8 Keutamaan Berniaga Dalam Islam

Berniaga adalah kegiatan berjual beli dan sebagainya untuk memperoleh untung. Berniaga sama dengan berdagang dan merupakan salah satu pekerjaan yang dianjurkan dalam Islam dan salah satu cara cepat kaya menurut Islam. Dalam mencapai tujuan hidup menurut Islam manusia perlu bekerja untuk kelangsungan hidupnya dan berniaga dapat menjadi salah satu sarana penghasil nafkah untuk manusia bertahan hidup. Bahkan, Rasulullah SAW dan para sahabat pun menjadikan berniaga sebagai mata pencahariannya. Dan dalam berniaga, Islam sebagai agama yang baik telah memberikan aturan-aturan dan pedoman agar umatnya tidak salah dalam berniaga yang mana dapat berakibat dosa dan menimbulkan murka Allah SWT.

Lalu apakah keutamaan dalam berniaga menurut Islam?

Keutamaan Berniaga Menurut Islam

Berniaga atau berdagang merupakan salah satu pekerjaan mulia, dan konon katanya sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada dalam perniagaan atau perdagangan. Berikut ini keutamaan-keutamaan berniaga menurut Islam :

  1. Berniaga adalah sebaik-baiknya pekerjaan

Dari Rafi’in bin Khadij ra. ia berkata : Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?” Lalu Rasulullah menjawab “Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan juga setiap jual beli yang mabrur(baik)” (HR. Al- Baihaqi)

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW. sendiri telah mengatakan bahwa pekerjaan yang paling baik dari sebaik-baiknya pekerjaan adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri dan jual beli atau perniagaan yang baik. Jual beli mabrur yang dimaksud adalah berniaga dengan cara yang halal dan benar menurut Islam, berniaga sesuai etika jual beli dalam ekonomi Islam.

Lalu, dari Mu’adz bin Jabal ra., ia berkata : Rasulullah SAW. bersabda :

“Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila bebicara tidak berbohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan(dalam menaikan harga), apabila behutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.” (HR. Al-Baihaqi)

  1. Menjalin dan Menjaga Silaturahmi

Didalam Islam ada keutamaan menyambung tali silaturahmi, salah satunya adalah diberikan panjang umur dan rezekinya diperluas. Dan hukum silaturahmi menurut Islam adalah wajib. Sebagaimana hadits berikut ini, Rasulullah SAW. bersabda :

“Barang siapa yang senang diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan tali silaturahmi.”

Kita dapat menjalin silaturahmi dengan orang banyak dan menjaga silaturahmi dengan orang yang sudah dikenal melalui perniagaan.

  1. Menambah Wawasan dan Ilmu Pengetahuan

Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tidak hanya melulu lewat belajar disekolah dan membaca buku, namun juga bisa didapat melalui berniaga. Berniaga membuat wawasan dan ilmu pengetahuan kita jadi bertambah karena dalam berniaga kita banyak bertemu dengan orang-orang entah itu rekan berniaga, pelanggan atau sesama pedagang, setiap individu dari mereka tentu memiliki pengetahuan yang berbeda-beda dan bahkan wawasan serta pengetahuan mereka bisa jadi lebih banyak dari yang kita miliki. [AdSense-C]

  1. Melatih Kesabaran

Dalam berniaga kita tentu bertemu dengan banyak orang dan menghadapi pembeli yang memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda, ada orang dengan karakter baik dan sifat menyenangkan dan ada pula karakter yang buruk dengan sifat kurang menyenangkan. Lalu dari orang-orang yang memiliki karakter dan sifat yang tidak menyenangkan itulah kita dapat melatih kesabaran dan bersikap berlapang dada.

  1. Meningkatkan Perekonomian

Orang yang berniaga cenderung mendapatkan penghasilan yang lebih dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja selain berniaga. Karena di dalam berniaga terdapat banyak keuntungan yang bisa didapat. Namun, dalam memperoleh keuntungan-keuntungan tersebut haruslah tetap dalam jalan yang benar dan cara yang baik.

  1. Diberikan Keberkahan

Dari Hakim bin Hizam ra., Rasulullah SAW. bersabda :

“Penjuan dan pembeli, keduanya bebas memilih selagi belum berpisah. Maka jika keduanya jujur dan saling menjelaskan dengan benar, maka akan diberkahi pada bisnis keduanya. Namun jika menyembunyikan cacat dan dusta, maka terhapuslah keberkahan jual beli tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[AdSense-B] Maksud dari hadits tersebut adalah, orang yang berjual beli dengan jujur dan sesuai syariat Islam, maka keduanya(pedagang dan pembeli) akan memperoleh keberkahan.

  1. Berniaga Merupakan Pekerjaan Halal

Dalam (QS. AL-Baqarah ayat 275) Allah SWT. berfirman :

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seerti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya(terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.”

Dalam ayat tersebut dapat diketahui bahwa sesungguhnya segala bentuk jual beli dalam Islam diperbolehkan,, namun menjadi tidak diperbolehkan apabila didalam jual beli tersebut mengandung unsur riba dalam Islam.

  1. Menjadi Ladang Pahala

Berniaga memiliki banyak manfaat, salah satunya dapat menjadi ladang pahala. Kita dapat bersedekah melalui berniaga, dengan cara mensedekahkan sebagian keuntungan yang didapat dari berniaga kepada orang-orang yang membutuhkan. Dan dengan berniaga kita telah membantu dan mempermudah orang-orang dalam mendapatkan dan memenuhi kebutuhan mereka.

Dari beberapa keutamaan diatas menjelaskan bahwa berniaga atau berdagang memiliki banyak manfaat dan kebaikan. Sebagai umat muslim dan pengikut Rasulullah SAW. yang taat alangkah baiknya kita menjadikan cara berdagang Rasulullah sebagai teladan dalam berniaga agar mendapatkan sukses dunia akhirat menurut Islam.

Sekian, semoga bermanfaat (:

Hukum Saham dalam Islam dan Dalilnya

Saham adalah surat berharga yang merupakan bukti atas bagian kepemilikan suatu perusahaan. Dari pengertian ini, maka jika kamu membeli saham itu artinya kamu membeli sebagian kepemilikan perusahaan dan kamu memiliki hak untuk mendapat bagian keuntungan dari perusahaan tersebut dalam bentuk dividen, dengan catatan perusahaan yang kamu miliki sahamnya memperoleh keuntungan.

Baca juga:

Ada banyak beredar informasi bahwa saham dalam Islam merupakan bentuk investasi yang haram. Bahkan, banyak juga yang beranggapan bahwa saham termasuk dalam bentuk judi. Lalu, apakah anggapan ini benar? Berikut akan dibahas lebih lengkap tentang saham dalam Islam, apakah saham termasuk dalam investasi yang diharamkan atau tidak.

Pandangan Islam terhadap Saham

Telah kita bahas secara singkat pengertian saham di atas, bahwa saham merupakan surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas sebuah perusahaan. Kini, setelah banyaknya pendapat tentang keharaman investasi saham, telah terbit pula saham syariah. Apakah kata ‘syariah’ tersebut menunjukkan bahwa ada saham yang halal?

Saham merupakan salah satu bentuk perangkat yang ada dalam pasar modal. Pasar modal itu sendiri dibutuhkan untuk mengumpulkan modal dari masyarakat untuk kemudian diinvestasikan ke dalam sebuah usaha. Di dunia secara global, pasar modal dipandang memiliki peran terhadap perkembangan ekonomi sebuah negara. Maka, dengan adanya kebutuhan akan keberadaan pasar modal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memandang perlu untuk mengkaji halal atau haramnya pasar modal ini. (Baca juga: Hukum Trading dalam Islam)

Menurut para ulama, secara umum investasi berupa saham hukumnya adalah halal. Saham ini sendiri, dalam perekonomian syariah dipandang sebagai turunan dari musyarakah. Lalu, apakah itu musyarakah? Musyarakah adalah kerja sama mengumpulkan modal antara dua orang atau lebih untuk menjalankan sebuah bisnis. Maka, jika dilihat dari segi ini, investasi saham hukumnya halal. (Baca juga: Hukum Saham dalam Islam)

Lalu, saham seperti apa yang hukumnya halal? Apakah semua saham hukumnya adalah halal? Sebelumnya telah kita bahas secara singkat bahwa ada saham yang disebut sebagai saham syariah. Saham syariah ini sendiri pada dasarnya sama dengan saham konvensional. Namun, ada beberapa perbedaan mendasar yang membedakan antara saham konvesional dan saham konvensional, yaitu dilihat dari akadnya, tata kelola perusahaan penerbit saham, dan cara penerbitan saham tersebut. Syariah atau tidaknya sebuah saham ditentukan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa ternyata ada beberapa syarat yang harus dipenuhi hingga sebuah saham bisa disebut sebagai saham syariah atau tidak. Maka, kita harus benar-benar memperhatikan tentang hukum Syariah yang berlaku sebelum berinvestasi pada saham. Bagaimana caranya? Berikut akan dibahas lebih lengkap mengenai saham dalam Islam, apakah halal atau tidak.

Jenis Saham dan Hukum Membelinya

Setelah mengetahui pandangan Islam terhadap saham secara umum di atas, maka kini kita belajar mengenali saham yang boleh untuk dibeli dan saham yang dilarang untuk membelinya. Sebelumnya, kita harus memahami dulu bahwa dengan kita membeli sebuah saham, maka akan timbul hak dan kewajiban atas saham yang kita beli itu. Besarnya dana yang kita sertakan dalam saham merupakan ukuran atas besarnya kepemilikan kita atas perusahaan tersebut. Bisa dikatakan pula sebesar itu pula tanggung jawab kita atas perusahaan tersebut.

Dari banyaknya jenis saham yang beredar di pasar, ada beberapa segi yang bisa kita jadikan sebagai klasifikasi jenis saham. Jika kita membagi jenis saham berdasarkan hak klaim kita atas kepemilikannya, ada dua jenis saham sebagai berikut:

[AdSense-B]

  1. Saham Biasa (Common Stock)

Jenis saham ini adalah yang paling banyak beredar di pasar modal. Saham biasa memiliki karakteristik utama yaitu tujuan kepemilikannya. Seseorang yang membeli saham biasa memiliki tujuan untuk mendapatkan dividen atas keuntungan yang diperoleh perusahaan. Tujuan lainnya adalah untuk mendapatkan capital gain jika terjadi kenaikan harga saham. Selain itu, seseorang yang memiliki saham biasa hanya akan mendapat dividen jika perusahaan berhasil memperoleh keuntungan. Dalam hal perusahaan mengalami kerugian, pemegang saham biasa akan mendapat pembagian dividen yang paling terakhir (tidak diprioritaskan). (Baca juga: Hukum Jual Beli Saham Dalam Islam)

  1. Saham Istimewa (Preferred Stock)

Saham istimewa merupakan penggabungan antara saham biasa dan obligasi. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa karakteristik saham istimewa pun merupakan gabungan antara keduanya, yaitu selain mendapatkan hak dividen dan hak-hak lain seperti di saham biasa, pemegang saham istimewa juga akan mendapat hak-hak yang biasa didapat oleh seorang kreditur.

