Cara Bahagia Menurut Islam dalam Kehidupan Dunia

Manusia yang hidup pasti menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah fitrah manusia yang diharapkan oleh manusia selalu hadir di dunia ini. Para filosof mengemukakan bahwa manusia selalu bergerak dan berusaha untuk mencari kebahagiaan di hidupnya. Semakin ia mencari kebahagiaan tersebut, sayangnya bahagia tersebut semakin tidak ditemukan. Hal ini karena memang manusia tidaklah pernah mencapai puncak kepuasannya.

Islam sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia memiliki pandangan dan cara tersendiri agar manusia tidak terjebak kepada kebahagiaan yang semu. Adanya Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman semuanya ditujukan agar manusia dapat selamat dan mendapatkan kebahagiaan yang cukup di dunia.

Untuk itu, berikut adalah pandangan islam dan cara untuk bisa hidup dalam balutan kebahagiaan dan kenikmatan yang cukup dari Allah SWT.

Pandangan Islam Mengenai Kebahagiaan

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS AL Qashash : 77)

Di dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Allah memberikan kebahagiaan kehidupan di dunia. Walaupun dunia ini serba terbatas dan relatif, akan tetapi Allah tetap memberikan nikmat dan kebahagiaan tersebut bagi manusia. Kebahagiaan dan kenikmatan tersebut Allah berikan agar manusia dapat secara optimal melaksanakan misi dan tujuan hidupnya di muka bumi.

Titik keseimbangannya adalah, manusia tidak dilarang untuk mencari kebahagiaan. Akan tetapi kebahagiaan dan kenikmatan yang Allah berikan tersebut hendaklah dipergunakan untuk berbuat kebaikan, mencari pahala akhirat, dan juga melaksanakan pembangunan di muka bumi, bukan malah merusaknya.

Sungguh indah ajaran islam dan ketetapan Allah yang diberikan. Manusia diperintahkan mencari kebahagiaan, menikmatinya, namun jangan sampai disesatkan oleh kebahagiaan itu sendiri dan senantiasa mencari kebahagiaan akhirat sebagai tujuan yang sejati. Hal ini diperintahkan Allah, agar tetap berada pada fitrahnya, tidak merusak dan tetap pada sunnatullah yang ditetapkan Allah.

Kebahagiaan Hidup Sejati adalah di Akhirat

“Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)” (QS Al Qashshash : 61)

Sebagaimana ayat di atas, pandangan islam menempatkan bahwa kebahagiaan sejati adalah hanya di akhirat. Hal ini disampaikan oleh Allah bahwa kenikmatan hidup di akhirat adalah yang terbaik yaitu di surga. Kenikmatan hidup di dunia yang diberikan Allah kepada orang-orang yang tidak mengerjakan amal shaleh dan tidak beriman akan tetap diberikan, akan tetapi di akhirat kelak akan diberikan siksaan neraka.

Untuk itu, hendakya umat muslim lebih banyak memikirkan kehidupan akhirat yang sifatnya kekal abadi. Pilihannya hanyalah kebahagiaan yang abadi atau siksaan yang abadi. Semuanya ditentukan dari apa yang kita kerjakan di dunia.

Cara Merasakan Bahagia dalam Hidup

Sebagaimana Allah sampaikan pada ayat yang disebutkan di atas sebelumnya, hendaknya manusia mencari kebahagiaan duniawi untuk diorientasikan kepada akhirat agar tidak melupakan kehidupan dunia.

Walaupun kehidupan dunia sangat sedikit kebahagiaannya, untuk itu hendaklah manusia juga dapat mensyukri dan merasakan kenikmatan yang telah Allah berikan tersebut. Untuk itu, sejatinya kebahagiaan bukalanh tujuan akhir di dunia, ia hanya sebagai pelecut dan motivasi hidup agar lebih bersemangat untuk beribadah dan berbuat kebaikan di dunia. Tanpa kebahagiaan tentu saja sulit.

Berikut adalah Cara Bahagia Menurut Islam :

[AdSense-B]

  1. Menempatkan Kebahagiaan Dunia Bukan Sebagai Tujuan

Untuk mendapatkan kebahagiaan ketika hdup di dunia, tentu kita tidak bisa menjadikan dunia sebagai tujuan hidup. Kebahagiaan sejati dan kebahagiaan yang kekal sulit didapatkan di dunia karena memang bukan tempatnya kebahagiaan sejati ada di dunia ini.

Untuk itu, semakin manusia mengejar kebahagiaan di dunia maka semakin juga manusia tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan tersebut. Di dunia tidak tersedia kebahagiaan yang sejati sedangkan manusia adalah makhluk yang tidak pernah memiliki kepuasan sampai puncaknya.

Untuk itu, sebagaimana ajaran islam, hendaklah menempatkan dunia hanya sebagai tempat singgah dan kendaaraan untuk menuju akhirat. Menjadian dunia sebagai tujuan tentu sebuah kekeliruan, dan kebahagiaan tidak pernah dicapai. Yang bisa manusia lakukan adalah menikmati dan mensyukuri dari yang ada dan telah Allah berikan.

  1. Memperbanyak Syukur Nikmat

Semakin manusia tidak bersyukur semakin pula manusia tidak akan bahagia. Jika manusia bersyukur maka kebahagiaan apapun, kenikmatan apapun yang dirasakan, maka manusia akan merasakan kebahagiaannya. Semakin tidak disyukuri maka kebahagaan sebesar apapun di dunia ini tidak akan pernah bisa diniikmati dan doptomalkan oleh manusia.

