13 Tips Melamar Dalam Islam yang Sesuai Syariat

Takdir jodoh dalam islam merupakan salah satu hal yang sering dipertanyakan. Maksud dari jodoh sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menikah. Sebelum memasuki jenjang pernikahan, ada suatu proses yang disebut dengan lamaran. Dalam Islam, lamaran disebut juga dengan khitbah. Lamaran adalah langkah pertama yang dilalui untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan dilakukan oleh seorang pria kepada orang tua atau wali wanita untuk meminta wanita menjadi istrinya.

Khitbah dalam Islam bisa dikatakan sebagai bentuk tunangan dalam Islam. Rasulullah SAW juga telah menyerukan umatnya untuk menikah. Rasulullah SAW. bersabda “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadith Riwayat Thabrani dan Hakim).

Berikut adalah beberapa tips untuk melamar atau cara melamar wanita menurut Islam:

  1. Pilihlah wanita yang sholehah

Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkarakarena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanyaPilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin” (HR Bukhari-Muslim).

Mengenai urusan mencari jodoh dalam Islam, diperbolehkan untuk memilih wanita yang cantik dan kaya tapi agama atau keimanan kepada Allah SWT haruslah tetap menjadi prioritas utama dalam mencari pasangan hidup. Bisa mendapatkan seorang wanita yang sholehah merupakan suatu keberuntungan di dunia. Sebagaimana sabda Rasul: “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

Baca juga:

  1. Calon pasangan haruslah seorang yang tidak terikat

Tidak terikat disini maksudnya adalah bukan wanita yang telah menikah atau telah dilamar oleh orang lain. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Q.S. An-Nur:32)

Tidak diperbolehkan juga untuk melamar wanita yang masih dalam masa iddah atau dalam keadaan hamil. Wanita tersebut baru boleh dilamar atau dinikahi setelah habis masa iddah atau setelah melahirkan.

  1. Minta izin dari calon wanita dan walinya

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah engkau menikahkan janda sampai engkau meminta pendapatnya dan janganlah engkau menikahkan perawan sampai engkau meminta izinnya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana kita tahu dia mengizinkan?” Beliau pun bersabda, “Dia diam saja.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Seorang pria akan jauh lebih beretika dan terpandang jika ia meminta izin terlebih dahulu pada calon wanita dan walinya. Hal ini juga mencegah keluarga calon istri menjadi malu karena kurang mempersiapkan diri dalam menyambut keluarga yang akan datang melamar.

[AdSense-B]

  1. Melihat wanita yang dilamar

Ibarat pepatah ‘jangan membeli kucing dalam karung’, sebaiknya lihat terlebih dahulu calon yang akan dilamar. Karena dalam pernikahan, salah satu kesenangan bagi suami adalah istri yang mampu menyenangkan mata suami.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; siapakah wanita yang paling baik? Beliau menjawab: “Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, taat jika diperintah suaminya dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.” (HR. An Nasa’i, shahih)

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan, lalu Rasulullah saw. bersabda, “Pergilah untuk melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua.” Setelah itu, ia melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu. (H.R. Ibnu Majah: disahihkan oleh Ibnu Hibban dan beberapa hadis sejenis juga ada, misalnya diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Imam Nasai)

Diperbolehkannya melihat calon bukan berarti dibolehkan untuk melihat seluruh bagian tubuh, hanya wajah dan telapak tangan yang boleh dilihat. Jika ingin melihat bagianlain seperti kaki atau lengan, maka sebaiknya dilakukan oleh ibu atau saudara wanita dari keluarga pria.

  1. Mencari informasi lebih

Pernikahan bukanlah perkara gampang tentang penyatuan dua manusia, tapi tentang perjalanan hidup yang panjang hingga beranak cucu. Maka dari itu, pastikan Anda mengetahui betul tabiat dan kebiasaan dari calon pasangan Anda sehingga tidak ada rasa kaget atau bahkan mungkin menyesal. Namun perlu diingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna, jadi hendaklah menerima sifat pasangan yang kurang disukai dengan ikhlas selama sifat tersebut tidak terlalu mengganggu dan ia masih memiliki kriteria calon istri menurut islam. [AdSense-A]

  1. Merahasiakan peminangan

Sebagaimanan sabda Rasul dari Amir bin Abdillah bin Az-Zubair dai ayahnya RA bahwa Rasulullah SAW bersadbda: “Kumandangkanlah pernikahan  dan rahasiakanlah peminangan.” Merahasiakan dalam hal ini maksudnya adalah hanya dibicarakan dalam batas keluarga saja, tanpa ada upacara atau acara khusus. Merahasiakan peminangan bertujuan untuk mencegah dan memelihara kehormatan, nama baik, dan perasaan hati wanita yang dikhawatirkan terjadi suatu hal yang mengakibatkan pembatalan pernikahan.

Jika pernikahan batal dan suatu hari ada pria lain yang akan melamar, maka tidak akan terjadi kecemasan atau kekhawatiran oleh orang banyak akan alasan di balik pembatalan pernikahan sebelumnya karena hanya pihak keluarga saja yang waktu itu mengetahui perihal lamaran sebelumnya.

  1. Datang dengan baik dan sopan

Datanglah ke rumah calon wanita dengan pakaian yang baik dan sopan. Sebaiknya gunakan juga wangi-wangian. Ingat, jangan sampai Anda datang telat karena akan membuat keluarga wanita menjadi bosan menunggu.

  1. Menyampaikan maksud

Setelah dipersilahkan masuk, kedua keluarga akan duduk saling berhadapan. Keluarga pria akan menyampaikan maksud kedatangan yakni melamar sang wanita, dan keluarga wanita akan menyampaikan jawaban diterima atau tidaknya lamaran dari keluarga pria.

  1. Memberikan hantaran

Keluarga pria akan memberikan hantaran atau seserahan sebagai simbol melamar sang wanita. Sebaiknya sebelum lamaran, sang pria menanyakan terlebih dahulu seserahan apa yang diinginkan sang wanita untuk lebih menyenangkan hati wanita.

