Hukum KB dalam Islam – Boleh atau Tidak?

Manusia hidup di muka bumi, semata-mata Allah ciptakan untuk menjadi seorang khalifah fil ard dan menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Dengan diciptakannya manusia di muka bumi, tentu saja Allah memerintahkan untuk melestarikan jenisnya, mengembangkan peradaban, dan terus meningkatkan kualitas manusia dari generasi ke generasi. Untuk itu manusia wajib untuk memiliki pengetahuan dan mengatur hidupnya agar terus berkembang dari waktu ke waktu.

Tidak ada satupun manusia tentunya yang mengingingnkan hidupnya dalam kesulitan dan ingin selalu mengembangkan keturunannya semakin baik dari waktu ke waktu. Untuk itulah dibutuhkan keluarga dan rumah tangga yang dibangun agar harmonis dan melahirkan generasi unggul setiap saatnya. Itulah tugas manusia, agar bumi ini senantiasa terjaga, dan ummat manusia dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya.

Tentunya semua itu dilakukan harus sesuai dengan syariat islam sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran, “Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan/kebaikan) hidup bagimu” (QS Al Anfal : 24)

Namun, dalam proses pengaturan keluarga dan rumah tangga, di zaman saat ini ada teknologi yang bernama Keluarga Berencana. Teknologi ini merupakan salah satu teknologi yang bertujuan untuk membatasi kehamilan atau juga bertujuan untuk mengatur jarak kehamilan. Dalam hal ini tentu memilki sudut pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Agar lebih memahami, maka berikut adalah penjelasan mengenai Keluarga Berencana (KB) dalam islam.

baca juga:

Hukum KB dilihat dari Tujuannya

Menentukan halal dan haram dalam islam tentu saja sangat berbeda Dilihat tujuannya, KB memiliki orientasi yang berbeda-beda. Tentu saja tujuan ini juga menentukan bagaimana hukum KB dalam islam sesuai dengan dampak dan manfaat yang ada. Islam tidak pernah memberikan aturan atau pelarangan yang tidak ada dampaknya. Seluruh aturan islam berorientasi agar manusia selamat, sejahtera, dan terhindar dari keterpurukan.

Tentunya juga jangan melupakan bahwa harus dihitung apakah KB memberikan dampak pada berlangsungnya Keluarga Bahagia Menurut Islam dan Dalilnya, Keluarga Dalam Islam, Keluarga Sakinah Dalam Islam, Keluarga Harmonis Menurut Islam, dan Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah Menurut Islam. Penggunaan KB atau tidak tentunya harus juga dihitung dari bagaimana kehidupan keluarga di jalankan. Jangan sampai hal ini juga membawa mudharat terutama masalah keharmonisan keluarga.

Untuk menentukan halal dan haram sebuah aktivtias atau teknologi, para ulama tentu melihat hal ini secara filosofis dan praktis. Termasuk melihat tujuan dari KB dan praktik pelaksanaannya nanti.

[AdSense-B]

  1. Membatasi Kelahiran

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata, “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat

Para ulama memiliki pandangan bahwa KB dilarang jika orientasinya adalah untuk membatasi kelahiran. Allah memberikan perintah agar para wanita dna keluarganya bisa memiliki keturunan yang banyak dan kuat untuk islam. Jika berorientasi untuk membatasi kelahiran, hal ini bisa membuat umat islam sedikit memiliki keturunan. Untuk itu lebih baik tidak dilakukan, apalagi mencegah untuk lahirnya bayi di dunia.

Akan tetapi hal ini berbeda jika memang tujuannya untuk kesehatan. Membatasi kelahiran dengan alasan kesehatan tentu berbeda lagi. Membatasi demi tujuan kesehatan tentunya bisa berefek kepada kesehatan istri atau ibu, mengganggu rahim, dan juga pada aspek-aspek organ tubuh lainnya.

Namun berbeda jika membatasi kelahiran ini didasri karena khawatir masalah ekonomi, masalah keuangan, atau masalah kemampuan untuk membiayai lainnya. Maka jangan sampai alasan tersebut digunakan jika orientasi khawatir akan kehidupan anak nantinya.

baca juga:

  1. Mengatur Jarak Kelahiran

“Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah : 195)

Ulama berpendapat bahwa jika berorientasi untuk mengatur jarak kehamilan saja maka tidak masalah. Tentunya mengatur jarak ini tidak sama dengan membatasi kehamilan. Mengatur jarak hanya sekedar mengatur agar waktunya lebih ada jeda dan berdampak bagi kesehatan. Di lain waktu maka istri atau ibu bisa tetap hamil kembali tanpa harus dibatasi.

Mengenai hal pengaturan ini juga Allah menegaskan bahwa, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberikan rizki kepada mereka dan juga kepadamu” (QS Al Isra : 31)

Artinya, jangan sampai kita khawatir dan takut memiliki keturunan hanya karena masalah rezeki. Sesungguhnya Allah telah memudahkan segala urusan manusia melalui Sunnatullah yang telah Allah tetapkan. Tinggal manusia belajar dan berikhtiar setiap saat.

[AdSense-A]

Jika dilihat dari dua tujuan tersebut, hukum KB boleh atau tidak sangat bergantung kepada kondisi dan tujuan yang ada. Bisa menjadi haram jika orientasinya bukan untuk kemaslahatan dan menyelamatkan. Tetapi bisa halal jika memang berorientasi pada kesehatan dan juga kesejahteraan ibu.

baca juga:

Pro Kontra Menggunakan KB dalam Keluarga Islam

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa menggunakan KB dalam keluarga sesuai ajaran islam masih diperbolehkan jika alasannya bukan untuk membuat mandul atau steril selamanya. Untuk alasan kesehatan dan mengatur waktu kehamilan masih diperbolehkan asalkan tidak untuk tujuan tidak ingin memiliki keturunan dan membahayakan dirinya sendiri.

Apalagi kelahiran dan keturunan adalah bagian dari Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama.

Tentu saja walaupun begitu ada banyak pro dan kontra para ulama dan cendekiawan mengenai masalah keluarga bencana ini. Masing-masing memiliki pendapat dan argumen untuk menghadapi masalah tersebut. Sebagai umat islam, kita diperbolehkan oleh Allah untuk berijtihad dan memikirkan sesuai dengan masalah dan konteks perkembangan zaman. Untuk itu dibutuhkan ilmu pengetahuan dan juga teknologi untuk bisa melihat masalah ini lebih baik lagi.

Berikut adalah pro kontra yang menjadi dinamika penggunaan KB dalam islam:

  1. Islam Menganjurkan Banyak Keturunan

Islam menganjurkan ummat untuk dapat memiliki banyak keturunan. Hal ini yang menjadi keberatan para ulama untuk menjadikan KB digunakan. Dengan adanya program dan teknologi Keluarga Berencana dapat menjadikan umat islam secara keturunan tidak terlalu banyak padahal umat islam diharapkan mampu menjadi ummat terdepan dengan adanya keluarga dan keturunan yang banyak.

(Baca juga : Cara Mendidik Anak Perempuan Menurut Islam)

Hal ini mensoroti dalam sudut pandangan banyaknya atau kuantitas. Pendapat ini mengedepankan bahwa keturunan yang banyak tidak selalu menjadi penghalang atau penghambat, atau menjadi banyak masalah. Jika orang tua mampu sekuat tenaga berusaha tentu saja keturunan yang baik bisa didapatkan.

Selain itu, para orang tua, baik ibu yang melahirkan atau ayah yang mencari nafkah juga terhitung berjihad. Untuk itu bagi mereka yang berusaha sungguh-sunggu menjadikan keturanannya shaleh dan sukses di dunia maupun akhirat adalah jihad tersendiri. Sehingga tidak perlu ragu atau sampai melakukan keluarga berencana.

baca juga:

  1. Kekhawatiran dalam Membesarkan Anak

Pendapat selanjutnya adalah kekhawatiran dalam membesarkan anak secara berkualitas. Pendapat-pendapat ulama yang masih memperbolehkan penggunaan KB untuk alasan tertentu juga memikirkan masalah ini. Untuk itu, jika tidak memang mampu maka berikhtiar sekuat mungkin untuk bisa memiliki rezeki bukan mensterilisasi. Tetapi jika memang dibutukan dan ketidakmampuan diri, maka bisa untuk melakukan KB.

Hal ini juga didasari oleh ayat, “Hendaklah takut kepada Allah orangorang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar” (QS An Nisa : 9)

Manusia memiliki akal, sehingga bisa menghitung dan berpikir secara rasional. Hawa nafsu manusia juga bisa diatur tidak seperti hewan, sehingga tidak selalu harus memiliki keturunan jika memang belum mampu dan memiliki sumber daya yang mumpuni. Tentunya perlu dibatasi dan diatur sambil terus berikhtiar, tentu Allah Maha Tau dan Menilai niat kita.

Tentunya jangan sampai kita melahirkan anak dan menelantarkannya atau bahkan bergantung hidupnya pada orang lain. Hal ini bisa mendzalimi mereka dan menjadikan mereka lemah nantinya untuk hidup kedepan.

