Emansipasi Wanita dalam Islam

Ada banyak wanita yang berbicara mengenai emansipasi. Emansipasi adalah istilah yang digunakan untuk perjuangan hak-hak politik wanita atau persamaan derajat wanita dihadapan laki-laki di konteks sosial masyarakat. Islam memiliki pandangan mengenai permasalahan emansipasi wanita. Tentu saja islam tidak pernah meyudutkan atau membedakan wanita dimanapun dan dalam sudut pandang apapun. Berikut adalah mengenai Emansipasi Wanita dalam Islam.

Wanita dalam Sudut Pandang Islam

Di dalam islam tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan kecuali pada apa yang dilakukan sebagai bentuk ketaatannya. Untuk itu, derajat perempuan dan laki-laki tidak bisa dibedakan kecuali Allah lah yang menilainya.

  1. Wanita dan Laki-Laki Memiliki Kewajiban Taat Pada Allah

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah [9]: 71)

Di dalam Islam, wanita memiliki posisi yang sama di dalam masyarakat. Wanita dan Laki-laki dalam sudut pandang ini adalah orang-orang yang berkewajiban untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar,menjalankan rukun iman, rukun islam, fungsi agama dan mencegah kerusakan terjadi di masyarakat dengan perannya masing-masing. Wanita sama sebagaimana laki-laki berperan sebagai Hamba Allah untuk melaksanakan shalat dan zakat. Laki-laki atau pun perempuan tidak dibebankan tugas mengabdi kepada Allah secara berbeda. Semuanya memiliki porsi yang sama. Tentu dihadapan Allah perbedaan-nya hanyalah amalan dan pahala yang dilakukan.

2. Penentu Derajat di Sisi Allah adalah Amalannya

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ [4]: 124)

Dari ayat tersebut juga dijelaskan bahwa laki-laki dan wanita beriman akan masuk surga tanpa memandang perbedaan gender. Hal yang menentukan tentu hanya amalan baik yang dilakukan dan apa yang dilakukan selama hidup di dunia. Termasuk dalam hal mendapatkan pendidikan, bersosialisasi di masyarakat, mendapatkan kehidupan yang layak, turut serta membangun masyarakat adalah hal-hal yang tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan.

Wanita dalam Sejarah Islam

Wanita di masa sejarah islam, dianggap rendah dan tidak memiliki kesamaan derajat dengan laki-laki. Wanita dianggap lemah bahkan dianggap sebagai budak dari laki-laki. Perilaku laki-laki terhadap wanita pun sangat kasar dan tidak berperikemanusiaan. Dalam sejarah bahkan bayi perempuan di buang begitu saja dan merasa malu bagi keluarga yang melahirkannya.

Hal ini tentu perlahan berubah seiring dengan hadirnya Rasulullah SAW dalam menyampaikan islam di masyarakat. Perempuan diangkat, dibebaskannya budak-budak, hak-hak untuk hidup, bersosialisasi, mendapatkan pengetahuan, memiliki pendapat diberikan kepada perempuan. Bahkan perempuan di zaman Rasulullah juga dapat ikut serta dalam aktivitas dakwah dan peperangan.

Banyak pula figur-figur wanita islam yang muncul dan memberikan insipirasi baru bagi kultur masyarakat Arab dimana sebelumnya wanita menjadi kaum yang marginal diantaranya adalah:

  • Khadijah b. Khuwaylid
  • Nusayba b. Ka’b al-Anṣārīyya
  • Aisyah b. Abu Bakr

[AdSense-B]

Wanita Memiliki Hak Untuk Berkarya

Dalam islam wanita juga memiliki hak untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang lain sebagaimana dirinya diciptakan oleh Allah dengan segala potensi. Berikut adalah alasan mengapa wanita berhak berkarya.

  1. Wanita adalah Khalifah Fil Ard

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS Al Baqarah : 30)

Dalam ayat diatas ditunjukkan bahwa sejatinya manusia adalah Hamba Allah yang diciptakan sesuai dengan tujuan manusia. Wanita juga adalah seorang khalifah fil ard. Untuk itu, Wanita pun bisa melakukan sesatu untuk memberikan kontribusi bagi ummat dan bagi masyarakat. Membangun bumi tentu bukan hanya tugas satu orang saja melainkan bahu membahu semua elemen tidak terkecuali wanita dan laki-laki.