  1. Membicarakan tanggal pernikahan

Kedua keluarga akan memutuskan kapan pernikahan sebaiknya dilaksanakan. Sebaiknya pilihlah tanggal dan bulan  baik untuk menikah menurut Islam yang tidak terlalu jauh dari hari lamaran.

  1. Menikmati hidangan yang disediakan

Nikmatilah hidangan yang telah disediakan oleh pihak keluarga wanita. Meskipun Anda kurang menyukai makanannya, tapi setidaknya hargai dengan tidak menunjukkan rasa tidak suka pada keluarga wanita.

  1. Pulang dengan sopan

Setelah acara lamaran selesai, pulanglah dengan baik dan sopan. Jangan pula pulang terlalu lama karena dikhawatirkan akan menyusahkan pihak keluarga wanita jika mereka mempunyai urusan lain yang ingin dikerjakan.

  1. Berdoa

Selalu berdoa dan shalat istikharah pada Allah SWT sejak awal mengenal calon yang akan dilamar agar setiap langkah menuju pernikahan diberikan kelancaran dan kemudahan serta dapat menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah (baca juga: keluarga sakinah dalam Islam.)

Demikianlah artikel mengenai 13 tips melamar dalam Islam ini. Semoga artikel ini dapat membantu Anda untuk lebih memahami makna prosesi lamaran sesuai syariat Islam.

Hukum Menolak Lamaran Pria Dalam Islam

Menikah (baca : fiqih pernikahan) adalah menyatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui sebuah proses ijab qabul menurut Islam. Dan hukum pernikahan dalam Islam memang tergantung pada kemampuan atau kesiapan seseorang untuk menikah. Meskipun Islam tidak mengharuskan umatnya untuk menikah, namun didalam Islam, untuk menyempurnakan iman dan ibadahnya seseorang dianjurkan untuk menikah.

Kehidupan setelah menikah memanglah tidak mudah dan terkadang membuat beberapa orang takut untuk menjalani kehidupan rumah tangga dalam Islam, namun perlu diketahui bahwa banyak terdapat manfaat menikah dalam Islam yang bisa diperoleh umat muslim, misalnya : meningkatkan ibadah pada Allah, menjaga kesucian, meningkatkan ibadah, dan menjaga keturunan.

Lalu bagaimana jika seorang wanita belum siap untuk menikah, namun disaat itu ada laki-laki yang meminangnya? Apakah wanita tersebut boleh menolak pinangan dari laki-laki, baik dengan alasan belum siap ataupun karena tidak merasa cocok dengan lelaki yang meminangnya?

Menolak Lamaran Pria Menurut Islam

Setelah kedatangan Islam, wanita mendapat kedudukan yang setara dengan pria dan wanita dapat lebih bebas dalam menentukan pilihannya. Dan dalam Islam, wanita tidak boleh dipaksa untuk menikah oleh walinya, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan kemudharatan, baik mudharat duniawi maupun mudharat keagamaan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. telah mengatakan bahwa seorang wali tidaklah boleh memaksa untuk menikahkan seseorang yang diwalikannya. Seperti yang terdapat dalam hadits berikut :

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW. berkata :

“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Lalu mereka bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara mengetahui izinnya?” Beliau pun menjawab, “Dengan ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah SAW. pernah bersabda :

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan seorang perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim)

[AdSense-C] Dari beberapa hadits diatas, dapat kita ketahui, bahwa dalam perihal menikah, seorang wanita tidak boleh dipaksakan untuk menikah jika ia merasa belum siap dan tidak mau. Dan itu berarti, hukum menolak lamaran pria dalam Islam adalah diperbolehkan.

Dan pada masa Rasulullah SAW. sendiri pun ada seorang wanita yang menolak lamaran pria. Dalam Islam terdapat kisah, seorang janda bernama Fathimah binti Qais. Setelah ia selesai dengan masa iddahnya, Fathimah mendatangi Rasulullah SAW. untuk meminta pertimbangan bahwa ia dilamar oleh dua orang pria. Dan para lelaki yang melamar Fathimah adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm. Setelah itu, Rasulullah SAW. mengeluarkan pendapatnya, yaitu beliau menyarankan untuk menolak kedua lelaki tersebut.

[AdSense-B] Rasulullah berkata kepada Fathimah : “Abu Jahm merupakan orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya(seseorang yang kejam, keras dan suka bepergian jauh), sedangkan Mu’awiyah seorang yang miskin, tidak berharta,” terang Nabi Muhammad SAW. Kemudian Rasulullah SAW. melanjutkan, “Oleh karena itu, menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” Namun ketika itu Fathimah tidak mencintai Usamah. Rasulullah menyarankan agar Fathiah menikah dengan Usamah dikarenakan Usamah adalah seseorang yang memiliki perangai yang cocok dengan Fathimah, dan hal tersebut dapat menciptakan keharmonisan dan keselarasan dalam rumah tangga. Fathimah pun taat kepada saran Rasulullah SAW,  lalu setelah menikah Fathimah datang kepada Rasulullah dan berkata, “Setelah menikah dengannya, Allah SWT. memberikan kebaikan padaku dengan dirinya, sehingga aku dicemburui oleh wanita-wanita lain.”

 

Dari kisah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa menolak lamaran pria atau khitbah dalam Islam adalah diperbolehkan. Namun, dalam penolakan tersebut harus dengan tata cara yang halus dan lembut tanpa menyinggung perasaan si pelamar tapi intinya tetaplah menolak lamaran, hal tersebut agar tidak menimbulkan fitnah dalam Islam dan tidak menyakiti hati orang lain. Karena seperti yang kita tahu, hukum menyakiti orang dalam Islam adalah dilarang dan dapat menimbulkan dosa.