Untuk itu para orang tua dan keluarga dalam membesarkan anak secara berkualitas bisa mempelajari tentang

Hal ini semata-mata agar keturunan kelak (baik KB atau tidak) dapat sesuai dengan aturan Allah yaitu rukun imanrukun islamIman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman.

Hukum Menikah Muda Menurut Islam

Menikah adalah kebutuhan setiap orang dalam hidup. Bagaimanapun, manusia membutuhkan jalinan kasih sayang, ikatan konsekwensi dan kasih sayang untuk bisa menolong satu sama lain menjalankan kehidupan. Tentu saja dalam islam, menikah adalah hal yang diridhoi dan diberkahi Allah jika menjalankannya dalam kerangka beribadah, rukun islam, rukun iman, dan sesuai fungsi agama.

Di dalam islam, pernikahan bukan sekedar persoalan cinta dan kasih sayang semata. Lebih dari itu, islam mengajarkan agar dalam pernikahan tercipta keluarga sakinah mawaddah wa rahmah serta terbentuknya generasi yang lebih baik dari masa ke masa lewat keluarga.

Untuk itu, menjalankan pernikahan membutuhkan proses dan membutuhkan usaha yang keras agar Keluarga Dalam Islam yang diinginkan dapat terwujud. Bahkan bisa menjadi Keluarga Bahagia Menurut Islam. Untuk itu, membutuhkan keilmuan, modal materi, dan tentunya niat yang lurus untuk beribadah kepada Allah SWT.

Hukum Menikah Muda dalam Islam

Di dalam islam, tidak ada batasan seseorang menikah kapan. Tentunya, setelah orang tersebut baligh, mampu bekerja, dan berkecukupan bisa untuk menjalankan pernikahan atau melaksanakan keluarga. Untuk itu, menikah muda dalam islam hukumnya halal atau boleh selagi dalam rukun pernikahan yang syah dan sesuai dengan syarat-syaratnya.

Bisa jadi sebuah pernikahan di usia muda menjadi seseuatu yang tidak baik secara etika, bukan dalam hukum islam, ketika pernikahan di jalankan malah berdampak negatif. Misalnya belum cukup umur, kematangan usia kurang, kedewasaan belum cukup, belum memiliki ilmu dan pengetahuan yang memadai, sehingga kurangnya material untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk itu, secara etika kurang baik walaupun secara syarat syahnya dalam islam masih halal dan resmi menjadi suami istri.

Terdapat beberapa dalil Al – Qur’an tentang pernikahan, diantaranya:

[box title=”” align=”center”]“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Ar-Ruum: 21)[/box]

[box title=”” align=”center”]“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”(QS. an-Nur: 32).[/box]

[box title=”” align=”center”]“Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.”(QS. ar-Ra’du: 38).[/box]

[box title=”” align=”center”]“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah”. (Adz Dzariyaat: 49).[/box]

Menikah muda menjadi solusi bagi beberapa kalangan agar anak-anak muda tidak terjebak pada perzinahan dan pergaulan bebas sehingga dibutuhkan panduan Pergaulan Dalam Islam.

Akan tetapi, di sisi lain tentu menuai konsekuensi mengingat angka perceraian keluarga pada usia 20 tahun (pernikahan muda) juga tinggi. Untuk itu, sebelum memutuskan menikah pada usia muda hendaknya masing-masing orang dan keluarga memikirkan lebih dalam bagaimana dampaknya dan efeknya yang terjadi setelah menikah.

[AdSense-B]

Hal-Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Menikah Muda

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan juga disiapkan sebelum seorang muslim hendak menikah muda. Tentunya pertimbangan dari masing-masing orang bisa berbeda, akan tetapi hendaknya memahami secara universal yang harus dihitung dalam menuju pernikahan.

  1. Memastikan Niat

Niat adalah hal yang paling penting untuk menjalankan sesuatu. Begitupun ketika akan menjalankan pernikahan, meluruskan dan memastikan niat kita untuk ibadah adalah hal yang harus dilakukan. Niat yang kuat maka akan menghasilkan usaha yang kuat, niat yang buruk menghasilkan usaha yang buruk, begitupun niat kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula.

Banyak orang-orang, khsususnya yang menikah di usia muda hanya karena dorongan dan niat kebutuhan biologis. Padahal menikah atau berkeluarga lebih dari itu membutuhkan komitmen serta tanggung jawab dari masing-masing peran suami istri. Maka itu keberhasilan rumah tangga berasal dari niat yang ada di dalam masing-masing pasangan.

Terlebih lagi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pria dan wanita apabila ingin melanjutkan hidup ke jenjang pernikahan. Seperti terdapat beberapa Cara Mendapatkan Jodoh Menurut IslamWanita yang Baik Dinikahi Menurut IslamKriteria Calon Suami Menurut IslamKriteria Calon Istri yang Baik Menurut Islam, dan juga tentang Kewajiban Menikah di dalam Islam.

  1. Ilmu dan Pengetahuan Tentang Keluarga

Sebelum memasuki pernikahan dan Rumah Tangga Menurut Islam , hendaknya masing-masing pasangan juga mengerti dan memahami ilmu tentang keluarga. Pembelajaran ini tentu tidak hanya dilakukan saat sebelum menikah saja, melainkan sesudah menikah dan ketika menjalankan pernikahan itu sendiri.

Akan tetapi, setidaknya masing-masing harus mengetahui dan meamahami dasar-dasarnya mengenai pengetahuan berkeluarga khususnya berlandaskan ajaran islam. Misalnya saja ilmu tentang Perencanaan Keuangan Keluarga. Tidak akan ada yang berhasil sebuah keluarga jika di dalamnya tidak didasari oleh ilmu dan pengetahuan yang benar. Untuk itu, selagi belum menikah galilah ilmu tersebut agar menjadi berkah ketika melaksanakannya.

Selain itu hal lainnya yang perlu diketahui dalam mempersiapkan pernikahan adalah mengenai  Kewajiban istri terhadap suami dalam islamKewajiban suami terhadap istri, dan hal Mendidik anak dalam islam.

  1. Kesiapan Karir

Karir adalah hal yang penting. Manusia di muka bumi diciptakan untuk menjadi khalifah fil ard yaitu yang bertugas membangun bumi dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk mencapai Tujuan Hidup Menurut IslamTujuan Penciptaan Manusia , dan Konsep Manusia dalam Islam. Untuk itu, dibutuhkan karir dari masing-masing orang.

Karir tidak melulu soal jabatan atau status atau pekerjaan. Pada intinya karir adalah peran yang kita laksanakan sebagai kontribusi kita untuk ummat berbasis kepada ilmu dan kemampuan yang kita miliki.

Tentu saja, ketika akan menikah bukan berarti karir kita harus matang atau sukses terlebih dahulu. Akan tetapi, setidaknya kita memiliki kesiapan dalam berkarir, memiliki arah dan orientasi yang jelas, serta goal yang ingin dituju. Sehingga sebelum menikah, pasangan mengetahui apa arah hidup kita, dan bagaimana masing-masing bisa menyesuaikan.

Tentu dengan begitu juga akan mendukung terbentuknya Keluarga Sakinah Dalam Islam  dan Keluarga Harmonis Menurut Islam dengan proses ilmu dan pembelajaran yang lebih matang sebelum, sesudah, dan saat menjalankan pernikahan atau rumah tangga. ( Baca juga: Wanita Karir dalam Pandangan Islam)

[AdSense-C]

  1. Kematangan Diri dan Kedewasaan

Kematangan diri dan kedewasaan adalah hal yang paling penting untuk dimiliki sebelum melaksanakan pernikahan. Kematangan diri dan kedewasaan tentu bukan sesuatu yang instant untuk didapatkan. Kedewasaan dan kematangan ini membutuhkan proses dan pembelajaran yang terus menerus dan istiqomah.

Untuk itu, minimal sebelum menikah karakter, kematangan diri, kemantapan diri, pengalaman memecahkan masalah, dan kesabaran menghadapi berbagai dinamika kehidupan bisa dihadapi. Bukan berarti ketika menikah kebahagiaan pasti akan terus didapatkan, justru akan selalu ada ujian dan tantangan yang akan didapatkan. Poin ini dibutuhkan agar kita mampu menangani hal – hal penting seperti Mendidik Anak Menurut Islam Yang BaikMendidik Anak PerempuanKewajiban dalam Rumah Tangga, juga Cara Membahagiakan Istri Tercinta 

Sebelum menikah, hendaknya masing-masing pasangan juga mengenal satu sama lain. selain itu juga harus mengetahui bagaimana Kriteria calon istri menurut islam dan kriteria calon suami menurut islam. Maka itu, Taaruf Menurut Islam sangat penting untuk mengetahui Pria yang Baik dalam Islam dan Wanita Muslimah Menurut Islam,  agar semua  Tujuan Pernikahan Dalam Islam dapat terpenuhi. Jangan lupa ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum memutuskan menikah, seperti Kewajiban Anak Perempuan Terhadap Orang Tua setelah Menikah dan  Kewajiban Laki-Laki Setelah Menikah dalam Islam.

