17 Keutamaan Istri Melayani Suami

Sebagai seorang wanita, salah satu tujuan dalam pernikahan adalah saling berkasih sayang dalam rangka ibadah kepada Allah. Wanita sudah memiliki kodrat dibimbing dan dipimpin oleh lelaki, dalam rumah tangga memiliki kewajiban mutlak melayani suami. Melayani tersebut mencakup semua aspek, mulai dari menyiapkan keperluan sehari hari, menyediakan makanan yang menyenangkan lidah suami, menjalankan perintah suami, serta melayani suami dalam urusan saling berkasih sayang.

Allah menciptakan suami sebagai mahkluk yang indah dan dimuliakan. Seorang wanita yang mendapat anugrah dari Allah dengan diberikan seorang suami padanya merupakan hal terindah yang wajib disyukuri sebab seorang suami tersebut yang akan menjadi pendamping di sisa hidupnya hingga di akherat nanti.

Sebagai wujud rasa syukur tersebut, seorang istri wajib mewujudkannya dengan memberi pelayanan yang terbaik untuk suaminya yang termasuk salah satu tips disayang suami dalam islam. Tidak ada keringanan dalam hal apapun, misalnya dalam kondisi lelah atau sedih, seorang istri tetap wajib bersikap lembut, bertutur kata baik, serta menampilkan wajah yang berseri di hadapan suaminya. Sebab terdapat 17 keutamaan istri melayani suami yang merupakan kewajiban mutlak, berikut uraian dan penjelasannya menurut berbagai hadist dan firman Allah, yuk kita simak dan pahami bersama :

1. Hak Lelaki

Keutamaan istri melayani suami ialah hal tersebut merupakan hak mutlak suami. Suami memiliki hak sebagai seorang pemimpin yang memiliki tanggung jawab sebagai kewajiban laki laki setelah menikah. Tanggung jawab tersebut berlaku di dunia dan di akherat dan lelaki mendapat kenikmatan pula sebagai seseorang yang lebih tinggi kuasanya di hadapan istri serta memiliki hak besar pula atas istrinya. “Suami itu pelindung bagi wanita (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) di atas sebagian yang lain (wanita)”. (QS An Nisa : 34)

2. Lelaki Dilebihkan Oleh Allah

Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka (istri)”. (QS Al Baqarah : 228). Lelaki dilebihkan oleh Allah di atas istrinya, sebab itu lelaki berhak memerintah apapun sesuai keinginanya dan berhak meminta pelayanan dalam hal apapun kepada istrinya. Jika seorang istri tidak melayani dengan ikhlas, merupakan ciri ciri istri durhakan pada suami.

3. Wujud Taat pada Suami

Setelah orang tua atau wali menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka kewajiban taat wanita tersebut dalam melayani suami menjadi kewajiban tertinggi setelah kewajiban taat kepada Allah dan Rasul Nya. “Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya”. (HR Timidzi no. 1159). Hadist tersebut menjelaskan betapa besarnya nilai ketaatan seorang istri, sebab itu keutamaan istri melayani suami adalah sebuah kewajiban mutlak sebab ia telah diserahkan oleh orang tuanya kepada suaminya.

4. Jalan Masuk Surga

Dan seorang istri yang taat pada suami nya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya”. (Hadist Hasan Shahih no.1296). Taatnya seorang istri terwujud dalam sikapnya yang menjalani perintah suami serta melayani suami tanpa mengeluh, penuh keihklasan, serta meniatkan segalanya karena Allah. Istri wajib melayani dan menerima suami dalam keadaan apapun sebab hal itu termasuk ciri ciri istri shalehah dan menjadi jalan masuk surga.

5. Kasih Sayang kepada Suami

Wanita yang menjadi penghuni surga ialah yang penuh kasih sayang, banyak kembali kepada suaminya yang apabila suaminya marah ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata : aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha”. (Mu’jamul Ausath no.5644). Ciri wanita penghuni surga ialah yang memiliki rasa kasih sayang terhadap suami yang diwujudkan dengan melayani suami dengan sungguh sungguh sebab hanya mengharap ridho dari suaminya.

[AdSense-B]

6. Wujud Kehidupan di Akherat

Perhatikan bagaimana hubunganmu dengannya karena suami merupakan surgamu dan nerakamu”. (HR Ahmad). Hadist tersebut menjelaskan tentang gambaran kehidupan seorang istri di akherat, seorang mukmin wanita yang melayani suaminya dengan sebaik mungkin hingga mendapat ridho dari suaminya tersebut akan mendapatkan sruga sebagai balasan Allah atas ketaatan pada suaminya, begitu pula sebaliknya.

7. Mencegah Laknat

Keutamaan istri melayani suami salah satunya adalah dalam hubungannya dengan bersetubuh sebagai bentuk berkasih sayang, dalam kondisi selain yang diperbolehkan dalam syariat islam, seorang wanita tidak diperkenankan untuk menolak keinginan suami untuk dilayani. “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk bersetubuh dan istri menolaknya hingga suaminya murka, maka si istri akan dilaknat oleh malaikat hingga waktu subuh”. (HR Muslim no.1436)

8. Merupakan Ridho Allah

Seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya”. (Al  Mawaarid no. 1290). Jelas dari firman tersebut bahwa mendapat pelayanan adalah hak dari seorang suami dari istrinya dan menjadi lebih utama  dari segala bentuk amalan serta merupakan salah satu tips menikah dalam islam agar mendapat ridho Allah.

[AdSense-A]

9. Menyenangkan Suami

Keutamaan istri melayani suami ialah untuk menyenangkan suami, suami yang senang akan istri akan berdampak pula kepada istri yaitu akan mendapat keseimbangan dalam kasih sayang serta merasakan kesempurnaan dalam kehidupan rumah tangga. “Suami memiliki hak untuk bersenang senang dengan istrinya setiap hari sekaligus merupakan kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya setiap saat”. (Syarah Shahih Muslim).

10. Lebih Tinggi dari Amalan Sunnah

Hak suami merupakan kewajiban bagi istri. Melaksanakan kewajiban harus didahulukan daripada melaksanakan amalan sunnah”. (Fathul Baari). Penjelasan dari hadist tersebut ialah melayani suami merupakan hal yang lebih utama dari seorang seorang istri daripada menjalankan sebuah amalan sunnah, misalnya ialah ketika istri ingin menjalanakan puasa sunnah tetapi suami ingin dilayani di waktu tersebut maka istri harus mendahulukan untuk melayani suaminya.

11. Mendapat Pahala Jihad

Seorang wanita tidak perlu berperang untuk mendapat pahala jihad, cukup dengan melayani suami dengan sungguh dan senantiasa mampu memberikan kesenangan pada suami, akan mendapat pahala dari Allah seperti pahala jihad. “Seorang suami yang pulang ke rumah dalam keadaan gelisah dan tidak tentram, kemudian sang istri menghiburnya, maka ia akan mendapatkan setengah dari pahala jihad”. (HR Muslim).

12. Tanggung Jawab Istri

Keutamaan istri melayani suami adalah tanggung jawab seorang wanita kepada suaminya yang kelak akan dipertanyakan di akherat. jika istri tidak menjalankan tanggung jawabnya tersebut maka ia tidak mampu menjadi istri sholehah untuk suaminya. “Dan wanita adalah pelayan untuk suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban”. (HR Bukhari Muslim).

13. Ridho Suami adalah Ridho Allah

Seorang istri yang melayani suami dalam hal apapun dan dalam kondisi apapun baik dalam kondisi lelah tetap memberikan yang terbaik untuk suaminya hingga suaminya merasa amat membutuhkan serta menenangkan dirinya, akan mendapat ridho Allah hingga ia meninggal sebab segala urusan yang dilakukannya memiliki pahala lebih sebagai balasan ketataan dan keihklasan dalam melayani suaminya. “Istri yang meninggal dunia dan suaminya ridho terhadapnya maka ia masuk surga”. (HR Tirmidzi).

14. Jauh dari Laknat Allah

Siapa saja di kalangan istri yang tidak berbakti dalam melayani suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia”. (HR Muslim). Jelas dari firman tersebut bahwa seorang wanita yang tidak sungguh sungguh dalam melayani suami akan dilaknak oleh Allah dan seluruh alam, hal demikian misalnya ialah tidak mau melayani jika tidak diberi imbalan dan sejenisnya.  Maka wanita tersebut tidak ikhlas dalam melayani suaminya sehingga tidak mendapat ridho suami dan menjadi penyebab hilangnya ridho Allah padanya pula.

[AdSense-C]

15. Syarat Diterimanya Shalat

Keutamaan istri melayani suami ialah dalam hal diterimanya amal perbuatan, sungguh sia sia bagi seorang wanita yang menjalankan ibadah kepada Allah seperti shalat tetapi kurang sempurna dalam kesungguhan melayani suaminya. Jika hingga membuat suaminya marah, maka amalannya tidak aakn diterima sampai wanita tersebut mendapat maaf dari suaminya. “Allah tidak menerima shalat istri yang dimurkai oleh suami hingga suaminya memafkannya”. (HR Muslim).

16. Memuliakan Suami

Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita setelah hak Allah daripada hak suami”. (Majmu ‘Al Fatawa). Seorang istri wajib memuliakan suaminya dengan cara melayani suami yang memang sudah menjadi hak suaminya secara lahir batin. Dalam tindakan dan perbuatan wajib dilakukan dengan kelembutan, dan dalam hati senantiasa menjalankan dengan bahagia dan mengharap ridho suaminya. Tidak ada urusan yang utama dari hal yang demikian.

17. Ciri Wanita Terbaik

Wanita terbaik yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelesihi sesuai pada diri dan hartanya. Serta melayani suami sebaik mungkin dan menjauhkan suami dari benci”. (HR Ahmad). Wanita terbaik yang disebut oleh rasulullah seperti dalam hadist ialah yang terbaik pelayanannya kepada suaminya. Wanita tersebut ialah contoh teladan wanita sholehah yang menjadi sosok terbaik di mata suami, Allah, dan RasulNya.

Demikian artikel kali ini mengenai 17 keutamaan istri melayani suami, sebagai seorang wanita wajib mensyukuri kehadiran suami dan mewujudkannya dengan memberikan pelayanan yang terbaik untuk suami. Bagi wanita yang sholeh, tidak ada yang lebih indah melebihi kebahagiaan dan ridho suami untuknya.

Semoga artikel ini dapat membuka hati untuk memperbaiki diri dengan meningkkan kualitas pelayanan kepada suami. Melayani suami dengan kesungguhan secara lahir dan batin. Terima kasih sudah membaca. Salam hangat dari penulis.

10 Tips Menikah Dalam Islam Yang Wajib Diketahui

Menikah merupakan salah satu sunnah Rasul yang di anjurkan kepada umat manusia dalam membangun rumah tangga dalam islam . Menikah juga menjadi salah satu jalan dalam menyempurnakan iman serta akan mendapatkan pertolongan dari allah. Seperti yang tercantum dalam hadist berikut :

Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah, budak yang menebus dirinya dari tuannya, pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.” 
(HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim).

Seperti Adam dan Hawa Allah SWT menciptakan jagad raya dan seisinya secara berpasang-pasangan sebagai bukti dan tanda kebesaran serta cinta menurut islam seperti yang tercantum dalam QS. Dzariyaat ayat 49 yang berbunyi :

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”  
[QS. Adz Dzariyaat (51):49].

