Doa Menyambut Bulan Ramadhan Paling Lengkap

Bulan ramadhan adalah bulan yang dinanti oleh segenap umat muslm. Setiap orang muslim pada bulan tersebut mendapat kesempatan yang sama untuk mencari keberkahan dari Allah. Pada bulan tersebut segala dosa diampuni, pintu surga dibuka, dan amal kebaikan sekecil apapun akan menjadi pahala.

Banyak orang terkadang merasa khawatir menjelang datangnya bulan ramadhan, umumnya akan berfikir tentang dirinya atau orang terdekatnya apakah bisa melewati bulan ramadhan tersebut sebab manusia tidak ada yang mengetahui sisa umurnya. Sebagai umat muslim hendaknya kita berdoa agar dapat diberi kesempatan melewati bulan penuh hikmah tersebut serta mampu mengisinya dengan kebaikan dan mendapat ampunan atas dosa dosa. Dalam artikel kali ini saya akan membahas tentang doa menyambut bulan ramadhan, yuk langsung saja kita bahas bersama,

Doa Menyambut Bulan Ramadhan yang Diajarkan Rasulullah

Pada jaman Rasulullah, para sahabat dan umat muslim di masa tersebut menyambut bulan ramadhan dengan kegembiraan dan penuh suka cita. Mereka mengungkapkannya dengan doa doa yang berisi harapan kebaikan, keberkahan, dan harapan sebab percaya bahwa keutamaan berdoa dalam islam salah satunya akan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Berikut kisah kisah nya yang diriwayatkan dalam berbagai hadist

1. Lathaif Al Ma’arif hal. 264

Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelu datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian selama enam bulan setelah Ramadhan, mereka berdoa agar Alah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan”.

Sungguh doa yang dipanjatkan oleh para sahabat Nabi seperti yang dijelaskan dalam hadist tersebut adalah hal yang luar biasa, sebagai hamba Allah mereka bersungguh sungguh mencari kebaikan dan ridho Allah bahkan hingga melakukan doa pada sebelum dan sesudah bulan ramadhan karena mereka mengetahui bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang tidak boleh terlewatkan dengan sia sia.

2. HR Ahmad No. 888

Ada satu doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika menjelang awal Ramadhan, doa tersebut diriwayatkan dalam sebuah hadist berikut, “Allahuakbar, Ya Allah jadikanlah hilal itu bagi kami dengan membawa keselamatan dan islam, dan membawa taufiq yang membimbing kami menuju apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan) adalah Allah”.

Doa tersebut dibaca ketika melihat hilal. Doa tersebut dibaca oleh para sahabat sebagai harpaan agar selama bulan Ramadhan diberikan keselamatan serta dapat mengisinya dengan hal hal yang dicintai oleh Allah.Rasulullah percaya manfaat doa dalam islam akan mendatangkan kebaikan dari Allah.

[AdSense-B]

3. HR Ahmad No. 2346

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan”. Doa yang terdapat hadist tersebut juga merupakan doa menyambut bulan ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah dan diterapkan oleh para sahabat serta umat muslim di jaman Rasulullah.

Doa tersebut juga dapat kita terapkan ketika menyambut bulan Ramadhan, sebagai hamba Allah yang mengharap keberkahan, tentu harus diawali dengan doa, dilakukan sungguh sungguh, serta apapun hasilnya diterima dengan ikhlas. sebab  keutamaan ikhlas dalam islam akan mendapatkan ridho dari Allah.

Begitu pula dalam hubungannya dengan bulan Ramadhan, kita memang tidak pernah mengetahui kapan kita akan menutup usia dan kita juga tidak mengetahui apakah segala amalan yang kita lakukan diterima oleh Nya, sebagai hamba Allah kita wajib tetap berprangka baik serta berdoa untuk dapat mewujudkannya, yaitu mendapat keberkahan dalam menjalani ibadah pada bulan Ramadhan.

4. HR Muslim

Doa menjelang bulan Ramadhan yang juga dilakukan pada jaman dahulu oleh Rasulullah dan para sahabatnya ialah doa memohon keimanan yang kuat. Sebagai manusia yang lemah, Allah lah yang maha membolak balikkan hati manusia. Doa dilakukan agar mendapat petunjuk cara menjaga hati-menurut islam selama bulan Ramadhan nanti.

Ada kalanya seseorang justru menjadi lemah imannya di bulan Ramadhan dan malas mengerjakan amal ibadah, padahal pada bulan mulia tersebut justru banyak sekali peluang untuk memperbanyak amal. Dengan doa menyambut bulan Ramadhan ini adalah bentuk permohonan pada Allah agar menguatkan keimanan di hati kita.

Ya Allah, berilah aku keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman, kesehatan yang besar, kekebalan dari penyakit, dan kebolehan  untuk menunaikan shalat, puasa, menghidupkan malamnya dam membaca Al Qur’an. Ya Allah, berilah daku keselamatan di bulan Ramadhan. Terimalah seluruhnya ibadah puasaku dan ibadah ibadah lain di bulan Ramadhan, maka bila Ramadhan berlalu dariku, Engkau sudah memaafkan dan mengampuni dosa dosa ku”.

[AdSense-A]

5. HR Muslim

Segala pujian dan sanjungan untuk Allah semata yang sudah membuat daku dan engkau, dan sudah menetapkan kedudukanmu juga sudah menjadikanmu (bulan Ramadhan) juga sebagai di saat manusia untuk beramal. Ya Allah, anugrahkanlah padaku sebuah anugrah yang diberkati. Ya Allah, curahkanlah padaku keselamatan, kesejahteraan, keyakinan, keimanan, kebajikan, ketaqwaan, bantuan, dan kesuskesan memperoleh apa apa yang Kau cintai dan ridhoi”.

Sebagai hamba Allah, kita wajib senantiasa memuji Nya dengan berbagai kenikmatan yang telah diberikan, salah satu nikmat tersebut ialah diciptakannya bulan Ramadhan yang mendatanagi berbagai kebaikan dan membuka pintu surga bagi segenap makhluk Allah. Doa menyambut bulan Ramadhan sudah selayaknya berisi tentang pujian dan syukur pada Nya seperti pada hadist di atas yang merupakan doa yang biasa dilakukan oleh para sahabat pada jaman Rasulullah. Doa tersebut sekaligus permohonan agar dapat melewati bulan tersebut dengan sukses, artinya dengan mengisi amal kebaikan dan diterima amal kebaikan tersebut.

Doa menyambut bulan Ramadhan berdasarkan Al Qur’an

6. QS Yunus : 58

“Sampaikanlah wahai Nabi Muhammad, bersama karunia Allah dan rahmat Nya, hendaknya bersama itu mereka bergembira. Karunia Allah dan Rahmat Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan dari harta benda”. Penjelasan dari firman Allah tersebut ialah pada bulan Ramadhan rahmat dan karunia Allah bertebaran untuk setiap hamba Allah, manusia sudah selayaknya menyambut dengan gembira akan datangnya bulan Ramadhan tersebut dengan memperbanyak doa kepada Allah agar dapat bertemu bulan yang paling mulia tersebut.

Karunia dan rahmat Allah jauh lebih baik dari segala hal yang berhubungan dengan duniawi yang bersifat sementara sedangkan amal kebaikan memiliki nilai sebagai bekal hidup di akherat nanti. Hal duniawi misalnya tentang harta benda atau urusan duniawi lain. Sebab itu umat muslim hendaknya menyambut dengan suka cita dan dengan penuh harapan memohon kepada Allah agar mendapat karunia serta rahmat yang dijanjikan Nya tersebut.

7. Al Baqarah : 7

Barang siapa diantara kamu hadir di bulan Ramadhan itu, wajib baginya puasa”. Penjelasan firman Allah tersebut ialah tentang kewajiban pada bulan Ramadhan, yaitu Allah mewajibkan hamba Nya untuk berpuasa. Allah berfirman tentang kewajiban tersebut agar manusia memiliki persiapan dan dapat menjalankan puasa serta amalan lainnya.

Doa menyambut bulan ramadhan dengan membaca firman Allah tersebut akan mengingatkan kita agar melakukan persiapan dengan meningkatkan kualitas diri serta memperbanyak doa. Doa mewujudkan kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan, permohonan dan bentuk ketawakkalan kepada Nya.

Allah Menyukai Hamba Nya yang Berdoa Menyambut Ramadhan

Salah satu tanda keimanan adalah seorang mukmin bergembira akan datangnya bulan Ramadhan, seperti menyambut tamu agung yang telah dinantikan. Mempersiapkan segalanya dengan baik tentu akan membahagiakan tamu tersebut. Hendaknya seorang muslim khawatir jika dirinya tidak dapat menjumpai bulan Ramadhan.

Jika ia merasa biasa biasa saja dan tidak ada yang istimewa, bisa jadi ia luput dari kebaikan sebab tidak merasa bergembira dengan karunia Allah. Kegembiraan tersebut karena banyaknya kemuliaan, keutamaan, dan berkah pada bulan Ramadhan. Sehingga ketika menjalani ibadah dan berdoa akan terasa lebih khusyu’. “Bagaimana tidak gembira? Seorang mukmin diberi kabar dengan terbukanya pintu pintu surga, tertutupnya pintu pintu neraka, syetan dibelenggu. Dari sisi manakah ada yang menyamai waktu Ramadhan ini?”. (Latha’if Al-Maarif Hal. 148).

[AdSense-C]

Manfaat Doa Menyambut Bulan Ramadhan

Bagaimana Allah membuka hati dan menerima amal kebaikan seseorang pada bulan puasa bergantung pada hati orang tersebut. Orang yang  merasa biasa saja dalam menyambut Ramadhan dan tidak melakukan persiapan apapun bahkan merasa bulan Ramadhan sama seperti bulan bulan lainnya merupakan orang yang sombong.

Sebab ia tidak merasa khawatir akan umur nya, akan dosa dosa apa yang telah dilakukannya, dan juga tidak merasa takut jika tidak mampu menikmati indahnya bulan Ramadhan. Doa menyambut bulan Ramadhan akan membuka hati kita akan hari yang abadi di akherat sehingga kita jauh dari sifat sombong.

Manfaat lain yaitu kita akan lebih menjadi sadar untuk memperbaiki diri sehingga pada bulan Ramadhan dapat menjalani ibadah dengan seikhlas mungkin dan menjadi orang baru atau orang yang lebih baik dari sisi akhlak setelah bulan Ramadhan berakhir nantinya. InsyaAllah.

Sampai disini dulu artikel mengenai doa menyambut bulan ramadhan, sudah selayaknya kaum muslim mempersiapkan diri menghadapi kedatangannya, sebab persiapan menyambut awal bulan ramadhan menjadi salah satu langkah awal yang menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam meraih berbagai keutamaan di dalamnya.

Semoga bermanfaat dan kita diberi umur panjang untuk dapat melewati serta mendapat keberkahan di bulan Ramadhan. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

13 Waktu Terkabulnya Doa yang Paling Mustajab

Doa adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk meminta sesuatu pada Allah SWT, juga sebagai bentuk kerendahan diri manusia di hadapan Sang Pencipta. Sehingga orang yang tidak mau berdoa, dianggap sombong dalam Islam karena merasa mampu melakukan dan meraih segalanya sendirian. Sedangkan sifat sombong di dalam Islam sangat dilarang.  Untuk itulah, Islam sangat menganjurkan untuk berdoa.

