hal tersebut adalah ekonomi islam yang mendasarkan pada ajaran atau nilai islam, ekonomi islam sebagai suatu sistem kemasyarakatan, dan perkenomian umat islam yang artinya dijalankan oleh umat islam. Hal yang berkaitan dengan sistem ekonomi berkarti berkaitan dengan cara atau metode untuk dapat menunjang kegiatan ekonomi. Menurut Prof Dawam Rahardjo, ketiga hal tersebut harus dapat terintegrasikan dan bersinergi agar kuat dan besar dalam aktivitas ekonomi islam.

  1. Menurut Hasanuz Zaman

Hasanuz Zaman memiliki pengertian tentang ekonomi islam uaitu sebagai pengetahuan, aplikasi, dan pengaturan syariah. Hal ini bertugas untuk mencegah timbulnya berbagai ketidakadilan dalam hal manusia memenuhu kebutuhan sumber daya-nya. Selain itu, lewat hal tersebut juga menjadikan manusia untuk dapat melakukan kewajiban mereka terhadap Allah dan Masyarakatnya.

[AdSense-C]

  1. Menurut Monzer Kahf

Dari sudut pandang Monzer Kahf, ilmu ekonomi memiliki banyak sekali ilmu penunjang yang interdisipliner. Kajian ekonomi islam menurutnya, tidak bisa jika hanya berdiri sendiri tanpa ada penguasaan dari ilmu-ilmu lainnya. Menurutnya, ilmu ekonomi islam sangat juga bergantung keapada ilmu lain seperti matematika, fiqh, ushul fiqh, aqidah, akhlak, statistika, grafik, dsb.

  1. Menurut M. M Matewally

Ekonomi islam menurutnya adalah suatu ilmu yang berguna untuk mempelajari ummat islam dalam hal pemenuhan kebutuhan dan aktivitas ekonomi atau mengoptimalkan sumber daya yang ada. Tentu saja mengikuti apa yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah sebagai landasan.

Pada hakikatnya apa yang disampaikan oleh ulama-ulama tersebut, mengandung prinsip bahwa ekonomi islam bertujuan agar manusia dapat menjalankan kehidupannya sesuai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam secara baik dan berkualitas.

Untuk itu, tujuan ekonomi islam menjamin hal tersebut dengan landasan yang sama, yaitu sesuai dengan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Hakikatnya seluruh aturan islam kembali manfaatnya kepada manusia bukan sekedar formalitas atau aspek normatif saja.

Ekonomi Dalam Islam dan Karakteristiknya

Manusia adalah makhluk ekonomi. Untuk bisa mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam, tentunya manusia juga membutuhkan ekonomi. Hal ini karena  manusia senantiasa membutuhkan sumber daya dan modal untuk dapat melaksanakan kehidupannya. Tanpa ekonomi pastinya manusia tidak akan bisa untuk bertahan hidup karena secara kondisi tubuh akan melemah.

Islam dalam hal ekonomi mengatur keseluruhan hidup manusia, termasuk dalam hal ekonomi. Terkadang banyak orang yang enggan untuk mengikuti aturan islam dalam hal ekonomi karena dianggap tidak sesuai atau sudah berpersepsi negatif terhadap aturan islam.

Jika dikaji lebih mendalam ekonomi islam memiliki karakteristik dan juga ciri-ciri yang terkadang tidak dipahami dengan benar. Untuk itu, berikut adalah mengenai ekonomi dalam islam dan karakteristiknya.

Pengertian dan Dasar Ekonomi Islam

Ekonomi dalam islam adalah satu kesatuan dengan ajaran islam lainnya. Ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan aturan shalat, puasa, berumah tangga, dan aturan lainnya. Jika ada umat islam yang menganggap dirinya muslim, maka ia tidak boleh menolak aturan islam dengan aturan ekonomi islam. Islam dan Ekonomi adalah satu kesatuan yang tidak dipisah satu per satu bagian.

Banyak yang berpikiran bahwa ekonomi berbeda dengan islam. Islam hanya mengatur ibadah sedangkan tidak mengatur ekonomi. Tentu saja ini keliru. Islam adalah agama rahmatan lil alamin yang artinya mengatur keseluruhan sektor manusia. Untuk itu segala aktivitas manusia mengarah pada landasan dan prinsip islam.

Ekonomi dalam Islam diantaranya mengatur hal-hal seperti:

  • Cara Berhutang
  • Menunaikan Zakat
  • Transaksi Jual Beli
  • Membeli Mata Uang
  • Melarang Riba
  • Cara Menunaikan Transaksi dengan Akuntable
  • dsb

Untuk itu, ekonomi dalam islam bersifat prinsip-prinsip dasar. Sedangkan teknisnya tergantung kepada zaman yang berkembang dan teknologi yang digunakan. Selagi tidak melanggar prinsip dasar ekonomi islam tentu tidak menjadi masalah dan itu di bolehkan dalam islam.

Misalnya saja, menggunakan online untuk jual beli. Selagi masih ada akad dan kejelasan barang atau jasa yang ditawarkan serta jelas halal-haramnya barang tersebut, maka ulama-ulama memperbolehkan.

