Hukum Membayar Fidyah Dalam Islam dan Dalilnya

Puasa merupakan salah satu rukun islam yang ketiga. Puasa diwajibkan bagi mereka yang telah baligh dan mampu menjalankannya. Namun bagi mereka yang tidak mampu menjalankan puasa, diwajibkan untuk menggantinya di lain waktu atau membayar fidyah. Fidyah adalah memberi makan orang miskin. Sebagaimana firman Allah SWT:

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: ” (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah:184)

Orang yang Wajib Membayar Fidyah

  1. Orang yang telah sakit parah dan diperkirakan tidak dapat sembuh

Orang yang telah didiagnosa mengalami sakit parah dan tidak dapat sembuh lagi diwajibkan membayar fidyah karena tidak mungkin untuk meng-qadha’ puasanya atau mengganti puasanya di lain waktu.

  1. Para orang tua yang sudah renta

Golongan orang tua yang sudah terlalu tua, pikun, dan sakit diperbolehkan tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah. Mereka tidak perlu mengqada’nya karena dikhawatirkan akan jatuh sakit.

  1. Orang hamil dan menyusui

Ada beberapa pendapat sahabat yang berbeda mengenai fidyah dari ibu hamil dan menyusui. Pendapat pertama mengatakan bahwa ibu hamil dan menyusui dibolehkan tidak berpuasa dan menggantinya hanya dengan membayar fidyah.

Ibnu Abbas ra. berkata kepada seorang ibu yang sedang mengandung: Engkau sama seperti orang yang tidak mampu berpuasa, maka kamu harus membayar fidyah dan tidak perlu mengqadhanya.” Sanadnya di shahihkan oleh Ad-Daruquthni sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafidz dalam kitab Talkhisul Habir. Namun dalil ini dianggap lemah dan tidak sesuai dengan ajaran agama.

Pendapat kedua mengatakan bahwa ibu hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah juga wajib mengqada’nya. Kalau dia khawatir terhadap anaknya maka dia harus mengqadha dan memberi makan orang miskin untuk setiap hari dia tidak berpuasa. Imam syafi’i dan Imam Ahmad memilih pendapat ini. Al-Jassos menyatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu Umar ra.

Baca juga:

[AdSense-B]

Sedangkan pendapat ketiga mengatakan bahwa ibu hamil dan menyusui wajib mengqada’ puasanya karena posisi ibu hamil dan menyusui sama dengan orang sakit yang dapat sembuh kembali dan dapat menjalankan puasa. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nasa’i (2274) dari Anas radhiallahu’anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menggugurkan bagi musafir separuh shalat dan puasa. Begitu pula bagi orang hamil dan menyusui. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Nasa’i.

Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam menjadikan hukum wanita hamil dan menyusui sama seperti musafir. Maka, jika musafir membatalkan puasanya, kemudian wajib baginya mengqadha, begitu pula wanita hamil dan menyusui. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Pendapat ketiga ini lebih kuat karena orang yang sakit parah dan tua renta diperkirakan tidak mungkin bisa berpuasa lagi sedangkan wanita hamil dan menyusui bisa berpuasa kembali setelah habis masa nifas dan menyusuinya. Wallahualam

[AdSense-A]

  1. Orang yang sudah meninggal

Orang yang sudah meninggal dan ternyata masih mempunyai hutang puasa, wajib dibayarkan fidyah-nya oleh ahli warisnya. Tidak dibenarkan jika puasanya digantikan dengan puasa yang dikerjakan oleh ahli warisnya. Puasa yang tidak dapat ia kerjakan harus digantikan dengan fidyah.

Baca juga:

Ukuran fidyah

Fidyah yang dibayar kepada orang miskin adalah makanan pokok, baik itu bahan mentah maupun telah siap santap. Fidyah juga tidak boleh digantikan dengan uang, pembayaran fidyah haruslah dengan makanan atau bahan makanan. Dalam pembayaran fidyah pun terdapat perbedaan ukuran oleh beberapa ulama.

Imam Syafi‘i dan Imam Malik  berpendapat bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang miskin adalah satu mud  gandum sesuai dengan ukuran mud  Rasulullah SAW. Mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, seperti orang berdoa.

Sedangkan menurut Abu Hanifah, ukuran fidyah yang harus dibayar adalah dua mud gandum dengan ukuran mud  Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha‘ kurma atau tepung. Namun pendapat ini dianggap lemah karena berdasar pada sebuah hadits riwayat Ahmad dari Abu Zaid Al Madany, yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kepada seorang lelaki yang berbuat dzihar (menyamakan isteri dengan ibunya) untuk memberikan 1/2 wasaq kurma kepada 60 orang miskin.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 halaman 143 menjelaskan secara rinci Cara Membayar Fidyah, bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud  itu setara dengan 675 gram atau 0,688 liter. Sedangkan 1 sha` setara dengan 4 mud . Bila ditimbang, 1 sha` itu beratnya kira-kira 2.176 gram. Bila diukur volumenya, 1 sha` setara dengan 2,75 liter.

Baca juga:

Ukuran yang lebih tepat dan mendekati kebenaran adalah 1 mud yang dikuatkan dengan sebuah riwayat  dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya (jika puasa). Beliau menjawab, “Dia boleh berbuka dan memberi makan orang miskin dengan satu mud gandum halus sebanyak hari yang dia tinggalkan.” (H.R. Al-Baihaqi dari jalur Imam Syafi’i dan sanadnya sahih)

Cara Membayar Fidyah

Fidyah bisa dibayarkan setiap harinya atau sekaligus. Misalnya seorang yang tidak berpuasa akan memberi makan orang miskin setiap hari dimana ia tidak berpuasa. Atau seorang yang membayar fidyah sekaligus member makan orang miskin sebanyak 30 orang dalam satu hari karena ia tidak sanggup berpuasa 1 bulan penuh.

Hal ini dibolehkan karena inti dari membayar fidyah adalah memberi makan 1 orang miskin per hari tidak berpuasa. Pemberian makan pada orang miskin juga harus dalam bentuk makanan atau bahan makanan, tidak boleh dalam bentuk uang. Makanan yang diberikan boleh telah siap santap atau masih berupa bahan mentah.

Itulah beberapa penjelasan mengenai hukum membayar fidyah dalam Islam. Semoga artikel ini dapat membantu Anda untuk lebih memahami mengenai pembayaran fidyah.

 

Hukum Meninggalkan Puasa dengan Sengaja

Dalam bahasa Arab, puasa adalah shaum atau shiyam yang berarti menahan. Sedangkan menurut syari;at, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Shaum adalah beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalakan dari tebit fajar hingga terbenamnya matahri (Syarhul Mumti’: 6/298).

Macam-Macam Puasa

Puasa yang terdapat dalam rukun Islam yang keempat memiliki dua jenis yakni :

  • Puasa wajib yaitu puasa Ramadhan, Kaffaah dan Nadzar
  • Puasa sunnah yaitu puasa Senin Kamis, puasa enam hari setelah bulan Syawal, puasa Nabi Dawud dan lain-lain.

Selain itu adapula puasa yang diharamkan yakni puasa pada hari Raya Idul Fitri, hari Raya Adh-ha, puasa mutih, puasa mencari kesaktian dan lainnya.

Hukum Orang yang Meninggalkan Puasa dengan Sengaja

Hukum puasa Ramadhan bagi seluruh umat Islam adalah wajib hukumnya. Karena dengan berpuasa maka akan memberikan Jiwa Tenang Dalam Islam. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah : 183 yaitu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang yang beriman, diwajibakan atas kamu  berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa.”

Berikut adalah beberapa Ulama yang membahas mengenai hukum meninggalkan puasa dengan sengaja, diantaranya :

  1. Syaikh Abdul ‘Aziz ar-Rajihi-hafizhahullah berkata, “Barangsiapa yang mengingkari pausa Ramdhan, maka dia kafir dan murtad dari agama Islam. Sebab dia telah melalaikan satuk kewajiban besar dan satu rukun dari rukun Islam serta satu hal besar dair ajaran Islam. Barangsiapa yang mengerti kewajiban puasa Ramadhan, namun ia berbuka dengan sengaja tanp alasan, maka ia melakuakn dosa besar dihukumi fasik, namun tidak dikafirkan. Dia wajib berpuasa atau dihukum dengan penjara oleh pemimpin Muslim atau kedua duanya.”
  2. Syeikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Apabila ada yang sengaja meninggalkan puasa, maka diberi sanksi sesuai keputusan pemimpin, namun bila ia belum atau, perlu diajari dulu.” (Al-Fatawa Al-Kubro: 473)
  3. Ibnu Hajar Al Haitsami rahimahullah berkata : “Tidak mengerjakan puasa satu hari saja atau merusak puasa dengan jima’ dan bukann karena sakit atau berpergian, maka termasuk dosa besar ke 140 dan 141.” (Az-Zawajir: 323)
  4. Ulama Lajnah Daimah lil Ifta’ berkata: “Seorang mukallaf yang merusak puasa Ramadhannya adalah dosa besar, jika tanpa udzur yang syar’i.” (Fatawa Lajnah Daimah: 357)
  5. Syeikh Ibnu Baaz berkata: “Barangsiapa yang meninggalkan puasa satu hari di bulan Ramdahan tanpa udzur yang syar’i, maka di telah melakukan kemungkaran besar, namun apabila dia bertaubat, maka Allah menerima taubatnya. Dia wajib bertaubat dengan kejujuran dan penyesalan masa lalu, bertekad tidak mengulanginya, mengucapkan istigfar sesering mungkin dan mengqadha’ hari yang ditinggalkan.”
  6. Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Membatalkan puasa Ramdhan pada siang hari tanpa alasan yang jelas adalah dosa besar, maka orang tersebut dianggap fasik dan diwajibkan untuk bertaubat kepada Allah serta mengganti puasa di hari yang ditinggalkannya.” (Majmu’ Fatwa dan Rasa’il Ibnu Utsaimin: 89)
  7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada laki-laki yang berbuka pada bulan Ramdhan kemudia beliau berkata : “Berpuasa setahun pun tidak akan bisa menggantinya.” (Riwayat Ibnu Hazm dalam al-Muhallah: 184)
  8. Sahabat Ali bin Abi Thalib bahkan memberi hukuman puklan kepada orang yang berbuka di bulan Ramadhan yakni Atha’ bin Abi Maryam dari bapakya bahwa An-Najasyi diantar ke Ali bin Abi Thalib sebab ia meminum khamr di bulan Ramdhan. Ali memukulnya 80 kali, kemudian esoknya 20 kali lagi. Ali berkata, : Kami memukul 20 kali sebab kelancanganmu kapada Allah.” (Riwayat Ibnu Hazm di dalam al-Muhalan: 184)

Semua dalil di atas menunjukkan bahwa meninggalkan puasa dnegan sengaja adalah dosa besar hukumnya. Namun, Allah akan selalu membukakana pintu taubat kepada siapapun hambaNya yang ingin bertaubat. Apabila Anda  ingin selamat dunia akhirat, maka hendaklah melaksanakan perintah Allah dan menajuhi laranganNya. [AdSense-B]

Hal yang Wajib Dilakukan untuk Mengganti Puasa

Ada beberapa pendapat yang menerangkan tentang hal-hal yang wajib dilakukan untuk mengganti puasa Ramdhan yang ditinggalkan karena sakit, hamil, menyusui, bersafar, diantaranya :

  • Wajib mengqadla’ saja

Pendapat ini adalah pendapat umum yakni hanya wajib mengqadla saja bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadhan sesuai dengan jumlah hari yang ia tinggal.