Apalagi banyak keutamaan berdoa dalam Islam juga doa agar keinginan tercapai. Namun terkadang pula ada banyak penyebab doa tidak dikabulkan Allah SWT. Adapun waktu-waktu yang paling baik untuk berdoa sehingga doanya dikabulkan, antara lain:

  1. Saat sepertiga malam terakhir

Di saat manusia lainnya sedang pulas tertidur, Anda justru dapat memanfaatkan waktu di sepertiga malam untuk berdoa kepada Allah SWT karena merupakan waktu yang penuh berkah. Sebagaimana sabda Rasul:

“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman : “Orang yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni.” (H.R. Bukhari, Muslim)

  1. Saat selesai sholat wajib

Setelah kita selesai sholat, hendaklah melanjutkan dengan berdzikir dan berdoa karena salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa adalah setelah selesai sholat. Sebagaimana dalam sebuah riwayat:

“Dari abu umamah ra, sesungguhnya Rasulullah saw ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah swt, beliau menjawab. Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu.” ( HR. Tirmidzi )

  1. Saat sahur dan berbuka puasa

Orang yang berpuasa adalah orang yang didengar doanya oleh Allah SWT, terutama ketika ia berdoa di waktu sahur dan berbuka. Sebagaimana sabda Rasul:

“Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terdhalimi.” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Hibban)

Maka ketika Anda berpuasa, hendaklah memperbanyak doa, terutama di waktu sahur dan  berbuka.

  1. Saat malam lailatul qadar

Malam lailatul qadar merupakan malam yang sangat istimewa karena di saat itulah Al-Quran turun. Di malam itu, dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa, sebagaimana dalam sebuah riwayat:

“Aku bertanya kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda : “Berdoalah,  Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Artinya : ‘Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku.” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Baca juga:

[AdSense-B]

Saking istimewanya malam lailatul qadar, Allah menyembunyikannya diantara 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Dan setiap doa di malam lailatul qadar akan dikabulkan, begitu pula dengan doa di bulan Ramadhan.

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(Q.S. AL-Qadr : 3 )

تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

Artinya: “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan..”(Q.S. AL-Qadr : 4 )

سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

Artinya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar..”(Q.S. AL-Qadr : 5 )

  1. Saat adzan berkumandang

Rasulullah SAW bersabda: “Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang.” (H.R. Abu Daud)

  1. Saat diantara adzan dan iqamah

Selain saat adzan berkumandang, ternyata waktu berdoa yang mustajab juga ada pada saat waktu jeda antara adzan dan iqamah. Sebagaimana sabda Rasul: “Doa diantara adzan dan iqamah tidak tertolak.” (H.R. Tirmidzi)

[AdSense-A]

  1. Saat turun hujan

Masih banyak yang tidak mengetahui bahwa salah satu waktu yang baik untuk berdoa adalah ketika hujan turun. Hal ini disebabkan karena hujan adalah salah satu bentuk rahmat dari Allah SWT. Sebagaimana yang tertuang dalam sebuah hadist: “Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun.” (H.R Al-Hakim)

  1. Saat hari Jumat

Jumat merupakan hari yang penuh berkah, dimana kita dianjurkan untuk banyak melakukan ibadah dan kebaikan di hari tersebut. Sebagaimana sabda Rasul: “Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut.” (H.R. Bukhari, Muslim)

Namun ada beberapa perbedaan pendapat diantara para ulama mengenai  waktu yang sebentar tersebut. Beberapa perbedaan pendapat tersebut antara lain:

  • “Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai.” (H.R. Muslim). Pendapat ini diikuti oleh Imam Muslim, An-Nawawi, Al-Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al-Baihaqi.
  • “Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah SWT pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar.” (H.R. Abu Daud). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Pendapat ini juga yang lebih masyhur dikalangan para ulama.

Namun alangkah baiknya jika seorang Muslim berdoa dan beribadah di sepanjang hari Jumat untuk lebih memantapkan kekuatan doanya, bukan hanya berdoa di waktu tertentu saja.

Baca juga:

  1. Saat hari Rabu antara Dzuhuhr dan Ashar

Sangat sedikit orang yang mengetahui waktu yang mustajab ini. Hal ini diketahui berasal dari sebuah riwayat yang diceritakan oleh Jabir bin Abdillah r.a. :

“Nabi SAW berdoa di Masjid Al-Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau.  Berkata Jabir : “Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya.”
Dan dalam riwayat lain disebutkan : “Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Dhuhur dan Ashar.” (H.R. Ahmad)

  1. Saat berjihad atau berperang di jalan Allah

Keistimewaan berjihad atau berperang di jalan Allah adalah dikabulkannya doa orang yang berjihad tersebut. Sebagaimana sabda Rasul: “Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang.” (H.R. Abu Daud)

  1. Saat di hari Arafah

Hari Arafah adalah hari saat wukuf di Arafah, tepatnya tanggal 9 Dzulhijjah sehingga dianjurkan bagi semua umat Muslim untuk berdoa di hari itu. Sebagaimana sabda Rasul: “Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah.” (H.R. At-Tirmidzi)

  1. Saat sujud dalam sholat

Rasululah SAW bersabda: “Seorang hamba yang berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu.” (H.R. Muslim)

  1. Saat dizholimi

Sungguh doa orang yang dizholimi akan didengar langsung oleh Allah SWT. Sehingga berhati-hatilah jika akan mendzholimi orang. Sebagaimana sabda Rasul: “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang dizalimi. Sesungguhnya doa itu akan naik ke langit amat pantas seumpama api marak ke udara.” (Hadis Riwayat Hakim – sanad sahih). Anda juga dapat melihat doa orang yang teraniaya dalam Al-Quran. Ketika dizholimi, lakukan banyak ibadah doa agar dipermudah segala urusan.

Itulah beberapa waktu yang mustajab untuk berdoa. Hendaklah kita menjadi hamba yang selalu merendahkan diri di hadapan Allah SWT dengan memperbanyak ibadah dan doa.

Adakah Doa untuk Menolak Hujan? – Hukum – Dalil

Bismillahirrahmanirrahim.

Hujan merupakan salah satu bentuk rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Banyak amal shalih yang dianjurkan untuk kita lakukan pada saat hujan. Tapi tetap saja kebanyakan orang masih merasa bahwa hujan adalah sebuah musibah karena menjadi salah satu penyebab banjir, jalanan becek, terganggunya suatu kegiatan, dan lain-lain. Benarkan semua itu karena hujan? Lalu bolehkah manusia meminta kepada Allah agar hujan tidak turun atau dapatkah manusia menolak turunnya hujan?

Berikut penjelasan para ulama terkait turunnya hujan dilansir dari muslim.or.id

  1. Hujan adalah kuasa Allah semata.

Hal ini tersirat pada quran surat al-waqiah ayat 68 sampai 69.

”Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)

Tidak ada sesuatu yang sia-sia jika Allah yang menentukannya. Turunnya hujan adalah salah satu bukti kekuasaan Allah dalam mengatur alam semesta. Allah mengetahui bahwa tanah yang tandus butuh air agar tanaman-tanaman yang indah dan bermanfaat dapat tumbuh, meskipun manusia tidak menyadari itu. Mungkin di suatu daerah hujan dianggap suatu yang biasa saja, tetapi untuk daerah yang lainnya, hujan bisa saja merupakan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Hal ini terdapat dalam quran surat Al-Fushsilat ayat ke 39:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41] : 39).

Sehingga, manusia tidak dapat menolak ataupun mengatur kapan atau dimananya hujan itu harus turun. Melalui ilmu pengetahuan, manusia pun hanya dapat memperkirakannya.

Baca juga:

  1. Berdoalah kepada Allah

Berdoa agar hujan yang datang adalah hujan yang akan memberi manfaat dan tidak merusak apapun. Ketika hujan turun dengan derasnya secara terus menerus, sebagian dari kita pasti khawatir hujan tersebut akan menimbulkan suatu bencana. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam mengajarkan sebuah doa yang bertujuan untuk memohon kepada Allah agar Allah menurunkan hujan yang tidak menimbulkan kerusakan dan agar Allah memalingkannya ke tempat-tempat yang memang sangat membutuhkan hujan tersebut.

“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”

Dalam hadits Anas bin Malik, doa tersebut dipanjatkan ketika hujan tak kunjung berhenti selama seminggu, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memohon pada Allah agar cuaca kembali cerah. (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897).

Doa tersebut juga terdapat versi lebih pendeknya, yakni:

“Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa” [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan yang merusak kami]

Maka, kita memang tidak bisa menolak turunnya hujan, tetapi kita bisa memohon kepada Allah agar dihindarkan dari dampak buruk turunnya hujan yang terus menerus. Terlebih untuk saudara-saudara kita yang berada di daerah rawan banjir, sangat dianjurkan untuk membaca doa ini.

Baca juga:

[AdSense-B]

  1. Dilarang untuk mencela hujan meskipun di dalam sebuah doa.

Seringkali terdengar dari lisan manusia kata-kata seperti, “Aduh hujan lagi!” atau, “Yah, hujan!” dan semacamnya. Meskipun sebagian dari mereka sudah memahami bahwa hujan merupakan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, hal ini dilarang karena mencela hujan sama saja dengan mencela rahmat-Nya.

Terlebih hujan adalah salah satu ciptaannya yang tidak mengetahui apa-apa dan tidak bersalah karena semuanya tetap Allah yang mengatur. Manusia harus selalu ingat bahwa setiap perkataannya akan dicatat oleh malaikat dan kita tidak tahu mana perkataan yang dapat menjerumuskan ke surga dan bisa saja ada perkataan yang dapat menjerumuskan seseorang ke neraka. Naudzubillahimindzalik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”[HR. Bukhari no. 6478]

baca juga:

Pada intinya, memang tidak ada dalil yang menerangkan tentang doa menolak hujan, karena hujan merupakan kuasa sekaligus rahmat-Nya atas seluaruh manusia di muka bumi ini. Hanya saja, kita bisa memohon kepada-Nya agar hujan yang turun ke bumi membawa manfaat dan tidak sampai menimbulkan kerusakan. Selain itu, tidak semua kerusakan seperti banjir, tanah longsor, dan semacamnya merupakan akibat dari hujan semata. Pasti ada campur tangan dan kesalahan manusia di dalam peristiwa tersebut.

Contoh sederhananya adalah, membuang sampah sembarangan, menebang pohon sembarangan sehingga tanah gundul, dan mengurangi daerah resapan air dengan membangun berbagai macam bangunan mewah dan megah yang sebetulnya tidak terlalu diperlukan bahkan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Kalau bukan manusia, siapa lagi yang melakukannya?

baca juga:

15 Amalan Penghapus Dosa Besar Menurut Islam

Sebagai manusia, pasti kita tidak akan luput dari kesalahan dan dosa. Setiap hari pasti ada saja kekhilafan yang kita lakukan yang menimbulkan bertambahnya dosa-dosa kita. Hal ini membuat dosa kita setiap hari pasti semakin banyak, jika kita tidak melakukan apa-apa untuk menghapusnya. Bahkan, mungkin di antara banyaknya dosa yang kita lakukan ada di antaranya yang termasuk dosa besar, dimana dosa besar ini tentu lebih sulit untuk menghapusnya.

Menyadari hal ini, kita harus berusaha untuk terus berbuat baik dan menjalankan perintah Allah sekaligus menjauhi larangannya, serta senantiasa berusaha menghapus dosa-dosa kita yang telah lalu, baik dosa besar dan dosa kecil. Berikut ini akan dibahas 17 amalan penghapus dosa besar yang bisa kita lakukan sebagai bentuk usaha kita menjadi manusia yang terbaik amalannya.

  1. Selalu bertaubat

Meski kita tahu bahwa kita sering khilaf berbuat salah dan dosa, jangan sampai kita merasa putus asa dan berdiam diri dari memohon ampunan kepada Allah. Dalam firman Allah di surat Az Zumar ayat 53, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Baca juga: Taubatan Nasuha)

  1. Berhenti melakukan perbuatan dosa besar

Setelah bertobat, tentu kita harus saat itu juga berjanji dan bersungguh-sungguh berhenti melakukan perbuatan yang mengakibatkan dosa besar. Dengan cara ini kita berusaha meminimalisir bertambahnya dosa-dosa besar dalam hitungan amal kita.