Prinsip dan Karakteristik Ekonomi dalam Islam

Di dalam Islam, masalah ekonomi diatur secara jelas. Ada beberapa hal teknis yang islam tidak mengaturnya secara rigid dan manusia bisa mengembangkan ekonomi tersebut sesuai dengan perkembangan teknologi. Namun, ada beberapa hal yang menjadi prinsip ekonomi islam dan hal ini tidak bisa berubah.

Prinsip ekonomi dan karakteristik islam sepanjang zaman dan perkembagan zaman tidak akan berubah dan harus diikuti. Hal ini bukan membatasi manusia, melainkan menjaga hukum ekonomi dan transaksi tersebut dapat saling menguntungkan dan mendapatkan keadilan darinya.

Berikut adalah prinsip dan karakteristik ekonomi islam yang dapat kita pahami dan juga terapkan dalam kehidupan keseharian atau bisnis yang kita miliki.

  1. Keadilan dan Keseimbangan

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS Al-An’am : 152)

Dalam ayat di atas di jelaskan bahwa prinsip ekonomi dalam islam haruslah menyempurnakan takaran dan timbangan. Artinya, dalam proses ekonomi harus ada alat ukur dan standart sehingga proses ekonomi bisa dilakukan dengan seimbang.

Misalnya saja ketika orang akan membeli buah maka harus ada timbangan yang nanti mengukur berapa buah yang didapatkan dan berapa harga yang harus dibayarkan sesuai nilai buah tersebut. Atau jika ada orang yang ingin menukar mata uang, maka harus ada kurs yang disepakati terlebih dahulu dan adil kedua belah pihak.

[AdSense-B]

  1. Sama-Sama Menguntungkan

Ekonomi islam mengedepankan prinsip sama-sama menguntungkan. Di dalam transaksi ekonomi, tidak bisa ada yang saling merugi atau rugi salah satunya. Untuk itu, transaksi ekonomi dalam islam diatur agar ada kesepakatan atau akad terlebih dahulu, agar satu sama lain tidak ada yang merasa dirugikan setelahnya.

Jangan sampai ada transaksi yang baru disadari merugikan setelah melihat barangnya, setelah digunakan, atau merasa dizalimi setelahnya. Itulah pentingnya akad jual beli, memilih barang, dan menyepakati harga terlebih dahulu. Untuk itu, islam mengaturnya agar manusia bertransaksi sama-sama menguntungkan.

  1. Tidak Mencekik Fakir Miskin atau Orang yang Tidak Mampu

Prinsip ekonomi selanjutnya adalah jangan sampai transaksi ekonomi kita mencekik fakir miskin atau orang yang tidak mampu. Hendaknya orang-orang yang memiliki harta dan ekonomi berlebih tidak sampai menjadikan fakir miskin dan orang tidak mampu semakin sulit dan tidak bisa membiayai hidupnya.

Hal ini sebagaimana disampaikan dalam Surat Al-An’am diatas. Sering kali ada orang-orang yang bertransaksi ekonomi lalu mencekik fakir miskin dengan hutang yang mengandung riba. Tentu saja orang-orang miskin tersebut sangat kesulitan untuk membayar kebutuhan hidupnya, apalagi harus membayar bunga dari hutangnya yang sangat mencekik hidupnya.

Bagaimanapun islam mengatur hubungan ekonomi orang yang mampu dengan tidak. Untuk itu, zakat infaq shodaqoh adalah salah satu cara untuk menyeimbangkan ekonomi islam agar seimbang diantara keduanya. Dan jika fakir miskin semakin sedikit dan terbantukan, tentu yang untung adalah semua umat. Karena semakin banyak yang mampu dan sejahtera, ekonomi pun makin melesat.

[AdSense-C]

  1. Transparansi atau Keterbukaan

Prinsip yang juga harus dipahami oleh umat islam dalam hal ekonomi adalah trnasparansi dan keterebukaan. Ketika melakukan jual beli misalnya, maka hendaklah terbuka mengenai kondisi barang atau hal yang diperjual belikan. Terangkanlah mengenai baik dan cacatnya dan jangan menutup-nutupi kondisi yang ada.

Efek dari ketidakterbukaan itu tentu membuat yang rugi adalah diri kita sendiri. tentunya ketidak jujuran membuat orang enggan untuk bisa kembali bertransaksi dengan kita. Untuk itulah yang dinamakan ketidakberkahan dalam ekonomi.

  1. Pencatatan Transaksi

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.” (QS Al Baqarah : 282)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa dalam bermuammalah dan melangsungkan transaksi ekonomi harus ada pencatatan dan penulisan. Hal ini agar transaksi ekonomi yang dijalankan bisa sesuai dan tidak terlupakan. Biasanya seiring berjalan waktu masalah transaksi yang tercatat akan terlupakan.

Jika masalah pencatatan ini terlupakan, akan berakibat konflik dan menjadi masalah yang tidak terselesaikan karena tidak ada pencatatan yang jelas. Untuk itu pentingnya pencatatan dan ilmu akuntansi bisa digunakan untuk memperjelas masalah transaksi ekonomi.