2. Peran dan Tugas Wanita Berbeda dengan Laki-Laki

Menghadapi tugas tersebut, tentunya laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda. Namun tidak dalam artian ada diskriminasi atau perbedaan derajat. Misalnya saja menjadi seorang istri yang membangun pendidikan anak, mengorganisir kebutuhan rumah tangga dan melaksanakan tugas-tugasnya di rumah, tidak berarti hal tersebut lebih rendah dibanding seorang laki-laki yang mencari nafkah di luar kantor.

Sering kali orang-orang berpendapat bahwa ketika wanita di dalam rumah sama dengan tugas yang tidak berdampak apapun pada pembangunan masyarakat. Tentu saja tidak karena jika di rumah namun melakukan hal-hal yang produktif seperti mendidik anak, mengajari agama pada anak, mengelola rumah tangga, pasti akan mencaga keharmonisan dan keutuhan keluarga.
[AdSense-C]

3. Wanita Karir dalam Islam

Begitupun jika wanita ingin berkarir. Wanita Karir dalam Pandangan Islam tentu bukan suatu yang dilarang atau diharamkan. Peran-peran wanita di masyarakat juga sangat dibutuhkan. Dokter, Perawat, Guru, Konselor, Tenaga Medis, Aktivis Sosial dan lain-lain sebagainya sangat dibutuhkan oleh ummat. Dalam hal ini tentu tidak masalah jika Wanita ingin berkarir dan mengembangkan potensinya.

Berkarirnya wanita tentu tidak boleh meninggalkan peran ia dalam keluarga. Keseimbangan dalam hal ini tentu sangat dibutuhkan. Sama sebagaimana laki-laki walaupun ia sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah tidak sama dengan laki-laki meninggalkan kewajibannya yang lain untuk mendidik keluarganya dan berperan untuk pekerjaannya di bidang yang ditekuni.

Untuk itu wanita yang menjaga perannya perlu juga memahami mengenai peran sebagai istri seperti, Kriteria Calon Istri yang Baik Menurut Islam, Wanita yang Baik Menurut Islam, Wanita Shalehah Idaman Pria Sholeh yang dapat membuat wanita terdorong untuk menjaga keseimbangan perannya.

Emansipasi Wanita Islam

Ada beberapa golongan yang memandang bahwa emansipasi wanita adalah bentuk bahwa wanita adalah segala-galanya dan apapun yang dikehendaki wanita boleh untuk dilakukan termasuk kebebasan dalam kehidupannya. Di dalam Islam tentu bukan hal seperti itu yang diinginkan dan dimaksukan oleh Allah SWT. Emansipasi wanita dalam islam artinya mendudukkan wanita setara sebagaimana laki-laki, namun tidak bertentangan dengan fitrah atau kodrat wanita.

Beberapa gologan berpendapat bahwa wanita bebas berekspresi sebagaimana ia ingin seperti laki-laki, tidak ingin melahirkan, tidak ingin mendapatkan haid, atau mungkin ingin menjadi laki-laki. Tentu kodrat perempuan tetaplah harus dijaga sebagaimana yang telah Allah berikan bukan justru merubahnya secara bebas tak terkendali.

Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam tentu hal-hal yang perlu dipahami oleh wanita untuk mengusung konsep emansipasi. Konsep ini yang mendasari bagaimana wanita bisa memahami kodrat dan peran yang ada dalam dirinya. Kewajiban Wanita dalam Islam , Kedudukan Wanita Dalam Islam , serta Peran Wanita Dalam Islam adalah hal yang juga perlu diketahui agar wanita dapat sesuai dengan fitrahnya yang telah diciptakan oleh Allah SWT.

Untuk itu emansipasi wanita dalam islam berarti bahwa wanita memiliki kesempatan, kedudukan, dan tentu derajat yang sama dengan lelaki. Perbedaannya hanyalah pada perannya saja. Masing-masing saling melengkapi dan menyeimbangkan. Tidak ada yang unggul dan tidak ada yang lebih rendah. Semuanya hanyalah Makhluk Allah yang penuh dengan kekurangan.