Sekian, semoga bermanfaat (:

Hukum Khitbah dalam Islam dan Pengertiannya

Segera mendapatkan jodoh yang baik pasti menjadi keinginan bagi hampir seluruh orang. Salah satu hal yang menyempurnakan jodoh adalah menghalalkannya dengan menikahinya. Pernikahan dalam Islam menjadi satu hal yang dianjurkan dan merupakan salah satu cara untuk beribadah kepada Allah SWT.

Hanya saja, pada zaman saat ini dengan berbagai hal, sebelum sampai pada pernikahan banyak yang menyelenggarakan tunangan terlebih dahulu dimana hal ini sebenarnya tidak ada dalam istilah syariah Islam. Tetapi Islam mengenal satu tingkatan yaitu ‘khitbah’.

Pengertian Khitbah

Meskipun tidak sama persis, namun Khitbah menjadi satu istilah yang paling mendekati dengan tunangan. Secara Etimologi, Khitbah berarti meminta, meminang ataupun melamar untuk dijadikan seorang istri.

Sedangkan dalam KHI atau Kompilasi Hukum Islam khitbah berarti kegiatan upaya untuk kearah terjadinya hubugnan perjodohan antara seorang pria dengan wantia. Pengertian lainnya adalah Khitbah adalah proses dimana seorang laki-laki meminta seorang wanita untuk menjadi istrinya dengan menggunakan cara yang umum yang berlaku di tengah masyarakatnya.

Baca juga:

Dalil Qur’an

Pernikahan diatur dalam berbagai ayat pernikahan dalam Islam di Al Quran. Begitu juga dengan Khitbah yang menggunakan berbagai landasan Hukum Khitbah dalam al-Qur’an dan al-Hadist

Hukum menurut Al-Qur’an seperti ayat di bawah ini:

أَنْفُسِكُمْ فِي أَكْنَنْتُمْ أَوْ النِّسَاءِ خِطْبَةِ مِنْ بِهِ عَرَّضْتُمْ فِيمَا عَلَيْكُمْ جُنَاح وَلا

تَقُولُوا أَنْ إِلا سِرًّا هُنَّ تُوَاعِدُو لا وَلَكِنْ نَهُنَّ سَتَذْكُرُو أَنَّكُمْ اللَّهُ عَلِمَ

وَاعْلَمُوا أَجَلَهُ الْكِتَابُ يَبْلُغَ حَتَّى النِّكَاحِ عُقْدَةَ تَعْزِمُوا وَلا مَعْرُوفًا قَوْلا

حَلِيمٌ غَفُورٌ اللَّهَ أَنَّ وَاعْلَمُوا فَاحْذَرُوهُ أَنْفُسِكُمْ فِي مَا يَعْلَمُ اللَّهَ أَنَّ

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis idahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”(Al-Baqarah: 235).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيْعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَلاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ، حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya.”

Cara Menyampaikan Khitbah

Ada dua cara untuk menyampaikan Khitbah yaitu:

  • Menggunakan kata atau ucapan yang kurang jelas dan tidak terus terang.
  • Menggunakan kata yang jelas dengan cara menyampaikan maksud tujuan secara langsung.

[AdSense-B]

Syarat Khitbah

Syarat Untuk wanita yang boleh untuk di khitbah:

  • Bisa dilakukan hanya pada wanita yang masih perawan atau janda yang sudah habis masa iddahnya.
  • Wanita sedang tidak dalam masa iddah.
  • Wanita bukanlah mahrom dari laki-laki lain.
  • Pihak wanita sedang tidak dilamar oleh orang lain.

Baca juga:

Perkara yang Penting Dalam Khitbah

Sebelum melakukan proses yang lebih jauh, ada beberapa hal yang sebaiknya harus diperhatikan baik itu oleh pihak laki-laki atau pihak wanita. Berbagai perkara penting hendak menjadi hal yang penting untuk diperhatikan demi untuk bisa mendapatkan proses yang lancar nantinya ketika lamaran sudah meningkat ke proses pernikahan.

  • Mengetahui dan Melihat Calon Istri

Meskipun memang bukan kewajiban namun hal ini sangat disarankan sebelum melakukan ke proses Khitbah. Hal ini bertujuan untuk menghindari berbagai fitnah, tidak timbul rasa ragu dari pihak laki-laki ataupun masalah baru yang mungkin akan timbul pada masa nantinya. Hal yang dimaksud dengan melihat adalah menilai bagimana wanita yang akan dinikahi tersebut dalam pandangan aturan syar’i.

Dalam riwat dari Anas bin Malik, ia berkata “Mughirah bin syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “pergilah untuk melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan mebmerikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua”. Lalu ia mlihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu. (HR. Ibnu Majah: dishohihkan oleh Ibnu Hibban dan beberapa hadits sejenis)

  • Sang Calon Tidak Dalam Proses Dilamar Orang Lain

Sebelum melakukan proses Khitbah sangat penting bagi pihak laki-laki mencari tahu tentang informasi dari wanita yang akan dinikahinya tersebut. Jangan sampai sudah masuk dalam proses yang jauh namun ternyata wanita tersebut sudah menjadi pinangan oleh pihak lain.

Dari Abu Hairah, Ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “seorang lelaki tidak boleh meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya” (Hr. Ibnu Majah).