Itulah prinsip-prinisp dan karakteristik ekonomi islam. Tentunya prinsip ekonomi islam berbeda dengan prinisp yang cenderung pada kapitalisme, pembebasan modal, yang cenderung tidak memihak kepada rakyat kecil. Untuk itu, ekonomi islam haruslah dijaga dan ditegakkan. Karena dampak ekonomi islam bukan hanya satu pihak melainkan seluruh ummat, rahmatan lil alamin.

Beruntungnya kita sebagai manusia yang menegakkan aturan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Karena di dalamnya mengandung keadilan, keseimbangan, dan jalan yang mensejahterakan bagi ummat islam .

Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam

Tidak ada manusia di dunia ini yang hidup tanpa membutuhkan ekonomi. Untuk itu, selain Allah memberikan rezeki kepada manusia, Allah pun mengaturkan sistem rezeki dan ekonomi tersebut dapat diaplikasikan dengan baik di masyarakat. Berikut adalah mengenai ekonomi syariah dalam islam yang terdapat dalam Al-Quran.

Banyak yang tidak mengenal ekonomi syariah dan hanya mengetahui ekonomi dari istilah saja. Sebagai umat muslim tentunya wajib untuk menjalankan ekonomi syariah, karena ekonomi syariah adalah bagian dari ajaran islam dan aturan Allah yang harus ditegakkan.

Kewajiban Mengamalkan Ekonomi Syariah

Ekonomi syariah adalah hukum ekonomi yang wajib dijalankan oleh setiap muslim. Ekonomi syariah bukan hanya berlabel islami atau bernama dengan istilah syariah saja. Terlebih Ekonomi Syariah adalah yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar ekonomi islam.

Pembahasan ekonomi syariah bersumber dari Al-Quran, karena Al-Quran adalah sumber utama dari penegakkan ajaran islam. Ekonomi islam senantiasa melihat dari berbagai aspek yaitu aspek individu, sosial, dan hubungannya dengan penegakkan islam di muka bumi. Tidak lupa juga masalah ekonomi pun senantiasa berhubungan dengan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman.

Dalam kehidupan manusia, ekonomi adalah hal yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia. Manusia dalam hidupnya membutuhkan modal untuk bisa memenuhi kebutuhan makan, minum, tempat tinggal, berpakaian, dan sebagainya. Ekonomi juga sangat mempengaruhi manusia dalam mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam ketika di dunia.

Dalam hal ini, islam sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin juga ikut mengatur masalah mendasar manusia dalam hal ekonomi tersebut. Untuk itu istilah ekonomi syariah muncul. Sejatinya hukum ekonomi islam syariah adalah ekonomi yang seimbang dan menegakkan keadilan. Tanpa istilah syariah pun hakikatnya hukum ekonomi islam adalah ekonomi yang adil dan seimbang.

Prinsip Ekonomi Syariah

Ekonomi syariah tentunya adalah suatu yang wajib untuk dilaksanakan bagi seluruh umat islam di dunia. Hubungan ekonomi syariah tentunya berkaitan erat dengan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Untuk itu, berikut adalah hal-hal yang menjadi dasar atau prinsip hukum ekonomi syariah dalam Al-Quran.

  1. Transaksi Ekonomi yang Berbasis Sosial dan Spiritual

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS An-Nuur : 56)

Ekonomi syariah selalu menengakkan transaksinya berdasarkan spirit spiritual dan sosial masyarakat. Masalah ini berkaitan dengan aturan zakat dalam islam. Orang-orang yang memiliki harta lebih harus memberikan sebagian hartanya untuk dapat diberikan kepada fakir miskin.

Aturan ini tidak terlepas dari aturan shalat. Untuk itu masalah ekonomi pun berhubungan sekali dengan masalah spiritual. Artinya dalam spirit ekonomi syariah, masalah muammalah atau hubungan dengan sesama manusia tidak pernah bisa lepas dari masalah hubungan dengan ketuhanan.

Orang-orang yang mendirikan zakat harus mendirikan shalat. Orang-orang yang menyembah Allah harus memuliakan dan mensejahterakan manusia. Begitupun dengan orang-orang yang memuliakan manusia tidak cukup namun harus juga menyembah Allah.

  1. Menjauhi Riba

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Ali Imran : 130)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa riba adalah suatu yang haram dalam islam bahkan Allah memberikan sanksi ahli neraka jika riba tersebut ditegakkan. Untuk itu, perlu dipahami bahwa riba adalah kejahatan yang sangat tinggi. Riba dapat mencekik fakir miskin. Bahkan riba seperti membunuh pelan-pelan dan membuat orang lain terzalimi. Untuk itu, dalam islam riba menjadi larangan dan suatu yang diharamkan. Riba tidak menguntungkan sama sekali, menzalimi fakir miskin dan orang tak punya.

Selain itu, efek dari riba adalah semakin banyaknya kemiskinan bagi yang terjerat riba. Umat islam sudah seharusnya berpikir bahwa ketika semakin banyak orang miskin, maka semakin sedikit pula orang-orang yang mampu. Walaupun mereka seorang bangsawan sekalipun, ketika tidak ada yang mampu membeli barang ekonominya, maka sama saja ia pun akan merugi.

Untuk itu, islam mengajarkan agar tidak egois atau individualis melainkan memikirkan bagaimana kesejahteraan dan kemakmuran manusia bisa dirasakan bersama.

