Hukum Operasi Ganti Kelamin dalam Islam

Operasi ganti kelamin adalah perlakuan pembedahan medis yang bertujuan untuk mengubah jenis kelamin laki-laki menjadi seorang perempuan dan sebagainya. Dalam fase pertama saat mengubah jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan, dokter akan mengangkat zakar (penis) dengan kedua buah pelirnya. Selanjutnya tim dokter akan membuat vagina dan membesarkan payudara pasien tersebut.

Sedangkan ketika merubah perempuan menjadi laki-laki, dokter akan mengangkat payudara, mendisfungsikan alat reproduksi wanita dan membuat zakar (penis). Selanjutnya pasien harus menjalani terapi mental dan hormonal. Akhir-akhir ini operasi seperti ini terjadi di negara-negara barat. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor seperti pasien yang sudah tidak betah dengan jenis kelamin atau kesalahan didik sejak kecil seperti yang pernah diungkapkan oleh sejumlah dokter.

Orang yang sengaja melakukan operasi ganti kelamin dengan faktor-faktor tersebut sesungguhnya memiliki jenis kelamin jelas, mereka bukanlah manusia-manusia berkelamin ganda.

Sudah sangat jelas bahwa operasi ganti kelamin sangat diharamkan oleh Islam sebab termasuk dosa besar karena menghianati Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam. Berikut adalah dalil-dalil yang mengatur hukum operasi ganti kelamin dalam Islam :

Dalil Al-Quran

  1. QS An-Nisa’ 4:119-120

Aku (iblis) akan berusaha menyesatkan manusia, membuai mereka dengan angan kososng dan menyuruh manusia untuk memotong telinga hewan ternak dan menyuruh mereka merubah ciptaan Allah. Dan barangsiapa yang menjadikan syaitan sebagai pelindung selain daripada Allah, maka ia akan merugi. Syaitan memberi janji dan angan padahal hanya sebuah tipuan belaka. Apabila perbuatan dinisbatkan oleh syaitan berarti hukumnya haram termasuk merubah apa yang sudah diciptakan oleh Allah SWT yakni operasi ganti kelamin.

  1. QS AL-Baqarah 2:216

Boleh jadi kalian sangat membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagi kalian; dan boleh jadi sesuatu yang sangat kalian cintai adalah hal yang buruk bagi kalian. Allah yang tahu, sedang kalian tidak tahu. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa alasan utama seorang  yang berganti jenis kelamin adalah mereka yang tidak suka dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah dan mengganggap bahwa mereka lebih cocok menjadi lawan jenisnya. Perasaan ini adalah perasaan batil yang manusia sendiri tidak mengetahui apa yang cocok bagi dirinya. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan bahwa ada beberapa wanita mengatakan “Andai saja kami laki-laki, kami akan ikut berjihad dan mencapai apa yang dicapai kaum lelaki!”

  1. QS An-Nisa’ 4:32

Janganlah kalin iri pada kelebihan yang Allah berikan kepada ornag lain. Bagi lelaki ada bagian yang diusahakan, dan bagi perempuan ada bagian pula yang diusahakan. Mohon karunia kepada Allah, sebab Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dalil Sunnah

  1. Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma

Rasulullah Shallallahu ‘alaihai wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai lelaki. Dalam hadist ini sudah sangat jelas bahwa mnyerupai lawan jenis adalah haram bahkan pelakunya dilaknat.

[AdSense-B] Sebab operasi ganti kelamin bertujuan untuk menyerupai lawan jenis, maka menjadi haram juga. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, terlaknatnya orang yang menyerupai lawan jenis disebabkan karena akan mengeluarkan sesuatu dari yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

  1. Hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu

Rasulullah bersabda, Allah melaknat wanita bertato, minta ditato, mencabut alis dah merenggangkan giginya agar lebih cantik. Allah melaknt manusia yang merubah ciptaan-Nya. Dalam hadist ini jelas mengharamkan apapun ciptaan Allah yang dirubah hanya untuk sekedar tampil menarik. Tak hanya berlaku untuk wanita, namun juga berlaku untuk laki-laki disebabkan oleh dua hal :

  • Kesamaan ‘illah (alasan) mengubah ciptaa Allag SWR
  • Nabi Muhammad menjelaskan perbuatan yang dilakukan wnaita pada masa beliau seperti menato, mencukur alis dan meregangkan gigi. Namun, tidak disebutkannya laki-laki pada haduts ini buka berarti mereka tidak dilarang, namun hal ini jarang dilakuakn oleh laki-laki. Bila ada mereka juga dilaknat.

Konsekuensi Hukum Bagi yang Melakukan Operasi Ganti Kelamin

[AdSense-A]

  1. Jika penggantian kelamin bertujuan untuk mengobati kelainan, maka hal ini tidak dilarang. Sebab Allah mencipatkan jenis kelamin laki-laki atau wanita, tak ada selain itu. Jika ada seseorang yang memiliki organ lelaki sekaligus perempuan, maka ia hanya lelaki atau perempuan saja. Jika suatu diagnosis menunjukkan sifat yang dominan, maka itulah jenis kelamin yang sebenarnya.
  2. Jika operasi ganti kelamin tersebut hanya untuk menyerupai jenis kelamin, tidak memiliki masalah pada alat kelamin, maka perbuatannya haram. Meskipun orang tersebut nekat melakukannya, maka statusnya tetap pada jenis kelamin sebelumnya atau statusnya di mata Islam tidak berubah. Atau yang lebih jelasnya, apabila sebelum operasi ganti kelamin adalah seorang wanita maka setelah operasi dilaksanakan, ia tetap adalah wanita dimana aturan-aturan wanita masih berlaku baginya. Ia akan jelas dilarang menikah kecuali dengan laki-laki, tidak boleh berduaan kecuali dengan mahram, tidak menjadi imam laki-laki baligh, bukan wali dalam pernikahan, kesaksiannya separuh kesaksian laki-laki dan jatah warisannya adalah sebagai perempuan. Demikian pula laki-laki, maka kewajiban-kewajibannya pun sama dengan laki-laki. Bahkan tim medis yang membantu operasi ganti kelamin akan menanggung dosa besar atau artunya biaya operasi tersebut adalah haram.

Operasi ganti kelamin yang diperbolehkan adalah operasi kelamin akibat dari mereka yang memiliki organ kelamin ganda yakni penis dan vagina, maka untuk menegaskan jenis kelamin, ia boleh melakukan operasi ganti kelamin dengan cara menghidupkan organ kelamin dan mematikan organ kelamin yang lain.

Jika seseorang memiliki penis dan vagina, rahim dan ovarium,  maka disarankan untuk mengganti jenis kelaminnya yakni mengangkat penis dan tidak mematikan vaginanya sebab hal ini sesuai dengan organ bagian dalam kelamin yakni rahim dan ovarium. Apabila seseorang memiliki ketidaksempurnaan pada bentuk organ kelamin, misalnya vagina yang tidka berlubang, namun ia memiliki rahim dan ovarium, maka dalam islam, ia boleh melakuan  pemberian lubang pada vagina tersebut begitu juga sebaliknya.

Sebab operasi kelamin untuk perbaikan dan penyempurnaan buka pergantian jenisnya adalah syariat. Bahkan kelainan seperti ini adalah kelainan yang harusnya memang harus diobati. Namun, seperti yang juga sudah disebutkna di atas, apabila pergantian jenis kelamin dengan tujuan merubah ciptaan Allah,maka statusnya dalam Islam dan dari segi hukum adalah sama.

Mahmud Syaltut mengatakan bahwa seorang wanita yang melakukan operasi gati kelmain menjadi laki-laki, maka ia tidka akan menerima warisan sama ukurannya dengan wanita begitu juga sebaliknya. Sedangkan menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhubahwa menyatakan apabilanhukum waris orang dengan kelamin ganda berdasarkan kecenderungan sifat dan tingkah laku, maka setelah melakukan operasi ganti kelamin, hak-hak tersebut menjadi lebih tegas.

Perbaikan dan penyempurnaan tersebut sangat dibutuhkan untuk kejelasan dan ketegasan status hukumnya di mata syraiat Islam.

Demikian hukum operasi ganti kelamin dalam Islam.  Dunia Menurut Islam bukan tujuan kebahagiaan yang hakiki. Untuk itu Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam adalah hal yang harus dicapai. Semoga bermanfaat.

Media Sosial Menurut Islam dan Dalilnya

Berbicara mengenai media sosial tentu saja sudah tidak asing lagi di telinga kita ya sobat. Kehidupan manusia di jaman modern seperti sekarang ini, tidak bisa lepas dari media sosial. Namun jika berlebihan juga tidak baik ya sobat. Selain mata kita akan rusak, kita juga merugi karena waktu tersita untuk hal – hal yang kurang bermanfaat.

Bagaimana baik buruknya media sosial juga pasti sudah anda ketahui kan sobat? Baiknya yakni memudahkan anda dalam berkomunikasi tanpa mengenal jarak dan waktu. Untuk buruknya sendiri sampai saat ini sangat memprihatinkan sobat, banyak sekali informasi palsu alias hoax bahasa kerennya.

Hal ini akan menjerumuskan anda ke dalam dosa jika anda ikut serta menyebar luaskan atau pun sekedar mengobrolkan dengan orang lain (gosip). Untuk itu anda harus mengetahui bagaimana cara menghindari ghibah agar tidak terjerumus dalam perbuatan dosa.

Berikut ini sabda Rasulullah Saw :

“Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Mereka (para shahabah) menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasulullah saw melanjutkan: Engkau menyebut (membicarakan) saudaramu tentang sesuatu yang ia benci. Shahabah bertanya: Bagaimana jika yang ku bicarakan itu memang benar adanya? Rasulullah menjawab: Jika yang kamu ceritakan itu memang benar, maka kamu telah melakukan ghibah. Akan tetapi jika yang kamu ceritakan itu tidak benar, maka kamu telah berbohong.” (H.R. Muslim)

Pandangan Islam tentang Media Sosial

Pada artikel kali ini saya bermaksud ingin membagikan sedikit informasi yang saya ketahui mengenai media sosial menurut islam. Jika anda ingin mengetahuinya lebih lanjut dan lebih dalam lagi, yuk kita simak bersama – sama penjelasan di bawah ini sebagai berikut :

Mirisnya penggunaan media sosial sekarang ini banyak yang menyimpang dan digunakan untuk menebar fitnah justru tidak akan membawa manfaat. Banyak pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan keburukan orang lain sebagai modal awal menjatuhkan rivalnya untuk mendapatkan kekuasaan dan untuk keuntungan pribadi atau pun kelompoknya. Terdapat ayat yang menjelaskan mengenai hal ini :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. Al-Hujurat ayat 12)

Jika informasi yang disebar luaskan di media sosial termasuk atau pun terindikasi sebagai fitnah belaka, maka anda yang ikut serta membuat atau pun menyebarkan bisa dikategorikan sebagai orang yang keji sobat. Dalam ayat Al – Qur’ an dijelaskan bahwasannya :

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al – Baqarah : 191)

[AdSense-B]

Manfaat Baik Media Sosial dalam Pandangan Islam

Media sosial menurut islam diperbolehkan sobat, dengan catatan mengetahui bagaimana batasan – batasannya, wajib santun, mengetahui etika dan bijak dalam bermedia sosial. Berikut ini beberapa manfaat yang bisa diambil dalam pandangan Islam :

  • Media Penyambung Silaturahmi

Silaturahmi merupakan aktivitas yang dianjurkan oleh agama Islam. hukum silaturahmi menurut islam sendiri adalah wajib. Anda bisa bayangkan bukan sebelum adanya media sosial untuk menjalin silaturahmi jarak jauh itu rasanya sangat sulit? Dengan adanya kemajuan teknologi, aktivitas silaturahmi bisa tetap terjalin meskipun anda terpisahkan jarak yang jauh dengan orang tua, keluarga, saudara, dan teman.