Baca juga:

Untuk lebih spesifik, seorang pemegang saham istimewa akan mendapat dividen yang jumlahnya tetap dengan suku bunga. Seorang pemegang saham istimewa juga akan mendapatkan dividen meskipun seandainya perusahaan mengalami kerugian. Tidak hanya itu, pemegang saham istimewa akan lebih diprioritaskan dividennya dibanding pemegang saham biasa.

  1. Saham Kosong

Jenis saham yang ketiga ini merupakan saham yang berbeda dari dua jenis saham sebelumnya. Saham kosong tidak memiliki nilai nominal tertulis di lembar sahamnya. Hak pemegang saham kosong hanya terbatas pada menerima dividen. Dia tidak berhak menghadiri RUPS, bahkan saham kosong bisa langsung dihapuskan, baik sebagian atau keseluruhannya.

Saham kosong biasa diberikan atas adanya kesepakatan antara para pemegang saham lainnya. Biasanya penerima saham kosong ini adalah orang-orang yang diharapkan, atau telah dianggap berjasa atas keberlangsungan usaha.

Dari adanya tiga perbedaan karakteristik antara saham biasa dan saham istimewa, para ulama pun menetapkan hukum yang berbeda antara saham biasa, saham istimewa dan saham kosong. Saham biasa dianggap masih boleh untuk dibeli, selama masih mengikuti beberapa aturan Islam atas hubungan kerja bisnis yang akan dibahas selanjutnya. Hal ini dikarenakan, pada saham biasa terdapat karakteristik kesamaan hak dan kewajiban antara pemegang saham dan pemilik usaha. Masih-masing memiliki kewajiban dan hak atas usaha yang dijalankan.

Sementara itu, dalam hal saham istimewa, para ulama ahli fikih sepakat mengharamkannya. Hal ini dikarenakan adanya perlakuan yang tidak setara yang diberikan kepada pemegang saham istimewa jika dibandingkan kepada pemegang saham biasa.

Pemilik saham istimewa sebenarnya tidak memiliki ‘nilai lebih’ hingga berhak mendapatkan prioritas tertentu. Selain itu, dividen atau keuntungan yang diterima oleh pemegang saham istimewa juga mengandung riba karena nilainya yang terjamin tidak peduli pada pembukuan usaha apakah untung atau rugi.

[AdSense-A]

Baca juga:

Dalam hadis riwayat Ahmad, Abu Daud dan an Nasai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penghasilan/keuntungan adalah imbalan atas kesiapan menanggung kerugian” (oleh al Albani dinyatakan sebagai hadis hasan). Maka, organisasi OKI dengan badan fikihnya, International Islamic Fiqih Academy, menyatakan “Tidak boleh menerbitkan saham preferen yang memiliki konsekuensi pemberian jaminan atas dana investasi yang ditanamkan, atau memberikan keuntungan yang bersifat tetap, atau mendahulukan pemiliknya ketika pengembalian investasi atau pembagian dividen” (Sidang ke-7, Keputusan no.63/1/7).

Lalu, bagaimana dengan hukum atas saham kosong? Kebanyakan ulama kontemporer melarang penerbitan saham kosong. Hal ini dikarena beberapa alasan, di antaranya saham kosong yang sebenarnya termasuk dalam bentuk jual beli jasa, sehingga nilai jualnya harus diketahui secara jelas. Padahal, tidak tertera nilai nominal yang jelas pada saham kosong. Hal ini termasuk dalam gharar yang dilarang dalam Islam, seperti dalam hadis riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan jual-beli yang mengandung gharar (unsur spekulasi)” (H.R. Muslim). (Baca juga: Asas Sistem Ekonomi Islam)

Syarat Kehalalan Saham dalam Islam

Telah kita bahas boleh tidaknya penerbitan dan kepemilikan saham berdasarkan jenis saham di atas. Dari situ kita ketahui bahwa ternyata ada saham yang boleh dimiliki dan ada saham yang haram untuk dimiliki. Maka, berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai persyaratan jual dan beli saham menurut para ulama:

  1. Saham diterbitkan oleh perusahaan yang telah beroperasi

Jual beli saham yang dilakukan harus saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang sudah beroperasi. Harganya pun harus sesuai kesepakatan dua belah pihak, boleh tidak sama dengan nilai nominal saham dan boleh juga tidak sama. Namun, jika perusahaan penerbit saham masih sedang merintis usahanya dan kekayaannya masih berupa uang, saham hanya boleh diperjualbelikan dengan harga yang sama dengan nilai nominal saham.

  1. Pembayaran harus secara kontan

Jual beli saham harus dilakukan dengan pembayaran kontan. Penyebabnya adalah uang yang dibayarkan untuk saham merupakan perwakilan atas sejumlah uang modal yang tersimpan, bukan aset perusahaan. Maka, jika ada jual beli saham dengan harga lebih mahal atau lebih murah daripada nilai nominal saham, hukumnya akan sama dengan tukar menukar mata uang dengan margin tertentu yang tidak dibenarkan secara syariah. (Baca juga: Bahaya Hutang Dalam Islam)

  1. Bidang usaha perusahaan halal

Tidak hanya jenis saham yang diterbitkan dengan cara yang halal, sektor usaha perusahaan penerbit saham juga harus bergerak di sektor yang halal. Bagaimanapun, sebagai pemegang saham nantinya kita akan menjadi pemiliki atas sebagian perusahaan tersebut. Hal ini akan mewajibkan kita untuk turut bertanggung jawab atas kehalalan barang atau jasa yang dijual perusahaan tersebut. Sesuai dengan surat al Maidah ayat 2, Allah berfirman, “Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Baca juga: Hewan Halal Menurut Islam)

  1. Tidak ada praktik riba

Tidak hanya barang dan jasa yang disediakan oleh perusahaan penerbit saham harus halal, perusahaan tersebut juga harus bebas riba. Artinya, perusahaan tidak melakukan pembiayaan, penyimpanan asset dan lainnya dengan cara riba. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih, “Bila tercampur antara hal yang halal dengan hal yang haram, maka yang lebih dikuatkan adalah yang haram”. (Baca juga: Bahaya Riba)

  1. Jual beli saham dengan cara yang dibenarkan

Jual beli saham harus menggunakan hukum jual beli yang berlaku pada jual beli barang biasa. Maka, jika melihat praktik yang terjadi sekarang, banyak perilaku jual beli saham yang tidak dibenarkan secara Islam. (Baca juga: Jual Beli Terlarang dalam Islam)

Kesimpulannya, jual beli saham posisinya sama dengan jual beli barang komoditas lainnya. Maka, hukumnya pun akan mengikuti hukum jual beli dalam Islam. Wallahu a’lam bishawab.

Hukum Trading Emas dalam Islam dan Dalilnya

Emas merupakan barang berharga yang sudah diperjualbelikan sejak dulu dan bahkan digunakan sebagai alat pembayaran dalam urusan jual beli tersebut. Islam sendiri sudah memberikan pedoman terbaik mengenai trading emas ini agar pelakunya tidak terjerumus dalam bahaya riba sebab bisa berbahaya selama masih hidup di dunia dan juga akhirat. Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengulas dengan tuntas mengenai hukum trading emas dilihat dari kacamata Islam seperti berikut ini.

Apabila dilihat, pedoman mengenai trading emas terkandung dalam sebuah hadits Ubadah bin Shamit dimana Rasulullah SAW bersabda, ““emas dengan emas, perak dengan perak, burr dengan burr, sya’ir dengan sya’ir, tamr dengan tamr, garam dengan garam, kadarnya harus semisal dan sama, harus dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian, selama dilakukan dari tangan ke tangan (kontan)” [HR. Al Bukhari, Muslim no. 1587, dan ini adalah lafadz Muslim].

Sebagai bukti kesempurnaan agama Islam adalah diperbolehkannya jual beli dengan cara memesan sebuah barang dengan kriteria yang sudah disepakati dan juga pembayaran kontan saat akan tersebut dilakukan. Hal ini dikarenakan akad yang dilakukan kedua belah pihak memberikan keuntungan tanpa adanya unsur penipuan atau ghoror. Beberapa keuntungan tersebut umumnya berupa:

  • Jaminan mendapatkan barang sesuai dengan kebutuhan dan waktu yang diinginkan.
  • Mendapatkan barang dengan harga lebih mudah dibandingkan pembelian saat barang dibutuhkan.

Sementara penjual juga mendapatkan keuntungan yang tidak kalah dengan pembelinya, yakni:

  • Mendapatkan modal untuk menjalankan usaha dengan halal sheingga bisa mengembangkan usaha tanpa harus membayar bunga.
  • Penjual memiliki kebebasan untuk memenuhi permintaan pembeli dan tenggang waktu antara transaksi bersama pembeli cukup lama.

Dalam dasar hukum Islam, keabsahan dari jual beli emas ini ditentukan dengan rukun dan juga syarat seperti berikut ini:

  1. Rukun

Rukun Islam berfungsi sebagai unsur utama tang harus terdapat dalam transaksi yakni:

  • Pelaku transaksi atau aqid yang disebut dengan istilah muslim atau muslim ilaih.
  • Objek transaksi ‘ma’qud ilaih yakni barang komoditi berjangka dan juga nilai tukar [a’s al-mal al-salam dan al-muslim fih].
  1. Syarat

Beberapa persyaratan merupakan pelengkap dari transaksi dan diantaranya adalah:

”Bila ada dua orang saling berjaul-beli, maka masing-masing dari keduanya memiliki hak khiyar (pilih), selama keduanya belum berpisah dan selama mereka masih bersama-sama [satu majelis].” [Muttafaqun ‘alaih]

  • Syariat yang memiliki tujuan untuk menghindari pelaku dari sifat tergesa gesa adalah dengan menyempitkan ruang perdagangan jual beli emas dalam Islam dan perak. Islam sangat menjaga status keduanya sebagai sebuah alat transaksi dengan tujuan untuk menjaga kelangsungan dan juga stabilnya perniagaan manusia. Dalam syariat Islam diberi kebebasan untuk menukarkan emas dan perak dengan barang lainnya yang senilai ataupun tidak dengan mengikuti dua ketentuan yakni:
  • Apabila ditukar dengan barang serupa seperti emas dengan emas atau perak dengan perak yang sama beratnya meskipun beda kualitas. [AdSense-B]
  • Proses trading harus dilakukan secara tunai sehingga setelah akad harus dilanjutkan dengan serah terima emas, perak atau uang yang akan ditukarkan tanpa ditunda.

Ketentuan ini diambil berdasarkan sabda Rasulullah SAW, ““Janganlah engkau menjual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satu dibanding lainnya. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satu dibanding lainnya. Dan janganlah engkau menjual salah satunya diserahkan secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Ketentuan trading emas sendiri sudah diatur dalam Islam sejak abad ke-14 dan ketentuan ini relevan sampai akhir jaman meskipun kondisi jaman selalu berubah. Namun, untuk hukum trading dalam Islam yakni emas online harus diperhatikan apakan trading tersebut dilakukan secara kontan yakni serah terima barang langsung pada saat akad.