Bagi yang hendak menikah muda tentunya ini adalah hal yang juga cukup penting mengingat usia yang belia dan muda biasanya belum betul-betul mengenal dan memahami karakter manusia secara umum. Pada awalnya selalu kebaikan yang dilihat sedangkan untuk kekurangan dan berbagai kelemahan kurang dipahami. Dampaknya kekagetan atau ketidakpuasan bisa muncul setelahnya.

Kehidupan Setelah Menikah Menurut Islam memiliki beberapa Kunci Rumah Tangga Bahagia Menurut Islam yang harus dipelajari. Oleh karena itu, sebelum menikah, kita di anjurkan untuk mempelajari ilmu pernikahan dalam Islam. Seperti Hukum Pernikahan dalam IslamSyarat Pernikahan dalam IslamFiqih Pernikahan. Sehingga walaupun kita menikah muda, kita tetap selalu berada di jalanNya.

Untuk itu, dibutuhkan masa taaruf atau perkenalan agar masing-masing bisa mengenal dan meamhami karakter. Masa ini sangat penting dan tentunya harus berjalan secara alamiah, bukan penuh kekakuan dan mencitrakan yang baik-baik saja. Semuanya harus dipahami bersama dan dimaknai bersama agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan ketika sudah menikah. Karena Konflik dalam Keluarga akan selalu ada untuk itu perlu mengetahui mengenai cara menjaga keharmonisan dalam rumah tangga menurut islam.

12 Doa untuk mendapatkan Jodoh dalam Islam

Setiap manusia yang ada di dunia ini pasti menginginkan pasangan hidup (suami/istri) yang menemaninya dalam hidup. Hal ini tentu menjadi bagian dari fitrah manusia yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang ini yang nantinya akan dirawat dan dipupuk untuk dapat menjadi sebuah keluarga.

Terkait masalah ini Allah sampaikan dalam Al-Quran, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS Asy-Syura : 11)

Allah telah membuat sebuah ketetapan di dunia, bahwa setiap yang ada di dunia ini bersifat berpasang-pasangan. Termasuk laki-laki dan perempuan. Antara perempuan dan laki-laki tentu memiliki kekurangan dan kelemahan masing-masing. Untuk itulah berpasang-pasangan bertujuan untuk membantu saatu sama lain, menutupi kekurangan satu sama lain, dan saling mendukung untuk dapat maju mencapai tujuan bersama.

Cara Agar Mendapat Jodoh Terbaik

Untuk bisa mendapatkan jodoh tentu saja manusia harus berusaha dan berdoa. Berusaha sebaik mungkin dan berdoa untuk mendapatkan jodoh yang terbaik. Untuk itu, berikut adalah cara-cara agar mendapatkan jodoh yang terbaik

  1. Berada di Lingkungan yang Shaleh

Untuk bisa mendapatkan jodoh terbaik, maka kita harus berada dalam lingkungan yang baik dan shaleh. Tentunya jodoh kita tidak akan jauh dari mana lingkungan dan pergaulan kita berada. Berada di lingkungan yang shaleh tentunya membuat kita semakin dekat dengan pengondisian yang shaleh pula.

Untuk itu, mendapatkan jodoh yang shaleh pun semakin terbuka lebar dan luas dan berpeluang lebih tinggi dibanding berada di lingkungan yang buruk atau tidak mengondisikan pada agama. Hal ini karena lingkungan islami bisa membentuk pergaulan sesuai dengan  Pengertian Ukhuwah Islamiyah, Insaniyah dan Wathaniyah.

  1. Membuka Diri dalam Pergaulan

Untuk bisa mendapatkan jodoh yang baik, kita pun harus membuka diri dalam pergaulan dan mau untuk bersosialisasi. Tentu orang lain tidak akan mengenal dan bisa memberikan kita kenalan untuk calon jodoh kita jika kita tidak membuka diri dalam pergaulan. Untuk itu hindari sikap eksklusif, memilih milih teman, dan anti sosial jika kita ingin mendapatkan jodoh yang baik dan sesuai dengan karakter kita. Bukalah pertemanan secara luas namun tetap dalam batasan Pergaulan Dalam Islam.

Membuka diri dalam pergaulan artinya kita mau berkenalan dengan orang lain yang baru, menghargai orang lain, bisa berempati dan simpati pada orang lain.

[AdSense-B]

  1. Menjadi Orang yang Konsekuen dan Menerima Pasangan

Ada banyak orang belum mendapatkan jodoh atau lama menemukan jodohnya karena ia orang yang terlalu memilih-milih atau mencari pasangan yang ideal sesuai dengan harapannya 100%. Tentu di dunia ini tidak ada yang sesuai harapan kita 100% mengingat bahwa calon suami atau istri adalah manusia yang pasti memiliki kelemahan. Untuk itu, pandai-pandailah kita mencari orang yang mau menerima kondisi atau keadaan kita begitupun kita yang mau menerima kondisi dan segala kekurangan dia.

Tentu saja dalam membina Keluarga Sakinah Dalam Islam  dan Keluarga Harmonis Menurut Islam kedepannya tidak mudah. Maka butuh komitmen dan konsekuensi yang harus dihadapi dari masing-masing.

  1. Memilih Berdasarkan Agama dan Kecocokan

Memilih atas dasar agama dan kecocokan tentunya adalah hal yang paling utama. Hal ini sebagaimana sunnah Rasulullah SAW bahwa memilih atas dasar agama adalah hal nomer satu sebelum kita melihat atas dasar keturunan, tahta, dan hartanya. Tentu pilihan kita akan menentukan siapa jodoh kita, diri kita sendiri pun juga menentukan. Apabila ada kecocokan maka Konflik dalam Keluarga bisa diatasi dengan mudah.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan, dalam Al-Quran,

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) “(QS An-Nur : 26)

[AdSense-C]

Doa Untuk Mendapatkan Jodoh

Selain mengikuti Cara Mendapatkan Jodoh Menurut Islam, Doa juga diperlukan. Tidak ada aturan baku dalam berdoa. Allah pun sudah menyampaikan dalam Al-quran bahwa setiap manusia boleh meminta dan memohon kepada Allah. Allah yang Maha Mendengar dan Mengabulkan doa tidak pernah membatasi doa dan permohonan manusia. Tentu saja doa yang dibarengi oleh ikhtiar dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Doa juga bisa diucapkan dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Arab atau bahasa lainnya dimana kita pahami dan mampu menghayati doa tersebut secara mendalam. Hal teknis ini tentu tidak menjadi masalah karena Allah Maha Mengetahui dan Menguasai apa yang ada dalam hati manusia sekalipun.

Di dalam Al-Quran terdapat doa untuk mendapatkan jodoh yaitu : “Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiena immaa”.

Artinya : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami jodoh (isteri-isteri) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa” (QS Al Furqan : 74)

Itulah doa yang terdapat dalam Al-Quran. Untuk doa-doa lainnya sebagai muslim kita bisa membacakan sendiri dan membahasakannya sendiri sesuai dengan kondisi atau konteks masing-masing.

12 contoh doa tersebut adalah:

  1. Ya Allah, Ya Rabb, berikanlah aku kekuatan untuk senantiasa mencari pasangan terbaik di dunia dan akhirat. Berikanlah aku kemudahan dalam ikhtiar agar ibadah pernikahan dan membina rumah tangga dapat terjalin sesuai Ridho-Mu.
  2. Ya Allah, berikanlah petunjuk agar senantiasa mengenal dan mencari jodoh yang terbaik menurut-Mu bukan hanya karena hawa nafsu dan juga kepentingan dunia semata.
  3. Ya Allah berikanlah aku kesabaran dan keistiqomahan dalam mencari pasangan hidup yang dapat mendekatkan diriku selalu pada jalan-Mu bukan hanya untuk jalan dunia semata.
  4. Ya Allah dekatkan aku dengan orang-orang shaleh, lingkungan yang shaleh, dan keluarga yang shaleh agar aku bisa menemukan pasangan hidup yang sesuai dengan RidhoMu dan dekatkan aku dengan mereka agar selalu istiqomah dalam memperbaiki diri..
  5. Ya Allah berikanlah aku pasangan yang terbaik di dunia dan akhirat, dan jangan biarkan aku terperosok pada pilihan yang salah karena aku tidak mendapatkan petunjuk darimu.
  6. Ya Allah, dekatkanlah orang yang menjadi jodohku, agar kami saling mengenali dan memahami, untuk bisa menuju rihdho-Mu dalam tujuan Rumah Tangga yang Sakinah Ma Waddah Wa Rahmah
  7. Ya Allah jangan jadikan aku sebagai orang yang kufur akan nikmatmu, jadikan aku sebagai orang yang mampu mensyukuri nikmatmu yaitu nikmat orang-orang shaleh, dan jadikanlah orang shaleh-shalehah sebagai jodohku kelak
  8. Ya Allah, jika memang bukan jodohku, jangan jadikan orang yang aku pilih dan cintai sebagai penghalang aku untuk senantiasa beribadah di jalanmu. Tunjukkanlah jodohku di jalanmu agar aku selalu dapat menjadi orang yang bersyukur
  9. Ya Allah, berikan aku pasangan yang dapat membuat aku semangat untuk beribadah di jalanmu dan senantiasa istiqomah dalam aturanmu. Jangan biarkan rasa cinta dan kasih sayang kepada manusia menghalangi aku untuk selalu taat pada syariah-Mu
  10. Ya Allah berikan aku kesabaran untuk selalu menjemput jodoh terbaik. Berikan aku keistiqomahan diri untuk selalu memperbaiki diri agar aku pantas mendapatkan jodoh yang terbaik
  11. Ya Allah, jika memang belum jodohku, maka jangan jadikan aku buta terhadap cinta yang sebenarnya yaitu cinta pada-Mu. Jangan biarkan hati ini tertutup hanya karena cinta kepada manusia. Aku serahkan jodoh ku pada apa yang menjadi kehendak-Mu
  12. Ya Allah, berikan aku kemudahan menjalankan usaha untuk menjemput jodohku yang sesuai dengan jalan-Mu. Jangan biarkan aku lalai dari jalan-Mu karena cinta terhadap manusia.

Semoga kita bisa mendapatkan atua menjemput jodoh yang bersama-sama menggapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam .

4 Cara Menghilangkan Rasa Cinta Berlebihan Terhadap Seseorang Menurut Islam

Setiap manusia secara fitrah pasti memiliki rasa cinta. Cinta adalah hal yang lumrah dan pasti akan tumbuh dalam kehidupan manunsia. Orang yang dalam hidupnya tidak dilalui rasa cinta, pasti akan merasa kekeringan atau hidup tanpa makna, baik cinta tehadap Allah ataupun sesama manusia.

Akan tetapi, cinta sendiri tetap harus didudukkan secara proporsional agar bisa mendukung  pelaksanaan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam. Cinta terhadap manusia tentu bukanlah cinta yang lama dan hanya akan di dunia kecuali bagi orang-orang yang shaleh akan terus dibawa hingga ke akhirat. Sedangkan bagi umat islam, cinta harus dirangkai dalam kerangka cinta kepada Allah.

Lantas bagaima jika muncul rasa cinta berlebihan pada seseorang dan bagiamana cara menghilangkannya.

Kedudukan Cinta Menurut Islam

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS: Ar Rum : 21)

Di dalam ayat diatas, dijelaskan bahwa cinta terhadap lawan jenis dalam islam adalah hal yang fitrawi. Untuk itu, Allah memberikan perintah untuk menikah jika muncul perasaan cinta lawan jenis dalam bingkai keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Selain untuk menghindari perzinahan, cinta dalam islam juga bermaksud untuk memacu manusia lebih semangat untuk beribadah dan menjalankan kehidupannya sesuai perintah Allah SWT.

Cinta sendiri tentunya bukan satu-satunya tujuan hal utama dalam manusia. Walaupun apa yang kita cintai tidak bisa dimiliki atau didapatkan belum tentu hal tersebut membuat kita harus berputus asa dan marah akan kondisi yang ada. Untuk itu, cinta yang baik dan halal adalah cinta yang berorientasi pada pembangunan Keluarga Dalam Islam, Keluarga Sakinah Dalam Islam, Keluarga Harmonis Menurut Islam, Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah

Untuk itu, Allah menempatkan cinta-Nya sebagai yang tertinggi, bukan pada manusia atau hal lain yang ada di dunia. Hal ini disampaikan Allah, “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran : 31)

Cara Menempatkan Cinta Secara Benar

Perasaan cinta tidak bisa untuk dihilangkan begitu saja. Manusia membutuhkan proses dan tahapan untuk bisa menghilangkannya, tidak bisa langsung atau sekejap saja. Untuk itu, dalam masalah cinta manusia harus mampu menempatkannya secara benar, memulai dari membangun paradigma cinta yang benar sesuai islam dan juga sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

  1. Menempatkan Allah Sebagai Cinta Tertinggi

Agar bisa menempatkan cinta secara benar maka kita harus menempatkan Allah terlebih dahulu sebagai cinta yang tertinggi. Cinta Allah jika ditempatkan paling atas dan di atas segala-galanya akan memudahkan kita menyadari bahwa cinta manusia tidak akan ada apa-apanya. Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman adalah pondasi dasar agar cinta terhadap manusia tidak berlebihan.

Secara umum, hidup kita menginginkan cinta yang berefek pada ketentraman dan kesejahteraan hidup manusia. Bisa kita bayangkan jika cinta Allah dicabut dan tidak lagi diberikan, maka Manusia akan sengsara dan kesulitan hidup di dunia.

Nikmat usia, nikmat air, waktu, udara dan lain sebagainya adalah bentuk kecintaan Allah pada manusia. Andai kan Allah tidak mencintai makhluknya dan hambanya, tentu kenikmatan tersebut akan dicabut oleh Allah dan manusia tidak akan pernah tahu kemana harus mencari kembali nikmat-nikmat tersebut selain dari Allah SWT.

  1. Menyadari Bahwa Manusia adalah Makhluk Allah yang Lemah

Untuk bisa menempatkan cinta lagi secara benar, tentu kita harus menyadari bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Manusia bisa salah dan keliru serta bisa menyimpang. Untuk itu, kecintaan terhadap manusia tidak bisa dijadikan patokan apalagi sebagai standart yang ditempatkan paling tinggi.

Manusia dan sesama manusia memiliki kelemahan. Jika cinta berlebihan terhadap manusia tentunya kita akan kecewa karena manusia akan selalu memiliki kekurangan yang bisa jadi tidak memuaskan hidup kita. Untuk itu banyak sekali orang-orang yang putus asa, bunuh diri, bahkan melanggar perintah Allah hanya gara-gara persoalan cinta terhadap manusia yang berlebihan.

Hal ini juga disampaikan Allah,

“Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Ar-Rum : 54)

  1. Menyadari Hakikat Kebahagiaan Dunia yang Sementara

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. “ (QS Al Jatsiyah : 24)

Dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa suatu saat dunia akan selesai dan manusia kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan dan mendapatkan balasan di akhirat. Untuk itu, cinta kepada manusia juga tidak akan lama. Ia akan sebatas dari kebahagiaan dunia saja.

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.“ (QS Hud : 11)

Untuk itu, cinta kepada manusia juga sebatas perhiasan dunia yang sementara. Selagi perhiasan tersebut ada, maka manusia bisa merasakannya. Akan tetapi, hakikat manusia memiliki rasa bosan dan netral jika berlebihan suatu saat pun bisa berbalik. Untuk itu, hendaklah mencintai dan menempatkan manusia pada cinta dan kebahagiaan yang biasa saja.

  1. Mengalihkan Perasaan Pada Hal-Hal yang Lebih Produktif

Untuk bisa proporsional dan tidak terus-terus mengingat cinta manusia yang tidak seharusnya, maka hendaklah kita melakukan aktifitas produktif yang bisa membuat kita lebih fokus pada kegiatan tersebut ketimbang harus selalu mengingat, apalagi cinta yang dilarang atau tidak halal bukan karena ikatan pernikahan.

Batasi komunikasi, perbanyak aktifitas produktif adalah hal yang bisa mengalihkan kita agar tak selalu mengingat dan memikirkan cinta tersebut. Bagi yang ingin menikah dan juga sedang membina keluarga aktifitas produktif bisa juga dengan terus belajar mengenai Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam, Kewajiban Wanita dalam Islam. Tentu cinta yang halal dan sesuai syariat lebih membahagiakan dan abadi hingga ke surga-Nya.

[accordion]
[toggle title=”Artikel Terkait” state=”opened”]

[/toggle]
[toggle title=”Artikel Lainnya”]

[/toggle]
[/accordion]

5 Kunci Rumah Tangga Bahagia Menurut Islam

Rumah tangga yang bahagia adalah dambaan setiap pasangan yang sudah menikah. Rumah tangga yang bahagia tentu tidak dapat terjadi tanpa adanya proses dan pembelajaran dari masing-masing pasangan. Hal ini dikarenakan kebahagiaan dalam rumah tangga bukanlah sebagai hasil yang tiba-tiba melainkan tahapan yang membutuhkan jatuh bangunnya usaha.

Islam sendiri memerintahkan agar manusia yang menikah hendaknya mengurus keluarganya, agar tercipta rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Tentu bukan hal mudah, namun juga bukan berarti tidak bisa. Yang jelas rumah tangga sakinah mawaddah dan rahmah adalah proses yang berkelanjutan dan harus dipertahankan bukan sekali tercapai dan terus menerus akan ada di setiap pasangan. Berikut adalah beberapa  Kunci Rumah Tangga Bahagia :

Kesatuan Rumah Tangga

Kesatuan dalam rumah tangga tentu sangat diperlukan dan harus disiapkan sebelum pasangan ini lebih lanjut menjalankan kehidupan berumah tangga. Kesatuan ini berkaitan dengan bagaimana arah dan dengan apa rumah tangga ini akan dijalankan. Hal-hal dasar ini jika tidak ditentukan dari awal, maka tidak akan membuat rumah tangga menjadi satu kesatuan yang utuh karena tidak dibangun oleh dasar atau pondasi yang kuat.

Untuk itu, hal-hal berikut adalah yang harus diperhatikan dalam membangun kesatuan dan keutuhan rumah tangga.

  1. Tujuan Berumah Tangga

Tujuan berumah tangga dari masing-masing pasangan haruslah jelas. Apa motif dan tujuannya. Adakah juga kesamaan tersebut ada. Perbedaan tujuan tentu menjadi potensi untuk meretakkan rumah tangga tersebut dan membuat rumah tangga tidak harmonis. Apa artinya jika hidup bersama namun berbeda tujuan. Untuk itu memperjelas tujuan adalah hal yang harus dilakukan agar mendapat kebahagiaan rumah tangga.

Berumah tangga juga tidak lepas dari tujuan dasar kehidupan manusia sesuai dengan konsep Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, yaitu menjalankan misi khalifah fil ard dan memakmurkan kehidupan di muka bumi.

  1. Nilai-Nilai yang Diterapkan di dalam Rumah Tangga

Sebagaimana sebuah organisasi, rumah tangga adalah seperti organisasi. Dalam menjalankan dan menggerakkan fungsinya maka harus ada nilai-nilai dan landasan yang digunakan. Hal ini berperan untuk menghidupkan budaya di rumah tangga, menyelesaikan masalah yang ada, dan lain sebagainya.

Jika tanpa ada nilai-nilai yang sama maka sulit suatu masalah dapat terpecahkan secara baik. Dalam hal ini islam memerintahkan agar kaum muslimin hendaknya menikah dengan satu agama stau sesama muslim. Selain dari agar saling memperkuat umat muslim, juga berhubungan dengan bagaimana keluarga tersebut menjalankan fungsinya.

Perbedaan agama otomatis akan mempengaruhi nilai-nilai yang ada. Untuk itu kebahagiaan akan dicapai jika nilai-nilai yang diterapkan sama dan konsisten.

Niat Ibadah

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, bahwa setiap amalan tergantung kepada niatnya. Niat yang buruk walaupun amalan terlihat baik tentu bernilai buruk dan keliru. Tentu saja hal ini tidak bisa menjadi pahala di hadapan Allah SWT.

Ada banyak niat yang dimiliki setiap orang untuk berumah tangga. Ada yang sekedar karena cinta manusia, ada yang karena harta, ada yang karena prestis, dan lain sebagainya. Tentu saja umat islam harus menjalankan rumah tangga atas niat karena ibadah. Niat ini tentunya adalah niat diatas segala niat.

Niat ibadah ini sebagaimana disampaikan Rasulullah bahwa menikah adalah menggenapkan setengah dien-agama. Untuk itu, menjalankan rumah tangga tentu saja bagian dari ibadah karena di dalamnya suami istri bisa saling membangun akhlak, mengingatkan, mensupport, menghasilkan keturunan, dan lain sebagainya.

Menjalankan Peran Istri

Kunci kebahagiaan yang juga sangat penting adalah menjalankan peran dari masing-masing suami istri, yaitu sesuai dengan Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam, Kewajiban Wanita dalam Islam. Menjalankan peran istri tentu saja menjadi kunci kebahagiaan dari rumah tangga. Peran istri ini sangat penting karena selain dari melayani dan mensupport suami, istri ini juga berperan sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anak.

Peran istri yang menjadi kunci adalah sebagai berikut:

  • Mengelola Amanah dan Harta Suami
  • Melayani dan Mensupport Pekerjaan Suami, tentunya adalah pekerjaan yang halal
  • Sebagai ibu jika sudah memiliki keturunan, dan berperan untuk mendidik anak-anak
  • Memberikan kenyamanan dan kasih sayang pada suami, serta menjaganya dari perbuatan maksiat
  • Tidak mempersulit suami dalam menghasilkan nafkah yang halal
  • Menglola Aset rumah tangga

Peran dan fungsi di atas sangat penting dan dibutuhkan dari kehidupan rumah tangga suami istri. Jika peran tersebut tidak dilaksanakan oleh istri, maka kebahagiaan dalam rumah tangga tentunya sulit untuk tercapai. Walaupun bukan kepala keluarga, istri juga memiliki peran penting dan mempengaruhi kebahagiaan rumah tangga. Untuk itu, hal-hal tersebut, sebagai peran istri harus dijalankan dengan baik.

[AdSense-B]

Menjalankan Peran Suami

Rumah tangga juga sebagaimana organsasi yang membutuhkan pemimpin untuk mengarahkan dan mengatur rumah tangga menjadi harmoni dan sesuai tujuan. Islam menjadikan laki-laki sebagai pemimpin dari wanita.

Untuk itu, tugas-tugas dari suami adalah sebagai berikut:

  • Menjadi pemimpin keluarga
  • Memberikan nafkah dan memastikan finansial keluarga dapat terpenuhi
  • Memberikan nafkah batin pada istrinya
  • Menjadi pendidik bagi istri dan anak anaknya
  • Mengatur keluarga dengan nilai-nilai yang sudah ditetapkan sebelumnya, sesuai dengan nilai-nilai islam

[AdSense-C]

Saling Memahami dan Menutupi Kekurangan

Suami dan istri dalam rumah tangga masing-masing memiliki fungsi tersendiri, karater yang berbeda, dan juga latar belakang yang bermacam-macam. Untuk itu,dalam rumah tangga yang ingin bahagia tentu saja harus saling memahami dan menutupi kekurangan.

Setiap perbedaaan dan kekurangan maka tidaklah harus menjadi perdebaan dan menjadi hal yang membuat pertikaian atau perceraian. Masing-masing kekurangan harus ditutupi dengan kelebihan masing-masing. Tidak ada pasangan yang sempurna dan tidak ada pula rumah tangga yang pasti paling bahagia atau paling sempurna.

Semua yang ada di dunia ini pasti memiliki kekurangan atau cacatnya, karena hanya Allah lah yang Maha Sempurna. Untuk itu, jalan satu-satunya untuk dapat bahagia adalah saling memahami dan menutupi kekurangan dengan kelebihan yang ada.

5 hal tersebut adalah kunci agar keluarga atau rumah tangga mendapatkan kebahagiaan. Tentunya membutuhkan proses dan pembelajaran hingga tercapainya keluarga sesuai konsep Keluarga Dalam Islam, Keluarga Sakinah Dalam Islam, Keluarga Harmonis Menurut Islam, Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah ,

Keluarga Bahagia Menurut Islam dan Dalilnya

Keluarga adalah bagian terpenting dalam kehidupan. Setiap orang pasti mendambakan memiliki keluarga bahagia dan harmonis. Namun yang jadi pertanyaan, bilamanakah keluarga dikatakan bahagia? Apakah mereka yang memiliki banyak harta? Mempunyai suami tampan? Istri cantik rupawan? Ataukah yang dikaruniai banyak anak?

Ketika ada orang yang menikah, Rasulullah SAW selalu membaca doa “barokallahulaka, wa baroka’alaika, wajama’a bainakuma fii khoir” yang artinya “Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.”  Dari doa tersebut, kita bisa melihat bahwa Rasul tidak mengatakan supaya suatu keluarga jadi kaya-raya, melainkan agar diberkahi Allah SWT. Maksudnya berkah adalah hidupnya selalu dikarunia Tuhan, rezekinya tercukupi dan bisa membawa kebaikan.

(Baca juga: Tips Keluarga Bahagia dalam Islam dan Keluarga Dalam Islam: Pengertian dan Perannya)

Keluarga Bahagia Dalam Prespektif Islam

Tidak ada orang yang menginginkan kegagalan dalam kehidupan berumah tangga. Setiap orang pasti berlomba-lomba untuk mencapai keharmonisan di keluarganya. Sebab keluarga adalah kunci utama kebahagiaan seseorang. Keluarga bisa menjadi surga namun bisa juga menjadi neraka dunia.

Tahukah kamu, kebahagian keluarga tidak hanya bergantung pada materiil. Keluarga bahagia menurut islam adalah sebuah keluarga yang berjalan sesuai dengan akidah dan syariat agama, sehingga tercapai kehidupan yang barokah, sakinah, mawaddah, warahmah. Nah, dibawah ini beberapa tanda keluarga bahagia menurut islam:

  1. Istri yang shalehah

Laki-laki mana sih yang tidak ingin mendapatkan pasangan yang shalehah? Pastinya seorang wanita yang shalehah adalah idaman setiap lelaki. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Dunia adalah harta dan sebaik-baiknya harta adalah wanita yang shalehah.” Dari hadist tersebut, telah jelas bahwa kedudukan wanita shalehah lebih mulia dibandingkan harta di dunia.

Seorang istri shalehah mampu menciptakan surga dalam kehidupan keluarganya. Ia patuh kepada suaminya, penyabar, taat kepada perintah Allah SWT, mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama, senantiasa menjaga melindungi diri dari perbuatan maksiat, dan tidak mengumbar aib suaminya. Sungguh, suami manapun pasti akan jatuh cinta dengan istri yang shalehah. Oleh karena itu, apabila hendak mencari istri, carilah yang baik akhlaknya sebelum melihat rupa, harta, dan kedudukan wanita tersebut.

Baca juga: Cara Membahagiakan Istri Tercinta Menurut Islam dan Kriteria Calon Istri yang Baik Menurut Islam)

  1. Anak-anak yang berakhlakul karimah

Anak adalah salah satu elemen penting dari keluarga. Diriwayatkan oleh Dailami, dari Ibn Asaskir, Rasulullah SAW bersabda: “Ada empat kunci kebahagiaan bagi seseorang muslim, yaitu mempunyai isteri yang salehah, anak-anak yang baik, lingkungan yang baik dan pekerjaan yang tetap di negerinya sendiri.”

Selain memiliki istri shalehah, kriteria kebahagiaan keluarga juga diukur dari sifat sang anak. Bayangkan saja anda mempunyai anak yang bandel dan nakal, pasti ketenangan keluarga juga akan terusik. Sebaliknya, seorang anak yang dididik sesuai agama semenjak kecil,maka ia akan tumbuh menjadi generasi rabbani nan qurani. Akhlaknya pun akan baik. Kelak anak tersebut bisa menjadi kebanggaan orang tua di dunia, dan mereka juga merupakan penolong ayah ibunya di akhirat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

(Baca juga: Cara Mendidik Anak yang Baik Menurut Islam dan Pendidikan Anak Dalam Islam)

  1. Keluarga yang barokah

Ciri ketiga keluarga bahagia menurut islam adalah keluarga yang barokah. Ingat, kebahagian bukan diukur dari harta yang melimpah ruah. Tetapi bagaimana kita memanfaatkan rezeki yang ada menjadi lebih berkah. Antara suami dan istri haruslah saling bahu-membahu. Tidak apa-apa walaupun kita tak kaya, yang penting harta kita diperoleh dengan cara yang halal. Kemudian jangan lupa untuk bersedekah dan senantiasa bersyukur. Dengan demikian, jiwa kita akan lebih tentram dan kebahagian bisa diperoleh.

Di samping harta, umur dan waktu kita juga seharusnya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Hidup di dunia memang menyenangkan, tapi jangan melupakan kehidupan di akhirat karena disitulah kita akan kekal selama-lamanya.

[AdSense-B]

  1. Keluarga sakinah (Penuh Ketenangan)

Sakinah memiliki arti ketenangan, kedamaian, ketentraman, dan keamanan. Untuk mencapai keluarga sakinah yaitu keluarga yang penuh kedamaian, pasangan suami istri harus bisa menjalani hidupnya sesuai dengan prinsip keimanan, saling menyayangi satu sama lain, menerima kekurangan masing-masing, dan saling melengkapi.

(Baca juga: Keluarga Sakinah Dalam Islam dan Keluarga Harmonis Menurut Islam)

  1. Keluarga mawaddah (Saling Mencintai)

Secara bahasa, mawaddah didefinisikan sebagai  rasa cinta. Keluarga yang mawaddah berarti keluarga yang kehidupannya diliputi dengan cinta dan penuh harapan. Apabila suami-istri bisa saling mencintai, maka insyaAllah rumah tangganya akan terasa lebih indah, harmonis, dan langgeng. (Baca juga: Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam dan Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam)

Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚإِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar-Rum: 21)

[AdSense-C]

  1. Keluarga yang rahmah (Saling Menyayangi dan dirahmati Allah SWT)

Wa Rahmah merupakan kelanjutan dari mawaddah (cinta), dimana Wa berarti “dan”, Rahmah berarti “rahmat atau karunia atau anugerah Allah SWT”. Rahmah juga bisa didefinisakan sebagai kasih sayang.

Kebahagiaan keluarga akan semakin lengkap bilamana seorang suami memberikan kasih sayang kepada istrinya, menghargai, tidak membentak-bentak, dan menafkahi secara ikhlas. Begitupun dengan seorang istri, ia juga harus memberikan cinta tulus kepada suami dan anak-anaknya. Serta tak melupakan menjalankan perintah agama dan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW agar kelak kehidupan rumah tangga memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Baca juga: Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah Menurut Islam dan Kehidupan Setelah Menikah Menurut Islam)

Itulah beberapa ciri keluarga bahagia menurut islam. Semoga kita bisa membangun bahtera rumah tangga yang berprinsip pada islam, dengan tetap menjalankan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman sehingga didapatkan kebahagiaan yang hakiki. (Baca juga: Hidup Bahagia Menurut Islam: Penjelasan dan Dalil-nya dan Tips Hidup Bahagia Menurut Islam)

Kehidupan Setelah Menikah Menurut Islam

Kehidupan setelah menikah pastinya berbeda dengan saat masih single. Ada banyak perubahan yang dirasakan oleh kedua pasangan. Sebut saja sosok istri, dia yang mungkin dulunya selalu malas-malasan atau sering hang out bersama teman, setelah menikah waktunya pasti akan tersita dengan mengurus suami, anak, dan membersihkan rumah. Begitupun dengan suami yang harus lebih giat bekerja demi menafkahi keluarga.

Pada dasarnya, kehidupan setelah menikah itu tidak semudah yang dibayangkan. Terkadang di tengah-tengah pernikahan ada permasalahan dan pertengkaran yang datang silih berganti. Hal semacam itu wajar, namun bila tidak cepat diselesaikan bisa membahayakan keutuhan rumah tangga. Untuk itu, suami dan istri haruslah mengetahui kewajiban dan hak masing-masing.

Nah, bagi kalian yang hendak menapaki kehidupan baru ataupun yang telah menjalani bahtera rumah tangga, marilah kita belajar bersama-sama cara membangun keluarga yang islami agar kelak kehidupan kita bisa lebih tentram dan bahagia.

(Baca juga: Tips Keluarga Bahagia dalam Islam dan Keluarga Dalam Islam: Pengertian dan Perannya)

Menikah Menurut Ajaran Islam

Pernikahan adalah salah satu sunnah rasul yang sangat dianjurkan bagi seluruh umat muslim. Menikah itu fitrah dan merupakan sarana untuk membentuk keturunan dengan jalan yang diridhoi Allah SWT. Dengan menikah, seseorang berarti telah menyempurnakan separuh agamanya.  Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21 yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

Untuk hukum pernikahan sendiri, ulama mengatakan bahwa menikah itu hukumnya bisa wajib dan kadang menjadi sunnah. Hal itu tergantung pada situasi dan kondisi orang tersebut. Bila orang itu sudah mampu secara finansial dan memang takut terjerumus ke dalam perzinaan, maka diwajibkan atas dirinya untuk menikah. Sedangkan untuk orang yang merasa kurang dalam segi ekonomi dan khawatir tidak bisa memenuhi nafkah, maka hukum menikah menjadi sunnah.

Walau demikian, kita tidak boleh takut miskin hanya karena menikah. Asalkan kita mau berusaha, Allah SWT pasti akan memberikan kelapangan rizki bagi seseorang yang telah berumah tangga.

 

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS An Nur : 32).

(Baca juga: Kewajiban Menikah – Menurut Al-Quran dan Ulama dan Perencanaan Keuangan Keluarga dalam Islam)

Membangun Keluarga Sakinah dan Islami

Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan kehidupan keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah, dan wa rahmah. Namun di zaman sekarang ini, rasanya cukup sulit mewujudkan hal tersebut kecuali kita bisa berpedoman pada konsep ajaran islami.

Nah, berikut ini beberapa cara membangun keluarga islami:

  1. Didasarkan dengan niatan ibadah

Sejatinya, menikah itu merupakan bentuk ibadah. Tidak sekedar menyatukan dua insan, tetapi juga mengubah sesuatu yang awalnya haram menjadi halal bahkan bernilai pahala. Rumah tangga yang dibentuk dengan niatan ibadah kepada Allah SWT,  insyaAllah bisa lebih berkah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seorang hamba (manusia) telah menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agama, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625).

  1. Dihiasi oleh sunnah-sunnah Nabi SAW

Banyak sekali orang yang membangun rumah megah dengan tujuan agar rumah tangganya lebih bahagia. Membeli perkakas yang mewah, liburan ke luar negeri, dan memuaskan kebutuhan batin setiap saat. Mereka berpikir semua itu bisa menjamin keharmonisan berumah tangga. Padahal belum tentu.

Keutuhan pondasi keluarga akan kuat bila kita mengamalkan sunnah-sunnah rasul di rumah kita. Misalnya membaca Al-Quran, bersolawat, puasa sunnah, sholat dhuha, berdzikir, dan amalan lainnya. Sungguh, akan ada cahaya yang menerangi rumah tangga kita sehingga menjadi lebih terang dan mentetramkan. (Baca juga: Sunnah Rasul Malam Jumat Dalam Islam dan Macam-Macam Puasa Sunnah dalam Agama Islam)

[AdSense-B]

  1. Memahami kewajiban masing-masing

Ketika seseorang  membangun bahtera rumah tangga, hal utama yang harus disadari adalah kewajiban sebelum ia menuntut haknya. Seorang istri, ia berkewajiban merawat suaminya serta memberikan pendidikan yang sesuai ajaran islam kepada anak-anaknya, agar kelak mereka bisa tumbuh menjadi generasi rabbani nan qurani.

Sedangkan seorang suami, mereka adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga. Tugasnya adalah membimbing keluarganya menuju jalan yang lurus. Suami harus bisa bersikap tegas demi kebaikan. Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Namun perlu diingat, suami tidak boleh kasar terhadap istri. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri diibaratkan seperti tulang rusuk. Jika diluruskan dengan paksa, tulang itu akan patah. Sebaliknya jika dibiarkan akan tetap bengkok. Oleh karena itu, suami diharuskan mengingatkan istri dengan cara yang baik dan lemah lembut.

(Baca juga: Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam dan Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam)

[AdSense-C]

Meneladani Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah suri tauladan bagi seluruh umat, baik dalam hal beribadah, bermasyarakat maupun cara beliau menjalani kehidupan rumah tangga. Rasulullah dikenal sangat lembut terhadap istri-istrinya. Bahkan pada urusan sepele sekalipun, beliau selalu berusaha menyenangkan hati istrinya. Misalnya saja, ketika sang istri memasak makanan yang hambar atau keasinan, nabi tidak pernah mengeluh namun justru mengatakannya lezat.

Di samping itu, Rasul juga tidak pernah menampakkan wajah masam di hadapan istinya. Sesulit apapun masalah yang dipegangnya, ia selalu berusaha ceria, menunjukan wajah cerah, dan terkadang bersenda gurau. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, ”Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan, memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”

Perilaku lainnya dari Rasulullah SAW yang bisa kita contoh adalah cara beliau mengekspresikan cintanya kepada sang istri. Beliau sering mencium istrinya, dan memanggil sang istri dengan sebutan-sebutan yang indah, misalnya “Ya Humairo” yang artinya “wahai si pipi merah jambu”. Bayangkan saja, kira-kira wanita mana yang tidak senang bila dipanggil “humairo”? Pastilah setiap wanita akan tersipu malu jika disebut dengan panggilan demikian.

Dijelaskan dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih).

Ya, begitulah islam mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan setelah menikah. Yaitu dengan sikap saling menyayangi, menghormati, memahami tanggung jawab masing-masing, dan tak lupa menghiasi rumah dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, serta mengamalkan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Dengan begitu, keutuhan rumah tangga bisa terjaga dengan baik.

5 Cara Membahagiakan Istri Tercinta Menurut Islam

Membahagiakan orang tercinta adalah keinginan setiap orang. Salah satunya adalah membahagiakan istri. Seorang istri tentu saja juga mengharapkan kebahagiaan yang didapatkan juga dari suaminya. Untuk itu, suami dan istri harus saling memberikan kebahagiakan.

Seorang suami, terkadang bingung bagaimana untuk bisa memberikan kebhagiaan pada istrinya. Hal ini karena ada beberapa suami yang tidak benar-benar mengetahui psikologis dan karakteristik dari istrinya. Akhirnya ia pun bingung, harus seperti apa terhadap istrinya. Padahal, istrinya mengharapkan pemberian kebahagiaan yang lebih. Berikut adalah cara-cara bagaimana membahagiakan istri dalam 5 langkah.

Rasulullah Membagiakan Istrinya

Di dalam islam, membahagiakan istri adalah juga menjadi tanggung jawab suami. Seorang istri memiliki kewajiban terhadap suami, namun suami juga wajib untuk memperlakukan istrinya dengan baik juga. Ada kalanya suami yang selalu berpendapat bahwa istrilah yang harus memperlakukan dan melayani dirinya dengan baik. Tentu hal ini tidak sesuai.

Rasulullah, adalah seorang suami yang baik. Ia menunaikan kewajiban untuk istrinya, baik dalam hal psikologis, material, dan spiritual. Seorang Nabi, ia pun juga memperhatikan betul kebutuhan istrinya dan tidak pernah berbuat kasar. Hal-hal berikut yang Rasulullah lakukan :

  • Memanggil istrinya dengan panggilan kesayangan, humairah, yaitu pipi yang kemerah-merahan
  • Menemani istrinya dan berdikusi atau bercanda dengan istrinya
  • Memberikan kebahagiaan berupa kebutuhan biologis

Hal-hal di atas adalah sebagai contoh yang telah Rasulullah lakukan. Tentunya, sebagai umat islam yang mengikuti Rasulullah, termasuk dalam membahagiakan istri pun harus kita ikuti dan contoh. Keluarga Rasulullah adalah keluarga yang didalamya masing-masing suami istri melaksanakan, Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam, Kewajiban Wanita dalam Islam.

Manfaat Membagiakan Istri dalam Pembangunan Keluarga

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(QS : Ar-Ruum:21)

Di dalam islam, Allah telah menyampaikan bahwa laki-laki diftrahkan berpasangan dengan wanita sebagai istrinya dan diorientasikan agar kehidupannya dapat merasa tentram dan nyaman dengan kasih sayang. Untuk mencapai hal tersebut, tentu saja bukanlah suatu yang mudah atau singkat. Untuk itu, membahagiakan istri adalah salah satu langkah yang dapat membentuk keluarga tersebut.

  1. Menjaga Keharmonisan Keluarga

Keharmonisan keluarga dapat tercapai jika masing-masing dari pasangan saling berbahagia dan mendapatkan kenyamanannya masing-masing. Banyak pasangan yang senantiasa bertengkar atau mengalami konflik karena berbagai masalah yang menempa dan tidak bisa menyelesaikannya. Sedangkan, konflik keluarga dapat menyebabkan pada pecahnya keluarga tersebut jika tidak mampu diselesaikan.

Dengan membahagiakan istri, istri akan merasakan kebahagiaan yang akan juga memberikan kembali kebahagiaan tersebut kepada suaminya. Istri yang tidak mendapatkan kebahagiaan akan merasa sulit dan tidak akan bisa juga memberikan kebahagiaan kepada suaminya. Untuk itu, saling memberikan kebahagiaan harus dimulai juga oleh salah satu pihak agar sama-sama memberikan kebahagiaan tersebut.

  1. Membentuk Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah adalah keluarga yang nyaman, berkah, dan penuh rahmat dari Allah. Keluarga Dalam Islam, Keluarga Sakinah Dalam Islam, Keluarga Harmonis Menurut Islam, Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah , adalah hal yang ingin dicapai oleh setiap orang. Tentu saja hal ini tidak akan bisa diperoleh jika masing-masing dari suami atau istri tidak bisa memberikan kebahagiaan atau mencari jalan untuk bisa membahagiakan masing-masing.

Untuk itu, suami sebagai imam keluarga bisa memberikan contoh untuk dapat memberikan kebahagiaan tersebut pada istrinya. Jika masing-masing sudah bahagia, maka pasti akan mudah untuk terus menerus memelihara keluarga, menggapai berkah, dan rahmat Allah. Keluarga yang tidak bahagia, selalu bertengkar, tentu saja akan sulit mendapatkan keberkahan karena yang ada dalam dirinya hanyalah emosi dan pertengkaran.

  1. Mempengaruhi Psikologis Anak-Anak

Istri yang bahagia tentunya juga mempengaruhi pada anak-anak. Seorang istri atau ibu adalah orang yang paling pertama dan sering untuk bertemu dan mendidik anak-anak. Jika seorang istri tidak bahagia tentu akan mempengaruhi anak-anak yang diurus dan dididiknya. Tidak jarang seorang ibu marah dan emosi karena ia tidak mendapatkan kebahagiaan, stress yang menerpa, dan hal lainnya yang memicu emosi.

Untuk itu, membahagiakan istri adalah salah satu jalan atau manfaatnya terhadap psikologis anak anak. Anak-anak yang tumbuh sehat salah satunya adalah karena keluarganya juga sehat dan bahagia.

[AdSense-B]

Langkah-Langkah Membahagiakan Istri

Memberikan kebhagiaan kepada istri tercinta tentu saja bukanlah hal yang sulit. Hal-hal kecil bisa membuat istri tersenyum dan bahagia. Seorang suami yang memberikan kebahagiaan tersebut, tidaklah berarti suami tersebut tidak memiliki wibawa atau kehormatan, justru akan membuat istri semakin hormat dan juga merasa bersyukur atas suaminya. Berikut adalah beberapa cara membahagiakan istri tercinta :

  1. Memberikan Kejutan

Memberikan kejutan pada istri tidaklah harus dengan hal yang mewah dan mahal. Istri diberikan bunga, makanan kesukaannya, banju baru, atau sekedar membelikan hal yang diiginkan istri juga menjadi hal yang istimewa bagi wanita. Memasakkan sesuatu untuk dirinya dengan hasil tangan sendiri juga menjadi hal yang istimewa bagi istri.

  1. Menggantikan Tugas-Tugasnya

Menggantikan tugas-tugas istri seharian atau membantu tugasnya di rumah adalah hal yang juga membahagiakan bagi istri. Misalnya saja, membantunya memasak, membersihkan rumah, merapihkan kamar, dan lain sebagainya. Satu hari menggantikan seorang istri bekerja di rumah tentu saja membuat istri menjadi bahagia.

Tugas-tugas istri tentu saja bisa digantikan suami karena sama-sama bagian dari Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam.

[AdSense-C]

  1. Memuji dan Bersikap Romantis

Memuji dan memanggilnya dengan panggilan yang romantis tentu saja membuat istri akan bahagia. Hal ini biasanya jarang dilakukan oleh mereka yang sudah lama berumah tangga. Melakukan hal ini akan membuat istri bahagia dan merasa dihargai selayaknya seorang wanita dan istri yang baik. Tentu saja mereka membutuhkan hal ini, atas apa yang telah dilakukannya sehari-hari untuk suami dan keluarganya.

  1. Meluangkan Waktu Bersama

Meluangkan waktu bersama adalah hal yang dapat juga membahagiakan istri. Hal ini misalnya saja berjalan-jalan bersama, berdiam di rumah sambil berdiskusi atau mengobrol atau bercerita, dan lain sebagainya. Terkadang keharmonisan keluarga tidak timbul hanya karena-karena minimnya waktu bersama dan kurangnya waktu untuk masing-masing memberikan kebahagiaan.

  1. Melakukan Pendidikan yang Baik

Melakukan pendidikan yang baik untuk istri adalah salah satu yang dapat membahagiakan mereka juga. Tentu saja, pendidikan pada seorang istri adalah kewajiban dari seorang suami sebagai imam keluarga. Sebagai seorang imam keluarga tentu saja melakukan pendidikan pada istri harus dilakukan secara baik, lembut, dan tidak boleh bersikap kasar.

Pendidikan suami terhadap istri yang shalehah tentunya adalah yang diharapkan dari mereka. Menanamkan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman adalah bagian dari kebahagiaan istri shalehah.

6 Tips Keluarga Bahagia dalam Islam

Keluarga adalah bagian dari hidup yang sangat penting posisinya bagi kita. Dalam keluarga lah akan muncul keturunan, potensi untuk berkembang, menghidupi diri, bekerjasama dengan suami istri, dan juga muncul cinta dan kasih sayang. Tentunya keluarga lah tempat pertama dimana kita akan meminta bantuan dan menyelesaikannya.

Keluarga juga menjadi bagian dari proses mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam .

Keluarga yang baik dalam islam tentunya harus sesuai dengan bagaimana nilai-nilai islam. Dengan mengikuti aturan islam, akhirnya adalah kebahagiaan yang dicapai. Hal ini sebagaimana disampaikan Allah dalam ayat berikut, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS:  Ar-Rum : 30)

Untuk bisa mencapai keluarga bahagia tersebut, berikut adalah tips cara membangun keluarga yang bahagia, sesuai dengan landasan dan nilai-nilai islam.

Membangun Keluarga Bahagia dalam Islam

Setiap orang yang membangun keluarga tentunya menginginkan kebahagiaan. Tidak ada satupun orang yang menginginkan keluarganya hancur dan berantakan. Walaupun ada berbagai ujian dan cobaan yang menerpa, tentu saja keluarga muslim harus dapat mengatasinya. Untuk itu, agar mencapai kebahagiaan tersebut berikut adalah tips keluarga bahagia dalam islam :

  1. Membangun Kekuatan Keluarga dengan Visi Ketauhidan

Ketauhidan adalah nilai dasar yang harus ada dalam diri seseorang ketika akan membangun keluarga. Ketika keluarga tidak dibangun atas landasan atau visi ketauhidan, maka keluarga tersebut juga tidak akan menjalankan kehidupan berkeluarganya dengan nilai-nilai yang sesuai islam. Untuk itu, membangun visi ketauhidan adalah hal yang harus dilakukan sebelum menikah dan seterusnya selama masa pernikahan atau berkeluarga dilakukan.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan dalam Al-Quran, bahwa Allah adalah segala tempat untuk kembali dan tidak boleh ada yang dapat menjadikan hal lain sekutu atau penentang Allah, termasuk dalam hal keluarga. Keluarga yang mengikuti aturan Allah, tentu saja akan mendapatkan keberkahan dan keselamatan dunia dan akhirat.

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 22)

  1. Membangun Podansi Keluarga dengan Cinta dan Kasih Sayang

Rasa cinta dan kasih sayang ini adalah sebagai alat untuk dapat bersama-sama pasangan membangun Keluarga Dalam Islam. Jika tanpa cinta dan kasih sayang, tentu saja satu sama lain tidak akan bisa berkorban dan memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Untuk itu, pasangan suami istri harus senantiasa mencari jalan dan cara untuk senantiasa merawat dan memupuk cinta atau kasih sayang yang tercurah untuk keluarganya.

 “Di antara tanda- tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, sehingga kamu merasa tenteram (sakinah) dengannya, dan dijadikan-Nya diantara kalian rasa cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Dan di dalam itu semua terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS: Ar-Ruum : 21)

Dalam hal ini, menumbuhkan cinta dan kasih sayang tentu harus dilakukan oleh pasangan suami istri. Bentuk dan teknisnya, tentu bergantung kepada masing-masing kebiasaan dan karakter diri.

[AdSense-B]

  1. Membangun Potensi Ekonomi

Ekonomi atau financial keluarga adalah hal penting yang harus dibangun oleh keluarga. Tanpa ekonomi tentu saja akan sulit berkembang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Banyak sekali pasangan yang bercerai, keluarganya retak, dan berakibat kepada kelangsungan hidup serta anak-anaknya karena masalah ekonomi. Untuk itu, kekuatan ekonomi harus menjadi pondasi dari keluarga, agar sejahtera dan bahagia. Salah satu caranya dengan membuat Perencanaan Keuangan Keluarga.

Namun, tentunya tidak perlu mengkhatirkan bagaimana rezeki itu datang. Allah akan memberikan rezeki, potensi ekonomi, dan kecukupan bagi orang-orang yang berpikir dan berusaha sebaik-baiknya dengan jalan yang halal. Untuk itu, sebagaimana disampaikan dalam ayat berikut,

“Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (QS Saba : 24)

  1. Selalu Berusaha Menunaikan Hak Lahir dan Batin Pasangan

Masing-masing pasangan, baik suami atau istri harus dapat menunaikan hak-hak dari pasangannya masing-masing. Hal ini pun juga menjadi hal yang dapat mengatur kebahagiaan dalam keluarga. Hak lahir dan batin tentu saja bukan tugas dari salah satu pihak saja melainkan keduanya karena keluarga dan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama.

Untuk itu, masing-masing harus pintar memahami dan memenuhi apa yang diinginkan oleh masing-masing. Keinginan dan kebahagiaan dari masing-masing sangat mempengaruhi terwujudnya Keluarga Sakinah Dalam Islam  dan Keluarga Harmonis Menurut Islam. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Allah dalam Al-Quran,

“Dan pergaulilah pasanganmu dengan ma’ruf (baik). Apabila kamu tidak menyukai (salah satu sifat) mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (di sisi lain)”. (QS. An-Nisa:19).

[AdSense-C]

  1. Memberikan Manfaat untuk Lingkungan

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. (QS Al-Isra :26)

Jika keluarga memiliki potensi ekonomi atau energi lebih, tentu saja hal ini bisa dioptimalkan untuk membantu sesama. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam ayat diatas bahwa harta jangan dihambur-hamburkan dan dikeluarkan secara boros. Lebih baik dioptimalkan untuk kebermanfaatan lebih di lingkungan masyarakat.

Banyak keluarga yang hanya membesarkan keluarganya saja tanpa memperdulikan orang lain atau keluarga yang kekurangan. Tentu hal ini menjadi kewajiban keluarga yang mampu agar dapat membantu sesamanya. Untuk itu, kebersamaan dalam keluarga dan saling menyayangi akan semakin kuat antar suami istri, jika dalam keluarganya penuh keberkahan.

  1. Evaluasi dan Saling Membenahi Diri

Akhlak dan kesabaran menghadapi perjuangan rumah tangga adalah hal yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan suami istri. Keluarga, baik suami, istri, ataupun anak-anak sejatinya adalah ujian. Tidak selalu keluarga akan mendapatkan kebahagiaan dan juga tidak selalu sulit. Untuk itu kesabaran dan istiqomah memegang visi adalah hal yang harus dilakukan.

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS : Ath-Taghabun : 14-15)

Saat seperti ini terjadi, masing-masing dari pasangan harus memperbaiki diri, mengevaluasi diri, dan tentu membangun bersama satu sama lain. Bukan dengan cara menghina, merendahkan pasangan, apalagi membuatnya sakit hati, terluka yang dapat memicu Konflik dalam Keluarga.