“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga.” (HR Bukhari dan HR. Muslim dari Abu Ayyub al-Anshari)

  • Sebagai Media Untuk Membagikan Karya Tulis

[AdSense-A] Jika anda mempunyai hobi menulis asalkan itu dengan tujuan yang positif untuk menebar manfaat bagi kehidupan umat, tentu saja dianjurkan dalam Islam. Karena Allah memerintahkan kepada hamba – Nya untuk berilmu dan bisa bermanfaat bagi sesama. Ingat manusia diciptakan oleh Allah Swt sebagai makhluk sosial yang sudah menjadi kewajiban untuk membantu orang lain bahkan bisa bermanfaat.

Selain anda menulis untuk menyalurkan hobi, namun disisi lain anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang lumayan banyak jika anda memang mau menekuni dunia menulis tersebut. Peluang seperti ini bisa anda manfaatkan untuk mencari rejeki sekaligus membagikan manfaat.

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” (QS. Al – Isra : 7)

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath – Thabrani, ad – Daruqutni)

  • Sebagai Media Untuk Berbisnis

Dalam berbisnis, dalam Islam juga sudah mengajarkan untuk berperilaku jujur sebagai wadah pencari rejeki. Begitu pula dengan media social bisa dimanfaatkan untuk wadah transaksi bisnis seperti jualan online sehingga memudahkan anda mencari rejeki dijalan Allah Swt. Anda bisa meneladani bagaimana cara berdagang rasulullah agar mendapatkan keberkahan dalam kehidupan anda ya sobat.

Zaman seperti sekarang ini yang merubah drastis perilaku masyarakat untuk mendapatkan segala hal dengan mudah tanpa harus repot – repot datang langsung ke toko atau pun tempat lainnya. Perilaku semacam ini memang sangat berpeluang digunakan sebagai ladang bisnis online. Lihat saja banyak orang yang berlomba – lomba berjualan online karena memang hasilnya cukup menjajikan. Hal positif seperti inilah yang bisa dijadikan sebagai contoh untuk menjunjung tinggi syariat Islam.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali gengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An Nisa : 29)

  • Sebagai Media Untuk Berdakwah

Media sosial sangat cocok digunakan sebagai media dakwah atau pun menyampaikan ajaran Islam. Jadi ilmu yang anda punyai bisa dilihat dan dibaca oleh semua orang yang berada di seluruh penjuru dunia. Untuk berjuang di jalan Allah terasa lebih mudah dengan tulisan – tulisan yang kita buat.

Yang terpenting tulisan tersebut mudah dimengerti dan disertai dengan sumber – sumber seperti ayat atau pun hadits sebagai pelengkap. ciri ciri dakwah yang baik memang wajib disertakan sumber – sumber sebagai dasar untuk menyakinkan seseorang bahwa apa yang kita informasikan adalah benar adanya sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dengan mengajak dan menyerukan informasi berbentuk tulidan melalui media social termasuk salah satu ibadah yang baik dan akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Ini artinya media social membawa manfaat baik ya sobat.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru menuju Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Fushshilat : 33)

“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108)

  • Media Sosial Sebagai Sumber Informasi

Jika anda menggunakan media sosial untuk mencari informasi yang bermanfaat, pastinya akan sangat membantu anda untuk menambah wawasan, seperti halnya untk mendalami ilmu agama yang anda punya. Tidak perlu buku bertumpuk – tumpuk anda sudah bisa mendapatkan semua informasi yang anda inginkan.

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Dapat diambil kesimpulan bahwa artikel mengenai media sosial menurut islam yang sudah diulas di atas secara detail dan dikemas dengan baik diharapkan bisa membantu memudahkan anda dalam mempelajari serta memahaminya lebih dalam lagi sehingga layak dijadikan sebagai sumber referensi.

Sampai disini dulu ya artikel kali ini yang membahas mengenai media sosial menurut islam. Semoga bisa bermanfaat bagi sobat sekalian dan terima kasih sudah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca artikel saya ini. Sampai jumpa di artikel lainnya.

Hukum Wanita Berambut Pendek dan Dalilnya

Rambut merupakan mahkota yang wajib dijaga keberadaannya bagi setiap manusia. Karena rambut itu sudah seperti perhiasan. Tanpa adanya rambut manusia akan terlihat ada yang kurang. Maka anda sebagai hambanya yang bertakwa wajib menjaga nikmat tersebut dan selalu mensyukurinya.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim 14 : 7)

Terlebih lagi rambut bagi perempuan merupakan komponen penting yang wajib dijaga. Meskipun dalam syariat Islam sudah diajarkan untuk menutup aurat termasuk rambut bagi wanita, tetap saja rambut penting bagi kaum hawa. Berbagai model pun digunakan sesuai dengan selera masing – masing individu. Baca juga mengenai hukum mewarnai rambut bagi wanita.

Ada yang senang dengan rambut pendek, agak pendek, agak panjang dan panjang. Warnanya pun bermacam – macam menyesuaikan dengan keinginan. Yang terpenting tidak menyerupai ciptaan Allah seperti halnya mewarnainya dengan warna hitam (menyemir). Karena hukum semir rambut warna hitam sudah sangat jelas dilarang dalam syariat Islam karena menyerupai dengan Maha Karya Allah Sang Segala Pencipta alam dan seisinya.

Sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir uban adalah hinna’ (pacar) dan katm (inai).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i)

“Dulu kami menyemir uban kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan wars dan za’faron”. (HR. Ahmad dan Al Bazzar)

Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim)

Meskipun wanita diwajibkan menutup semua bagian auratnya, tetap saja dalam islam banyak ulama yang mempunyai pandangan – pandangan terhadap hal ini. Lantas bagaimana menurut pandangan Islam sendiri mengenai hukum memendekkan rambut bagi kaum hawa sendiri?

Sebenarnya di dalam Al – Qur’an atau pun Hadits tidak terdapat larangan atau pun perintah jelas dan spesifik mengenai memendekkan rambut bagi kaum hawa. Berarti memang tidak ada ketentuan haram atau pun halal menyangkut permasalahan ini. Baca juga mengenai hukum mewarnai rambut dalam islam.

Berbeda lagi pada saat menjalankan ibadah seperti halnya haji atau pun umroh, wanita diwajibkan untuk melakukan pemotongan terhadap rambutnya sendiri dengan jumlah beberapa helai saja saat sedang di tahalul.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita (keluarga) orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka (ke seluruh tubuh mereka) jilbab mereka. Hal itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal (sebagai para wanita muslimah yang terhormat dan merdeka) sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al – Ahzab ayat : 59)

Pada artikel kali ini saya bermaksud ingin membagikan sedikit informasi yang saya ketahui mengenai hukum wanita berambut pendek. Jika anda ingin mengetahuinya lebih lanjut dan lebih dalam lagi, yuk kita simak bersama – sama penjelasan di bawah ini sebagai berikut :

[AdSense-B]

Bolehkah Wanita Berambut Pendek?

Dalam Islam sendiri rambut panjang atau pun pendek bagi wanita tidak ada larangan, yang menjadi perhatian adalah disunahkan untuk merapikannya. Mengingat perintah Allah Swt bagi kaum hawa untuk menutup auratnya termasuk rambut, jadi rambut pendek pun tidak menjadi masalah. Baca juga mengenai hukum menyambung rambut.

Yang terpenting sebagai wanita mengedepankan selera suaminya. Karena membahagiakan suami sama halnya dengan ibadah. Jadi sesuaikanlah rambut anda dengan selera suami anda. Namun untuk wanita yang belum bersuami bisa mengikuti keinginan sendiri saja. Seperti halnya hadits di bawah ini  :

Abu Hurairah pernah berkata bahwa Rasulullah saw pernah ditanya,

Wahai Rasulullah, apakah kriteria wanita yang paling baik itu?” Rasulullah saw lalu menjawab, “Wanita yang paling baik adalah wanita yang apabila suaminya memandangnya ia merasa senang dan menaatinya bila ia diperintah, serta menjaga kemaslahatan jiwa dan harta suami dari hal-hal yang ia tidak sukai. “(HR. An – Nasai)

[AdSense-A] Sedangkan memanjangkan rambut sendiri merupakan perbuatan yang disunahkan. Karena Rasulullah sendiri juga dahulu kala melakukan hal tersebut. Dengan mengikuti apa yang Rasulullah lakukan sama halnya anda melakukan suatu ibadah dan akan mendapatkan kebaikan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al – Ahzab : 21)

Mengenai perihal memanjangkan rambut sendiri terdapat hadits yang menjelaskan bahwasannya Rasulullah Saw rambutnya mempunyai panjang sampai menyentuh bahu.

Dari Bara’ bin Azib, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (HR. Muslim)

Dengan memanjangkan rambut saja tidak cukup ya sobat. Jika anda memutuskan untuk memanjangkan rambut, namun tidak disertai dengan melakukan perawatan sehingga bentuknya menjadi lebih rapi, maka sebaiknya anda urungkan niat sobat tersebut. Karena rambut pendek mungkin akan jauh lebih cocok bagi anda yang tidak ingin ribet dengan rambut yang panjang dan berbagai keribetan saat harus merapikan atau pun merawatnya.

“Agama Islam itu adalah (agama) yang bersih atau suci, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan. Sesungguhnya tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang yang suci.” (HR. Baihaqi)

Pendapat Para Ulama Mengenai Hukum Wanita Berambut Pendek

Menghadapi masalah ini para ulama mempunyai selisih pendapat mengenai perihal hukum memendekkan rambut bagi kaum hawa. Ulama Syafi’iyah mempunyai pendapat bahwa seorang wanita diperbolehkan untuk memendekkan rambut yang terdapat kepala sebagaimana yang sudah disebutkan dalam Roudhotuth Tholibin 1 : 382. Baca juga mengenai hukum potong rambut saat puasa.

Para ulama mengungkapkan dalilnya berdasarkan dengan riwayat dari Abu Salmah bin ‘Abdurrahman, ia berkata, “Aku pernah menemui ‘Aisyah bersama saudara sepersusuan ‘Aisyah. Dia bertanya pada ‘Aisyah mengenai mandi janabah yang dilakukan oleh Nabi Saw.”

Saudaranya pun tadi juga berkata,

“Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi mengambil rambut kepalanya (artinya: memendekkannya) sampai ada yang tidak melebihi ujung telinga.” (HR. Muslim no. 320).

Imam Nawawi berkata,

“Ini dalil yang menunjukkan bolehnya memendekkan rambut bagi wanita.” (Syarh Muslim, 4: 5)

Hukum Wanita Menggunduli Rambut

Melihat penjelasan sebelumnya memang memendekkan rambut diperbolehkan dalam agama, namun berbeda dengan membotakkan rambut. Anda bisa menyimaknya pada hadits berikut ini :

“Rasulullah SAW melarang wanita mencukur (membotakkan) rambutnya.” (HR Tirmidzi)

Hal ini dilarang karena dengan wanita melakukan pencukuran pada rambut yang di kepalanya sambai botak sama halnya dengan suatu kejadian yang merupakan kebiasaan dari masyarakat jahiliyah dulu. Penggundulan rambut tersebut dilakukan oleh masyarakat jahiliyah digunakan sebagai penanda bahwa mereka semua sedang dalam keadaan berkabung karena adanya kematian.