Dalam al Quran surat an Nisa ayat 145-146, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubah dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu adalah bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar”.

  1. Istighfar

Dalam hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Muslim, “Jika seorang hamba berbuat dosa, lalu ia berkata: Wahai Rabbku, aku betul-betul telah berbuat dosa, ampunilah aku. Rabbnya menjawab, “Hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang Maha Mengampuni dosa dan menhukumi setiap dosa. Aku telah mengampuni hamba-Ku.” Kemudian ia berbuat dosa lainnya, lantas ia pun mengatakan pada Rabbnya, “Wahai Rabbku, aku betul-betul telah berbuat dosa lainnya, ampunilah aku.” Rabbnya menjawab, “Hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang Maha Mengampuni dosa dan menhukumi setiap dosa. Aku telah mengampuni hamba-Ku. Lakukanlah sesukamu (maksudnya: selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu, pen).” Kemudian ia pun melakukan dosa lain yang ketiga atau keempat”. (Baca juga: Zikir Harian Nabi Muhammad SAW)

Dari hadis di atas, maka hendaknya kita selalu memohon ampun kepada Allah dan menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah hal yang berdosa. Meski begitu, kita harus berusaha untuk menjaga diri untuk tidak lagi mengulangi dosa yang sama.

  1. Berbuat amal kebaikan

Dengan kita berbuat amal kebaikan, tentu kita akan menambah hitungan pahala sebagai bekal kita di akhirat kelak. Selain itu, ternyata amal kebaikan juga bisa menjadi pelebur dosa-dosa kita yang telah lalu. Hal ini tertuang dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada baagian permulaaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Huud : 114)

[AdSense-B]

  1. Do’a orang beriman satu sama lain, seperti pada sholat jenazah

Dari ‘Aisyah dan Anas bin Malik, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang mayit dishalati oleh sekelompok kaum muslimin yang jumlahnya hingga 100 orang, maka mereka semua akan memberikan syafa’at pada mayit tersebut” (HR. Muslim no. 947 dan An Nasai no. 1991).

Selain itu, pada hadis lainnya, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu ia dishalati (dengan shalat jenazah) oleh 40 orang di mana mereka tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apa pun melainkan orang yang dishalati tadi akan mendapatkan syafa’at dari mereka”.

Dari dua hadis di atas, kita harus memahami bahwa ampunan bagi orang mukmin yang bertakwa tidak hanya berlaku untuk dosa-dosa kecil yang dia lakukan. Melainkan, dosa-dosa besarnya pun juga akan diampuni oleh Allah. Dari hadis itu juga kita bisa mengetahui bahwa doa bisa menjadi sebab datangnya ampunan bagi orang yang meninggal.

  1. Amalan kebaikan untuk orang yang meninggal

Amalan baik yang diniatkan dilakukan untuk seseorang yang sudah meninggal juga bisa menjadi sebab datangnya ampunan untuk orang yang sudah meninggal tersebut. Contohnya adalah sedekah, memerdekakan budak, serta naik haji untuk orang yang sudah meninggal.

Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang puasa, maka ahli warisnya yang nanti mempuasakan dirinya”.

  1. Memohon Syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘ alaihi wa sallam

Dalam hadis mutawatir (yaitu hadis dengan jalur riwayat yang banyak), terdapat sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang syafa’at, “Syafa’atku untuk pelaku dosa besar dari umatku”. Selain itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Separuh dari umatku akan dipilih untuk masuk surga atau akan diberi syafa’at. Maka aku pun memilih agar umatku diberi syafa’at kareana itu tentu lebih umum dan lebih banyak. Apakah syafa’at itu hanya untuk orang bertakwa? Tidak. Syafa’at itu untuk mereka yang terjerumus dalam dosa (besar)”.

  1. Sabar dalam menghadapi musibah dunia

Musibah yang kita alami di dunia bisa menjadi sebab dari terhapusnya dosa-dosa kita, termasuk dosa besar. Musibah itu bisa berupa sakit, kehilangan seseorang, hingga cobaan lain yang mungkin terasa berat untuk kita tanggung. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, “Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya”. Oleh karena itu, hendaklah kita bersabar saat ditimpa musibah di dunia, karena hal itu bisa menjadi penghapus dosa-dosa yang pernah kita lakukan. (Baca juga: Keutamaan Sabar Dalam Islam)

[AdSense-A]

  1. Perbanyak Sedekah

Sedekah adalah menyisihkan sebagian dari rezeki yang kita terima untuk diberikan kepada orang lain yang membutuhkan dengan tujuan meringankan kesusahannya. Tidak hanya itu, sedekah juga bisa berupa pembelanjaan harta kita untuk kepentingan dakwah dan syiar agama Islam. Hal ini tidak wajib, namun sangat besar pahalanya di sisi Allah.

Baca juga:

Dalam hadis riwayat Tirmidzi, disebutkan “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api”. Tidak hanya di dalam hadis, di al Quran juga terdapat ayat yang berisi tentang keutamaan bersedekah, yaitu dalam surat al Hadid ayat 18 yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dlipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak”.

  1. Menjaga wudhu

Wudhu dan menjaga wudhu merupakan salah satu amalan penghapus dosa, termasuk dosa besar. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni. Sedangkan sholatnya, jalannya menuju masjid adalah amalan tambahan” (HR. Muslim dan Nasa’i). (Baca juga: Keutamaan Menjaga Wudhu)

  1. Sholat

Sholat merupakan ibadah yang menjadi tiang agama kita. Sebagai seorang muslim kita memiliki kewajiban untuk menunaikan sholat 5 waktu setiap harinya. Ternyata, sholat juga merupakan penebus dosa seorang manusia. Bisa diumpamakan bagi seorang muslim yang melakukan sholat 5 waktu sehari semalam adalah seperti seseorang yang di depannya mengalir sungai dan ia mandi sebanyak lima kali sehari. Artinya, tidak ada kotoran yang tersisa padanya. “Begitulah perumpamaan sholat 5 waktu. Dengan sholat itu Allah akan melebur kesalahan-kesalahan (hamba-Nya),” sabda Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Bukhari dan Muslim. (Baca juga: Keutamaan Sholat Berjama’ah)

  1. Puasa

Puasa, selain bisa mecegah kita dari melakukan perbuatan-perbuatan dosa, juga bisa menjadi amalan yang membuat dosa-dosa kita diampuni. Dalam hadis riwayat Bukhari Muslim, Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan ikhlas (mencari pahala karena Allah) maka diampunilah dosanya yang sudah lewat”.

Baca juga:

Tentu, alangkah lebih baiknya jika kita juga mengamalkan puasa-puasa sunah yang dianjurkan, seperti puasa ayyamul bidh, yaitu puasa sebanyak 3 hari setiap pertengahan bulan hijriah. Dalam Mu’jam al-Kabir-nya Thabrani meriwayatkan, dari Maimunah binti Sa’ad bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dari setiap bulan tiga hari, siapa saja yang mampu melaksanakannya, maka (pahala) setiap harinya bisa melebur sepuluh kali kesalahan dan dia bersih dari dosa seperti air membersihkan pakaian”.

  1. Ikhlas dalam beramal

Terdapat sebuah kisah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, tentang seorang wanita pezina yang diampuni dosanya karena dia membantu seekor anjing yang kehausan untuk minum dari sepatunya. Dalam riwayat itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala ada seekor anjing yang hampir mati karena kehausan berputar-putar mengelilingi sebuah sumur yang berisi air, tiba-tiba anjing tersebut dilihat oleh seorang wanita pezina dari kaum bani Israil, maka wanita tersebut melepaskan khufnya (sepatunya untuk turun ke sumur dan mengisi air ke sepatu tersebut-pen) lalu memberi minum kepada si anjing tersebut. Maka Allah pun mengampuni wanita tersebut karena amalannya itu”. (Baca juga: Cara Membuat Hati Ikhlas)

Dalam kisah itu tercermin bahwa wanita pezina tersebut berbuat baik dengan ikhlas tanpa mengharap balasan ataupun ucapan terima kasih dari anjing yang ditolongnya. Maka keikhlasan ini pun bisa menjadi penghapus dosa besar yang telah dia lakukan.

  1. Selalu menjaga tauhid

Artinya, kita selalu meniatkan diri untuk beribadah dan melakukan semua amal baik hanya karena Allah semata. Sama halnya dengan menjauhi perbuatan buruk hanya karena takut akan murka Allah. Dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan kita, akan terhapus juga dosa-dosa yang pernah kita lakukan, termasuk dosa besar. (Baca juga: Ilmu Tauhid Islam)

Sebagai contohnya ada pada kisah Umar bin Khatab radhiallahu anhu. Belia adalah tokoh yang sebelum masuk Islam merupakan penentang ajaran Islam yang paling keras dan terkenal. Bahkan, beliau pernah mengubur putrinya hidup-hidup. Namun, setelah beliau masuk Islam, bertaubat dan menjunjung tauhid, terhapuslah segala dosanya. Bahkan, beliau termasuk orang yang mulia di sisi Allah, sesudah Abu Bakar radhiallahu anhu.

  1. Membaca lafadz ringan namun berat di timbangan amal

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca: Subhanallahi Wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan”. Maka, banyak-banyaklah membaca lafadz dzikir satu ini, di saat apapun dan dimana pun, kecuali di tempat seperti kamar mandi, toilet atau tempat najis lainnya.

Wallahu a’lam bishawab.

Sholat Syuruq Bagi Wanita – Ketentuan dan Dalilnya

Shalat syuruq atau biasa disebut isyraq merupakan sholat sunnah dua rakaat yang dilakukan sebelum shalat dhuha. Menurut bahasa, syuruq memiliki arti terbitnya matahari. Shalat ini biasanya dilakukan oleh para lelaki setelah menjalankan shalat subuh di masjid. Mereka duduk berdizikir hingga terbit matahari, kemudian mengerjakan shalat syuruq. Menurut hadist nabi, shalat syuruq memiliki pahala yang besar disisi Allah Ta’ala. Bahkan menyamai pahalanya orang yang menunaikan ibadah umrah dan haji.

baca juga:

Dari Anas bin Malik R.a berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang shalat pagi hari (subuh) secara berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah SWT hingga terbitnya matahari, kemudian ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala mengerjakan haji dan umrah. Rasulullah SAW bersabda, ‘Sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi). Hadist ini dikatakan bersifat hasan gharib.

Baca juga:

Lalu, bagaimana sholat syuruf bagi wanita?Tanpa shalat subuh berjamaah di masjid, bolehkah wanita melakukan shalat syuruq di rumah? Dan apakah pahalanya tetap sama? Berikut ulasan lengkapnya!

Pelaksanaan Sholat Syuruq Bagi Wanita

Dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin, bahwasahnya sholat syuruq (isyraq) merupakan sholat yang dilakukan setelah matahati mencapai tingi satu tombak. Kira-kira sekitar 15 menit setelah matahari terbit. Adapun sholat ini biasanya dilakukan dalam masjid. Umumnya para pria duduk-duduk dalam masjid setelah sholat subuh. Mereka melakukan dzikir, wirid, dan membaca Al-Quran. Atau juga bisa serambi mendengarkan ceramah atau kajian. Setelah matahari mulai meninggi, di saat itulah mereka melakukan sholat syuruf sebanyak 2 rakaat.

baca juga:

Nah, apakah seorang wanita yang sholat di rumah diperbolehkan mengerjakan ibadah ini? Jawabannya seorang wanita diperbolehkan melakukan sholat syuruq. Namun untuk urusan pahala, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

  1. Menurut Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Beliau adalah seorang mufti di kerajaan Saudia Arabia. Menurutnya wanita yang melakukan sholat syuruq  akan memperoleh pahala yang sama dengan pria yang menjalankan sholat tersebut di masjid, yakni pahala haji dan umrah. Beliau berkata:

Jika wanita duduk di tempat shalatnya setelah shalat Shubuh lalu berdzikir pada Allah, membaca Al-Qur’an, sampai matahari meninggi, lalu ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia mendapatkan pahala yang dijanjikan dalam shalat isyroq, yaitu akan dicatat mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna.”