– Pendapat Sa’id bin Musayyib, Imam Sya’bi , Ibnu Jubair, Ibrahim al-Nakha’i Qatadah, dan Hammad berkata “Dia mengqadla satu hari sebagai gantinya.”

– Imam Malik rahimahullah berkata. “Siapa yang berbuka satu hari pada bulan Ramadhan dengan sengaja, maka tidak ada sanksi kecuali hanya mengqadla hari itu.”

– Imam al-Syafi’i rahimahullah berpendapat untuk wajib mengqadla hari yang ditinggalkan tanpa membayar kafarah. Karena kafarat hanya berlaku bagi yang batal puasa karena jima’, sementara yang batal karena makan dan minum tidak berlaku atas kafaratnya. Perbanyaklah istighfar sebagai bentu taubat.

– Imam Nawawi menyebutkan bahwa wajib mengqadla satu hari sebgaai ganti. Maka siapa yang sudah mengqadla sehari, itu sudah cukup mengganti satu hari yang ditinggalkan.

  • Tidak wajib mengqadla, hanya bertaubat dengan sungguh-sungguh

Pendapat kedua ini menyebutkan bahwa meninggalkan puasa Ramdahan dengan sengaja, tidak cukup hanya dengan mengqadla saja meskipun itu dilakukan slelama setahun penuh. Karena ia telah merusak puasanya tanpa alasan yang jelas.

– Allah SWT berfirman,

“Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, lalu berbuka, maka wajib baginya berpuasa sesuai dengan hari yang ditinggalkan.”(QS Al-Baqarah: 184) maka siapapun yang meninggalkan puasa tanpa alasan , kemudian ia mengganti puasanya, itu berarti ia telah membuat aturan baru yang tidak diizinkan oleh Allah.

– Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapapun yang mengada-adakan hal baru dalam Islam yang bukan dari Allah, maka tertolak.” (HR. Bukhari: 1550 dan Muslim: 1728 dari Aisyah radliyallahu anha) [AdSense-C]

– Imam al-Bukhairi mengisyaratkan bahwa Ibnu Mas’ud berpendapat sesuai dengan hadits Abu Hurairah: “Siapa yang tidak berpuasa satu hari di bulan Ramadhan dengan sengaja, maka meskipun puasa setahun tidak akan, mencukupinya, sehingga ketika dia bertemu dengan Allah, kalau Dia berkehendak akan diampuni dosanya, apabila tidak berkehendak, maka Allah akan megadzabnya.” (Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih)

Demikian hukum meninggalkan puasa dengan sengaja. Sudah jelas di atas bahwa kita tidak boleh meninggalkan puasa tanpa ada sebab. Sebab hal itu adalah termasuk dalam dosa besar.  Dunia Menurut Islam  adalah sementara, maka sudah sepantasnya kita mematuhi apa yang diperintahkan oleh Allah. Dan mengenai penggantian puasa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan tersebut, maka mengqadla adalah solusinya.

Setelah itu bertaubatlah sungguh-sungguh kepada Allah bahwa kita tidak akan mengulangi perbuatan seperti itu lagi dan tambah ilmu kita dengan Rukun IslamDasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Semoga bermanfaat.

Tata Cara Membayar Fidyah Bagi Ibu Hamil

Ramadhan adalah bulan yang mulia. Keistimewaan ramadhan sangatlah banyak, diantaranya Allah Ta’ala melipatgandakan pahala amal kebaikan, membuka pintu taubat dan mengabulkan doa-doa. Selain itu, umat islam juga diwajibkan untuk melakukan puasa selama 1 bulan penuh. Tentunya hukum puasa di bulan ramadhan adalah wajib. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Namun demikian, islam juga bukanlah agama yang memberatkan. Apabila seseorang berada dalam kondisi lemah atau memiliki udzur lain yang membuatnya tak mampu berpuasa maka boleh ditinggalkan. Dengan syarat harus diganti sesuai dengan aturan syariat islam.

Nah, salah satu orang yang diperbolehkan meninggalkan puasa ramadhan adalah ibu hamil dan menyusui. Mengingat kondisi ibu hamil tidak stabil dan ia juga harus mencukupi nutrisi makanan demi janin yang dikandung, maka itu diberikan keringanan untuk memilih apakah ingin puasa atau tidak. Seandainya ia tidak bisa menjalankan puasa, sebagai gantinya harus membayar fidyah.

Dalil-Dalil yang Menjelaskan Tentang Membayar Fidyah Bagi Ibu Hamil

Jumhur ulama berpendapat bahwa ibu hamil atau menyusui diperbolehkan meninggalkan puasa ramadhan dengan syarat membayar fidyah. Hal ini didasarkan pada dalil-dalil Al-Quran dan hadist. Serta mengingat mudharat yang mungkin terjadi bila ibu memaksakan puasa maka janin bisa kekurangan nutrisi.

Berikut dalil-dalil yang menjelaskan tentang bolehnya ibu hamil meninggalkan puasa dan kewajiban membayar fidyah:

Beberapa hari yang telah ditentukan, maka barangsiapa di antara kalian yang sakit atau dalam bepergian, wajib baginya untuk mengganti pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang mampu berpuasa (tapi tidak mengerjakannya), untuk membayar fidyah dengan memberi makan kepada seorang miskin. Barangsiapa yang berbuat baik ketika membayar fidyah (kepada miskin yang lain) maka itu lebih baik baginya, dan apabila kalian berpuasa itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.”(QS. Al Baqarah : 184).

Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang seorang wanita hamil yang mengkhawatirkan anaknya, maka beliau berkata, “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin.” (Al-Baihaqi dalam Sunan dari Imam Syafi’i, sanadnya shahih).

Pendapat Ulama Tentang Membayar Fidyah Bagi Ibu Hamil

Sebenarnya tentang diperbolehkannya wanita hamil meninggalkan puasa di bulan ramdhan sudah menuai kesepakatan dari jumhur ulama. Namun yang masih jadi perdebatan tentang bagaimana metode menggantinya. Beberapa ulama berpendapat harus membayar fidyah dan juga mengqadha (mengganti puasa di hari lain), adapula yang menjelaskan cukup mengqadha dan ada yang cukup bayar fidyah.

  • Para sahabat dan tabiin, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Said bin Jabir menjelaskan bahwa ibu hamil dan menyusui yang tidak berpuasa cukup membayar fidyah tanpa harus melakukan qadha.
  • Imam Hanafi berpendapat bahwa wanita hamil yang tidak melakukan puasa ramadhan maka cukup mengqadha saja. Yakni mengganti puasanya di hari lain tanpa harus membayar fidyah.
  • Imam Syafi’iyah dan Hanbali berpendapat hampir sama. Bila wanita hamil tidak puasa ramadhan karena ditakutkan mendatangkan mudharat bagi kesehatannya, maka ia cukup mengqadha. Akan tetapi jika mudharatnya cukup besar, yang mana bisa berefek buruk pada si janin, maka ibu yang tidak puasa diharuskan melakukan qadha sekaligus membayar fidyah.
  • Imam Nawawi juga mengatakan: “Para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang hamil dan menyusui, apabila keduanya khawatir dengan puasanya dapat membahayakan dirinya, maka dia berbuka dan mengqadha. Tidak ada fidyah karena dia seperti orang yang sakit dan semua ini tidak ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah). Apabila orang yang hamil dan menyusui khawatir dengan puasanya akan membahayakan dirinya dan anaknya, maka sedemikian pula (hendaklah) dia berbuka dan mengqadha, tanpa ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah).” (Al-Majmu’: 6-177)
  • Wahabah Zuhaili, DR. Yusuf Al-Qardhawi, dan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani berpendapat bahwa ibu hamil yang tidak melakukan puasa ramdhan maka harus melakukan qodho tanpa harus bayar fidyah. Menurut mereka, fidyah hanya boleh dilakukan oleh orang-orang lanjut usia yang kondisinya sangat lemah sehingga tidak memungkinkan berpuasa.

[AdSense-B]

Dari penjelasan para ulama diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa para sahabat berpendapat cara bayar puasa wanita hamil adalah membayar fidyah (memberi makan fakir miskin). Pendapat ini sesuai dengan dalil Al-Quran yang berbunyi: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankanya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (Q.S. al-Baqarah: 183).

Namun disebabkan ada perbedaan definisi dari “orang-orang yang berat menjalankan” yang banyak mengartikan sebagai “orang tua renta atau sakit-sakitan” yang tak mungkin bisa puasa. Sedangkan ibu hamil masih kuat dan bisa berpuasa di hari lain, maka diharuskan mengqadha ataupun dengan diikuti bayar fidyah.

Takaran Membayar Fidyah Bagi Ibu Hamil

Fidyah berasal dari bahasa Arab ‘faada’ yanga artinya tebusan atau menebus. Secara istilah, fidyah didefinisikan sebagai sejumlah benda atau makanan yang diberikan kepada fakir miskin dengan takaran tertentu  untuk mengganti amal ibadah yang ditinggalkan. Misalnya saja puasa. Fidyah bisa berupa beras, nasi, gandum, atau sejenisnya. Besarnya fidyah yang dibayarkan bergantung pada jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Dimana dalam sehari terdapat 1 takar fidyah untuk 1 orang miskin.

Nah, berikut ini penjelasan tentang takaran fidyah menurut para ulama:

[AdSense-A]

  • Menurut Imam Malik, Imam As-Syafi’i: Fidyah yang harus dibayarkan sebesar 1 mud gandum (kira-kira 6 ons=675 gram=0,75 kg atau seukuran telapak tangan yang ditengadahkan saat berdoa.
  • Ulama Hanafiyah: Fidyah yang harus dikeluarkan sebesar 2 mud atau setara 1/2 sha’ gandum. (Jika 1 sha’ setara 4 mud= sekitar 3 kg. Maka ½ sha’ berarti sekitar 1,5 kg). Aturan kedua ini biasanya digunakan untuk orang yang membayar fidyah beras.

Tata Cara Membayat Fidyah Bagi Ibu Hamil

Tata cara membayar fidyah bisa berupa pemberian makanan pokok atau makanan siap saji.

  • Jadi yang pertama, semisal ia tidak puasa 30 hari. Maka harus menyediakan fidyah 30 takar dimana masing-masing 1,5 kg. Fidyah tersebut boleh dibayarkan kepada 30 orang fakir miskin atau beberapa orang saja (misal 3 orang, dimana masing-masing dapat 10 takar).
  • Yang kedua, yakni dengan memberikan makanan siap saji kepada fakit miskin. Jadi semisal ia punya hutang 30 hari maka harus menyiapkan 30 porsi makanan (sepiring lengkap dengan lauk pauknya). Makanan tersebut dibagi-bagikan kepada 30 fakir miskin.

Sedangkan untuk waktu pembayaran fidyah, yakni terhitung setelah puasanya bolong. Misal ia luput 5 hari, maka ia boleh membayar sejak bulan ramadhan, syawal hingga sya’ban.

Bolehkan Fidyah Dibayarkan Dalam Bentuk Uang?

Beberapa orang memang ada yang membayar fidyah dalam bentuk uang atau nominal. Hal ini sebenarnya masih menuai perbedaan pendapat diantara ulama. Menurut ulama Hanafiya, fidyah boleh dibayarkan dalam bentuk uang sesuai dengan takaran yang berlaku (1,5 kg makanan pokok perhari dikonversi jadi rupiah).

Namun pendapat dari mayoritas ulama, mulai dari Syafiiyah, Malikiyah dan Hanabilah, fidyah tidak boleh dibayarkan dalam bentuk. Melainkan harus dalam bentuk makanan pokok. Pendapat kedua ini lebih kuat karena didasari oleh dalil syar’i, yakni: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankanya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (Q.S. al-Baqarah: 183).