Apabila tidak demikian, maka tidak diperbolehkan seperti yang sudah dijelaskan Syaikh Sholeh al Munajjid jika trading emas lewat internet dilarang secara syariat sebab serah terima barang dilakukan tidak kontan yakni pembeli yang mentrasfer sejumlah uang lewat internet banking akan tetapi barang baru diterima beberapa hari kemudian dan ini tidak diperbolehkan dalam sumber syariat Islam.

Trading emas secara online masuk ke dalam bentuk riba ba’i yakni membeli lewat internet sebab pembeli melakukan transaksi beli emas lewat website dari pedagang emas atau dinar dan membayar tunai memakai internet banking atau kartu kredit.

[AdSense-C]

Sesudah transaksi jual beli dilakukan, maka penjual mengirimkan emas yang sudah di pesan pembeli tersebut dan baru bisa diterima beberapa waktu transaksi sehingga termasuk dalam salah satu macam macam riba yakni riba ba’i sebab ilat emas dan juga uang kartal adalah sama. Akan tetapi, serah terima barang dan juga uang tidaklah tunai dan uang sudah diterima penjual akan tetapi pembeli belum menerima emas tersebut.

Dengan kata lain, trading emas dalam Islam diperbolehkan apabila dilakukan dengan pembayaran kontan dan nilai barang serta jumlahnya bisa berbeda antara satu dengan yang lain. Semoga ulasan dari kami kali ini bisa bermanfaat dan berguna untuk anda.

Hukum Forex Dalam Islam dan Dalilnya

Forex yang berasal dari kata Foreign Exchange merupakan pertukaran mata uang asing atau valas yang ditukar berdasarkan pasangan pasangannya atau pairs secara online. Perdebatan mengenai halal atau haram forex ini sebetulnya sudah diselesaikan dari Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No.28/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang [Al-Sharf]. Namun, dalam fatwa ini tidak dikatakan dengan tegas mengenai hukum trading dalam Islam ini.

Dalam fatwa ini hanya disebutkan mengenai trading forex dalam artian umum dimana transaksi jual beli uang prinsipnya diperbolehkan dengan ketentuan seperti:

  • Tidak untuk spekulasi atau untung untungan
  • Terdapat kebutuhan transaksi atau untuk berjaga jaga dan simpanan
  • Jika transaksi dilakukan pada mata uang sejenis, maka nilainya harus sama dan tunai [at taqabudh]
  • Jika transaksi yang idlakukan berlainan jenis, maka harus dilakukan dengan nilai tukar atau kurs yang berlaku disaat transaksi dan dilakukan secara tunai.
  • Al tsaman: Kejelasan dari jenis alat tukar yakni dirham, dinar, Rupiah, Dollar dan sebagainya atau berupa barang yang bisa ditimbang.
  • Kejelasan objek transaksi: Kejelasan dari kualitas objek transaksi apakah memiliki kualitas istimewa, sedang atau buruk. Ini dilakukan untuk menghilangkan jahala fi al aqd atau alasan tentang ketidaktahuan tentang kondisi barang di saat transaksi sebab akan menimbulkan perselisihan diantara pelaku transaksi dan merusak nilai transaksi.

MUI memberikan fatwa jika transaksi jual beli mata uang diperbolehkan jika tidak dilakukan untuk spekulasi. Ini mengartikan jika transaksi jual beli mata uang akan berubah hukumnya menjadi haram jika dilakukan atas dasar spekulasi sebab masuk ke dalam jenis judi.

MUI juga memberikan fatwa jika ini diperbolehkan apabila terdapat kebutuhan transaksi atau untuk simpanan. Ini mengartikan jika kebutuhan transaksi mu’amalah seperti traveling, membayar hutang dalam Islam pada orang asing dan sebagainya bukan dilakukan karena sengaja mencari keuntungan dari perubahan nilai kurs tersebut.

Madharatnya, jika jual beli mata uang yang dilakukan hanya untuk mencari keuntungan maka hukumnya adalah haram. Namun, trading forex yang dilakukan selalu memiliki tujuan untuk mencari keuntungan dari perubahan nilai mata uang tersebut dan tidak pernah bertujuan untuk simpanan. Dengan ini, maka bisa disimpulkan jika trading forex hukumnya adalah haram.

Hukum Islam Tentang Transaksi Valas

Ada beberapa persyaratan dalam Islam yang berhubungan dengan masalah transaksi valas seperti ulasan dari kami dibawah ini.

  1. Terdapat Ijab Qobul

Transaksi valas harus dilakukan dengan adanya ijab qobul yakni perjanjian memberi dan juga menerima. Penjual harus menyerahkan barang dan pembeli juga harus membayarnya dengan tunai dan ijab qobul bisa dilakukan dengan cara lisan, utusan ataupun tulisan. Pembeli dan penjual juga memiliki hak penuh untuk melaksanakan dan melakukan segala tindakan hukum yakni dewasa dan berpikiran yang sehat.

  1. Memenuhi Syarat Transaksi Jual Beli

Transaksi valas yang dilakukan juga harus memenuhi syarat yang dijadikan objek transaksi jual beli. Barang tersebut harus merupakan barang suci dan bukan barang yang najis serta bisa memberikan manfaat, bisa diserahterimakan dan bisa dijual atau dibeli oleh pemiliknya atau kuasa atau izin pemiliknya. Selain itu, barang yang sudah ada di tangan apabila barang tersebut didapat dengan imbalan.

[AdSense-B]

Hadits Tentang Jual Beli Dalam Islam

Dalam Islam sendiri juga terdapat beberapa hadits yang mengulas tentang jual beli di dalam Islam dan diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Hadis Ahmad bin Hambal dan Al Baihaqi dari Ibnu Mas’ud

Jual beli barang yang tidak dilakukan pada tempat transaksi diperbolehkan dengan syarat harus dijelaskan sifat dan ciri cirinya. Apabila barang sesuai dengan keterangan yang diberikan penjual, maka jual beli tersebut menjadi sah. Namun jika tidak sesuai, maka pembeli memiliki hak khiyar yakni diperbolehkan untuk meneruskan atau membatalkan jual beli tersebut.

“Barang siapa yang membeli sesuatu yang ia tidak melihatnya, maka ia berhak khiyar jika ia telah melihatnya”. [Hadits Nabi riwayat Al Daraquthni dari Abu Hurairah]

  1. QS. Al-Baqarah[2]:275

Allah SWT juga berfirman jika kegiatan jual beli adalah perbuatan yang halal namun untuk urusan macam macam riba merupakan kegiatan yang diharamkan.

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

  1. Hadits Al-Baihaqi dan Ibnu Majah

Kegiatan jual beli hanya diperbolehkan jika dilakukan atas dasar kerelaan dari dua belah pihak.

“Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan atas dasar kerelaan (antara kedua belah pihak)”, [HR. albaihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban].

  1. Hadits Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri

Rasulullah SAW bersabda jika dalam jual beli emas dalam Islam selayaknya dilakukan dengan nilai yang sama dan tidak ditambahkan sebagian. Dengan kata lain, nilai jual tidak boleh melebihi dari nilai barang tersebut.

“Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagaian atas sebagian yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai.”

  1. Hadits Riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf

Dalam sebuah riwayat dikatakan jika perjanjian yang dilakukan sesama umat muslim boleh dilakukan. Namun, jika perjanjian tersebut adalah haram atau menghalalkan yang haram maka hal ini tidak diperbolehkan.

“Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”

Dalil Mengenai Jual Beli

Diantara dalil dalil yang memperlihatkan jika hukum jual beli mata uang yang dihukumi dengan emas dan perak atau dinar dan dirham, maka dilakukan dengan kontan dan tanpa berhutang sedikit pun atau meminjamkan uang dalam Islam. Berikut beberapa dalil yang menunjukkan hukum ini.

  1. HRS Muslim

“Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum)  dijual dengan sya’ir, korma dijual dengan korma, dan garam dijual dengan garam, (takaran/timbangannya) harus sama dan kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba, pemberi dan penerima dalam hal ini sama.”

[AdSense-A]

  1. Al Bukhary dan Muslim

“Janganlah engkau menjual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding lainnya. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding lainnya. Dan janganlah engkau menjual salah satunya diserahkan secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan.”

  1. Imam Malik dan Al Baihaqi

” Dan bila ia meminta agar engkau menantinya sejenak hingga ia masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya sebelum ia menyerah barangnya, maka jangan sudi untuk menantinya. Sesungguhnya aku khawatir kalian melampaui batas kehalalan, dan yang dimaksud dengan melampaui batas kehalalan ialah riba. Janganlah engkau menjual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding lainnya. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding lainnya. Dan janganlah engkau menjual salah satunya diserahkan secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan emas, salah satunya tidak diserahkan secara kontan sedangkan yang lainnya diserahkan secara kontan. “

Transaksi Yang Dilarang Dalam Islam

Dalam Islam sendiri sudah diatur sedemikian rupa mengenai apa saja transaksi yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan atau contoh jual beli terlarang.

  1. Dilakukan Dengan Hati Hati

Pelaksanaan transaksi harus dilakukan atas dasar prinsip hati hati dan tidak diperbolehkan jika dilakukan atas dasar spekulasi atau manipulasi yang didalamnya terkandung unsur riba, gharar, risywah, kezhaliman dan juga kemaksiatan.

  1. Jenis Transaksi Haram

Beberapa transaksi yang diharamkan dalam arti mengandung unsur riba, gharar, risywah, maizir, maksiat dan kezhaliman diantaranya adalah:

  • Bai’ al ma dum: Melakukan penjualan atas barang atau efek syariah yang belum dimiliki atau short selling.
  • Najsy: Memberikan atau melakukan penawaran palsu.
  • Insider trading: Menggunakan informasi dari orang dalam yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dari sebuah transaksi yang dilarang.
  • Memberikan informasi yang menyesatkan
  • Margin trading: Melaksanakan transaksi dengan efek syariah dan fasilitas pinjaman berbunga atas kewajiban penyelesaian efek syariah itu.
  • Ihtikar atau penimbunan: Melakukan pembelian atau mengumpulkan sebuah efek syariah sehingga menyebabkan harga efek syariah dengan memiliki tujuan untuk mempengaruhi pihak lainnya.

Demikian ulasan dari kami mengenai hukum forex dalam Islam. Dengan ulasan ini, semoga bisa memberikan banyak manfaat dan bisa menjalankan bisnis tanpa unsur spekulasi akan tetapi dengan benar dipakai analisa sehingga hasil yang didapatkan akan menjadi halal dan sukses menurut Islam.

Jual Beli Kucing Dalam Islam – Hukum – Dalil

Kucing menjadi salah satu hewan peliharaan yang memiliki banyak peminat sehingga tidak heran seringkali di pelihara para pencinta hewan. Tingkah laku yang dilakukan kucing memang terlihat menggemaskan ditambah aktivitas yang dilakukan membuat banyak orang senang melihatnya. Hal inilah yang membuat jual beli kucing saat ini semakin banyak terjadi. Akan tetapi, bagaimana persoalan jual beli kucing ini dilihat dari kacamata Islam?, berikut ulasan selengkapnya.