[AdSense-B]

  1. Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin

Beliau berpendapat bahwa tidak mengapa wanita menjalankan sholat syuruf di rumah. Namun pahalanya tidak setara dengan ibadah haji dan umrah. Ia hanya memperoleh catatan pahala baik semata.

  1. Menurut Fatwa Syaikh Bin Baz nomor 2622

Seorang wanita di rumahnya dia duduk di tempat shalatnya, sedang lelaki duduk di tempat shalatnya di masjid hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat. Ini semuanya kebaikan yang agung, menyibukkan diri dengan dzikir kepada Allah, dengan doa, dengan membaca Al-Qur’an, alhamdulillah. Jika ia berbicara dengan saudaranya jika diperlukan maka tidak mengapa, atau wanita tadi berbicara dengan suaminya, dengan ibunya atau dengan yang lain selama dibutuhkan maka tidak mengapa.”

Baca juga:

Perbedaan sholat Syuruq dengan sholat Dhuha

Terdapat beda pendapat diantara para ulama tentang sholat syuruq dan dhuha. Beberapa ada yang menganggap bahwa sholat syuruq sama dengan dhuha. Namun adapula yang menganggap itu berbeda.

  1. Menurut Imam Al-Hakim dalam kitab Mustadrak no 6873 dan tafsir imam ath-Thabary

Menurut beliau sholat dhuhah sama dengan sholat syuruf.

“Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu dulu tidak mendirikan shalat Dhuha sampai kami masukkan beliau ke hadapan Ummu Hani, maka aku (Abdullah bin al-Harits yang meriwayatkan hadits ini) berkata kepada Ummu Hani’:  ‘Beri tahukan kepada Ibnu ‘Abbas apa yang telah engkau beri tahukan kepada kami. Lalu Ummu Hani pun berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah masuk ke rumahku dan kemudian beliau shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat. Maka setelah itu Ibnu Abbas pun keluar dan beliau berkata : Aku telah membaca Ayat-Ayat yang ada di antara papan ini (Al-Qur’an) dan aku tidak mengetahui adanya shalat al-Isyraq kecuali sekarang ini. Kemudian beliau membaca Ayat ke-18 dalam surat as-Shad. ‘…Bertasbih (gunung-gunung itu) pada waktu sore dan waktu Isyraq [pagi]). kemudian Ibnu Abbas berkata : “(delapan rakaat yang dikerjakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut) inilah shalat al-Isyraq.”

[AdSense-A]

  1. Syekh Ibnu Utsaimin

Dijelaskan dalam kitab Liqa Al-Bab Al Maftuh (141-24), beliau berpendapat:

“Shalat sunah isyraq adalah shalat sunah dhuha. Jika ditunaikan segera sejak matahari terbit dan meninggi seukuran tombak, maka dia disebut shalat isyraq, jika dilakukan pada akhir waktu atau pertengahan waktu, maka dia dinamakan shalat dhuha. Akan tetapi, secara keseluruhan dia adalah shalat dhuha. Karena para ulama berkata bahwa waktu shalat dhuha adalah sejak meningginya matahari seukuran tombak hingga sebelum matahari tergelincir.”

Baca juga:

  1. Syaikh Ibnu Bazz

Menurut Beliau, sholat syuruq termasuk sholat dhuha. Sebab kedua sholat sunnah ini sama-sama dikerjakan setelah matahari terbit. Tepatnya 15-20 menit sesudah matahari terbit di ufuk timur langit.

  1. Imam Al-Ghazali

Beliau berpendapat bahwa sholat syuruq berbeda dari sholat dhuha. Kedua sholat ini memiliki waktu yang berbeda meski berdekatan. Menurutnya, waktu shalat isyraq adalah sejak matahari terbit, yaitu sejak terlewatnya waktu yang dilarang untuk waktu shalat.

Sebenarnya jika dikaji dari hadistnya, terdapat beberapa pembeda antara sholat syuruq dan sholat dhuha. Sholat syuruq dikerjakan dengan cara berurutan, setelah sholat shubuh melakukan dizikir-dzikir lalu saat matahari terbit (kira-kira 15 menit setelahnya) maka segera berdiri menjalankan sholat syuruq.

Sedangkan sholat dhuha boleh dikerjakan secara terpisah dari sholat subuh. Dalam artian, setelah sholat subuh, kita diperbolehkan beraktivitas dan melakkan berbagai  hal. Kemudian sholat dhuha lebih utama dilakukan ketika terik matahari telah memanas, sekitar pukul 10 pagi.

Dari Zaid bin Arqam, beliau berkata:

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang ke masjid Qubba’ atau masuk ke dalam masjid Qubba’ sesudah matahari terbit yang pada saat itu mereka sedang mengerjakan shalat (Dhuha). Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya shalatnya  awwaabin (orang yang banyak taan kepada Allah) yang mereka mengerjakannya apabila anak onta sudah kepanasan.” (HR. Imam Ahmad-Muslim).

Baca juga:

Tata Cara Sholat Syuruq

Tata cara sholat syuruq sebenarnya mirip dengan sholat dhuha. Untuk masalah niatnya, terdapat perbedaan pendapat diantara ulama. Ada yang mengatakan niat sholat syuruq sama dengan dhuha. Ada yang mengatakan berbeda.

Untuk niat sholat syuruq yakni: “Ushalli sunnatal isyraqi rak’ataini lillahi ta’ala”.

Artinya: Aku niat shalat sunnah isyraq dua rakaat karena Allah.

Setelah membaca niat, takbir dan menjalankan sholat seperti pada umumnya sesuai rukun sholat. Sholat ini dikerjakan sebanyak 2 rakaat. Untuk bacaan surat pendek yang dibaca saat posisi berdiri sebenarnya diperbolehkan bacaan apa saja. Namun menurut ulama, lebih diutamakan Ad-Dhuha (di rakaat pertama) dan Asy-Syarh (di rakaat kedua).

Seusai sholat, membaca doa:

اَللَّهُمَّ يَا نُوْرَ النُّوْرِ بِالطُّوْرِ وَكِتَابٍ مَسْطُوْرٍ فِيْ رِقٍّ مَنْشُوْرٍ وَالبَيْتِ المَعْمُوْرِ أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ نُوْرًا أَسْتَهْدِيْ بِهِ إِلَيْكَ وَأَدُلُّ بِهِ عَلَيْكَ وَيَصْحَبُنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَبَعْدَ الْاِنْتِقَالِ مِنْ ظَلاَم مِشْكَاتِيْ وَأَسْأَلُكَ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَنَفْسِ مَا سِوَاهَا أَنْ تَجْعَلَ شَمْسَ مَعْرِفَتِكَ مُشْرِقَةً بِيْ لَا يَحْجُبُهَا غَيْمُ الْأَوْهَامِ وَلَا يَعْتَرِيْهَا كُسُوْفُ قَمَرِ الوَاحِدِيَّةِ عِنْدَ التَّمَامِ بَلْ أَدِمْ لَهَا الْإِشْرَاقَ وَالظُهُوْرَ عَلَى مَمَرِّ الْأَيَّامِ وَالدُّهُوْرِ وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اللهم اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَاِننَا فِي اللهِ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا أَجْمَعِيْنَ

Artinya: “Ya Allah, Wahai Cahayanya Cahaya, dengan wasilah  bukit Thur dan Kitab yang ditulis  pada lembaran yang terbuka, dan dengan wasilah  Baitul Ma’mur, aku meminta kepadaMu  agar Engkau memberiku cahaya, yang dengannya aku dapat mencari petunjukMu, dan dengannya aku menunjukkan tentangMu. Dan yang terus-menerus mengiringiku dalam kehidupanku dan setelah berpindah (ke alam lain; bangkit dari kubur) dari kegelapan liang (kubur) ku. Dan aku meminta padaMu dengan wasilah matahari beserta cahayanya di pagi hari, dan kemulyaan yang wujud pada selain matahari, agar Engkau menjadikan matahari ma’rifat padaMu (yang ada padaku) bersinar menerangiku, tidak tertutup oleh mendung-mendung keraguan, tidak pula terlintasi gerhana pada rembulan kemaha-esaan dikala purnama. Tapi jadikanlah padanya selalu bersinar dan selalu tampak, seiring berjalannya hari dan tahun. Dan berikanlah rahmat ta’dzim Wahai Allah kepada junjungan kami Muhammad, sang pamungkas para nabi dan Rasul. Dan segala Puji hanya milik Allah tuhan penguasa alam. Ya Allah ampunilah kami, kedua Orang tua kami serta kepada saudara-saudara kami seagama seluruhnya, baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal”.

Baca juga:

Demikianlah penjelasan tentang sholat syuruq bagi wanita serta tata car apengerjaannya. Semoga bermanfaat.

4 Doa Pembuka 12 Pintu Rezeki yang Mustajab

Sebagai seorang manusia, kita pasti berharap untuk mendapat banyak rezeki dari Allah. Bentuk rezeki yang kita harapkan pun bermacam-macam, bisa berupa materi maupun non-materi. Rezeki berupa materi bisa seperti uang yang banyak, gaji yang tinggi, hingga jabatan yang mentereng. Sementara itu, rezeki yang non-materi contohnya adalah kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan.

Namun, sebagai seorang muslim, jangan lupa untuk mengutamakan keberkahan atas setiap rezeki yang kita terima. Mengharap keberkahan rezeki berarti kita tidak hanya berharap rezeki tersebut bermanfaat untuk dunia, tetapi juga bermanfaat untuk akhirat kita. Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk memperhatikan cara kita mencari rezeki, baik dengan bekerja maupun berdoa.

Baca juga:

Sesungguhnya setiap manusia telah dijamin rezekinya oleh Allah. Besar atau kecilnya rezeki yang kita terima adalah kehendak Allah untuk kita, namun pasti dengan hikmah dan kebaikan di baliknya. Maka, seberapa besar atau kecilnya rezeki yang kita terima, kita wajib untuk mensyukurinya karena itulah yang terbaik untuk kita. (Baca juga: Keutamaan Sabar Dalam Islam)

Kita, manusia yang memiliki pengetahuan terbatas, tidak akan pernah tahu sebesar apa rezeki yang akan Allah berikan untuk kita. Maka, selain kita wajib berusaha seoptimal mungkin dalam mencari rezeki, kita juga harus berdoa untuk memohon keberkahan rezeki yang akan kita terima. Dua hal ini semata-mata untuk mengharap ridho Allah untuk setiap rezeki yang kita terima.

12 Pintu Rezeki dari Allah SWT

Ada 12 pintu rezeki yang selalu kita harapkan keberkahannya. 12 pintu-pintu rezeki itu adalah sebagai berikut:

  1. Rezeki yang telah dijamin – Dalam surat Huud ayat 6 disebutkan, “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semuanya (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)”.
  2. Rezeki karena usaha – Surat An Najm ayat 39 menyebutkan, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. (Baca juga: Hukum Bekerja Dalam Islam)
  3. Rezeki karena bersyukur – Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat’”. (Baca juga: Cara Mensyukuri Nikmat Allah SWT)
  4. Rezeki yang tak terduga – di dalam Al Quran surat at Thalaq ayat 2 disebutkan di akhir ayat, “… Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya”.
  5. Rezeki karena istighfar – terdapat perintah dalam Al Quran untuk senantiasa beristighfar memohon ampun pada Allah. Hal ini ada pada surat Nuh ayat 10 hingga 11, “maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu’”.
  6. Rezeki karena menikah – dalam surat An Nuur ayat 32, “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui”. (Baca juga: Doa Agar Cepat Menikah)
  7. Rezeki karena Anak – terdapat larangan untuk membunuh anak, bahkan jika dia orang miskin yang khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Hal ini disebutkan dalam surat Al Isra’ ayat 31, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar”.
  8. Rezeki karena sedekah – karena Allah telah menjanjikan ganjaran yang baik kepada setiap orang yang bersedekah, seperti yang ada dalam surat Al Baqarah ayat 245, “Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (Baca juga: Sedekah Dalam Islam, Keutamaan Sedekah di Hari Jumat)

[AdSense-B]

Selain 8 pintu rezeki di atas, 4 pintu rezeki lainnya adalah rezeki karena kita rajin bersilaturahmi, rezeki karena senantiasa beriman dan bertakwa, rezeki karena mengorbankan diri, harta dan waktu untuk urusan agama, serta rezeki karena selalu membaca al Quran, membaca surat Al Waqiah dan sholat dhuha secara istiqomah. 12 pintu rezeki tersebut bisa didapat oleh semua orang, tidak memandang status dan golongan orang tersebut.