Sebagai agama yang sempurna islam dengan jelas telah mengatur semua aspek kehidupan termasuk juga tentang pernikahan. Dalam fiqih pernikahan   bertujuan untuk menyatukan dua insan (laki-laki dan wanita) yang telah siap secara lahir dan batin dalam sebuah ikatan suci yang sah menurut agama dan di mata hukum. Dari pernikahan ini diharapkan akan tercipta keluarga yang bahagia dan memiliki keturunan yang berguna bagi nusa dan bangsa.

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain”  
(HR. Abdurrazak dan Baihaqi).

Pernikahan adalah menyatukan dua pihak yakni laki-laki dan perempuan sesuai dengan hukum pernikahan  . Karenanya untuk bisa mencapai jalan ridho Allah dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang sakinah, mawaadah, dan warohmah.

Berikut tips menikah dalam islam yang wajib di ketahui. Selengkapnya akan diuraikan secara lengkap dibawah ini.

1. Berusaha Membenahi Diri Ke Arah Yang Lebih Baik

Setiap manusia baik laki-laki dan perempuan tentu mendambakan pasangan yang sholeh atau sholehah. Namun, tentunya hal tersebut tidak bisa diperoleh jika didalam diri anda tidak berusaha untuk menjadi lebih baik dalam segala aspek. Dalam QS An-Nur ayat 29 Allah SWT berfirman :

“Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu:Surga)” 
[QS. An Nuur (24):26].

Dalam surat tersebut dijelaskan secara jelas bahwa Allah SWT menciptakan jodoh sesuai dengan cerminan diri anda. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Sehingga tentunya untuk bisa memperoleh jodoh yang sholeh dan sholehah dalam hal keimanannya, anda harus mulai meniatkan diri untuk memperbaiki diri. Dengan begitu maka Allah SWT akan mendatangkan jodoh yang baik bagi anda.

2. Bekali Diri Dengan Ilmu

Ilmu bukan hanya menjadi bekal anda di dunia namun juga ilmu merupakan salah satu kunci sukses dalam pernikahan dalam membangun keluarga Samara (Sakinah, Mawadah, Warohmah). Baik seorang suami ataupun istri hendaknya membekali diri dengan ilmu tentang pernikahan. Baik tata cara pernikahan yang syari, syarat-syarat pernikahan, sunnah-sunnah dalam pernikahan, serta hak dan kewajiban istri terhadap suami dalam islam  ataupun kewajiban suami terhadap istri dalam islam. Dengan memahami itu semua, maka kehidupan pernikahan anda dipastikan akan selalu rukun, damai dan tenteram.

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”  [QS. Al Mujadalah: 11]

3. Kesiapan Materi 

Tidak dipungkiri bahwa materi atau harta merupakan salah satu pertimbang seseorang untuk menikah. Karena dalam kehidupan ini, materi merupakan hal yang harus dipenuhi untuk dapat menjalankan kehidupan. Minimal harta yang harus dimiliki adalah untuk memenuhi kewajiban seperti mahar, mengadakan walimah dan tentu memberi nafkah kepada istri dan anak-anak kelak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” [HR. Ahmad, Abu Dawud]. [AdSense-B]

4. Perencanaan Rumah Tangga 

Namun, tentunya jangan sampai materi ini menjadi patokan untuk menunda pernikahan karena merasa harta yang dimiliki belum cukup. Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita untuk hidup secara Qanaah (cukup) yang artinya jangan hanya berorientasi pada harta dan materi sehingga menjadikan anda pemuja harta.

Selain itu juga rumah tangga merupakan sebuah organisasi, sehingga diperlukan manajemen perencanaan yang terstruktur. Manajemen yang tertata rapi akan bisa membuat kehidupan rumah tangga kedepannya menjadi sejahtera dan bahagia. Dari Abdillah bin Amr sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

“sungguh beruntung orang yang masuk islam dan rizkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang pemberian Allah” (HR Muslim).

5. Menentukan Pilihan Hati 

Menikah berarti anda mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup bukan hanya dalam waktu sehari, seminggu ataupun setahun namun seumur hidup. Tentu saja dalam hal ini anda harus membuat pilihan yang benar-benar hati-hatu,penuh pertimbang dan teliti. Jangan sampai kemudian kehidupan pernikahan anda harua berakhir  karena faktor ketidakcocokan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius : nikah, cerai dan ruju’ ” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali Nasa’i).  [AdSense-A]

6. Kriteria Pilihan Terbaik 

Kriteris pilihan terbaik yang utama adalah tentu aqidah atau agamanya. Baik bagi laki-laki ataupun wanita berikut beberapa kriteria untuk menjadi pertimbangan dalam memilih calon pendamping hidup :

  • Berasal dari keluarga yang baik nasabnya (bukan keluarga pezina atau ahli maksiat).
  • Satu sekutu, yakni tidak berbeda jauh dalam hal keagamaan, nasab, kemerdekaan dan kekayaannya.
  • Keutamaan memilih gadis daripada janda.
  • Subur (mampu menghasilkan keturunan)
  • Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan jika engkau pandang…” [HR. Thabrani]
  • Calon istri harus mampu menjaga auratnya dan menjaga dirinya dari laki-laki non-mahram.
  • Calon istri harus mampu memahami kewajiban dan ketaatan kepada suami dalam hal yang makruf.

7. Mantapkan Hati dengan Shalat Istikharah 

Dalam menentukan pasangan hidup merupakan salah satu moment yang paling krusial dalam hidup. Oleh karenanya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Berusaha dan menyerahkan semua ketentuan kepada Allah SWT merupakan salah satu cara yang dapat di lakukan. Karenanya jangan lupa selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT agar and semakin mantap dalam menentukan pilihan yang telah dipilih, merupakan pilihan yang terbaik melalui salat istikharah . Sebagaimana hadits dari Jabir Radhiyallahu’anhu, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan Al Qur’an” [HR. Bukhari].

8. Lakukan Nazhor 

Nazhor merupakan salah satu hal yang di lakukan setelah anda menentukan pilihan terhadap seseorang yang akan anda ajak membina rumah tangga. Nazhor dilakukan seorang laki-laki dengan cara melihat keadaan fisik wanita yang akan dilamar, sebagai pertimbangan apakan akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya atau tidak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian meminang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah” [HR. Abu Dawud].

Dalam nazhor tidak diisyaratkan untuk melakukannya berdua dua an, namun harus di temani oleh mahrom dari pihak wanita. Selain itu, juga di haramkan untuk melihat anggota bagian tubuh, Selain telapak tangan,wajah dan tinggi badan. Nazhor tidak dapat di intepretasikan dalam bentuk pacaran. Karena secara jelas islam melarang bentuk hubungan seperti pacaran dan hal-hal yang mendekati zina.  Allah SWT berfirman :

“Dan jangalah kalian dekat-dekat dengan zina, karena sesungguhnya zina itu kotor dan sejelek-jeleknya jalan” (Surat Al Isro’ 32)

9. Khitbah atau Melamar Calon Mempelai Wanita

Setelah pilihan ditetapkan, maka selanjutnya bagi calon mempelai laki-laki adalah datang ke rumah calon mempelai wanita yang baik dinikahi menurut islam untuk melakukan khitbah atau melamar. Dalam islam tidak diatur tentang cara khitbah secara rinci. Namun, pada intinya lamaran dilakukam untuk meminta izin kepada wali untuk bisa menikahkan. Persetujuan wali ini menjadi sahnya pernikahan di mata agama.   Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan keberadaan wali” [HR. Tirmidzi]

10. Persiapkan Mahar 

Mahar pernikahan dalam islam atau mas kawin merupakan kewajiban yang harus disiapkan oleh seorang calon mempelai pria. Dalam agama islam memberikan mahar merupakan wajib hukumnya sesuai dengan firman Allah SWT :

“Maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban” [QS. An Nisa: 24].

Pada hakikatnya mahar merupakan ‘hadiah’ dari suami kepada istri. Mahar juga merupakan hak istri yang tidak boleh diambil. Rosulullah SAW sendiri menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam memberikan mahar. Dari Aisyah bahwa Rasulullah pernah bersabda :

Sesungguhnya pernikahan yang paling berkah adalah pernikahan yang bermahar sedikit”  (Mukhtashar Sunan Abu Daud).

Itulah  tips menikah dalam islam yang wajib diketahui. Tentuya hal tersebut dapat menjadi referensi bagi anda agar bisa memiliki kehidupan pernikahan yang diridhoi di jalan Allah SWT. Sekaligus juga dapat menjadi peetimbangan bagi anda untuk bisa cepat-cepat membangun rumah tangga untuk tujuan beribadah dan menyempurnakan keimanan.

“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

17 Cara Mengambil Hati Calon Mertua Menurut Islam

Saat pertama kali bertemu dengan calon mertua pasti Anda merasa gugup, bukan? Takut salah ngomong atau mungkin penampilan kurang keren. Ya, sebenarnya perasaan tersebut cukup wajar sih. Pasalnya calon mertua adalah kunci untuk mendapatkan restu. Jika sikap Anda dipandang kurang baik, wah maka bisa-bisa lamaran Anda ditolak. Lalu apa yang harus dilakukan? Anda wajib belajar tips dan trik untuk mengambil hati calon mertua. Dengan begitu peluang Anda diterima semakin besar dan Anda bisa memenuhi  kewajiban menikah sesuai syariat islam.

  1. Gunakan Pakaian yang Sopan dan Bagus

Tips pertama untuk mengambil hati calon mertua yakni Anda harus menggunakan pakaian yang bagus dan sopan. Pakaian bagus bukan berarti harus mahal. Namun usahakan pakaian tersebut belum terlalu usang, kemudian disetrika dan gunakan secara rapi.

Misalnya untuk laki-laki, Anda bisa mengenakan setelan kemeja dan celana kain. Sementara bagi perempuan gunakan busana muslim dengan hijab yang bagus dan stylish tapi tetap syar’i ya. Penampilan menjadi penilaian utama yang cukup penting. Apabila tampilan Anda oke, maka calon mertua pasti juga akan yakin. Tapi jika penampilan saja amburadul, bagaimana mereka bisa menerima Anda? 

  1. Bersikap Ramah

Allah Ta’ala memerintahkan manusia untuk bersikap baik kepada sesama. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan sosok yang paling lembut apabila berbicara dengan orang lain. Maka itu, Anda sebagai umat islam pun wajib bersikap ramah, termasuk saat bertemu calon mertua. Tidak peduli seberapa gugup Anda. Mungkin Anda melihat sikap calon mertua yang tampak judes, tetap berusahalah ramah. Dengan demikian kesan pertama terhadap diri Anda pun juga akan baik. Ingat, kesan pertama itu penting loh!

  1. Menjadi Diri Sendiri

Mengambil hati calon mertua bukan berarti Anda harus berpura-pura menjadi orang lain. Misalnya saja Anda menyewa mobil bagus agar dikira orang kaya. Ya, mungkin cara itu membuat Anda lebih diterima. Tapi bagaimana dengan selanjutnya? Satu kebohongan dapat menyebabkan munculnya kebohongan lainnya. Lebih baik Anda bersikap apa adanya.

Jadilah diri sendiri. Tak perlu pura-pura jadi orang kaya atau pejabat tinggi atau orang penting. Anda hanya perlu berbicara dan bersikap sebagaimana kebiasaan Anda. Namun cobalah untuk lebih sopan terhadap orang tua. Itu saja!