Artikel terkait:

Hukum Mengenai Kucing

Kucing termasuk dalam golongan hewan yang suci sebab termasuk hewan yang manja pada manusia dan selalu dekat dengan manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kucing tidaklah najis. Karena ia binatang yang mengelilingi kalian.”

Apabila kucing dikatakan najis, maka umat muslim akan kesulitan saat akan menyucikan apapun yang disentuh oleh kucing. Sucinya kucing adalah kemudahan [taysir] dari Allah SWT sebab sangat sulit menghindari kucing yang selalu ada di sekitar manusia. Sebuah kaidah menyatakan, al-masyaqqah tajlibu at-taysir, kesulitan mendatangkan keringanan.

Jilatan yang terjadi dari kucing bukanlah najis dan kucing memang tergolong hewan yang banyak menjilat khususnya sesudah diberikan makan akan tetapi jilatan ini tidak akan menyebabkan najis. Dalilnya adalah hadits Abu Qatadah yang datang pada Kabsyah binti Ka’b dan Kabsyah menyiapkan untuknya air wudhu lalu datang kucing dan meminum air tersebut. Abu Qatadah lalu membiarkannya sampai kucing selesai minum. Kabsyah heran dengan yang dilakukannya dan Abu Qatadah berkata, “Herankah engkau wahai anak saudaraku? Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya kucing tidaklah najis. Ia adalah binatang yang selalu mengitari manusia,’” (HR At-Tirmidzi. Ia berkata, ini hadits hasan shahih).

Meskipun kucing adalah hewan suci, namun kucing haram untuk dimakan sebab kucing termasuk binatang yang memiliki taring dan dilarang untuk memakannya. Rasulullah SAW juga melarang memakan binatang yang bertaring dan unggas yang memiliki cakar tajam. Dalam hadits lain disebutkan jika Rasulullah SAW melarang memakan kucing dan mengambil harganya.

Dalil Tentang Kucing

Kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Abu Hurairah mengenai kucing adalah saat cuaca sedang panas dan melihat seekor kucing yang sedang bersandar di dinding lalu ia mengambil dan membawa kucing tersebut lalu menaruhnya pada lengan baju untuk melindungi kucing tersebut dari panas matahari. Abu Hurairah berkata jika ia pernah mendengar Nabi Muhammad berkata jika ada seorang wanita yang masuk neraka hanya karena membiarkan anak kucing betina kelaparan namun ii dibantah oleh Aisyah, istri Nabi Muhammad.

Hadits yang lebih tsabit atau jelas adalah hadits yang menyebutkan jika wanita kemudian disiksa dengan lafadz, “Seorang wanita diadzab karena seekor kucing yang dikurungnya sampai mati. Hanya karena kucing itu ia masuk neraka. Sebab tatkala ia mengurungnya, ia tidak memberinya makan dan minum. Ia juga tidak mau melepaskannya untuk mencari makanan dari serangga dan tumbuh-tumbuhan.” Hadits ini diriwayatkan oleh imam Muslim dalam shahihnya dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Abu Hurairah, namun pada sisi berbeda hadits ini diriwayatkan dari jalur berbeda yakni dari Nafi, Abdullah bin Umar RS, Imam Bukhari dalam Adab al-Mufrad hadits no. 397 dan juga Imam Muslim [7/43] sehingga dikatakan hadits tersebut adalah tsabit dan tidak bisa ditentang kembali.

Artikel terkait:

[AdSense-B]

Dalil dan Pendapat Tentang Jual Beli Kucing

Dari beberapa dalil dan juga pendapat, ada sebagian yang memperbolehkan untuk jual beli kucing dan sebagian lagi yang melarang aktivitas jual beli kucing tersebut.

A. Memperbolehkan Jual Beli Kucing

Ulama madzhab 4 yaitu Hanafiyyah, Hanaabilah, Malikiyyah dan Syana ez euro ez trade iyyah mengeluarkan pernyataan jika hukum jual beli kucing diperbolehkan dan pernyataan ini berdasarkan fakta karena kucing bukanlah hewan yang najis.

  • Imam Ibnu Qudamah Al Mawdisy bermadzhab Hanabillah menyatakan jika boleh memperjual belikan kucing di dalam kitabnya Al Mughni 4/193.
  • Imam Al Dusuqi dari madzhab Malikiyyah berkata jika boleh jual beli kucing di dalam Islam yang sudah ditulis dalam kitabnya Hashiyah Al Dusuqi 3/11.
  • Imam Al Kasani bermadzhab Hanafiyyah menyatakan jika tidak dilarang hukum jual beli kucing yang ada di dalam kitab Badaâ~ez_euro~~ez_trade~i Al-Shanaâ ez_euro ez_trade i: 5/142.
  • Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy bermadzhab Hanabillah membuat pernyataan jika hukum jual beli kucing diperbolehkan dan ada di dalam kutabnya Al Mughni 4/193.

[AdSense-A] Dari beberapa pendapat ini memang memperbolehkan jual beli kucing dengan catatan karena kucing bukan termasuk dalam golongan sinnaur atau disebut dengan kucing liar dan juga tidak termasuk ke dalam jenis hewan yang najis sehingga jual beli kucing diperbolehkan.

B. Mengharamkan Jual Beli Kucing

Dari beberapa hadits dan juga para ulama, ada yang secara tegas mengharamkan atau melarang transaksi jual beli kucing.

  • Hr. Muslim: Dari Abu Az Zubair radhiyallahu anhu, beliau berkata, ‘ Saya bertanya kepada jabir radhiyallahu ‘anhu mengenai hasil penjualan anjing dan kucing. Maka jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah telah melarang hal tersebut.
  • Markaz al Fatwa no. 18327: Ibnul Mundziriy berkata,”Sesugguhnya terdapat riwayat dari Nabi saw tentang larangan dari menjualnya dan penjualannnya adalah kebatilan dan jika (tidak ada larangan) maka boleh.” Dan dia telah mengetahui bahwa hadits tersebut adalah betul maka seharusnya madzhab Ibnul Mundzir mengharamkan penjualannya.
  • Didalam Aunul Ma’bud disebutkan, “Al Khottobi berkata larangan jual beli kucing memiliki arti dua makna yakni karena kucing adalah hewan liar yang tidak memiliki tuan atau pemilik sehingga tidak mungkin dapat diserahterimakan dan juga kucing selalu berada di sekitar manusia dan tidak pernah bisa lepas dari manusia beda halnya seperti hewan ternak dan burung yang terbiasa hidup di sangkar atau kandang.
  • Abu Muhammad Ibnu Hazm berkata jika yang dimaksud zajar dalam hadits adalah larangan keras [Al Muhalla 9:13] dan beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari hasil penjualan anjing dan kucing.” (HR. Abu Daud no. 3479, An Nasai no. 4668, Ibnu Majah no. 2161 dan Tirmidzi no. 1279. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
  • Ustad Muhamad Abduh Tuasikal berkata jika hukum jual beli kucing yang lebih kuat adalah semua kucing yang diharamkan sebab keumuman sabda Nabi Muhammad SAW. Kenapa diharamkan, karena Imam Nawawi yang paling keras memberikan status hukum makruh li tanzih sebab dalil sudah menyatakan demikian sehingga perkataan ulama tidak bisa didahulukan.

Artikel terkait:

Hadits Larangan Jual Beli Kucing

  • Jabir Radhiallahu ‘Anhu

Jabir Radhiallahu ‘Anhu berkata, “Rasulullah SHallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang harga dari Anjing dan Kucing.” (HR. At Tirmidzi No. 1279, Abu Daud No. 3479, An Nasa’i No. 4668, Ibnu Majah No. 2161, Al-Hakim No. 2244, 2245, Ad Daruquthni No. 276, Al-Baihaqi, As Sunan Al-Kubra No. 10749, Ibnu Abi Syaibah, Al-Mushannaf, 54/4. Abu Ya’la No. 2275)

  • Imam At Tirmidzi

Imam At Tirmidzi mengatakan, hadits ini idhthirab (guncang), dan tidak shahih dalam hal menjual kucing. (Lihat Sunan At Ttirmidzi No. 1279) dan Imam An Nasa’i mengatakan hadits ini: munkar! (Lihat Sunan An Nasa’i No. 4668)

  • Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri Rahimahullah

Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri Rahimahullah, ” berkata Al-Khathabi: sebagian ulama membicarakan isnad hadits ini dan mengira bahwa hadits ini tidak tsabit (shahih) dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Berkata Abu Umar bin Abdil Bar: hadits tentang menjual kucing tidak ada yang shahih marfu’. Inilah akhir ucapannya.” (Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri, Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/501. Cet. 2, 1383H-1963M. Maktabah As Salafiyah. Lihat juga Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 9/271. Darul Kutub Al-‘Ilmiyah)

  • Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah berkata, “Tidak ada yang shahih sedikit pun tentang kucing, dan dia menurut hukum asalnya adalah mubah (untuk dijual). (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 8/403. Muasasah Al-Qurthubah)

  • Syaikh Al-Mubarakfuri Rahimahullah

Syaikh Al-Mubarakfuri Rahimahullah berkata, “Tidak ragu lagi, bahwa hadits ini adalah shahih karena Imam Muslim telah mengeluarkannya dalam kitab Shahihnya sebagaimana yang akan kau ketahui.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 4/500)

  • Nailul Authar

Imam Asy Syaukami berkata, “Dalam hadits ini terdapat dalil haramnya menjual kucing, inilah pendapat Abu Hurairah, Jabir, dan Ibnu Zaid.” (Nailul Authar, 5/145)

Artikel terkait:

Dilihat dari kebanyakan ulama, larangan jual beli kucing tidak memiliki arti haram akan tetapi masalah tentang pantas dan adabnya sebab kucing memang bukan hewan yang bisa diperjual belikan sebab mudah untuk didapat dan manusia bisa memeliharanya atau bahkan membiarkannya. Menurut Imam an Nawawi, hadits mengenai larangan memperjualbelikan kucing memang sahih namun bukan berarti larangan ini mutlak sebab larangan jual beli kucing yang dimaksud dalam hadits adalah kucing liar atau kucing hutan dan kucing tersebut dilarang untuk diperjual belikan karena tidak memiliki manfaat.

15 Cara Berdagang Rasulullah Agar Sukses dan Berkah

Walaupun dahulu aktivitas berdagang sempat dipandang sebelah mata, namun kenyataannya sekarang banyak orang mulai tertarik menjadi entrepreuner dan membuka usaha dagang. Dalam islam sendiri, bergadang atau berwirausaha dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang mulia, bahkan mempermudah datangnya rezeki Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadist terkemuka yang berbunyi,

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”

Rasul kita, Nabi Muhammad SAW juga seorang pedagang  sejati. Disebutkan dalam sejarah bahwa beliau memulai bisinisnya sejak berusia 12 tahun. Beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur, ramah bahkan sukses. Kesuksesan nabi Muhammad SAW dalam berwirausaha tidak hanya sekedar dalam hal materi saja. Tapi juga keberkahan rezeki yang diperoleh serta memupuk tali persaudaraan antar muslim (dalam artian memperbanyak patner kerja atau kenalan-kenalan baru).