[AdSense-B]

  1. Tidak Bergantung Pada Peruntungan (Judi)

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”  (QS Al-Baqarah : 219)

Islam melarang untuk bergantung ekonomi pada peruntungan. Peruntungan hal ini adalah seperti judi. Hal ini dilarang islam karena judi memiliki ketidakjelasan. Sedangkan mengadu nasib pada suatu yang tidak jelas atau tidak pasti dilarang oleh islam, apalagi hanya berdasarkan peluang dan tanpa ada ikhtiar atau usaha.

Judi itu sendiri efeknya membuat harta tidak bergerak. Manusia yang mengandalkan hidupnya dari judi membuat ia bergantung pada harta yang itu-itu saja. Allah sendiri memberikan perintah pada manusia untuk mencari karunia dan rezeki Allah di muka bumi, agar bisa diolah, dikembangkan, dan dikelola sehingga semakin tergali dan terpotensikan lah apa yang ada di muka bumi.

  1. Pelarangan Gharar

Gharar adalah suatu yang tidak jelas atau suatu yang samar. Artinya, ketika bertransaksi ekonomi maka harus dipastikan terlebih dahulu jenis, jumlah, kualitas, keadaan barang atau produk ekonominya agar tidak ada yang saling dirugikan. Itulah islam mengajarkan agar transaksi ekonomi selalu disertai oleh akad dan perjanjian yang jelas dan pasti. Dalam hal ini ekonomi syariah selalu mengedapankan hal tersebut, agar tidak ada yang merasa terzalimi kemudian harinya.

[AdSense-C]

  1. Prinsip Akuntable

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.” (QS Al Baqarah : 282)

Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Transaksi ekonomi apapun itu haruslah tercatat dan terekam secara jelas. Hal ini untuk menghindari kelupaan, konflik dan pihak yang semena mena terhadap-nya. Dalam masalah ini ilmu akuntansi yang berkembang tentu sangat berkaitan erat dengan hal ini.

Ekonomi syariah adalah ekonomi yang terbuka dna transaparant. Sehingga, di kemudian hari walaupun terjadi masalah akan jelas dan tidak akan ada saling menuduh karena masalah transaksi yang tidak tercatat.

Hukum Bunga Bank Menurut Islam Beserta Dalilnya

Tidak bisa dipungkiri, sejak dunia memasuki era globalisasi, kehidupan kaum muslimin menjadi semakin carut marut. Khususnya di bidang perekonomian. Masyarakat tak lagi memperdulikan antara halal dan haram. Berlakunya sistem ekonomi berbasis kapitalisme  saat ini hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, dimana kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi dilakukan semata-mata untuk meraup profit sebesar-besarnya tanpa mengindahkan syariat agama, sebut saja praktik bunga dalam bank.

Bunga bank memang sudah lama menjadi kontroversi yang selalu diperdebatkan di tengah-tengah masyarakat. Sebagian orang memandang kredit dengan sistem bunga merupakan cara untuk membantu perekonomian rakyat. Namun di sisi lain praktik ini justru merugikan kalangan miskin yang terpaksa melakukan pinjaman di bank.

Pada tahun 2003, Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengeluarkan fatwa keharaman bunga bank, dengan dalih bahwa bunga yang dikenakan dalam transaksi utang-piutang memasuki kriteria riba yang diharamkan Allah SWT. Meski demikian, masih banyak ulama yang menghalalkannya dengan alasan bunga bank konvensional tidak mengandung unsur eksploitasi, sebab orang-orang yang meminjam uang dianggap dari golongan perekonomian keatas dan mampu mengembalikan pinjaman tersebut (beserta bunganya).

Nah, sebagai umat islam sudah kewajiban kita untuk mencari rezeki yang halalan thoyiban. Lalu sebenarnya bagaimana hukum bunga bank dalam islam? Berikut ini pengkajiannya secara mendalam.

Definisi Bunga Bank

Bunga merupakan terjemahan dari kata “interest” yang berarti tanggungan pinjaman uang atau persentase dari uang yang dipinjamkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bunga adalah imbalan jasa penggunaan uang atau modal yang dibayar pada waktu tertentu berdasarkan ketentuan atau kesepakatan, umumnya dinyatakan sebagai persentase dari modal pokok.

Bunga bank juga dapat didefinisikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank dengan prinsip konvensional kepada nasabah yang melakukan transaksi simpan atau pinjam kepada bank. Ada berbagai macam jenis bunga bank, misalnya bunga deposito, bunga tabungan, giro, dan lain-lain.

Berdasarkan metodenya, bunga bank dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

  1. Bunga Simpanan

Bunga simpanan merupakan bunga yang diberikan oleh bank kepada nasabah yang menyimpan uangnya di bank. Pemberian bunga ini didasarkan pada porsentase dari simpanan pokok, dimana sumber bunganya berasal dari keuntungan utang-piutang yang dilakukan pihak bank.

  1. Bunga Pinjaman

Bunga pinjaman adalah bunga yang diberikan kepada nasabah yang melakukan peminjaman uang di bank, dimana nantinya nasabah harus membayar melebihi jumlah pinjaman pokok dengan batasan waktu tertentu.