Orang-Orang yang Wajib Membayarkan Fidyah

Dalam islam, terdapat beberapa golongan orang yang diharuskan membayar fidyah. Diantaranya yakni:

  • Orang yang terlambat mengqadha puasa hingga mendapati bulan ramadhan baru. Sementara hutangnya di tahun lalu belum lunas. Bila ia melakukan hal tersebut tanpa adanya udzur syar’i, maka hukum belum membayar hutang puasa ramdahan ini wajib mengqadha di bulan selanjutnya (seusai ramdahan) sekaligus membayar fidyah sebanyak hari puasa yang ditinggalkan di tahun lalu.
  • Orang-orang tua renta yang lemah fisiknya dan tidak mampu menjanlankan puasa.
  • Orang-orang yang menderita penyakit tertentu, yang mana bila ia puasa maka sakitnya bisa bertambah parah. Kondisi ini juga termasuk orang-orang yang mengalami sakit berkepanjangan dan harapan sembuh sedikit. [AdSense-C]
  • Perempuan hamil yang kondisi kandungannya lemah, dimana bila ia berpuasa maka akan membahayakan janin maka ia harus mengqdha sekaligus membayar fidyah.
  • Perempuan menyusui, yang mana ia kahwatir bila puasa ASI-nya menjadi sedikit dan bayinya kekurangan gizi maka boleh meninggalkan. Dengan syarat nantinya harus mengqhada dan bayar fidyah.
  • Orang-orang yang meninggal dengan membawa hutang puasa, maka bagi keluarganya yang masih hidup hendaknya membayarkan fidyah atas nama si mayit sebanyak jumlah hutang puasanya.

Hikmah Membayar Fidyah

Membayar fidyah atau memberikan makanan kepada fakir miskin tak sekedar berguna untuk melunasi hutang puasa. Namun hal ini juga punya beberapa hikmah atau keutamaan lain. Yakni sebagai wujud berbagi kepada sesama manusia. Sehingga mereka yang tergolong fakir-miskin juga bisa merasakan makanan enak atau mendapatkan sembako agar beban mereka menjadi lebih ringan.

Jadi itulah beberapa penjelasan tentang cara membayar fidyah bagi ibu hamil. Kesimpulannya hukum membayar fidyah bagi ibu hamil masih menuai perbedaan pendapat. Begitupun dengan takarannya, hendaknya ditanyakan pada seseorang yang menguasai ilmu agama. Namun sebagai saran saja, apabila Anda merasa kuat berpuasan saat hamil atau menyusui maka jalankan puasa itu dengan semangat (kecuali kondisi memang tak memungkinkan). Anda bisa membaca tips puasa ramadhan untuk ibu hamil dan tips puasa ramadhan untuk ibu menyusui.

Wallahu A’lam Bishawab.

8 Tips Menahan Emosi Saat Puasa Paling Efektif

Puasa termasuk dalam rukun Islam yang ke tiga, yakni ibadah wajib dalam agama Islam setelah berucap ashadu anla ilaa ha illa llah wa ashadu anna muhammadan rosulullah dan sholat. (Baca juga: Rukun Puasa RamadhanHukum Puasa Tanpa Sahur)

Kewajiban dari ibadah puasa ini dijelaskan dalam beberapa surat al-Qur’an yakni:

Surat al-Baqarah ayat 183-185 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣ أَيَّامٗا مَّعۡدُودَٰتٖۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٞ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥۚ وَأَن تَصُومُواْ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ١٨٤ شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥

Artinya:

(183) Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

(184) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(185) (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 183-185)

Ibadah puasa adalah ibadah yang dilakukan dengan cara menahan diri dan melakukan ibadah-ibadah lainnya selama rentang waktu dari sejak menjelang subuh yang diawali dengan sahur hingga magrib yang diakhiri dengan berbuka puasa. Menahan diri dalam ibadah puasa di sini tidak hanya soal menahan lapar dan haus saja akan tetapi juga emosi, hawa nafsu dan perbuatan-perbuatan negative lainnya.

Baca juga:

Di antara beberapa hal-hal yang harus dilakukan saat berpuasa, tentu yang paling sulit untuk diterapkan adalah bagaimana kita menahan hawa nafsu dan emosi dalam diri kita. Seringnya tanpa terasa emosi kita terpancing dan terbawa emosi karena berbagai hal seperti interaksi atau obrolan dan candaan yang berujung pada rasa emosi bahkan pertengkaran maupun ghibah atau membicarakan bahkan menggosip yang biasanya dilakukan dengan tanpa kita sadari.

[AdSense-B]

Sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bahwa:

“Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hawa nafsu dan amarah yang tidak terkontrol selama puasa walaupun tidak membatalkan puasa secara langsung layaknya makan dan minum, namun tetap saja hal ini dapat mengurangi nilai dan pahala dalam ibadah puasa kita.

Oleh karena itu artikel kali ini akan membahas tentang Tips Menahan Emosi Saat Puasa :

  1. Tidak Banyak Bicara

Penyelesaian suatu masalah memang harus dilakukan dengan cara berbicara, namun berbicara di sini harus dilakukan dengan kepala dingin dan hati tenang, bicara saat sedang marah justru akan membuat suasana menjadi panas dan memburuk. Oleh karena itu saat emosi tersulut sebaiknya tidak banyak berbicara dulu dan menunggu waktu yang tepat untuk bicara agar hasil pembicaraan menghasilkan solusi yang positif. (Baca juga: Hari yang Dilarang Puasa dalam Islam)

  1. Mengambil Air Wudhu

Basuhlah wajah dan tubuh dengan menggunakan air wudhu karena air wudhu dapat meredam emosi dalam diri kita. Emosi dan amarah yang meledak-ledak sesungguhnya adalah berasal dari bisikan dan hasutan setan dimana setan itu sendiri terbuatnya dari api maka untuk memadamkan api tersebut bisa dilakukan dengan membasuhkan air khususnya air wudhu.

  1. Menarik Napas Dalam-Dalam

Mengisi paru-paru dengan oksigen saat sedang di kuasai emosi sangat terbukti ampuh untuk meredakan emosi tersebut. Oleh karenanya tariklah napas dalam-dalam dan buang perlahan untuk melegakan hati dan pikiran kita. (Baca juga: Hari yang Dilarang Puasa dalam Islam)

  1. Cukupkan Istirahat

Salah satu pemicu emosi selain interaksi yang kurang baik dengan orang lain adalah karena kebutuhan istirahat yang tidak terpenuhi misalnya kurang tidur atau terlalu lelah. Oleh karena itu agar puasa kita tidak dipenuhi dengan perasaan yang penuh amarah maka cukupkanlah waktu istirahat kita.

[AdSense-A]

  1. Memperbanyak Dzikir

Dzikir sangat ampuh untuk meredakan emosi karena salah satu manfaat dari dzikir adalah untuk selalu mengingat Allah sehingga hati akan menjadi lebih lembut dan tenang.

Hal inipun telah dibuktikand alam beberapa penelitian yang dilakukan oleh psikolog dengan mewawancarai beberapa kelompok pengamal dzikrullah dan didapatkan hasil bahwa dzikir dapat memunculkan perasaan tenang dan benar-benar merasakan sebuah kehidupan yang lebih tenteram dan bermakna yang dirasakan oleh pengamalnya.

Hal ini juga telah disampaikan dalam Firman Allah SWT, lebih tepatnya dalam surat ar-Ra’du ayat 28 yang berbunyi:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨

Artinya: “(orang-orang yang taubat yaitu) mereka yang beriman, hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah (dzikrullah). Ingatlah, dengan dzikrullah, hati menjadi tenang.” (QS Ar-Ra’du,: 28)

Selain itu, dalam surat Ali Imran Allah juga berfirman mengenai dzikir ini, yang berbunyi:

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

Artinya:

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran : 191)

  1. Mengalihkan Perhatian / Mencari Kesibukan

Carilah kesibukan lain yang positif sehingga perhatian kita akan sedikit teralihkan dan amarah kita akan terlupakan walaupun hanya sebentar dengan begitu emosi dan amarah kita akan menguap dan lebih bisa berpikiran jernih setelahnya. (Baca juga: Cara Menjaga Hati Menurut Islam)

  1. Merubah Posisi Tubuh

Posisi tubuh kita sangat mempengaruhi kondisi emosi, oleh karenanya saat emosi sulit dikendalikan, upayakan untuk mengambil posisi lebih rendah. Misalnya jika kita marah saat posisi sedang berdiri maka duduklah, jika marah saat dalam posisi duduk maka berbaringlah. (Baca Juga: Cara Menghadapi Orang Pemarah Dalam Islam)

  1. Membaca Al-Qur’an

Selain sebagai sumber ilmu dan firman dari Allah subhana hua ta’ala, al-Qur’an juga merupakan salah satu obat untuk meredakan berbagai penyakit hati seperti marah, dengki, dan lainnya. oleh karena itu daripada menuruti emosi lebih baik membaca al-Qur’an untuk meredakan emosi dan menambahkan pahala saat berpuasa.

Baca juga:

Demikianlah pembahasan mengenai tips untuk menahan amarah saat berpuasa. Selain dapat meredam emosi, cara-cara tersebut dapat meningkatkan pahala kita dalam melakukan ibadah puasa. Semoga artikel ini dapat meningkatkan khazanah keilmuan dan ketakwaan kita semua. Amin.

15 Keutamaan Puasa Muharam yang Luar Biasa

Di dalam ajaran islam terdapat perintah untuk berpuasa. Puasa wajib sejatinya Allah perintahkan pada umat islam yang ada di dalam bulan Ramadhan. Saat bulan Ramadhan tentunya tidak terkecuali seluruh umat islam wajib melaksanakannya, kecuali bagi mereka yang sakit, ibu menyusui atau hamil, dan wanita yang sedang mengandung.

Puasa di luar bulan ramadhan terdapat juga puasa sunnah lainnya, seperti:

Untuk itu, dibalik kewajiban puasa tersebut sangat banyak sekali keutamaan yang bisa diambil dan didapatkan bagi kita. Akan tetapi, pelaksanaan puasa tidak hanya dilaksanakan saat bulan puasa saja. Ada banyak juga puasa-puasa yang dapat dijalankan bagi umat islam, yaitu puasa sunnah di bulan Ramadhan.

Salah satu puasa sunnah adalah puasa muharam. Berikut adalah penjelasan dan keutamaan dari puasa Muharam.

Puasa Muharam dalam Islam

Bulan Muharram adalah bulan pertama yang ada dalam Kalendar Islam atau Kalendar Hijriah. Pada bulan Muharram disebut juga sebagai bulan Allah atau Syahrullah oleh Nabi Muhammad karena pada saat bulan ini, ada banyak keutamaan bagi umat islam.

Muharam sendiri dalam bahasa Arab berarti waktu yang diharamkan. Maksudnya adalah larangan untuk berbuat dosa dan maksiat. Hal ini Allah sampaikan dalam Al-Quran QS At Taubat ayat 36, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu.

Selain dalam Al-Quran, dijelaskan juga dalam sebuat riwayat dari Abu barkah, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda “Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu: Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Al-Muharram, serta RajabMudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban. “

Untuk itulah dikarenakan di bulan ini terdapat berbagai keutamaan tersendiri, maka berpuasa di dalamnya pun menjadi suatu hal yang baik dan berkah. Keutamaan puasa muharam tentunya hanya bisa didapatkan oleh manusia yang benar-benar mencari keridhoan dan keikhlasan hati karena Allah semata.

A. Keutamaan Puasa Muharam dari Aspek Ibadah

Puasa muharam dari aspek ibadah tentu saja memiliki keutamaan yang sangat banyak. Puasa sendiri memiliki keutamaan jika kita jalankan secara benar dan kelurusan niat kita. Untuk itu, berikut adalah keutamaan yang bisa didapatkan jika kita menjalankan puasa muharram.