Perbuatan yang dianggap menyerupai kaum kafir atau pun kaum jahiliyah sama saja, semuanya diharamkan. Karena perbuatan yang dianggap meniru pada suatu kaum seperti halnya kaum jahiliyah, sama hanya dengan menjadi salah satu bagian atau pun anggota dari kaum – kaum tersebut.

“Siapa yang meniru-niru suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR Abu Daud)

Disamping itu dengan mengambil keputusan untuk melakukan penggundulan terhadap rambut bagi kaum hawa, Rasulullah Saw juga dengan tindakan tegasnya mengatakan bahwa perilaku tersebut dilarang. Dengan penampilan rambut gundul, maka wanita akan menyerupai laki – laki, begitu alasan Rasulullah.

Meskipun pada dasarnya memang para kaum haum mempunyai kewajiban untuk mengenakan hijab sehingga rambutnya tidak akan kelihatan. Tetap saja alasan tersebut tidak diterima karena sudah dijelaskan pada penjelasan kaum jahiliyah tadi.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita dan (melaknat) wanita yang menyerupai lelaki.” (HR Bukhari)

Namun anda bisa lihat pada sosok perempuan jaman sekarang memang sudah banyak yang memendekkan rambutnya bahkan meniru model potongan rambut cowok. Perilaku tersebut jangan ditiru ya sobat semua. Karena Hadits Riwayat Bukhari di atas sudah sangat jelas melarang.

Jika dilihat dari segi manapun, apakah pantas wanita memendekkan rambutnya sampai menyerupai paras laki – laki. Seorang suami pun pasti kurang senang melihat kondisi istrinya dengan rambut yang sangat pendek layaknya seorang pria seperti itu. Baca juga mengenai cara menjaga kebersihan diri wanita dalam islam.

Dapat diambil kesimpulan bahwa artikel yang sudah saya bahas di atas mengenai hukum wanita berambut pendek yang sudah diulas tersebut secara detail dan dikemas dengan baik, diharapkan bisa cukup membantu memudahkan anda dalam rangka mempelajari serta memahaminya lebih dalam lagi, sehingga layak dijadikan sebagai salah satu sumber referensi terbaik.

Sampai disini dulu ya artikel kali ini yang membahas mengenai hukum wanita berambut pendek. Semoga bisa bermanfaat bagi sobat sekalian dan terima kasih sudah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca artikel saya ini. Sampai jumpa di artikel lainnya.

Hukum Berenang Bagi Wanita dan Dalilnya

Berenang merupakan salah satu olahraga yang cukup populer di kalangan masyarakat. Banyak juga masyarakat yang hobi untuk berenang bahkan banyak juga yang ingin menjadi atlet. Bagaimana jadinya jika seorang perempuan ingin menjadi atlet renang sedangkan jika berenang identik dengan pakaian ketat yang menonjolkan lekuk tubuh.

Karena kostum tersebut memang sudah ditetapkan guna mempermudah aktivitas berenang. Apabila menggunakan pakaian yang longgar juga akan mempersulit ruang gerak anda saat berenang. Nah melihat permasalahan ini, bagaimana ya hukum berenang bagi wanita? Bahwasannya ciri ciri wanita baik menurut islam ialah yang selalu mengedepankan semua perintah Allah Swt dan mampu menjaganya dengan baik.

Nah dalam Islam sendiri sudah sangat jelas memerintahkan bagi kaum hawa untuk tidak mengumbar auratnya dan berkewajiban menutupnya secara keseluruhan untuk melindungi dirinya sendiri.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita (keluarga) orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka (ke seluruh tubuh mereka) jilbab mereka. Hal itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal (sebagai para wanita muslimah yang terhormat dan merdeka) sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al – Ahzab ayat : 59)

Melihat penjelasan dari firman Allah di atas sudah jelas bukan, bagaimana seorang wanita wajib menjaga auratnya. Aktivitas kerja yang begitu padat terkadang memang membuat para kaum hawa ingin menyegarkan tubuh dan pikirannya dengan berenang.

Sebenenarnya berenang bagi wanita tidak menjadi masalah. Yang terpenting dan wajib diperhatikan ialah berenang di tempat yang sepi atau pun privat. Agar orang lain yang bukan mukhrim anda tidak melihat bentuk tubuh anda ketika sedang berenang.

Inilah yang menjadi kendala, jika ingin berenang di tempat sepi mau tidak mau anda harus mempunyai kolam renang pribadi yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun jika ingin berenang di tempat private sama saja, harus mengeluarkan budget ekstra. Karena biasanya kolam renang private adanya di hotel – hotel berbintang. Baca juga mengenai hukum wanita tidak berhijab.

Hukum Berenang Bagi Wanita

Pada artikel kali ini saya bermaksud ingin membagikan sedikit informasi yang saya ketahui mengenai hukum berenang bagi wanita. Jika anda ingin mengetahuinya lebih lanjut dan lebih dalam lagi, yuk kita simak bersama – sama penjelasan di bawah ini sebagai berikut :

Pada zaman Rasulullah dulu, beliau melarang para wanita untuk datang dan bahkan mandi pemandian umum atau isltilahnya hammaam. Anda bisa melihat sabda Rasulullah berikut ini untuk memperkuat pernyataan mengenai larangan tersebut :

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia memasukkan istrinya ke dalan hammaam (tempat pemandian umum).”  (HR. At – Tirmidi no. 2801)

Kemudian dilanjutkan dengan sabda selanjutnya :

Wanita mana yang melepaskan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka dia telah merusak hubungan antara dirinya dengan Allah.” (HR Abu Dawud no. 4012 dan At-Tirmidzi no. 2803)

Meskipun para wanita berenang di tempat yang sepi, tetap saja tidak diperbolehkan menggunakan pakaian yang ketat, apalagi berpakaian minim layaknya orang – orang kafir.

“Janganlah seorang laki-laki melihat kepada aurat laki-laki lain dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita lain.” (HR Muslim no. 338)

[AdSense-B]

Syarat yang Perlu Dipenuhi Bagi Wanita yang Akan Berenang

Jika memang tetap ingin berenang sebaiknya anda memperhatikan hal – hal di bawah ini yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan :

  • Wanita Wajib Menjaga Kehormatannya

Menjaga kehormatan diri seorang wanita memang sudah menjadi suatu kewajiban dan keharusan ya sobat. Jika memang terpaksa ingin sekali berenang, tetapi hanya mampu berenang di tempat umum, maka anda wajib menggunakan pakaian yang tertutup dan tidak ketat. Sehingga tidak menimbulkan pandangan – pandangan haram yang dipertontonkan untuk kaum adam. Nah anda bisa melihat firman Allah mengenai hal ini. Baca juga mengenai manfaat jilbab menurut islam dan sains.

[AdSense-A] “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nur : 31)

  • Tidak Menggunakan Kolam Renang yang Berbaur Dengan Lawan Jenis

Meskipun anda tidak menggunakan pakaian ketat, tetap saja jika berbaur dengan lawan jenis akan mengundang daya tarik. Sehingga pandangan laki – laki pun tidak bisa terjaga dan menjurus ke hal – hal yang menimbulkan dosa.

Coba saja anda perhatikan, seberapa lebar pakaian yang dikenakan, jika terkena air dan kemudian anda keluar dari kolam renang. Tetap saja pakaian akan menempel ke badan karena basah. Bentuk tubuh anda pun akan terlihat dan menimbulkan daya tarik bagi kaum adam. Perintah mengenai menjaga aurat, merupakan salah satu tanda bahwa kasih sayang allah kepada wanita sangatlah besar.

Firman Allah yang diperuntukkan bagi wanita agar menjaga diri dari pandangan laki – laki  yang bisa mewakili poin ini ialah sebagai berikut :

“Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At Tahrim : 12)

  • Carilah Kolam Renang Umum yang Aman 

Maksud dari aman disini ialah aman dari pandangan kaum adam dan tempatnya tertutup sehingga sangat sulit untuk dilihat orang dari luar area kolam renang. Namun untuk mendapatkan kolam renang dengan syarat seperti ini cukup sulit sobat. Apa salahnya mencoba mencari terlebih dahulu. Baca juga mengenai kasih sayang allah kepada hambanya.

Firman Allah Swt mengenai menjaga diri agar selalu aman bisa anda lihat di bawah ini :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

  • Mendapatkan Izin dari Wali atau pun Suami

Sebagai wanita tentu saja menjadi tanggung jawab wali atau pun suami. Bagi para wanita yang belum menikah, tanggung jawab berada di pundak seorang ayah atau pun kakak. Namun bagi para wanita yang sudah bersuami tentu saja tanggung jawab berada di pundak sang suami.

Untuk itu alangkan baiknya jika anda menginginkan aktivitas pergi berenang, sebelumnya minta izin terlebih dahulu kepada wali anda atau pun suami anda. Karena mengikuti perintah wali atau pun suami hukumnya wajib, dengan catatan perintah tersebut masih berda di jalan yang Allah Swt ridhoi. Baca juga mengenai cara berpakaian wanita muslimah.

Izin memang sangat penting, perihal izin tersebut juga dijelaskan dalam Hadits :

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Nah jika and sudah bisa memenuhi persyaratan di atas, dengan catatan sudah mendapatkan persetujuan atau pun izin, silahkan anda pergi berenang. Namun jika tidak mendapatkan izin, jangan sekali – kali anda memaksakannya, semua itu juga demi kebaikan anda.

[AdSense-C]

Saran Bagi Anda yang Ingin Membuka Kolam Renang Umum

Sebelumnya saya mohon maaf dan tidak bermaksud untuk menggurui, namun saya hanya bermaksud untuk memberikan saran bagi anda yang berkeinginan untuk membuat dan membuka kolam renang umum, alangkah baiknya memperhatikan hal – hal di bawah ini :

  • Kolam renang sudah selayaknya tertutup, sehingga sangat sulit untuk dilihat atau bahkan dijadikan sebagai tontonan umum.
  • Bedakan kolam renang wanita dan laki – laki untuk menghindari dosa.
  • Terdapat tempat ganti pakaian yang tertutup dan tentunya aman.
  • Menyediakan pakaian khusus berdasarkan syariat Islam, sehingga penggunanya merasa nyaman dan tidak menimbulkan dosa.

Dapat diambil kesimpulan bahwa artikel mengenai hukum berenang bagi wanita yang sudah diulas di atas secara detail dan dikemas dengan baik diharapkan bisa membantu memudahkan anda dalam mempelajari serta memahaminya lebih dalam lagi sehingga layak dijadikan sebagai sumber referensi.

Sampai disini dulu ya artikel kali ini yang membahas mengenai hukum berenang bagi wanita. Semoga bisa bermanfaat bagi sobat sekalian dan terima kasih sudah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca artikel saya ini. Sampai jumpa di artikel lainnya.

Fotografi dalam Islam – Hukum – Dalil

Fotografi pada zaman sekarang sudah tidak asing lagi di kehidupan masyarakat. Kemana pun, dimanapun dan kapan pun mereka berada atau pun bepergian pasti akan mengabadikan momen – momen tersebut. Terlebih lagi sekarang ini terdapat media sosial yang begitu penting keberadaannya dan tidak bisa terlepas dari kehidupan masyarakat.