Baca juga:

Nah, berikut ini beberapa cara berdagang Rasulullah SAW yang bisa kita contoh untuk mengembangkan bisnis agar lebih sukses dan diridhoi Allah Ta’ala.

  1. Diniatkan karena Allah SWT (Lillahi Ta’ala)

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Dasar utama Rasulullah SAW berdagang yakni atas niat karena Allah, lillahi Ta’ala. Bukan untuk memupuk harta, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya ataupun untuk memikat wanita. Tidak sama sekali! Awal Beliau memulai berdagang, saat itu usianya masih 12 tahun. Rasul berdagang dengan mengikuti pamannya, Abdul Munthalib hingga ke negeri Syam (Suriah). Ketika usianya menginjak 15-17 tahun, Rasul telah berdagang secara mandiri. Beliau berhasil memperluas bisnisnya hingga ke 17 negara. Sampai-sampai Beliau disebut sebagai khalifah (pemimpin) dagang dan hingga pada akhirnya kecakapannya dalam berdagang mengundang perhatian janda Kaya raya berna Siti Khadijah. Beliau pun menikahi Khadijah dan usaha dagangannya menjadi semakin sukses. Ya, itulah buah dari sebuah niat yang tulus. Segala sesuatu yang diniatkan untuk mencari ridho Allah, pasti akan memudahkannya. Maka itu, awali usaha dengan niat lillahi Ta’ala.

Baca juga:

  1. Bersikap jujur

Dalam menjalani aktivitas kesehariannya, termasuk berdagang, Rasulullah SAW dikenal akan kejujurannya. Beliau tidak pernah mengurangi takaran timbangan, selalu mengatakan apa adanya tentang kondisi barang, baik itu kelebihannya ataupun kekurangan barang tersebut. Bahkan tak jarang Rasul melebihkan timbangan untuk menyenangkan konsumennya. Atas kejujurannya itu, beliau pun dianugerahi julukan Al-Amin (yakni seseorang yang dapat dipercaya).

Pentingnya bersikap jujur dalam berdagang juga disinggung oleh Allah SWT dalam beberapa ayat di Al-Quran, diantaranya yakni:

“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi ini dengan membuat kerusakan.” (QS. AsySyu’araa: 181-183)

“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar Rahmaan:9)

“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil”. (QS. Al An’aam: 152)

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. ItuIah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al lsraa: 35)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya para pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi)

Baca juga:

  1. Menjual barang berkualitas bagus

Prinsip berikutnya yang dianut oleh Rasulullah SAW dalam berdagang yakni menjaga kualitas barang jualannya. Beliau tidak pernah menjual barang-barang cacat. Sebab itu akan merugikan pembeli dan bisa menjadi dosa bagi si penjual.

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan. (HR. Ibn Majah)

Baca juga:

[AdSense-B]

  1. Mengambil keuntungan sewajarnya

Seringkali kita jumpai pedangan atau pebisnis yang menjual barangnya dengan harga jauh lebih mahal dari harga aslinya. Mereka berusaha mengambil laba setinggi mungkin tanpa memikirkan kondisi konsumen. Taktik seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Selain menyalahi agama, menjual barang dengan harag terlalu mahal juga membuat dagangan kita kurang laku.

Sebaliknya, Nabi SAW selalu mengambil keuntungan sewajarnya. Bahkan ditanyai oleh pembeli tentang modalnya, beliau akan memberitahukan sejujur-jujurnya. Intinya, tujuan Nabi berdagang bukan semata-mata mengejar keuntungan duniawi saja. Tapi juga mencari keberkahan dari Allah SWT.

Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat .” (QS. Asy-Syuraa: 20)

  1. Tidak Memberikan Janji (sumpah) berlebihan

Ketika berdagang sebaiknya jangan memberikan janji atau sumpah-sumpah berlebihan. Semisal, “barang ini tidak akan rusak hingga setahun”. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, semua hal dapat berubah atas izin Allah SWT. Maka itu, janganlah mengklaim barang ini super bagus, super awet dan sejenisnya. Sumpah itu tidak baik. Apalagi sampai bersumpah palsu, jelas perkataan tersebut termasuk dusta dan dibenci oleh Allah Ta’ala.

Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Syibel bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Para pedagang adalah tukang maksiat”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu”. (HR. Ahmad)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sumpah itu melariskan barang dagangan, akan tetapi menghapus keberkahan

Baca juga:

  1. Saling menguntungkan kedua belah pihak

Cara berdagang rasulullah selanjutnya dengan mengutamakan prinsip saling menguntungkan serta suka sama suka antar pembeli dan penjual. Tidak ada yang ditutupi-tutupi dari barang dagangannya. Dan harus mencapai kesepakatan bersama, baik dalam harga, jenis barang, dan cara memberikan barang tersebut kepada pembeli.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah dua orang yang berjual-beli berpisah ketika mengadakan perniagaan kecuali atas dasar suka-sama suka. (HR. Ahmad).

Sesungguhnya perniagaan itu hanyalah perniagaan yang didasari oleh rasa suka sama suka. (HR. Ibnu Majah)

[AdSense-A]

  1. Menjual barang miliknya sendiri

Kalian pasti sering mendengar sistem penjualan barang dengan dropshipping, bukan? Dimana kita menjual suatu produk kepada buyer (konsumen) tanpa membelinya produk tersebut terlebih dahulu. Cukup memasang foto-foto produk itu di media sosial. Nantinya jika ada buyer yang memesan, kita langsung menghubungi si grosir (agen resminya). Lalu grosir akan mengirim barang tersebut secara langsung ke alamat buyer dengan atas nama toko kita.

Jual beli dengan metode dropshipping tentunya cukup berisiko. Sebab kita (selaku penjual) tidak mengetahui kondisi barangnya secara langsung. Hanya lewat foto. Bagaimana jika nantinya buter menerima barang yang cacat? Atau mungkin proses pengirimannya lama? Hal ini tentu mengecewakan si pembeli. Maka itu, Rasulullah SAW menyarankan agar kita tidak menjual barang yang bukan milik kita. Sebab itu bisa merugikan pihak lain.

Hakim bin Hizam pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mendatangiku seraya meminta kepadaku agar aku menjual kepadanya barang yang belum aku miliki, dengan cara terlebih dahulu aku membelinya untuknya dari pasar?” Rasulullah menjawab : “Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu .” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasai)

Baca juga:

  1. Tidak melakukan penipuan

Dalam berdagang Rasulullah SAW juga tidak pernah melakukan penipuan. Perlu diketahui bahwa tindakan menipu pembeli, sekecil apapun dan dalam bentuk apa saja itu tentu dilarang oleh agama.

Diriwayatkan dari Abu Huraira ra: Rasulullah pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)

Dalam hadist lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban)

  1. Tidak menimbun barang

Menimbun barang merupakan keadaan dimana seseorang membeli barang dengan stok sangat banyak dari pasar, lalu menyimpannya dalam kurun waktu lama dan menjual barang tersebut dengan harga sangat mahal. Ketahuilah bahwa menimbun barang adalah perbuatan dzalim.

  • Pertama aktivitas ini menyembabkan terganggunya mekanisme jual-beli di pasar. Stok barang di pasar akan habis dan itu merugikan pedagang lain.
  • Kemudian, dengan sengaja menyimpan barang dan mengelurkannya sangat permintaan konsumen melonjak. Sehingga ia bisa menaikkan harganya. Ini tentu tidak diperbolehkan dalam islam. Sebab sama saja dengan mencari keuntungan untuk diri sendiri
  • Dan terakhir, barang yang telah ditimbun dalam waktu lama itu biasanya kualitasnya menurun. Entah itu rusak, cacat atau habis masa kadaluarsanya.

Diriwayatkan dari Ma’mar bin Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan penimbunan melainkan dia adalah pendosa.” (H.r. Muslim)

Baca juga:

  1. Bersikap ramah dengan pembeli

Bersikap ramah, santun dan selalu tersenyum kepada pembeli juga merupakan cara berdagang Rasulullah SAW. Apabila kita bisa bersikap baik dengan pembeli, maka pembeli pasti juga senang. Sebaliknya jika kita menunjukkan wajah judes dan cemberut tentu pembeli akan malas dan kabur, tidak akan membeli di tempat kita lagi.

Baca juga:

  1. Tidak menjual barang haram

Menjual barang-barang haram jelas tidak diperbolehkan dalam islam, dan Nabi juga tidak pernah melakukan hal tersebut. Maka itu, jauhilah berdagang barang-barang yang tidak jelas kehalalannya, semisal minuman keras, rokok, patung dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perdagangan khomr telah diharamkan” (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula hasil penjualannya.” (HR Ahmad)

Baca juga: Contoh jual beli terlarangJual beli terlarang dalam islam

  1. Tidak menjelek-jelekan dagangan orang lain

Jika kita hendak berdagang, sebaiknya lakukan secara benar sesuai syariat agama. Tidak perlu kita menjelek-jelekan dagangan orang lain dengan tujuan agar semua konsumen lari menuju kita. Perbuatan itu dosa!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda , “Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain” (HR. Muttafaq Alaih)

[AdSense-C]

  1. Memberikan upah kepada karyawan tepat waktu

Hal penting lain yang perlu diketahui , jika Anda memiliki seorang karyawan maka berikan upah kepada karyawan tersebut dengan tepat waktu. Jangan menunda-nundanya, sebab ia juga telah memeras keringatnya demi menjalankan usaha Anda agar lancar. Jadi berikan hak-nya sebagaimana perjanjian yang telah dikesepakati.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

Baca juga:

  1. Tidak mudah putus asa

Seorang pedangan tidak akan bisa sukses jika mudah berputus asa. Perlu Anda ketahui bahwa segala seuatu membutuhkan proses. Begitupun dengan berdagang atau berbisnis. Tidak mungkin hanya sebulan, dua bulan, atau tiga bulan Anda berhasil meraih untung berlipat ganda dan mendadak jadi kaya. Its impossible! Kecuali Allah berkehendak.

Umumnya, akan datang masa dimana Anda merasakan “terjatuh” dan jungkir balik. Dan disaat itu terjadi, satu hal yang dibutuhkan yakni semangat pantang menyerah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.”(QS. Yusuf: 87)

Baca juga:

  1. Tidak melupakan ibadah

Kunci utama keberhasilan Rasul SAW dalam berdagang yakni tidak melupakan ibadah. Allah Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS.Al Jumu’ah :9-10)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS.Al Munafiqun:9)

Baca juga:

Demikianlah beberapa cara berdagang Rasulullah SAW sebagaimana ajaran agama islam. Semoga dapat bermanfaat dan bisa membantu kita untuk memulai bisnis yang berkah dan sukses. Amin ya Rabbal Alamin.

7 Etika Jual Beli Dalam Ekonomi Islam

Setiap orang pasti memiliki suatu kebutuhan baik sandang, pangan dan papan. Dan untuk memenuhi semua itu harus melakukan usaha dengan mengeluarkan tenaga, baik tenaga dari fisik maupun dari otak atau pikiran. selain itu semua orang juga membutuhkan sebuah aktivitas ekonomi untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu kita harus melakukan kegiatan ekonomi untuk mencapai sebuah Tujuan Hidup Menurut Islam, Proses Penciptaan Manusia , Tujuan Penciptaan Manusia  dan yang sesuai dengan Konsep Manusia Dalam Islam, Cara Sukses Menurut Islam.