Kodrat Wanita dalam Islam

Secara umum kodrat berarti suatu keadaan yang sudah digariskan atau ditakdirkan oleh Allah SWT dan tentu kodrat tersebut menjadi fitrah juga bagi manusia. Sebagai wanita, tentu saja akan memiliki kodrat yang sudah barang tentu untuk dijaga dan dipelihara. Manusia yang melanggar kodratnya, ingin merubah kodratnya tentu tidak akan mendapatkan manfaat dan hasil yang baik, melainkan rusaknya jati diri , bertentangan dengan fungsi agama dan identitas yang sesungguhnya. Berikut adalah penjelasan mengenai  kodrat wanita dalam islam :

Dampak Manusia yang Melanggar Kodrat

Kodrat yang sudah Allah tetapkan bukan tanpa adanya perhitungan dan juga ketetapan yang berdasarkan hukum keseimbangan. Begitupun wanita yang memiliki kodrat, jika dilanggar atau ditentang maka akan berdampak pada rusaknya diri wanita tersebut. Hal ini sebagaimana Allah sampaikan dalam QS Ar Rahman,

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS Ar Rahman : 7-9)

Dalam penciptaanya segala yang ada di langit dan bumi Allah telah menciptakannya dengan keadilan. Arti adil adalah sesuai dengan fungsi, tujuan, potensi, dan tidak berat sebelah. Sering kali manusia yang tidak menjaga keseimbangan dan keadilan tersebut, maka akan mendapatkan dampak yang buruk bagi kehidupannya. Seperti misalnya wanita yang ingin menjadi seperti lelaki atau sebaliknya. Fungsi wanita dan laki-laki sudah jelas berbeda, ketika dilanggar kodratnya maka dampaknya akan dirasa oleh diri sendiri bahkan masyarakat. Seperti munculnya kaum lesbian, homoseksual, dsb.

Hal ini sebagaimana disampaikan Allah dalam Al-Quran, bahwa apa yang dikerjakan manusia tentu akan berefek kepada masing-masing sesuai dengan apa yang dilakukannya.  Keutamaan Adil Terhadap Diri Sendiri juga tentunya diperlukan agar dapat mempertanggungjawabkan apa yang menjadi perilaku dan pilihan kita.

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Al An’am : 32)

Kodrat yang Terdapat Pada Wanita

Agar sesuai dengan apa yang Allah turunkan dan fitrah yang terdapat pada wanita, maka wanita pun harus menyadari dan memahami fitrah atau kodrat apa saja yang ada dalam dirinya, sehingga kodrat tersebut dapat dijaga, dipelihara, dan dioptimalkan sebagaimana tujuan Allah dalam menciptakannya. Berikut adalah beberapa kodrat wanita, sebagaimana Allah ciptakan.

  1. Bentuk Fisik

Wanita pada dasarnya memiliki fisik yang sangat berbeda dengan laki-laki. Wanita memiliki ciri fisik yang cantik, feminim, sangat gemulai dan menyimpan potensi keindahan yang lebih dibanding dari laki-laki. Laki-laki dengan fisiknya memiliki kesan maskulin, kuat, dan memiliki tenaga yang lebih dibanding wanita. Hal ini tentu menjadi kodrat bagi wanita bahwa wanita selalu berkesan cantik, walaupun setiap orang memiliki pandangan berbeda mengenai kecantikan. Kecantikan Wanita Dalam Islam tentu bukanlah suatu yang dilarang asalkan tidak berlebihan. Namun, bagi laki-laki perlu juga mengetahui  Cara Menjaga Pandangan Menurut Islam agar tidak mudah terperdaya oleh kecantikan semata.