Definisi dan Hukum Riba

Menurut etimologi, riba berarti tambahan (ziyadah), bisa juga diartikan berkembang (nama’). Sedangkan secara istilah, riba didefinisikan sebagai pengembalian tambahan dari modal pokok secara bathil dan bertentangan dengan prinsip muamalah dalam islam. (Baca juga: Macam-Macam Riba dalam Ekonomi Islam dan Bahaya Riba di Dunia dan Akhirat )

Qadi Abu Bakar Ibnu Al-arabi dalam bukunya “Ahkamul Quran” berpendapat bahwa riba adalah setiap kelebihan nilai barang yang diberikan dengan nilai barang yang diterima. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan jika riba ialah penambahan dana (dalam bentuk bunga pinjaman) yang dibayarkan oleh seseorang yang memiliki utang dengan penambahan waktu tertentu, karena ia tidak mampu melunasi hutang-hutangnya.

Dalam ajaran islam, seorang muslim diharamkan memakan harta riba’. Atau dengan kata lain, hukum riba adalah haram! Imam al-Syiraaziy di dalam Kitab al-Muhadzdzab menyatakan bahwa riba merupakan perkara yang diharamkan. Pendapat ini didasari firman Allah Swt dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا

 “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..” (Q.S Al-Baqarah: 275)

Selain itu, ditegaskan dalam surah An-Nisa ayat 161:

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Q.S. An-Nisa: 161)

Keharaman riba dijelaskan pula dalam kitab Al Musaqqah, Rasulullah bersabda :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Jabir berkata bahwa Rasulullah mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda, “Mereka itu semuanya sama.”(H.R Muslim)

[AdSense-B]

Hukum Bunga Bank Dalam Pandangan Islam

Dalam Al-Quran, hukum melakukan riba sudah jelas dilarang Allah SWT. Begitupun dengan bunga bank, dalam praktiknya sistem pemberian bunga di perbankan konvensional cenderung menyerupai riba, yaitu melipatgandakan pembayaran. Padahal dalam islam hukum hutang-piutang haruslah sama antara uang dipinjamkan dengan dibayarkan. (Baca juga: Pinjaman Dalam Islam- Hukum dan Ketentuannya dan Hutang Dalam Pandangan Islam)

Pandangan ini sesuai dengan penjelasan Syaikh Sholih bin Ghonim As Sadlan. Beliau menjelaskan dalam kitab fiqihnya yang berjudul “Taysir Al Fiqh”, seorang Mufti Saudi Arabia bernama Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah mengemukakan bahwa pinjaman yang diberikan oleh bank dengan tambahan (bunga) tertentu sama-sama disebut riba.

“Secara hakekat, walaupun (pihak bank) menamakan hal itu qord (utang piutang), namun senyatanya bukan qord. Karena utang piutang dimaksudkan untuk tolong menolong dan berbuat baik. Transaksinya murni non komersial. Bentuknya adalah meminjamkan uang dan akan diganti beberapa waktu kemudian. Bunga bank itu sendiri adalah keuntungan dari transaksi pinjam meminjam. Oleh karena itu yang namanya bunga bank yang diambil dari pinjam-meminjam atau simpanan, itu adalah riba karena didapat dari penambahan (dalam utang piutang). Maka keuntungan dalam pinjaman dan simpanan boleh sama-sama disebut riba.” (Al Fiqh” hal. 398, terbitan Dar Blancia, cetakan pertama, 1424 H).

Dalil yang Menjelaskan Kesamaan Bunga Bank dengan Riba

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (Q.S Ar-Rum : 39)

Jika kita renungi secara mendalam, sebenarnya ayat diatas telah menjelaskan definisi riba secara gamblang, dimana riba dinilai sebagai harga yang ditambahkan kepada harta atau uang yang dipinjamkan kepada orang lain. Apabila mengacu pada ayat ini, jelas bahwa bunga bank menurut islam merupakan riba. Sebagaimana Tafsir Jalalayn yang berbunyi:

“(Dan sesuatu riba atau tambahan yang kalian berikan) umpamanya sesuatu yang diberikan atau dihadiahkan kepada orang lain supaya orang lain memberi kepadanya balasan yang lebih banyak dari apa yang telah ia berikan; pengertian “sesuatu” dalam ayat ini dinamakan tambahan yang dimaksud dalam masalah muamalah” (Tafsir Jalalayn, Surat Ar-Rum:39)

Surat Ar-Rum ayat 39 juga menjelaskan bahwa Allah SWT membenci orang-orang yang melakukan riba (memberikan harta dengan maksud agar diberikan ganti yang lebih banyak). Mereka tidak akan memperoleh pahala di sisi Allah SWT, sebab perbuatannya itu dilakukan demi memperoleh keuntungan duniawi tanpa ada keikhlasan.

“Harta yang kalian berikan kepada orang-orang yang memakan riba dengan tujuan untuk menambah harta mereka, tidak suci di sisi Allah dan tidak akan diberkahi” (Tafsir Quraiys Shibab, Surat Ar-Rum: 39)

[AdSense-C]

Hukum Bunga Bank Menurut Beberapa Ulama

Meskipun praktek bunga bank sudah jelas mernyerupai riba, namun keberadaanya di Indonesia sendiri masih menjadi dilematis dan sulit dihindari. Sehingga tidak heran banyak ulama yang bertentangan perihal hukum bunga bank menurut islam.