Perdagangan Dalam Islam

Dalam islam seorang pelaku bisnis atau pedagang tidak hanya mencari keuntungan, tapi juga suatu berkah dan rezeki yang diridhai Allah. Keuntungan yang kita harus dapatkan bukan hanya dari segi materil melainkan juga inmateril. Keuntungan materil bisa saja kita dapatkan dalam membuat usaha, namun belum tentu dengan keuntungan inmateril atau dalam segi agama dan kepuasan batin. Selain itu islam juga mengatur urusan jual beli manusia dalam Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam yang sudah ditetapkan. Seperti misalnya dalam urusan Transaksi Ekonomi dalam IslamTujuan Ekonomi Islam, bagaimana Ekonomi Dalam Islam, serta Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam, dan Macam-macam Riba. Islam sudah mengatur bagaimana cara beretika dalam jual beli dalam Qur’an dan Sunna Rasulullah, karenaa pasti ada Hikmah Jual Beli yang sudah Rasul ajarkan pada umatnya. Ada pun etika yang harus di taati dalam jual beli dalam islam sebagai berikut.

1. Jujur / Terbuka / Transparan.

Dalam sebuah bisnis islam customer adalah raja, dan sebagaimana mestinya seorang raja harus diperlakukan secara khusus. Hal ini menyangkut bagaimana pelayanan kita kepada mereka, para customer akan merasa lebih nyaman jika kita dapat memberikan service yang memuaskan. Bahkan terkadang mereka tidak akan memperdulikan perbedaan harga melainkan service yang kita berikan. Dalam sebuah perdagangan, kejujuran adalah hal yang sangat penting.

Kejujuran harus menjadi sebuah prinsip dagang bagi seorang pengusaha muslim. Namun seorang pedagang atau pengusaha biasanya merasa kesulitan dalam melakukan hal ini. Jadilah pengusaha yang menjaga kejujuran pada setiap customer, ikutilah cara berdagang yang telah dicontohkan oleh Rasul kita. Menjadi seorang pedagang yang seperti Rasulullah contoh kan bukanlah hal yang mudah, terutama di zaman yang penuh dengan fitnah ini. Segala macam cara menjadi halal digunakan semata-mata hanya demi keuntungan satu pihak. Jangankan seorang pedagang, pejabat pun sanggup untuk melakukan penghianatan korupsi demi menuruti nafsu duniawi.

Islam mengajarkan kepada kita ilmu berdagang yang baik, etika atau adab berdagang yang benar. Seharusnya kita sebagai orang islam menjunjung tinggi bagaimana etika yang di ajarkan islam dalam urusan jual beli  atau berdagang. Jujur memang hal yang terlihat sepele dan gampang untuk dilakukan, tapi jangan salah justru iman seseorang akan di ujia melalui kejujurannya saat berdagang. Contohlah apa yang Rasulullah lakukan ketika beredagang, beliau selalu mengutamakan kejujuran. Seperti misalnya ketika beliau memberikan penjelasan tentang kualitas atau spesifikasi suatu barang, menghitung timbangan dan lain sebagainya. Allah

Allah berfirman asy Syu’araa ayat 181-183

أَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُخْسِرِينَ – وَزِنُوا۟ بِٱلْقِسْطَاسِ ٱلْمُسْتَقِيمِ – وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

”Sempurnakanlah takaran jangan kamu termasuk orang-orang yang merugi, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus, dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan” . Dalam dalam Al-qur’an Allah berfirman surat

Muthaffifiin ayat 1-6

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ – الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ – وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ – أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ – لِيَوْمٍ عَظِيمٍ – يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang ini menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan di bangkitkan, pada suatu hari yang besar (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam ini”.

2. Menjual Barang yang Halal.

Allah telah mengingatkan dengan tegas tentang prinsip halal dan haramnya sesuatu dalam perdagangan. Allah telah menetapkan prinsip halal dan haram dalam Qur’an. Oleh sebab itu sebagai umat muslim yang melakukan perdagangan kita wajib mengetahui asal muasal dari apa yang kita perjual belikan. Selain itu sebagai kehalalan hasil yang kita dapatkan juga harus terhindar dari Macam-Macam Riba. Oleh sebab itu kita harus tahu apa Pengertian Riba dalam islam dan apa saja Bahaya Riba bagi pelakunya. Hal ini sudah ditetapkan sejak Rasulullah menerima wahyu surah Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

[AdSense-C]

3. Menjual Barang Dengan Kualitas Yang Baik

Sebagai seorang pedagang kita harus tetap jujur dan memperhatikan kehalalan dari barang yang kita jual. Selain itu kita juga memperhatikan bagaimana kualitas barang yang kita jual, apakah mutunya sudah baik ataukah kurang layak untuk kita jual kepada customers. Kualitas suatu barang yang kita jual menjadi tanggung jawab kita sebagai pedagang. Oleh sebab itu kita harus memberikan penjelasan tentang bagaimana kualitas suatu barang yang kita jual dan berapa kuantitas barang yang kita jual pada customers.

Memberikan keterangan kualitas barang merupakan hal yang wajib kita lakukan dalam perdagangan. Karena jika kita tidak jujur dengan kualitas barang yang kita jual, maka hal ini akan berdampak negative bagi diri kita sendiri sebagai pedagang. Seperti misalnya barang yang kita jual memiliki kualitas  yang rendah, namun kita katakan pada customers jika barang tersebut memiliki barang yang luar biasa. Ketika customer mau membeli dagangan tersebut karena jaminan yang kita berikan, otomatis ketika si customer menggunakan barang tersebut merasa rugi dan kecewa dengan kita sebagai pedagang. Hal ini dapat di katakan cacat etis atau cacat moral karena apa yang sudah pedagang katakana tidak sesuai dengan kualitas barang yang ia jual.

Jika anda termasuk orang yang demikian sebaiknya segera merubah konsep dagang anda untuk lebih baik dan lebih jujur. Ketika seorang pedagang melakukan kecurangan demi mendapatkan keuntungan semata, maka mereka termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim. Sebagaimana Allah yang telah mengingatkan kita pada kalamnya dalam surat Al-Qashash 28:37

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبِّي أَعْلَمُ بِمَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ مِنْ عِنْدِهِ وَمَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Musa menjawab: “Tuhanku lebih mengetahui orang yang (patut) membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di negeri akhirat. Sesungguhnya tidaklah akan mendapat kemenangan orang-orang yang zalim”.

4. Tidak Menyembunyikan Cacat Pada Barang

Sebagai seorang pedagang sudah seharusnya kita menerangkan tentang bagaimana kualitas suatu barang. Tapi tidak hanya itu karena jika barang yang kita jual memiliki cacat, maka tugas kita sebagai penjual harus mampu memberi tahu pada customer tentang cacat barang tersebut.

Ibnu Majah menuturkan Watsilah bin Al-Asqa ra, dia mengatakan ‘Aku pernah mendengar Nabi saw berkata, “Barang siapa yang menjual suatu barang yang mempunyai cacat yang tidak diterangkannya, niscaya dirinya berada dalam murka Allah dan para malaikat pun mengutuknya.”

5. Tidak Memberikan Janji Atau Sumpah Palsu

Jika kita pergi kesuatu pasar atau katakanlah kaki lima. Sering kali kita mendengarkan seorang pedagang mengucapkan janji atau sumpah tentang kualitas barang yang ia jual. Seperti misalnya “ barang dijamin tidak mudah rusak “ / “ sumpah paling murah neng “ kata-kata yang seperti itu termasuk dalam janji atau sumpah yang akan menjadi tanggung jawab kita bahkan hingga di akhirat kelak, oleh sebab itu Rasulullah bersabda:

حَدَّثَنَا یَحْیَى بْنُ بُكَیْرٍ حَدَّثَنَا اللَّیْثُ عَنْ یُونُسَ عَنْ ابْنِ شِھَابٍ قَالَ ابْنُ الْمُسَیَّبِ إِنَّ أَبَا ھُرَیْرَةَ رَضِيَ اللَّھُ عَنْھُ قَالَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّھِ صَلَّى اللَّھُ عَلَیْھِ وَسَلَّمَ یَقُولُ الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ     لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ

[AdSense-A]Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata, Ibnu Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sumpah itu melariskan dagangan jual beli namun menghilangkan barakah”.

  6. Murah Hati Pada Customer

Melayani customer dengan murah hati akan membuat mereka merasa dihargai dan merasa puas dengan pelayanan kita. Cukup dengan senyum dan memperlakukan mereka seolah seperti raja membuat mereka lebih senang dibandingkan dengan memberikan mereka potongan harga. Seperti yang telah tertulis dalam Al-Qur’an surah Al A’raf ayat 56 :

إِنَّ رَحْمَةَ اللَّھِ قَرِیبٌ مِنَ الْمُحْسِنِینَ

“….Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik

7. Tidak Melalaikan Sholat Saat Berdagang

Allah memerintahkan kita untuk tidak melalaikan sholat apalagi meninggalkannya. Seorang muslim yang baik pasti akan melakukan apa saja demi memenuhi kewajibannya pada Allah. Begitu juga dalam berdagang kita harus memperhatikan kewajiban sholat setiap waktu. Mengutamakan akhirat daripada dunia adalah hal yang baik dan harus kita lakukan setiap waktu. Utamakan kewajiban sholat mu dari pada harus berkonsentrasi dalam berdagang. Seperti misalnya kota Madina, Saudi Arabia yang ketika adzan berkumandang seluruh pedagang akan meinggalkan dagangannya begitu saja tanpa ada rasa khawatir.

Oleh sebab itu 10 menit sebelum adzan sebaiknya kita bersiap-siap untuk melakukan sholat fardhu. Melaksanakan kewajiban dalam islam adalah keutama hidup di dunia ini, seperti yang tertulis dalam Al Qur’an surat Annur ayat 37 :

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙيَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Artinya: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.

Menjaga etika jual beli dalam islam merupakan keutamaan dalam sebuah bisnis atau perdagangan. Dengan menaati prinsip atau  Fiqih Muammalah Jual Beli membuat kehidupan seorang pedagang lebih tentram. Selain itu rezeki yang akan di dapatkan juga lebih berkah dan halal. Menjalankan sebuah usaha sesuai dengan tuntunan Dasar Hukum Islam yang baik dan benar, selain itu seorang pedagang juga harus mengetahui etika jual beli berikut ini :

  • Tidak saling menjatuhkan harga dengan pedagang lain
  • Menepati janji yang dikatakan atau perjanjian yang sudah di buat.
  • Mengeluarkan hak orang lain atau zakat.
  • Amanah kepada customer.
  • Mencatat piutang,
  • Sabar pada customer.
  • Tidak sombong pada customer.
  • Adil dalam berdagang, dll.

Dan selain prinsip-prinsip di atas masih ada lagi beberapa prinsip atu etika jual beli dalam islam yang wajib kita ketahui yaitu Etika Bisnis Dalam Islam dan Etika Pemasaran Dalam Islam.