Dengan adanya media sosial sekarang ini, banyak dimanfaatkan untuk ajang share foto di setiap momen yang ada, baik saat makan, kumpul keluarga atau pun saat jalan – jalan. Hal ini sudah sangat lazim dilakukan. Disinilah hubungan erat antara fotografi dengan kehidupan manusia masa kini. Baca juga mengenai jual beli terlarang dalam islam.

Pandangan Islam tentang Fotografi

Fotografi berbeda dengan menggambar. Kalau hukum menggambar makhluk hidup memang sudah jelas dilarang oleh agama Islam. Karena membuat sesuatu yang menyerupai bentuk ciptaan Allah Swt. Namun fotografi hanya mengambil gambar yang ada tanpa adanya proses pembuatan sesuatu menyerupai bentuk ciptaan Allah Swt.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Siapakah yang lebih zholim daripada orang yang berkehendak mencipta seperti ciptaan-Ku. Coba mereka menciptakan lalat atau semut kecil (jika mereka memang mampu)!” (HR. Bukhari no. 5953 dan Muslim no. 2111, juga Ahmad 2: 259, dan ini adalah lafazhnya)

Selanjutnya juga ada riwayat drai Abu Hurairah :

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Siapakah yang lebih zholim daripada orang yang mencipta seperti ciptaan-Ku. Coba mereka menciptakan semut kecil, biji atau gandum (jika mereka memang mampu)! ” (HR. Bukhari no. 7559)

“Jibril alaihis salam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. An-Nasai no. 5365)

Pada artikel kali ini saya akan mencoba membahas mengenai fotografi dalam Islam, jika anda ingin mengetahui infomasi seputar fotografi dalam Islam lebih dalam lagi yuk kita simak penjelasan dan ulasan di bawah ini ya sobat semua :

Menurut jumhur ulama mutaakhirin (masa sekarang ini) seperti Syekh Bakhit Muthi’i, Syekh Jadul Haq Ali Jadul haq, Syekh Ali Al-Sais, Syekh Yusuf Al-qardhawi, Syekh  Mutawalli sya’rawi, Syekh Ramadhan al-Bouty dan Syekh Ali Jumah bahwasannya mengenai penjelasan hukum fotografi sendiri ialah mubah (diperbolehkan) selama proses pembuatannya tidak menyimpang dari semua syariat yang sudah ditentukan dalam Islam.

Para ulama rata-rata mengutarakan pendapatnya bahwa fotografi sendiri tidaklah seperti tashwir (menggambar) seperti yang sudah jelas diharamkan dalam hadits. Proses dan aktivitas yang dilakukan dalam dunia fotografi merupakan hasil rekaman bayangan dan bisa dikatakan lebih menyerupai dengan pembuatan video.

Mengacu pada penjelasan dari Syekh Ali Al-Sais telah mengibaratkan bahwa foto yang sudah didapatkan dari semua media fotografi seperti halnya seseorang yang sedang berada dan berdiri dihadapan cermin kemudian cermin tersebut secara otomatis akan memantulkan sebuah gambar yang ada di depannya. Baca juga mengenai larangan minuman keras dalam islam.

Hadits yang Menjelaskan Tentang Fotografi

Kemudian timbul sebuah pertanyaan kembali apakah hasil pantulan gambar tersebut bisa dikategorikan gambar yang melukiskan seseorang? Tentu saja fotografi tidak sama dengan menggambar, karena sifatnya hanya menahan bayangan saja seperti halnya kerja cermin.

“Foto dari kamera bukanlah menghasilkan gambar baru yang menyerupai ciptaan Allah. Gambar yang terlarang adalah jika mengkreasi gambar baru. Namun gambar kamera adalah gambar ciptaan Allah itu sendiri. Sehingga hal ini tidak termasuk dalam gambar yang nanti diperintahkan untuk ditiupkan ruhnya. Foto yang dihasilkan dari kamera ibarat hasil cermin. Para ulama bersepakat akan bolehnya gambar yang ada di cermin.”

[AdSense-B]

Hadits riwayat muslim :

“setiap mushawwir akan masuk neraka, setiap gambar yang dihasilkannya akan dihidupkan, dan dengannya ia akan diazab”.

Hadits Riwayat Bukhari dari Aisyah :

”Orang yang paling kuat siksaanya di hari kiamat adalah para pelukis yang meniru-niru penciptaan Allah ”

Riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda:

Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 5535)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah tukang penggambar.” (HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Hadits Sa’id bin Abil Hasan

Dari Sa’id bin Abil Hasan, ia berkata, “Aku dahulu pernah berada di sisi Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-. Ketika itu ada seseorang yang mendatangi beliau lantas ia berkata, “Wahai Abu ‘Abbas, aku adalah manusia. Penghasilanku berasal dari hasil karya tanganku. Aku biasa membuat gambar seperti ini.” Ibnu ‘Abbas kemudian berkata, “Tidaklah yang kusampaikan berikut ini selain dari yang pernah kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[AdSense-A] Aku pernah mendengar beliau bersabda, “Barangsiapa yang membuat gambar, Allah akan mengazabnya hingga ia bisa meniupkan ruh pada gambar yang ia buat. Padahal ia tidak bisa meniupkan ruh tersebut selamanya.” Wajah si pelukis tadi ternyata berubah menjadi kuning. Kata Ibnu ‘Abbas, “Jika engkau masih tetap ingin melukis, maka gambarlah pohon atau segala sesuatu yang tidak memiliki ruh.” (HR. Bukhari no. 2225)

Nah setelah membaca sedikit ulasan di atas, pasti anda akan lebih paham perbedaan antara foto dengan gambar sehingga anda bisa tenang jika mempunyai hobi fotografi atau pun bekerja dan menggeluti bidang fotografi. Baca juga mengenai larangan berpacaran dalam islam.

Faktor yang Memicu Fotografi Menjadi Dilarang

Tidak selamanya fotografi diperbolehkan dalam Islam. Perlu anda ingat, fotografi diperbolehkan asalkan masih mengacu pada perintah, ajaran dan syariat Islam. Berarti hal tersebut perlu anda garis bawahi ya sobat, agar tidak keliru dalam mengasumsikan fotografi.

“Hadits yang membicarakan hukum gambar itu umum, baik dengan melukis dengan tangan atau dengan alat seperti kamera. Lalu ulama yang melarang membantah ulama yang membolehkan foto kamera dengan menyatakan bahwa alasan yang dikemukakan hanyalah logika dan tidak bisa membantah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga mengharamkan dengan alasan bahwa foto hasil kamera masih tetap disebut shuroh (gambar) walaupun dihasilkan dari alat, tetapi tetap sama-sama disebut demikian.” (Syaikh Sholeh Al Fauzan –hafizhohullah dari kitab Ad Durun Nadhid karya Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 18 Muharram 1433 H)

Namun perlu diingat ya bahwasannya jika melakukan fotografi tetap harus mengacu kepada syariat agama Islam. Dilarang memotret objek yang dilarang seperti halnya wanita dengan kondisi telanjang bulat, berpakaian tidak semestinya atau pun hal – hal lain yang menjeremus ke perbuatan dosa.

Hal – hal yang menjurus ke perbuatan dosa seperti ini biasanya diperuntukkan dalam hal pembuatan majalah surat kabar dan juga iklan produk guna menarik pelanggan untuk membeli. Padahal disisi lain fotografi yang seperti ini di larang dalam hukum Islam.

Kemudian apabila anda sebagai pecinta foto dengan sengaja mengambil gambar – gambar yang tidak pantas tanpa sepengetahuan atau pun dengan sepengetahuan seseorang sama saja tetap dilarang oleh agama. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya foto wanita yang tidak selayaknya difoto ya sobat semua. Harap diperhatikan dan dijadikan sebagai warning agar sobat semua tidak salah langkah saat menggeluti dunia fotografi. Baca juga mengenai larangan tidur setelah shalat shubuh.

Untuk lebih jelasnya anda bisa menanyakan masalah ini kepada ulama atau pun tokoh agama di lingkungan anda agar lebih mantap ya sobat. Seperti firman Allah Swt berikut ini si surat An Nahl ayat 43 :

“Tanyalah kepada orang yang mengetahui jika engkau tidak mengetahuinya.” (QS. An Nahl : 43)

Dengan melihat ayat tersebut, bisa semakin meyakinkan anda bahwasannya Allah memang mempersiapkan segala masalah yang mungkin timbul dalam kehidupan sehari – hari, baik itu hal yang sudah kita alami sampai hal yang belum kita ketahui sudah dijelaskan secara lengkap di dalam Al Qur’an. Sekarang tinggal dari diri kita sendiri sobat, kapan mau bersungguh – sungguh mempelajari sekaligus memahami Al Qur’an sebagai pedoman hidup kita semua khususnya umat muslim.

[AdSense-C]

Sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita semua untuk lebih serius memahami isi dan makna daripada Al – Qur’an. Agar nantinya jika menghadapi berbagai macam masalah kehidupan, anda bisa menemukan solusi dan berpikir secara bijak.

Dapat diambil kesimpulan bahwa artikel mengenai fotografi dalam Islam yang sudah diulas di atas secara detail dan dikemas dengan baik diharapkan bisa membantu memudahkan anda dalam mempelajari serta memahaminya lebih dalam lagi sehingga layak dijadikan sebagai sumber referensi.

Sampai disini dulu ya sobat, artikel kali ini yang membahas mengenai fotografi dalam Islam. Semoga bisa bermanfaat bagi sobat sekalian dan terima kasih sudah meluangkan sedikit waktunya untuk membaca artikel saya ini. Sampai jumpa di artikel lainnya.

Hukum Demokrasi Dalam Islam dan Dalilnya

Arti dari kata demokrasi yaitu berasal dari bahasa Yunani. Dimana demokrasi ini terdiri dari dua kata, yaitu Demos yang artinya rakyat atau khalayak manusia, dan Kratia yang artinya hukum. Maka dapat diartikan demokrasi merupakan hukum rakyat, dari sini jelas demokrasi bukan merupakan bahasa Arab.

Sedangkan berdasarkan pengusung dan pencetusnya, demokrasi merupakan pemerintahan rakyat artinya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan rakyat merupakan pemegan kekuasaan mutlak, dan ini dapat diartikan sangat bertentangan dengan aqidah dan syari’at Islam. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 57 yang artinya:

“ Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS Al-An’am [6] : 57)

Pandangan Islam tentang Demokrasi

Kenapa sistem demokrasi bertentangan dengan Islam? Karena demokrasi ini tidak berlandaskan hukum yang merujuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Melainkan sistem ini telah meletakkan sumber hukumnya kepada rakyat beserta para wakilnya.

Sistem demokrasi ini tidak berpatokan pada kesepakatan semuanya, melainkan mengambil suara terbanyak. Meskipun nantinya akan bertentangan dengan agama, akal dan fitrah sistem demokrasi ini telah menjadikan kesepakatan mayoritas sebagai Undang-Undang yang wajib untuk dipegang oleh masyarakatnya.

Sedangkan Allah telah berfirman dalam surat Al-An’am seperti yang telah disebutkan di atas bahwa yang dapat menetapkan hukum hanyalah Dia dan Allah merupakan sebaik-baiknya penetap hukum. Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga melarang hamba-Nya untuk menyekutukan-Nya dalam menentukan apapun terlebih dalam menetapkan hukum dan Dia menyatakan bahwa tak satupun orang yang dapat melebihi kebaikan hukum-Nya. Baca juga mengenai hukum sunat bagi anak perempuan dalam islam.