Sebut saja Ijtima’Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, pada tahun 2003 mereka telah menfatwakan bahwa pemberian bunga hukumnya haram, baik di lakukan oleh Bank, Asuransi,Pengadilan, dan Lembaga Keuangan lainnya maupun individu. Selain itu, pertemuan 150 Ulama terkemuka pada tahun 1965 di konferensi Penelitian Islam, Kairo, Mesir juga menyepakati bahwa keuntungan yang diperoleh dari berbagai macam jenis pinjaman (termasuk bunga bank) merupakan praktek riba dan diharamkan.

Ulama lain seperti Yusuf Qardhawi, Abu zahrah, Abu ‘ala al-Maududi Abdullah al-‘Arabi dan Yusuf Qardhawi sepakat jika bunga bank termasuk riba nasiah yang diharamkan oleh Islam. Maka dari itu, umat Islam tidak dibolehkan bermuamalah dengan bank yang menganut sistem bunga kecuali dalam kondisi darurat. Keharaman praktik bunga bank juga diungkapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-27 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Di sisi lain, musyawarah para ulama NU pada tahun 1992 di Lampung memandang hukum bunga bank tidak sepenuhnya haram atau masih khilafiyah. Sebagian memperbolehkan dengan alasan darurat dan sebagian mengharamkan. Sedangkan pemimpin Pesantren “Persis” Bangil, A. Hasan berpendapat bahwa bunga bank yang berlaku di Indonesia halal, sebab bunga bank tidak menganut sistem berlipat ganda sebagaimana sifat riba yang dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 130.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (Q.S Ali Imran: 130)

Kesimpulannya, mayoritas ulama menetapkan bahwa bunga bank hukumnya  sama dengan riba yang berarti dilarang Allah SWT. Keputusan ini berlandaskan pada Al Quran, Al Hadist, serta hasil penafsiran dari fuqaha’ (ulama yang ahli dalam bidang fiqh).

Wallahu a’lam bishawab.

Macam-macam Riba dalam Ekonomi Islam

Setiap manusia menginginkan harta yang halal, berkah, dan juga bermakna bagi kehidupannya. Harta dalam islam memang bukanlah segala-galanya akan tetapi harta dibutuhkan untuk mendukung misi kehidupan manusia. Namun harta yang berkah dan halal tentunya harus mengikuti aturan yang sesuai dengan rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia.

Salah satu hal yang membuat harta tidak halal adalah adanya riba. Riba hal yang haram dan diharamkan oleh ajaran islam. Bukan saja karena persoalan haram belaka, namun tentunya riba memiliki dampak yang mudharat bagi sosial kemasyarakatan, khsususnya mereka yang kurang mampu.

Hal ini sebagaimana juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist, ” Rasulullah saw melaknat (mengutuk) orang yang makan riba, orang yang berwakil kepadanya, penulisnya dan dua saksinya.” (HR. Muslim)

Dari beberapa pendekatan sejarah islam dan pendapat ulama, riba bermakna bukan saja sebagai penambahan biasa. Pengertian Riba Menurut Islam adalah penambahan pembayaran terhadap orang yang berhutang, dengan kondisi dimana si penghutang tidak mampu melunasi hutangnya sesuai waktu dan jumlah yang ditentukan. Terhadap si penghutang yang tidak mampu melunasi tersebut, kemudian si pemberi pinjaman menambahkan kembali biaya untuk memberatkan pembayaran dari si penghutang.

Berikut adalah penjelasan mengenai riba dan  macam-macam riba yang ada.

Larangan Riba dalam Al Quran

Di dalam Al Quran terdapat larangan mengenai riba. Larangan riba di dalam Al-Quran bukan saja berdampak di dalam kehidupan dunia, melainkan juga memiliki balasan kelak di akhirat. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam ayat-ayat berikut ini.

  1. QS Ali Imran : 130

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertaqwalah kamu kepada allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali-Imran:130)

Di dalam ayat ini Allah melarang orang beriman yang memiliki keyakinan terhadap rukun iman dan rukun islam untuk tidak memakan harta riba apalagi berlipat ganda. Hal ini dijelaskan bahwa meninggalkan riba manusia akan mendapatkan keberuntungan.

  1. QS Al Baqarah : 278

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS Al Baqarah : 278)

Di dalam ayat ini juga dilarang untuk memakan dan menggunakan riba walaupun hal yang sisa, khususnya kepada orang-orang beriman.

  1. QS Al Baqarah : 275

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS Al Baqarah : 275)

Di ayat ini kembali ditegaskan oleh Allah bahwa orang yang memakan riba adalah ahli atau penghuni neraka. Sebagaimana pengertian riba adalah pelipat gandakan yang melilit seseorang dengan tanpa rasa kemanusiaan, padahal orang tersebut juga membutuhkan dan mendapatkan kesulitan.

[AdSense-B]

Jenis Riba Menurut Mazhab Syafiiyah

Mazhab syafiiyah adalah mazhab yang paling banyak dianut oleh umat islam di Indonesia. Berikut adalah penjelasan macam-macam riba menurut Imam Syafii.