  1. Membawa Oleh-Oleh

Klasik tapi ampuh, cara ini bisa Anda terapkan untuk mengambil hati calon mertua. Yakni dengan membawa buah tangan atau oleh-oleh. Misalnya saja kue atau buah-buahan. Tindakan ini bukan berarti “nyogok” ya. Tapi sebagai bentuk perhatian dan niatan yang baik. Jika Anda datang dengan tangan kosong pasti rasanya tidak enak dan sungkan. Sebab itu, bawalah saja bingkisan walaupun bukan benda mahal. 

  1. Mendengarkan Calon Mertua Berbicara

Sebagai orang yang lebih muda, sebaiknya dengarkan saja jika calon mertua berbicara ngalor ngidul. Percaya deh, mereka bakal senang bila curahatannya didengarkan. Anda tidak perlu repot-repot mencari bahan pembicaraan. Cukup jadi pendengar setia. Itu sudah membuat Anda terlihat sebagai sosok yang perhatian dan sopan.

[AdSense-B]

  1. Mengobrol Topik yang Disenangi Calon Mertua

Poin ini juga sangat penting. Apabila Anda ingin mengobrol dengan calon mertua maka carilah topik yang mereka sukai.  Anda bisa bertanya dulu kepada pasangan atau kerabat tentang hobi calon mertua pasangan Anda. Kira-kira hal apa yang mereka sukai dan tidak sukai, tentang pekerjaannya atau lainnya. Dengan begitu, nantinya saat bertemu Anda bisa ngobrol lebih santai dan nyambung.

  1. Berusaha Memahami Adat dan Tradisi Keluarga Pasangan

Hal ini memang tidak wajib. Tapi bila Anda bisa memahami tradisi dan adat istiadat keluarga pasangan maka itu bisa menjadi poin tambahan. Ini akan membuat calon mertua lebih tertarik dengan Anda. Anda bisa bersikap SKSD sambil bertanya tentang tradisi. Lalu katakan bahwa Anda tertarik dengan tradisi tersebut. Dan pastikan juga Anda mau mempelajarinya selama itu tidak bertentangan dengan syariat agama.

  1. Bersikap Sopan

Kesopanan juga perlu dijaga saat bertemu calon mertua. Dari gaya berbicara hingga sikap pastikan Anda melakukannya dengan benar. Gunakan bahasa formal atau bahasa daerah yang halus untuk menghormati mereka. Jangan berbicara seenaknya atau berbahasa santai kepada mereka. Itu justru membuat pandangan mereka rendah terhadap Anda.

  1. Menawarkan Bantuan

Tidak ada salahnya loh bila Anda menawarkan bantuan kepada calon mertua, baik itu sekedar basa-basi ataupun sungguhan. Tindakan tersebut membuat Anda terlihat keren dan bertanggung jawab. Untuk bantuan yang Anda tawarkan juga tidak perlu yang terlalu sulit. Anda bisa menawarkan bantuan dari hal paling sepele, misalnya membersihkan rumah, bersih-bersih gelas minum, dan sebagainya.

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah:2)

Dalam hadist juga disebutkan: “Barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari satu kesusahan dunia, Allah akan melapangkannya dari salah satu  kesusahan di hari kiamat. Barang siapa meringankan penderitaan seseorang, Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu mau menolong saudaranya.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah).

  1. Memberikan Pujian

Pujian adalah salah satu jurus handal untuk menaklukan hati orang lain, termasuk calon mertua. Maka itu tidak ada salahnya Anda melontarkan pujian untuk mereka. Misalnya saja memuji minuman yang dihidangkan, memuji masakannya, memuji dekorasi rumahnya, memuji anak-anaknya dan sebagainya.

[AdSense-A]

  1. Tidak Berikan Genit atau Centil

Dihadapan calon mertua hindari bersikap genit dan centil. Sebaiknya Anda berperilaku yang sopan, tegas dan ramah. Tidak perlu lirik-lirik calon pasangan Anda. Cukup memfokuskan perhatian pada orang tuanya saja. Saat memilih pasangan, Anda cukup melihat seperlunya saja. Yang terpenting utamakan akhlak dan agama. Dengan demikian Anda bisa merasakan indahnya menikah tanpa pacaran.

  1. Ceritakan Tentang Keunggulan Anda (Tapi Jangan Sombong)

Bukan berarti sombong ya. Tapi Anda juga perlu menceritakan keunggulan Anda untuk merebut kepercayaan calon mertua. Misalnya saja tentang pekerjaan, hafalan Al-Quran, kebiasan baik, atau mungkin Anda sudah menyediakan rumah untuk tempat tinggal dengan pasangan. Ceritakan semua itu agar calon mertua menganggap diri Anda sebagai sosok dewasa yang telah siap menikah. Bagaimanapun juga kewajiban laki laki setelah menikah adalah menafkahi istri dan anak. Jadi materi bisa jadi pertimbangan. Oiya, tapi saat bercerita sebaiknya hindari sikap sombong ya.

Dalam hadist dijelaskan: “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Al Israa’ 37)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

  1. Jangan Lupa Baca Doa

Sebelum bertemu calon mertua usahakan untuk memperbanyak berdoa. Kekuatan doa itu sangat dahsyat loh. Doa bisa membolak-balikkan perasaan orang. Bahkan yang awalnya berniat nolak, bisa saja berubah menyetujui berkat kekuatan doa. Jadi banyak-banyak doa ya dan jangan lupa mengucapkan bismillah. 

  1. Tunjukkan Raut Wajah yang Sumringah

Saat bertemu dengan calon mertua hindari bermuka cemberut. Walaupun Anda sedang banyak masalah atau tertekan tetap saja sebaiknya disembunyikan dulu. Apabila Anda memasang wajah cemberut maka aura keindahan akan memudar. Dan orang lain pun jadi malas berbicara dengan Anda. Sebaliknya jika Anda menunjukkan raut wajah sumringah maka calon mertua juga akan ikut senang. Wajah yang bahagia menyalurkan energi positif dan membuat penampilan jadi makin cantik.

Dari Abu Dzar RA, dia berkata bahwasahnya Rasulullah Saw bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

  1. Bersikap Baik

Selain sopan, pastikan juga Anda bersikap baik terhadap calon mertua. Tujukkan sikap lembut dan menghargai. Jangan membantah. Dan jika Anda bisa anggaplah mereka sebagai orang tua Anda sendiri.

Dalam hadist dijelaskan: “Permisalan kaum mukminin dalam sikap saling mencintai, dan saling kasih sayang mereka sebagaimana satu badan. Apabila satu anggota badan sakit, seluruh anggota badan ikut merasakan, dengan tidak bisa tidur dan demam.” ( HR Muslim).

[AdSense-C]

  1. Memuji Pasangan

Mengambil hati calon mertua juga bisa dilakukan dengan cara memuji calon pasangan. Misalnya Anda membahas tentang pasangan yang cantik atau pintar. Anda juga bisa berbasa-basi mengatakan bahwa calon pasangan Anda sudah masuk kriteria istri yang baik  dan  ciri wanita yang baik untuk dinikahi menurut Islam. Dengan demikian calon mertua akan merasa bangga.

  1. Hindari Perasaan Negatif yang Menghantui Anda

Jangan terburu takut dulu sebelum bertemu calon mertua. Tenang, mereka tidak segalak yang Anda bayangkan. Cobalah bersikap santai dan yakinlah bahwa mertua Anda adalah orang baik.

Dari Abu Hurairah RA. Dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi dan janganlah membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya”. (HR. Muslim) 

Demikianlah cara-cara mengambil hati calon mertua menurut islam. Semoga info ini bisa bermafaat dan membuat Anda lebih siap untuk bertemu calon mertua kelak sekaligus membangun rumah tangga dalam islam sesuai dengan tata cara pernikahan dalam islam.

Hukum Menikah Dengan Pasangan Zina

Fiqih pernikahan pada dasarnya adalah sesuatu yang sakral dimana tujuan pernikahan dalam Islam adalah  untuk memiliki keturunan apabila ini didasari dengan hukum pernikahan. Dasar hukum Islam sendiri sudah menganjurkan umatnya untuk melakukan pernikahan sebab ada banyak hikmah yang terkandung dalam pernikahan itu sendiri dan pernikahan adalah fitrah manusia. Manusia sudah diciptakan Allah SWT menjadi makhluk yang berpasang pasangan, dimanan seorang lelaki membutuhkan wanita dan wanita membutuhkan pria.

Sedangkan zina merupakan persetubuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki dan perempuan diluar nikah dan hanya mengikuti hukum syarak atau bukan pasangan suami isteri serta keduanya adalah orang yang mukallaf serta persetubuhan yang tidak termasuk kedalam takrif atau persetubuhan meragukan.

“Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari kedua-duanya 100 kali sebat, dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum Agama Allah, jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat, dan hendaklah disaksikan hukuman siksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. (Surah An- Nur ayat 2)

Namun pada kenyataannya, sekarang ini pasangan muda seringkali sudah melakukan zina sebelum terjalin sebuah rumah tangga menurut Islam dengan berbagai alasan seperti awalnya yang tidak berniat untuk berzina namun karena khilaf dan tidak mengindahkan larangan untuk berkhalawat dan sebagainya, maka akhirnya masuk dalam jerat setan dan terjerumus dalam zina yang diharamkan.

1. Menikah Sesudah Zina

Salah satu yang dilakukan para pasangan tersebut sesudah zina dan mungkin pasangannya sudah terlanjur hamil akhirnya dilakukan. Lalu, bagaimana hukum menikah dengan pasangan zina dalam Islam dan  menurut sudut pandang syariah?, apakah diperbolehkan menikah dengan pasangan zina?, langsung saja anda melihat ulasannya berikut ini.

Ada salah satu ayat yang lalu dipahami dengan arti berbeda oleh beberapa ulama meski jumhur ulama memahami jika ayat tersebut adalah bukan bentuk pengharaman untuk menikahi wanita yang pernah berzina. “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu`min. (QS. An-Nur : 3)”

2. Pendapat Jumhu [Mayoritas] Ulama

Jumhurul Fuqaha menyatakan jika yang dipahami pada ayat diatas adalah bukan mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina dan bahkan mereka memperbolehkan menikahi wanita yang merupakan pezina. Kemudian, bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan hal tersebut?

Para fuqaha mempunyai 3 alasan dalam hal tersebut dan dalam hal ini mereka menyatakan jika lafaz hurrima atau diharamkan pada ayat tersebut bukan pengharaman akan tetapi tanzih atau dibenci. Selain itu, mereka juga mengungkapkan jika apabila memang diharamkan, maka hal tersebut lebih menjurus pada kasus khusus pada saat ayat diturunkan. Mereka mengatakan jika ayat tersebut sudah dibatalkan menyangkut ketentuan hukum atau di nasakh dengan ayat lainnya yakni:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui“. (QS> An-Nur : 32)

Pendapat tersebut adalah pendapat Abu Bakar As Shiddiq ra dan juga Umar bin Khattab ra serta fuqaha pada umumnya dan mereka memperbolehkan seorang pria untuk menikah dengan wanita berzina dan juga jika seseorang sudah pernah berzina tidaklah diharamkan dirinya untuk menikah secara syah.

Pendapat tersebut diperkuat dengan hadits, “Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR. Tabarany dan Daruquthuny).

[AdSense-B]

Hadits kedua adalah, “Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Istriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (HR. Abu Daud dan An-Nasa`i)

3. Pendapat Yang Mengharamkan

Sedangkan untuk sebagian lagi berpendapat jika menikah dengan wanita yang sudah pernah berzina adalah haram seperti pendapat dari Aisyah ra, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra` dan Ibnu Mas`ud. Mereka berkata jika seorang pria yang berzina dengan wanita, maka ia diharamkan untuk menikahi wanita tersebut begitu juga dengan wanita yang sudah pernah berzina dengan pria lain maka diharamkan untuk dinikahi pria yang baik dan bukan pezina.