Bagaimanapun, kecantikan dan keindahan fisik adalah anugerah Allah bagi manusia, dan dijadikan indah pandangan terhadap wanita bagi laki-laki, karena keindahan fisik wanita adalah hal yang menarik bagi laki-laki. Untuk itu, kodrat wanita ini sudah menjadi fitrah dan anugerah dari Allah bagi wanita. Jika dirubah atau dibuat bertentangan maka akan berefek pada ketidaktertarikan laki-laki pada perempuan, dan hasrat untuk dapat memenuhi kebutuhan seksual dari laki-laki tentu akan berkurang. Padahal dari kebutuhan itulah akan muncul generasi manusia baru di dunia.

  1. Fungsi Fisik (Haid, Hamil, dan Menyusui)

Fungsi fisik pada wanita diantaranya memiliki potensi yang sangat besar untuk keberlangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Wanita memiliki fungsi fisik yang fital dan itulah perjuangan atau jihad bagi wanita jika dilakukan dengan sebaik-baiknya. Jelas potensi fisik ini tidak dimiliki oleh laki-laki dan peran laki-laki tidak bisa menyamai sebagaimana wanita.

Fungsi fisik tersebut diantaranya adalah fungsi rahim untuk mengandung, payudara untuk menyusui, dan tentu hormon-hormonal lain yang berfungsi untuk mendukung peran wanita sebagai ibu, istri, bagi suami dan anak-anaknya.

Fungsi ini jika dirubah dan ditentang, maka akan berefek pada keseimbangan tubuh wanita itu sendiri dan pada keseimbangan di masyarakat. Bayangkan saja jika wanita-wanita tidak mau mengandung, menyusui, dan melahirkan. Tentu tidak akan ada generasi baru, penerus kehidupan keluarga, dan keberlangsungan peradaban di muka bumi. Untuk itu, fungsi tersebut tidak mungkin ditentang atau dirubah. Bahkan Allah menempatkan wanita yang mengandung, melahirkan, menyusui sebagai jihad tersendiri yang pahalanya besar.
[AdSense-B]

  1. Aspek Emosional – Rasa

Wanita memiliki aspek emosional atau rasa yang lebih sensitif dibandingkan laki-laki. Hal ini menjadi wajar karena tugas seorang wanita yang utama adalah sebagai seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya penuh kasih sayang dan cinta. Untuk itu, fitrah ini bukan hanya sebagai kelemahan wanita melainkan potensi kelembutan, kasih sayang, dan kesabaran wanita dalam mendidik anak-anaknya serta mengelola hubungan rumah tangga bersama suami.

Untuk itu wanita yang menjaga kodratnya perlu juga memahami mengenai  Kriteria Calon Istri yang Baik Menurut Islam, Wanita yang Baik Menurut Islam, Wanita Shalehah Idaman Pria Sholeh yang dapat membuat wanita terdorong untuk menjaga kodratnya dengan baik.

  1. Aspek Universal sebagai Manusia

Wanita tentunya sebagai manusia memiliki kodrat yang juga sebagaimana manusia pada umumnya. Hal ini seperti memiliki akal, perasaan, fungsi jiwa, dan lain sebagainya. Untuk itu, sejatinya wanita dan laki-laki sama manusia yang memiliki potensi yang sama. Berbeda hanya pada aspek fungsi dan perannya saja.
[AdSense-C]

Cara Menjaga Kodrat

Agar sesuai dengan kodrat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT tentu wanita bertugas untuk menjaga kodrat tersebut secara baik dan sesuai aturan agama. Hal ini bisa dilakukan dengan memahami fungsi-fungsi dari apa yang Allah anugerahkan Allah kepadanya. Selain itu wanita juga harus menjaga kodrat itu dengan cara mengkondisikan lingkungan yang kondusif dan sesuai dengan nilai-nilai agama agar dapat terus berjalan kodrat tersebut sesuai dengan perintah Agama atau yang telah Allah perintahkan.

Untuk itu menjaga kodrat tentu saja perlu juga memahami secara utuh mengenai Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam. Konsep ini yang mendasari bagaimana wanita bisa memahami kodrat-kodratnya yang ada dalam dirinya. Kewajiban Wanita dalam Islam , Kedudukan Wanita Dalam Islam , serta Peran Wanita Dalam Islam adalah hal yang juga perlu diketahui agar wanita dapat terus menjaga dan memelihara kodratnya tersebut sesuai ketetapan Allah SWT.