  1. Riba Fadhal

Riba Fadhal adalah tambahan yang disyaratkan dalam tukar menukar barang yang sejenis. Jual beli ini disebut juga sebagai barter, tanpa adanya imbalan untuk tambahan tersebut.. Hal ini diperjelas dalam hadist berikut ini.

Rasul SAW bersabda, “Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takaran, timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba; perak dengan perak harus sama takaran dan timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba; tepung dengan tepung harus sama takaran, timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba; korma dengan korma harus sama takaran,timbangan dan tangan ke tangan (tunai), kelebihannya adalah riba; garam dengan garam harus sama takaran, timbangan dan tangan ke tangan (tunai) kelebihannya adalah riba.” (HR Muslim)

  1. Riba Al Yad

Riba Al Yad adalah riba dalam jual beli atau yang terjadi dalam penukaran. Penukaran tersebut terjadi tanpa adanya kelebihan, namun salah satu pihak yang terlibat meninggalkan akad, sebelum terjadi penyerahan barang atau harga.

Penjelasan mengenai riba terdapat juga dalam hadist dari Rasulullah sebagai berikut:

“Jangan kamu bertransaksi satu dinar dengan dua dinar, satu dirham dengan dua dirham; satu sha dengan dua sha karena aku khawatir akan terjadinya riba (al-rama). Seorang bertanya : wahai Rasul: bagaimana jika seseorang menjual seekor kuda dengan beberapa ekor kuda dan seekor unta dengan beberapa ekor unta? Jawab Nabi SAW “Tidak mengapa, asal dilakukan dengan tangan ke tangan (langsung).”(HR Ahmad dan Thabra­ni).

[AdSense-C]

  1. Riba Nasi’iah

Riba Nasi’ah adalah tambahan yang disebutkan dalam sebuah perjanjian pertukaran barang atau muqayadhah atau barter, sebagai imbalan atas ditundanya suatu pembayaran. Riba jenis ini hukumnya sangat jelas.

Menjauhi Riba Menuai Keberkahan Harta

Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa riba yang diharamkan itu hanya riba nasi;ah. Begitupun dengan Usamah bin zaid, Zubair, Ibnu Zubair, dan lain sebagainya, menjelaskan hal yang serupa dengan Ibnu Abbas. Menurut mereka riba nasi’ah adalah kebiasaan dari orang-orang Arab yang jahiliah dan kebiasaan tersebut terjadi ketika memberikan hutang kepada orang lain.

Apabila hutang telah jatuh tempo, mereka akan menawarkan hutang apakah akan dilunasi atau diperpanjang. Jika keputusan peminjam adalah diperpanjang maka modal dan tambahannya akan dilipatgandakan, sehingga berakibat hutang mereka lama kelamaan akan bertambah banyak, terus berbunga dan berbunga yang dapat melilit si peminjam. Bagi mereka yang tidak mampu tentu akan kesulitan untuk membayarnya dan pasti akan semakin mencekik. Apalagi bagi mereka yang dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja masih sangat sulit.

Bagi kita seorang muslim yang memiliki misi sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam maka wajib untuk menghindari riba sesuai dengan perintah Allah SWT.

Hukum Riba Dalam Islam

Sejak zaman dahulu riba telah menjadi salah satu hal yang banyak diperdebatkan terutama kaum muslim. Sebenarnya istilah riba yang dikenal dalam islam juga dikenal oleh bangsa lain pada zaman sebelum islam (baca perkembangan islam). Apa sebenarnya yang dimaksud dengan riba dan bagaimana hukum riba menurut islam. Untuk mengetahui lebih lanjut, simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Riba

Kata riba sendiri berasal dari kata dalam bahasa Arab, yang berarti tambahan, berkembang, meningkat atau membesar. Dalam suatu ungkapan masyarakat Arab kuno menyebutkan arba fulan ‘ala fulan idza azada ‘alaihi yang artinya seseorang melakukan riba kepada orang lain jika ia meminta tambahan. Sedangkan menurut istilah atau terminologi ilmu fiqih, riba diartikan sebagai tambahan khusus yang diberikan sebagai imbalan atas balas jasa atau atas pinjaman yang diberikan. Dalam bahasa inggris, riba dikenal dengan istilah “Usury” yang berarti tambahan uang atas modal yang diberikan dari seseorang dan tidak sesuai dengan syariah atau kaidah yang berlaku.

Sejarah dan Hukum Riba

Meskipun demikian, Islam merupakan satu-satunya agama yang masih melarang praktek riba dan jelaslah bahwa riba diharamkan oleh Allah SWT. Umat islam tidak boleh mengambil riba baik dalam jumlah kecil maupun dalam jumlah besar. Sedangkan agama lain yang juga melarang riba pada zaman dahulu kini telah berangsur-angsur melemah dan hanya menganggap riba dalam jumlah yang besar sedangkan dalam jumlah sedikit tidak dianggap sebagai riba. (baca sejarah islam dunia dan sejarah agama islam)