Ali bin abi Thalib bahkan berkata jika terjadi perselingkuhan dalam rumah tangga dimana seorang isteri berzina, maka sangat wajib pasangan tersebut diceraikan dan begitu juga jika suami berzina. Semuanya ini diambil atas dalil zahir ayat an Nur:3. Selain itu, mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts yakni orang yang tidak memiliki rasa cemburu apabila isterinya melakukan selingkuh dalam Islam dan tetap menjadikan wanita tersebut sebagai isterinya.

Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts`. (HR. Abu Daud).

4. Pendapat Yang Menengahi

Pendapat pertengahan dalam hal ini adalah dari Imam Ahmad bin Hanbal dimana beliau mengharamkan seseorang untuk menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum melakukan pertaubatan. Jika pernikahan tetap terjadi, maka pernikahan tersebut tidaklah sah.

Akan tetapi, jika wanita tersebut sudah tidak berbuat dosa dan dan melakukan cara bertaubat dari zina, maka tidak terdapat larangan untuk menikahi wanita tersebut dan jika pernikahan berlangsung maka nikah tersebut syah secara syar’i.

Ulama kalangan mazhab Hambali mengemukakan pendapat jika pernikahan antara wanita pezina yang belum bertaubat hukumnya adalah tidak sah dan mereka tidak menjadikan taubat pezina laki laki sebagai syarat sha dalam pernikahan tersebut. [Al-Inshaf, 8/132, Kasyaful Qana, 5/83]

Pendapat ketiga inilah yang sesuai dengan asas perikemanusiaan sebab jika seseorang sudah bertaubat, maka ia mendapat haknya kembali untuk bisa hidup dengan normal dan memperoleh pasangan yang baik.

Syarat Taubat Dosa Zina

[AdSense-A] Lalu, apakah dosa zina tersebut akan hilang jika sudah melakukan pertaubatan?. Dosa zina seperti halnya dosa besar yang lain hanya bisa hilang jika sudah melakukan cara menghapus dosa zina dan syarat taubat sendiri terdiri dari 3 jenis yakni:

Di dalam kitab al Iman sudah disebutkan jika taubat sendiri mempunyai 3 rukun yakni al Iqla atau meninggalkan dosa tersebut, an Nadm atau menyesali perbuatan maksiat yang sudah ia lakukan dan juga al Azm atau bertekad untuk tidak mengulangi dosa yang sudah ia perbuat dan tidak mengulangi lagi selamanya. Untuk penjelasan lebih lengkapnya bisa dilihat pada ulasan berikut ini.

  1. Al Iqla

Al Iqla atau meninggalkan dosa yang ditaubati membuktikan jika orang tersebut serius dalam melakukan taubat dan meninggalkan dosa yang sudah ia lakukan. Sebagai contoh, seorang pezina  belum bisa dikatakan sudah bertaubat dari zina apabila ia masih melakukan hal tersebut. Imam Fudhail bin Iyadh menyatakan, “Istighfar tanpa meninggalkan kemaksiatan adalah taubat para pendusta.”

  1. An Nadm

an Nadm atau mengakui kesalahan dan menyesali perbuatannya adalah cara bertaubat dimana seseorang tidak mengakui dosa yang sudah diperbuat dan tidak menyesali dengan perbuatan yang sudah dilakukan tersebut. Namun, dengan menyesal, ia akan bersedih jika ingat akan dosanya. Ini termasuk penyesalan yang tidak menceritakan dosa tersebut pada orang lain apa lagi untuk membanggakan hal tersebut. Apabila dosa tersebut terjadi karena lingkungan atau komunitas tertentu, maka ia harus meninggalkan lingkungan dan komunitas tersebut. Bentuk penyesalan pezina adalah dengan cara menghindar dari segala sesuatu yang bisa memicu timbulnya syahwat.

  1. Al Azm

Al Azm  atau bertekad untuk tidak mengulangi dosa adalah dimana seseorang berhenti dari dosa yang ia buat dan apabila ia masih memiliki keinginan untuk melakukan dosa tersebut kembali apabila memungkinan, maka orang tersebut belum bisa dikatakan bertaubat seperti contohnya seseorang yang bertaubat dari pacaran saat Ramadhan karena ingin mematuhi larangan berpacaran dalam Islam namun kembali berpacaran sesudah Ramadhan, maka belum bisa dikatakan sudah bertaubat.

Karena itulah, menikah bukan menjadi syarat melakukan sebuah pertaubatan dari zina kecuali jika pernikahan tersebut terjadi atas dasar menyesali dosa zina yang sudah dilakukan dan supaya tidak mengulang kembali dosa zina tersebut. Apabila pernikahan yang dilakukan berdasarkan hal ini, maka insyaaAllah status pernikahan tersebut adalah bagian dari taubat dari perbuatan zina.

Untuk itulah, pada sebagian ulama menyarankan untuk orang yang sudah melakukan zina untuk segera menikah untuk menutupi aib kedua pelaku zina tersebut dan apabila berpisah, maka pihak wanitalah yang paling dirugikan sebab tidak ada lelaki yang bangga jika mempunyai istri yang sudah ternoda secara tidak halal.

Demikian penjelasan terkait bagaimana hukum menikah dengan pasangan zina yang sekarang ini marak dan banyak dilakukan oleh para remaja khususnya remaja islam. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin Ya Rabbal A’lamin.

Menikah di Bulan Safar – Mitos dan Dalilnya

Bulan Safar adalah bulan kedua pada penanggalan Hijriyah sehingga sebagian para ulama memberi julukan bulan Safar ini dengan Shafarul Khair dan Shafar sendiri memiliki arti kebaikan sebab pada biasanya, banyak orang awam yang berpendapat jika bulan Safar adalah bulan yang sial dan penuh dengan bala atau bencana. Inilah yang membuat umat Islam semakin optimis dan menamakannya Shafarul Khair sehingga bulan Safar sendiri tidak terdengar menakutkan apalagi dianggap sebagai bulan yang sial. Pada kenyataannya, setiap bulan Islam mempunyai kekhususan tersendiri dan juga keistimewaan yang berbeda beda begitu juga dengan ada banyak keutamaan bulan Safar.

Hari dan juga bulan dalam satu tahun pada dasarnya adalah sama dan tidak terdapat hari atau bulan tertentu yang bisa memberikan sial atau menimbulkan bencana sebab keselamatan atau kesialan pada hakekatnya kembali pada ketentuan yang sudah menjadi takdir Ilahi dan perlu diketahui jika banyak keutamaan bulan shafar seperti pada bulan bulan lainnya.

Di masa jahiliyyah, masyarakat Arab menganggap jika bulan Safar adalah bulan tidak baik yang terdapat banyak bencana serta musibah sehingga menunda berbagai aktivitas agar terhindar dari kesialan. Ini juga terjadi dalam tradisi yang memakai banyak hitungan untuk menentukan hari baik dan tidak baik. Lalu bagaimana hal tersebut dipandang oleh perkembangan Islam?.

Pernikahan merupakan sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk semua umat yang sudah mampu dan kewajiban menikah dalam Islam adalah sebuah bentuk ibadah yang sudah ditetapkan sebagai penyempurna agama.

Akan tetapi, saat akan melakukan pernikahan ini, ditemukan banyak kendala yang pada dasarnya terlalu mengada ada seperti melakukan sebuah pernikahan harus atau dilakukan atau dilarang dilakukan pada bulan bulan tertentu. Rasulullah SAW sendiri sudah memberikan contoh untuk tidak mengikuti kebiasaan yang Jahiliyyah yakni melanggar larangan untuk menikah di bulan Syawal.

Pernikahan Rasulullah SAW

Di dalam catatan sirah nabawiyah tertulis jika ada sebelas wanita yang dinikahi Rasulullah SAW dan dua diantaranya meninggal pada saat Rasulullah SAW masih hidup, sementara untuk sisanya meninggal sesudah beliau wafat. Pada umumnya, Rasulullah SAW menikah para wanita tersebut oleh karena pertimbangan mengenai kemanusiaan dan juga demi kelancaran urusan dakwah dan bukan didasari dengan hawa nafsu.

  • Khadijah binti khuwailid dinikahi Rasulullah SAW di Mekkah saat beliau berumur 25 tahun dan khodijah berumur 40 tahun pada 10 Rabiul Awal. Dari pernikahan tersebut, Rasulullah SAW dikaruniai beberapa orang anak laki laki dan perempuan. Namun semua anak laki laki Rasulullah SAW meninggal dunia dan anak perempuan beliau bernama Zainab, Ummu Kultsum, Fatimah dan Ruqoyyah dan Rasulullah SAW juga tidak menikah lagi selama Khodijah masih hidup.
  • Saudah binti Zam’ah dinikahi Rasulullah SAW di bulan Syawal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari sesudah Khodijah wafat. Wanita tersebut adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya bernama As Sakron bin Amr.
  • Aisyah binti Abu Bakar dinikahi Rasulullah SAW di bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian dan setahun sesudah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijriah.
  • Hafsah binti Umar bin Khattab ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As Sahmi dan kemudian dinikahi Rasulullah SAW di bulan Syaban tahun ketiga Hijriyah dengan tujuan untuk menghormati bapaknya, Umar bin Al Khattab. [AdSense-B]
  • Zainab binti Khuzaimah dari Bani Hilal bin Amir bin Sha’saha’ah yang dikenal dengan Ummul Masakin sebelumnya memiliki suami Abdulloh bin Jahsy namun syahid di uhud dan Rasulullah menikahinya di tahun keempat Hijriyyah. Ia kemudian meninggal dua atau tiga bulan sesudah pernikahannya dengan Rasulullah SAW tersebut.
  • Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah menikah dengan Abu Salamah namun meninggal di bulan Jumadil akhir tahun empat hijriyah dan meninggalkan dua orang anak laki laki dan dua orang anak perempuan. Ia kemudian dinikahi Rasulullah SAW di bulan Syawal pada tahun yang juga sama.
  • Zainab binti Jahsyi bin Rayab dari Bani Asad bin Khuzaimah dan puteri bibi Rasulullah SAW sebelumnya menikah dengan Zaid bin Harits lalu diceraikan oleh suaminya. Ia kemudian dinikahi Rasulullah SAW pada bulan Dzul Qa’dah tahun kelima Hijriyah.
  • Juwairiyah binti Al Harits, pemimpin Bani Mustholiq dari Khuza’ah merupakan tawanan perang yang sahamnya dimiliki Tsabit bin Qais bin Syimas lalu ditebus Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun keenam Hijriyah.
  • Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan sebelumnya menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah ke Habsyah. Suaminya tersebut kemudian murtad dan menjadi Nashroni lalu meninggal disana. Ummu Habibah tetap istiqomah dalam Islam dan saat Rasulullah SAW mengirim Amr bin Umayyah Adh Dhomari untuk menyampaikan surat pada Raja Najasy di bulan Muharram tahun ketujuh Hijrah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalui raja tersebut dan kemudian dinikahi serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah.