Wanita Karir dalam Pandangan Islam

Kebutuhan hidup dewasa ini yang semakin tinggi memaksa para wanita untuk bekerja dan meninggalkan rumah demi membantu suami dalam memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga. Seiring perkembangan zaman, saat ini masyarakat menilai bahwa pekerjaan wanita tidak hanya membantu suaminya mengurus rumah tangga saja akan tetapi mereka bisa menuntut ilmu setinggi-tingginya  (baca hukum menuntut ilmu)dan bekerja untuk mengaktualisasi ketrampilan dan pendidikannya. Islam sendiri sebagai agama yang adil telah menetapkan hak yang hilang dari wanita sebelum kedatangan islam dan setelahnya (baca wanita dalam islam). Islam menjamin bahwa wanita berhak memiliki harta dan kepemilikannya atas harta tersebut diakui secara penuh termasuk dalam hal harta warisan (baca kedudukan wanita dalam islam) sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat berikut ini

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (QS An-Nisa : 7)

Wanita yang bekerja diluar rumah dikenal dengan sebutan wanita karir. Lalu bagaimanakah pandangan islam terhadap wanita karir? Simak penjelasan berikut ini mengenai wanita karir dalam pandangan islam :

Hukum Wanita Karir Dalam Islam

Menurut hukum Islam, wanita berhak memiliki harta dan membelanjakan, menggunakan, menyewakan menjual atau menggadaikan atau menyewakan hartanya. Mengenai hak wanita karir atau wanita yang bekerja diluar rumah, harus ditegaskan sebelumnya bahwa Islam memandang wanita karena peran dan tugasnya dalam masyarakat sebagai ibu dan isteri sebagai peran yang mulia.

Tidak ada pembantu atau asisten tumah tangga yang dapat merawat anak dan menggantikan ibunya dalam tugas mendidik dan membesarkannya. Adapun seorang wanita juga memiliki kewajiban pada suaminya untuk mengurus dirinya, rumah tangga dan anak-anak (baca peran wanita dalam islam). Islam juga menganjurkan wanita untuk tetap tinggal dalam rumah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini :

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf”. (Q.s. Al-Baqarah [2]: 233)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguh nya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahl al-bayt, dan mem bersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.s. al-Ahzâb [33]: 33

Namun demikian, tidak ada satupun petunjuk maupun ketetapan dalam agama Islam yang menyatakan bahwa wanita dilarang bekerja diluar rumah khususnya jika pekerjaan tersebut membutuhkan peran dan penanganan wanita. Misalnya perawat, pengajar anak-anak dan dalam hal pengobatan.(baca hukum wanita bekerja dalam islam)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan
mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nisaa [4] : 32)

Alasan yang Memperbolehkan Wanita Karir

Adapun ulama fiqih menyatakan ada dua alasan dimana seorang wanita diperbolehkan untuk bekerja diluar rumah dan mencari nafkah, apabila berdasarkan pada alasan berikut

  1. Rumah tangga memerlukan banyak biaya untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk menjalankan fungsi keluarga sementara penghasilan suami belum begitu memadai, suami sakit atau meninggal sehingga ia berkewajiban mencari nafkah bagi dirinya sendiri maupun anak-anaknya.(baca membangun rumah tangga dalam islam)
  2. Masyarakat memerlukan bantuan dan peran wanita untuk melaksanakan tugas tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh seorang wanita seperti perawat, dokter, guru dan pekerjaan lain yang sesuai dengan kodrat wanita.

Dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW sendiri tidak melarang wanita untuk melakukan pekerjaan di luar rumah :[AdSense-B]

Dari Mu‘âdh ibn Sa‘ad diceritakan bahwa budak perempuan Ka‘ab ibn Mâlik sedang menggembala kambingnya di Bukit Sala’, lalu ada seekor kambing yang sekarat. Dia sempat mengetahuinya dan menyembelihnya dengan batu. Perbuatannya itu ditanyakan kepada Rasulullah Saw. Beliau menjawab, “Makan saja!” (H.r. al-Bukhârî)

Syarat Wanita Bekerja Di Luar Rumah

Seorang wanita dapat meninggalkan rumahnya untuk bekerja apabila ia memenuhi syarat-syarat berikut ini :