  1. Menjalankan Sunnah Rasul

Menjalankan sunnah Rasul adalah bagian dari aspek ibadah. Hal ini juga sebagaimana disampaikan dalam QS Ali Imran ayat 131, “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Tentunya dengan melaksanakan puasa sunnah kita telah menjadi bagian dari ummat Rasul. Selain itu, Allah juga memberikan banyak ampunan dan kasih sayang-Nya bagi manusia.

Hal yang serupa juga disampaikan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al Ahzab : 21)

Untuk itu, puasa muharam yang menjadi bagian dari Sunnah Rasul bisa kita lakukan sebagaimana yang telah Rasulullah contohkan. Kebaikan dalam puasa sunnah ini tentunya akan mengalir kepada Rasulullah dan para Sahabat, karena telah menyebarkan dan memberikan berita tersebut kepada umat islam.

[AdSense-B]

  1. Mendapatkan Pahala Atas Ibadah Puasa

Tentu saja puasa adalah bagian dari ibadah. Untuk itu puasa adalah salah satu cara atau pintu kita bisa mendapatkan ridho dan kekikhlasan. Tentu saja puasa ini bisa memberikan kebahagiaan tersendiri karena kita menjalankannya akan mendapatkan pahala.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“

Selain itu disampaikan juga dalam Al-Quran “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS Al Muzammil : 20)

Untuk itu, beruntunglah orang-orang yang menjalankan puasa dan puasa sunnah. Pahala ibadah akan menyertainya selagi perbuatan tersebut bertujuan kebaikan dan dijalankan secara baik.

  1. Mengingat Peristiwa di Bulan Muharam

Dengan berpuasa di bulan muharam kita juga bisa mengingat tentang berbagai peristiwa yang ada pada masa Nabi Muhammad di Bulan Muharram. Hal ini bisa sekaligus kita pelajari dari sejarah islam. Kita bisa menghayati bahwa betapa luar biasanya Nabi Muhammad berjuang untuk islam namun dalam kondisi masih berpuasa. Tentu hal ini akan menambah semangat dan juga pengahayatan diri kita akan puasa di bulan Muharram.

Tentu saja mengingat Allah adalah seperti kita berdzikir. Mengenai masalah berdzikir dapat juga kita pelajari mengenai : Keutamaan Berdzikir Kepada Allah SWT, Amalan Dzikir Pembuka Rezeki Mustajab dan Keutamaannya, serta Amalan Dzikir di Bulan Ramadhan dan Keutamaannya

  1. Melatih Diri dari Hawa Nafsu

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR Muslim)

Dengan berpuasa di bulan Muharram kita juga bisa sekaligus untuk melatih diri kita dari emosional berlebih dan hawa nafsu. Walaupun bukan di bulan Ramadhan tentu saja ini akan sangat bermanfaat dan juga membantu kita untuk melatih diri kita menjaga hawa nafsu dan gangguan setan.

  1. Mengingat Allah dan Rasul

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan/kebaikan)hidup bagimu” (QS Al Anfal : 24)

[AdSense-A]

Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa berpuasa juga dapat membuat diri kita mengingat Allah dan Rasul. Tentu dengan melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah maka kita akan dengan mudah mengingat kebesaran Allah dan tentu ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

B. Keutamaan Puasa Muharam Dari Aspek Kesehatan

Selain dari aspek ibadah, ada juga keutamaan puasa muharam jika ditinjau dari aspek kesehatan. Puasa adalah ibadah yang dapat ditinjau manfatnya dari aspek kesehatan karena proses puasa berkenaan dengan mekanisme tubuh kita sendiri. Untuk itu, berikut adalah keutamaan jika dilihat dari aspek kesehatan.

  1. Mengurangi Lemak dalam Tubuh

Lemak dalam tubuh akan berkurang jika kita melakukan proses puasa. Selama puasa tubuh kita pun melakukan detoksifikasi atau membuang racun-racun yang ada dalam tubuh. Untuk itu termasuk lemak yang berlebih bisa berkurang dari melakukan puasa.

  1. Menjaga Asupan Makanan dalam Tubuh

Dengan melakukan puasa, maka kita pun juga secara otomatis bisa menjaga makanan sebagai asupan kita. Kita tidak mudah untuk memakan yang aneh-aneh, menjaga waktu makan, mengatur hanya pagi dan malam memakan atau meminum sesuatu. Tentu ini menjadi gaya hidup sehat jika kita terapkan.

  1. Menyeimbangkan Gula dan Menstabilkan Tekanan Darah

Dengan berpuasa kita juga bisa menyeimbangkan gula dan menstabilkan tekanan darah kita. Untuk itu berpuasa dapat menjadikan tubuh kita lebih sehat, fit dan juga segar. Tentu tekanan darah dan gula adalah hal yang kompleks dan bisa merusak tubuh jika kita mendapatkan ukuran yang berlebihan. Untuk itu, puasa membantu kita untuk menstabilkannya.

  1. Detoksifikasi Racun dalam Tubuh

Berpuasa sebetulnya memiliki efek yang sangat besar bagi tubuh kita. Racun-racun dalam tubuh akan terbuang saat berpuasa. Hal ini dikarenakan tubuh beristirahat dari dimasukkannya makanan makanan atau minuman. Saat beristirahat itulah tubuh mengeluarkan racun yang ada dalam tubuh, sehingga setelahnya tubuh kita menjadi lebih sehat.

  1. Menjaga Tubuh dari Makan Berlebihan

Dengan berpuasa kita pun juga bisa membatasi jumlah makanan yang masuk dalam tubuh kita. Kita hanya makan subuh dan malam. Sednagkan, jika ingin makan tentunya tubuh manusia memiliki kapasitasnya tersendiri. Sedangkan di waktu siang hari tidak mungkin kita melakukan makan. Tentu saja makanan yang kita makan tersebut harus berasal dari Hewan Halal Menurut Islam, Makanan Halal Menurut Islam, dan Minuman Halal Dalam Islam Beserta Dalilnya

C. Keutamaan Puasa Muharam Dari Aspek Umum

Selain dari aspek kesehatan, ada pula aspek-aspek lainnya yang mendukung kita dan mendapatkan manfaat yang luar biasa dari puasa. Diantaranya adalah

  • Belajar Empati pada Sesama karena dengan puasa kita belajar untuk merasakan lapar dan terbatasnya diri kita untuk mengkonsumsi sesuatu.
  • Dengan puasa kita pun bisa belajar untuk Bersikap Zuhud yaitu hidup sederhana dan apa adanya.
  • Menghemat Pengeluaran adalah manfaat lain dari kita berpuasa karena tidak banyak uang yang keluar untuk biiaya konsumsi kita sehari-hari.
  • Mampu merasakan nikmatnya Ibadah.
  • Berlatih untuk menjaga keseimbangan fisik dan psikologis.

Semoga keutamaan puasa sunnah muharam di atas dapat kita laksanakan dengan baik untuk mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama. Selamat menjalankan ibadah sunnah.

15 Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh Perlu Diketahui

Islam adalah agama yang memberikan banyak pilihan pahala yang bisa kita raih dengan menjalankan amalan ibadah dan diniatkan semata-mata hanya kepada Allah subhana hua ta’ala. Mulai dari yang wajib sampai yang sunah. Mulai dari sholat, puasa, hingga berhaji. Masing-masing dari ibadah dan amalan tersebut memiliki nilai pahala yang sangat besar dan dapat meningkatkan derajat kemuliaan kita sebagai manusia di mata Allah subhana hua ta’ala. Bahkan kita tidak bisa mereka-reka berapa besar pahala yang kita dapat karena hanya Allah yang mengetahui itu secara pasti.

Baca juga:

Artikel kali ini akan membahas tentang puasa. Khususnya puasa sunah ayyamul bidh dan keutamaannya. Namun sebelum itu kita perlu mengetahui juga manfaat yang bisa kita dapatkan dengan melakukan puasa.

Setiap amalan ibadah yang kita lakukan memiliki keutamaan dan manfaatnya masing-masing. Namun secara umum setiap ibadah yang kita lakukan memiliki manfaat yang sangat lengkap untuk kita fisik dan psikis kita.

Baca juga:

Manfaat Puasa Secara Umum

1. Detoksifikasi tubuh

Selama berpuasa tubuh kita akan melakukan detoksifikasi atau proses pembuangan racun yang dikeluarkan dari dalam tubuh melalui keringat, urin, atau saat buang air besar. Dengan terbuangnya racun-racun dalam tubuh kita tentu akan menyehatkan tubuh. (Baca juga: Hukum Belum Membayar Hutang Puasa RamadhanHukum Menyikat Gigi Saat Puasa )

2. Mengurangi lemak

Selain memproses detoksifikasi dalam tubuh, berpuasa juga dapat mengurangi kadar lemak dalam tubuh kita. Karena dengan berpuasa, energy dalam tubuh kita dihasilkan oleh pembakaran sisa glukosa dalam tubuh. Kemudian jika glukosa tersebut telah habis maka tubuh akan menggantinya dengan lemak yang tersimpan dalam otot tubuh. Proses pembakaran lemak ini juga menghasilkan energy bagi tubuh jadi tidak perlu khawatir lemas saat berpuasa karena energy tetap terproduksi dari pembakaran lemak dan glukosa tersebut. Jadi selain mendapat pahala, puasa juga dapat bermanfaat untuk proses diet yang efektif untuk menurunkan berat badan di tubuh. (Baca juga: Puasa 1 Muharram )

3. Meningkatkan system imunitas dalam tubuh

System imunitas atau pertahanan dalam tubuh juga bisa ditingkatkan dengan berpuasa. Namun untuk meningkatkan system imunitas dalam tubuh ini harus didukung dengan konsumsi asupan makanan yang bergizi seperti sayuran, buah-buahan dan lainnya. (Baca juga: Puasa Mutih Sebelum Menikah dalam Islam)

[AdSense-B]

4. Menurunkan berbagai resiko penyakit dalam tubuh

Berpuasa juga dapat menurunkan berbagai resiko penyakit dalam tubuh, Seperti:

  • Darah tinggi, hal ini dikarenakan saat berpuasa produksi hormone dalam tubuh kita akan lebih terkontrol seperti hormone adrenalin yang menyebabkan kenaikan tekanan darah dalam tubuh.
  • Resiko Plak Jantung, hal ini dikarenakan asupan lemak jahat pada tubuh akan berkurang saat kita berpuasa. Dengan berkurangnya asupan lemak jahat tersebut maka jantung kita akan lebih sehat dan terhindar dari resiko plak jantung.
  • Resiko diabetes, saat berpuasa tubuh kita akan meningkatkan proses pemecahan glukosa untuk sebagai modal untuk memproduksi energy dalam tubuh. Dengan pemecahan glukosa tersebut, dapat menurunkan kadar gula darah dalam tubuh karena proses tersebut memproduksi insulin dalam tubuh sehingga kita akan lebih terhindar dari resiko diabetes.
  • Penyakit ginjal, hal ini dikarenakan berkurangnya konsumsi air selama berpuasa.
  • Serangan jantung, hal ini dikarenakan tubuh kita mengalami penurunan tingkat trigliserida (TG) hingga rata-rata 15 persen dan penurutnan kolestrol low density liporprotein (LDL) hingga 10 persen yang merupakan salah satu factor resiko penyebab terjadinya serangan jantung. (Baca juga: Puasa Sebelum Menikah Menurut Islam)

5. Memanjangkan umur

Selama berpuasa, banyak hal-hal positif yang terjadi dalam tubuh kita seperti detoksifikasi, dan lainnya sehingga hal ini tentu akan dapat memperpanjang usia kita. (Baca juga: Menu Berbuka Puasa yang Sehat)

6. Mengistirahatkan saluran pencernaan dalam tubuh

Selama puasa, kita menahan lapar dan haus artinya tidak ada asupan makanan yang masuk dalam tubuh kita sehingga saluran pencernaan kita bisa beristirahat dan sejenak dan dapat bekerja dengan lebih optimal setelah berbuka nanti. (Baca juga: Hal-Hal yang Membatalkan Puasa)

7. Memperbaiki pola makan

Pola makan saat kita berpuasa lebih teratur dari pada saat kita tidak melakukan puasa. Sehingga kesehatan kita jadi lebih terjaga dan tentunya hal ini akan dapat menjaga kesehatan tubuh kita. (Baca juga: Hukum Keramas Saat Puasa Ramadhan)

8. Merawat kecantikan kulit

Sel-sel dalam tubuh dapat bekerja dengan lebih maksimal karena metabolism tubuh saat berpuasa dapat beristirahat dengan baik. Hal ini mempengaruhi kekencangan orang tubuh luar seperti kulit menjadi lebih kencang dan sehat.