Rasulullah SAW tidak mengkhususkan di bulan tertentu saat melakukan pernikahan dengan istri istri Nabi Muhammad SAW tersebut, akan tetapi bulan yang sering dipakai beliau untuk menikah adalah bulan Syawal yang dianggap sebagai bulan sial untuk melangsungkan pernikahan oleh para kaum Jahiliyah.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW juga memberikan beberapa penjelasan mengenai penyimpangan dari akidah dan bersabda, “Tidak ada penularan penyakit, tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk, tidak boleh berprasangka buruk, dan tidak ada keburukan dalam bulan Shafar.”

Selain itu, seorang A’raby atau penduduk di pedesaan Arab juga bertanya pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan onta yang semula sehat kemudian berkumpul dengan onta yang kudisan kulitnya, sehingga onta tersebut menjadi kudisan pula?”. Rasulullah SAW lalu menjawab pertanyaan tersebut dengan pertanyaan juga, “Lalu siapa yang menularkan (kudis) pada onta yang pertama?”

[AdSense-A] Ungkapan diatas tentang tidak ada penularan penyakit bermaksud untuk meluruskan keyakinan dari jahiliyah yang berpendapat jika penyakit tersebut dapat menular dengan sendirinya tanda berpegang pada ketentuan takdir Ilahiyah.

Untuk meluruskan keyakinan tersebut, maka Rasulullah SAW menjawab pertanyaan juga dengan pertanyaan. Apabila penyakit kudis pada unta sehat berasal dari unta yang terkena kudia, lalu siapakah yang menularkan kudis tersebut pertama kalinya.

Dalam Islam, semua hari dan bulan adalah baik dan memiliki sejarah serta keistimewaan yang berbeda beda termasuk bulan Safar. Apabila ada bulan tertentu yang memiliki sisi keutamaan lebih baik, maka tidak berarti jika bulan yang lain adalah bulan buruk. Apabila terjadi kesialan atau peristiwa buruk pada bulan tertentu seperti bulan Safar, maka tidak mengartikan jika bulan tersebut merupakan bulan yang penuh dengan musibah. Sudah menjadi tugas kita untuk mencari apa hikmah dibalik kejadian tersebut dan amalkan apa yang harus dilakukan sehingga bisa terhindar dan selamat dari sebuah keburukan berbagai musibah.

Al Imam Ibn Hajar al Haitamin pernah mendapat sebuah pertanyaan tentang status adanya hari nahas yang dipercaya sebagian orang sehingga tidak melakukan kegiatan atau pekerjaan seperti contohnya menikah karena dianggap sebagai bulan yang penuh dengan keburukan dan bukan bulan baik untuk menikah dalam Islam. Beliau lalu memberi jawaban jika ada seseorang yang percaya akan adanya hari nahas atau sial dengan maksud mengharuskan untuk berpaling darinya atau menghindar dari sebuah pekerjaan pada hari tersebut sekaligus menganggap hal itu adalah sial, maka sesungguhnya hal tersebut masuk ke dalam tradisi orang Yahudi dan bukanlah sunnah muslim yang selalu tawakkal pada Allah SWT dan tidak memiliki prasangka buruk pada Allah.

Sementara jika ada riwayat yang mengatakan beberapa hari yang harus dihindari sebab mengandung keburukan, maka riwayat tersebut bathil atau tidak benar, mengandung kebohongan serta tidak memiliki dalil yang jelas sehingga harus dijauhi.

Semua hari, bulan, matahari, bintang dan makhluk hidup lainnya tidak akan memberi manfaat atau madlarat namun yang bisa memberikan kedua hal tersebut hanyalah Allah SWT. Ini menyimpulkan jika ada seorang muslim yang meyakini adanya hari sial yang membuat orang muslim menjadi pesimis, maka ini bukanlah ajaran Islam yang diberikan Rasulullah SAW.

Sebagian orang yang tidak ingin melangsungkan pernikahan di bulan Safar karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, itu semua tidak didasari dengan dasar hukum Islam yang jelas dna hanya menjadi budaya yang berawal dari zaman jahiliyah, disebabkan suatu tahun, Allah menurunkan wabah penyakit dan akhirnya banyak orang yang mati termasuk beberapa pasangan pengantin. Oleh karena itu, semenjak saat itu orang jahiliyyah tidak melangsungkan pernikahan pada bulan tersebut. Sayyidah Aisyah RA bahkan menentang budaya seperti ini dan berkata. “Rasulullah SAW menikahi saya pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) dengan saya pada bulan Syawal, maka siapakah dari isteri beliau yang lebih beruntung daripada saya.”

17 Sifat Wanita yang Tidak Boleh Dinikahi Menurut Islam

Menikah adalah salah satu sunnah rasul yang bernilai pahala tinggi. Kewajiban Menikah bagi umat muslim juga telah dijelaskan dalam Al-Quran serta Al-hadist. Namun tentunya menikah juga tidak boleh dilakukan asal-asalan. Terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan demi terciptanya kebahagiaan Kehidupan Setelah Menikah. Salah satunya perkara memilih jodoh. Seorang laki-laki yang hendak menikahi wanita, sebaiknya mempertimbangkan 4 kriteria, yakni agama, nasab, kecantikan dan harta. Namun yang paling utama adalah memilih berdasarkan agama yang baik.

Dari Abu Huraira r.a, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibn Majah).

Di samping agama, akhlak juga sangat penting untuk diperhatikan. Seorang wanita yang memiliki akhlakul karimah insyaAllah dapat menjaga suami dan anak-anaknya secara baik. Pertengkaran juga bisa diminimalisir. Dengan demikian nantinya bisa terwujud Keluarga sakinah dalam IslamKeluarga harmonis menurut IslamKeluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah

Nah, berikut ini beberapa sifat wanita yang tidak boleh dinikahi menurut agama.

  1. Wanita yang suka mengeluh

Sifat wanita yang tidak boleh dinikahi pertama adalah yang suka mengeluh. Kebanyang kan, kalau menikahi wanita yang suka mengeluh maka suasana rumah akan terasa sumpek. Jika diberi uang sedikit mengeluh, ditimpa musibah mengeluh, setiap saat mengeluh. Hal ini tentu tidak diperbolehkan dalam islam dan bisa memicu konflik dalam keluarga. Sebagai manusia kita wajib bersyukur atas apa yang telah diterima. Jikalau mengalami musibah maka tugas kita adalah bersabar dan ikhlas

  1. Wanita yang suka mengadu

Tipe wanita berikutnya tidak sebaiknya tidak dinikahi adalah wanita yang suka mengadu. Sifat seperti ini bisa menjadi pemicu hancurnya rumah tangga. Sejatinya, seorang istri tidak boleh mengumbar kejelekan suaminya. Dan jika terjadi masalah di rumah tangga sebaiknya tidak terburu-buru mengadu pada orang tua

  1. Wanita yang suka mengungkit kebaikannya

Salah satu sifat yang cenderung ada pada diri wanita adalah selalu merasa benar dan tidak mau disalahkan. Lebih bahaya lagi terdapat wanita yang suka mengungkit kebaikannya. Sifat tersebut tentu adalah sifat tercela. Sebab bagaimanapun juga islam tidak pernah mengajarkan untuk bersifat riya’. Perbuatan kebaikan sudah ada catatannya di sisi Allah Ta’ala. Jadi tidak perlu diumbar.

  1. Wanita yang tidak pernah merasa puas

Sifat wanita yang cenderung selalu merasa kurang dengan kata lain tamak, ini haruslah dihindari. Sifat tersebut dapat merugikan perekonomian suami bahkan menyiksa batin.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwasahnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan memandang istri dengan pandangan rahmat, yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal istrinya butuh kepadanya.” (HR. An-Nasai, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

  1. Wanita yang suka mengingat kejelekan orang lain

Sebaiknya hindarilah menikahi wanita yang bersifat pendendam dan suka mengingat kejelekan orang lain. Wanita dengan karakter demikian cenderung melupakan kebaikan-kebaikan suami. Dan yang diingat hanyalah keburukannya saja. Sifat ini bisa menghapus harapan rumah tangga bahagia dalam Islam.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam  bersabda: “Diperlihatkan neraka kepadaku. Ketika itu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” Seseorang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Rasulullah menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan tidak berterima kasih atas kebaikan yang diterimanya. Walaupun sepanjang masa engkau telah berbuat baik kepada mereka, begitu mereka melihat sedikit kesalahan darimu, maka mereka berkata, ‘Aku tak pernah melihat kebaikan darimu’” (HR. Bukhari).

[AdSense-B]

  1. Wanita yang suka berselingkuh

Di jaman sekarang ini wanita bermain dengan laki-laki dianggap biasa saja. Padahal pergaulan dalam Islam memiliki batasan-batasan tertentu. Wanita tidak boleh bergaul secara bebas dengan laki-laki non muhrim. Kecuali untuk urusan-urusan penting saja. Misalnya pekerjaan, aktivitas jual-beli, urusan sekolah, dan hal-hal lain yang memang tidak bisa dihindari. Namun jika bergaul tanpa alasan, misalnya jalan-jalan berdua, duduk di taman, bercanda layaknya sesama wanita, bergandengan tangan, berpelukan dan sejenisnya, maka hal itu tentu dilarang. Cinta menurut Islam adalah perasaan sayang yang muncul setelah pernikahan.

Menikahi wanita dengan sifat demikian bisa membahayakan kehidupan rumah tangga. Bukan tak mungkin ia akan terbawa rayuan laki-laki lain sehingga memicu perselingkuhan. Oleh sebab itu, nikahilah wanita yang baik secara agama.

  1. Wanita yang terlalu hobi berdandan

Berdandan memang tidak dilarang dalam islam. Justru seorang wanita dianjurkan merias diri guna menyenangkan hati  suaminya. Namun demikian, berdandan berlebihan juga tidak baik. Ini tidak hanya membuat wanita melupakan tugas utamanya sebagai istri. Tapi juga menjurus kepada sifat boros. Selain itu, seorang istri juga tidak diperbolehkan berdandan berlebihan ketika keluar rumah. Sebab bisa mengundang lirikan dari laki-laki lain. 

  1. Wanita yang cerewet

Wanita memang cenderung lebih banyak bicara dibandingkan laki-laki. Hal itu wajar-wajar saja. Namun apabila wanita terlalu banyak omong (atau kata lainnya cerewet) maka sebaiknya jangan dinikahi. Cerewet disini yang berarti dalam ruang lingkup negatif. Misalnya suka marah-marah dan mengeluh berlebihan.

Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak berceloteh, orang-orang yang gemar berbicara dan al mutafaihiqun.” Ornag-orang lalu bertanya : Wahai Rasulullah, kami mengetahui siapa itu orang-orang yang banyak berceloteh dan gemar berbicara, lantas siapakah al mutafaihiqun itu? Beliau bersabda, Yaitu orang-orang yang sombong.”(HR.Tirmidzi).

[AdSense-A]

  1. Wanita yang sombong

Sombong atau berbangga diri jelas bukanlah sifat yang diajarkan dalam islam. Maka itu, sebaiknya hindarilah menikahi wanita yang berkarakter sombong. Sebab ucapan dari orang-orang yang sombong biasanya menyakiti hati.

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan berlagak sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi, dan engkau tidak akan dapat menyamai setinggi gunung-gunung.”(QS. Al-Israa’: 37)

 Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi.” (H. R. Muslim)

  1. Wanita yang bersifat kelaki-lakian

Wanita bersifat kelaki-lakian atau tomboy juga sebaiknya tidak dinikahi. Mengapa? Karena islam melaknat wanita yang menyerupai laki-laki, begitupun sebaliknya. Selain dari itu, survey juga membuktikan bahwa kebanyakan laki-laki tidak menyukai wanita dengan karakter kasar, gagah dan berpakaian mirip laki-laki.