Baca juga:

Oleh karena itu, jika kita ingin mendapatkan rezeki yang lancar, hendaknya kita mencoba untuk membuka 12 pintu rezeki tersebut dengan mengamalkan setiap sebab yang menjadikan pintu rezeki tersebut terbuka. Seiring dengan usaha membuka pintu-pintu rezeki itu, kita juga harus senantiasa berdoa untuk merayu Allah dan melengkapkan ikhtiar kita. Karena tidak ada rezeki yang kita dapat kecuali karena kehendak Allah semata.

[AdSense-A] Berikut ini adalah doa pembuka 12 pintu rezeki yang bisa kita amalkan setiap hari sebagai salah satu bentuk usaha kita dalam mencari rezeki yang halal dan berkah:

  1. Doa Pembuka 12 Pintu Rezeki

Sebaiknya, kita mulai untuk membiasakan diri untuk sholat tahajud dan sholat witir karena Allah di waktu sepertiga malam merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa. Setelah sholat, bacalah dzikir dan sholawat, kemudian bacalah, “Allahummaf tahlii abwaabal khoiri, wa abwaaba sholaamati, wa abwaabas shihati, wa abwaaban nia’mati, wa abwaaba barokhati, wa abwaabal quwwati, wa abwaabal, mawaddathi, wa abwaabar rohmati, wa abwaabar rizqi, wa abwaabal ‘ilmi, wa abwaabal maghfirothi, wa abwaabal jannati, yaa arhamarroohimiin”.

Arti dari doa di atas adalah “Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu kebaikan, pintu-pintu keselamatan, pintu-pintu kesehatan, pintu-pintu nikmat, pintu-pintu keberkatan, pintu-pintu kekuatan, pintu-pintu cinta sejati, pintu-pintu kasih sayang, pintu-pintu rezeki, pintu-pintu ilmu, pintu-pintu ampunan dan pintu-pintu surga. Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. (Baca juga: Dzikir Pembuka Rezeki)

  1. Doa Memohon Rezeki yang Halal dan Berkah

Selain memohon untuk dibukakan pintu rezeki, kita hendaknya juga memohon agar rezeki yang kita terima adalah rezeki yang halal dan berkah. Bagaimanapun, kehalalan dan keberkahan rezeki adalah yang utama. Inilah yang seharusnya menjadi tujuan mencari rezeki seorang muslim, bukan dari banyak atau jumlah rezeki yang didapat. (Baca juga: Fadhilah Surat Al Waqiah)

Untuk memohon rezeki yang halal dan berkah, bacalah doa berikut:

Allahumma innii as aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairita’abin wala masyaqqatin walaa dhoirin wa laa nashabin innaka ‘alaa kulli syai in qadiir”.

Doa di atas memiliki arti: “Ya Allah, aku minta pada Engkau akan pemberian rezeki yang halal, luas, baik tidak tanpa repot dan juga tanpa kemelaratan dan tanpa keberatan, sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu”.

  1. Doa memohon rezeki yang melimpah

Nabi Sulaiman adalah nabi yang oleh Allah dikaruniai rezeki yang berlimpah berupa harta kekayaan yang luar biasa banyak dan kerajaan yang besar serta agung. Semua ini tidak lepas dari doa Nabi Sulaiman yang dikabulkan oleh Allah. Doa ini tercantum dalam surat Shaad ayat 35, yang berbunyi, “Rabbighfirlii wahablii mulkan laa yanbaghii li-ahadin min ba’dii, innaka antalwahhaab”. Doa tersebut memiliki arti, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (Baca juga: Cara Cepat Kaya Menurut Islam)

  1. Doa untuk menarik rezeki dari segala penjuru

Kita dianjurkan untuk segera berzikir setiap selesai sholat fardhu. Selain itu, kita juga diperbolehkan untuk berdoa memohon terpenuhinya hajat kita dengan bantuan Allah. Demikian juga, kita bisa berdoa memohon rezeki dari segala penjuru, dengan membaca doa “Wahai Allah limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad sebanyak aneka rupa rezeki. Wahai Dzat yang Maha Meluaskan rezeki kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Luaskanlah dan banyakkanlah rezekiku dari segenap setiap penjuru dari perbendaharaan rezeki-Mu tanpa pemberian dari makhluk, berkat kemurahan-Mu juga. Dan, limpahkanlah pula rahmat dan salam atas dan para sahabat beliau”. Kita bisa membaca doa ini sebanyak 7 kali setiap selesai sholat fardhu. (Baca juga: Fadhilah Sholawat)

Selain membaca doa-doa di atas, sebaiknya kita mulai melakukan amalan-amalan sunah setiap hari seperti sholat dhuha 4 rakaat dengan dua kali salam. Allah berjanji akan mencukupkan diri orang yang melakukan sholat sunah dhuha pada hari itu. Selain itu, dengan mengamalkan sunah, akan bertambah juga timbangan amal sholeh kita dan diharapkan bisa menggugurkan dosa-dosa kita. Tidak hanya itu, senantiasalah beristighfar dan memohon ampunan dari Allah. Karena dosa bisa menjadi penghalang datangnya rezeki kepada kita. (Baca juga: Amalan Istighfar)

10 Makna Doa Qunut Saat Shalat Subuh

Bismillahhirahmanirrahim.

Doa qunut adalah salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassalam mengajarkan doa qunut yang dibaca ketika shalat witir, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut ini :

Hasan bin Ali mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku beberapa kalimat doa yang hendaknya aku ucapkan ketika kunut witir: ‘Allahummahdinii fiiman hadaiit, wa ‘aafinii fiiman ‘aafaiit,….dst.’ “

(HR. Nasa’i 1746, Abu Daud 1425, Turmudzi 464, dan dishahihkan Al-Albani).

Baca juga:

Doa qunut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam adalah sebagai berikut:

Allahummah-dinii fii-man hadaiit, wa’aafinii fii man’aafaiit, wa tawalla-nii fii man tawallaiit wa baarik lii fii maa a’thaiit, wa qinii syarra maa qadhaiit, innaka taqdhii wa laa yuqdhaa ‘alaiik, wa innahuu laa yadzillu maw-waa-laiit, wa laa ya’izzu man’aadaiit, tabaarak-ta rabbanaa wa ta’aalait.

Baca juga:

Dilansir dari rumaysho, kata “qunut” memiliki beberapa makna berikut jika ditelaah secara bahasa:

  1. Sikap Tunduk dan Taat

Ini dapat kita lihat pada salah satu ayat di surat Al-Baqarah, yakni ayat 116. Pada ayat tersebut terdapat salah satu penggalan kata yang kata dasarnya berasal dari kata “Qunut” yang diartikan “Tunduk”.

 “Hanya milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi, semuanya kunut (tunduk) kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 116).

  1. Perintah untuk shalat

Dapat kita lihat pada surat Ali Imran ayat 43. Kata “Qunut” di ayat tersebut diartikan sebagai perintah untuk shalat atau “shalatlah”.

 “Hai Maryam, lakukanlah kunut (shalatlah), sujudlah, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Ali Imran: 43)

Baca juga:

  1. Sikap Tenang

Pada quran surat Al-Baqarah ayat 238, kata “Qunut” diartikan dengan “sikap tenang”.

 “Berdirilah menghadap Allah (shalat) dengan tenang.” (QS. Al-baqarah: 238)

Salah satu hadits riwayat bukhari dan muslim juga menjelaskan bahwa Zaid bin Arqam, salah satu sahabat Rasulullah mengatakan, ketika ayat ini turun para sahabat yang sebelumnya senang mengobrol ketika shalat diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara.

Zaid bin Arqam mengatakan, “Dulu kamu mengobrol ketika shalat, sampai turun ayat ini, dan kami diperintahkan untuk diam, dan kami dilarang bicara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga:

  1. Berdiri dengan cukup lama ketika shalat

Di dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim, kata “Qunut” diartikan dengan “berdiri” yang berarti berdiri lebih lama ketika shalat dengan memanjangkan bacaan shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Shalat yang paling utama adalah yang panjang qunutnya (berdirinya). (HR. Muslim).

[AdSense-B]

Selanjutnya, kita akan membahas mengenai makna doa qunut yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Doa qunut, jika ditinjau dari terjemahannya memiliki makna berikut ini :

  1. Permohonan akan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Allahummah-dinii fii-man hadaiit,

Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk.

Pada awal doa qunut, terjemahannya menjelaskan bahwa kita mengawali doa tersebut dengan meminta petunjuk kepada Allah. Kita memohon petunjuk agar dapat membedakan antara sesuatu yang benar dan yang salah, agar dapat terhindar dari kesesatan dan diberikan keistiqamahan atau ketetapan hati di dalam jalan kebaikan dan terus beramal baik.

Baca juga:

        2. Permohonan Atas Keselamatan

wa’aafinii fii man’aafaiit,

 “berilah aku keselamatan, sebagaimana orang yang telah Engkau beri keselamatan”

Keselamatan tidak hanya berkaitan dengan fisik atau badan kita di dunia ini saja, tetapi kita juga harus memohon keselamatan dari hal-hal buruk yang tidak terlihat seperti penyakit yang dapat menjangkiti hati kita dan keselamatan diri kita di akhirat kelak.

  1. Permohonan Agar Allah Berkenan Menjadi Wali Kita

wa tawalla-nii fii man tawallaiit

Jadilah wali bagiku, sebagaimana Engkau telah menjadi wali bagi hamba-Mu yang Engkau kehendaki.

Jiika Allah menjadi wali kita, maka kita akan menjadi orang yang dikasihi dan diperhatikan oleh Allah, sehingga akan senantiasa ditunjukan-Nya jalan yang lurus dan Allah akan menunjukkan jalan untuk kita disetiap ujian.

  1. Memohon keberkahan atas karunia yang telah diberikan oleh Allah

wa baarik lii fii maa a’thaiit,

Berkahilah untukku terhadap apa yang telah Engkau berikan kepadaku

Kata “berkah” berasal dari kata dalam bahasa arab “birkah” yang berati tempat luas yang menampung air. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan berkah adalah kebaikan yang melimpah dan mengalir terus menerus.

Melalui doa ini, kita memohon kepada Allah agar diberikan keberkahan disetiap harta, pekerjaan, jabatan, bahkan ilmu yang kita miliki. Sebab jika hal-hal tersebut tidak diberkahi oleh Allah, tidak akan ada gunanya. Harta yang diberkahi adalah harta yang selain mendatangkan kebaikan juga bermanfaat untuk orang lain dengan cara disedekahkan sebagiannya, pekerjaan dan jabatan yang diberkahi adalah pekerjaan dan jabatan yang halal, didapatkan dengan cara yang halal, dan bermanfaat untuk orang lain.