Dalil Islam

Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Ghafir ayat 12 dan surat Yusuf ayat 40 yang artinya:

“ Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Ghafir :12)

“ Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Yusuf : 40)

Dari kedua ayat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang boleh membuat keputusan. Di bawah ini juga ada beberapa ayat yang menjelaskan bahwa demokrasi sangat bertentangan dengan Islam.

1. Surat At-Tin Ayat 8

Jika membahas mengenai demokrasi pasti anda akan tertuju pada keadilan. Nah dalam hal keadilan Allah lah hakim yang paling adil. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an.

“ Bukankan Allah hakim yang seadil-adilnya?” (QS At-Tin : 8)

[AdSense-B]

2. Surat Al-Kahfi Ayat 26

Dalam hal memberikan keputusan Allah memang yang terbaik. Karena tidak akan berpihak kemanapun. Berikut ini diperkuat dengan ayat di dalam Al Qur’an :

“ Katakanlah: ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.’” (QS Al-Kahfi : 26)

3. Surat Al-Maidah Ayat 50

Dibandingkan dengan hukum yang ada di seluruh dunia ini, hukum Allah lah yang paling baik. Hal ini diperkuat dengan penjelasan di dalam Al Qur’an :

“ Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah : 50)

4. Surat Al-Maidah Ayat 44

Dalam rangka memngambil keputusan, dianjurkan untuk mengikuti dan berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt.

“ Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS Al-Maidah : 44)

5. Surat As-Syura Ayat 21

“ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS As-Syura : 21)

[AdSense-A]

6. Surat An-Nisa Ayat 65

Pada hakikatnya orang – orang beriman dalam menentukan sesuatu sudah selayaknya berlandaskan semua ajaran Allah Swt.

“ Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS An-Nisa : 65)

Menurut Islam, demokrasi dikategorikan ke dalam undang-undang Thagut, dan Allah memerintahkan kita hamba-Nya untuk mengingkarinya. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 256, surat An-Nahl ayat 36 dan surat An-Nisa ayat 51 yang artinya:

“ (Oleh karena itu) barang siapa yang mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul (tali) yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 256)

“ Dan sesugguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thagut itu.” (QS An-Nahl : 36)

“ Apakah kamu tidak memperhatian orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thagut, dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa : 51)

Dari sini sudah jelas bahwa demokrasi sangat bertentangan dengan Islam dan keduanya tidak akan pernah menyatu untuk selama-lamanya. Untuk itu kita hanya memiliki dua pilihan, memilih beriman kepada Allah dan menganut hukum-Nya atau mungkin beriman kepada thagut dan menganut hukumnya. Apapun yang berselisih dengan syari’at Allah pasti itu berasal dari thagut. Baca juga mengenai hukum menyalahkan diri sendiri dalam islam.

Di dalam demokrasi pasti terdapat yang namanya serikat. Serikat disini memiliki dua jenis:

  • Serikat partai (dalam politik)
  • Serikat pemikiran

Yang dimaksud dengan serikat pemikiran yaitu manusia berada di bawah naungan demokrasi, kita bebas memilih keyakinan sesuai dengan kehendak kita sendiri. Bebas untuk murtad (keluar dari Islam), berpindah agama menjadi kristen, yahudi atau bahkan memilih untuk menjadi atheis (hidup tanpa Tuhan atau dapat dikatakan anti Tuhan). Yang intinya ini merupakan murtad yang nyata. Baca juga mengenai hukum mengganggu rumah tangga orang dalam islam.

Allah berfirman dalam surat Muhammad ayat 25-26  dan surat Al-Baqarah ayat 217 yang artinya:

“ Sesungguhnya orang-orang yang  kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaithan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi); Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan, sedang Allah mengetahui rahasia mereka.” (QS Muhammad : 25-26)

“ Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam keadaan kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah : 217)

Sedangkan serikat politik merupakan serikat yang membuka pintu peluang untuk seluruh golongan yang ingin menguasai umat Islam dengan diadakannya pemilu  tanpa mempedulikan keyakinan masyarakat, disini artinya antara muslim dan non muslim disama ratakan. Baca juga mengenai hukum mencintai suami orang dalam diam.

Sedangkan sudah jelas bahwa hal ini sangat berselisih dengan dalil-dalil qath’i atau absolut yang dimana sangat melarang umat Islam untuk menyerahkan bentuk kepemimpinan kepada umat non musmlim atau selain dari umat Islam. Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 141, ayat 59 dan surat Al-Qalam ayat 35-36 yang artinya:

“ Dan Allah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa : 141)

“ Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.” (QS An-Nisa : 59)

“ Maka apakah patut Kami  menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS Al-Qalam : 35-36)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat yang mencpitakan makhluk dan seluruh isi langit dan bumi, maka Dia merupakan satu-satunya Dzat yang mengetahui apapun yang terbaik untuk hamba-Nya dan seperti apa yang layak untuk hamba-Nya.

Sedangkan kita manusia, diberikan keragaman akal, kebiasaan serta akhlak. Kita sebagai manusia tidak mengetahui apapun termasuk apa yang terbaik untuk diri kita sendiri. Maka dari itu, kita sebagai masyarakat jika kita menjadikan rakyat sebagai UU dan pedoman hukum yang akan kita dapatkan hanyalah kerusakan, rusaknya kehidupan sosial kita serta moral kitapun akan runtuh. Baca juga mengenai hukum cicilan dalam islam.

Sebagai catatan, sistem demokrasi ini hanya merupakan dekorasi saja dan lebih parahnya hal ini berlaku di banyak negara. Demokrasi ini digunakan untuk menipu rakyat dan hanya sekedar slogan belaka. Rakyat sendiri tidak memiliki wewenang dan penguasa yang sesunggunya yaitu kepala negara.

Menurut Ulama

Adapun demokrasi menurut pandangan Tokoh Ulama :

[AdSense-C]

  • Menurut Al Madudi

Al Madudi merupakan tokoh ulama yang dengan tegas meolak sistem demokrasi di dalam suatu negara. Karena agama Islam tidak pernah memberikan kekuasaan pada rakyat untuk mengambil keputusan. Karena dalam Islam ada dalil yang kuat untuk memutuskan permasalahan yang timbul dalam pemerintahan. Sementara hukum demokrasi diciptakan oleh manusia itu sendiri sehingga sifatnya sekuler.

  • Menurut Muhammad Imarah

Sama seperti Al Madudi, Muhammd Imarah juga sangat menolak sistem demokrasi dengan tegas. Karena demokrasi bertentangan dengan sistem pemerintahan Islam yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala Sang Pemegang Kekuasaan.

  • Menurut Salim Ali Al-Bahnasawi

Beliau menjelaskan bahwa demokrasi memiliki sisi baik dan sisi buruk. Dimana sisi baiknya yaitu demokrasi memiliki kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan hukum Islam. Sedangkan sisi buruknya yaitu demokrasi mengarahkan suatu sikap yang dapat menghalalkan segala hal bahkan yang haram sekalipun karena adanya kebebasan hak legislatif

Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa demokrasi sangat bertentangan dengan Islam dan itu artinya Islam tidak membenarkan adanya demokrasi karena sistem demokrasi menyalahi syari’at Islam.

Sekian artikel mengenai hukum demokrasi menurut pandangan Islam. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya. Mohon maaf untuk semua kesalahan dalam penulisan dan penulis ucapkan terima kasih karena pembaca telah meluangkan waktunya untuk singgah diartikel ini. Terima kasih dan sampai jumpa.

Hukum Menikahi Anak Di Bawah Umur Dalam Islam

usia ideal menikah dalam islam atau perkawinan tidak diatur secara mutlak berdasarkan hukum Islam. Dalam agama, tidak ada ketentuan khusus mengenai batas usia minimal dan maksimal untuk melakukan pernikahan agar manusia mengatur sendiri tentang hal ini.

Namun, dalam Al-Quran disyari’atkan untuk seseorang yang ingin melangsungkan pernikahan diharuskan orang yang telah mampu dan siap. Allah berfirman dalam surat An-Nur ayat 32 yang artinya:

“ Dan kawinlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nur : 32)

Maksud dari yang layak kawin di sini yaitu seseorang yang sudah mampu baik secara mental maupun spiritual untuk membangun bahtera rumah tangga.  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda yang isinya memberikan anjuran kepada ummatnya untuk melaksanakan pernikahan dengan kemampuan sebagai syaratnya.

“ Kami telah ceritakan dari Umar bin Hafs bin Ghiyats, telah menceritakan kepada kami dari ayahku (Hafs bin Ghiyats), telah menceritakan kepada kami dari al A’masy dia berkata: ‘ Telah menceritakan kepadaku dari ‘Umarah dari Abdurrahman bin Yazid, dia berkata: ‘ Aku masuk bersama ‘Alqamah dan al Aswad ke (rumah) Abdullah, dia berkata: ‘ Ketika aku bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para pemuda dan kami tidak menemukan yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada kami: ‘ Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu telah mampu berumah tangga, maka kawinlah, karena kawin dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa belum mampu, maka hendaklah berpuasa, maka sesungguhnya yang demikian itu dapat mengendalikan hawa nafsu.” (HR Bukhari)

Dari keterangan di atas, maka dapat disimpulkan secara tidak langsung kedewasaan begitu penting dalam suatu pernikahan, dan itu diakui Al-Quran dan Hadits. Sementara itu, dalam ilmu fiqih tanda-tanda usia dewasa seseorang itu ditentukan secara sifat jasmani dengan adanya tanda-tanda baligh diantaranya: untuk laki-laki yaitu berusia sempurna 15 (lima belas) tahun dan ihtilam, sedangkan bagi perempuan yaitu mengalami haid pada batas usia minimal 9 (sembilan) tahun. Baca juga mengenai alasan menikah muda menurut islam.

Batas baligh

Apabila seseorang sudah memenuhi usia baligh, maka seseorang tersebut memungkinkan untuk melangsungkan pernikahan. Karena dalam Islam usia baligh itu identik dengan kedewasaan seseorang.

Beberapa ulama memiliki pendapat yang berbeda dalam menentukan kebalighan atau batasan umur seseorang yang bisa dianggap baligh.

  • Pendapat ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah

“ Anak laki-laki dan anak perempuan dianggap baligh apabila telah menginjak usia 15 tahun.” (Muhammad Jawad Mughniyyah, al Ahwal al Syakhsiyyah, Beirut: Dar al “Ilmi lil Malayain, tt. Hal: 16)

  • Pendapat ulama Hanafiyyah

“ Anak laki-laki dianggap baligh bila berusia 18 tahun dan 17 tahun bagi anak perempuan.” (Ibid)

[AdSense-B]

  • Pendapat ulama golongan Imamiyyah

“ Anak laki-laki dianggap baligh bila berusia 15 tahun dan 9 tahun bagi perempuan.” (Ibid)

Mayoritas dari para ulama berpendapat, bahwa hukum menikahi anak di bawah umur adalah boleh. Bahkan telah disepakati oleh semua ulama yang dkatakan oleh seorang ulama bahwa dibolehkannya menikahi anak di bawah umur. Adapun dalil-dalil yang memperkuat hal ini yaitu:

1. Dalam Surat At-Thalaq

Firman Allah yang berisi penjelasan tentang rincian masa iddah perempuan yang telah di talaq.