Selain mengencangkan kulit, puasa juga dapat mencegah penuaan dini. Karena puasa dapat memperlancar dan mempercepat metabolism dalam tubuh. (Baca juga: Waktu Buka Puasa dan Adab Berbuka Puasa)

9. Mengurangi nyeri sendi dan encok

Berpuasa dapat meningkatkan kemampuan Sel penetral (pembasmi bakteri) sehingga dapat meredakan nyeri sendi dan encok pada tubuh. (Baca juga: Doa Puasa Ramadhan untuk Sebulan)

10. Membantu menyembuhkan berbagai penyakit

Puasa akan dapat lebih mengefisienkan penggantian sel-sel rusak bahkan juga dapat menghentikan pertumbuhan tumor yang merugikan tubuh. Kemudian untuk penyakit-penyakit lainnya juga dapat dibantu dengan cara berpuasa karena dengan puasa pola makan kita jadi teratur dan asupan makanan yang masuk dalam tubuh juga lebih terjaga. Sehingga proses kesembuhannya bisa jadi lebih cepat. (Baca juga: Niat Puasa Ganti Ramadhan)

Cara melakukan puasa sunnah Ayyamul bidh sama dengan puasa-puasa lain pada umumnya yakni dengan cara menahan diri dari pembatal-pembatal puasa seperti makan, minum, dan hawa nafsu lainnya yang dilakukan mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan diniatkan berpuasa sebagai ibadah yang hanya kepada Allah subhana hua ta’ala. ( Baca juga: Niat Buka Puasa dan Perkara yang Membolehkan Berbuka Puasa)

Hanya saja yang membedakan puasa ayyamul bidh dengan puasa lainnya adalah puasa ini dilakukan secara rutin pada hari-hari putih yakni saat rembulan tengah bersinar dengan terangnya (ayyamul bidh). Puasa ini dilakukan setiap pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas pada setiap bulan hijriyyah. (Baca juga: Syarat Sah Puasa Ramadhan)

Banyak hal positif yang bisa kita peroleh dari ibadah puasa yang kita lakukan. Selain pahala-pahala yang akan didapatkan, kita juga dapat merasakan kesehatan tubuh saat kita melakukan ibadah puasa terlebih juga ibadahnya dilakukan dengan teratur dan mengkonsumsi makanan yang sehat bergizi. Segala penyakit dan keluhan kesehatan kita dapat terkikis sedikit demi sedikit dengan menjalankan ibadah puasa. (Baca juga: Rukun Puasa Ramadhan)

Dengan melakukan ibadah puasa, kita juga akan mendapatkan dua kebahagiaan yang tidak dirasakan oleh orang lain yang tidak melakukannya, yaitu kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika mereka bertemu dengan Rabbnya. (Baca juga: Sikat Gigi Saat Puasa)

Hal ini telah diriwayatkan dari Abu Hurairah  yang berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Setiap amal Bani Adam dilipatgandakan, satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah subhana hua ta’ala berfirman, ”Kecuali puasa, ia untukKu dan Aku yang membalasnya. Dia meninggalkan syahwat dan makannya demi Aku.” Orang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Kebahagiaan pada waktu berbuka dan kebahagiaan pada waktu bertemu Rabbnya. Sungguh aroma mulut orang yang berpuasa adalah lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.” (Hadis Riwayat Abu Hurairah)

Baca juga:

[AdSense-A]

Selain itu, Allah subhana hua ta’ala juga telah menyediakan sebuah pintu khusus di Surga yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan ibadah puasa ketika selama kehidupannya di dunia.

Hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Sahal bin Sa‟ad yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah :

”Di Surga ada delapan pintu. Di antaranya ada pintu yang bernama Rayyan, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa”. (Baca juga: Tips Puasa Ramadhan untuk Ibu Hamil)

Pada dasarnya puasa ayyamul bidh dilakukan saat tengah bersinarnya bulan purnama. Pada pertengahan bulan Hijriah dimana bulan sedang dalam keadaan purnama dan bersinar dengan  posisi bulan yang dekat dengan bumi tersebut mempengaruhi ketinggian air laut oleh karena gaya gaya grafitasi bulan tersebut maka terjadilah pasang air laut. (Baca juga: Tips Mengajar Anak Berpuasa)

Selain mempengaruhi kondisi bumi yang merupakan benda mati, kondisi bulan purnama dengan gaya grafitasi dan pasang air laut ini juga turut berpengaruh terhadap seluruh benda hidup yang ada di atas bumi dalam hal ini adalah termasuk manusia terlebih terhadap kondisi psikologis manusia yang lebih sensitif. (Baca juga: Tips Puasa Ramadhan untuk Ibu Menyusui)

Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh seorang peneliti berkebangsaan Amerika tentang hal ini. Dalam penelitian tersebut memperhatikan bagai kondisi kejiwaan manusia ketika terjadi bulan purnama. Kemudian hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa kondisi kejiwaan manusia saat bulan purnama cenderung lebih labil, emosional, dan tidak terkendali. Semua perasaan menjadi lebih meluap-luap mudah membuncah dari dalam diri manusia. Seperti perasaan Mudah marah, mudah tersinggung, mudah senang, mudah sedih. (baca juga: Keutamaan Puasa Rajab)

Hal ini mengingatkan kita pada mitos dan film yang selalu mengaitkan antara kekuatan dari monster atau hantu dengan keadaan bulan saat purnama. Kekuatan tersebut bisa lebih kuat ataupun lebih lemah karena adanya bulan purnama. Segala ritual-ritual sacral juga biasanya dilakukan saat bulan purnama karena dipercaya memiliki energy tersendiri yang memungkinkan ritual tersebut berhasil dengan hasil yang maksimal. (Baca juga: Puasa Senin Kamis)

Jika kita korelasikan puasa sunah ayyamul bidh dengan kondisi alam yang terjadi seperti bulan purnama tersebut serta dengan kondisi psikologi yang kita alami, maka aka nada sebuah alas an logis mengapa kita disunahkan untuk menjalankan puasa ayyamul bidh, yakni untuk meredakan dan menyeimbangkan kelabilan psikologis kita. Dengan kondisi psikologis yang sensitive dan mudah meluap, setidaknya dengan melakukan puasa ayyamu bidh akan dapat menuntun kesadaran diri kita agar lebih menundukkan hawa nafsu. (baca juga: Keutamaan Puasa Senin Kamis)

Jadi diketahuilah bahwa ibadah-ibadah yang disunahkan dalam agama Islam tidaklah tanpa maksud dan tujuan apa-apa karena setelah dilakukan penelitian dan dinalar secara logika maka akan ditemukan factor lain yang membuat Allah atau Rosul memerintahkan untuk melakukannya termasuk dari segi kesehatan dan psikologis manusia. (Baca juga: Macam – Macam Puasa Sunnah dalam Agama Islam)

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Berikut akan dibahas dengan lebih detail mengenai keutamaan dari ibadah puasa Ayyamul bidh

  1. Perintah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dikisahkan dalam sebuah riwayat hadis bahwa dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan secara langsung perihal ibadah puasa ayyamul bidh. Hal inilah yang menjadi salah satu keutamaan dari puasa ayyamul bidh. (Baca juga: Cara Melaksanakan Shalat Tahajud)

Kisah tersebut di riwayatkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah yang berkata bahwa:

Au Shooni kholiilii bitsalaatsillaa ada’uhunna hhattaa amuta shoumi tsalaatsati ayyaamin min kulli syahrin, wa sholaati dduhaa, wa naumin ‘ala witrin.

Artinya:

“Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah berwasiat tiga hal kepadaku, yaitu; agar selalu berpuasa tiga hari pada setiap bulan, selalu mengerjakan dua raka’at Dhuha, dan selalu mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (Hadits Riwayat. Al-Bukhari)

Baca juga: Keutamaan Shalat Dhuha dan Tata Cara Melakukannya

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat untuk seluruh umatnya tentang tiga hal. Dimana tiga hal ini adalah ibadah yang sunah dan memiliki manfaat luar biasa untuk ketentraman hati bagi manusia. Yakni puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha sebanyak dua rakaat, dan shalat witir sebelum tidur. Seperti yang telah dijelaskan bahwa puasa tiga hari setiap bulan atau ayyamul bidh ini dapat membantu menundukkan hawa nafsu manusia saat terjadi fenomena alam yang membuat kondisi psikologis kita menjadi lebih sensitive. Oleh karena itu Nabi menganjurkan puasa ayyamul bidh ini salah satunya adalah untuk meredakan emosi yang kita rasakan sehingga tetap terkontrol dan berjalan dengan baik. Kemudian pada perintah berikutnya, yakni sholat dhuha dan witir selain dapat menenangkan jiwa juga dapat mempermudah segala urusan kita di dunia dan menjadi bekal untuk di akhirat nanti.

Baca juga:

  1. Anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Selain memerintahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dikisahkan pernah mengajurkan puasa ayyamul bidh serta waktu pelaksanaannya.

Kisah ini diriwayatkan dalam hadis At-Tirmidzi,  dari Abu Dzar radhiyallâhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitahunya padanya bahwa:

Yaa abaa dzarrin idzaa shumta mina ssyahri tsalaatsata ayyaamin fashum tsalaatsa ‘asyrata wa arba’a ‘asyrata wa khomsa ‘asyrata

Artinya:

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi)

Dalam hadis ini disebutkan tentang waktu-waktu untuk melakukan puasa ayyamul bidh. Yakni pada tangal tiga belas, empat belas dan lima belas dari bulan hijriyah. Penentuan waktu dari puasa ayyamul bidh ini dikarenakan pada tanggal tersebut kondisi bulan sedang dalam keadaan purnama dan tengah bersinar dengan terangnya. Pada tanggal tersebut juga terjadi fenomena alam dimana posisi bulan sangat dekat dengan bumi sehingga gaya grafitasi dalam bulan tersebut membuat ketinggian air laut menjadi pasang serta mempengaruhi kondisi psikis dari makhluk hidup yang ada di bumi menjadi lebih sensitive dan emosional. Sehingga dengan melakukan puasa ayyamul bidh diharapkan agar kondisi psikis kita bisa lebih terkontrol dan meredakan emosi dalam diri kita.

Keutamaan tentang anjuran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap puasa ayyamul bidh ini juga diceritakan dalam hadis lain, yakni sebuah hadis yang mengisahkan tentang Musa bin Thalhah radhiyallâhu ‘anhu yang pernah mendengar percakapan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Dzar. Dimana dalam percakapan tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan jika puasa selama tiga hari dalam setiap bulan sebaiknya dilakukan pada tanggal 13, 14 dan 15.