Etika Pemasaran Dalam Islam dan Prinsipnya

Dalam memasarkan suatu produk seorang pengusaha kerap kali masih melakukan segala cara agar mendapatkan keuntungan satu pihak. Tanpa melihat dua sisi atau memikirkan aturan yang seharusnya ditaati dalam memasarkan barang nya tersebut. Namun ingatlah bahwa dalam agama, risalah bisnis sudah dibahas dalam fiqih muamalah jual beli dalam islam. Sebagai umat muslim kita harus bisa mematuhi dan mampu menjalankan apa saja yang sudah diperintahkan dalam islam. Kita harus mematuhi fungsi agama islam dalam mengatur segala sesuatu dalam hidup ini.

Bisnis menurut islam memiliki sebuah sistem pemasaran  atau bisa disebut dengan etika pemasaran pada umumnya, dan tentu memiliki prinsip yang sesuai dengan islam. Dalam islam diperbolehkan mengikuti persaingan pasar, perkembangan pasar namun tentu harus sesuai dengan syariah yang sudah ditetapkan. Di dalam pemasaran syariah di bolehkan untuk menjaga nama baik dengan pelanggan, menjaga kesan dengan pelanggan, menyebutkan spesifikasi kualitas barang, tapi tentu harus sesuai dengan kondisi barang tersebut. Seorang pebisnis harus mampu jujur dalam menjalankan perdagangan, ikuti segala tata aturan transaksi ekonomi dalam islam.

Etika pemasaran dalam islam memiliki prinsip yang menjaga aturan dalam hukum islam atau aturan hukum ekonomi syariah. Pemasaran dalam islam harus mengandung pemasaran syariah, yakni pemasaran yang selalu memperhatikan aturan dan tujuan ekonomi islam. Akan lebih baik jika seorang pelaku bisnis memperhatikan norma yang berlaku atau tata cara dagang yang ada dalam islam. Adanya tata cara berdagang atau berbisnis sudah diatur dalam Alquran, selain itu sebagai pebisnis harus tahu apa saja bahaya yang mengintai dalam berbisnis. Seperti misalnya :

Prinsip Pemasaran Dalam Islam

1. Keadilan

Berlaku adil adalah hal yang harus dimiliki seorang pengusaha dalam memasarkan barang atau produknya. Jika seorang pemimpin tidak mampu menciptakan keadilan dalam sebuah bisnis, dan untuk sukses dunia akhirat menurut islam seorang pemimpin harus mampu bertidak sacara adil dan bijaksana.

2. Menjaga Kualitas Produk

Sebagai produsen kita harus bisa memberikan yang terbaik pada pelanggan. Salah satu cara yang bisa kita lakukan demi menjaga hubungan dengan penggan, yakni dengan menjaga kualitas dari barang kita. Segai seorang pemasar yang baik, tentu kita harus memberikan spesifikasi barang yang sesuai dengan kualitasnya. Oleh sebab itulah mengapa menaga kualitas barang harus dilakukan dalam bisnis.

3. Sadar Dengan Perkembangan Zaman

Pandai dalam melakukan perubahan adalah tindakan yang harus dilakukan oleh seorang pebisnis. Bahkan dalam suatu aturan ekonomi syariah hal ini harus dimiliki oleh seorang bebisnis muslim. Seorang pebisnis harus mampu menangkap adanya suatu perkembangan zaman, sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan pasar bisnis tanpa melanggar aturan fiqih muamalah jual beli yang sudah ditetapkan.

4. Jujur Dalam Mengukur Kualitas Dan Kuantitas

Sebagai umat muslim kita diajarkan untuk jujur dalam memberikan keterangan suatu barang, baik dari kualitas dan kuantitasnya. Hal ini harus kita perhatikan agar kita tidak terjebak dalam kesalahan jual beli terlarang dalam islam. Oleh sebab itu, berikan harga yang sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya.

5. Khiyar Dalam Jual Beli

Dalam membangun sebuah bisnis memasarkan suatu barang menjadi hal yang utama. Membangun hubungan dengan pelanggan adalah hal yang harus dilakukan oleh pebisnis, di dalam islam sudah di ajarkan bahwa pembeli adalah seorang raja. Oleh sebab itu sebagai seorang pebisnis, kita harus mampu memasarkan dan memberikan tanggapan kepada pelanggan dengan cara yang baik dan benar.

6 . Fungsi dan Manfaat

Jika kita ingin memasarkan suatu barang, pastikan jika barang tersebut memberikan manfaat bagi pelanggan. Dan tentu manfaat tersebut harus sesuai dengan tujuan hidup menurut islam sebagaimana mestinya yang sudah diatur dalam agama islam. Sebagai contoh misalnya memasarkan suatu khimar untuk kaum wanita, tentu barang tersebut memiliki manfaat bagi si pengguna. Dan dapat dipastikan jika barang yang kita pasarkan tidak disalah gunakan sebagai media maksiat.

7. Memasarkan Barang Dengan Ikhlas dan  Tulus

Memasarkan suatu barang adalah iktiar dalam berbisnis, dan tentu hal ini harus dilandasi adanya perasaan yang jujur dan tulus ataupun ikhlas. Dan tentu kita harus tahu cara membuat hati ikhlas dalam memasarkan suatu barang atau produk. Memasarkan suatu barang dengan tulus akan mampu menghasilkan rezeki yang barokah. Memasarkan barang dengan ikhlas akan mampu membuat pelanggan merasa tertarik dan tentu hal ini akan menguntungkan bagi kita sebagai pedagang.

8. Amanah

Sebagai seorang pebisnis kita dituntut harus bisa memasarkan barang agar mendapatkan keuntungan yang barokah. Dan ketika memasarkan barang kita harus mampu menjaga kepercayaan seorang pelanggan dalam memberikan keterangan atau spesifikasi. Berikan keterangan kualitas barang dengan jelas dan sesuai atau apa adanya.

9. Berusaha atau Ikhtiar

Di dalam sebuah bisnis pasti kita akan memasarkan barang dagangan kita. Dan disini kita harus terus berikhtiar, seorang pedagang harus semangat dalam memasarkan barangnya. Karena ada bahaya putus asa dalam islam, dan kita harus bisa menghindari rasa putus asa tersebut. Ikhtiar juga dilakukan untuk terus menjaga nama baik, menjaga kualitas produk dan bahkan menjaga kesan dari pelanggan. Demi menjaga itu itu semua tentu dibutuhkan sebuah ikhtiar bagi seorang pebisnis, dan tentu ikhtiar tersebut harus didasari hukum islam yang benar.

10. Ada Keterbukaan Pada Pelanggan

Dalam memasarkan suatu barang kita harus memiliki keterbukaan dalam menjual barang. Baik terbuka tentang jenis barang, kualitas barang dan tujuan penggunaan barang tersebut. Selain membuat pelanggan mengerti dan tahu tentang seluk beluk barang tersebut, hal ini juga dilakukan agar bisa menjadi pengusaha sukses menurut islam.

11. Tidak Memasarkan Riba

Memasarkan barang tanpa mengandung unsur riba atau bunga. Dalam melakukan pemasaran barang sebagai umat muslim kita tidak diperkenankan untuk memasarkan barang atau transaksi yang mengandung macam-macam riba. Sebagai pebisnis yang selalu berpegang teguh pada hukum ekonomi syariah islam yang benar.

Dengan mempelajari etika bisnis dalam islam, insha allah kita bisa lebih mengerti dan paham tentang aturan berbisnis syariah. Ketahuilah bahwa Allah telah mengatur segala risalah yang ada di dunia ini sejak ribuan tahun sebelum proses penciptaan manusia. Sebagaimana mestinya kita harus mengerti tentang apa saja aturan yang ada dalam syariah ekonomi islam.

Etika Bisnis Dalam Islam

Dikaji dari berbagai sumber tentang etika berbisnis yang benar, mengatakan jika etika dalam berbisnis selalu di dasari  dengan adanya peraturan dalam agama. Dan peraturan ini sudah ada dalam setiap ajaran agama di dunia ini, baik islam, kristen, yahudi dan yang lainnya. Di dalam beberapa sumber menyatakan jika agama islam memiliki aturan dalam mengatur beberapa hal termasuk aturan dalam masalah harta dan kekayaan. Hal tersebut didapat dari rujukan Al Qur’an dan hadist Rasulullah SAW yang telah diriwayatkan atau diterjemahkan.

Pada politik islam terdapat beberapa konsep dalam etika berbisnis, dan hal tersebut sudah ada dalam aturan jual beli menurut islam. Etika berbisnis dalam islam sudah diatur sepenuhnya dalam aturan hukum ekonomi syariah  dan  fiqih muamalah jual beli dalam islam. Baik buruknya berbisnis sudah ada dalam aturan islam, dan ini harus di patuhi dan di perhatikan dan kita sebagai umat islam harus tahu jika fungsi agama dalam mengatur bisnis sangatlah penting. Islam memiliki aturan atau etika yang sudah ditulis sejak zaman Rasulullah SAW.

Baca Juga :

Hukum Jual Beli Tanah

Jual Beli Emas Dalam Islam

2 Macam Bisnis Dalam Islam

Islam agama agama yang begitu sempurna, bahkan segala sesuatu aktivitas manusia di perhatikan agar tidak terjadi kesalahan yang fatal. Bahkan islam telah mengatur bagaimana cara manusia dalam berbisnis, dan apa saja hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan dalam berbisnis. Hal ini dilakukan agar seorang muslim mampu adil dan bijaksana dalam memanfaatkan haknya, dan berikut adalah 2 macam bisnis dalam islam :

  1. Bisnis Yang Sah Dalam Islam
  • Bebas dalam melakukan bisnis
  • Ada persetujuan antara penjual dan pembeli
  • Barang yang dijual jelas
  • Ada sebuah keadilan
  • Jujur dalam berbisnis
  • Transaksi jelas
  • Memiliki etika atau tatakrama yang baik saat berbisnis
  1. Bisnis Yang Tidak Sah Dalam Islam
  • Riba
  • Penipuan
  • Tidak jujur dalam berbisnis
  • Menjual barang haram
  • Menjual barang milik orang lain
  • Menjatuhkan harga demi bisnis sendiri
  • Tidak memberikan harga yang jujur
  • Curang dalam menimbang / menentukan takaran

Saudara-saudaraku, bisnis bukanlah sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Namun ingatlah jika ada sebuah aturan yang harus kita patuhi, prinsip-prinsip ekonomi islam yang harus kita pahami, kita taati dan kita laksanakan, agar kita bisa sukses dunia akhirat menurut islam. Ikutilah aturan yang sudah Allah buat, bahkan sejak zaman Rasulullah SAW. Kegiatan bisnis bukanlah sebuah kegiatan yang dilarang Allah, tapi sekali lagi perhatikan tentang bisnis apa yang dijalankan sudah sesuai dengan tujuan ekonomi islam ?? Apakah bisnis tersebut tidak menimbulkan kemudharatan, dan bahkan tidak menimbulkan bahaya riba. Ketahuilah jika ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan dalam menjalankan sebuah bisnis, dan berikut penjelasan nya.