Dari Ibnu Abbas ra berkata, bahwasanya Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam melaknat mukhannasin (laki-laki yang menyerupai perempuan) dan mutarajjilat (perempuan yang menyerupai laki-laki). Beliau bersabda, “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian. Maka Rasulullah SAW mengeluarkan Fulan dari rumahnya dan Umar juga mengeluarkan Fulan dari rumahnya.” (HR. Bukhari)

  1. Wanita yang pemalas

Kriteria istri yang baik dalam islam adalah yang mampu memenuhi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Menikahi wanita pemalas tidak ada artinya. Pada dasarnya laki-laki menikah dengan tujuan agar ada seseorang yang merawat dirinya. Bukan sekedar menemani. Nah, jika istri bersifat pemalas maka otomatis pekerjaan rumah jadi terbengkalai. Tanggung jawab terhadap anak-anak pun mungkin juga tidak bisa dilakukan.

  1. Wanita materialistis

Wanita matre atau materialistis juga merupakan golongan wanita yang tidak boleh dinikahi dalam islam. Wanita dengan karakter ini bisa merugikan suami dan menghancurkan perekonomian keluarga. Selain itu, sifat boros atau menghambur-hamburkan uang juga dibenci Allah Ta’ala.

  1. Wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya

Kedudukan wanita dalam Islam sangatlah mulia dan dilindungi. Namun wanita yang mulia adalah wanita yang mampu menjaga kehormatannya. Sedangkan wanita yang tidak bisa menjaga dirinya misalnya saja gemar berzina, ini adalah dosa yang tak terampuni dalam islam. Wanita seperti demikian sebaiknya dihindari karena berzina adalah dosa besar. Kecuali orang tersebut sudah bertaubat, maka boleh untuk dinikahi.

  1. Wanita pendengki

Sifat dengki (hasad) atau iri hati  adalah sifat yang dibenci oleh Allah Ta’ala. Sifat dengki bisa menyebakan penyakit ‘ain yang merugikan diri sendiri dan membuat hati sulit bersyukur. Maka itu, jauhilah sifat dengki. Dan sebaiknya hindari menikah dengan wanita pendengki.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An Nisaa’ 32).

  1. Wanita yang terlalu pencemburu

Orang bilang cemburu adalah tanda cinta. Tapi ketahuilah bahwa cemburu berlebihan justru tidak baik dan bisa memicu pertikaian. Bahkan menghancurkan bahtera rumah tangga. Oleh sebab itu, sebaiknya jangan menikah dengan wanita yang terlalu posesif dan pencemburu. 

  1. Wanita yang suka mengumpat

Mengumpat merupakan perbuatan tercela. Seseorang yang suka mengumpat tidak hanya dibenci manusia lain, tapi juga dibenci Allah Ta’ala.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Anas, Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Pada malam aku diIsra’kan aku telah melalui suatu kaum yg mencakar-cakar muka mereka dgn kuku-kukunya sendiri, maka aku berkata: “Hai Jibril siapa mereka ini? jawab Jibril: Mereka ini adalah org2 yg suka mengumpat dan mereka juga suka menjaga tepi kain orang”. (HR. Abu Daud dari Anas).

17. Wanita keras kepala

Wanita keras kepala biasanya sulit menerima masukan. Saat salah, ia tidak mau diingatkan. Apabila diberikan nasehat juga cenderung melalaikan. Maka itu, jangan menikahi wanita berkarakter keras kepala. Sebaliknya nikahilah wanita yang lembut hati dan baik budi pekertinya.

Bagi lelaki yang sholeh, memilih seorang calon istri hendaknya mengutamakan agama. Ciri wanita yang baik untuk dinikahi menurut Islam adalah wanita yang memiliki ilmu agama dan santun  akhlaknya. Menikahi wanita yang demikian maka insyaAllah sudah cukup untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah.

15 Doa untuk Orang Menikah dalam Islam

Menikah berarti menyatukan dua hati berbeda antara perempuan dan laki-laki. Pada dasarnya menikah adalah fitrah setiap manusia. Pernikahan dapat membawa ketenangan jiwa dan raga. Menikah juga bertujuan untuk membentengi diri dari hal-hal diharamkan dalam islam seperti berzina. Dan yang terpenting, menikah memiliki tujuan untuk menghasilkan keturunan yang shalih dan berakhlakqul kharimah.

Dalam islam, pernikahan adalah sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menikah juga merupakan ibadah yang dapat menyempurnakan agama. Sebuah hadist shahih menjelaskan:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah atas separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi).

Menjalani pernikahan tentu bukanlah hal yang mudah. Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral dan diusahakan hanya sekali seumur hidup. Sebab walaupun perceraian dibolehkan dalam Islam, namun Allah Ta’ala tidak menyukai hal tersebut. Maka itu, diperlukan persiapan yang matang sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Tak sedekar materi, tetapi juga keteguhan hati dan memperbanyak doa kepada Allah Ta’ala agar urusannya dipermudah, serta rumah tangganya diberikan kelanggengan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Bila salah seorang diantara kalian diundang menghadiri jamuan makan, hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Jika ia tidak sedang berpuasa maka hendaklah ia ikut makan. Dan jika ia sedang berpuasa hendaknya ia mendoakan” (HR. Muslim).

Baca juga:

Nah, berikut ini beberapa doa untuk orang menikah menurut islam, diantaranya yaitu:

  1. Doa keberkahan

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam senantiasa mendoakan orang yang melangsungkan pernikahan dengan mengucapkan “Baarakallaahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a baynakumaa fii khair.” (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

“Baarakallaahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a baynakumaa fii khair”

Artinya: Semoga Allah memberikan berkah kepadamu, semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadamu. Dan semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.”

  1. Doa agar diberikan kebaikan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasahnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda, salah satu doa untuk pengantin yaitu:

Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan” (HR. Abu Dawud).

  1. Doa selesai makan saat walimah

Saat kita menghadiri walimahtul ursy, disunnahkan untuk mendoakan keluarga yang telah memberikan makan. Doanya yaitu:

Ya Allah, berikanlah makan kepada orang yang telah memberi makan kepadaku, dan berkahilah minum kepada orang yang telah memberi minum kepadaku” (HR. Muslim)

Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkahilah mereka pada apa-apa yang Engkau karuniakan kepada mereka” (HR. Ahmad)

[AdSense-B]

  1. Doa setelah akad nikah

Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta doakanlah dengan doa berkah seraya mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa“. (HR. Bukhari).

Sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hendaknya pengantin pria setelah akad memegang ubun-ubun istrinya, lalu membaca basmalah dan dilanjutkan doa: “Allahumma inni as’aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha ‘alaihi. wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha ‘alaihi.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya

Baca juga:

  1. Doa suami untuk istri

Setelah membaca doa diatas, boleh dilanjutkan dengan bacaan:

Allaahumma baarik lii fii ahlii wa baarik li-ahlii fiyya”

Artinya: Ya Allah berkahilah istriku untukku dan berkahilah aku untuk istriku

  1. Doa ajaran Imam Ja’far Ash Shadiq (1)

Dari kitab Makarim Al-Akhlaq nomor hal.209, terdapat doa yang bersumber Imam Ja’far Ash-Shadiq. Doa ini dicakan oleh suami untuk sang istri.

“Allaâhumma biamâanatika akhattuhâa, wa bikalimaâtika istahlaltu farjahâa, fain qadhayta lîi minhâa waladan faj’alhu mubâarakan syawiyyâa, walâa taj’al lissyaithâani fîihi syarîikan walâa nashibâ.”

Artinya: “Ya Allah, dengan amanat-Mu kujadikan ia isteriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Kau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahandan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya“.

  1. Doa ajaran Imam Ja’far Ash Shadiq (2)

Allâahummarzuqnîi alfahâa wa wuddahâa wa ridhâahâa bîi, wa ardhinîi bihâa, wajma’ baynanâa biahsanijjtimâ’in wa aysari’ tilâafin, fainnaka tuhibbul halâala wa tukrihul harâam.

Artinya: “Ya Allah, karuniakan padaku kelembutan isteriku, kasih sayang dan ketulusannya, ridhai aku bersamanya. Himpunkan kami dalam rumah tangga yang paling baik, penuh kasih sayang dan kebahagiaan, sesungguhnya Engkau mencintai yang halal dan membenci yang haram“.

  1. Doa ajaran Imam Ja’far Ash Shadiq (1)

“Allâahummarzuqnîi waladan, waj’alhu taqiyyan dzakiyyan laysa fîi khalqihii ziyâadatun walâa nuqshân, waj’al ‘âqiibatahuu ilâa khairin”.

Artinya: “Ya Allah, karuniakan padaku keturunan, dan jadikan ia anak yang bertakwa dan cerdas, tidak ada kelebihan dan kekurangan dalam fisiknya, dan jadikan kesudahannya pada kebaikan“.

Baca juga:

[AdSense-A]

  1. Doa sebelum berjima

Dalam islam diajarkan untuk membaca doa terlebih dahulu sebelum melakukan jima (hubungan badan). Tujuannya untuk menghindari keikutsertaan setan di dalamnya, dan agar nantinya pasangan diberikan anak yang baik agama serta akhlaknya. Bunyi doa tersebut, yakni:

“Allahumma Jannibnasy Syaithon wa Jannibisy Syaithon Maa Rozaqtanaa

Artinya: “Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari Syaithan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila Allah menakdirkan keduanya untuk mendapatkan anak, maka anak itu tidak akan mendapatkan kemudharatan dari syaithan selamanya.” (HR. Al-Bukhari).

  1. Doa agar rumah tangga harmonis

“Robbana hablana min azqajinaa wa zurriyatina qurrota’ayunin, waj’alna lil muttaqiina imama.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

  1. Doa agar cepat mempunyai keturunan – Doa Nabi Zakariyah a.s

 “Rabbi hablii min-ladunka dzurriyyatan thayyibatan innaka samii’uddu’a.”

Artinya, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS Ali ‘Imran:38)

Rabbi la tadzarnii fardan wa anta khairal waaritisiin.”

Artinya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik” (QS Al Anbiya’: 89)

  1. Membaca Al-fatihah

Bacaan Al-fatihah dapat mempermudah dikabulkannya sebuah doa. Maka itu, sebaiknya kita mengawali doa dengan membaca surat Al-Fatihah.

Allah berfirman dalam hadist Qudsi: “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” Maka jika sang hamba membaca (Alhamdulillahirabbil’alamin) Allah berkata: “Hamba-Ku menyukuri aku,” dan jika membaca (Araahman arrahiim) Allah berkata: “Hamba-Ku memuji Aku,” dan jika membaca (Maalikiyaumiddiin) Allah berkata: “Hamba-Ku pasrah kepada-Ku, dan jika membaca (Iyyakana’budu wa iyyakanasta’iin), Allah berkata: “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta,” dan jika membaca (Ihdinashiratolmustaqiim shiratoladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi’alaihim waladhoollin), Allah berkata: “Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia pinta.” (HR. Muslim)

Baca juga:

  1. Membaca dzikir

Dzikir hendaklah dibaca di waktu pagi dan petang, bahkan setiap saat. Sebab dzikir dapat membantu menenangkan hati, meluaskan rezeki rumah tangga, mendekatkan diri pada Allah Ta’ala dan sebagai bentuk hamba yang beriman.