Kisah ini diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Sami’tu abaa dzarriin yaquulu: qaala rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama : “yaa abaa dzarrin, idzaa shumta mina ssyahri tsalaatsata ayyaamin fashum tsalaatsa ‘asyrata, wa arba’a ‘asyrata, wa khomsa ‘asyrata

“Saya mendengar Abu Dzar berkata: Rasululullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda: “wahai Abu Dzar jika engkau berpuasa 3 hari dalam setiap bulan maka berpuasalah pada tanggal 13, 14 dan 15.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi).

Hadis ini juga dengan jelas menerangkan waktu-waktu untuk pelaksanaan puasa ayyamul bidh yang dilakukan tiga hari berturut-turut yakni pada tanggal 13, 14 dan 15. (Baca juga: Cara Bersyukur Menurut Islam)

[AdSense-C]

  1. Ibadah puasa ayyamul bidh sama seperti melakukan puasa setahun

Selain dari kisah dalam hadis tersebut, Abu Daud juga meriwayatkan sebuah hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memerintahkan umat dan sahabat untuk melaksanakan puasa ayyamul bidh karena dengan melakukan puasa ini selama tiga hari berturut-turut maka pahalanya seperti melakukan ibadah puasa selama satu tahun penuh.

Kaana rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ya’murunaa an nashumal biidha tsalaatsa ‘asyrata wa khomsa ‘asyrata. Wa aqaala hunna kahay’ati ddahri. (Baca juga: Cara Mengatasi Galau dalam Islam)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyâmul bidh itu seperti puasa setahun.” (Hadits Riwayat Abu Daud)

  1. Tauladan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Diterangkan dalam sebuah hadis bahwa puasa ayyamul bidh adalah tauladan dari ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini diketahui dari sebuah percakapan antara Mu’adzah yang bertanya kepada Aisyah tentang ibadah puasa selama tiga hari berturut-turut di setiap bulannya yang selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kapan saja waktu untuk melaksanakannya yang kemudian dibenarkan dan dijelaskan oleh Siti Aisyah bahwa puasa tersebut dilakukan dihari apa saja. (Baca juga: Pamer dalam Islam)

Kisah tersebut diriwayatkan dalam hadis Tirmidzi:

Akaana rasulullah – shollallahu ‘alaihi wa sallam – yashuumu tsalaatsata ayyaamin min kulli shahrin qalat na’am. Qultu min ayyati kaana yashuumu qalat kaana laa yubaalii min ayyati shooma.

Artinya:

“Apakah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam senantiasa berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Aku (Mu’adzah) pun lalu bertanya lagi: “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi)

  1. Kebiasaan Nabi dalam berpuasa ayyamul bidh

Selain itu, ada juga sebuah hadis lain yang meriwayatkan tentang puasa sunah ayyamul bidh dari Abu Dzar yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi.

Baca juga:

Demikianlah penejelasan mengenai keutamaan dari puasa ayyamul bidh ini. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan dan keimanan serta memberi manfaat positif bagi kita semua.

Hukum Potong Rambut Saat Puasa

Puasa adalah salah satu perintah Allah dan menjadi kewajiban umat islam khususnya dalam melaksanakan puasa ramadhan. Dalam pelaksanaan puasa ini, tentu saja ada aturan dan hukum yang berlaku sebagaimana islam mengatur seluruh hidup manusia. Tentu saja, segala aturan dan hukum ini disandarkan kepada aturan dari Al-Quran dan sunnah Rasul. Yang tidak diatur dan dilarang tentu saja bukan berarti tidak boleh. Semuanya kembali pada aturan yang telah Allah berikan.

Puasa memang bagian dari rukun islam, dan terdapat hadist yang menyatakan bahwa “Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi hajike Baitul Haram” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Untuk berpuasa puasa ramadhan yang termasuk dalam rukun islam, tentunya harus sesuai dengan rukun puasa ramadhan. Karena dalam islam tentunya ada syarat syah puasa ramadhan. Sedangkan saat batal atau tidak berpuasa maka wajib untuk mengganti puasa dengan niat puasa ganti ramadhan dan niat buka puasa.

Dalil Memotong Rambut Saat Puasa

Di dalam hadist, tidak ada aturan atau larangan yang terkait memotong rambut saat puasa. Memotong rambut saat puasa tidak ada larangan, apalagi sampai membatalkan. Memotong rambut tidaklah termasuk kedalam hal-hal yang membatalkan puasa. Karena memotong rambut bukanlah bagian dari melaksanakan makan, minum, berhubungan suami istri, atau pelampiasan hawa nafsu. Justru islam, menyuruh kepada manusia untuk menjaga kerapihan dan kebersihan.

Untuk itu bagi kita yang menginginkan untuk potong rambut saat puasa, maka tidak masalah dan tidak apa-apa jika harus memotongnya. Karena hal ini tidak berpengaruh terhadap puasa kita. “Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya” (HR Bukhari dan Muslim).

baca juga:

Hal-hal lainnya yang tidak membatalkan puasa adalah seperti:

  1. Menelan Ludah Sendiri

Saat puasa, tidak masalah jika hendak menelan ludah sendiri. Hal ini dikarenakan ludah merupakan mekanisme alamiah atau natural yang biasa dilakukan oleh tubuh kita. Untuk itu, tidak mungkin jika menahan untuk tidak menelan ludah. Karena hal tersebut merupakan mekanisme alamiah yang terjadi. Justru jika ditahan dan tidak dilakukan, akan mempengaruhi sistem pencernaan dan juga mekanisme tubuh kita sendiri.

[AdSense-B]

Hal ini juga disampaikan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah, “Tidak apa-apa untuk menelan ludah dan saya tidak melihat adanya perselisihan ulama dalam hal ini, karena hal ini tidak mungkin bagi manusia untuk dihindari dan akan sangat memberatkan, bukan? Tetapi untuk dahak maka wajib untuk diludahkan apabila sudah berada di rongga mulut dan tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk menelannya karena hal itu memungkinkan untuk dilakukan dan tidak sama dengan ludah.”

  1. Disuntik atau Infus

Pendapat para ulama dan ahli fiqih menyatakan bahwa suntik tidak membatalkan puasa sedangkan infus dapat membatalkan puasa. Hal ini dikarenakan suntik bukan termasuk pada makanan dan minuman sedangkan infus termasuk pada makanan dan minuman. Untuk itu, jika diinfus maka termasuk dalam hal yang membatalkan puasa.

Berbeda lagi dengan meneteskan oat ke mata dan telinga. Hal ini tidak akan membatalkan puasa karena bukan saluran yang masuk ke dalam tenggorokan. Bahkan bukan termasuk juga ke dalam makanan dan minuman yang melepas dahaga.

  1. Menyiram Air ke Kepala Hingga Badan

Hal ini tentu tidak membatalkan puasa karena air yang disiram ke badan tidak diminum atau masuk ke dalam tenggorokan. Sedangkan untuk membatalkan puasa maka air tersebut harus masuk kedalam tenggorokan atau seperti diminum. Jika tidak, maka tidak akan membatalkan puasa.

Hal-hal lainnya mengenai puasa yang harus juga diketahui umat islam adalah seperti :

Hal-Hal yang Membatalkan Saat Puasa

Saat puasa, ada beberapa hal yang bisa membatalkan puasa. Hal ini tidak termasuk kedalamnya memotong rambut. Untuk itu, perlu dipahami bahwa memotong rambut, kuku, mencukur kumis, atau rambut-rambut lainnya tidak berpengaruh terhadap batal atau tidaknya puasa kita.

  1. Makan dan Minum

Makan dan minum adalah hal yang jelas membatalkan puasa. Untuk itu, tidak boleh kita memasukkan jenis makanan dan minuman apapun, adalah hal yang membatalkan puasa.

  1. Berhubungan Suami Istri

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa” (QS Al-Baqarah : 187)

Saat berpuasa suami istri yah sah sekalipun dilarang untuk melakukan hubungan biologis tersebut. Tetapi Allah memberikan keringanan dengan diperbolehkannya melakukan hal tersebut setelah berpuasa yaitu di malam hari. Di malam hari tentunya sudah tidak berpuasa dan sudah batal puasa. Tentu Aturan Allah seperti ini tidak memberatkan manusia justru malah meringankan.

Justru Allah telah memberikan keringanan agar manusia bisa tetap taat pada aturan Allah tetapi tidak justru mengekang fitrah manusia. Untuk itu, Allah memberikan keringanan tersebut agar manusia tetap bisa merasakan kebahagiaan tanpa melanggar perintah Allah.

[AdSense-C]

  1. Mengeluarkan Madzi atau Air Mani

Jika seseorang memaksa keluar mani dengan cara apa pun baik dengan tangan, menggosok-gosok ke tanah atau dengan cara lainnya, sampai keluar mani, maka puasanya batal.” Hal ini juga disepakati oleh para ulama imam mahdzab lainnya.

Seseorang yang mengeluarkan air mani atau madzi tentu dilarang atau batal puasanya jika dilakukan secara sengaja. Maka itu dilarang untuk merangsang diri kita dengan sesuatu yang bisa melahirkan hal tersebut. Kecuali jika dilakukan secara tidak sengaja atau seperti mimpi basah yang memang tidak bisa dikendalikan kesadarannya.

  1. Keluarnya Darah Haid atau Nifas

Saat haidh atau nifas maka wanita tidak wajib untuk puasa. Wanita dilarang untuk berpuasa karena kondisi dirinya yang sedang mengalami pendarahan tersebut. Untuk itu, saat haidh wanita bisa melakukan ibadah selain berpuasa. Seperti berdzikir, sedekah, dan lain sebagainya.

Itulah hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Selain dari puasa ramadhan ada juga puasa sunnah yang memiliki keutamaan seperti : Puasa Sunah Idul Adha dalam Islam, Puasa 1 Muharram, , dan Keutamaan Puasa di Bulan Syawal. Tentunya dalam puasa tersebut terdapat Hikmah Puasa Sunnah Dalam Islam

Hukum Berenang Saat Puasa dalam Islam

Berpuasa adalah kewajiban setiap muslim dan Allah perintahkan sebagaimana dalam QS Al Baqarah. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al-Baqarah : 183).

Puasa adalah bagian dari rukun islam dan menjadi satu kewajiban bagi umat islam. Akan berdosa jika ditinggalkan dan tidak dilaksanakan. Tentu saja balasannya pun akan Allah berikan bagi mereka yang tidak melaksanakan perintah puasa tersebut. Bagi siapa yang menjalankannya, khususnya puasa di bulan Ramadhan tentu Allah juga akan memberikan ganjarannya berupa pahala yang berlimpah.

Puasa telah Allah perintahkan sejak zaman Nabi-Nabi terdahulu. Tidak hanya Nabi Muhammad. Untuk itu, Allah mengatakan puasa adalah agar kita bisa bertaqwa. Tentunya seorang yang Taqwa adalah seorang yang tidak melalaikan perintah Allah, hatinya terpaut kepada Allah dan senantiasa mengarahkan dirinya kepada jalan kebenaran.

Hal ini juga disampaikan dalam sebuah hadist, “Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya” (HR Bukhari dan Muslim).

Untuk itu orang-orang yang berpuasa diperintahkan untuk banyak beribadah dan mengendalikan hawa nafsunya. Hawa nafsu ini adalah musuh manusia namun ia juga tidak boleh dihilangkan. Puasa mengendalikan diri. Maka itu Allah tidak menghendaki manusia tidak makan sama sekali dan tidak menyalurkan kebutuhan biologisnya. Hal ini diperbolehkan asal saat sudah selesai berpuasa.