Dalil yang lain:

Dari Ibnu Umar Radliyalllahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallalaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah seseorang diantara kamu melamar seseroang yang sedang dilamar saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari

Dari Uqbah bin ‘Amir r.a bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Orang mu’min itu adalah saudaranya orang mu’min, maka tidak hallallah kalau ia menjual atas jualan saudaranya itu dan jangan pula melamar atas lamarannya saudaranya, sehingga saudaranya ini meninggalkan lamarannya –misalnya mengurungkan atau memberinya izin-.” (Riwayat Muslim)

[AdSense-C]

  • Pihak Perempuan Boleh Menolak Atau Memilih

Pihak perempuan memiliki hak penuh untuk menolak ataupun menyetujui lamaran yang datang pada dirinya. Oleh karena itulah pada saat melakukan proses Khitbah atau lamaran ini pada saat pertemuan pihak perempuan harus ditanya dan ditunggu hingga ia memberikan jawabannya. Sangat tidak dianjurkan untuk memberikan paksaan kepada pihak perempuan sesuai dengan Hadits berikut:

Rasulullah SAW bersabda, “Janda lebih berhak atas dirinya dibanding walinya. Sedangkan gadis dimintai izin tentang urusan dirinya. Izinnya adalah diamnya.” (Mutaffaqun Alaih)

Baca juga:

Batasan Khitbah

Khitbah merupakan salah satu tahapan sebelum pernikahan namun tidak termasuk dalam pernikahan itu sendiri. Sehingga, meskipun sudah melakukan khitbah tetap ada batasan-batasan yang harus diketahui oleh kedua mempelai tersebut.

  • Khitbah belum berarti sudah menjadi Halal

Melakukan prosesi Khitbah bukan langsung menjadikan kedua belah menjadi halal sepenuhnya. Kedua belah pihak harus tetap dalam koridor syariat dan tidak benar jika langsung melanggar batas-batas yang sudah ditetapkan oleh syariat. Hal yang baik untuk menjaga berbagai perbuatan dilarang oleh syariat adalah dengan saling menjauhkan diri dan menjaga jarak antara pihak laki-laki dan pihak perempuan.

  • Jangan Berlama-lama pada masa Khitbah

Setelah melakukan prosesi Khitbah sebaiknya jangan berlama-lama membiarkan dalam masa tersebut. Segerakan untuk melakukan pernikahan karena meskipun sudah melakukan pelamaran namun kedua belah pihak belum menjadi pasangan yang halal. Menyegerakan pernikahan juga bermanfaat untuk menjauhkan fitnah dan berbagai potensi perbutan yang kurang baik dan kerusakan.

  • Tidak diperbolehkan memimang pinangan saudara

Dalam riwayat Al-Bukhari bahwa Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma menuturkan :

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau peminang mengizinkan kepadanya”

Baca juga:

Keutamaan Khitbah

Ada beberapa keutamaan dalam mengkhitbah, diantaranya:

  • Wadah Perkenalan Dua Belah Pihak

Hal yang paling utama yang bisa didapatkan dengan melakukan prosesi ini adalah kedua belah pihak bisa mengenal dengan lebih baik lagi. Dengan pendekatan yang lebih dalam akan membuat kedua belah pihak bisa tahu bagaimana pribadi masing-masing, bagaimana etika masing-masing hingga lebih tahu tentang bagaimana lingkungan sekitar dari masing-masing pihak. Tetapi tetap saja dalam pengenalan tersebut harus tetap dalam peraturan-peraturan syariah.

  • Memperkuat Ikatan Perkawinan

Dengan adanya peminangan ini akan membuat proses perkawinan selanjutnya menjadi lebih kuat karena dengan adanya prosesi Khitbah membuat kedua belah pihak jadi lebih mengenal dan bisa lebih memperkuat hubungan antara satu dengan yang lain.

Baca juga:

Hukum Membatalkan Khitbah

Islam tidak melarang pembatalan dari proses lamaran. Hal ini dikarenakan Khitbah hanya merupakan proses untuk menuju pada proses pernikahan sja dan bukan akad nikah. Namun, meksipun begitu tindakan pembatalan ini juga bisa menjadi satu tindakan yang dibenci dan bisa menyakiti hati orang lain. Alasan yang paling bisa diterima adalah jika khitbah batal karena adanya permasalahan yang berhubungan dengan persoalan syariat.

Syarat Pernikahan dalam Islam

Pernikahan adalah bersatunya dua insan menjadi sepasang suami istri melalui proses yang sah atau resmi. Pernikahan bertujuan untuk menyatukan dua lawan jenis (laki-laki dan perempuan) yang memiliki rasa kasih sayang dan cinta untuk membangun suatu keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah. Untuk itu, pernikahan adalah proses sakral dan bukan sebuah permainan belaka. Islam menempatkan pernikahan pun sebagai penyempurna agama, yaitu merupakan setengah bagian dari dien (agama).

Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya” HR Baihaqi

Lantas bagaimankah syarat-syaratnya dapat dilaksanakan dan diresmikannya sebuah pernikahan? Tentunya Islam mengatur dan membuat hukum-hukum yang berlaku agar pernikahan tersebut dapat terjaga kesuciannya serta membawakan ketentraman bagi pasangan yang berniat melangsungkannya. Untuk itu sebuah pernikahan juga harus sesuai dengan tujuan pernikahan dalam islam, yang mampu membesarkan keluarga, agama, juga keturunan. Berikut adalah penjelasan syarat pernikahan dalam islam :

Syarat Memilih Pasangan atau Jodoh

Untuk melangsungkan pernikahan hal yang paling substantif harus dipersiapkan adalah jodoh atau calon pasangan. Mencari jodoh dalam islam tentu tidak boleh sembarangan. Pasangan yang dipilih tentunya adalah partner yang nantinya akan bersama sama mengarungi bahtera rumah tangga, menyesuaikan visi dan misi keluarga, serta tentunya dengan pondasi agama. Untuk itu, muslim yang hendak menikah disyaratkan oleh Allah dalam ajaran islam untuk memilih jodoh yang sesuai.

  1. Memilih pasangan berdasarkan keimanan

Dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, ternyata seorang muslim disyaratkan untuk memilih wanita atau laki laki yang baik, prinsipnya adalah karena agamanya. Bahkan syarat agama sangat ditekankan oleh ajaran islam ketimbang syarat-syarat yang lain. Mencari jodoh dalam islam sangat mengedepankan masa depan keluarga yang berkah dan penuh rahmah, serta mampu membesarkan islam nantinya. Artinya bagaimanapun seorang mukmin memilih pasangan, disyaratkan menikahi yang seiman, memiliki aqidah dan akhlak yang mulia. Pemilihan jodoh bisa karena banyak faktor, namun islam mensyaratkan keimanan adalah sebuah pondasi awal dari keluarga. Untuk itu penting kiranya mengetahui kriteria calon suami menurut islam dan kriteria calon istri menurut islam, agar tercipta pula kebahagiaan diantara keduanya.

Hal ini disampaikan oleh Rasulullah SAW melalui hadist yang diriwayatkan oleh Muttafaqun’ Alaihi, yang disampaikan oleh Abu Hurairah Radiyaulahu Anhu

Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka sebaik-baik perempuan adalah perempuan yang dinikahi karena agamanya” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam Al-Quran, QS : Al Baqarah : 221, Allah SWT menyampaikan kepada umat islam bahwa untuk memilih wanita (pasangan) haruslah pada kondisi mereka beriman. Bahkan Allah mengesampingkan pemilihan jodoh berdasarkan derajat, harta, atau statusnya. Hal ini dapat dilihat dari perintah menikah wanita mukmin dan larangan menikahi yang musyrik, sedangkan seorang budak, walaupun dia hanya berstatus budak yang mukmin, itu lebih mulia. Perlu kiranya calon suami mengetahui pula bagaimana ciri-ciri istri shalehah, agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Begitupun istri yang mengetahui kriteria suami menurut islam.

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran

Di dalam QS : An Nur : 26, Allah menyampaikan bahwa wanita dan laki-laki yang keji akan mendapatkan pasangan yang serupa dan sebaliknya wanita dan laki-laki yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mensyaratkan kemuliaan akhlak bagi pasangan yang ingin berkeluarga, karena kedepannya membina rumah tangga pasti membutuhkan pondasi Iman dan Akhlak.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)….

  1. Memastikan Garis Nasab atau Mahram nya

Pasangan yang beragama, memiliki keimanan yang lurus, dan berakhlak mulia tentunya menjadi syarat agar rumah tangga tercipta sakinah dan rahmah. Namun perlu diketahui bahwa Islam mengatur pula bahwa pasangan yang akan dinikahi bukanlah berasal dari mahramnya. Pengertian Mahram ini dijelaskan dan diatur dalam QS : An Nur : 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Dalam penjelasan ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa muslim dilarang untuk menikahi yang mahram, diantaranya adalah :

  • Orang Tua Kandung
  • Nenek dan Kakek dari Orang Tua sampai ke atas nya
  • Saudara Kandung se-Ayah dan se-Ibu
  • Sesama Perempuan atau sesama Laki-Laki
  • Paman atau Bibi dari Orang Tua
  • Keponakan
  • Cucu, Cicit, sampai ke bawahnya

Melakukan Peminangan (Khitbah) Sebelum Menikah

Dalam islam Khitbah berarti proses pelamaran antara pihak laki-laki pada pihak perempuan. Perempuan pun bisa meminang atau melamar lelaki. Khitbah dalam islam artinya hanyalah sebuah proses pengantar untuk memastikan apakah pihak yang dilamar bersedia untuk dinikahi dan apakah pihak keluarga bisa menerima (terutama wali, karena wali lah yang akan menikahkan nantinya). Bukan berarti ketika proses khitbah selesai, kedua belah pihak sepakat untuk melangsungkan pernikahan maka sama dengan keduanya sudah sah sebagai sepasang suami istri, atau sudah halal dalam pergaulan.

Dari Anas bin Malik, ia berkata,”Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan. Lalu Rasulullah SAW. Bersabda, ”Pergilah untuk melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua”. Lalu ia melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu”.  (HR. Ibnu Majah)

Proses khitbah hanya berfungsi untuk :

  • Mengenal atau memastikan sang calon pasangan (untuk itu diperbolehkan melihat dan mengenal lebih dalam, sesuai syariat)

Memastikan apakah perempuan dalam masa iddah, apakah sudah dilamar oleh lelaki lainnya atau sebaliknya, dan memahami lebih lanjut identitas dari calon pasangan suami/istrinya. Namun tentunya proses ini tidak sama dengan pacaran, karena pacaran dalam islam dikenal dengan istilah ta’aruf dan ada batasan-batasan pergaulan.

  • Memastikan kesetujuan antar dua belah pihak untuk melangsungkan pernikahan

Memastikan apakah sang calon pasangan bersedia untuk dinikahi. Maka dalam hal ini tidak boleh ada pemaksaan. Semua harus bersumber dari kesediaan antara dua belah pihak. Untuk itu, ajaran Islam memerintahkan untuk tidak boleh menerima pinangan lain setelah ada yang meminang sebelumnya. Hal ini untuk menjaga etika dan mempertimbangkan matang-matang sebelum menerima pinangan. Untuk itu perlu diperhatikan pula cara memilih calon pendamping hidup sesuai syariat agama.

Dalam istilah lain, prosesi sebelum pernikahan dikenal istilah bertungangan. Di masyarakat budaya ini juga cukup dikenal dan sering dilaksanakan. Istilah tunangan sering kali disamakan dengan proses khitbah. Namun hukum tunangan dalam islam bukanlah suatu yang wajib dan harus dilakukan, apalagi sampai bertukar cincin atau memberikan sesuatu yang berlebihan. Tunangan bukan pernikahan itu sendiri, sehingga pasangan yang akan menikah bisa langsung pada akad nikah jika sudah selesai mengkhitbah.

Melakukan Prosesi Akad Nikah

[AdSense-A]Akad nikah adalah proses inti dari sebuah pernikahan. Akad Nikah secara umum berarti melangsungkan kesepakatan, janji, untuk menjadi sepasang suami istri dan melangsungkan bahtera rumah tangga dalam ikatan suci. Untuk melangsungkan prosesi akad nikah, maka tidak boleh dilakukan sembarangan. Hal ini bertujuan untuk melindungi satu sama lain, agar tidak ada pihak yang dirugikan, dipaksa, atau diingkari setelah terjadinya pernikahan.

Untuk melangsungkan akad nikah maka terdapat rukun nikah, sebagai syarat-syarat dalam akad nikah yang harus dipenuhi adanya (wajib). Jika hal-hal atau pihak ini tidak ada, maka akad nikah tidak dapat dilangsungkan jikalaupun pernikahan tetap dilangsungkan maka statusnya pernikahan tersebut tidak sah.

  1. Calon Pengantin Laki-Laki
  2. Calon Pengantin Perempuan
  3. Wali Nikah, khususnya untuk Calon Pengantin Perempuan
  4. Dua orang saksi pernikahan (2 orang laki-laki)
  5. Ijab dan Qobul

Syarat Menikah Untuk Calon Pengantin Laki-Laki

  • Laki-Laki merupakan seorang Muslim, Beriman
  • Laki-Laki yang tertentu, bukan banci (jelas jenis kelaminnya adalah laki-laki)
  • Calon Pengantin Laki-Laki bukan mahram dari Calon Pengantin Wanita
  • Calon Pengantin Laki-Laki mengetahui wali nikah yang sebenarnya dari pihak wanita
  • Calon Pengantin tidak boleh dalam keadaan Ihram atau Haji
  • Calon Pengantin laki-laki menikah karena kemauan sendiri, bukan paksaan atau perintah orang lain
  • Calon Pengantin Laki-Laki Tidak dalam memiliki 4 orang Istri saat menikah
  • Calon Pengantin Laki-Laki sudah mengetahui perempuan yang akan dijadikan pasangan (istri)

Syarat Menikah untuk Calon Pengantin Perempuan

  • Perempuan adalah seorang Muslim, Beriman
  • Perempuan yang tertentu, bukan banci (jelas jenis kelaminnya adalah perempuan)
  • Calon Pengantin Perempuan bukan mahram dari Calon Pengantin Laki-Laki
  • Calon Pengantin Perempuan telah akil baligh (mengalami masa pubertas)
  • Calon Pengantin Perempuan bukan dalam keadaan ihram atau haji
  • Calon Pengantin Perempuan bukan dalam masa Iddah (masa tertentu setelah perceraian atau ditinggal suami karena meninggal)
  • Calon Pengantin Perempuan bukan Istri dari seseorang, atau sudah dalam ikatan pernikahan

Syarat Wali Nikah

Wali nikah khususnya diperuntukkan pada calon pengantin perempuan. Wali nikah perempuan adalah ayahnya, sedangkan jika ayah sudah tidak ada maka digantikan pihak dari keluarga lainnya. Pada dasarnya ayah yang bertanggungjawab untuk menafkahi putrinya, setelah menikah maka tanggung jawab tersebut berganti kepada suaminya kelak. Untuk itu perlu kiranya memperhatikan syarat wali nikah.

Wali nikah harus sesuai dengan syarat berikut ini, jika tidak dipenuhi maka batal atau tidak sah lah pernikahan tersebut. Untuk itu, peran wali sangatlah penting bagi sebuah pernikahan.

  • Wali Nikah merupakan seorang muslim
  • Wali Nikah haruslah laki-laki, tidak boleh perempuan
  • Wali Nikah telah dewasa, akil baligh/pubertas
  • Menjadi wali nikah atas kesadaran dan kemauan sendiri, bukan paksaan atau penipuan
  • Wali Nikah tidak dalam kondisi Ihram atau Berhaji
  • Wali Nikah sehat jasmani, rohani, dan akal pikirannya mampu berpikir jernih
  • Wali Nikah adalah orang yang merdeka dan tidak dibatasi kebebasannya

Untuk menentukan siapa wali dalam pernikahan perlu diperhatikan pula urutan wali nikah dalam islam. Hal ini untuk mengetahui siapa saja yang bisa menjadi wali dan saat kapan orang tersebut bisa menjadi wali dalam pernikahan.

Dalam pemahaman hukum islam kiranya perlu dipahami pula bagaimana jika nikah tanpa wali. Karena dalam kasus tertentu ada beberapa kondisi dimana wali nikah tidak bisa hadir atau digantikan. Agar tidak keliru, maka perlu dipahami lebih lanjut agar pernikahan tetap sah. Dalam masyarakat dikenal dengan nikah siri yang dimana pernikahan tanpa wali. Untuk itu perlu dipahami  bagaimana hukum dan pandangan nikah siri dalam islam.

Syarat Adanya 2 Orang Saksi Pernikahan

Keberadaan saksi dalam pernikahan menjadi hal yang sangat penting pula. Hal ini disebabkan karena saksi yang akan memastikan apakah pernikahan bisa dinilai sah atau tidak. Untuk itu, berikut syarat dari adanya saksi dalam pernikahan.

  • Saksi Pernikahan minimal ada 2 orang
  • Saksi Pernikahan adalah laki-laki yang muslim, bukan perempuan
  • Saksi Pernikahan Sehat Jasmani, Rohani, Akal pikiran mampu berpikir jernih
  • Saksi Pernikahan sudah akhil balig
  • Saksi Pernikahan dapat memahami kalimat ijab qobul
  • Saksi Pernikahan dapat mendengar, melihat, dan berbicara dengan baik (tidak ada gangguan)
  • Saksi Pernikahan adalah orang yang bebas merdeka, tidak dalam tekanan atau pengaruh

Syarat Ijab

  • Semua pihak telah ada dan siap dalam acara untuk Ijab dan Qabul
  • Isi Ijab (pernyataan) tidak boleh mengandung sindiran-sindiran
  • Isi Ijab dinyatakan oleh Wali Nikah Perempuan atau Wakilnya
  • Pernyataan Ijab tidak boleh dikaitkan dengan batas waktu pernikahan, karena pernikahan sah tidak boleh ada batasan waktu seperti nikah mut’ah atau nikah kontrak. Pernyataan Ijab haruslah jelas.
  • Pernyataan dalam Ijab tidak boleh ada persyaratan saat ijab dibacakan/dilafadzkan

Contoh bacaan ijab yang dibacakan oleh Wali Nikah/Wakil kepada calon suami-pengantin laki-laki : “Saudara Rakhmat (Calon Pengantin Laki-Laki), Saya Nikahkan dengan Anak Saya, Annisa binti Parnaungan Nasution (Calon Pengantin Perempuan), dengan mas kawin berupa alat shalat dan cincin emas 500 gram dibayar tunai

Syarat Qobul

  • Bacaan atau Ucapan Qobul haruslah sama sebagaimana yang disebutkan dalam Ijab
  • Pernyataan Qobul tidak boleh mengandung sindirian
  • Pernyataan Qobul dilafadzkan oleh calon suami-pengantin laki-laki
  • Pernyataan Qobul tidak boleh dikaitkan dengan batas waktu pernikahan, karena pernikahan sah tidak boleh ada batasan waktu seperti nikah mut’ah atau nikah kontrak. Pernyataan Qobul haruslah jelas.
  • Pernyataan dalam Qobul tidak boleh ada persyaratan saat ijab dibacakan/dilafadzkan
  • Dalam Qobul menyebutkan nama calon istri secara jelas sesuai dengan nama sah
  • Pernyataan Qobul tidak ditambahkan dengan pernyataan lain

Contoh bacaan Qobul yang dibacakan oleh Calon Suami : Saya terima nikahnya dengan Annisa binti Parnaungan Nasution dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat  dan cicin emas 500 gram dibayar tunai”

Setelah selesai proses ijab dan qobul barulah meminta kesaksian para saksi yang hadir, apakah proses pernikahan lewat ijab dan qobul bisa dinilai sah. Setelah selesai dan dinilai sah, maka sepasang pengantin tersebut telah resmi menjadi suami-istri dan hadirin memberikan selamat pada pasangan tersebut disertai ucapan selamat dan doa pernikahan.[AdSense-B]

Syarat Pemberian Mahar dalam Pernikahan

Mengenai mahar dalam pernikahan dijelaskan Dalam QS : Annisa : 4 ,

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya

Mahar ini menjadi syarat sah juga untuk dilangsungkannya pernikahan. Dalam Islam mahar menjadi sebuah simbol dan arti bahwa wanita calon istrinya perlu dihormati dan dimuliakan. Selain itu, mahar pun menjadi tanda bahwa calon suami benar-benar serius untuk menikahi dan dibuktikan dengan adanya tanda dari mahar tersebut. Tentunya ciri wanita yang baik untuk dinikahi menurut islam bukanlah menilai calon suaminya hanya dari mahar, melainkan dari kesungguhan, niat menikah yang tulus, akhlak, dan tanggung jawab membina rumah tangga.

Persoalan mahar untuk pernikahan islam tidak pernah membatasi atau menentukan jumlah dan bentuknya. Pada intinya tergantung kemampuan dan kesepakatan saja, untuk itu perlu adanya diskusi. Karena adanya mahar dalam pernikahan bukanlah tujuan utama. Tujuan utama pernikahan dikembalikan kepada tujuan adannya bahtera rumah tangga, yang sesuai dengan tujuan membangun rumah tangga dalam islam, menuju sakinah mawaddah dan rahmah, yang menjunjung tinggi keimanan, ketaatan pada Allah, dan akhlak yang mulia.

Begitulah syarat-syarat sebuah pernikahan dalam Islam. Tentunya syarat pernikahan ini harus dipenuhi seluruhnya. Jika salah satu tidak dipenuhi, maka gugur atau tidak sah lah pernikahan tersebut. Namun yang lebih penting adalah bagaimana pasangan suami istri merangkai rumah tangganya dengan cara menjaga keharmonisan rumah tangga menurut islam, untuk selamat, bahagia di dunia dan akhirat kelak.

Tunangan Dalam Islam – Syarat dan Hukumnya

Dewasa ini siapa yang tidak mengenal istilah tunangan? Ya, tunangan yang berarti mengikat seseorang sebelum menikah dengan pasangannya melalui proses pinangan atau prosesi lamaran. Pasangan yang ingin menikah biasanya didahului dengan bertunangan dan tunangan dianggap sebagai langkah awal untuk menggapai tujuan pernikahan dalam islam. Pihak lelaki akan datang melamar pihak wanita baik sendiri maupun bersama keluarganya dan membuat kesepakatan bersama tentang rencana pernikahan baik nikah secara resmi maupun nikah siri. Dalam istilah istilah tunangan sebenarnya sudah lama dikenal. Dalam islam meminang seorang wanita dan mengikatnya dalam hubungan dissebut dengan khitbah. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hukum dan hal lain yang menyangkut tunangan dalam islam simak penjelasan berikut ini

Pengertian dan Syarat Khitbah

Khitbah atau yang dikenal dengan istilah meminang berarti seorang laki-laki yang datang meminta kepada seorang perempuan untuk menjadi istrinya, dengan cara-cara yang umum berlaku dalam masyarakat tersebut. Selanjutnya jika pihak wanita menerima lamaran pihak lelaki maka pasangan tersebut dinyatakan telah bertunangan. Setelah bertunangan biasanya pasangan akan mengurus persiapan menikah di KUA (baca menikah di KUA dengan wna) Dalam melaksanakan khitbah atau lamaran ada dua syarat yang harus dipenuhi yakni :

1) Syarat mustahsinah

Syarat mustahsinah adalah syarat yang menganjurkan pihak laki-laki untuk meneliti dahulu wanita yang akan dipinang atau dikhitbahnya. Syarat ini termasuk syarat yang tidak wajib dilakukan sebelum meminang seseorang. Khitbah seseorang tetap sah meskipun tanpa memenuhi syarat mustahsinah. Bagi seorang lelaki ia perlu melihat dulu sifat dan seperti apa penampilan wanita yang akan dipinang apakah memenuhi kriteria calon istri yang baik (baca juga kriteria calon suami yang baik) dan sesuai dengan anjuran Rasulullah dalam hadits berikut ini :

Wanita dikawin karena empat hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka akan memelihara tanganmu”.(HR Abu Hurairah)

Berdasarkan hadits tersebut maka hendaknya pria memperhatikan agama sang wanita, keturunan, kedudukan wanita ( apakah sesuai dengan dirinya), sifat kasih sayang dan lemah lembut, serta jasmani dan rohani yang sehat.

2). Syarat lazimah

Yang dimaksud syarat lazimah adalah syarat yang wajib dipenuhi sebelum peminangan dilakukan dan jika tidak dilakukan maka pinangannya atau tunangannya tidak sah. Syarat lazimah meliputi

  • Wanita yang dipinang tidak sedang dalam pinangan laki-laki lain sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut ini

Janganlah seseorang dari kamu meminang (wanita) yang dipinang saudaranya, sehingga peminang sebelumnya meninggal-kannya atau telah mengizinkannya.” (HR Abu Hurairah)

  • Wanita yang sedang berada dalam iddah talak raj’i (baca hukum talak dalam pernikahan). Wanita yang sedang dalam talak raj’i masih rujuk dengan suaminya dan dianjurkan untuk tidak dipinang sebelum masa iddahnya habis dan tidak memutuskan untuk berislah atau berbaikan dengan mantan suaminya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 228

Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah.” (Al-Baqarah:228)

  • Wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan dalam masa iddah atau yang menjalanai idah talak ba’in (baca perbedaan talak satu, dua dan tiga) boleh dipinang dengan sindiran atau kinayah . Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al qur’an surat Al baqarah ayat 235

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanitawanita itu dengan sindiran atau kamu Menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma’ruf”. (Al-Baqarah:235)[AdSense-B]

Hukum Tunangan dalam Islam

Menurut sebagian besar ulama, tunangan dikategorikan sebagai pendahuluan atau persiapan sebelum menikah dan melakukan khitbah atau pinangan yang mengikat seorang wanita sebelum menikah hukumnya adalah mubah (boleh), selama syarat khitbah dipenuhi. Tunangan atau khitbah diperbolehkan dalam islam karena tujuan peminangan atau tunangan hanyalah sekedar mengetahui kerelaan dari pihak wanita yang dipinang sekaligus sebagai janji bahwa sang pria akan menikahi wanita tersebut. Sebagaimana hadits berikut ini :

Jika di antara kalian hendak meminang seorang wanita, dan mampu untuk melihat darinya apa-apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.”(HR.Imam Ahmad dan Abu Dawud)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa islam mengizinkan laki-laki untuk melakukan pinangan kepada seorang wanita dan mengikatnya dengan tali pertunangan namun jika hal ini sesuai syariat islam. Setelah melaksanakan pertunangan sang wanita tetap belum halal bagi sang pria dan keduanya tidak diperbolehkan untuk saling melihat, berkumpul bersama atau melakukan hal-hal yang dilarang yang dapat menjerumuskan dalam perbuatan zina (baca Zina dalam islam). Hal ini sesuai dengan hukum kompilasi islam pasal 11 tentang akibat hukum dari khitbah atau tunangan yang menyebutkan bahwa :

  1. Pinangan belum menimbulkan akibat hukum dan para pihak bebas memutuskan hubungan peminangan.
  2. Kebebasan memutuskan hubungan peminangan dilakukan dengan tata cara yang baik sesuai dengan tuntunan agar dan kebiasaan setempat, sehingga tetap terbina kerukunan dan saling menghargai

Hukum memberikan hadiah pertunangan

Saat bertunangan kita sering mendengar istilah tukar cincin, lalu bagaimanakah hukumnya dalam islam? Sebenarnya kebiasaan tukar cincin bisa jadi hanyalah kebiasaan namun seorang laki-laki diperbolehkan memberi hadiah atau cinderamata kepada tunangannya atau yang disebut dengan istilah urf. Jika dikemudian hari pihak pria membatalkan pertunangan atau pinangannya maka ia tidak dibenarkan untuk mengambil kembali hadiah tersebut. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa

Tidak halal bagi seseorang muslim memberi sesutau kepada orang lain kemudian memintanya kembali, kecuali pemberian ayah kepada anaknya” (HR. Ahmad al-irba’ati wa shohihu al-Tirmidzi wa ibnu hibban wa al-Hakim)

Hukum membatalkan pertunangan

Tunangan atau pinangan hanyalah janji seorang pria yang akan menikahi seorang wanita dan merupakan langkah awal dalam mempersiapkan suatu pernikahan. Berdsarakan hal tersebut maka sebenarnya pertunangan bisa diputuskan atau dibatalkan oleh salah satu pihak misalnya jika terjadi konflik dalam keluarga. [AdSense-C]meskipun demikian jika tunangan dibatalkan oleh pihak perempuan ada baiknya mahar yang telah diberikan oleh sang pria dikembalikan. Meskipun demikian seorang pria yang sudah berjanji pada seorang wanita sebaiknya memenuhi janjinya tersebut karena bukankah seorang muslim harus memenuhi janjinya sebagaimana yang disebutkan dalam Alqur’an surat Al isra ayat 34

”Dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”.

Demikianlah penjelasan tentang hukum dan hal-hal yang terkait dengan tunangan dalam islam. Sebaiknya sebelum menikah kita mengetahui terlebih dahulu kriteria calon pasangan yang baik dan cara memilih pendamping hidup dalam islam misalnya dengan cara ta’aruf bukan dengan pacaran (baca pacaran dalam islam). Jika anda tidak kunjung mendapatkan jodoh (baca penyebab terhalangnya jodoh) maka  janganlah berputus asa (baca bahaya putus asa) karena bisa menyebabkan hati menjadi gelisah (baca penyebab hati gelisah) tetaplah bersabar dan berdoa pada Allah agar dikaruniai jodoh yang baik.