Sedangkan ilmu yang diberkahi adalah ilmu yang membawa pengaruh baik untuk orang yang mempelajarinya. Pengaruh ilmu yang baik tersebut dapat dilihat dari akhlak, ibadah dan kepribadian orang yang mempelajarinya. Intinya, hal-hal yang diberkahi oleh Allah tidak akan mendatangkan keburukan untuk pemiliknya.

Baca juga:

  1. Memohon perlindungan dari keburukan

wa qinii syarra maa qadhaiit, yang memiliki arti:

Lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau takdirkan tersebut

[AdSense-A]

  1. Mengakui ketetapan Allah dan tidak ada yang dapat membatalkan ketetapan tersebut

innaka taqdhii wa laa yuqdhaa ‘alaiik, artinya:

Sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang menjatuhkan ketetapan untuk-Mu

Melalui doa ini, kita mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya yang memutuskan suatu ketetapan dalam hidup kita. Baik ataupun buruk. Tidak ada hal-hal lain yang mempengaruhi ketetapan tersebut. Maka dari itu kita tidak diperbolehkan untuk meragukan ketetapan tersebut, menyesali ketetapan tersebut, dan bertanya-tanya mengapa suatu hal ditetapkan untuk kita. Allah pastilah memiliki berbagai alasan dan lebih mengetahui segala sebab-akibat dari ketetapan yang Ia buat, dan kita harus meyakini itu.

  1. Pujian bagi Allah Subhanahu Wata’ala bahwa orang yang menjadi wali-Nya tidak akan terhina.

wa innahuu laa yadzillu maw-waa-laiit, artinya:

Sesungguhnya tidak akan terhina orang Engkau jadikan wali-Mu.

Jika pada baris di awal kita memohon kepada Allah untuk menjadi wali kita, maka pada bagian ini kita memuji Allah, bahwa tidak akan terhina seseorang yang Allah jadikan wali-Nya.

Orang-orang yang menjadi wali Allah telah dijelaskan di dalam al-quran di dalam surat Yunus ayat 62-63:

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( – ) (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus: 62 – 63)

Namun perlu kita ketahui, bahwa wali Allah bukanlah orang-orang yang bertapa atau berdiam diri di kuburan atau di gua-gua tetapi melakukan shalat dan ibadah lainnya saja jarang bahkan tidak pernah, kemudian mengaku memiliki kekuatan gaib sehingga bisa mengobati orang dan hal-hal ajaib lainnya. Orang itu mungkin saja benar memiliki kekuatan, tetapi sesungguhnya kekuatan tersebut muncul karena bantuan-bantuan dari setan.

baca juga:

  1. Pengakuan bahwa musuh-musuh Allah tidak akan pernah dimuliakan.

wa laa ya’izzu man’aadaiit, yaitu berarti:

Tidak akan mulia orang yang menjadi musuh-Mu.

Tentang musuh Allah tersebut, telah dijelaskan di dalam al-quran surat Al-baqarah ayat 98:

Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah: 98)

Dari ayat di atas kita mengetahui bahwa musuh Allah adalah orang-orang kafir, maka orang-orang kafir selamanya tidak akan dimuliakan. Maka dari itu, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wassalam melarang kita untuk menggunakan panggilan kehormatan atau yang bermakna menyanjung kepada orang-orang kafir.

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassalam bersabda,

لَا تَقُولُوا لِلْمُنَافِقِ سَيِّدٌ، فَإِنَّهُ إِنْ يَكُ سَيِّدًا فَقَدْ أَسْخَطْتُمْ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ

‘Jangan kalian menyebut orang munafik: Sayid (tuan), karena jika memang dia tuan, kalian telah membuat marah Rab kalian.’ (HR. Ahmad 22939 dan Abu Daud 4977 dan perawiya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Baca :

  1. Pujian bagi Allah bahwa Allah Maha Mulia dan Maha Tinggi

tabaarak-ta rabbanaa wa ta’aalait, yang artinya:

Maha Mulia Engkau wahai Rab kami, dan Maha Tinggi.

  1. Menunjukkan kepasrahan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Wa Laa Manjaa Minka Illa Ilaik, yang artinya:

Tidak ada tempat selamat dari (hukuman-Mu), kecuali dengan bersandar kepada-Mu

Pada bagian akhir ini kita menunjukkan kepasrahan kepada Allah, bahwa Allah-lah satu-satunya tempat bersandar dan bergantung orang-orang yang ingin selamat dari hukuman-Nya. Demikian penjelasan beberapa makna doa qunut yang istimewa apabila dibaca saat sedang solat subuh. Semoga bermanfaat.

Tata Cara Sholat Sunnah Rawatib dan Bacaannya

Islam adalah sebuah agama keselamatan yang memberi banyak ladang pahala pada setiap hal-hal yang kita lakukan sehari-hari. Mulai dari ibadah wajib hingga ibadah sunah yang memiliki keutamaan dan nilai pahala serta manfat-manfaat yang bisa kita rasakan dengan melaksanakan ibadah-ibadah tersebut. Seperti sholat lima waktu yang hukumnya adalah wajib, puasa ramadhan yang hukumnya juga wajib, hingga sholat-sholat lain yang hukumnya sunah namun memiliki keutamaan dan manfaat yang juga sangat besar untuk kita lakukan, seperti sholat sunah rawatib, sholat sunah tahajud, sholat sunah dhuha dan sholat-sholat sunah lainnya.

Baca juga:

Ketika sholat yang kita lakukan adalah hukumnya sunah, maka kita tidak diwajibkan melakukan sholat tersebut namun ketika kita melaksanakannya dengan hanya diniatkan kepada Allah maka kita akan mendapat pahala yang amat besar, dinaikkan derajatnya di mata Allah bahkan mendapatkan manfaat duniawi dalam kehidupan kita.

(Baca juga: Keutamaan Shalat Istikharah Pahala Wanita Shalat di Rumah)

Ada banyak sholat sunah yang bisa kita lakukan di masing-masing waktunya, seperti sholat tahajud yang dilakukan pada waktu sepertiga malam hingga sholat dhuha yang dilakukan pada waktu dhuha, yakni pada saat sekitar jam tujuh hingga jam sembilan pagi. Namun sholat sunah yang paling utama untuk dilakukan adalah sholat sunah rawatib, yakni sholat sunah yang mengiringi setiap lima waktu sholat wajib kita, dari mulai isya’ hingga ke isya’ lagi. Karena sesungguhnya di antara hikmah dan rahmat Allah atas hambanya adalah disyariatkannya Attathowwu‟ (ibadah tambahan), dan dijadikan pada ibadah wajib diiringi dengan adanya attathowwu‟ dari jenis ibadah yang serupa. Hal itu dikarenakan untuk lebih menyempurnakan dan melengkapi kekurangan yang terdapat pada ibadah wajib yang kita lakukan. (Baca juga: Shalat dalam KendaraanKeutamaan Shalat Idul Fitri)

Dalam sebuah hadis telah dijelaskan tentang perkara dari sholat sunah rawatib ini bahwa:

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam bersabda : “Pertama kali amal (perbuatan) yang dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat (nanti) adalah ibadah shalatnya, maka jika (ternyata) ibadah shalatnya itu baik, maka baiklah seluruh amalnya, dan jika (ternyata) ibadah shalatnya rusak (jelek), maka rusaklah (jeleklah) seluruh amalnya”.

(Baca juga : Keutamaan Shalat FajarLarangan Tidur Setelah Shalat Shubuh)

Kemudian rasul shalallahu alaihi wa sallam bersabda lagi dalam hadis lainnya bahwa:

“Pada tiap antara dua adzan (adzan dan iqamat) ada shalat (sunnah), pada tiap adzan dan iqamat ada shalat (sunnah), pada tiap adzan dan iqamat ada shalat (sunnah) setelah mengatakan tiga kali, bagi siapa yang mau mengerjakannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

(Baca juga: Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Hukum Sholat Jumat Bagi Wanita)

Dari dua seruan hadist tersebut memberikan pengertian kepada kita mengenai perkara perbuatan dan amalan-amalan yang kite lakukan selama di dunia, bahwa kita tidak hanya dituntut untuk melakukan sholat fardu tapi juga menyempurnakan dan memperbaiki shalat fardhu yang kita lakukan, karena amalan dan perbuatan kita selama di dunia senantiasa oleh malaikat kemudian nantinya akan ada penghitungan dari amalan-amalan yang tercatat tersebut, mulai dari amalan baik hingga amalan buruk kita selama di dunia. Di antara semua amalan dan perbuatan yang kita lakukan di dunia, shalat adalah ibadah pokok yang dijadikan sebagai tolak ukur terpenting atas baik dan buruknya amal seseorang di dunia, maka apabila shalatnya baik, maka akan baiklah seluruh amal lainnya.

Begitupun juga jika yang terjadi adalah sebaliknya, apabila shalatnya rusak (jelek), maka rusaklah seluruh amalnya. Oleh karena itu kita disyariatkan (diperintahkan) mengerjakan, shalat sunnah setelah disyariatkan shalat fardhu yang berjumlah lima waktu dalam satu hari, shalat sunah rawatib dimaksudkan untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan dari shalat fardhu yang kita kerjakan hingga jadi sempurna seperti yang kita harapkan.

(Baca juga: Shalat Malam Sebelum Tidur Menurut Islam; Shalat Taubat)

Bahkan dalam sebuah kisah dikatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakan sholat sunah rawatib dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh).

(baca juga: Shalat Lailatul QadarPahala Shalat Tarawih Malam Pertama )

Mengingat pentingnya ibadah sholat sunah rawatib ini serta cara pengerjaannya yang dilakukan secara berulang-ulang mengiringi setiap sholat fardhu. Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana tata cara melaksanakan sholat sunnah rawatib supaya kita semua bisa melaksanakan dan mendapatkan pahala serta kenaikan derajat di mata Allah subhana hua ta’ala.

[AdSense-B]

  • Jenis-Jenis Sholat Sunah Rawatib

Maksud dari kata mengiringi adalah dengan melakukan sholat sunah rawatib saat sebelum maupun sesudah sholat wajib yang kita lakukan.

Jika sholat sunah yang dilakukan sebelum sholat wajib maka disebut dengan sholat sunah “Qabliyah”, sedangkan jika sholat sunah yang dilakukan sesudah sholat wajib maka disebut dengan sholat sunah “ba’diyah”.

Kemudian, ada dua jenis sholat rawatib yang bisa kita laksanakan sehari-hari untuk mengiringi sholat fardhu kita, yakni sholat “sunnah muakkad” dan sholat “sunnah ghairu muakkad”.

(Baca juga: Shalat Tarawih bagi WanitaKeutamaan Shalat Witir)

Sholat sunnah rawatib “muakkad” adalah ibadah tambahan dengan kemuliaannya yang sangat besar di mata Allah Subhana Hua Ta’ala dan akan mendatangkan ganjaran/ pahala yang besar dari Allah Subhana Hua Ta’ala apabila kita menunaikannya. Adapun pelaksanaan dari Sholat sunah muakkad ini adalah saat Qabliyah Dzuhur sebanyak dua rakaat, ba’diyah zuhur sebanyak dua rakaat, Ba’diyah Magrib sebanyak dua rakaat,  Ba’diyah Isya’ sebanyak dua rakaat, dan Qabliyah subuh sebanyak dua rakaat.

(Baca juga: Manfaat Shalat TarawihKeutamaan Shalat Tarawih Berjamaah)

Sedangkan Sholat sunnah rawatib “ghairu muakkad” adalah ibadah tambahan yang juga memiliki kemuliaan tersendiri namun tidak lebih besar dari sholat sunnah muakkad. Adapun pelaksanaan dari sholat sunah ghairu muakkad ini dikerjakan pada saat Qabliyah dzuhur sebanyak dua rakaat, ba’diyah Dzuhur sebanyak dua rakaat, qabliyah ashar sebanyak dua atau empat rakaat, qabliyah mabrib sebanyk dua rakaat, dan qabliyah isya sebanyak dua rakaat.