Pada zaman India Kuno dimana hukum yang dilaksanakan sesuai ajaran Weda, atau kitab suci agama Hindu mengutuk riba sebagai perbuatan dengan dosa yang besar. Demikian halnya dengan kitab taurat yang melarang umat yahudi (baca sejarah yahudi)untuk melakukan riba dan juga injil yang melarang praktek tersebut selama lebih dari 1400 tahun. Kini ajaran dan larangan tersebut telah melemah. Hukum pelarangan atau haramnya riba saat ini hanya berlaku bagi umat muslim dan di sebagian negara islam di seluruh dunia. Dengan demikian hukum riba dalam islam dengan jelas melarang perbuatan riba dan mengharamkannya seberapapun jumlahnya. Pelaku riba diancam dengan dosa dan hukuman di akhirat kelak karena perbuatan tersebut dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. (baca juga perkembangan islam di Eropa dan Islam di Amerika)

Macam-macam Riba

Pada dasarnya, dalam pendidikan agama islam riba terbagi menjadi dua macam yaitu riba akibat hutang piutang dan riba jual beli yang dijelaskan berdasarkan Alqur’an dan hadits (baca manfaat membaca Alqur’an bagi ibu hamil dan manfaat membaca alqur’an bagi kehidupan)

a. Riba Hutang-Piutang

Riba akibat hutang-piutang tau dikenal dengan sebutan Riba Qard, adalah suatu tambahan atau kelebihan tertentu yang disyaratkan pada seseorang yang hendak meminjam harta (baca harta dalam islam) berupa uang atau modal atau yang disebut dengan muqtarid sedangkan istilah Riba Jahiliyah yaitu riba atau tambahan hutang yang harus dibayar jika yang berhutang tidak mampu membayar hutang pada waktu yang telah ditentukan. (baca hutang dalam pandangan islam dan berhutang dalam islam)

b. Riba Jual beli

Riba akibat jual-beli atau yang disebut dengan istilah Riba Fadl adalah pertukaran barang sejenisdengan takaran, dan kadar yang berbeda dan barang yang dipertukarkan tersebut termasuk jenis barang ribawi, atau barang yang dapat memunculkan riba sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW bahwa jika seseorang menukar barang seperti emas maka ia harus menukarnya dengan emas pula yang sama kualitas dan bobotnya, menukar perak dengan perak, dan lain sebagainya.

Sedangkan Riba Nasi’ah  adalah tambahan atau kelebihan yang diambil karena adanya penangguhan atas penerimaan suatu barang ribawi yang ditukar dengan barang ribawi lainnya. Riba nasiah biasanya muncul akibat adanya perbedaan kualitas dan takaran barang yang dijadikan sebagai patokan.

Tahapan Pengharaman Riba

Islam mengharamkan riba dan Allah melarang praktek riba melalui beberapa ayat yang diturunkan secara bertahap. Berikut ini adalah kronologi pengharaman riba yang terdapat dalam Alqur’an :

  • Tahap pertama

Dalam surat Ar-Rum ayat 39 yang diturunkan pada tahap pertama pelarangan riba, disebutkan bahwa Allah tidak menuikai orang yang melakukan riba dan jika seseorang ingin mendapat ridha Allah maka ia harus menjauhi riba. Allah juga menolak mereka yang meminjamkan uang atau hartanya dan mengambil kelebihan sebagai tindakan menolong. Jika seseorang ingin menolong orang lain maka bukan dengan jalan riba melainkan dengan cara bersedekah atau dengan mengeluarkan zakat.(baca penerima zakat dan syarat penerima zakat)

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).(QS Ar Rum 39)[AdSense-B]

  • Tahap kedua

Pada tahap kedua pengharaman perbuatan riba, Allah menurunkan surat An-Nisa’ ayat 160-161. Dalam ayat tersebut riba digambarkan sebagai perbuatan yang batil dan merupakan perbuatan dzalim terhadap orang lain. Allah juga menyebutkan balasan atau hukuman terhadap orang yahudi yang melakukan riba sebagai isyarat bahwa riba juga diharamkan pada umat muslim.

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.(QS An Nisa 160-161)

  • Tahap ketiga

Pada tahap ketiga Allah menurunkan surat Ali Imran ayat 130. Dalam ayat ini Allah tidak menyebutkan riba diharamkan secara jelas namun Allah melarang segala bentuk pelipat gandaan harta atau uang yang dipinjamkan. Hal ini merupakan kebijaksanaan Allah SWT yang melarang praktek riba di kalangan masyarakat saat itu dan telah mendarah daging diantara mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS Ali Imran ; 130)

  • Tahap keempat

Pada tahap keempat Allah menurunkan surat al-Baqarah ayat 275-279 yang berisi pelarangan riba secara jelas dan tegas. Allah juga dengan menjelaskan pelarangan riba secara mutlak baik dalam jumlah sedikit maupun jumlah yang besar. Dalam ayat tersebut juga disebutkan bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangi orang yang melakukan perbuatan riba.

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.[AdSense-C]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS Albaqarah 275-279)

Demikian definisi, hukum, macam serta tahap pengharaman riba yang djelaskan dalam Alqur’an. Sebagai seorang muslim semestinya kita dapat menjauhi perbuatan riba dan senantiasa menjaga diri kita dari perbuatan yang dzalim terhadap sesama. (baca bahaya riba dunia akhirat dan cara menghindari riba)