Sebelum membahas mengenai boleh atau tidaknya berenang saat berpuasa, maka kita harus ketahui lebih dahulu mengenai hal-hal yang dapat membatalkan puasa, agar diketahui apakah renang dapat membatalkan puasa atau tidak.

Berolahraga Renang Saat Berpuasa

Dilihat dari hal-hal yang membatalkan puasa diatas, maka bisa dipahami bahwa tidak ada larangan untuk berolahraga attau berenang. Berolahraga atau renang tidak dilarang selagi hal tersebut tidak memasukkan atau meminum air hingga batal puasanya. Begitu juga seperti halnya memasukkan badan ke air sebagaimana mandi, tentu tidak dilarang.

Yang menjadi catatan adalah khawatir jika mungkin saat berolahraga membuat badan lemah, lesu, atau capai, sehingga membuat puasa tidak optimal. Tapi, selagi masih bisa kuat dan bugar tentu hal ini tidaklah dilarang.

Allah tidak menghendaki manusia kesulitan, sebagaimana dalam ayat AlQuran, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Begitupun hal nya jika ada atlet renang, guru renang, atau harus berenang karena kebutuhan kesehatan ataupun latihan fisik sebagai prajurit, maka renang diharamkan atau dilarang saat berpuasa. Yang terpenting hal-hal yang membatalkan puasa tidak terjadi, maka tidak batal puasanya.  Jika ingin berenang saat berpuasa tentu saja diperbolehkan. Selain menyegarkan, olahraga saat berpuasa juga bisa menambah badan kita lebih fit dan tidak mudah terkena penyakit.

Walaupun kita melaksanakan olahraga renang di bulan ramadhan atau saat berpuasa, tentunya ada hal-hal yang jangan dilupakan dan ditinggalkan seperti, melaksanakan Doa Akhir Ramadhan dari Nabi Muhammad SAW, melakukan Renungan Akhir Ramadhan (Amalan untuk Menebar Kebaikan), melaksanakan Amalan Dzikir di Bulan Ramadhan dan Keutamaannya.

Tentunya bulan ramadhan haruslah melaksanakan Kegiatan di Bulan Ramadhan yang Menghasilkan Pahala, walaupun sedang haidh tetapi ada Amalan di Bulan Ramadhan Bagi Wanita Haid. Bisa juga melaksanakan  Keutamaan Sedekah di Bulan Ramadhan, dan Cara agar Tidak Malas Shalat 5 Waktu Selama Ramadhan.

[AdSense-C]

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Sebelum berpuasa tentu hendaknya seorang muslim mengetahui hal-hal hukum seperti tentang :

Sebagaimana ibadah yang Allah perintahkan lainnya, puasa juga bisa batal pada seseorang. Hal-hal yang dapat membatalkan puasa tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Makan dan Minum

Makan dan Minum jelas adalah hal yang membatalkan puasa. Untuk itu, makan dan minum saat bulan ramadhan hanya dilaksanakan pada saat sahur dan berbuka setelah magrib. Tentu saat melangsungkan puasa hal ini tidak diperbolehkan dan menjadi batal puasanya. Bagi siapa yang sengaja tentu harus membayarnya atau meggantinya di bulan lain, sedangkan bagi anak kecil yang belum baligh tentu tidak berdosa jika hal ini dilakukan. Hal ini karena sebagai bentuk pembelajaran.

  1. Berhubungan Suami Istri

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa” (QS Al-Baqarah : 187)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah melarang untuk berhubungan suami istri pada saat sedang berpuasa. Tetapi malam hari saat setelah selesai puasa dan berbuka, tentu ini adalah hal yang dihalalkan. Tidak menjadi masalah karena setelah selesai berbuka puasa atau membatalkan puasa. Maka itu, puasa adalah menjadikan kita mampu mengontrol diri dan hawa nafsu bukan justru mengumbarnya walaupun dengan suami istri atau pasangan yang sah kita.

Sudah cukup jelas bahwa Allah memang mengetahui betul seluk beluk manusia. Manusia memang dilingkupi hawa nafsu dan manusia tentu saja membutuhkan penyaluran hawa nafsu tersebut. Dalam puasa Allah tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa penuh seharian selama 24 jam. Ada waktu yang diperbolehkan untuk makan dan minum, juga menyalurkan kebutuhan suami istri. Bersyukurlah karena Allah bukan hendak menyiksa manusia melainkan memberikan petunjuk dan menyelamatkan dari kesesatan dunia yang nyata.

[AdSense-B]

  1. Keluarnya Air Mani atau Madzi Secara Sengaja

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Jika seseorang memaksa keluar mani dengan cara apa pun baik dengan tangan, menggosok-gosok ke tanah atau dengan cara lainnya, sampai keluar mani, maka puasanya batal.” Begitu juga dengan pendapat dari para ulama madzhab, yaitu Imam Malik, Imam  Syafi’i,  Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad.

Para ulama fiqih memiliki pendapat dan memahami bersama bahwa keluarnya air mani secara sengaja adalah hal yang membatalkan puasa. Untuk itu jangan sekali-kali dalam keadaan puasa merangsangnya atau melakukan sesuatu yang dapat berakibat madzi. Hal ini dalam pengecualian mimpi basah yaitu dalam kondisi tidak sadarkan diri.

  1. Menstruasi atau Haidh

Menstruasi atau haidh adalah saat dimana perempuan mengalami keluargnya darah sebagai bentuk fitrah dan sunnatullah yang Allah berikan. Saat ini, perempuan tidak diwajibkan berpuasa dan berkewajiban untuk mengganti puasanya. Maka seketika darah tersebut keluar yang merupakan darah kotor atau tidak suci, maka batal lah puasanya.

Hal ini pun berlaku jika mengerjakan puasa sunnah, seperti pelaksanaan dalam Keutamaan Puasa di Bulan Syawal , Puasa Sunah Idul Adha dalam Islam, dan puasa sunnah lainnya untuk mendapatkan Hikmah Puasa Sunnah

Demikian penjelasan tentang dalil hukum berenang saat puasa, Semoga menambah wawasan tentang islam untuk para pembaca.

Hukum Menelan Ludah Saat Puasa dalam Islam

Bulan puasa adalah kesempatan bagi kita untuk mendapatkan pahala yang sebanyak banyaknya seperti dengan membaca Doa Akhir Ramadhan dari Nabi Muhammad SAW, melakukan Renungan Akhir Ramadhan (Amalan untuk Menebar Kebaikan), melaksanakan Amalan Dzikir di Bulan Ramadhan dan Keutamaannya.

Saat berpuasa, kita dilarang untuk makan dan minum atau memasukkan apapun ke dalam mulut yang berpotensi ditelan atau menjadi konsumsi kita. Hal ini termasuk dalam membatalkan puasa jika dilakukan. Namun, ada juga permasalahan dimana kita sering menelan ludah sendiri yang tentu saja seperti menelan air.

Bukan hanya puasa wajib, melainkan puasa sunnah seperti  dalam pelaksanaan Keutamaan Puasa di Bulan Syawal . Puasa Sunah Idul Adha dalam Islam, yang memiliki banyak Hikmah Puasa Sunnah jika dilakukan. 

Ada kekhawatiran dari beberapa orang hal ini bisa menjadi pembatal puasa. Apakah benar seperti itu tentunya perlu dikaji secara ilmiah. Apakah menelan ludah termasuk dalam hal yang membatalkan puasa? Tentunya harus kita ketahui terlebih dahulu apa itu ludah dan apa fungsi ludah, apakah tidak boleh kita menelan ludah saat berpuasa? Hal ini akan dijelaskan dalam artikel berikut.

baca juga Hukum Islam lainnya:

Pengertian dan Fungsi Air Ludah Secara Biologis

Sebagai hamba Allah yang bertaqwa kita meyakini bahwa tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia di dunia ini. Begitupun yang Allah ciptakan dalam tubuh kita. Akan sangat banyak sekali fungsi-fungsi yang akan kita dapatkan jika mendalami satu persatu yang Allah ciptakan.

Air ludah adalah cairan yang dihasilkan alami oleh tubuh kita dan bersifat asam serta mengandung berbagai fungsi juga manfaat. Air ludah ini sangat penting karena tanpa air ludah tentunya dalam makan, minum, atau mengkonsumsi sesuatu akan kesulitan untuk dicerna.

Begitupun dengan air ludah yang Allah ciptakan. Tentunya tidak sia-sia Allah ciptakan. Dan tanda-tanda kekuasaan Allah ini hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang berpikir dan membaca realitas dalam hidupnya. Berikut adalah fungsi-fungsi air ludah yang Allah ciptakan pada manusia.

  1. Menetralkan Bakteri atau Virus

Setiap saat ada saja bakteri atau virus yang menghinggapi diri kita. Jika tidak dijaga kebersihan dan kenetralannya maka bakteri dan virus ini bisa menggangu tubuh serta menyebabkan penyakit. Untuk itu, bakteri atau virus bisa dilemahkan atau dihancurkan oleh ludah karena bersifat cairan yang sedikit asam.

Tanpa ludah, maka akan banyak bakteri atau virus yang masuk saat kita makan, minum dan beraktifitas. Untuk itu cairan ludah memang difungsikan mencegah penyakit tersebut. Tentu saja cairan ludah ini diproduksi tidak banyak dan sesuai kebutuhan saja. Tidak seperti air yang terus menerus mengalir atau seperti meminum air.

  1. Mengolah Makanan

Ludah berfungsi juga untuk mengolah makanan. Dalam ludah terdapat satu enzim yang bernama enzim ptialin atau amliase yang berfungsi untuk menghancurkan makanan. Di dalam mulut saat makan ludah berfungsi untuk mengolah atau menghancurkan makanan tersebut, sehingga ketika masuk dalam organ dan fungsi pencernaan akan lebih lumat dan mudah untuk dicerna.

Eznim amilase atau ptialin yang ada dalam ludah ini tentu saja sangat dibutuhkan agar pencernaah menjadi lancar dan tidak membuat makanan yang masih keras menjadi sulit dicerna oleh tubuh. Untuk itu, fungsi ludah sangat vital bagi sistem pencernaah tubuh kita di awal, saat makanan sudah masuk.

[AdSense-B]

  1. Mengandung Elektrolit

Elektrolit memiliki fungsi untuk mempertahankan cairan dalam tubuh agr tidak terjadi kekeringan. Untuk itu ludah juga berfungsi untuk mempertahankan cairan dalam tubuh, tidak kering, dan tetap lembaba tau basah, terutama daerah mukosa (mulut)

  1. Sebagai Sistem Imun

Karena ada banyak zat-zat dan enzim yang ada dalam ludah, maka ludah ini juga berfungsi sebagai sistem imun. Hal ini berfungsi agar tubuh kita terhindar dari segala penyakit. Ludah yang bersifat asam ini akan memberikan kestabilan dalam tubuh. Untuk itu, ludah menjadi alami dikeluarkan dan secara otomatis akan diproduksi dalam area di mulut kita.

baca juga hukum Islam lainnya:

Menelan Ludah Saat Berpuasa Menurut Islam

Mengenai hal ini Allah menyampaikan dalam Al-Quran, “Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS Al-Hajj :78). Untuk itu, islam tidak menghendaki manusia kesulitan dan tersiksa dari adanya aturan berpuasa.

Tentunya saat puasa, Allah mengharapkan kita mudah agar bisa melaksanakan Kegiatan di Bulan Ramadhan yang Menghasilkan Pahala, Amalan di Bulan Ramadhan Bagi Wanita Haid, mencari Keutamaan Sedekah di Bulan Ramadhan, dan tentunya melaksanakan Cara agar Tidak Malas Shalat 5 Waktu Selama Ramadhan.

Hal ini juga disampaikan oleh seorang ulama bernama Ibnu Qudamah Rahimahullah, “Apa yang tidak mungkin menjaga diri darinya misalnya menelan ludah maka tidak membatalkan puasa, karena menjaga hal ini bisa memberatkan”. Untuk itu sulit kiranya jika manusia tidak boleh menelan ludahnya saat berpuasa.

Dan disampaikan kembali oleh Allah, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al Baqarah: 185)

Jika dilihat dari penjelasan tersebut, maka kita bisa memahami bahwa ludah adalah mekanisme yang alami dalam tubuh kita. Saat berpuasa, maka mekanisme ini tentu saja tidak bisa ditahan atau dihentikan. Sebagaimana saat puasa, maka mekanisme tubuh seperti berkeringat, mengeluarkan urin, mengeluarkan gas tidak bisa dihentikan.

Untuk itu, tentu saja menelan ludah saat puasa adalah hal yang diperbolehkan, begitupun menurut ijma atau kesepakatan para ulama. Hal ini tidak melanggar aturan pembatalan puasa karena zat atau cairan ludah adalah sesuatu yang alamiah. Berikut ada penjelasan lebih lengkap dan jelasnya.

  1. Ludah adalah Mekanisme Alami

Ludah tidak mungkin untuk tidak ditelan oleh kita, karena baik sengaja ataupun tidak sengaja maka ludah akan terus diproduksi dan terus bermekanisme dalam tubuh kita. Untuk itu, mekanisme alamiah ini akan tetap ada. Bahkan saat kita tidur ataupun sedang dalam tidak sadar maka dia akan tetap berlangsung.

Untuk itu, ulama memperbolehkan jika saat puasa kita menelan ludah karena itu adalah hal yang tidak dilarang atau sulit ditahan. Merupakan bagian dari mekanisme tubuh kita yang telah Allah ciptakan dan tentukan prosesnya.

[AdSense-C]

  1. Ludah Memiliki Fungsi Terhadap Pencernaan

Ludah memiliki fungsi untuk pencernaan. Untuk itu, jika tanpa ada ludah, maka pencernaan kita akan terganggu. Untuk itu, ludah harus tetap ada dan berfungsi seperti biasa. Sebagaimana tubuh kita tidak boleh kehilangan zat-zat dalam tubuhnya, maka begitupun dengan ludah. Ia harus tetap ada. Jika tidak ada, maka sulit nantinya pencernaan akan lancar atau berlangsung seperti biasa.

  1. Tubuh Tidak Boleh Kehilangan Ludah

Dari penjelasan yang sudah ada maka bisa dipahami bahwa tubuh tidak boleh kehilangan ludah. Ditelannya ludah bukan suatu yang tidak boleh ditelan. Tentu Allah tidak hendak mempersulit, jika memang ditelan sengaja atau tidak hal ini tidak akan membatalkan puasa. Ludah bukanlah suatu yang menghilangkan dahaga apalagi jumlahnya yang tidak banyak, berputar di daerah mulut saja. Oleh karena itu, tubuh tidak boleh kehilangan ludah. Ludah harus tetap ada baik berpuasa atau tidak. Sehingga tidak ada kata tidak boleh untuk menelan ludah.

Selain hukum menelan ludah saat puasa, kita juga bisa memahami mengenai

Hukum Mencicipi Makanan Saat Puasa, Hukum Memotong Kuku Saat Puasa , Hukum Menangis Saat Puasa , Hukum Puasa Tanpa Sahur, Hukum Belum Membayar Hutang Puasa Ramadhan, atau Hukum Menyikat Gigi Saat Puasa agar menjalani puasa lebih memahami kaidah fiqihnya.

Hukum Menangis Saat Puasa – Boleh atau Tidak?

Hukum-hukum dalam berpuasa mungkin sudah sering kita pelajari sejak kecil. Entah itu perihal apa saja yang membatalkan puasa, sunnah-sunnah dalam berpuasa, doa-doa dalam berpuasa, hingga keutamaan-keutamaan orang-orang yang menjalankan ibadah puasa. Namun, kebudayaan masyarakat kita yang suka mempercayai hal-hal kecil mungkin menciptakan mitos tersendiri yang bisa membuat kita ragu. Salah satunya menangis.

Menangis sebenarnya adalah sebuah kegiatan yang manusiawi. Semua orang pasti pernah menangis. Tidak ada orang yang bisa bebas dari sebuah tangisan. Menangis adalah hal yang sangat wajar. Saat kecil, kita sering menangis. Saat dewasa, ada kalanya manusia juga bisa bersedih terlalu berlebihan dan lahirlah sebuah tangisan. Saat bahagia atau terharu pun biasanya ada juga orang yang menangis. Dan lagi, ketika mengingat dosa. Kebanyakan orang yang bertaqwa mungkin bisa saja menangis.

Dulu ketika kecil, kita mungkin sering mendengar ungkapan, “Jangan menangis, nanti puasanya batal.” Dan ungkapan tersebut seringkali kita bawa hingga dewasa. Sehingga, bukan hal yang mustahil jika ketika tiba saat berpuasa, banyak orang yang masih belum yakin akan hukum menangis saat puasa. Bolehkah, atau justru membatalkan puasa kah? Untuk mengetahui jawabannya, mari kita simak beberapa hal berikut ini.

Baca juga:

Apakah Menangis Membatalkan Puasa?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita flashback lagi ke ilmu-ilmu dasar perihal puasa. Kita harus tahu terlebih dahulu tentang apa-apa saja yang membatalkan puasa. Baru dari sana kita bisa mengambil kesimpulan apakah menangis benar membatalkan puasa atau tidak. Dan setiap ilmu, harus selalu bersumber dari Al Qur’an dan hadist.

Kita merujuk kepada pendapat Rasulullah SAW yang sudah pasti benar mengenai puasa. Beliau mengatakan bahwa pada dasarnya hanya tiga perkara yang bisa membatalkan puasa, diantaranya:

  • Makan disengaja.
  • Minum disengaja.
  • Berhubungan suami istri disengaja saat siang hari.

Ketiga hal tersebut jelas membatalkan puasa dan sebaiknya kita hindari. Jika kita melakukan ketiga hal di atas sudah menjadi barang tentu jika puasa kita batal. Namun penjelasan tersebut dirincikan lagi oleh Rasulullah SAW mengenai hal-hal yang bisa menyebabkan puasa yang kita jalani batal, seperti hal-hal berikut.

  • Murtad, atau keluar dari agama Islam.
  • Haid, nifas atau melahirkan bagi wanita.
  • Pingsan, gila, atau hilang akal/ingatan.
  • Mabuk karena minuman keras yang disengaja.
  • Muntah disengaja.

[AdSense-C]

Dari beberapa poin menurut ilmu Rasulullah SAW di atas, menangis tidak menjadi perkara yang membatalkan puasa. Dan perlu kita ketahui bersama bahwa pada masa lalu, para sahabat juga pernah menangis. Seperti yang dijelaskan dalam hadist berikut ini mengenai Abu Bakar As Shidiq.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Mereka melalui Abu Bakar yang sedang shalat bersama dengan yang lainnya.” Aisyah menuturkan, Saya pun berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Wahai Rasulullah, sesungguhnyaAbu Bakar adalah seorang laki laki yang lembut hatinya, apabila telah membaca Al Quran beliau tidak mampu menahan cucuran air mata dari keduanya.” (HR Muslim)

Dari hadist tersebut dapat diketahui bahwa Abu Bakar As Shidiq juga sering menangis ketika sholat atau membaca Al Qur’an. Dan tentu saja bukan hal yang mustahil bila beliau pernah menangis ketika sedang berpuasa. Jika memang menangis adalah salah satu perkara yang membatalkan puasa, pasti lah Rasulullah SAW sudah menyebutkan perkara tersebut dalam beberapa hadist tentang puasa. Namun kenyataannya tidak ada satu hadist pun yang menjelaskan perihal menangis yang membatalkan puasa ini.

Dengan demikian, menangis bisa disimpulkan bukanlah hal yang bisa membatalkan puasa. Dengan menangis, puasa kita tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya. Kecuali jika air mata yang jatuh kemudian ditelan dengan sengaja. Itu lain lagi ceritanya, karena sudah masuk kedalam perihal minum yang disengaja. Oleh karena itu walaupun menangis, kita harus sigap menyikapi diri kita sendiri. Jangan sampai ada air mata yang tertelan.

Baca juga:

Apakah Menangis Mengurangi Pahala Puasa?

Ketika sudah jelas hukumnya bahwa menangis ternyata tidak membatalkan puasa, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah apakah menangis mengurangi pahala puasa? Karena sering sekali kita mendengar sebuah hadist yang menyatakan bahwa banyak sekali manusia yang berpuasa dan tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Semua itu disebabkan orang tersebut melakukan amalan-amalan yang mengurangi pahala puasanya. Seperti yang dijelaskan dalam hadist berikut ini.

“Barang siapa yang tidak meninggalkan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak akan memerlukan ia dalam meninggalkan makan dan minumnya (Puasa).” H.R. Abu Hurairah r.a.

[AdSense-B]

Lalu, bagaimana dengan menangis? Apakah menangis juga merupakan kegiatan yang bisa mengurangi pahala puasa?

Perihal menangis apakah mengurangi pahala puasa atau tidak, bisa diterjemahkan dari penyebab tangis itu sendiri. Karena, seperti yang kita ketahui bersama bahwa setiap amalan itu baik dan buruknya selalu berkaitan dengan niat di dalam hati. Jika seseorang menangis seperti sahabat Abu Bakar As Shidiq, yaitu karena membaca Al Qur’an atau karena sholat, maka tentulah perkara itu adalah perkara yang baik, yang semakin mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Menangis karena mengingat dosa dan maksiat yang selama ini dilakukan dan menangis karena ingin bertaubat kepada Allah dan mendapat ampunan-Nya juga merupakan perihal menangis yang baik, yang selalu ingin dekat dengan Allah. Tentu saja akan ada ganjaran atau pahala tersendiri bagi orang yang menangis karena sebab hal-hal di atas yang hanya Allah sendiri yang tahu.

Baca juga:

Namun, jika menangis disebabkan oleh hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah, tentu saja bisa mengurangi pahala puasa. Atau setidaknya, bisa menjadikan waktu kita semakin sia-sia. Misalnya menangis karena patah hati atau karena tidak terima dengan qada dan qadar-Nya Allah. Tentu saja menangis yang seperti itu akan menjauhkan diri kita dari Allah.

Atau, bisa jadi menangis karena kita ikut terharu karena sebuah film yang sedih, karena lagu yang mendayu-dayu, atau karena perkara sia-sia lainnya yang sebenarnya lebih baik kita tinggalkan. Maka, bisa jadi pahala puasa kita berkurang.

Namun kesemua perkara itu hanya Allah yang tahu pastinya. Kita sebagai manusia selayaknya bisa lebih bijak mempergunakan waktu-waktu puasa kita. Hindarilah kegelisahan hati yang tidak perlu. Dan bergelisah hatilah hanya karena Allah dan hanya kepada Allah. Ada baiknya kita mulai meninggalkan perkara duniawi yang tidak berfaedah untuk akhirat kita.

Lebih baik, kita mengalihkan perhatian kita kepada hal-hal yang semakin menambah pahala kita seperti memperbanyak sholat sunnah, membaca Al Qur’an, bekerja yang diniati ibadah, serta mencari rezeki dari jalan-jalan yang halal. Demikianlah penjelasan mengenai hukum menangis saat puasa. Semoga Allah memberikan rahmat kepada kita semua. Selamat berpuasa.

[accordion]
[toggle title=”Artikel Islam Lainnya”]

[/toggle]
[/accordion]