(Baca juga: Keutamaan Shalat HajatKeutamaan Shalat Dhuha)

  • Jumlah Rakaat Dalam Sholat Sunah Rawatib

Dalam sebuah hadis Ummu Habibah dijelaskan bahwa jumlah sholat rawatib adalah 12 rakaat yang kemudian penjelasan lebih rincinya diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa‟i,

Dari Aisyah radiyallahu anha, ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah „isya, dan dua rakaat sebelum subuh“. (HR. At-Tarmidzi dan An-Nasa’i).

(Baca juga: Keutamaan Shalat Ashar BerjamaahManfaat Shalat Tahajjud)

  • Tempat Mengerjakan Sholat Rawatib

Sholat sunah rawatib bisa dilakukan d mana saja selama tempatnya bersih dan memungkinkan untuk sholat, namun ada anjuran khusus mengeni tempat sholat rawatib ini yang didasarkan pada hadis-hadis.

Baca juga:

Seperti dalam hadis dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma yang berkata bahwa:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari sholat-sholat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan“. (HR. Bukhori no. 1187, Muslim no. 777)

(baca juga: Macam – Macam Shalat SunnahShalat Jenazah)

Kemudian dalam pembahasan lain juga dijelaskan bahwa As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata:

“Sudah seyogyanya bagi seseorang untuk mengerjakan sholat rawatib di rumahnya meskipun di Mekkah dan Madinah sekalipun maka lebih utama dikerjakan dirumah dari pada di masjid Al-Haram maupun masjid An-Nabawi; karena saat Nabi shallallahu a‟alihi wasallam bersabda sementara beliau berada di Madinah.” (Syarh Riyadhus Sholihin)

(Baca juga: Ciri-ciri Orang Munafik Dalam IslamKeutamaan Menjaga Lisan dalam Islam)

Langkah-langkah Melaksanakan Sholat Sunah Rawatib

Pelaksanaan sholat sunah rawatib tidak jauh berbeda dengan sholat-sholat fardu, yakni dengan niat, bacaan ayat suc al-Qur’an dan doa-doa tertentu. Hanya saja bacan niatnya yan berbeda. (Baca juga: Doa Ketika Rindu Seseorang Cara Cepat Kaya Menurut Islam)

Berikut adalah Tata Cara Sholat Sunnah Rawatib:

1. Niat

Hal pertama adalah niat. Sama seperti pada sholat-sholat lainnya niat sholat rawatib juga dilakukan dalam posisi berdiri. Niat boleh dilafalkan lafadz arabnya dengan pembacaan yang jelas dan tegas dengan mulut namun yang terpenting adalah niat yang diartikan dan digaungkan di dalam hati, harus dengan tegas, jelas, yakin dan pasti. Jika niat yang diartikan dan digaungkan di dalam hati ini masih terasa belum jelas dan yakin sebaiknya diulangi. (Baca juga: Keutamaan Puasa Ayyamul BidhKeistimewaan Wanita Berjilbab)

Sesuai penejelasan di awal bahwa sholat rawatib adalah sholat sunah yang dilakukan untuk mengiringi sholat-sholat wajib kita, maka sholat rawatib ini dilakukan pada banyak waktu sholat wajib maka niatnyapun berbeda-beda, yakni:

Niat Sholat Sunnah Qabliyah (Sebelum) Sholat Dzuhur :

Usholli.. Sunnatad -dzhuhri rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum dzuhur dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

Baca juga:

[AdSense-A]

Niat sholat sunnah ba’diyah (sesudah) sholat dzuhur :

Usholli.. Sunnatad -zhuhri rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sesudah dzuhur dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Cara Mensyukuri Nikmat AllahCara Menghindari Riya)

Niat sholat sunnah qabliyah (sebelum) sholat ashar :

Usholli.. Sunnatal ashri rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum ashar dua raka’at , karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Aqiqah Menurut IslamAmalan Ibu Hamil Menurut Islam)

Niat sholat sunnah qabliyah (sebelum) sholat maghrib :

Usholli.. Sunnatal maghribi rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum maghrib dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Hikmah Puasa Daud Bagi Wanita Keutamaan Ibadah Haji)

Niat sholat sunnah ba‟diyah (sesudah) sholat maghrib :

Usholli.. Sunnatal maghribi rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sho lat sunnah sesudah maghrib dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Cara Menghindari SyirikCara Mengatasi Galau dalam Islam)

Niat sholat sunnah qabliyyah (sebelum) sholat isya’ :

Usholli.. Sunnatal isyaa’i rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum isya’ dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Sifat Orang yang Bertakwa Hukum Berjabat Tangan )

Niat sholat sunnah ba‟diyah (sesudah) sholat isya’ :

Usholli.. Sunnatal isyaa’i rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sesudah isya’ dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Hari yang Dilarang Puasa dalam IslamPamer dalam Islam)

Niat sholat sunnah qobliyah sebelum sholat subuh :

Usholli.. Sunnatas – shubhi rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum subuh dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Cara Menjauhi Zina dalam IslamKeutamaan Menjenguk Orang Sakit)

2. Mengumandangkan Takbir

Takbir adalah langkah awal pembuka dari ibadah sholat yang kita lakukan, dengan mengucapkan kata “Allaahu Akbar” yang di kata terakhir takbir pada saat mulut kita mengucapkan “Akbar” diharuskansambil menggaungkan artian niat sholat di dalam hati kita. (Baca juga: Hukum Mendengarkan Musik Dalam IslamWanita yang Dirindukan Surga)

3. Membaca doa iftitah

Setelah menegakkan niat dan takbir, maka selanjutnya adalah membaca doa iftitah yang berbunyi:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allaahu Akbaru kabira wal hamdu lillahi kathira, wa subhanallahi bukratan wa asila. Innii wajjahtu wajhiya lillazi fatharas samaawaati wal ardha haniifa muslimaw wa maa anaa minal mushrikeen. Inna salaati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘aalameen. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

artinya:

Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

4. Membaca surat al-Faatihah

Langkah selanjutnya adalah dengan membaca surat al-faatihah yang berbunyi:

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; 2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; 3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; 4. Yang menguasai di Hari Pembalasan; 5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan; 6. Tunjukilah kami jalan yang lurus; 7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

5. Ruku’, Tuma’ninah dan sujud

Jika sudah menegakkan niat, takbir dan membaca doa iftitah serta surat al-faatihah, maka langkah selanjutnya adalah sama seperti sholat-sholat lainnya seperti dengan pembacaan Surat al-Qur’an, ruku’, tuma’ninah hingga sujud yang terakhir dengan bacaan yang juga sama, kemudian dilakukan sebanyak dua atau empat rakaat tergantung sholat rawatib apa yang kita lakukan.

Namun ada beberapa bacaan surat al-Qur’an yang sangat dianjurkan untuk di baca pada saat shalat rawatib di antaranya adalah:

Anjuran surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Qobliyah Subuh

Pada saat mengerjakan Sholat Rawatib Qobliyah Subuh sangat dianjurkan untuk membaca surat-surat tertentu dalamal-Qur’an dengan berdasarkan pada sumber rujukannya masing-masing dalam sebuah hadis.

(Baca juga: Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam Doa Agar Dipermudah Segala Urusan)

Hadis pertama adalah menganjurkan pembacan surat al-kaafirun untuk raka’at pertama yang berbunyi:

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Artinya:

  1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir; 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah; 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah; 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah; 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (Q.S. al-Kaafirun)

(Baca juga:Cara Menghilangkan Kesedihan Menurut IslamKeutamaan Doa Seorang Ibu )

Kemudian untuk ayat ke duanya adalah dengan mambaca surat al-ikhlas yang berbunyi:

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

Artinya:

  1. Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa; 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu; 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan; 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Q.S. al-Ikhlas)

(Baca juga: Cara Mengendalikan Emosi Menurut IslamCara Menjadi Muslimah Yang Baik )

Mengenai anjuran bacaan surat al-Kafiruun pada rakaat pertama dan al-Ikhlas pada rakaat kedua ini di jelaskan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu yang menyatakan,

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun dan surat Al Ikhlas.”  (HR. Muslim)

[AdSense-C]

Kemudian dalam hadis dari Sa’id bin Yasar juga menjelaskan tentang anjuran membaca surat al-Baqarah ayat 136 pada raka’at pertama, yang berbunyi:

قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٦

artinya:

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Q.S. al-Bawarah : 136)

Sedangkan pada rakaat ke duanya dianjurkan untuk membaca surat Ali Imron ayat 52, yang berbunyi:

۞فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ٥٢

artinya:

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Ali Imron : 52)

Hal ini dijelaskan dalam hadis tersebut bahwasannya Ibnu Abbas pernah mengabarkan mengabarkan kepadanya:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh dirakaat pertamanya membaca QS. Al-Baqarah ayat 136 dan dirakaat ke duanya membacaQS. Ali Imron ayat 52. (HR. Muslim)

Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib

Dalam melaksanakan Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib dianjurkan untuk membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis yang meriwayatkan tentang kebiasaan Nabi Muhammad shallalllahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan sholat sunah rawatib Ba’diyyah Magrib.

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Saya sering mendengar Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada sholat sunnah sesudah maghrib:”surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas”. (HR. At-Tarmidzi no. 431, berkata Al-Albani: derajat hadits ini hasan shohih).

Baca juga:

Tak kalah penting untuk dilakukan dalam shalat rawatib adalah memperbanyak Dzikir dan Doa kepada Allah Subhanahua ta’ala yang dibacakan pada saat setelah selesai sholat sunah rawatib.

Demikianlah pembahasan mengenai tata cara sholat sunah rawatib ini. Semoga dengan membaca artikel ini dapat menambah khazanah keilmuan dan meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Allah Subhana hua ta’ala. Amin.

Larangan Tidur Setelah Shalat Shubuh dan Dalilnya

Salah satu nikmat luar biasa yang terkadang tidak kita sadari adalah tidur. Terlebih ketika tubuh kita telah menjalani serangkaian aktivitas dan mengalami berbagai peristiwa melelahkan, maka merebahkan diri di kasur yang empuk dan hangat memiliki kenikmatannya tersendiri. Tidur juga sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Selain tubuh kita memang membutuhkan istirahat, ada beberapa proses di dalam tubuh kita yang hanya akan berjalan secara maksimal ketika kita tertidur. Oleh karena itu kita membutuhkan tidur yang nyenyak agar ketika terbangun dan kembali menjalani aktivitas, kita akan merasa segar dan bersemangat.

baca juga:

Namun sayangnya, beberapa dari kita tidur di waktu yang kurang tepat. Salah satunya adalah waktu setelah melaksanakan shalat shubuh. Biasanya hal tersebut disebabkan beberapa hal yang menyebabkan seseorang masih merasa lelah ketika bangun, tetapi meskipun begitu, tidur setelah shubuh juga merupakan sesuatu yang tidak dianjurkan di dalam islam.

Mengapa ?

Beberapa hadits dan pendapat ulama yang dirangkum dari beberapa sumber di bawah ini mungkin akan menjelaskan mengapa kita tidak dianjurkan untuk tidur pagi tepatnya setelah shalat shubuh.

baca juga :

1. Setelah shubuh adalah waktu terbaik untuk meraih banyak kebaikan

Dalam salah satu hadist, Rasulullah berdoa agar Allah menjadikan waktu pagi sebagai waktu diberkahinya para umatnya.

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, Ibnu Majah no. 2236 dan Tirmidzi no. 1212)

Bahkan salah satu ulama yang berasal dari Damaskus, yakni Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa salah satu perbuatan yang menghambat datangnya rizki dari Allah adalah tidur di waktu pagi.