“ Para wanita yang sudah tidak lagi haid (manapaus) di antara istri kalian, jika kalian ragu (tentang masa iddahnya) maka masa iddahnya adalah tiga bulan. Demikian pula para wanita yang belum mengalami haid.” (QS At-Thariq : 4)

Dari ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa Allah telah menjelaskan mengenai masa iddah seorang perempuan yang belum mengalami masa haid, adalah dalam waktu tiga bulan. Sedangkan diketahui, tidaklah mungkin seorang perempuan yang belum menikah menjalani masa iddah. Dari sini dapat diartikan, bahwa ini merupakan dalil yang tegas dan menunjukkan bahwa menikahi perempuan yang belum baligh hukumnya boleh. Baca juga mengenai manfaat menikah dalam islam.

Bahkan tafsir Al-Baghawi juga mengatakan:

“ Para wanita yang belum mengalami haid ‘maknyanya adalah gadis kecil yang belum mengalami haid (belum baligh). Masa iddahnya (jika dia dicerai) juga tiga bulan.” (Tafsir al-Baghawi, 8:152)

2. Hadist Riwayat Muslim

Hadits riwayat muslim yang menegaskan tentang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menikahi Aisyah radhiallahu ‘anha.

“ Telah menceritakab kepadaku Yahya bin Yahya, Ishaq bin Ibrahim, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Karib. Yahya dan Ishaq telah berkata: Telah menceritakan kepada kami dan berkata al Akhrani: Telah menceritakan kepadaku Abu Mu’awiyah dari al A’masyi dari ak Aswad daru ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengawiniku pada saat usiaku 6 tahun dan hidup bersama saya pada usiaku 9 tahun dan beliau wafat saat usiaku 18 tahun.” (HR Muslim)

[AdSense-A]

3. Keterangan dan Kesepakatan Ulama (Ijma)

Dalam hal ini beberapa ulama berpendapat dan menegaskan bahwa hukum menikahi anak di bawah umur adalah boleh. Sebagaimana keterangan dari Ibnu Hajar :

“ Gadis kecil, dinikahkan oleh bapaknya dengan sepakat ulama. Tidak ada yang menyelisihi, kecuali pendapat yang asing.” (Fathul Bari, 9:239)

Namun demikian, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa seorang ayah tidak diperbolehkan untuk menikahkan putrinya yang masih belia, kecuali jika putrinya telah baligh dan bersedia untuk dinikahkan. Ibnu Syubrumah adalah salah satu ulama yang berpendapat seperti itu. Dan melalui Ibnu Hazm, Ibnu Syubrumah mengatakan :

“Tidak boleh seorang ayah menikahkan putrinya yang masih kecil, sampai dia baligh dan dia bersedia.” (al-Muhalla, 9:459)

Namun ada pendapat lain, bahwa pernikahan di bawah umur harus ada hak ijbar yakni hak ayah atau kakek (wali) yang akan menikahkan anak gadisnya tanpa harus meminta ijin atau persetujuan lebih dulu kepada anak tersebut, yang penting dia statusnya bukan janda. Baca juga mengenai hukum menikah siri tanpa wali.

Seorang wali (ayah) dapat menikahkan anak gadisnya yang masih belia dan masih perawan yang belum baligh tanpa meminta ijin dan apabila anak gadis tersebut sudah baligh maka tidak ada hak khiyar.

Namun kebalikannya, anak laki-laki yang masih kecil tidak boleh dinikahkan. Kendati demikian, apabila anak gadis menikah di bawah umur maka suaminya tidak boleh langsung menyenggamainya hingga dia mencapai usia baligh dan dewasa sehingga mampu melakukan hubungan badan sebagaimana yang dilakukan suami istri.

Seperti yang kita ketahui, bahwa Abu Bakar radhiallahu ‘anhu telah menikahkan ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika ‘Aisyah masih berumur 6 tahun tanpa meminta ijin terlebih dahulu darinya. Karena persetujuan anak pada umur sekian di anggap tidak sempurna.

Dan mengenai perihal pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menurut para ulama merupakan pengecualian dan merupakan kekhususan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam karena memang Allah telah memperbolehkan Beliau untuk beristri melebihi dari empat orang dan hal itu dilarang untuk diikuti ummatnya. Baca juga mengenai hukum menikah dengan pasangan zina.

Adapun beberapa syarat anak perempuan yang boleh menikah di bawah umur yaitu:

  • Antara wali (ayah atau kakek) dengan anak gadisnya tidak terdapat permusuhan yang real atau nyata.
  • Di antara anak gadis yang akan dinikahkan dengan calon suaminya tidak ada kebencian ataupun permusuhan.
  • Calon suami yang akan dinikahkan harus sesuai dan setara (kufu).
  • Calon suami harus mampu memenuhi dan memberikan mas kawin yang pantas dan layak.

Sedangkan masing-masing negara mempunyai standar sendiri untuk usia pernikahan dan setiap negara berbeda-beda. Namun dalam hal ini, pada dasarnya prinsip dari setiap negara sama yaitu memperhatikan kedewasaan dan kematangan.

Di Indonesia sendiri, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa bahwa usia yang layak melakukan pernikahan yaitu pada usia ketika sudah mampu  menerima hak dan kecakapan dalam berbuat (ahliyatul ada’ dan ahliyatul wujub).

Ahliyatul ‘ada  merupakan sifat kecakapan yang dipunyai oleh seseorang untuk melaksanakan suatu perbuatan dalam pandangan yang syah menurut syara’ baik bersifat positif ataupun negatif. Akal merupakan dasar dari ahliyatul ada’.

Sedangkan ahliyatul wujub merupakan sifat kecakapan yang dimiliki manusia untuk menanggung semua hak dan kewajiban.

Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hukum menikahi anak di bawwah umur menurut pandangan Islam yaitu diperbolehkan. Karena dalam islam tidak ada batas minimal dan maksimal dalam usia pernikahan.

Sebagai contoh saja Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahi ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ketika ‘Aisyah berusia 6 tahun. Namun, seperti yang sudah dijelaskan di atas itu adalah suatu pengecualian untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sekian dulu pembahasan mengenai hukum menikahi anak di bawah umur menurut pandangan Islam. Penulis berharap atikel ini bermanfaat untuk pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya. Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan dan terima kasih telah meluangkan waktunya untuk singgah di artikel ini. Terima kasih dan sampai jumpa.

17 Doa Pembuka Rezeki Dari Segala Penjuru

Manusia yang mana yang tidak pernah mengharapkan rezeki yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Baik rezeki yang berupa materi maupun non materi. Adapun rezeki yang berupa materi yaitu seperti kekayaan, uang yang banyak, gaji yang besar serta jabatan yang tinggi. Sedangkan rezeki yang berupa non materi yaitu misalnya kebahagiaan, keselamatan dan kesehatan. Baca juga mengenai cara memperlancar rezeki menurut islam.

Allah telah menetapkan rezeki masing-masing orang, namun kita juga jangan lupa untuk berusaha dalam mendapatkan rezeki yang telah Allah tetapkan tersebut. Dan sebagai seorang muslim, kita tidak boleh sembarangan dalam menjemput rezeki.

Tentunya harus mengutamakan kehalalan serta keberkahan dari rezeki tersebut. Dengan seperti itu, maka rezeki yang kita dapatkan pun tidak hanya akan bermanfaat di dunia melainkan akan bermanfaat juga di akhirat.  Untuk mendapatkan rezeki tersebut, maka Allah memerintahkan kita tidak hanya dengan usaha tetapi juga harus disertai doa.

Oleh karena itu, dalam menjemput rezeki kita harus memadukan antara doa agar dimudahkan rezeki dengan usaha agar rezeki yang  kita dapatkan melimpah ruah serta halal. Untuk itu kita tidak boleh melupakan doa pembuka rezeki, agar Allah memudahkan usaha yang kita lakukan sehingga sukses dan lancar.

Seperti yang kita ketahui Allah selalu mengabulkan doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh, dan Allah memerintahkan kita untuk meminta apa saja kepada-Nya termasuk dalam urusan harta dan kekayaan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 186 yang artinya:

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah  :186)

Perlu kita tahu dalam bekerja, usaha dan kerja keras saja tidak cukup karena semuanya akan sia-sia tanpa doa. Seperti pepatah orang bijak yang mengatakan “ Usaha Tanpa Doa adalah Sombong dan Doa Tanpa Usaha adalah Kosong”. Semetara Allah memerintahkan kita untuk berusaha dan harus disertai dengan doa pembuka rezeki tentunya. Baca juga mengenai fadhilah surat al waqiah.

Bahkan dalam Al-Quran pun ada salah satu surat yang dapat membuka pintu rezeki kita, surat itu adalaah surat Al-Waqiah. Dengan mengamalkan surat Al-Waqiah pada sore hari, kemudian banyak membaca wirid serta memperbanyak dzikir, rajin menyambung tali silaturahim, serta gemar memberikan sedekah, insyaa Allah rezeki kita akan dilimpahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Baca juga mengenai doa pembuka 12 pintu rezeki.

Selain itu, ada banyak doa yang dapat kita baca untuk membuka rezeki dan kekayaan yang kita inginkan. Untuk lebih lengkapnya, marilah kita simak 17 (tujuh belas) doa pembuka rezeki dari segala penjuru di bawah ini.

1. Terdapat Dalam Surat Al-Maidah Ayat 114

Allahumma rabbanaa anzil ‘alainaa maaidatan minas samaai takuunu lanaa ‘idan liawwalinaa wa aakhirinaa wa aayatan minka warzuqnaa wa anta khairur raaziqiina

Artinya : “ Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama.” (QS Al-Maidah : 114)

2. Terdapat Dalam Surat At-Thalaq Ayat 3

Wayarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, waman yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuhu, innallaha baalighu amrihi, qad ja’alallahu likulli syai-in qadran

Artinya : “ Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah akan mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS At-Thalaq : 3)

[AdSense-B]

3. Terdapat Dalam Surat Al-Qasas Ayat 24

Rabbi innii limaa anzalta ilayya min khairi faqiirun

Artinya : “ Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS Al-Qasas : 24)

4. Terdapat Dalam Hadist Tirmidzi

Allahummak-finii bihalaalika ‘an haraamika, wa ‘aghninii bifadhlika ‘amman shiwaaka

Artinya : “ Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR Tirmidzi)

5. Selanjutnya Juga Terdapat Dalam Hadist Tirmidzi

Allahumma rabbas-samaawaatis-sab’i, wa rabbal ‘arsyil ‘adziim, rabbanaa wa rabba kulla syai-in, wa munzilat-tauraata wal injiila wal quranaana, faaliqal-habba wan nawaa, a’uudzubika min syarra kulla dzii syarra anta aakhidzun binaa shiyatihi, antal awwalu falaisa qablaka syai-un, wa antal aakhiru falaisa ba’daka syai-un, wadzhaahiru falaisa fauqaka syai-un, wal baathinu falaisa duunaka syai-un, iqdi ‘annaddaina waghninii minal faqri

Artinya : “ Ya Allah, Tuhan bagi tujuh lapisan langit, juga Tuhan ‘Arasy yang Agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Quran. Yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghasilkan buah-buahan. Aku mohon berlindung dengan-Mu daripada kejahatan segala sesuatu yang jahat yang ubun-ubunnya dalam genggaman-Mu. Engkaulah yang awal tiada suatu pun sebelum Engkau. Engkaulah yang akhir, tiada suatu pun yang selepas Engkau. Engkaulah yang jahir, tiada suatu pun yang di atas Engkau. Engkaulah yang bathin, tiada suatu pun yang di bawah Engkau. Tunaikanlah hutangku dan berilah aku kekayaan daripada kefakiran.” (HR Tirmidzi)

6. Terdapat Dalam Hadist Muslim

Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa’aafinii, warzuqnii

Artinya : “ Ya Allah  ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku, selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit) dan berikanlah rezeki kepadaku.” (HR Muslim)

[AdSense-A]

7. Doa Pembuka Rezeki yang Ketujuh

Alhamdulillahil ladzii razaqanii haadzaa min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin, Allahumma baarik fiihi

Artinya : “ Segala puji bagi Allah, yang telah memberi rezeki kepadaku dengan tidak ada daya dan kekuatan bagiku, ya Allah semoga Engkau berkahi pada rezekiku.”

8. Terdapat Dalam Hadist Ibnu Majah dan Ahmad

Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalaan

Artinya : “ Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR Ibnu Majah no 925 dan Ahmad 6:305)

9. Doa Pembuka Rezeki yang Kesembilan

Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa athil hayaatii ‘alaa thoo’atika, wa ahsin ‘amalii waghfirlii

Artinya : “ Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Penjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku.”

10. Doa Pembuka Rezeki yang Kesepuluh

Allahumma innii as-aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’abin walaa masyaqqatin walaa dhoirin walaa nahsabin innaka ‘alaa kulli syai-in qadiir

Artinya : “ Ya Allah aku minta pada Engkau akan pemberian rezeki yang halal, luas, baik tidak tanpa repot dan juga tanpa kemelaratan dan tanpa keberatan sesungguhnya Engkau Kuasa atas segala sesuatu.”

11. Doa Pembuka Rezeki yang Kesebelas

Allahummaf tahlii abwaabal khairi, wa abwaaba shalaamati, wa abawaabas shihaati, wa abwaaban ni’mati, wa abwaaba barakati, wa abawaabal quwwati, wa abwaabal mawaddati, wa abwaabar rahmati, wa abwaabar rizqi, wa abwaabal ‘ilmi, wa abwaabal maghfirathi, wa abwaabal jannati, yaa arhamarraahimiin

Artinya : “ Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu kebaikan, pintu-pintu keselamatan, pintu-pintu kesehatan, pintu-pintu ni’mat, pintu-pintu keberkahan, pintu-pintu kekuatan, pintu-pintu cinta sejati, pintu-pintu kasih sayang, pintu-pintu rezeki, pintu-pintu ilmu, pintu-pintu ampunan dan pintu-pintu surga. Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

12. Doa Pembuka Rezeki yang Kedua Belas

Rabbighfirlii wahablii mulkan laa yan baghii li-ahadin min ba’dii, innaka antal wahhaab

Artinya : “ Ya Tuhanku ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah yang Maha Pemberi.

13. Doa Pembuka Rezeki yang Ketiga Belas

Allahumma yaa ghaniyyu yaa hamiidu yaa mubdi’u yaa mu’iidu yaa rahiimu, yaa waduudu aghninii bi halaalika’an haraamika wakfinii bi fadhlika ‘amman siwaaka wa shallallahu ‘alaa muhammadin wa ‘aalihi wa sallama

Artinya : “ Wahai Allah, wahai Dzat yang Maha Kaya, wahai Dzat  yang Maha Terpuji, wahai Dzat yang Memulai, wahai Dzat yang mengembalikan, wahai Dzat yang Mencintai. Cukupilah kami dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu. Cukupilah kami dengan anugerah-Mu dari selain Engkau semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam atas Junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat beliau.”

14. Terdapat Dalam Surat Al-An’am Ayat 95

Innallaha faa liqul habbi wan nawaa yukhrijul hayya minal mayyiti wa mukhrijul mayyiti minal hayyi, dzaalikumullahu fa annaa tu-fakuuna

Artinya : “ Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS Al-An’am : 95)

15. Terdapat Dalam Surat Al-Jin Ayat 28

Liya’lama an qad ablaghuu risaalaati rabbihim waa ahaathaa bimaa ladaihim wa ahshaa kulla syai-in ‘ada daa

Artinya : “ Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu.” (QS Al-Jin : 28)

[AdSense-C]

16. Terdapat Dalam Surat An-Naba’ Ayat 38

Yauma yaquumur ruuhu wal malaaikatu shaffan laa yatakal lamuuna illaa man adzina lahur rahmaanu wa qaala shawaabaan

Artinya : “ Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (QS An-Naba : 38)

17. Doa Pembuka Rezeki yang Terakhir

Laa ilaaha illallahul malikul haqqul mubiin

Artinya : “ Tiada Tuhan selain Allah, yang Maha Raja, Maha Benar, dan Maha Nyata.”

Itulah 17 (tujuh belas) doa pembuka pintu rezeki dari segala penjuru yang berasal dari Al-Quran dan Al-hadist. Semua di paparkan secara jelas, semoga setelah membaca artikel ini pengetahuan kita tentang doa pembuka rezeki semakin bertambah. Baca juga mengenai amalan memperlancar rezeki.

Sekian pembahasan dari artikel kali ini, semoga bermanfaat untuk kita semua. Mohon maaf atas segala kesalahan dalam penulisan dan terima kasih telah meluangkan waktunya untuk singgah di artikel ini. Terima kasih dan sampai jumpa.

15 Keutamaan Bekerja Keras Dalam Islam

Sebagai makhluk Allah Swt yang taat dan selalu menjalankan perintahnya, tentu saja tidak hanya berpangku tangan dengan melakukan doa secara terus menerus tanpa ada unsur usaha (bekerja keras) sedikitpun. Karena Allah berfirman dalam Al Qur’an.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar – Ra’d 13 : 11)

Nah sudah sewajarnya anda selalu berusaha dengan bekerja keras namun diimbangi dengan doa untuk mendapatkan rezeki yang barokah dalam upaya menghidupi keluarga. Niat baik saja yang sudah anda ucapkan untuk melakukan apa saja demi keluarga, Allah akan memberikan kebaikan, apalagi jika anda sudah benar – benar merealisasikan ucapan anda tersebut dengan bekerja keras dan selalu ikhlas menjalaninya. Baca juga mengenai ciri ciri laki laki sholeh menurut islam.

Pada artikel kali ini akan membahas mengenai keutamaan bekerja keras dalam Islam. Untuk mengetahuinya lebih dalam lagi, anda bisa ikut menyimak penjelasan di bawah ini :

1. Menafkahi Keluarga Ternyata Lebih Utama Dibandingkan Dengan Ibadah Sunnah

Hal ini dijelaskan di dalam hadist muslim yakni sebagai berikut :

Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” (HR. Muslim no. 995)

2. Keikhlasan yang Anda Utamakan Dalam Bekerja Akan Menghasilkan Pahala

Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56)

3. Mengupayakan Nafkah Terbaik Bagi Keluarga Sama Halnya Seperti Anda Bersedekah

Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah” (HR. Ahmad 4: 131. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

4. Harta yang Memang Sudah Dinafkahi Akan Mendapatkan Kebarokahan dan Gantinya

Tidaklah para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit.” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

5. Keseriusan dan Kebenaran Nafkah yang Sudah Anda Usahakan Bagi Keluarga Akan Dimintai Pertanggung Jawaban

Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin” (HR. Tirmidzi no. 1705. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya” (HR. Ibnu Hibban 10: 344. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

[AdSense-B]

6. Mengutamakan Nafkah Bagi Keluarga Akan Terhindar Dari Siksa Neraka

Bermanfaat bagi orang lain memang tujuan dari kehidupan. Dengan anda mengutamakan nafkah kepada keluarga, anda akan terhindar dari siksa neraka, karena doa – doa baik yang dipanjatkan keluarga anda serta niat kuat yang anda terapkan. Baca juga mengenai siksa neraka bagi wanita.

Selamatkanlah diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma” (HR. Bukhari no. 1417)

Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka” (HR. Bukhari no 1418 dan Muslim no 2629).

Barangsiapa mengeluarkan hartanya untuk keperluan kedua anak perempuannya, kedua saudara perempuannya atau kepada dua orang kerabat perempuannya dengan mengharap pahala dari Allah, lalu Allah mencukupi mereka dengan karunianya, maka amalan tersebut akan membentengi dirinya dari neraka” (HR. Ahmad 6: 293)

7. Menafkahi Keluarga Dengan Sungguh – Sungguh Merupakan Ladang Amal Bagi Anda

Semua doa baik yang dipanjatkan kepada Allah Swt demi kelancaran anda dalam mencari nafkah merupakan ladang amal bagi anda. Banyaknya anggota keluarga yang mendoakan anda inilah yang menjadi modal awal anda mendapatkan banyak kebaikan. Semakin banyak yang mendoakan, akan semakin berpeluang besar kebaikan – kebaikan datang kepada anda. Baca juga mengenai hukum istri menafkahi suami.

[AdSense-A]

8. Bisa Mengetahui Makna Dari Kehidupan yang Sesungguhnya

Sebagian waktu yang diberikan Allah kepada hamban – Nya, sudah selayaknya digunakan dengan sebaik mungkin untuk hal – hal yang sifatnya positif dan juga bermanfaat untuk banyak orang. Dengan bekerja keras anda akan mengetahui arti sesungguhnya dari kehidupan di dunia yang singkat. Hidup adalah sebuah perjuangan, jadi anda wajib bekerja keras untuk mengubah kualitas hidup keluarga anda menjadi lebih baik lagi. Baca juga mengenai hukum menafkahi orang tua setelah menikah.

9. Bisa Menghargai Hasil yang Sudah Dicapai

Seberapa kecilpun hasil yang sudah didapatkan berkat usaha dan kerja keras selama ini, maka anda akan lebih menghargainya. Karena anda merasakan bagaimana susahnya memperjuangkan suatu hal. Jadi anda akan berpikir berulang kali saat akan menghambur – hamburkannya ke hal yang kurang bermanfaat. Berbeda jika hasil tersebut diperoleh dari pemberian, pasti rasa menghargainya tidak lebih besar dibandingkan menghargai hasil jerih payah sendiri. Baca juga mengenai hukum suami tidak menafkahi istri dalam islam.

10. Mengetahui Bagaimana Beratnya Perjuangan Orang Tua Untuk Menghidupi Keluarga

Setelah anda beranjak dewasa dan sudah mulai memasuki dunia kerja, pasti akan bisa berpikir bagaimana dulu perjuangan orang tua anda untuk menafkahi anak – anaknya. Anda akan lebih menghormati kedua orang tua karena merasakan sendiri bagaimana jerih payah saat bekerja.

Selanjutnya anda akan menyesali semua perilaku yang dulu pernah anda lakukan dan seringkali mungkin membuat orang tua menjadi terbebani. Misalnya saja saat anda banyak menuntut untuk dibelikan barang – barang yang anda inginkan. Pelajaran yang anda dapatkan di dunia kerja ini, akan sangat ampuh menjadi tamparan bagi anda kelak.

11. Bisa Menjaga Kehormatan dan Kemulian Diri Sendiri

Bayangkan saja apabila anda hanya berpangku tangan di rumah dan tidak mempunyai penghasilan. Pasti akan banyak orang yang meremehkan anda karena dianggap tidak berguna bagi keluarga. Image anda akan menjadi buruk. Hal ini biasanya terjadi saat anda memang hanya bisa bermalas – malasan dan tidak berupaya untuk memperjuangkan suatu hal seperti halnya pekerjaan.