1. Menutup auratnya dengan hijab

Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini wanita memiliki kewajiban untuk menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka, kecuali yang zahir daripadanya. Danhendaklah mereka menutup belahan baju mereka dengan tudung kepala mereka “.(al-Nur(24):31)

2. Menghindari Campur baur dengan pria

Adapun jika seorang wanita bekerja diluar rumah, ia disarankan untuk menghindari tempat dimana pria dan wanita berbaur. Hal ini bertujuan untuk menjaga wanita dari fitnah. Wanita yang bekerja di luar rumah rentan mengalami godaan dan dapat menyebabkan perselingkuhan dalam rumah tangga.

3. Mendapat izin dari orangtua, wali atau suami bagi wanita yang telah menikah

Seorang wanita boleh bekerja atas hanya atas izin orangtua dan suaminya sebagaimana yang tercantum dalam ayat berikut ini

Syarat tersebut berdasarkan firman Allah, di dalam surah al-Nisa’ (4):34 yang berbunyi

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”

4. Tetap menjalankan kewajibannya di rumah

Menjadi wanita karir memang tidak dilarang akan tetapi ia tidak boleh melalaikan melalaikan tugasnya sebagai seorang isteri atau ibu untuk mengurus rumah tangga atau keluarganya serta mendidik anak-anaknya (baca cara mendidik anak dalam islam). Wanita selayaknya memberikan perhatian dan waktu yang cukup pada keluarganya meskipun ia bekerja diluar rumah.(baca juga wanita shalehah idaman pria shalehah)

5. Pekerjaannya tidak menjadi pemimpin bagi kaum lelaki.

Ulama Abd al-Rabb menjelaskan bahwa wanita tidak boleh menjadi pemimpin tertinggi dalam suatu kaum seperti halnya menjadi pemimpin negara atau masyarakat sesuai hakikat bahwa pria semestinya memimpin wanita dan bukan sebaliknya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas seba-hagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) telah menaf-kahkan sebagian dari harta mereka”. (An Nisa ;34)[AdSense-C]

Dampak Wanita Karir Bagi Keluarganya

Masuknya wanita ke dalam dunia kerja dan meniti karir memang membawa dampak positif terhadap perkembangan ekonomi keluarga dan pemenuhan kebutuhan serta terbantunya masyarakat dengan peran serta wanita. Akan tetapi wanita karir yang terlalu sibuk mengejar karirnya dikhawatirkan akan menunda jodoh (baca mencari jodoh dalam islam dan penyebab terhalangnya jodoh) dan pernikahannya (baca hukum pernikahan, rukun nikah dan syarat pernikahan).

Selain itu wanita karir juga rentan mengalami masalah dalam keluarga dikarenakan sedikitnya waktu yang ia luangkan bersama keluarganya.Seorang ibu yang terlalu larut di dalam pekerjaannya terkadang melupakan perannya dan membuat anak kurang mendapat perhatian sehingga banyak kasus anak yang terlibat perbuatan kriminal dan terjerumus narkoba.(baca wanita yang baik menurut islam)

Peran Wanita Dalam Islam

Islam memberikan tempat yang mulia bagi wanita dan islam menyetarakan kedudukan wanita dengan kaum pria. Dalam al-Qur‟ān sendiri tidak ditemui satu buktipun pun tentang apa yang disampaikan dalam kitab-kitab suci lain bahwa wanita diciptakan lebih rendah dari pria atau bahwaHawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk kiri Adam. Di samping itu, dalam Islam tidak ada satu pun hal yang dapat digunakan untuk memandang rendah dan pun yang meremehkan wanita berkenaan dengan kodrat dan bawaanya sebagai mana yang dijelaskan dalam ayat berikut ini :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allāh dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allāh; Sesungguhnya Allāh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Taubah :71)”