“Di antara hal yang makruh menurut para ulama adalah tidur setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit karena waktu tersebut adalah waktu memanen ghonimah (waktu meraih kebaikan yang banyak).” ( Madarijus Salikin, 1: 369)

2. Tidur di waktu pagi dapat membuat badan lemas.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa pagi harinya seseorang itu diibaratkan seperti masa mudanya dan akhir hari seseorang itu diibaratkan seperti masa tuanya. Jika di masa muda saja kita bermalasan-malasan, itu akan mempengaruhi masa tua kita, yakni kita juga akan bermalas-malasan. Apalagi, tidur setelah shalat subuh akan  membuat kita malas untuk melakukan hal-hal bermanfaat serta menyebabkan terbuangnya waktu di hari itu.

3. Tidur di waktu pagi merupakan salah satu perbuatan yang dibenci para salafush sholih

Karena pagi hari adalah waktunya untuk memperoleh “ghonimah” atau pahala yang berlimpah sehingga sangat dianjurkan mengisi waktu setelah shubuh dengan hal-hal yang bermanfaat.

[AdSense-B]

4. Waktu setelah shalat shubuh dapat digunakan untuk aktifitas yang bermanfaat,

Yang sebenarnya dapat kita gunakan untuk, berdzikir, membaca doa, atau berolahraga, malah terbuang sia-sia karena tidur.

5. Terlalu banyak tidur ternyata juga dapat mengakibatkan berbagai penyakit.

Hal ini juga dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, yaitu:

“Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan. Tidur pagi juga Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat.” (Zaadul Ma’ad, 4/222)

Salah satu yang bisa mencemari akhlak seseorang adalah dendam di dalam hati. Dendam memang sesuatu yang akan memuaskan hawa nafsu kita, tetapi juga merupakan salah satu perasaan yang akan menjerumuskan kita ke dalam kejahatan yang lebih besar. Meskipun seseorang telah berperilaku kurang menyenangkan atau bahkan menyakiti kita, perasaan dendam tetap merupakan hal yang harus dibuang jauh-jauh dari dalam hati.

Berikut ini tips sederhana mengenai 10 cara bagaimana agar dendam tidak memenuhi hati kita:

1. Memaafkan dan menerima dengan lapang sejak pertama kali seseorang menyakiti hati kita.

Sifat pemaaf menunjukkan bahwa kita memiliki kekuatan untuk menahan hawa nafsu meskipun sebenarnya kita dapat melampiaskannya. Allah berfiman dalam surat Asy Syuraa dan Al-A’raf :

Barangsiapa yang memberi maaf dan melakukan kebaikan, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy Syuuraa: 40)

dan,

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” [al-A’râf/7:199].

Ketika kita mulai merasa amarah kita memuncak dan perasaan dendam muncul, baiknya kita mengikuti anjuran Rasulullah Shalallahu a’aihi wassalam untuk berwudhu.

baca juga:

2. Berpikir positif bahwa sesuatu yang menyakiti hati kita itu mungkin merupakan teguran dari Allah.

Hal ini membantu kita agar mampu memaknai keinginan Allah dimana Allah ingin kita memahami hikmah di balik itu semua. Keburukan yang terjadi pada kita bisa jadi merupakan cara Allah untuk mengangkat derajat kita atau mengugurkan dosa-dosa kita.

[AdSense-A]

3. Bermuhasabah dan beristighfar.

Kedua hal ini adalah cara intropeksi diri yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT, agar kita selalu mengingat dosa apa yang telah kita perbuat setiap harinya. Mungkinkah kita pernah menyakiti orang lain melalui lisan atau perbuatan kita dengan cara yang sama seperti apa yang kita rasakan.

4. Mengingat Allah dengan berdzikir dan berdoa.

Dengan senantiasa berdzikir dan berdoa, Hal itu akan membuat hati kita tenang dan menghilangkan hawa nafsu termasuk perasaan dendam dari hati kita.

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Bahkan doa orang yang teraniaya adalah salah satu dari doa-doa yang akan dikabulkan oleh Allah.

“Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]

Meskipun begitu, sebisa mungkin jangan doakan keburukan-keburukan untuk orang yang menyakiti kita. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mencontohkan, ketika beliau disakiti, beliau akan mendoakan banyak kebaikan untuk orang-orang yang menyakiti beliau.

Baca juga:

Selain 5 diatas, beberapa perkataan Ibnul Qayyim di bawah ini dapat menjelaskan kepada kita mengapa tidur setelah shalat shubuh itu tidak dianjurkan:

 “Di antara perkara yang dibenci di kalangan para salaf, yaitu tidur antara usai shalat Shubuh dan terbitnya matahari. Sebab, waktu-waktu itu adalah saat keberuntungan. Aktifitas yang dikerjakan pada waktu-waktu tersebut memiliki nilai istimewa. Bahkan kalau orang-orang telah berjalan semalam suntuk, mereka tidak diperbolehkan untuk beristirahat pada waktu tersebut sampai matahari terbit. Saat itu adalah permulaan hari dan kuncinya, waktu turunnya rejeki dan terjadinya pembagian rejeki dan barokah. Selain itu, (terhitung) saat itulah pergerakan hari bermula. Keadaan seluruhnya tergantung pada bagiannya. Maka seharusnya (kalau harus tidur), maka itu adalah tidur yang sifatnya darurat.

Tidur pada pagi hari menghalangi datangnya rejeki. Sebab waktu pagi adalah saat pencarian rejeki oleh para makhluk. Pagi adalah waktu pembagian rejeki. Maka tidur pada waktu tersebut, akan menjadi penghambat menerima rejeki, kecuali karena alasan tertentu, atau kondisi darurat.

(Tidur pagi hari) sangat berbahaya bagi jasmani, karena membuat malas badan dan merusak metabolisme yang diolah oleh tubuh. Akibatnya, (dapat) menyebabkan kegoncangan, kegelapan dan kelemahan fisik. Kalau itu terjadi sebelum buang air besar, bergerak dan olah raga serta menyibukkan lambung dengan sesuatu, maka itu merupakan penyakit berbahaya yang akan melahirkan berbagai penyakit.”

Itulah beberapa alasan yang melarang kita untuk tidur di waktu setelah shubuh. Perlu kita ketahui juga bahwa di dalam islam, waktu terbaik yang diajurkan untuk tidur adalah pada pertengahan siang dan setelah shalat isya.  Tetapi jika kita memang dalam keadaan yang benar-benar mendesak seperti sakit, harus tidur agar bisa kembali bekerja, atau memang bekerja pada malam hari, maka itu dapat dimaklumi.

Keutamaan Menikah di Bulan Syawal dan Dalilnya

Menikah adalah salah satu bentuk ibadah. Bahkan seseorang yang telah menikah juga dianggap telah menyempurnakan separuh agamanya. Pemuda-pemudi yang telah siap untuk menikah, dianjurkan untuk segera melangsungkan pernikahan tanpa menundanya lagi.  Kesiapan seseorang untuk menikah tidak hanya dilihat dari usianya, namun juga kesiapan dari segi mental dan biaya.

Kemudian, kesiapan mental seseorang dapat dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap, dalam kesehariannya, bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya, serta bagaimana ia menghadapi suatu masalah dan menyelesaikannya. Biaya memang bukan salah satu penghambat pernikahan karena pernikahan sejatinya tidak memerlukan biaya yang mahal atau kemewahan. Hanya saja, untuk kehidupan setelah menikah dibutuhkan kesiapan finansial yang mencukupi. (baca juga : Indahnya Menikah Tanpa Pacaran)

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Seharusnya, pernikahan bukanlah sesuatu yang sulit. Tetapi, banyak orang-orang saat ini mempersulit pernikahan itu sendiri. Seperti pesta yang harus mewah dan meriah, mahar yang harus besar, bahkan hingga penentuan waktu yang berdasarkan pada baik buruknya tanggal atau hari. Setidaknya beberapa daerah di negara kita masih memiliki kepercayaan terhadap hal tersebut. Misalnya, jika menikah di  hari yang dianggap “kurang baik” maka pernikahannya pun juga akan membawa hal-hal buruk.

Di dalam islam, percaya kepada hal-hal seperti itu sudah pasti dan sudah jelas tidak diperbolehkan. Sebab, tidak ada yang dapat mendatangkan sesuatu selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sesuatu tidak akan terjadi tanpa izin-Nya. Tidak ada hari maupun tanggal yang buruk untuk melangsungkan pernikahan. Segalanya akan baik-baik saja jika kita meminta pertolongan dan memasrahkan segalanya kepada Allah.

baca juga:

Namun, terkait dengan waktu dilangsungkannya pernikahan, islam menganjurkan satu waktu yang menjadi sebuah keutamaan jika dilangsungkan pernikahan pada waktu tersebut. Kapankah itu? Satu waktu yang dianjurkan untuk dilangsungkannya pernikahan pada saat itu adalah bulan syawwal. Yap, bulan setelah ramadhan dalam perhitungan hijriah. Berikut adalah beberapa keistimewaan menikah di bulan syawal, antara lain:

baca juga:

[AdSense-A]

1. Dianjurkan untuk Menikah bagi mereka yang telah dipertemukan di Bulan Syawal

Pada bulan Syawwal, selain berpuasa selama 6 hari setelah bulan Ramadhan, terdapat sunnah lainnya. Sunnah tersebut adalah melangsungkan pernikahan bagi yang sudah diberikan kesempatan oleh Allah. Berikut dalil mengenai keutamaan menikah di bulan syawwal :

‘Aisyah radiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

2. Menepis Kepercayaan Menikah di Bulan Syawal akan sial

Bulan syawwal dijadikan waktu disunnahkannya menikah ditujukan untuk menghilangkan kepercayaan orang-orang Arab Jahiliyah yeng menganggap bahwa pernikahan di bulan Syawwal adalah sebuah kesialan dan akan berujung dengan perceraian.  Sehingga para orangtua atau wali tidak ingin menikahi putri-putri mereka begitu juga para wanita tidak mau dinikahi pada bulan tersebut.

Untuk menghilangkan kepercayaan menyimpang tersebut, pernikahan di bulan syawwal pun dijadikan sebagai ibadah, sebagai sunnah Nabi Shalallahu’alaihi Wassalam. Hadits di atas pun dijadikan sebagai anjuran untuk menikah dan menikahkan di bulan Syawwal, mematahkan keyakinan atau anggapan sial terhadap sesuatu yang bisa menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan.

baca juga:

Dalam hal lain, menganggap sial sesuatu atau merasa sial disebut juga dengan “thiyarah”, dan berikut dalil yang melarang kita melakukan hal tersebut :

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam menjelaskan bahwa anggapan sial pada sesuatu itu termasuk kesyirikan. Beliau Shalallahu ‘alaihi Wassalambersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلَّا، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan. Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pernah melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap tawakkal” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 429).

baca juga:

[AdSense-B]

Namun, bukan karena menikah di bulan syawwal merupakan keutamaan lalu seseorang jadi “terburu-buru” ingin menikah. Pernikahan memang sesuatu yang sangat baik, maka dari itu harus dipersiapkan dengan baik pula. Jangan hanya karena memikirkan pernikahan seseorang jadi melalaikan hal-hal lainnya yang menjadi kewajibannya, seperti kedua orangtua, pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain.

Persiapkan dan tunggulah saat-saat indah itu datang dengan memantaskan diri dengan menuntut ilmu serta memperbaiki dan menambah amalan. Sehingga ketika momen itu datang, kita akan menyambutnya dengan diri kita yang sudah pantas dan siap. Jangan khawatir, Allah telah menentukan setiap waktunya untuk setiap manusia, dan untuk mereka yang telah ‘diizinkan’ dan dimudahkan oleh Allah, tidak ada alasan lagi untuk menundanya dan tidak ada yang lebih baik lagi selain mempercepat pelaksanaannya.

Baca:

Semoga bermanfaat. Semoga kita selalu dimudahkan oleh-Nya dalam setiap urusan dunia dan akhirat kita.