“Apabila Rasulullah Saw melihat seseorang, kemudian merasa takjub, maka beliau bertanya, ‘Apakah ia bekerja? Jika orang-orang menjawab, “Tidak”; maka laki-laki akan jatuh hina di mata beliau Saw. Para sahabat kemudian bertanya, “Bagaimana seperti itu, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika seorang mukmin tidak memiliki kerja (profesi), maka ia akan hidup dengan mengandalkan hutangnya.” (Kitab Al-Jaami’ juz 1/34)

12. Saat Bertemu Allah Kelak Wajah Akan Tampak Berseri – Seri

Wajah berseri – seri tidak hanya di dapatkan karena anda selalu menjaga diri dalam keadaan selalu berwudhu. Melainkan bisa diperoleh dengan cara bekerja keras dengan niatan untuk menafkahi dan menghidupi keluarga.

“Barangsiapa mencari kehidupan dunia yang halal dan baik, maka ia akan menjumpai Allah swt dengan muka berseri-seri bagaikan rembulan purnama.” (Muqaddimah Dustur, hal. 278)

13. Menutup Dosa – Dosa yang Pernah Dilakukan

“Di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa ditutupi dengan puasa dan sholat.” Para sahabat bertanya, “Lantas, apa yang bisa menutupi dosa itu Ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Keseriusan dalam mencari rejeki.” (Muqaddimah Dustur, hal. 278)

14. Berpeluang Besar Doa yang Dipanjatkan Bisa Terkabul

“Barangsiapa mempunyai satu keinginan (yaitu kehidupan akherat), niscaya Allah akan mencukupkan kehidupan yang diinginkannya di dunia. Barangsiapa yang keinginannya bercabang-cabang, maka Allah tidak akan mempedulikan kebinasaannya di lembah manapun di dunia ini.” (HR. Hakim, Baihaqiy, dan Ibnu Majah)

15. Kehidupan Anda Menjadi Lebih Seimbang

Coba saja anda bayangkan jika hidup anda hanya diisi dengan bermalas – malasan saja, apakah hal tersebut bisa dikatakan seimbang? Keseimbangan itu bisa anda peroleh dengan mengisi hari – hari anda untuk melakukan hal  hal yang bermanfaat dan sebagian waktunya bisa anda gunakan untuk beristirahat. Inilah yang bisa dikatakan sebagai hidup seimbang.

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan.” (QS. An – Naba : 10-11)

16. Bisa Dikatakan Akan Sejajar Dengan Para Syuhada

“Pedagang yang amanah dan benar akan bersama dengan para syuhada di hari Kiamat nanti.” (HR Ibnu Majah dan Al Hakim)

Dapat diambil kesimpulan bahwa artikel kali ini yang membahas mengenai keutamaan bekerja keras dalam islam mungkin bisa anda jadikan sebagai bahan referensi dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan pengetahuan baru. Sampai disini dulu ya, semoga artikel ini bisa bermanfaat. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel kali ini. Sampai jumpa di lain kesempatan.

Hukum Menyindir Orang Dalam Islam dan Dalilnya

Fungsi agama Islam adalah agama Rahmatan lil ‘alamin yang didalamnya sudah diatur begitu banyak aspek kehidupan di dunia. Agar semua itu bisa diatur, maka diperlukan dasar hukum Islam serta peraturan yang sudah disusun rapi dalam Al Quran, sunnah Rasulullah SAW, ijma ulama, qiyas dan sebagainya. Hal ini juga berlaku dengan hukum menjaga seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan dosa besar dalam Islam mulai dari menjaga mata, mulut, lidah, hidung, perut, kemaluan, kaki dan bagian tubuh lain sehingga selalu berbuat kebaikan dan terlindungi dari berbagai perbuatan tercela seperti contohnya menyindir orang yang akan kita ulas dalam kesempatan kali ini.

Apabila dilihat dari bahasa, menyindir merupakan mencela atau mengejek orang lain secara tidak langsung. Dalam kaca mata Islam seperti dalam buku Al-fiqhu Al-islam Wa Adillatuhu karangan  Ust. Dr. Wahbah Zuhaili dijelaskan jika Al Umuru Bimaqoshidiha yang berarti segala permasalahan tergantung tujuan atau niat. Dalam hal ini, menyindir orang lain dengan tujuan yang hina seperti balas dendam, syirik dalam Islam, iri atau dengki pada orang yang kita sindir, maka hal tersebut tidak diperbolehkan agama.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain., karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk gelar ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman..” (QS. al-Hujurat:11).

Sebaliknya, jika perbuatan menyindir orang lain bertujuan sesuatu hal yang baik seperti merubah sikap dan juga akhlak yang dimiliki, maka hal tersebut dianjurkan oleh agama namun tetap tidak boleh memakai cara yang menyakitkan hati.

Rasulullah SAW bersabda, Janganlah kamu saling benci-membenci, dengki-mendengki dan sindir-menyindir. Jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Haram seseorang muslim berkelahi dengan saudaranya lebih dari tiga hari lamanya. [Hadits Anas bin Malik r.a]

“Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya), akan dilempar ke neraka sejauh antara timur dan barat.” [Riwayat Muslim]

“Hai orang orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok olok kaum yang lain karena bisa jadi mereka yang diperolok lebih baik dari yang mengolok, dan jangan pula wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain., karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk gelar ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman” [QS. al-Hujurat:11].

Namun, dari beberapa hadits diatas juga diungkapkan jika menyindir orang lain tanpa alasan yang belum pasti akan mendapat balasan berupa dilempar ke dalam neraka sejauh Timur dan Barat. Hal ini memperlihatkan jika sindir menyindir sebenarnya adalah perbuatan yang harus dijauhi dan diharamkan dalam Islam dan melanggar keutamaan menjaga lisan dalam Islam.

Sindiran merupakan sesuatu yang tajam dan sangat pedih sehingga akan masuk ke dalam hati dan membuat orang tersebut terluka dan luka tersebut bahkan sangat sulit dihilangkan serta menjadi bentuk kedzoliman. Sindiran yang sering terjadi pada pergaulan dalam Islam juga bisa mengakibatkan sesuatu yang buruk seperti prasangkan tidak baik bagi orang yang mendengarnya atau membaca sindiran yang dilontarkan sampai akhirnya mereka juga ikut bersikap atas sindiran yang diberikan tersebut.

Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah mengumpat satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”[QS. Al-Hujuuraat: Ayat 12]

[AdSense-B]

”Janganlah kamu berbicara dengan ucapan yang buruk, janganlah kamu sindir menyindir, janganlah kamu memperdengarkan kabar orang lain dan janganlah sebahagian kamu menjual atas jualan sebahagian yang lain. Sementara itu, jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.”[HR. Bukhari dan Muslim]

  • Menyindir Dengan Mengolok Olok

Allah SWT melarang suatu golongan menyindir golongan lain dengan cara mengolok olok sebab perbuatan tersebut sangat tercela karena terjadi dari rasa bangga pada diri sendiri dalam melontarkan sindiran tersebut dan sifat inilah yang akan mengakibatkan banyak permusuhan diantara teman atau sahabat.

Selain melarang umat muslim untuk saling menyindir antara sesama, manfaat membaca Al Quran juga memberi anjuran pada wanita supaya tidak berbuat hal yang demikian karena pada dasarnya perbuatan menyindir seringkali terjadi antar sesama perempuan yang pada awalnya diperuntukan pada seluruh orang namun secara khusus ditujukan pada wanita.

Menyindir dengan cara mengolok olok pada dasarnya adalah menghina kehormatan orang lain, padahal belum tentu orang yang menyindir lebih mulia di sisi Allah dibandingkan orang yang tersindir.

Sifat saling sindir menyindir ini sebenarnya bukan tujuan penciptaan manusia dan sama dengan menipu pandangan mata atau orang yang sering berpikir dangkal seperti seseorang yang cantik menghina yang jelek, orang kaya menghina yang miskin, orang muda menghina yang tua dan sebagainya. Akan tetapi, norma semacam ini bukanlah hakekat yang sebetulnya dan bukan menjadi ukuran kehormatan seseorang.

  • Menyindir Dengan Mencela

Allah SWT juga sudah melarang kaum muslim untuk menyindir dengan cara mencela sebab sesama umat muslim adalah bersaudara. Jika ada seseorang yang mencela saudaranya maka ini mengartikan ia sudah mencela dirinya sendiri.

“Janganlah kamu mencela dirimu sendiri”, sengaja dalam ungkapan ini Allah memakai gaya bahasa yang halus agar dapat dirasakan oleh kaum muslimin, dan agar mereka mau menyadari bahwa antara sesama muslim adalah saudara. Antara saudara harus bersatu dan saling menjaga kehormatan masing-masing, dan harus mawas diri terhadap segala upaya yang menghendaki perpecahan.”

Perbuatan saling sindir menyindir dengan cara mencela sudah menjadi ciri jaman sekarang yang telah menjadi penyakit masyarakat dan orang orang yang melakukan hal ini maka mengartikan mereka tidak pernah menanggapi larangan yang Allah SWT sudah berikan pada perbuatan dosa ini.

[AdSense-A]

Adab Memberi Nasehat Atau Menyindir

Saat seseorang ingin memberi nasehat dengan cara menyindir, maka harus dilakukan dengan adab yang akan menjadi penentu dari diterima atau tidaknya sindiran dan nasehat tersebut.

  1. Mengharapkan Ridha Allah SWT

Apabila seseorang ingin menyindir dengan tujuan memberikan nasehat, maka itu dilakukan semata mata hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT dengan tujuan untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka (hakikat) hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.”[HR. Bukhari dan Muslim]

  1. Tidak Mempermalukan Dalam Menyindir

Saat ingin memberi nasehat dengan cara menyindir, maka harus dilakukan dengan tidak mempermalukan orang tersebut. Inilah yang seringkali menjadi musibah pada banyak orang saat ia memberikan sindiran dengan nada kasar yang hanya akan memperburuk keadaan.

  1. Menyindir Secara Rahasia

Memberikan sindiran untuk tujuan yang baik juga tidak boleh dilakukan secara terang terangan seperti layaknya sedang menyampaikan ceramah. Sindiran harus disampaikan dengan rahasia pada orang tersebut untuk memperbaiki kesalahan yang sudah diperbuat. Seseorang hanya bisa menerima sindiran untuk membangun saat sedang sendiri dengan suasana hati yang sedang baik dan tidak dilakukan didepan banyak orang serta tidak keluar dari sumber pokok ajaran Islam.

“Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)

  1. Menyindir Dengan Halus dan Sopan

Memberikan sindiran untuk tujuan yang baik juga harus dilakukan dengan halus dan sopan sebab penerima sindiran diibaratkan seperti membuka pintu. Pintu tidak akan terbuka kecuali dibuka dengan kunci yang benar dan seseorang yang akan disindir adalah pemilik hati yang masih terkunci dari sebuah perkara dan apabila perkara tersebut adalah yang diperintahkan Allah SWT, maka ia tidak akan melaksanakannya dan jika perkara tersebut adalah larangan Allah SWT, maka ia akan melanggarnya.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. [HR. Muslim]

Hukum dalam menyindir orang lain dalam Islam sangat diharamkan jika sindiran dilakukan karena perasaan iri, ingin balas dendam, ingin memperolok atau menghina orang yang disindir. Namun jika sindiran disampaikan dengan cara halus, sesuai adab dan tidak melanggar hukum menyakiti hati orang lain dalam Islam yang dilakukan untuk memperbaiki akhlak orang tersebut, maka agama menganjurkan selama tujuannya adalah baik namun tetap harus memperhatikan beberapa adab diatas.