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allâh, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” ( QS: al-Ahzab 41-42)

[AdSense-C]

  1. Membaca Asmaul husnah

Salah satu adab saat berdoa hendaknya diawali dengan bacaan asmaul husna, yakni memuji Allah Ta’ala dengan nama-namaNya yang Agung dan Maha Besar. Membaca asmaul husna dapat mempermudah dikabulkannya doa dan untuk meningkatkan iman.

 “Katakanlah, berdoalah kepada Allah atau berdoalah kepada Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu berdoa, Dia mempunyai Asmaul husna.” (Al-Isra’: 110)

“Allah memiliki Asmaul husna, hendaknya kamu berdoa dengannya.” (Al-A’raf: 180)

  1. Memperbanyak sholawat

Membaca sholawat nabi juga sangat penting untuk dilakukan. Dengan memperbanyak sholawat maka kita bisa mendapatkan syafaat Rasulullah di akhirat kelak. Selain itu, sholawat juga merupakan bentuk kasih sayang kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sholawat dapat mempermudah dikabulkannya suatu doa.

Umar bin Khattab Ra. berkata: “Saya mendengar bahwa doa itu ditahan di antara langit dan bumi, tidak akan dapat naik, sehingga dibacakan shalawat atas Nabi Muhammad Saw.” (HR. Tirmidzi)

Apabila salah seorang dari kalian berdoa maka hendaklah memulai dengan memuji Allah dan memuja-Nya, lalu hendaknya membaca salawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian setelah itu dia boleh berdoa tentang apa pun yang diinginkannya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Baca juga:

Demikianlah doa-doa untuk orang menikah dan agar dipermudah mendapatkan keturunan. Sebenarnya doa bagi pasangan yang menikah tak sebatas itu saja. Kita bisa berdoa sesuai keinginan dengan menggunakan bahasa indonesia. Tak perlu takut, karena Allah Maha Mendengar isi hati hamba-hambaNya. Dan sebaiknya berdoalah dengan adab yang baik.

Apabila doa-doa diatas ada yang tidak bersumber pada hadist, maka hendaknya dikaji lebih dalam lagi. Ingat, jangan pernah lelah belajar tentang agama demi menjadi pribadi yang baik. Semoga bermanfaat.

Hukum Orang Tua Melarang Anaknya Menikah Dalam Islam

Allah Ta’ala menciptakan sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Ada malam dan siang, ada matahari dan bumi. Hewan saling berkawin. Begitun dengan manusia, antara laki-laki dan perempuan pastilah ada perasaan cinta dan ingin menikah. Ya, hal itu wajar. Mencintai adalah fitrah manusia. Tidak ada manusia yang sanggup hidup sendirian di dunia ini. Setiap orang pasti berharap bisa membangun rumah tangga yang bahagia, bersama pasangan yang baik dan memiliki buah hati nan lucu.

Tapi menikah bukanlah perkara yang mudah. Untuk bisa menikah, seseorang harus meminta izin kepada kedua orang tuanya. Dan inilah yang sering menjadi problematika. Dimana orang tua tidak menginzinkan anaknya menikah dengan alasan-alasan tertentu. Nah, kira-kira bagaimana islam memandang masalah ini? Berikut ini penjelasan lengkap tentang hukum orang tua melarang anaknya menikah.

Baca juga:

Pandangan Islam untuk Orang Tua Melarang Anaknya Menikah

Hukum orang tua yang melarang anaknya menikah bisa jadi diperbolehkan, namun juga bisa haram. Hal itu bergantung pada alasannya.

  1. Diperbolehkan

Orang tua memang mempunyai hak untuk menolak atau menerima calon menantunya. Namun demikian, penolakan harus didasari oleh alasan-alasan yang jelas dan syar’i. Misalnya saja:

  • Tidak seagama (non muslim).
  • Ada hubungan mahram.
  • Akhlaknya buruk (pemabuk, penjudi, pencuri, pembunuh).
  • Apabila laki-laki, jika ia belum mempunyai pekerjaan sama sekali (pegangguran) maka boleh ditolak. Sebab dikhawatirkan tidak sanggup menafkahi. Namun jika si lelaki telah memiliki pekerjaan walaupun hanya serabutan maka hal itu tidak boleh dijadikan asalan penolakan.
  • Anak belum cukup umur.
  • Anak masih sekolah.

Dengan alasan-alasan diatas orang tua boleh saja melarang anaknya menikah. Namun sebagai gantinya, jika anak perempuan maka harus dicarikan jodoh lain yang lebih baik. Dan jika laki-laki diberikan kesempatan untuk bertaaruf dengan perempuan lain.

  1. Haram

Apabila si anak telah mencapai usia yang matang (dewasa), sudah mampu secara finansial dan mental, maka orang tua wajib menikahkan anaknya. Terlebih lagi jika si anak telah memiliki calon maka tidak boleh orang tua melarang hanya karena alasan duniawi. Misalnya saja:

  • Faktor harta kekayaan.
  • Pekerjaan yang dianggap kurang mapan.
  • Gelar dan jabatan.
  • Paras wajah dan bentuk fisik.
  • Dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya untuk mengutamakan ketaatan bergama dan akhlak dalam memilih calon pasangan. Sebagai sabda beliu:

Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya, hendaklah kamu nikahkan dia, karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

Baca juga:

[AdSense-B]

A. Pendapat Ulama yang mengharamkan orang tua yang melarang anaknya menikah, sementara anaknya sudah siap

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tatkala ditanya : ” Bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?” Maka beliau menjawab: ” Tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

  • Firman Allah Ta’ala yang menjelaskan tidak boleh menghalang-halangi perempuan menikah

Dalam surat Al-Baqarah juga dijelaskan bahwa wali tidak boleh menghalang-halangi perempuan janda untuk menikah lagi.

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 232)

Dalil-Dalil yang Menjelaskan Perintah Menikah

Ulama mengatakan bahwa belum lengkap agama seseorang jika tidak menikah. Ya, menikah dianggap sebagao penyempurna separuh agama. Menikah adalah sesuatu yang sakral. Dengan menikah, maka hati bisa menjadi lebih tentram. Selain itu, menikah juga menghindarkan diri dari fitnah dunia.

Ketika seseorang sudah memasuki usia baligh biasanya syahwatnya akan semakin menggepu. Ada perasaan mencintai dan ingin dicintai. Daripada harus melampiaskan hal itu dalam kubangan dosa seperti berpacaran, alangkah mulianya jika menikah menjadi pilihan utama. Namun jika memang belum mampu, maka lebih baik berpuasa untuk menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala.

baca juga:

Anjuran untuk menikah tertuang pada ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadist, diantaranya:

a. Ayat Al-Quran:

  1. AR-Rum ayat 21

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

  1. Yaa Siin ayat 36

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Qs. Yaa Siin (36) : 36).

[AdSense-A]

  1. An-Nahl ayat 72

“Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (Qs. An Nahl (16) : 72).

  1. An Nisaa’ ayat 1

“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” (Qs. An Nisaa: 1).

  1. An Nuur ayat 26

“Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga).” (Qs. An Nuur:26).

  1. An Nisaa’ ayat 3

“..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..”(Qs. An Nisaa’: 3).

b. Al-Hadist

  1. Hadist riwayat Al-Baihaqi

Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

  1. Hadist riwayat Muslim

“ Wahai para pemuda, apabila kalian telah mampu menikah maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya” (H.R Muslim).

Baca juga:

Hak Seorang Perempuan Untuk Menentukan Calon Pasangannya

Orang tua memang memiliki kewajiban mencarikan calon suami untuk anak perempuannya. Tapi hal ini juga harus dimusyawarahkan dengan si anak. Tidak boleh orang tua mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat anak gadisnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa anak perempuan memiliki hak penuh untuk menentukan calon suaminya. Jika si anak tidak setuju, maka orang tua juga tidak boleh memaksakan.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:

Gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izin, dan janda tidak boleh dinikahkan hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “ tandanya diam.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: Ya, dia dimintai izin. Aisyah berkata: Lalu saya berkata kepada beliau bahwa sesungguhnya dia malu (mengemukakannya). Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda: Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas, “bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (HR. Ahmad)

Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah, “bahwa ayahnya mengawinkannya (ketika itu ia janda) dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. “ (HR. Bukhari)

Baca juga:

[AdSense-C]

Kriteria Memilih Calon Pasangan Hidup

Terdapat beberapa kriteria dalam memilih calon pasangan hidup berdasarkan islam, diantaranya yaitu:

  1. Harta-Nasab-Kecantikan-Agama (Utamakan Agamanya)

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda: “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah)

  1. Akhlak

Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya, hendaklah kamu nikahkan dia, karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

  1. Bukan orang musyrik

“..Janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik daripada orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya..” (Q.S. Al-Baqarah: 221).

Baca juga:

Demikianlah penjelasan mengenai hukum orang tua melarang anaknya menikah. Pada intinya, jika si anak telah siap menikah (siap lahir dan batin) dan telah ada calon pasangan yang baik (dari segi agama dan akhlak) maka orang tua tidak boleh melarang anaknya menikah hanya karena alasan duniawi. Allahu A’lam bishawab.

Hukum Nikah Gantung dalam Islam

Bismillahirrahmanirrahim.

Di dalam masyarakat kita terdapat istilah “Nikah Gantung”. Istilah tersebut hampir sama dengan pernikahan dini, namun dengan kondisi yang berbeda. Istilah ‘nikah gantung’ merujuk kepada dua pengertian mengenai pernikahan. Menurut KBBI, yang dimaksud dengan nikah gantung adalah:

1) Sebuah perkawinan yang sudah sah secara agama, namun tetapi sang istri dan sang suami masih tinggal di rumah masing-masing karena suatu alasan. Biasanya ini terjadi karena sang istri atau suami masih di bawah umur dan masih bersekolah atau semacamnya.

2) Perkawinan yang peresmiannya ditunda setelah dewasa atau belum diresmikan penuh saat ini. Hal ini serupa dengan sebuah perjanjian bahwa di masa yang akan datang kedua pihak keluarga akan menikahkan kedua calon mempelai. Hal ini dikarenakan kedua mempelai masih kecil atau belum cukup umurnya.

baca juga:

Lalu, bagaimana hal ini dipandang dalam hukum islam?

Menurut penjelasan dari Ustadz Ahmad Sarwat Lc. dilansir dari rumahfiqih, tidak dikenal istilah nikah gantung dalam islam. Di dalam islam hanya terdapat istilah menikah, belum menikah dan tidak menikah. Namun, ada terdapat beberapa hukum untuk masalah nikah gantung ini.

1. nikah gantung sebagai pernikahan yang sah dan halal.

Jika nikah gantung itu diartikan dan dilaksanakan sebagai pernikahan yang sudah sah secara agama tetapi kedua mempelai belum tinggal serumah atau masing tinggal di rumah keluarga masing-masing, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini disebabkan keduanya telah sah menjadi suami istri hanya saja, mungkin kedua mempelai belum cukup umur atau dapat menjalankan sebuah tanggung jawab untuk tinggal berdua atau terdapat perjanjian diantara keduanya untuk tidak tinggal berdua terlebih dahulu.

baca juga:

Dalam hal ini, nikah gantung hanyalah sebatas istilah untuk pernikahan yang mereka lakukan. Mungkin istilah ‘gantung’ menggambarkan keadaan kedua mempelai yang seakan-akan terlihat masih dalam ‘ketidakjelasan’ karena belum bisa hidup bersama atau mungkin istilah nikah gantung di masyarakat kita muncul karena pernikahan ini membuat kedua mempelai belum diberikan kejelasan mengenai pernikahan mereka hingga ketika mereka dewasa dan semua keputusan berada di tangan mereka.