Tentu saja, ketidakyukuran akan nikmat Allah membuat manusia mejnadi lelah, emosi, dan penuh amarah. Tidak akan pernah bisa diselesaikan, kecuali mensyukuri, dan ikhlas akan apa yan sudah didapatkan.

[AdSense-C]

  1. Memperbanyak Berbagi

Salah satu hal yang membuat kebahagiaan bertambah adalah memperbanyak berbagi terhadap sesama manusia lainnya, khususnya bagi mereka yang kurang mampu atau membutuhkan bantuan. Berbagi ini tentu saja tidak akan mengurangi rezeki dan pahala kita. Justru dengan berbagi, kita bisa saling memberi kebahagiaan. Orang yang kita bantu senang, tentu saja akan membuat kita juga senang karena telah membantunya.

Selain dari mendapatkan kebahagiaan, berbagi dan menghidupkan kemakmuran di bumi, juga merupakan bagian dari Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. Untuk itu, kebahagiaan dunia tidak hanya sekedar berasal dari harta, namun atas apa yang kita berikan bukan hanya yang kita miliki.

  1. Menghindari Hidup Berlebihan

Menjadi bahagia di dunia salah satunya adalah tidak hidup berlebihan di dunia. Hidup yang berlebihan di dunia membuat manusia akan mudah untuk sombong dan merasa berkausa. Selain itu, hidup berlebihan tentunya tidak baik, karena manusia yang tidak pernah puas akan kebahagiaan akan membuat kita terdorong untuk hidup berlebihan kembali baik dalam aspek harta ataupun hal hal dunaiwi lainnya.

“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS Ar-Rad : 26)

Bahagia dalam Islam Menurut Dalil Al-Quran

Manusia dimanapun ia berada dan kapanpun ia hidup, senantiasa mencari kebahagiaan. Tidak ada satupun manusia yang dalam hidupnya mencari kesengsaraan dan juga keterperukan, karena hal tersebut adalah hal yang sangat menyakitkan atau membuat kedukaan manusia.

Namun sering kali di atas pencarian kebahagiaan tersebut, manusia menganggap bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika hidup di dunia. Bagi orang-orang yang tidak beriman, ia menganggap bahwa kebahagiaan dunia adalah segalanya, hidup hanya satu kali, sehingga apapun yang dilakukannya di dunia atas dasar hedonisme atau pandangan kebahagiaan duniawi. Hal ini seperti hura-hura, mencari sex bebas, kebahagiaan atas jabatan, atau hal-hal lainnya yang dianggap bahagia.

Tentu saja, dalam hal mencari kebahagiaan, islam memiliki konsep tersendiri. Islam menawarkan konsep kebahagiaan sejati, yang tidak mungkin bisa didapatkan di dunia saja. Di dunia ini bagi islam, dan memang kenyataannya sangatlah semu. Sangat mudah orang mendapatkan kedukaan, kesakitan, kebangkrutan, kehilangan, dan lain sebagainya. Untuk itu, berikut adalah konsep bahagia dalam islam, menurut dalil Al-Quran.

Kebahagiaan Sejati Menurut Islam adalah di Akhirat

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash : 77)

Dalam konsep islam, kebahagiaan dunia adalah semu dan fana. Sewaktu waktu manusia bisa mendapatkan kebahagiaan, sewaktu-waktu manusia juga bisa mendapatkan kedukaan. Antara susah, senang, dan rasa biasa saja (netral) silih berganti. Untuk itu, ketika manusia mencari kebahagiaan sejati di dunia hal itu mustahil ditemukan.

Seseorang yang memiliki uang banyak bisa saja membangun istana untuk dirinya. Akan tetapi, ia tidak akan bisa membangunnya sendirian, karena ia terbatas. Ia butuh mengeluarkan uang, mempekerjakan orang, bahkan juga harus berkorban.

Untuk itu, islam memberikan perintah untuk manusia agar mengoptimalkan apa yang ada di dunia untuk bekal akhirat. Hal ini tentu saja tanpa harus meninggalkan kebahagiaan yang ada di dunia. Allah mengatakan bahwa kebahagiaan dunia adalah rezeki dan kenikmatan yang harus diterima dan disyukuri oleh manusia. Akan tetapi tidak boleh melupakan sebagian dari hak-hak orang lain dan juga menjadikannya sebagai bekal pahala kelak.

Bentuk Kebahagiaan di Surga

Bentuk-bentuk kebahagiaan di surga sering kali jarang diteliti dan diperdalam oleh manusia. Bukan berarti kita berharap akan surga berlebihan, karena hanya Allah lah yang berhak untuk memasukkan kita ke surga atau tidak. Akan tetapi jika kita terus berusaha memahami mengenai kebahagiaan surga, maka akan kita rasakan bahwa surga dan dunia adalah perbandingan yang sangat jauh berbeda.

Dunia tidak akan sebanding dengan kebahagiaan yang ada di surga. Bahkan di dalam surga tidak ada sama sekal usaha sebagaimana kehidupan dunia yang penuh resiko dan konsekwensi. Berikut adalah bentuk-bentuk kebahagiaan di surga, menurut informasi Al-Quran.

  1. Makanan dan Minuman

“”Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah : 25)

Di dalam surga terdapat makanan berupa buah-buahan. Hal ini tentu akan berbeda dengan dunia yang jika ingin memakan buah, tentunya harus menunggu musim, mengeluarkan uang, atau berusaha untuk menanamnya. Hal ini berbeda dengan di surga, bahwa orang beriman penghuni surga akan mendapatkannya secara mudah dan berada bersama para pasangannya yang suci. Bahkan mereka akan kekal di dalamnya, selama dalam kehendak Allah.
[AdSense-B]

  1. Tempat Tinggal Berupa Istana

“Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana” (QS Al-Furqaan : 10)

Di dunia hanya para pejabat, raja, atau bangsawan saja yang dapat menikmati hidup di istana. Hal ini tidak terjadi jika manusia berada di surga. Orang-orang beriman akan diberikan istana-istana, tanpa harus memandang miskin kaya, karena di sana sudah tidak ada lagi penilaian tersebut. Tentu sungguh menakjubkan tinggal di dalamnya, karena kebaikan dan Kemaha Dahsyatan Allah yang menciptakannya sebagia bentuk kasih sayang kepada orang beriman.

Hal ini adalah sebagai bentuk kepada orang yang senantiasa mendasarkan hidupnya dari Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman.

  1. Perhiasan

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera” (QS Al Hajj : 23)

Di dunia, mendapatkan gelang-gelang emas, mutiara, pakaian yang bagus tentu membutuhkan uang, proses yang panjang, dan usaha yang keras. Namun tidak dengan kehidupan di surga, semuanya diberikan secara Cuma-Cuma tanpa harus menunggu menjadi orang yang memiliki banyak uang. Semuanya Allah berikan pada penghuni surga sebagai balasan atas kesabaran dan perjuangannya selama di dunia.
[AdSense-C]

  1. Penuh Kesyukuran dan Persaudaraan

Di dalam surga, manusia akan mendapatkan persaudaraan antar sesama penghuni surga. Penghuni di dalamnya akan merasakan persaudaraan dan kesyukuran atas segala nikmat yang Allah berikan. Kesyukuran ini adalah bentuk manusia yang sudah melaksanakan misinya di dunia sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam .

Itulah kehidupan manusia yang ada di akhirat yaitu di surga. Kehidupan di surga adalah sebaik-baiknya balasan dan tempat terbaik yang bisa dicapai oleh manusia. Di dunia, tentunya manusia tidak akan bisa mendapatkan hal tersebut dan kelak Allah membalas kesabaran manusia hanya di akhirat. Tinggal pilihannya mana yang hendak kita dahulukan dan prioritaskan. Kehabahagiaan yang ada di dunia ataukah kebahagiaan yang ada di akhirat? Semoga saja kita digolongkan Allah pada golongan penghuni surga.

Hidup Bahagia Menurut Islam – Penjelasan dan Dalil-nya

Fitrah manusia selalu menginginkan kehidupannya mengarah kepada kebahagiaan. Bagi orang-orang yang tidak beriman, mereka menganggap bahwa dunia adalah tempat satu-satunya untuk hidup dan harus menghabiskan waktu untuk tinggal di dunia dan mencari kebahagiaan yang sebanyak-banyaknya. Seakan-akan tidak akan pernah tinggal dan hidup lagi di dunia.

Hal ini tentu akan berbeda jika dengan orang yang beriman. Manfaat Beriman Kepada Allah SWT, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman selalu menjadi dasar dalam kehidupannya. Orang yang beriman akan meyakini bahwa setelah kehidupan dunia akan ada kehidupan akhirat yang kekal abadi dan menjadi balasan atas apa yang telah dilakukan di dunia.

Untuk itu, orang beriman selalu mengarahkan hidupnya dan menjalankan aktivitasnya agar mendapatkan keselamatan tidak hanya di dunia, melainkan di akhirat. Berikut adalah konsep hidup bahagia menurut islam, dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Kebahagiaan Dunia Menurut Al-Quran

Di dalam Al-quran ditunjukkan berbagai ayat yang memberikan informasi bahwa dunia ini hakiaktnya adalah kebahagiaan yang semu dan sementara. Kebahagiaan dan kehidupan di dunia hakikatnya akan sering berganti antara suka, duka dan perasaan netral atau biasa saja. Hal ini menunjukkan bahwa apapun yang kita miliki hakikatnya akan mengalami siklus duniawi. Berikut adalah ayat-ayat Allah mengenai kebahagiaan hidup di dunia, dan umat islam hendaknya tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir melainkan hanya sebagai kendaraan untuk dapat mencapai kebahagiaan akhirat.

  1. Kebahagiaan Dunia Tidak Kekal

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS : An-Nahl : 96)

Dunia dalam hidup ini tentu tidak kekal, sedangkan yang kekal adalah Allah. Balasan bagi mereka yang megusahakan dunia untuk kebaikan adalah akhirat. Sedangkan di dunia tentu penuh ujian, silih berganti dengan kedukaan, dan berbagai masalah.

Kita bisa melihat bahwa setiap hari ada saja yang meninggal, mengalami kebangkrutan, penipuan, sakit, dan lain sebagainya. Hari ini manusia bisa saja mengalami posisi yang kaya, tinggi jabatannya, namun sekali waktu hal tersebut mudah saja bagi Allah hilang dan tidak kembali kepada manusia. Untuk itu, pantaslah jika Allah tidak memperkenankan manusia menjadikan kehidupan dunia di atas segala-galanya.

  1. Kebahagiaan Dunia Adalah Ujian

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang paling baik perbuatannya” (QS : Al Kahfi : 7)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan dunia sesungguhya hanyalah ujian dan tidak kekal. Manusia yang membanggakan dirinya atas harta, jabatan, dan keturunan tidak akan berguna semua hal tersebut di akhirat jika hal tersbut dalam kehidupan di dunia tidak pernah dipotensikan untuk mencari pahala dan kebaikan.

Di akhirat kelak hanya akan dimintai pertanggungjawaban mengenai seberapa besar apa yang kita miliki tersebut memberikan kebaikan dan manfaat kepada orang lain. Bukan dari seberapa besar kekayaan atau harta yang telah dimiliki. Pahala orang miskin dan kaya bisa saja lebih besar orang miskin jika dalam hidupnya penuh kesyukuran, suka membantu sesama, dan berbuat baik atas apa yang ia miliki. Sedangkan kekayaan tidak berarti ia akan selamat di akhirat dengan kekayaan yang dimilikinya.

[AdSense-B]

  1. Kebahagiaan Dunia Silih Berganti dengan Kedukaan

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid : 20)

Kebahagiaan di dunia sebagaimana ayat di atas adalah seperti analogi musim panen dan kekeringan. Sewaktu-waktu manusia bisa saja mendapatkan kebahagiaan yang banyak, dan suatu waktu lagi, manusia bisa saja mendapat kedukaan atau kesedihan. Untuk itu, kebahagiaan dunia silih berganti setiap waktu. Tidak kekal dan terus menerus ada.

  1. Kehidupan Dunia Tidak Sebanding Dengan Akhirat

Kehidupan di dunia jika dibandingkan dengan akhirat tentu saja tidak akan sama dan sebanding. Untuk itu Allah menghukum mereka yang dalam hidupnya hanya mengejar kebahagiaan dunia sesaat saja. Neraka Jahannam ditetapkan bagi mereka yang hanya mengejar kebahagiaan dunia, sedangkan tidak mengejar akhirat.  Untuk itu, cara menyelematkan kebahagiaan akhirat adalah dengan mendulang sebanyak-banyaknya amalan di dunia. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat di Al-Quran,

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir“.  (QS Al-Isra : 18)

[AdSense-C]

Kehidupan Bahagia adalah Akhirat

Jikalau manusia mengingkan kebahagiaan yang kekal (menurut perhitungan dan kehendak Allah) tentu saja dunia bukanlah tempatnya, melainkan akhirat, yaitu di surga. Berkali-kali dalam ayat Al-Quran Allah menyebutkan bahwa kelak akhirat adalah tempat persinggahan terakhir manusia. Untuk itu manusia harus mempersiapkan diri dan menyiapkan amalan terbaik.

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS Al-Baqarah : 25)

Di ayat di atas dijelaskan bahwa sesungguhnya di dalam surga terdapat banyak kebahagiaan yang disampaikan kepada manusia, sebagai orang-orang yang bertaqwa. Tentu saja hal ini akan berbeda dengan kondisi di dunia, yang serba terbatas, serba realtif, dan tidak ada kebahagiaan yang diperoleh dengan pengorbanan.

Jika dilihat dari ayat-ayat tersebut, sudah jelas bahwa kehidupan bahagia menurut islam bukanlah di dunia melainkan di akhirat. Untuk itu, bagaimanapun caranya umat islam harus mengoptimalkan kehidupannya di dunia untuk mengejar akhirat. Sesungguhnya Allah sudah memberikan potensi, rezeki, dan nikmat yang sangat besar untuk manusia optimalkan menuju kehidupan akhirat. Tinggal bagaimana umat islam mengoptimalkannya dengan sekuat tenaga dan keikhlasan berjuang menggapainya.

Untuk itu, untuk mencapai akhirat, hendaknya manusia menjalankan hidupnya berdasarkan kepada Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam .

Cara Sukses Menurut Islam

Islam bukan hanya agama yang mengatur masalah-masalah keseharian hidup manusia. Islam juga memberikan petunjuk bagaimana manusia dapat mencapai kesuksesan hidupnya baik di masa kini yaitu di dunia dan di masa depan yaitu masa akhirat. Islam bukan hanya mendorong umatnya untuk mendapatkan kebahagiaan hanya di masa depan akhirat, melainkan masa dunia pun diserukan untuk dapat mencapai kesuksesan yang mendukung masa depan akhirat. Berikut adalah penjelasan mengenai cara sukses menurut islam :

Sukses dalam Islam dengan Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat

Di dalam islam pandangan mengenai kesuksesan bukan hanya berada pada hal dunia saja atau akhirat saja. Keduanya bukanlah suatu yang terpisah. Kesuksesan di dunia tentu harus berdampak pada kesuksesan akhirat. Hal-hal di dunia seluruhnya adalah titipan Allah dan harus dioptimalkan untuk dapat menjalankan kehidupan dunia dengan baik dan mendapatkan masa depan akhirat yang bahagia. Hal ini dijelaskan dalam ayat-ayat berikut.

  1. Perintah Mengejar Akhirat dengan Kenikmatan Dunia

“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada oang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu bebuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bebuat kerusakan.” (QS: Al Qashash: 77)

Di dalam ayat tersebut umat islam diperintahkan untuk mencari kebahagiaan yang ada di dunia untuk diorientasikan kepada akhirat. Umat islam tidak dilarang untuk menikmati dan mensyukuri kebahagiaan yang ada di dunia. Semua itu tentu bukan untuk manusia melakukan kerusakan di muka bumi melainkan untuk dapat beramal sebaik-baiknya sebagai bekal akhirat.

  1. Kenikmatan dan Kesuksesan di Dunia Bertujuan untuk Beramal

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, nabi-nabi dan membikan harta yang dicintai kepada kerabatnya, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, mufasir yang memelukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta dan hamba sahaya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat…” (QS Al Baqarah : 77)

Allah tidak pernah menyuruh umat islam untuk merasakan kemiskinan. Bahkan, umat islam idealnya adalah umat yang kuat secara ekonomi agar dapat membantu sesama dan memberikan kemakmuran. Untuk itu diwajibkan berzakat dan tidak mengambil harta yang bukan milikinya.

  1. Membelanjakan Harta di Jalan Allah

“Dan belanjakan harta bendamu di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS: Al Baqarah : 195)

Bagi mereka yang memiliki harta berlebih tentu harus dapat mengoptimalkannya di jalan Allah untuk kebaikan. Untuk itu, orang-orang yang memiliki harta dan tidak mengoptimalkannya di jalan Allah akan mendapatkan kebinasaan baik di dunia ataupun di akhirat. Hartanya tidak menjadi berkah, bermanfaat, dan menyelamatkan kehidupanya.

  1. Larangan untuk Bermegah-Megahan

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu), dan janganlah begitu jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahannam, dan sesungguhnya kamu benar-benar kamu akan melihatnya dengan ainul yakin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hai itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS: 102 : 108)

Islam pun melarang umatnya untuk hidup bermegah-megahan. Bermegah-megahan ini dapat membuat manusia lalai dan terlena dengan dunia. Untuk itu, Islam mengajarkan hidup sederhana sebagaimana Rasulullah dan Para Sahabat contohkan. Mereka buakan orang miskin, hartanya banyak dan kekayaannya juga berpotensi besar. Akan tetapi mereka tidak mengumbar kebahagiaan dunia sedangkan hidupnya penuh kesederhanaan. Bahkan meninggalnya mereka tanpa ada perseteruan harta benda dari apa yang diwariskan.

Dunia Menurut Islam, Harta dalam Islam, sejatinya hanyalah hal yang sementara yang Allah titipkan. Kebahagiaannya pun hanya sementara dan terbatas pada usia manusia. Untuk itu, tidak patut untuk bermegah-megahan apalagi memuja harta sampai berlebihan. Sukses Menurut Islam dan Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam adalah bagaimana manusia mampu mengoptimalkan apa yang dimilikinya untuk kehidupan yang lebih kekal abadi yaitu di akhirat.

[AdSense-B]

Hal-Hal yang Harus dilakukan Untuk Meraih Kesuksesan

Untuk dapat meraih kesuksesan baik di dunia dan akhirat, maka islam memberikan petunjuk kepada manusia agar hidupnya terarah pada kesuksesan tersebut. Hal ini sebagaimana yang disampaikan dalam Al Quran sebagai berikut yang merupakan cara sukses menurut islam :

  1. Shalat dan Berusaha

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS : Al Jumuah :10)

Allah memerintahkan manusia bukan hanya melaksanakan shalat untuk mencapai akhirat namun juga berusaha dengan melaksanakan aktivitas atau kegiatan di muka bumi untuk kemakmuran di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa islam tidak hanya persoalan ibadah Habluminaullah malainkan bagaimana juga mengoptimalkan diri dalam ikhtiar memakmurkan bumi. Dalam hal ini shalat adalah sebagai pandu utama sedangkan ikhtiar mencari karunia Allah adalah sebagai roda penggerak.

Shalat yang dilakukan tidak hanya shalat wajib. Ada tambahan shalat sunnat yang dapat dilakukan, agar manusia senantiasa terjaga ruhaninya dalam mengejar kehidupan yang baik di akhirat dan terlepas dari tipu daya dunia. Diantaranya seperti

  1. Bekerja Keras dan Produktif

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS : Al Insyirah : 7)

Dalam Surat Al Insyirah di atas menunjukkan bahwa umat islam harus bekerja keras dan produktif. Umat islam tidak dibiarkan oleh Allah untuk hanya bersantai-santai dan berleha-leha. Untuk itu, di dalam Ayat tersebut seorang muslim diperintahkan untuk segera melaksanakan urusan yang lain dengan segera jika urusan yang lain telah dilaksanakan.

[AdSense-C]

  1. Berdoa dan Tawaqal

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al Baqarah : 186)

Berdoa dan Tawaqal adalah hal utama yang harus dilakukan umat islam. Untuk itu berdoa adalah kita memohon kepada Allah. Berdoa bukan berarti pasrah dan tanpa usaha. Doa adalah wujud permohonan dan penghambaan kita kepada Allah sebagai manusia yang lemah. Sedangkan usaha adalah bentuk real dari kesungguhan doa kita kepada Allah.

Penyebab Doa Tidak Dikabulkan Allah SWT salah satunya adalah karena manusia sendiri kurang bertawaqal dan merasa apa yang dimintakan kepada Allah adalah satu-satunya yang terbaik. Padahal dihadapan Allah belum tentu hal tersebut baik. Sesungguhnya Allah paling Mengetahui.

4. Tidak akan Berubah Nasib Jika Tidak Berikhtiar Kuat

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar rad : 11)

Hal yang paling penting dalam mencapai kesuksesan dalam islam adalah umat islam memiliki cara pandang yang benar terhadap nasib kehidupannya. Allah tidak akan merubah apapun jika manusia tersebut tidak merubah nasib hidupnya sendiri. Proses dan perjuangan merubah nasib adalah bagian dari ikhtiar dan ujian manusia. Untuk itu, proses ikhtiar merubah keadaan dan mencapai kesuksesan adalah bagian dari proses mencapai Tujuan Penciptaan Manusia ,Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia ,Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam.

Sukses Menurut Islam

Siapa manusia yang tidak menginginkan kesuksesan dalam hidupnya? Sukses yang terukur dari berbagai macam hal seperti jabatan, akademik, posisi dalam perusahaan, banyanya harta, keluarga, dan lain sebagainya. Semua hal tersebut tentu adalah harapan-harapan yang diinginkan oleh setiap orang yang menjadi bagian dari kehidupannya di dunia. Hanya saja standart kesuksesan tersebut masih berkutat di aspek individu dan masalah-masalah dunia yang sementara saja.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yang mengatur seluruh kehidupan manusia tentunya memiliki  standart mengenai kesuksesan hidup manusia. Standart ini tentu saja berasal dari informasi Al-Quran, teladan Rasulullah, sesuai dengan fungsi agama, rukun iman, rukun islam, yang akhirnya menghasilkan pandangan mengenai sukses Dunia Akhirat menurut Islam.

Manusia yang sukses dalam islam tidak hanya diukur oleh harta dan posisi atau jabatannya saja melainkan ada standart lain yang Allah berikan. Dunia menurut Islam dan harta dalam Islam hanyalah hal yang mampir sementara sehingga ia bukan lah sebagai tujuan. Berikut adalah sukses menurut islam, sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran dan Hadist.

Sukses, Karena Bermanfaat

“Sebaik-baik Manusia adalah manusia yang memberikan manfaatnya pada orang lain” (HR Bukhari)

Islam mengajarkan umatnya untuk bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Sebagai seorang yang beriman tentunya hal ini bukan lagi menjadi suatu yang harus dipermasalahkan, karena merupakan keharusan dan kewajiban. Bahkan, memberikan manfaat pada manusia yang lain adalah kebutuhan, karena kita akan merasakan kebermaknaan jika apa yang kita miliki diberikan untuk menolong orang lain.

Apalagi jika seseorang tersebut memiliki banyak potensi dan segudang kemampuan, tentu saja akan lebih bermakna jika dapat membantu orang lain. Berikut adalah hal-hal yang membuat seorang harus memberikan manfaatnya.

  1. Memberikan Manfaat Kepada Sekitar adalah Kebutuhan

Namun, sering kali orang-orang lupa pada sekitarnya, dan berkutat hanya pada persoalan dirinya sendiri. Padahal dibalik usianya yang muda, banyak yang bisa dilakukan untuk memberikan suatu yang berarti di masyarakatnya. Misalnya saja, memberikan barang-barang yang tidak digunakan pada orang yang membutuhkan, mengumpulkan uang jajan untuk memberikan bantuan sosial pada yang  kurang mampu bersama teman-teman, mengajarkan belajar pada anak-anak yang kurang mampu, dsb. Daripada uang jajang kita dihamburkan untuk suatu yang sia-sia, mengikuti kegiatan yang tidak bermanfaat, bernilai hedonisme semata, lebih baik digunakan untuk hal yang bermanfaat dan berpahala akhirat.

Jika dari muda sudah kita mulai untuk berjiwa sosial dan memberikan manfaat, tentunya saat di kemudian hari tidak sulit bagi kita untuk senantiasa memberikan manfaat bagi lingkungan kita. Kita tidak akan berpikir panjang untuk bisa membantu sesama, mengangkat kaum yang lemah, dan mengoptimalkan apa yang kita miliki baik harta, kemampuan/skill, posisi, ataupun ilmu untuk dimanfaatkan demi kebaikan di masyarakat.

  1. Mencontoh Apa yang Rasul Lakukan adalah Kewajiban

Menjadi seorang muslim yang bermanfaat kita bisa mencontoh bagaimana Rasul dan Para Sahabat yang memberikan harta yang dimilikinya, kemampuannya, dan waktunya benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan islam saat itu. Tidak sedikit yang mereka berikan, begitupun manfaat yang dihasilkan bukan hanya saat itu melainkan lintas generasi.

Kita tidak perlu bangga memiliki berbagai prestasi yang tinggi, penghargaan yang banyak, kecerdasan, harta berlimpah, ilmu yang segudang andai hal-hal tersebut tidak memberikan kebermanfaatan bagi bangsa dan agama.

Itulah ukuran utama kesuksesan kita. Bukan hanya mendapatkan apa yang kita inginkan, mencapai impian-impian tertinggimu, namun seberapa manfaat yang dapat diberikan dari yang kita dapat capai.

Sukses, Karena Membangun Masyarakat

Jati diri kita sebagai seorang muslim adalah Khalifah fil Ard. Sebagaimana disampaikan oleh Allah lewat QS Al Baqarah : 30, bahwa Allah menciptakan manusia di muka bumi untuk menjadi Khalifah fil Ard. Khalifah sendiri artinya pemimpin/pengelola. Berati kita memiliki tugas menjadi seorang pemimpin di muka bumi kita. Tugas-tugas mengelola masyarakat adalah sebagai berikut.

  1. Menjadi Pemimpin

Selayaknya seorang pemimpin, ia memiliki kewajiban untuk menjadi teladan bagi yang lain, melakukan pembangunan, menjauhi dan menyelesaikan kerusakan. Ia bertugas untuk mengoptimalkan apa yang dimilikinya untuk melakukan yang terbaik atas amanah yang diembannya. Begitupun sebagaimana manusia menjadi pemimpin di muka bumi. Dari sini tentunya jadi pengingat bagi kita bahwa manusia diciptakan bukan untuk main-main atau sekedar mampir menikmat apa yang ada di dunia, melainkan ada misi dari Allah yang telah diamanahkan pada kita.

[AdSense-B]

  1. Belajar dan Mempersiapkan Ilmu Pengetahuan

Jika kita adalah pemuda yang masih sekolah ataupun menjalani perkuliahan, tentunya suatu saat kelak lulus, pasti menginginkan karir yang sesuai harapan, semakin meningkat, dan berkembang. Tapi kembali diingat bahwa itu bukanlah ukuran sukses yang utama. Ukuran yang utama adalah ketika dari apa yang kita lakukan dalam karir/profesimu mampu memberikan efek pembangunan di masyarakat. Tentunya itu lebih bermakna dan membanggakan. Sehingga, suatu yang menjadi keahlian dalam karirmu, gunakanlah sebagai sarana kita menjalankan misi yang telah Allah amanahkan, yaitu Khalifah di muka bumi.

  1. Mengoptimalkan Potensi Lewat Karir

Contohnya saja, jika ada seorang dokter maka berkewajiban menghidupkan kesehatan di masyarakat, membantu kaum yang lemah agar sehat dan sejahtera hidupnya, meminimalisir kecurangan atau korupsi atau maal praktek dalam kedokteran, mengembangkan ilmu-ilmu kesehatan, dan lain sebagainya. Atau jika seorang pengusaha, maka bukalah lahan pekerjaan yang banyak dan halal bagi kaum yang membutuhkannya, karena dengan begitu kita akan mengurangi tingkat pengangguran, tingkat stress masyarakat, atau mengurangi kriminialitas.

Setiap profesi atau karir bisa menjadi sarana kita menjalankan misi hidup kita. Ukuran suksesnya bukan saat kita berhasil mencapainya, melainkan atas apa yang kita bangun, kembangkan, dan selesaikan masalahnya hingga menjadi sektor masyarakat yang lebih baik lagi.

[AdSense-C]

4. Membangun Lewat Keluarga

Rumah tangga menurut Islam dan kehidupan rumah tangga dalam Islam tentunya juga sangat berhubungan dengan tujuan hidup manusia. Keluarga sakinah dalam Islam dan keluarga harmonis menurut Islam adalah bagian dari tugas dan tujuan manusia di muka bumi. Hal-hal dalam keluarga diukur sebagai kesuksesan jika dapat mencapai misi manusia yang sesuai dengan:

Sukses di Akhirat

“ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’Am : 32)

Kehidupan kita di dunia bukanlah apa-apa. Ada Masa Depan Akhirat yang akan kita hadapi nantinya. Jika ukuran sukses kehidupan kita hanya di dunia, tentulah itu bukan sukses yang sebenarnya. Keselamatan di akhirat lah yang menjadi ukuran utama kesuksesan kita. Dan tentunya dengan berbekal amalan-amalan di dunia lah yang bisa menyelamatkan hidup di akhirat. Kesempatannya hanya saat ini, ketika kita masih di dunia. Itulah kelak masa depan dan kesuksesan yang sesungguhnya.  Bukan hanya kesuksesan di mata manusia, melainkan di dalam penilaian Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Hasyr : 18)

10 Kunci Sukses Menurut Islam

Dalam kehidupan, setiap manusia tentu ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya baik sukses secara materi maupun nonmateri. Kata sukses seakan-akan menjadi salah satu alasan diatas semua usaha yang dilakukan oleh manusia dalam segala aktifitasnya. Sukses sendiri bisa diartikan sebagai suatu keberhasilan dalam pencapaian hidup. Seseorang yang sukses dipandang memiliki materi yang berlimpah dan kehidupan yang baik.

Memang semua orang menginginkan kesuksesan tapi tidak sedikit juga yang mengalami kegagalan dalam mewujudkan kesuksesan tersebut. Dalam islam sendiri sukses memiliki makna dimana seseorang berhasil mewujudkan apa yang diimpikan terutama dalam hal kebaikan. Untuk mendapatkan kesuksesan seseorang tidak bisa hanya duduk diam saja melainkan harus melakukan sesuatu untuk berusaha. Lalu bagaimanakah islam memandang kesuksesan tersebut dan apa saja kunci sukses dalam islam? Untuk memahaminya simak penjelasan berikut ini.

Mendapatkan Kesuksesan Dunia Akhirat

Siapa yang tidak ingin sukses dunia dan akhirat? Tentunya tidak ada namun sangat disayangkan jika saat ini banyak orang yang hanya mengejar kesuksesan dunia semata. Dalam islam kunci kesuksesan tidak hanya terkait sukses dunia saja melainkan juga akhirat. Adapun kunci kesuksesan menurut islam diantaranya adalah sebagai berikut. (baca fungsi agama dalam kehidupan manusia dan manfaat beriman kepada Allah SWT)

  1. Menetapkan Niat

Ingin menjadi siapapun dan ingin melakukan usaha apapun, seseorang harus menetapkan niat yang kuat dalam hati karena niat ini akan membuat seseorang yakin dan tetap berusaha di jalannya. Niat juga merupakan cerminan dari apa yang ingin kita lakukan. Jadi jika Anda ingin sukses maka niatkan dulu dalam hati Anda bahwa Anda ingin sukses dunia akhirat.  Sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits Rasulullah SAW berikut (baca niat mandi wajib yang benar dan niat mandi wiladah)

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob RA  berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. (HR Bukhari Muslim)

  1. Beriman Dan Bertaqwa kepada Allah SWT

Iman dan taqwa adalah dua hal yang saling terkait dan jika seseorang ingin sukses maka ia harus menanamkan iman dan taqwa dalam hatinya (baca fungsi iman kepada Allah SWT). Seseorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT akan senantiasa melakukan sesuatu dijalan Allah SWT dan lebih dekat denganNya. Seseorang yang lebih dekat dengan Allah maka ia bisa mendapatkan kesuksesan jika Allah berkehendak.

  1. Shalat tepat waktu

Salah satu kunci sukses dunia akhirat adalah shalat tepat waktu atau shalat diawal waktu. Shalat adalah perkara yang wajib dilaksanakan seorang muslim dan merupakan tiang agama. Allah SWT menyukai hambanya yang senantiasa menjaga shalatnya dan shalat wajib tepat waktu.  Perbuatan melalikan shalat apalagi meninggalkannya akan mendatangkan murka Allah SWT dan jika demikian siapapun maka tidak bisa meraih sukses terutama di akhirat.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,Yaitu Orang-orang yang lalai akan shalatnya. (Qs Al Maun 4 -5 )

  1. Taubat kepada Allah SWT

Manusia tidak luput dari perbuatan salah dan dosa namun untuk menghapus dosa tersebut dan menghindari murka Allah SWT seorang muslim harus bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat atau yang dikenal dengan taubatan nasuha. Dengan melakukan taubatan nasuha, seorang muslim dapat membuka pintu kesuksesan dengan ijin Allah SWT. Bertaubat yang sebenar-benarnya berarti juga berjanji tidak akan melakukan perbuatan dosa atau maksiat yang pernah dilakukannya tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam ayat dan hadits berikut ini (baca shalat taubat dan cara taubat nasuha dalam islam)

Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa beristighfar kepada Allah SWT maka Allah akan menghilangkan segala kegundahan dan kesusahannya dan diberikan padanya rizki yang tak terduga. (HR Abu Dawud)

  1. Shalat sunnah

Tidak hanya dengan shalat wajib saja, kunci sukses yang lain juga bisa datang dari ibadah sunnah yang dilakukan seorang muslim misalnya dengan mengerjakan shalat sunnah raqwatib qabliyah dan ba’diyah setelah shalat fardhu dan melaksanakan shalat dhuha setiap hari. Shalat sunnah yang dilakukan bisa membukakakan pintu rizki dan mendatangkah berkah Allah SWT kepada pelakunya. Shalat dhuha memiliki banyak keutamaan dan bila rutin dilakukan Allah SWT tidak hanya melapangkan rizki seseorang tapi membangunkan sebuah rumah disurga untuknya. (baca keutamaan shalat dhuha)

[AdSense-B]

  1. Doa kepada Allah SWT

Seseorang yang berusaha dengan keras tidak akan mencapai kesuksesan jika ia tidak berdoa kepada Allah SWT. Doa adalah salah satu sarana seseorang agar lebih dekat kepada Allah SWT. Mendoakan kesuksesan diri sendiri setiap hari akan membuat seseorang merasa lebih baik dan bila ia juga mendoakan saudaranya maka malaikat juga akan mendoakannya. Hal ini tentunya bisa menjadi salah satu jalan menuju kesuksesan. Jadi jika ingin sukses maka teruslah berdoa dan mendoakan orang lain. Rasul SAW bersabda : (baca juga keutamaan doa nurbuat )

Tiada seorang muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya, kecuali malaikat berkata: Dan untuk kamu pula seperti itu”. (HR. Muslim)

  1. Menuntut ilmu

Seseorang akan sulit mendapatkan kesuksesan baik didunia maupun diakhirat apabila ia tidak memiliki ilmu. Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi seorang muslim dan ilmu tersebut adalah jalan menggapai kesuksesan. Seseorang yang memilki ilmu akan lebih mudah mengerti seseuatu dan berusaha dibidang yang ia kuasai. Ulama Imam Syafi’I pun mengatakan bahwa “Barangsiapa menginginkan sukses dunia hendaklah diraihnya dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki sukses akherat hendaklah diraihnya dengan ilmu, barangsiapa ingin sukses dunia akherat hendaklah diraih dengan ilmu”. (baca hukum menuntut ilmu dalam islam)

[AdSense-C]

  1. Silaturahmi 

Silaturahmi dengan saudara dan kerabat adalah salah satu kunci kesuksesan dan keutamaan menyambung tali silaturahmi sangatlah besar. Demikian yang disebutkan dalam hadits berikut ini

Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)

  1. Rasa syukur

Apapun yang Allah SWT berikan kepada manusia harus disyukuri dan bersyukur atau berterima kasih kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunianya dapat mendatangkan rizki yang lebih dari Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT berikut

Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih” (QS Ibrahim: 7)

  1. Sedekah dengan ikhlas

Sedekah atau memberikan apa yang kita miliki kepada orang lain dengan ikhlas merupakan salah satu pintu rizki dan Allah SWT berjanji untuk melipatgandakan sedekah yang kita keluarkan. Sedekah yangdilakukan tidak boleh ditunjukkan Karen ahal tersebut bisa menyebabkan perbuatan riya. Keutamaan bersedekah disebutkan Allah SWT dalam ayat berikut ini

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 261)

Demikianlah beberapa kunci sukses menurut islam. Intinya untuk menggapai kesuksesan dunia akhirat maka berusaha dan berdoa dengan tetap istiqomah adalah kunci dalam meraih kesuksesan tersebut.