Hal Yang Di Larang Islam Dalam Bisnis

  1. Menyalahgunakan Hak

Di dalam ilmu fiqih muamalah jual beli dalam islam menyalahgunakan sebuah hak bisa menimbulkan penyalahgunaan yang adapat menyebabkan kerugian untuk orang lain. Dan penyalahgunaan hak biasanya terjadi pada seorang pemimpin, atasan atau kepemilikan. Penyalahgunaan hak terjadi pada seorang pemimpin yang tidak memperhatikan etika atau aturan yang ada, penyalahgunaan ini juga bisa dalam bentuk tidak mengeluarkan hak fakir miskin. Bahkan tidak banyak orang yang tahu jika sebagian harta dalam islam adalah milik fakir miskin. Sudah seharusnya seorang pemimpin menyadari siapa saja orang yang berhak sebagai penerima zakat. Jika seorang pemimpin berlaku tidak adil, maka mereka termasuk dalam orang-orang yang dzalim dan akan mendapatkat kemudharatan.

  1. Bisnis Yang Tidak Jelas

Dalam islam segala sesuatu yang tidak memiliki landasan yang jelas adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan, termasuk juga dalam etika berbisnis. Dalam islam istilah berbisnis yang tidak jelas disebut Jahalah yang berarti  “tidak transparan“ dan tentu hal ini akan merugian salah satu pihak. Sehingga dalam islam sangat dianjurkan untuk berbisnis mengikuti fiqih muamalah jual beli yang sudah dibuat sejak zaman Rasulullah SAW.

Didalam bisnis ini tidak memiliki kejelasan, baik tentang barang yang diperjual belikan atau bagaimana sistem dalam transaksi jual beli dalam bisnis tersebut. Dapat juga dikatan bahwa bisnis tidak jelas adalah jenis bisnis yang mengandung unsur penipuan, karena dianggap telah memakan harta orang lain. Dan hal yang seperti itu sudah Allah berikan peringatan, seperti yang ada pada Alqur’an dengan ayat sebagai berikut :

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ – البقرة:188

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” [Q.s. al-Baqarah: 188].

  1. Pemaksaan

Salah satu syarat sah diperbolehkannya bisnis adalah tidak ada unsur pemaksaan dalam bisnis tersebut. Sering kali manusia melakukan hal yang dzalim atau bahkan melukai orang lain demi mendapatkan keuntungan demi dirinya sendiri. Tahukah kamu jika perbuatan dzalim atau pemaksaan dalam islam diharamkan, begitu pula jika pemaksaan dilakukan dalam berbisnis. Sering kali orang melakukan ini demi mendapatkan keuntungan semata, tanpa menyadari adanya unsur pemaksaan dalam bisnisnya. Bisnis jenis ini sering kita jumpai dikalangan masyarakat dan bahkan sudah tidak asing lagi di telinga. Bisnis MLM adalah salah satu bisnis yang masuk dalam golongan  az zhulmu. Allah telah melarang adanya pemaksaan atau kedzaliman, dan ini sudah Allah tuliskan dalam beberapa surat dalam Alqur’an seperti :

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوْسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُوْنَ وَلاَ تُظْلَمُوْنَ. – البقرة: 279

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari mengambil riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. al-Baqarah: 279)

  1. Bisnis Perjudian / Lotre (Maisir)

Menjalankan bisnis yang satu ini memang cukup menjanjikan dari segi ekonomi. Namun sebagai umat muslim, kita harus tetap berpegang teguh pada aturan ekonomi dalam islam yang sudah dibuat sejak zaman Rasulullah SAW. Dalam agama islam bisnis perjudian atau lotre disebut dengan maisir, dan praktek bisnis jenis ini termasuk dalam salah satu contoh jual beli terlarang dalam islam. Namun semakin hari bisnis ini semakin marak dijalankan tanpa melihat aturan tanpa melihat fiqih muamalah islam.

Bisnis jenis ini dapat kita jumpai disekitar lingkungan masyarakat, bahkan bisnis ini dipraktekkan dikalangan anak-anak. Misalnya anak membayar undian lima ratus rupiah, ternyata undiannya kosong atau mendapatkan barang. Namun tidak banyak orang yang menyadari adanya jual beli dalam jenis ini. Tahukah kamu jika jual beli dengan sistem perjudian terselubung atau maisir ini sudah dijelaskan dalam Alqur’an dan bahkan hadist Rasulullah SAW sudah menjelaskan maisir.

يَآيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ والأَنْصَابُ والأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. – المائدة: 90

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras (khamar), berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntunga”. (QS. Al-Maidah: 90)

  1. Mengandung Unsur Riba

Riba adalah sesuatu yang sering tidak disadari pada setiap pebisnis. Banyak orang yang tidak terlalu mengerti seperti apa macam-macam riba, dan bahkan tidak menghiraukan bahaya riba bagi kehidupan mereka baik di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya riba adalah sesuatu yang akan menyengsarakan kehidupan manusia, dan bahkan Allah sudah pernanh meningatkan manusia tentang pengertian riba dalam Alqur’an.

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِى يَتَخَبَّطَهُ الشَّيْطَانَ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوْا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا – البقرة: 275

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS.al-Baqarah: 275)

Dengan adanya penjelasan tersebut, insha allah kita bisa menjalankan bisnis sesuai dengan dasar hukum islam atau sesuai dengan fiqih muamalah jual beli yang benar. Junjunglah tinggi aturan dan syariat yang ada dalam agama mu, karena hal tersebut merupakan salah satu cara sukses menurut islam.

Pengertian Bank Konvensional Menurut Islam dan Undang-Undang

Kegiatan ekonomi adalah salah satu hal yang diatur dalam islam dan setiap muslim haruslah melakukan aktifitas ekonomi tersebut sesuai dengan ilmu muamalah dalam syariat islam (baca fiqih muamalah jual beli dalam islam dan ciri-ciri ekonomi islam di Malaysia) . Dalam hal ini Bank sebagai salah satu lembaga keuangan, memegang peranan penting dan kebanyakan bank yang ada saat ini bukanlah bank syariah atau bank yang sesuai syariat agama islam melainkan bank konvensional yang mengandalakan sistem bunga. Bunga bank menurut islam disebut-sebut sebagai suatu praktek riba atau tambahan yang diberikan atau dilebihkan dari pinjaman yang diterima (baca juga pinjaman dalam islam  dan pinjaman tanpa riba) . Lalu apa sebenarnya bank konvensional itu dan bagaimana islam memandang keberadaan bank konvensional yang kini banyak bertebaran di seluruh dunia? Simak penjelasannya berikut.

Definisi Bank Konvensional

Bank konvensional memiliki definisi tersendiri. Dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 disebutkan bahwa bank konvensional adalah bank yang dalam kegiatannya memberikan jasa lalu lintas pembayaran kepada masyarakat. Maksudnya adalah bank sebagai lembaga keuangan berfungsi menyalurkan dan menyimpan dana yang ada dimasyarakat dan memutarnya dalam suatu siklus. Untuk memperoleh keuntungan dan menjalankan administrasinya, suatu bank konvensional menggunakan sistem bunga pada pinjaman yang diambil oleh kreditur. (baca hikmah jual beli dan jual beli kredit dalam islam)

Sementara itu, ada beberapa pihak dalam bank konvensional yang ikut serta dalam regulasi uang didalamnya termasuk para debitur dan pemegang saham. Meskipun demikian diantara pihak-pihak tersebut tidak ada ikatan emosional dan mereka bekerja masing-masing dengan orientasi yang berbeda. Contoh bank konvensional yang ada di Indonesia misalnya bank BCA, Mandiri, BRI dan lain sebagainya.

Ciri-ciri Bank Konvensional

Dalam prakteknya ada beberapa hal yang membedakan bank konvensional dengan bank syariah terutama dalam hal sistem bunga yang digunakan. Terdapat perbedaan yang jelas diantara keduanya. Diantaranya ciri-ciri bank konvensional adalah sebagai berikut :

  • Pemilik dana mendapatkan keuntungan dari bunga yang ditetapkan oleh bank sebagai tambahan kepada nasabah. Bunga tersebut biasanya diberikan dengan persentase tertentu dan diperoleh dari tambahan yang diberikan oleh peminjam. Dalam hal ini tambahan tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk riba. (baca hukum riba dalam islam dan bahaya riba dunia akhirat)
  • Bank konvensional memiliki orientasi yang didasarkan pada perolehan keuntungan atau dengan kata lain bank konvensional hanya mengejar keuntungan semata.
  • Hubungan yang dijalin nasabah dengan orang yang meminjamkan dana hanyalah sebatas nasabah dan kreditur dan mereka tidak memiliki ikatan emosional.
  • Tidak ada badan syariah yang mengawasi jalannya bank konvensional. Hal inilah yang membedakan bank konvensional dengan bank syariah dimana bank syariah justru memiliki badan pengawas yakni Dewan Pengawas Syariah.
  • Jika terdapat perselisihan atau sengketa yang melibatkan bank konvensional maka jalur yang ditempuh adalah jalur hukum dengan pengadilan negeri sebagai pihak penyelesai sengketa.

Bank Konvensional Dalam Islam

Dalam islam sendiri, bunga yang diterapkan bank kepada peminjam termasuk dalam perbuatan riba dan seperti yang kita ketahui bahwa islam dengan jelas melarang perbuatan riba. Hal ini menyatakan bahwa islam tidak memperbolehkan umatnya untuk melakukan tindakan riba. Meskipun demikian tetap saja banyak orang masih menggunakan sistem bunga dan menyimpan maupun meminjam uang lewat jasa bank konvensional.  Diantara dalil yang menyebutkan larangan riba dalam islam yang ada dalam bank konvensional antara lain :

  • QS Ar Rum : 39

Dalam Quran surat Ar rum ayat 39 riba diartikan sebagai suatu tambahan atas harta pinjaman seseorang dan Allah tidak meridhainya. (baca juga harta dalam islam dan pembagian harta warisan dalam islam)

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُون

“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum: 39)

  • Qs An Nisa (160 – 161)

Allah telah melarang riba dan siapapun yang memakan harta yang termasuk riba didalamnya akan mendapatkan balasannya kelak di akhirat. (baca cara menghindari riba dan macam-macam riba dalam ekonomi islam)

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا – وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) Dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An-Nisa: 160-161)

  • Qs Al Baqarah : 275 – 279

Dalam surat Al Baqarah ayat 275 – 279 Allah membeberkan dengan jelas keadaan mereka yang memakan harta riba baik semasa hidup maupun saat diakhirat kelak, Allah juga telah menghalalkanjual beli dan melarang riba secara jelas dalam ayat berikut

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٧٥)يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (٢٧٦)إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٢٧٧)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (٢٧٨)فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ (٢٧٩)

“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 275-279)

Dengan demikian, secara umum islam melarang umatnya untuk melakukan transaksi ekonomi atas dasar riba seperti yang diterapkan pada bank konvensional. Meskipun demikian, sebagian ulama memperbolehkan penggunaan bank konvensional asalkan tidak melakukan aktifitas yang dinilai sebagai riba. Wallahu A’lam Bis Shawab. (baca juga hukum bekerja di bank dan hukum pinjam uang dibank menurut islam)