[AdSense-B]

Padahal pada kenyataanya kedua mempelai sama-sama sudah memegang sebuah kejelasan, karena mereka sudah sepenuhnya halal menjadi pasangan suami istri. Bahkan keduanya boleh melakukan apapun yang lazim dilakukan pasangan suami istri, seperti halnya berduaan, pergi bersama dan semacamnya, tidak ada larangan untuk mereka melakukan semua itu.

Baca:

2. nikah gantung yang belum merupakan sebuah pernikahan.

Berbeda dengan nikah gantung dengan pengertian yang pertama, jika nikah gantung yang dimaksud hanyalah sebuah perjanjian untuk meresmikan pernikahan di masa yang akan datang, maka hal tersebut belum dapat dikatakan sebuah pernikahan dalam islam, sebab belum terjadi akad nikah di antara kedua mempelai dan mereka belum sah menjadi pasangan suami istri. Nikah ganung dalam pengertian kedua ini hanyalah sebuah perjanjian yang hanpir sama dengan fenomena perjodohan. Supaya ketika dewasa nanti mereka tinggal melaksanakan pernikahan atau semua keputusan kembali kepada mereka, mau menikah atau tidak jadi menikah. Itulah mengapa hal ini disebut nikah gantung.

[AdSense-A] Oleh karena itu, kedua pihak belum diperbolehkan untuk melakukan hal-hal selayaknya pasangan yang sudah sah sebagai suami istri seperti berduaan dan semacamnya. Hal-hal seperti itu hukumnya masih haram untuk keduanya. Dikarenakan mereka hanya membuat sebuah kesepakatan untuk menikah, bisa saja suatu hari karena sebuah alasan kesepakatan atau perjanjian itu dibatalkan. Apalagi jika masing-masing calon mempelai baru bisa menyepakati bahwa suatu saat mereka akan menikah tanpa waktu yang pasti. Perbuatan seperti ini dinamakan ‘nikah gantung’ mungkin karena kedua calon mepelai benar-benar masing ‘digantung’ tanpa kejelasan yang pasti.

baca juga:

Fenomena Nikah Gantung

Fenomena gantung jenis pertama masih dipandang aneh di Indonesia, terlebih jika kedua mempelai sama-sama masih di bawah umur menurut hukum. Orang-orang masih memandang sebelah mata orang-orang yang menikah atau menikahkan anak-anak di bawah umur dan bahkan dengan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan seperti mempelai wanita sudah hamil di luar nikah, sebuah praktik pedophilia atau kedua mepelai menikah karena perjodohan atau harta. Beberapa orang memandang kasihan untuk mereka yang sudah dinikahkan dalam usia muda, masih bersekolah atau masih berkuliah. Mereka berkata sayang jika masa muda tidak dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-nya. Mungkin, hal itu ada benarnya juga dan kita harus menghargai pendapat-pendapat orang lain. Tetapi, mari kita lihat mengapa islam memperbolehkan pernikahan gantung jenis pertama ini.

Di dalam islam, pernikahan adalah pernikahan. Jika kedua mempelai sudah saling tertarik, kedua keluarga sudah saling percaya dan siap melangsungkan sebuah pernikahan, maka hal itu boleh dilakukan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassalam pun menikahi Aisyah ketika Aisyah masih berusia anak-anak. Mungkin beberapa orang akan berkata, “Dia kan seorang Rasul, berbeda akhlaknya, kemampuannya, dan keadaannya denga kita.”. Memang, tetapi sederhananya itu bisa kita jadikan sebagai contoh bahwa islam membolehkan menikahi seseorang yang masih di bawah umur. Apalagi jika maksud pernikahan itu baik, memiliki tujuan yang baik, atau untuk mencapai sesuatu yang baik. Pernikahan gantung jenis pertama juga insyaAllah bisa menghindari seseorang dari zina. Semoga Allah merahmati selalu kedua orangtua yang tidak terlalu mempermasalahkan kedua mempelai yang dalam sementara waktu belum bisa menanggung hidup sendiri, yang lebih penting adalah mereka ingin kedua-duanya auh dari perbuatan zina.

baca juga:

Pernikahan tersebut juga tidak akan serta merta menghentikan langkah kedua orang yang dinikahkan. Mereka yang masih bertekad untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, merintis karir atau usaha, berbakti pada orangtua pun dengan izin-Nya masih bisa dilakukan seiring dengan kehidupan pernikahan. Mungkin inilah salah satu maksud terjadinya pernikahan gantung jenis pertama, agar kedua mempelai hidup bersama dalam satu rumah ketika keduanya sudah benar-benar siap untuk bertanggung jawab dan menanggung hidup hanya berdua.

Sedangkan untuk fenomena pernikahan gantung jenis kedua, islam tidak mengenal dan tidak menilai itu menjadi sebuah pernikahan. Namun sayangnya, hal ini malah yang dianggap ‘lumrah’, ‘biasa, atau ‘baik oleh sebagian masyarakat kita yang melakukannya. Biasanya setelah melakukan perjanjian untuk menikah, keluarga pihak laki-laki dan perempuan jadi tidak khawatir untuk melepas sang perempuan dan laki-laki untuk pergi bersama dengan alsan ‘nanti mereka mau menikah”. Padahal untuk keduanya hal ini masih dihukumi sebagai zina. Naudzubillahimindzaliik. Semoga kita dilindungi dari perbuatan tersebut. Aamiin.

Menikah Tanpa Izin dengan Orangtua Dalam Islam

Menikah adalah salah hal yang dianjurkan oleh Rasulullah Salallahu A’laihi Wassalam bagi para pemuda dan pemudi yang memang sudah siap secara lahirnya dan batinnya. Berlangsungnya sebuah pernikahan harus memenuhi setiap syarat, rukun dan kewajiban dari kedua mempelai. Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah adanya wali pernikahan. Hal ini seringkali terhambat dengan tidak adanya izin dari orangtua mempelai yang berhak menjadi walinya.

Baca:

Bahayanya, salah satu fenomena yang menjadi bentuk kenekatan para pemuda dan pemudi yang ingin menikah tetapi tidak mendapatkan izin orangtua adalah kawin lari. Mereka mengangkat sembarang orang sebagai walinya, menikah kemudian pergi jauh dari orang tua atau bahkan menikah tanpa wali dan tidak mendapatkan izin dari wali yang sah dari kedua mempelai. Lebih parahnya, mungkin saja terjadi kawin lari yang diwujudkan dengan kedua mempelai tinggal bersama dalam satu atap tanpa adanya status pernikahan. Naudzubillahimindzaliik. Pernikahan-pernikahan seperti ini-lah yang merupakan contoh-contoh dari pernikahan yang salah dan bermasalah.

baca juga:

Dalil Menikah dalam Islam

Pada hakikatnya, mempelai wanita wajib memiliki wali yang sah yakni laki-laki yang berasal dari keluarga ayahnya untuk melangsungkan sebuah pernikahan, entah itu ayahnya sendiri, kakeknya, saudara laki-lakinya seayah dan seibu, saudara laki-lakinya seayah, anak saudara laki-lakinya, atau bahkan anaknya, cucunya, atau pamannya. Kerabat laki-laki di atas kakek dari pihak ayah pun boleh menjadi wali. Utamanya yang paling berhak menjadi wali sang mempelai perempuan adalah ayahnya sendiri, tidak boleh diwakilkan jika sang ayah masih mampu dan sanggup.

Namun, jika ayahnya berhalangan atau mewakilkan kepada kerabat laki-laki yang lain, maka hal itu diperbolehkan. Seorang wali pun harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan di dalam islam, yakni : Beragama islam, seorang laki-laki, berakal yakni dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, sudah baligh, dan merupakan manusia yang merdeka, dalam artian bukan seorang hamba sahaya. Pernikahan yang mengambil seseorang yang tidak sah menjadi wali sebagai walis ama saja dengan pernikahan tanpa seorang wali.

baca juga:

[AdSense-B]

Berikut dalil mengenai keharusan seorang wanita menikah dengan seizin walinya :

  • Hadits Pertama

Dari ‘Aisyah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah batiil, batil, batil. Dan apabila mereka bersengketa maka pemerintah adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali”. (HR. Abu Daud no. 2083, Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879 dan Ahmad 6: 66.)

  • Hadits Kedua :

Dari Abu Musa Al Asy’ari berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali”. (HR. Abu Daud no. 2085, Tirmidzi no. 1101, Ibnu Majah no. 1880 dan Ahmad 4: 418. shahih)

  • Hadits Ketiga

Hadits ini menjelaskan bahwa tidak boleh seorang wanita menjadi wali dari seorang mempelai wanita dalam sebuah pernikahan:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Wanita tidak bisa menjadi wali wanita. Dan tidak bisa pula wanita menikahkan dirinya sendiri. Wanita pezina-lah yang menikahkan dirinya sendiri.” (HR. Ad Daruquthni, 3: 227.)

baca juga:

[AdSense-C]

Kesimpulan dari tiga hadits diatas adalah, pernikahan tanpa izin dari wali sah atau dalam kondisi tanpa izin dari orangtua merupakan pernikahan yang tidak sah sehingga hubungan yang terbentuk termasuk ke dalam zina. Hal itu dikarenakan wali adalah salah satu syarat sah-nya sebuah pernikahan, sehingga sebaiknya sebuah pernikahan mendapatkan izin dari kedua orangtua mempelai. Izin seorang wali atau izin dari orangtua dalam sebuah pernikahan juga berkaitan dengan hadits yang menjelaskan bahwa ridho Allah bergantung kepada ridho orangtua.

Dari Abdullah bin ’Amru radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (Hasan. at-Tirmidzi : 1899).

Semua orang pasti ingin pernikahan yang lancar dan kehidupan setelah pernikahan yang bahagia, salah satu faktornya adalah ridho dari orangtua. Kita memang tidak bisa mengatakan bahwa pernikahan yang tidak diridhoi akan hancur, tetapi kehidupan tanpa ridho Allah sudah pasti tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dibalik semua itu, seorang wali juga tidak boleh melarang orang yang diwalikannya untuk menikah apabila kedua mempelai sudah memilii kecocokan dan siap secara lahir dan batin. Oleh karena itu, komunikasi yang baik sangat diperlukan antara wali dan yang diwalikan, agar tercipta kepercayaan satu sama lain untuk menikahkan dan dinikahkan.

Dalam surat Al Baqarah ayat 232, Allah Berfirman:

“Dan apabila kamu menceraikan isteri-isteri (kamu), lalu sampai masa ‘iddahnya, maka jangan kamu (para wali) halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin kecocokan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman kepada Allah dan hari Akhir. Itu lebih suci bagimu dan lebih bersih. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah : 232]

baca juga:

Kesimpulannya, lebih baik jangan langsungkan pernikahan tanpa izin orangtua. Bicarakan baik-baik tujuan dan alasan kita untuk memilih menikahi seseorang kepada orangtua dan teruslah berdoa kepada Allah agar Ia melembutkan hati mereka. Percayalah, Allah-lah satu-satunya yang Maha Membolak-balikan Hati Manusia.  Sebuah hal yang mudah untuk Allah melembutkan hati setiap hamba-Nya. Sebagaimana yang tersurat di dalam hadits berikut :

Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3/257)

Demikian penjelasan singkat terkait bagaimana pandangan islam tentang menikah tanpa restu orangtua, semoga bermanfaat.