Memang wanita adalah hamba Allah yang lemah dibandingkan dengan laki-laki, meskipun demikian wanita dalam islam memiliki peran amat besar dalam kehidupan masyarakat dan agama. Tanpa keberadaan wanita, kehidupan di dunia tidak akanberjalan semestinya karena wanita adalah pencetak generasi yang baru. Apabila muka bumi ini hanya ditinggali oleh laki-laki, maka mungkin kehidupan sudah berakhir sejak zaman dahulu. Oleh sebab itu, keberadaan dan peran wanita tidak bisa diremehkan dan diabaikan, karena sesungguhnya dibalik semua rangkaian dan keberhasilan di situ ada peran wanita. Wanita memiliki peranan penting dalam kehidupan keluarga ekonomi, politik, pendidikan, agama dan sosial budaya. Adapun peran wanita dalam islam dijelaskan sebagai berikut :

Peran Wanita Sebagai Seorang Anak

Dalam sebuah keluarga, anak perempuan layak mendapatkan posisi dan perlakuan yang sama dengan anak laki-laki. Seorang anak perempuan dalam keluarganya berperan sebagai pemelihara tradisi, nilai-nilai dan norma yang ada pada keluarga dan masyarakat. Anak peremopuan yang memiliki sifat lembut berperan menjaga kemuliaan keluarganya dengan menjaga diri dan kehormatannya serta menuntut ilmu intuk membahagiakan orangtuanya. Anak perempuan juga berperan dalam membantu tugas-tugas rumah tangga dalam keluarganya.

Peran Wanita Sebagai Seorang Isteri

Setelah menikah, seorang anak perempuan tidak hanya berperan penting bagi keluarganya melainkan juga berperan dalam kehidupan suaminya dan anak-anaknya kelak. Seorang istri yang shalehah 9baca ciri-ciri istri shalehah) memiliki peranan penting dibalik seorang suami yang shaleh terutama saat suaminya memperoleh kesuksesan maupun mendapatkan ujian.

Seorang istri berperan dalam mengurus kebutuhan suaminya dan mendukungnya serta memberikan nasihat untuk kemanjuan sang suami. Ia juga berperan dalam mendukung sang suami saat tertimpa musibah atau masalah yang menyebabkan jiwanya tergoncang sehingga tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Seorang Istri yang shalehah akan selalu memberi dorongan untuk terus maju memberi dukungan pada suaminya agar tetap semangat dalam menapaki ujian dan berusaha menenangkannya agar ia tetap sabar dan bersyukur. (baca membangun rumah tangga dalam islam)

Di antara kewajiban dan peran istri terhadap suami adalah sebagai berikut

  • Taat kepada Suami dalam hal kebaikan
  • Tidak Keluar rumah melainkan atas izin suami
  • Tidak menjauhi tempat tidur suami
  • Ridho dengan apa yang Allah berikan.kepadanya
  • Berhias dan memakai wangi-wangian saat suami berada di rumah
  • Melaksanakan tugas-tugas rumah tangga.dan mengurus anak-anak
  • Berlemah lembut dalam bersikap dan bertutur kata manis

Peran Wanita Sebagai Seorang Ibu

Begitu pentingnya tugas ibu dan peranannya bagi seseorang hingga Rasulullah SAW bersabda bahwa surga ada di telapak kaki ibu dan ibu adalah orang yang harus dihormati sebelum ayah. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini

“Wahai Rasulullah siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya? Rasulullah menjawab ; ‘Ibumu’, kemudian siapa? ‘Ibumu’, jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, kemudian siapa? ‘Ibumu’, kemudian siapa, tanya orang itu lagi, ‘kemudian ayahmu’, jawab beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai mana yang kita ketahui wanita adalah guru pertama bagi seorang anak, sebelum ia dididik oleh orang lain. Sejak Allah meniupkan ruh pada rahim seorang wanita, proses pendidikan anak sudah dimulai. Seorang ibu berperan mendidik anaknya sejak ia masih dalam kandungan dan membiasakannya dengan kebiasaan yang sesuai dengan agama islam. Adapun pendidikan yang seharusnya ditanamkan seorang ibu pada anaknya mencakup hal-hal berikut ini :

a. Pendidikan Akidah

Seorang ibu berperan menanamkan akidah sedini mungkin pada anaknya sehingga anak tersebut dapat mengetahui bahwa kita hidup tidak semau kita dan perilaku kita diawasi oleh Allah SWT. Seorang ibu juga harus menyakinkan pada anak siapa dirinya dan untuk apa ia hidup serta siapa yang wajib ia sembah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menanamkan keenam hal dalam rukun iman sejak dini pada sang anak.(baca cara mendidik anak yang baik menurut islam dan pendidikan anak dalam islam)[AdSense-B]

b. Pendidikan Ibadah

Pendidikan ibadah dimulai sejak masa kehamilan dimana ibu mengajarkan calon bayinya untuk melaksanakan ibadah sehari-hari seperti sholat baik shalat wajib maupun sunnah (baca macam-macam shalat sunnah), puasa (baca puasa ramadhan dan keutamaan puasa senin kamis ), bersedekah (baca keutamaan bersedekah), membaca Alquran (baca manfaat membaca alqur’an), berdoa (baca penyebab doa tidak dikabulkan) , berdzikir (baca keutamaan berdzikir), dan lain sebagainya bahkan berpuasa jika ia mampu.

Walaupun calon anak belum memahami apa yang dilakukan oleh ibunya,hingga ia dewasa. Anak yang diajarkan untuk beribadah sejak dini tidak akan merasa berat atau kesulitan untuk mengerjakan ibadah ketika ia beranjak dewasa kelak karena ia sudah terbiasa melihat dan mendengar ibunya melaksanakan ibadah.

c. Pendidikan Akhlak

Pembiasaan akhlak yang baik pada seorang anak tidak perlu menunggu anakhingga ia dewasa. Seorang ibu berperan menanamkan pendidikan akhlak pada anaknya sejak usia dini. Jika sejak berada dalam kandungan seorang anak dibiasakan untuk menghargai dan mencintai orang lain, maka ketika ia lahir, ia pun akan berusaha untuk menghargai dan mencintai orang lain. Seorang ibu juga dapat menanamkan dan mencontohkan sifat atau akhlak mulia seperti sifat sabar, tawadlu, rendah hati, pemurah, suka menolong orang lain dan lainnya agar ketika dewasa akhlak itu telah melekat pada dirinya. (baca cara meningkatkan akhlak terpuji)

Peran Wanita Dalam Masyarakat

Adapun peran wanita dalam masyarakat telah lama diketahui dan diakui bahkan sejak zaman Rasulullah SAW. Dalam masyarakat khususnya dalam agama islam seorang wanita berperan dalam dakwah bahkan dalam peperangan atau jihad.

a. Peran Wanita dalam Dakwah.

Di samping berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarganya seorang wanita juga berperan mendidik generasinya agar menjadi pemuda-pemudi islami yang berakhlak mulia dan berpendidikan serta taat kepada ajaran agama. Seorang wanita boleh bekerja diluar rumah untuk mengisi peran dan tugasnya tersebut dalam masyarakat. Ia dapat menjadi guru bagi anak-anak maupun memberikan pelajaran pada wanita lain dilingkungannya. (baca hukum wanita bekerja dalam islam)[AdSense-C]

b. Peran Wanita dalam Peperangan dan Jihad.

Tidak hanya kaum pria saja, para wanita memiliki peran dalam jihad dan peperangan. Peran seorang wanita dalam peperangan atau jihad diantaranya adalah Memberikan makanan atau minuman, mengobati luka-luka akibat perang, mempersiapkan bekal dan lain sebagainya. Apabila para wanita melakukan hal tersebut dengan maka pahala yang mereka dapat setara dengan mereka atau kaum pria yang berjihad.

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sejarah islam, ketika terjadi perang Yarmuk,dimana Khalid bin Walid bertindak sebagai panglima menugaskan para wanita, diantaranya Khansa`, untuk berbaris di belakang barisan laki-laki dengan jarak yang cukup jauh untuk menghalau para prajurit pria yang ingin melarikan diri. Para wanita saat itu dibekali pedang kayu dan batu selain itu Shafiyah binti Abdul Muthalib bahkan pernah membunuh seorang Yahudi pengintai dalam peperangan serta masih banyak lagi contoh-contoh nyata peran wanita dalam kehidupan yang dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua.