Hukum Merusak Rumah Tangga Dalam Islam

Tidak hanya dalam film yang selalu mengangkat tema perselingkuhan dalam rumah tangga, akan tetapi dalam kehidupan nyata dimana banyak terjadi perselingkuhan dalam rumah tangga. Hal ini bisa terjadi karena berbagai alasan mulai dari harta atau karena cinta buta yang sangat mudah terjadi pada orang yang lemah iman. Hal inilah yang menjadikan seseorang tidak segan segan merusak rumah tangga orang lain. Lalu, bagaimana Islam memandang hukum tentang merusak rumah tangga dalam Islam tersebut?, berikut ulasan selengkapnya untuk anda.

Dalam pandangan Islam, berbagai upaya yang dilakukan untuk merusak rumah tangga seseorang adalah haram hukumnya dan bahkan masuk ke dalam jenis dosa besar dalam Islam. Salah satu argumennya adalah khitbah seorang perempuan yang sudah dipinang oleh seorang laki laki saja sudah dilarang untuk mendekati dan merusak seorang wanita dengan suaminya.

Dalam salah satu hadits dikatakan jika Rasulullah SAW bersabda, “Rasulullâh – shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba sahaya dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami, dan siapa yang merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah dari kami’”. [Hadîts shahih diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzâr, Ibn Hibbaân, Al-Nasa-i dalam al-Kubra dan Al-Baihaqi].

Dari penjelasan singkat diatas bisa disimpulkan jika hubungan laki laki dengan perempuan yang statusnya masih suami atau istri orang maka hubungan tersebut sangat terlarang dan bisa berdampak pada status hukum pernikahan dan memperlihatkan ciri ciri istri durhaka terhadap suami.

Imam Al Haitsami juga memasukan perbuatan dosa ini dalam perbuatan dosa yang tak terampuni. Dalam kitab Al Zawajir an Iqtiraf al Kabair disebutkan jika dosa besar pada urutan ke-257 dan juga 258 adalah merusak wanita agar terpisah dari suaminya dan juga merusak suami agar terpisah dari istrinya.

Selain itu, pendapat keras juga diutarakan Madzhab Maliki dimana seorang laki laki yang merusak hubungan istri dengan suaminya harus dibatalkan meski sesudah akad nikah. Pandangan tersebut juga dinukil dari Ibnu Arafah yang menyatakan jika barang siapa yang berusaha untuk memisahkan seorang perempuan dengan suaminya supaya ia dapat menikahi perempuan tersebut, maka tidak mungkin baginya atau tidak diperbolehkan untuk menikahi perempuan tersebut.

Jenis dan Cara Merusak Rumah Tangga

Ada berbagai bentuk dan jenis yang bisa dilakukan seseorang untuk merusak rumah tangga orang lain dan merusak hubungan antara suami dan istri dan diantaranya adalah sebagai berikut.

  • Berdoa dan memohon pada Allah SWT agar hubungan dari seorang wanita dengan suaminya bisa rusak dan akhirnya timbul perceraian antara kedua orang tersebut.
  • Berkata kata dengan manis dan melakukan segala cara lahiriah yang baik namun menyimpan maksud merusak hubungan wanita dengan suaminya atau sebaliknya.
  • Memberikan bisikan dan kata kata yang menipu dan memprovokasi sehingga wanita atau pria akhirnya berpisah dari pasangannya dengan iming iming akan dinikahi olehnya atau orang lain.
  • Meminta atau menekan dengan terus terang agar wanita meminta cerai pada suaminya atau sebaliknya dengan alasan yang tidak dibenarkan dalam syariat.

Hukum Islam tentang Merusak Rumah tangga

Dalam Islam, terdapat dosa besar dan juga hukum saat merusak rumah tangga orang lain dan beberapa hukuman yang siap untuk diterima tersebut diantaranya adalah:

  1. Hukum Ukhrawi

Dari hadits Nabi Muhammad dan juga para ulama yang sudah bersepakat jika hukum merusak rumah tangga orang lain adalah haram hukumnya. Jika seseorang melakukan perbuatan tersebut, maka akan mendapat dosa dan juga siksaan kelak dalam neraka. Bahkan perbuatan merusak rumah tangga orang lain juga masuk dalam kategori dosa besar oleh Imam Al Haitsami.

Dari hadits juga dijelaskan jika dosa besar yang akan diterima bagi mereka yang sudah merusak rumah tangga orang lain yakni memisahkan suami dari istrinya atau sebaliknya, menurut hadits Nabi yang shahih merupakan perbuatan yang masuk dalam dosa tak terampuni.

  1. Hukum Duniawi

Jika berbicara tentang hukum duniawi yang akan diterima perusak rumah tangga orang lain maka terbagi menjadi dua hukum yang berbeda, yakni:

[AdSense-B]

Hukum Duniawi I

Jika seorang laki laki merusak pernikahan wanita dan suaminya sampai membuat wanita tersebut meminta cerai dari suami dan suaminya mengabulkan permintaan tersebut, atau laki laki yang merusak hubungan wanita dengan suaminya sampai suaminya marah dan meceraikan wanita tersebut. Menurut Jumhur ulama, menikahi janda cerai menurut Islam yang dilakukan laki laki perusak rumah tangga dan wanita yang merupakan istri orang lain tersebut haram untuk dinikahi. Namun, ulama Malikiyyah memiliki pandangan berbeda sebab pernikahan tersebut wajib dibatalkan baik sebelum terjadi pernikahan ataupun sesudah terjadi pernikahan. Berikut ini adalah beberapa alasan Malikiyyah mengenai azab wanita perusak rumah tangga orang lain.

  • Supaya dijadikan ancaman untuk kasus lain yang serupa dan bertujuan agar laki laki tersebut tidak merusak rumah tangga orang lain sehingga sebuah pernikahan bisa terjaga dengan baik.
  • Untuk menerapkan hadits dari Nabi Muhammad.
  • Terhitung dalam kaidah fiqih yang menjelaskan jika siapa yang tergesa gesa memperoleh sesuatu sebelum waktunya maka harus dihukum dengan cara tidak mendapatkan hal tersebut dan ini juga berkaitan dengan hukum pernikahan wanita yang ditinggal mati suaminya.

Hukum Duniawi II

Jika seseorang yang merusak rumah tangga orang lain, maka harus mendapatkan hukuman secara global. Berdasarkan pendapat para ulama, jika ada orang yang melakukan perbuatan terlarang tersebut, maka hakim memiliki wewenang untuk menjatuhkan ta’zir berupa hukuman yang diberikan berdasarkan ketentuan hakim atau penguasa. Hukuman tersebut adalah syarat yang tidak lebih dari 40 kali cambukan.

[AdSense-A] Namun, ada sebagian pendapat lain yang berkata jika orang tersebut harus mendapat hukuman penjara sampai ia bertaubat atau meninggal dan hal ini diyakini oleh sebagian penganut mazhab Hanafi. Sebagian penganut Mahzab Hanbali berpendapat jika hukumannya berupa cambukan keras dan dilakukan di depan umum sehingga bisa dijadikan peringatan untuk orang lain.

Merusak Rumah Tangga Merupakan Perbuatan Penyihir

Melakukan perbuatan dosa yakni merusak rumah tangga orang lain merupakan perbuatan penyihir berdasarkan dari hadits berikut ini.

“dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya”. [Al-Baqoroh: 102].

Dalam ayat tersebut sudah dijelaskan jika aktivitas sihir dari Harut dan Marut merupakan sihir untuk memisahkan pasangan. Sihir tersebut kemudian akan membawa ke kufuran dan seperti yang sudah diketahui dalam Islam jika perbuatan sihir masuk ke dalam salah satu dari ketujuh dosa besar dalam Islam dan akan mendapat hukuman bunuh. Dalil tersebut akan semakin menguatkan jika merusak rumah tangga orang lain masuk dalam kaba ir arau dosa besar dan merupakan kemungkaran yang berat.

Mmemisahkan pasangan suami istri dan mengganggu sekaligus merusak rumah tangga juga menjadi pekerjaan utama dari iblis dan tentaranya sehingga bisa menimbulkan fitnah dalam Islam serta kerusakan di dunia.

Imam Muslim meriwayatkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu diantara mereka datang lalu berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Lalu yang lain datang dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.’ Beliau bersabda, “Iblis mendekatinya lalu berkata: ‘Bagus kamu.”[H.R.Muslim].

Dari hadits diatas sudah dijelaskan jika iblis meremehkan apa yang sudah dibuat para tentaranya dalam menimbulkan fitnah dan kerusakan manusia. Akan tetapi saat tentara melakukan kerusakan dalam sebuah rumah tangga menurut Islam, maka iblis akan sangat senangg dan semakin mendekatkan syetan tersebut disisinya sambil memberikan pujian. Dari sini bisa terlihat jika siapa saja yang terlibat dalam kerusakan rumah tangga sebuah pasangan meski ia bersorban besar sekali pun, maka sesungguhnya ia merupakan bagian dari iblis dan mewujudkan pekerjaan iblis sekaligus menjadi antek baik dilakukan secara sadar atau tidak.

Ibnu Taimiyah berkata, “Upaya seseorang untuk memisahkan istri dengan suaminya adalah diantara dosa-dosa berat, termasuk perbuatan tukang sihir, dan sebesar-besar perbuatan Syetan.” [Al-Fatawa Al-Kubra, vol.2 hlm 313].

Demikian ulasan dari kami tentang hukum merusak rumah tangga orang lain dalam Islam yang haram hukumnya apapun alasan dibalik melakukan hal tersebut. Semoga kita semua bisa terhindar dari perbuatan tercela semacam ini.

Hukum Mengganggu Rumah Tangga Orang Dalam Islam

Tidak ada satupun kehidupan rumah tangga di dunia ini yang luput dari masalah. Semua rumah tangga pasti pernah merasakan perselisihan entah dalam kadar kecil atau besar. Rumah tangga yang dijalni Rasulullah SAW juga tidak luput dari permasalahan. Namun sebenarnya, sudah kewajiban dalam rumah tangga untuk menjadikan permasalahan yang terjadi bisa dijadikan sebagai alat ukur dari kualitas iman dari pasangan suami istri tersebut.

Hal yang harus diwaspadai pada saat konflik tersebut sedang terjadi adalahi pihak ketiga yang memakai kesempatan tersebut untuk semakin membuat permasalahan yang dialami pasangan semakin panas dan bisa memisahkan ikatan kedua pasangan tersebut. Kita sebagai umat muslim harus mengetahui jika hukum mengganggu rumah tangga orang dalam Islam merupakan dosa yang tak terampuni atau atau kaba ir, kemunkaran yang berat, perbuatan dari para penyihir dan juga kegiatan dari para iblis dna tentaranya untuk menimbulkan fitnah dan juga kerusakan di tengah kehidupan manusia.

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, atau seorang budak terhadap tuannya.” [H.R.Abu Dawud].

Abdullah bin Buraida dari ayahnya berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak termasuk golongan kami orang yang bersumpah dengan amanah dan barangsiapa merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya atau budak dengan tuannya, maka ia tidak termasuk golongan kami.” [H.R.Ahmad]

Seseorang yang berusaha merusak hubungan suami istri sehingga sampai menimbulkan perselingkuhan dalam rumah tangga dalam hadits diatas sudah mendapat vonis tidak masuk dalam golongan Rasulullah. Apabila orang tersebut tidak masuk dalam golongan Rasulullah, masa bisa dikatakan orang itu masuk dalam golongan kaum kuffar, fasik, munafik, ahli maksiat dan seluruh golongan yang tidak menjalani hidup yang lurus.

Mengganggu Rumah Tangga Termasuk Perbuatan Penyihir

Seseorang yang selalu saja mengganggu hubungan rumah tangga menurutIslam juga termasuk dalam perbuatan penyihir berdasarkan ayat Al Baqoroh,

“dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya [Al-Baqoroh: 102].

Dalam ayat diatas sudah sangat jelas diterangkan jika aktivitas dari penyihir Harut dan Marut merupakan sihir yang memisahkan diantara pasangan. Sihir tersebut membawa pada kekufuran dan sudah diketahui dalam Islam jika perbuatan sihir masuk ke dalam tujuh dosa besar dalam Islam sehingga pelakunya dihukum dengan cara bunuh. Dalil tersebut akan semakin menguatkan jika mengganggu hubungan rumah tangga orang merupakan dosa besar dan kemungkaran yang sangat berat.

[AdSense-B]

Mengganggu Rumah Tangga Orang Merupakan Perbuatan Iblis

Memisahkan dan mengganggu pasangan suami istri juga merupakan pekerjaan utama dari iblis dan para tentaranya sehingga akan menimbulkan fitnah dan juga kerusakan di bumi.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu diantara mereka datang lalu berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Lalu yang lain datang dan berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.’ Beliau bersabda: “Iblis mendekatinya lalu berkata: ‘Bagus kamu.” [H.R.Muslim].

Dari hadits diatas juga terlihat jika iblis mengirim tentaranya untuk menimbulkan banyak fitnah dan juga kerusakan di kehidupan manusia dan inilah yang membuat iblis sangat senang lalu mendekatkan syetan tersebut di sisinya sambil memujinya. Dari sini kita bisa melihat jika siapa pun orang yang terlibat dalam usaha untuk mengganggu dan memisahkan di saat pasangan suami istri membangun rumah tangga dalam Islam dan merusak rumah tangganya, maka sesungguhnya ia adalah bagian dari tentara iblis baik itu dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja.

Ibnu Taimiyah berkata, “Upaya seseorang untuk memisahkan istri dengan suaminya adalah diantara dosa-dosa berat, termasuk perbuatan tukang sihir, dan sebesar-besar perbuatan Syaitan.” [Al-Fatawa Al-Kubro, vol.2 hlm 313].

Mengganggu dan merusak rumah tangga orang lain memiliki cara yang beragam seperti bahaya adu domba dalam Islam antara pasangan tersebut, memprovokasi salah satu pasangan supaya bisa meminta cerai dengan cara menyebarkan citra buruk dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah haram hukumnya dan masuk ke dalam dosa besar.

Hukum Suami Membentak Istri Dalam Islam

Di era sekarang ini, tidak sedikit suami yang memliki perangai buruk seperti sering membentak istrinya dan selalu menunjukan sifat marah dalam Islam dengan berbagai alasan dan bahkan hanya karena masalah yang sepele. Karena masalah yang mungkin dihadapi suami, istri menjadi pelampiasan kemarahan dari suami dan akhirnya mendapat perkataan yang kurang baik atau dibentak oleh suami. Hal yang demikian tentunya sangat berlawanan dengan apa yang sudah disampaikan Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kalian, (yaitu) yang paling baik untuk istrinya serta saya yaitu orang yang paling baik diantara kalian pada istriku. [HR. Tirmidzi].

Islam merupakan agama yang sangat memuliakan istri seperti yang sudah dilakukan Rasulullah SAW pada para istri-Nya. Oleh karena itu, agama Islam sangat tidak menyukai sikap suami yang membentak istrinya. Hal yang perlu diketahui para suami jika mungkin jasa jasa yang sudah dilakukan istri memangtidak bisa dinilai dengan materi. Akan tetapi, beban istri seperti mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan anak sekaligus mengurus suami dan semua pekerjaan rumah tangga sebenarnya tidak dapat tergantikan oleh apapun juga.

Perasaan wanita yang sangat lembut dan penuh kasih sayang tentunya akan merasa sakit hati dan patah hati dalam Islam dengan bentakan yang diberikan oleh suami. Untuk itu, setiap suami harusnya berpikir ulang untuk berbicara dengan keras pada istri.

  • Jaga Perasaan istri

Hal yang mungkin terjadi apabila suami sering membentak dirinya hanyalah hati yang merasa terluka tidak hanya di hati namun juga bisa menyebar ke seluruh tubuhnya sehingga semakin lama akan membuat sangat istri merubah sikapnya menjadi benci, penuh dendam dan hilang perasaan cinta yang dulunya tulus, kini terganti dengan perasaan benci pada suaminya.

Hal tersebut tentunya sudah sangat berlawanan dengan apa yang sudah disampaikan Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kalian, (adalah) yang paling baik untuk istrinya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian pada istriku.” [HR. Tirmidzi].

  • Perenungan Untuk Suami

Semua laki laki yang sudah menjadi seorang suami harusnya melakukan perenungan dan berpikir ulang mengenai semua hal yang sudah dilakukan oleh istri dan juga memikirkan hukum menyakiti hati wanita dalam Islam, apakah bisa tergantikan dengan materi, bentakan dan berbagai kata yang menyakiti hati. Sebagai seorang suami yang bijaksana, maka sudah seharusnya memeluk istri dan menyayanginya sekaligus selalu bertutur kata yang lembut sehingga bisa menyejukan hati istri.

Jangan pernah anda sebagai suami untuk membentak istri apalagi hal tersebut dilakukan berkali kali sebab kepedihan tersebut akan terlihat di mata istri dan menghancurkan hatinya.

  • Bertentangan Dengan Pesan Rasulullah SAW

Kita sebagai umat Rasulullah SAW seharusnya selalu bisa meneladani Rasulullah dalam bersikap khususnya dalam hal memperlakukan istri istri Nabi Muhammad SAW, sebab jika tidak, maka anda sebagai laki laki tidak bisa dibilang sebagai umat Rasulullah SAW.

[AdSense-B]

  • Doa Istri Mustajabah

Dari sekian banyak doa, salah satu doa yang mustajabah merupakan doa isteri untuk suaminya. Namun, istri juga tidak mungkin akan mendoakan suami jika perlakuan yang ia dapatkan setiap hari hanyalah perkataan kasar dan juga bentakan dari suami. Doa yang dipanjatkan istri sangatlah berguna untuk meningkatkan kesuksesan anda sebagai suami, kebahagiaan dan juga rezeki yang sangat berlimpah.

  • Wanita Berasal Dari Tulang Rusuk Pria

Seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan berada dekat dengan hati serta untuk dicintai. Membentak dan segala perilaku kasar yang diberikan suami hanya bisa berujung pada perceraian.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.”[HR. Muslim].

  • Membentak Membuat Wanita Semakin Lemah

Sebenarnya, wanita merupakan makhluk yang kuat dan sanggup untuk menahan berbagai derita apapun juga hanya demi mendukung suami dan juga keluarganya. Akan tetapi, hanya karena suami yang selalu membentak istri, maka dalam sekejap akan sirna segala kekuatan yang dimiliki wanita dan tidak bisa merasakan hidup bahagia dalam Islam.

Bentakan yang diberikan suami hanya akan membuat hati dan perasaannya terluka sekaligus menghancurkan segala jiwa dan raganya. Inilah yang membuat wanita jadi mudah jatuh sakit bahkan bisa berujung depresi sebab sudah nyaris habis seluruh kekuatan tubuhnya hilang hanya karena bentakan yang diberikan suami.

  • Menyakiti Hati Berarti Menyakiti Anak

Membentak istri tentunya akan membuat hatinya menjadi sakit dan sedih. Namun perlu disadari jika hal tersebut juga akan berdampak pada anak. Dengan perasaan hati yang sakit, tentunya istri sebagai ibu tidak akan maksimal merawat anak anaknya dan akhirnya berdampak buruk pada anak. Akhirnya, dengan bentakan yang anda berikan juga berdampak buruk dengan perkembangan anak anda sendiri.

[AdSense-A] Seorang suami yang selalu membentak dan merendahkan istrinya, tidak termasuk kedalam orang yang pindah keyakina Islam, namun adalah orang yang masih menganut sisa dari keyakinan jahiliyah dan pembodohan di dalam pikiran mereka.

Dalil Dalil

Berikut ini terdapat dalil – dalil yang memerintahkan pria untuk selalu memuliakan wanita bahkan sang istri, antara lain:

An-Nisa’: 19

“Dan pergaulilah istrimu-istrimu dengan baik. Lalu, jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Al-Ahzaab: 84

“Orang-orang yang menyakiti mu’min laki-laki dan mu’min perempuan tanpa perbuatan yang mereka lakukan, Maka sesungguhnya mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.”

Maisarah bin Ali

“Barang siapa menggembirakan hati istrinya, maka seakan-akan ia menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah akan memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Saat suami memegang telapak tangan istri, maka bergugurlah dosa-dosa suami istri itu lewat sela-sela jari mereka.”

Hadits Tentang Kewajiban Suami

Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda, “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” [Muttafaq ‘alaih ].

Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.“

Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”

Rasulullah S.A.W bersabda, yang artinya:

“Pertama kali perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluarganya (yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka. (Al Hadits).

Suami merupakan imam untuk keluarganya dan sudah menjadi kewajiban suami pada istri dalam Islam untuk menafkahi dan menjaga keluarganya.“dan pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah.karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu. Padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak. [Qs.an-nisa:19].

Dalam ayat diatas menjelaskan jika Allah SWT sudah memberi perintah untuk para suami agar lebih mengerti bagaimana cara meningkatkan kesabaran dalam Islam. Dalam sebuah hadits juga sudah dijelaskan jika barangsiapa yang bisa menggembirakan hati istri, maka ini diibaratkan ia menangis karena takut pada Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT juga akan mengharamkan tubuhnya untuk masuk ke dalam api neraka. Saat suami istri saling memperhatikan, maka sesungguhnya Allah SWT juga akan memperhatikan mereka dengan penuh rahmat. Saat suami memegang tangan istri, maka gugur segala dosa suami istri melalui sela sela jari mereka dan adapun hukum dari suami yang membentak dan menyakiti hati istri adalah haram.

“orang-orang yang menyakiti hati mukmin laki-laki dan menyakiti mukmin perempuan tanpa perbuatan yg mereka lakukan.maka sesungguhnya mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata. [Qs.al-ahzab:84].

Perbuatan suami yang senang membentak dan menyakiti istri, maka hanya bisa menutup rizki suami dan ini berlaku sebaliknya dan menjadi ciri ciri suami durhaka terhadap istri. Jika suami membahagiakan hati istri, maka pintu rizki akan semakin lebar. Bentakan yang diberikan suami sudah pasti akan menyakiti hatinya dan akan menutup rizki suami khususnya bagi suami yang juga selalu menyalahkan semua tindakan istri.

Hukum Suami Menampar Istri Dalam Islam

Mungkin dari sebagian anda khususnya yang sudah menikah, belum mengetahui dengan pasti mengenai boleh tidaknya dan apa hukum suami memukul istri. Inilah yang menyebabkan masih saja banyak laki laki yang sudah menjadi suami memukul atau menampar istrinya dengan maksud menyakiti  atau menakuti nakuti sang istri. Dalam dasar hukum Islam sudah terdapat aturan yang sangat jelas dan tegas mengenai hal tersebut.

Apa saja hak dan kewajiban dalam Islam yang diperbolehkan untuk seorang suami menampar istri dan bagaimana cara memukul atau menampar istri yang diperbolehkan dalam Islam serta segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum suami menampar istri dalam Islam. Berikut penjelasan selengkapnya.

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Surat An Nisaa: 34]

Dalam ayat diatas, jika sang istri nusyuz atau memperlihatkan ciri ciri durhaka terhadap suami, maka hal pertama yang bisa dilakukan menasehati. Namun, jika nasehat tersebut ternyata tidak ampuh dan istri masih durhaka pada suami, maka lakukan pisah ranjang supaya istri bisa menyadari kesalahannya. Namun, jika cara kedua ini masih saja tidak berfungsi, maka suami diperbolehkan untuk menampar atau memukul istrinya.

Pukulan atau Tamparan Yang Diperbolehkan

Pukulan atau tamparan yang dimaksud adalah pukulan ringan dan tidak sampai mengeluarkan darah serta tidak menimbulkan hilangnya nyawa atau cacat pada tubuh, patah tulang dan sebagainya [dharb ghoiru mubbarih].

Ini menjelaskan jika tamparan atau pukulan yang dimaksud bukanlah seperti layaknya sansak tinju, namun dilakukan untuk mendidik, memperbaiki dan juga meluruskan istri. Suami diharamkan untuk memberikan tamparan atau pukulan keras yang sampai membuat istri takut dan lari dari suaminya tersebut.

Selain itu, suami juga dilarang untuk memukul sang istri jika terjadi perselisihan atau pertengkaran yang hebat seperti contohnya sang istri sudah berbuat durhaka terhadap suami.

Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita (istri), karena kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang kalian benci untuk menginjak (menapak) di hamparan (permadani) kalian. Jika mereka melakukan hal tersebut3 maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.” [HR. Muslim no. 2941].

Poin terpenting adalah pukulan atau tamparan yang dilakukan suami pada istri dilakukan jika istri memang sudah sangat durhaka terhadap suami, tidak lagi mendengarkan nasehat yang diberikan suami dan menjadi tindakan peringatan yang diberikan suami. Pukulan yang dilakukan suami juga tidak boleh sampai meninggalkan bekas luka pada tubuh istri.

Ini bisa kita lihat dan contoh dari yang sudah dilakukan Nabi Ayyuub saat beliau menghukum istrinya. Saat Nabi Ayub ditinggalkan sang istri, beliau bernazar apabila kelak ia sembuh, maka ia akan memukul istrinya sebanyak 100 kali dan beliau pun melakukannya. Ini dilakukan dengan seikat lidi yang berjumlah 100 buah dan hanya memukul sebanyak 1 kali saja.

[AdSense-B]

Syarat Suami Boleh Memukul atau Menampar Istri

Ada beberapa syarat yang memperbolehkan seorang suami untuk memukul atau menampar sang istri seperti beberapa persyaratan berikut ini.

  1. Tahu Tentang Penyebab Pukulan dan Tujuannya

Seorang suami diperbolehkan memukul istri apabila istrinya sudah sangat melanggar aturan agam, sudah menodai rumah tangga yang dibangun dan juga bisa mengancam kehormatan sang suami. Pukulan atau tamparan bukan dilakukan karena nafsu suami, emosi yang tidak terkendali dan juga karena senang melihat istri menderita saat ditampar.

  1. Memberi Batasan Waktu

Suami juga diperbolehkan untuk memukul atau menampar istri apabila istri tersebut sudah tidak mendengar nasehat yang diberikan suami dan tidak mau intropeksi diri bahkan sesudah melakukan pisah ranjang.

  1. Membatasi Alat

Seorang suami tidak diperbolehkan memukul sang istri memakai cemeti atau tongkat namun hanya boleh dengan tangan, kayu siwak atau saputangan yang sudah digulung. Ini mengartikan pukulan tidak boleh sampai menimbulkan cedera, menyiksa atau dilakukan dengan liar karena hanya menuruti sifat marah dalam Islam saja. Tamparan yang dilakukan hanya cukup sampai memberi pelajaran dan bukan menyakiti.

[AdSense-C]

  1. Akan Lebih Baik Tidak Dilakukan

Memukul atau menampar haruslah dijadikan pilihan terakhir dan sebaiknya tidak dilakukan selama masih ada pilihan lainnya. Sebab, risiko yang ada dibalik pukulan atau tamparan terbilang cukup besar khususnya jika sudah terlihat perbaikan dari sang istri.

  1. Hikmah dan Wewenang Suami

Wewenang yang dimiliki suami lewat pukulan atau tamparan memang terbilang cukup sulit khususnya jika permasalahan rumah tangga terjadi berkali kali dan harus selalu dibawa ke pengadilan. Islam juga sangat menjaga tinggi tentang keharmonisan keluarga khususnya jika berbicara tentang rahasia dan aib dari suami maupun istri.

Demikian ulasan dari kami tentang apa hukum suami menampar istri dalam Islam. Akankah lebih baik jika dalam setiap permasalahan, khususnya saat istri durhaka dengan suami, maka sudah menjadi kewajian suami terhadap istri dalam Islam adalah menasehati sang istri lebih dulu sebelum melakukan tamparan tersebut.

Hukum Suami Menghina Istri Dalam Islam

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti pernah berbuat salah, termasuk istri Anda. Untuk menghadapinya tentunya Anda harus mempraktekan cara mengatasi masalah rumah tangga secara islami. Yakni dengan menasehatinya secara baik-baik dan bertutur kata lembut. Sebab pada dasarnya wanita itu lemah. Ia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok maka seorang suami harus bisa melindunginya. Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda:

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari)

Meskipun islam telah menjelaskan secara lengkap tata cara berperilaku terhadap istri yang baik, namun tetap saja sebagian orang mengabaikannya. Seorang pria yang terbawa emosi terkadang khilaf lalu menghina istrinya bahkan bermain tangan. Nah, kira-kira bagaimana sih hukum suami menghina istri dalam islam? Berikut ulasan lengkapnya!

Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk berkisap saling menghina. Sebaliknya, manusia dianjurkan untuk bisa bertutur kata yang baik. Apabila tidak sanggup maka harusnya diam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Begitupun dengan sikap suami terhadap istrinya. Tidak boleh suami mengina atau berkata keji kepada istri-istri mereka. Terlebih lagi memukul maka hukumnya haram. Rasulullah mencontohkan untuk berbuat baik terhadap istri. Sebab istri adalah pententram hati. Dialah  ibu rumah tangga dalam Islam yang bekerja membersihkan rumah, memasak, mengurusi anak, dan menyiapkan segala kebutuhan rumah tangga. Kalaupun istri punya sedikit kekurangan maka kewajiban suami terhadap istri dalam Islam harus menerimanya. Atau paling tidak menasehatinya dengan cara lembut. Ingatlah perjuangan istri saat mengandung dan melahirkan bayi. Dia bertaruh antara hidup dan mati. Maka sudah tentu suami menghargai semua itu.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwasahnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidak boleh seorang mukmin menjelekkan seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlak darinya maka ia ridha darinya (dari sisi) yang lain.” (HR. Muslim)

Dalil-Dalil yang Memerintahkan Suami Berbuat Baik Kepada Istri

Terdapat banyak dalil yang memaparkan tentang perintah agar suami berbuat baik kepada istri. Diantaranya yakni:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku” (HR. At-Tirmidzi)

“Barang siapa menggembirakan hati istrinya, maka seakan-akan ia menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis karena takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah akan memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Saat suami memegang telapak tangan istri, maka bergugurlah dosa-dosa suami istri itu lewat sela-sela jari mereka.” (Diriwayatkan dari Maisarah bin Ali)

“Dan pergaulilah istrimu-istrimu dengan baik. Lalu, jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz[1] , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” (QS. An-Nisaa’ : 34)

[AdSense-B]

“Orang-orang yang menyakiti mu’min laki-laki dan mu’min perempuan tanpa perbuatan yang mereka lakukan, Maka sesungguhnya mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS. Al-Ahzab: 84)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran: 159)

Cara Suami Memperlakukan Istri yang Bersalah

Ketika seorang pria menikahi wanita, maka sejak saat itu dia bertanggung jawab penuh terhadap wanita tersebut. Segala kebaikan dan keburukan wanita itu harus bisa diterima. Suami berkewajiban untuk meluruskan agama sang istri. kewajiban wanita setelah menikah juga harus mematuhi suaminya.

Apabila istri berbuat salah, maka islam mengajarkan terdapat 3 hal yang harus dilakukan. Yakni pertama dinasehati, pisah ranjang dan dipukul dengan pukulan yang lembut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al-Quran:

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di termpat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.An Nisa’: 34-35).

[AdSense-A]

  1. Didoakan

Saat istri marah maka sebaiknya jangan dibalas dengan amarah. Sebaliknya, cobalah berlaku lemah lembut. Peluklah dia. Lalu pegang ubun-ubunnya dan berdoalah:

Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang dibawanya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

  1. Menasehati

Tindakan berikutnya yang harus dilakukan saat istri berbuat salah maka suami wajib menasehatinya. Menasehati bukan berarti menggurui. Namun berbagi ilmu tentang agama dengan cara yang baik. Anda bisa mengajak istri duduk berdua. Lalu ceritakan tentang hadist atau ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan akhlak atau lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah k akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR.Ahmad, Dawud, Tirmidzi, dan Ibu Majah)

Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR. At-Thabrani)

  1. Memboikot (Hajr) dengan Cara Pisah Ranjang

Apabila nasehat masih tidak membuahkan hasil, maka suami bisa melakukan pisah ranjang selama beberapa hari. Misalnya saja Anda tidur di ruangan lain. Namun jangan perlakukan istri Anda dengan buruk. Menurut ulama, untuk perbuatan hajr tidak boleh dari 3 hari. Sebagaimana hadist Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak halal bagi seorang muslim melakukan hajr (boikot dengan tidak mengajak bicara) lebih dari tiga hari” (HR. Bukhari).

  1. Memukul Tanpa Melukai

Apabila cara-cara diatas tidak bisa mengubah sikap istri, maka suami diperbolehkan memukul istri. Dengan syarat pukulan tersebut tidak boleh meninggalkan bekas luka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas” (HR. Muslim).

Para fuqaha berpendapat bahwa dalam memukul istri tentunya ada batasan-batasan yang wajib diikuti.  Diantaranya:

  • Tidak boleh memukul dengan tongkat, tapi cukup dengan tangan, kayu siwak atau sapu tangan yang digulung
  • Pukulan tidak boleh mengakibatkan luka atau cedera
  • Pukulan tidak boleh dilakukan secara membabi buta ataupun menyiksa
  • Pukulan hanya dimaksudkan untuk sekedar memberi pelajaran, bukan menuruti hawa nafsu dan amarah
  • Pukulan tidak boleh membekas : “Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas” (HR. Muslim).
  • Tidak boleh lebih dari 10 kali pukulan: “Janganlah mencabuk lebih dari sepuluh cambukan kecuali dalam had dari aturan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Tidak boleh memukul di wajah: “Dan janganlah engkau memukul istrimu di wajahnya” (HR. Abu Daud)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tidaklah pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul pembantu, begitu pula memukul istrinya. Beliau tidaklah pernah memukul sesuatu dengan tangannya kecuali dalam jihad (berperang) di jalan Allah”. (HR. Ahmad)

  1. Sebaiknya Hindari Memukul

Meskipun perbuatan memukul istri diperbolehkan, namun tetap saja sebaiknya dihindari.Terlebih lagi jika istri telah bertaubat maka hendaknya suami memaafkannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. An Nisa’: 34).

Dari Abdullah bin Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian sengaja mencambuk isterinya sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore harinya?” (HR. Muslim, Bukhari dan Tirmidzi)

Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.” (HR.Abu Dawud)

Dari penjelasan diatas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa hukum suami menghina istri dalam islam adalah tidak diperbolehkan. Seseorang yang baik adalah mereka yang mampu memaafkan dan menjaga ucapannya. Dengan demikian rumah tangga bisa menjadi keluarga sakinah dalam Islam, keluarga harmonis menurut Islam, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Demikian info mengenai hukum suami menghina istri dalam islam. Semoga bermanfaat.

17 Cara Menghadapi Mertua Yang Pilih Kasih

Saat sudah yakin dalam mencari jodoh dalam Islam dan memilih pasangan hidup, pastinya terlebih dahulu kita juga sudah merasa yakin dengan mempertimbangkan keluarga dari pasangan kita tersebut seperti kondisi dan sifat dari calon mertua yang sudah tergambar dari perkenalan. Semua orang yang menikah tentunya sangat menginginkan mertua yang juga menganggap diri kita sebagai menantu seperti layaknya anak kandung sendiri.

Akan tetapi, apabila kenyataan yang kita idam idamkan tidak seperti yang kita bayangkan dan mendapatkan mertua yang pilih kasih dan lebih mengutamakan anak kandungnya dibandingkan menantu, lalu bagaimana cara mengatasi masalah tersebut?. Lebih bermasalah lagi apabila mertua membandingkan diri kita dengan kelebihan yang dimiliki menantu lainnya bahkan dilakukan di hadapan umum. Untuk solusi terbaik, berikut ini kami memiliki ulasan bermanfaat mengenai cara menghadapi mertua yang pilih kasih sehingga hatinya bisa luluh pada kita tentunya dengan cara yang baik.

  1. Hadapi Dengan Kepala Dingin

Setiap orang tentunya tidak merasa nyaman dengan perlakuan pilih kasih yang dilakukan orang lain pada diri kita sendiri terlebih hal tersebut dilakukan oleh mertua. Untuk menghadapi masalah, ini, jangan terburu buru merasa kesal dan panik namun hadapi semuanya dengan sabar dan kepala dingin sekaligus perbanyak istighfar pada Allah SWT. Menghadapi perlakuan tidak adil dengan emosi hanya akan membuat diri kita gusar dan cemas.

  1. Perbanyak Sabar

Memiliki mertua yang pilih kasih memang menguji keimanan kita sebagai orang muslim. Akan tetapi, kita juga harus menyadari jika mungkin saja itu semua sudah menjadi takdir dari Allah SWT dimana kita mendapatkan mertua yang pilih kasih sebab Allah SWT menyayangi kita dan ingin menguji cara meningkatkan iman dan taqwa dalam Islam yang kita miliki. Selain itu, seperti yang kita ketahui jika Allah SWT tidak akan memberikan ujian pada kita yang melebihi batas kemampuan kita. Cara terampuh untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memperbanyak sabar supaya nantinya kita bisa hidup sebagai keluarga bahagia menurut Islam.

  1. Perlihatkan Potensi dan Prestasi

Mertua yang pilih kasih bisa terjadi mungkin karena ia tidak menyadari potensi dan prestasi apa yang dimiliki sang menantu. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai menantu untuk memperlihatkan kelebihan yang kita miliki pada mertua kita. Sebagai contoh, untuk para istri yang pintar memasak, cobalah sesering mungkin memasak sesuatu makanan lezat yang sangat disukai oleh mertua kita. Dengan melakukan ini, maka cepat atau lambat, mertua kita yang pilih kasih akan menyadari kemampuan dan kebaikan hati kita dan akhirnya luluh dengan prestasi serta kemampuan yang kita miliki tersebut.

  1. Jadilah Seperti Pohon

Yang dimaksud dengan istilah jadilah seperti pohon adalah seperti pohon yang saat dilempar dengan batu, maka pohon tersebut tidak akan membalas lemparan batu tersebut dan pohon justru akan menjatuhkan buahnya agar bisa dimanfaatkan oleh manusia.

Seperti halnya saat kita menghadapi mertua yang pilih kasih, maka yang harus dilakukan adalah tidak membalasnya dengan hal yang tidak menyenangkan juga, namun berikan sesuatu hal yang manis layaknya pohon yang menjatuhkan buahnya agar bisa bermanfaat dan juga menghindari balasan menyakiti orang lain.

Selain itu, Rasulullah SAW juga sudah memberikan pengajaran pada kita seperti saat beliau mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dimana seorang buta mencaci maki Rasulullah kapan pun, akan tetapi Rasulullah membalas perbuatan orang buta tersebut dengan sangat mulia sampai akhirnya orang buta itu masuk dalam Islam atau mualaf.

[AdSense-B]

  1. Perbanyak Pujian dan Hadiah

Tidak hanya anak anak saja yang selalu senang diberikan pujian dan banyak hadiah oleh orang lain, namun orang dewasa seperti mertua juga menyukai hal tersebut khususnya jika hadiah dan pujian yang anda berikan merupakan sesuatu yang sangat ia impikan selama ini. Sebagai contoh, anda bisa memuji mertua karena kehebatannya dalam membesarkan anak sehingga bisa menjadi pasangan yang hebat untuk anda. Dengan melakukan ini, Insya Allah cepat atau lambat hati mertua yang pilih kasih akan luluh dengan perbuatan baik yang anda lakukan.

  1. Komunikasi Dengan Baik

Mertua pilih kasih juga bisa disebabkan karena banyak hal dan salah satunya adalah karena komunikasi yang tidak baik antara menantu dan mertua. Biasakan diri dari sekarang untuk berkomunikasi dengan mertua anda sehingga berbagai prasangka buruk diantara kedua belah pihak bisa dihilangkan dan tidak timbul fitnah dalam Islam.

  1. Hadir Saat Dibutuhkan

Selalu ada disaat mertua membutuhkan juga bisa menjadi cara ampuh dalam menghadapi mertua yang pilih kasih. Kapanpun mertua anda membutuhkan bantuan atau jasa anda, usahakan sebisa mungkin untuk mewujudkan hal tersebut semampu anda. Meskipun sesudah anda melakukan itu semua namun tidak ada perubahan, maka tetap ikhlas dalam Islam saat melakukan hal tersebut.

Sebab, kita semua harus ingat jika perbuatan baik yang sudah kita lakukan tetap akan berbuah kebaikan yang nantinya akan diberikan Allah SWT, sebab Ia tidak akan pernah menyia nyiakan hamba-Nya dan senantiasa akan membalas perbuatan baik kita di dunia maupun di akhirat saat kiamat dalam Islam nanti.

  1. Berdoa

Berdoa juga menjadi cara ampuh untuk meluluhkan hati mertua yang pilih kasih. Allah SWT maha mendengar dab tidak akan memutarbalikkan hati manusia sehingga jangan pernah putus asa untuk memohon pada Allah SWT agar hubungan anda dengan mertua akhirnya bisa berjalan dengan baik sekaligus memperbanyak amalan istighfar. Teruslah berdoa untuk meminta meluluhkan hati mertua yang pilih kasih sehingga Allah SWT bisa memberikan terang pada hati mertua anda.

  1. Pisahkan Diri

Saat menghadapi mertua yang pilih kasih dan beliau sedang emosi akan sesuatu, ada baiknya anda menyingkir dari situasi panas tersebut untuk memikirkan hal yang baru saja terjadi itu. Redamlah emosi anda dengan cara mengendalikan emosi menurut Islam yakni menyendiri sehingga bisa memikirkan hal atau tindakan apa yang bisa dilakukan selanjutnya sebab sikat yang santun bisa meredam dan mengalahkan emosi seseorang yang sedang meluap luap tersebut.

[AdSense-A]

  1. Jangan Masukkan Dalam Hati

Apabila mertua yang pilih kasih sedang berkomentar kurang menyenangkan seperti rasa masakan anda, cara anda mengurus suami dan anak anak, membangun rumah tangga dalam Islam atau masalah lainnya, maka jangan diambil hati dan maklumi perbuatan tersebut. Terimalah semua hal tersebut dengan lapang dada sehingga hari hari berikutnya bersama dengan mertua tidak terasa semakin sulit.

  1. Hormati Pendapatnya

Mertua yang pilih kasih seringkali berbeda pendapat dengan dir kita. Saat anda mengalami perbedaan ini dengan mertua, maka kemukakan pendapat anda namun dengan memperhatikan adab. Dengarkan juga pendapat yang ia utarkan dan usahakan untuk melihatnya dari sudut pandang dirinya sehingga tidak tergesa gesa menarik kesimpulan jika pendapat anda adalah yang paling benar. Mertua tentunya memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak dibandingkan diri anda, sehingga tidak ada salahnya untuk mendengarkan pendapat yang ia utarakan tersebut.

  1. Dekatkan Diri Dengan Keluarga Pasangan

Mertua yang pilih kasih juga bisa terjadi karena ada kerenggangan diantara anda dengan keluarga dari pasangan anda dan ini juga diketahui oleh mertua anda. Anda mungkin saja dianggap sebagai saingan atau sudah merebut perhatian pasangan anda. Untuk itu, berusahalah sekeras mungkin untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga dari pasangan sehingga mertua anda juga bisa luluh dengan melihat keakraban yang anda jalin dengan keluarga pasangan tersebut sebab hikmah silaturahmi yang dijalin juga memiliki manfaat yang luar biasa.

  1. Jangan Terlalu Pelit

Mertua yang pilih kasih juga bisa terjadi karena anda terlalu pelit khususnya saat mertua meminta bantuan finansial pada pasangan anda atau bahkan sampai melarang pasangan untuk memberikan bantuan pada ibunya. Hindari sikap pelit ini setidaknya mengingat semua hal yang sudah beliau lakukan untuk pasangan anda sejak dulu dan jadikan bantuan tersebut sebagai balasan kecil untuk semua pengorbanan yang sudah dilakukan pasangan anda sebab tujuan pernikahan dalam Islam tidak hanya untuk pasangan namun juga keluarga.

  1. Perbanyak Aktivitas Bersama

Untuk memperkecil jarak antara anda dengan mertua, maka bisa dilakukan dengan cara melakukan sesuatu kegiatan secara bersana sana. Dengan melakukan aktivitas bersaama sama, maka komunikasi akan terjalni dengan baik sekaligus menyadari kebaikan hati dan sifat dari mertua kita dan begitu pun sebaliknya dari mertua pada kita.

  1. Hindari Posiesif Dengan Pasangan

Sikap posesif yang ada perlihatkan pada pasangan, terkadang membuat hati mertua serasa dipisahkan oleh anak kandungnya sendiri. Mertua akan merasa disingkirkan dengan sikap posesif yang kita miliki dan akhirnya menyebabkan mertua memiliki sikap yang pilih kasih tersebut.

  1. Bangun Kembali Pikiran Anda

Perlakuan mertua yang pilih kasih jangan sampai membuat anda menjadi emosi dan marah yang hanya akan membangun image diri yang semakin buruk dihadapan mertua. Bebaskan pikiran anda sehingga bisa memahami perlakuan yang mertua anda berikan dengan melakukan cara meningkatkan kesabaran dalam Islam. Selain itu, jangan samapi peristiwa tersebut mempengaruhi tugas utama anda untuk suami dan anak anak.

  1. Perbanyak Kata Iya

Saat berdiskusi atau berdebat dengan mertua, hindari berbicara sesuatu hal yang tidak penting khususnya saat situasi sangat sensitif dan hanya akan menyebabkan perlakuan pilih kasih dari orang tua semakin bertambah.

Demikian ulasan dari kami tentang beberapa cara menghadapi mertua yang pilih kasih dan semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang menzalimi diri sendiri dan orang lain.

17 Cara Mengatasi Masalah Rumah Tangga Secara Islam

Setiap manusia pasti mengharapkan pernikahan dalam hidupnya. Ingin memiliki pasangan dan anak-anak yang lucu. Hal ini sangat wajar, sebab sudah fitrah manusia untuk diciptakan saling berpasangan. Selain itu menikah juga merupakan ibadah yang dianjurkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam Al-Quran dijelaskan:

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah swt. yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah swt. adalah pengawas atas kamu”. (An Nisa: 1)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Menikah adalah sunnahku, barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku berarti bukan dari golonganku. Hendaklah kalian menikah, sungguh dengan jumlah kalian aku akan berbanyak-banyakkan umat. Siapa memiliki kemampuan harta hendaklah menikah, dan siapa yang tidak hendaknya berpuasa, karena puasa itu merupakan tameng.”

Walaupun menikah itu menyenangkan, namun bukan berarti menjalani pernikahan itu mudah. Menikah berarti menyatukan dua pikiran yang berbeda. Seseorang yang awalnya tidak pernah hidup dengan Anda tiba-tiba harus tinggal bersama setiap hari. Pastinya semua hal itu bisa memunculkan konflik. Dan konflik dalam rumah tangga adalah sesuatu yang sangat wajar. Namun demikian, setiap konflik yang datang harus segera diatasi. Apabila ada masalah kecil dan dibiarkan saja, maka lama-kelamaan itu bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga.

Nah, berikut ini cara-cara mengatasi masalah rumah tangga secara islam:

  1. Berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah

Cara mengatasi masalah rumah tangga yang pertama pastinya Anda harus berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah. Apapun masalahnya, kembalikan pada syariat agama. Ini akan membantu Anda menyelesaikan segala perkara dengan cara terbaik.

  1. Diselesaikan Lewat Kasih Sayang

Setiap masalah yang terjadi dalam rumah tangga tidak harus diselesaikan lewat pertengkaran. Anda bisa mencoba menyelesaikannya lewat kasih sayang. Misalnya mengajak pasangan bercanda, memasakkan makanan lezat, atau jalan-jalan ke taman dan sebagainya. Layaknya api yang dipadamkan dengan air, cara ini terbilang sangat efektif loh. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang terhadap keluarganya. Jadi Anda pun juga harus meneladaninya.

[AdSense-B]

Allah ta’ala berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran: 159)

  1. Saling Memberikan Nasehat

Ketika ada masalah di rumah tangga, misalnya istri Anda marah karena sebab tertentu maka janganlah Anda ikutan marah. Tindakan tersebut akan membuat masalah semakin membuncah. Sebaliknya, kewajiban suami terhadap istri dalam Islam adalah memberikan nasehat yang baik kepada istri tentang peran wanita dalam Islam, fungsi ibu rumah tangga dalam Islam dan kewajiban wanita setelah menikah. Mintalah ia duduk di samping Anda, lalu peluk dia. Kemudian ucapkanlah perkataan yang lembut, sebuah nasehat yang bisa membimbingnya ke jalan yang benar.

Allah Ta’ala Berfirman:

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasehatilah maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di termpat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (An Nisa’ :34-35).

  1. Fokus Pada Penyebab Masalah

Untuk menyelesaikan suatu masalah tentunya Anda harus mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Setelah tahu sebabnya, maka fokuslah pada inti masalah. Kemudian Anda bisa saling bermusyawarah untuk menemukan jalan keluar yang adil.

  1. Menghindari Sikap Egois

Sikap egois pastinya ada dalam diri setiap manusia. Yakni perasaan tidak mau mengakui kesalahan dan merasa paling benar. Namun sebagai seseorang yang beriman dan bertakwa, hendaknya Anda menjauhi sikap egois. Terlebih lagi jika sudah berumah tangga. Sikap egois bisa menjadi pemicu pertengkaran secara terus-menerus. Istri tidak mau mengalah, suami tidak mau mengalah. Dua-duanya sama-sama keras kepala. Lalu bagaimana masalah tersebut bisa diselesaikan?

  1. Saling Terbuka

Setelah menikah sebaiknya jangan ada rahasia diantara pasangan. Cobalah Anda bersikap terbuka. Segala masalah dan unek-unek di hati Anda akan lebih untuk diceritakan. Jangan memendam masalah sendirian ataupun menyembunyikan sesuatu. Itu akan menjadi pemicu kesalahpahaman dan yang berimbas pada hancurnya rumah tangga.

  1. Bersikap Dewasa

Masalah tidak akan terselesaikan bila diatasi dengan cara kekanak-kanakan. Misalnya diam selama berhari-hari, saling ngambek, mogok makan dan sejenisnya. Sebagai orang tua sudah seharusnya Anda bersikap dewasa. Setiap ada masalah maka selesaikan dengan pikiran tenang dan dingin. Berdiskusi secara baik-baik, tidak perlu saling membentak. Selain itu Anda juga harus menanamkan sikap tanggung jawab dalam diri sendiri.

[AdSense-A]

  1. Saling Memaafkan

Masalah tidak akan selesai jika Anda dan pasangan sama-sama keras kepala dan tidak mau meminta maaf duluan. Cobalah bersikap saling memaafkan. Toh, manusia tidak ada yang lepas dari kesalahan. Memaafkan tidak berarti menjatuhkan harga diri. Memaafkan itu lebih disenangi oleh Allah Ta’ala. Dan orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain maka baginya balasan yang indah di sisi Allah Ta’ala.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah : 263)

  1. Bermusyawarah

Daripada menguatkan pendapat pribadi, lebih baik Anda mencoba bermusyawarah untuk mendapatkan keputusan yang adil dan mufakat. Bermusyawarah ini sangat penting. Sebab dengan saling menukar pikiran maka proses pemecahan masalah akan jadi lebih mudah.

Perintah musyawarah juga dijelaskan dalam Al-Quran:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 159)

  1. Mengendalikan Emosi

Menghadapi masalah juga tidak boleh selalu menuruti emosi. Seseorang yang bisa mengontrol amarahnya lebih disukai oleh Allah Ta’ala. Orang-orang yang sabar biasanya lebih banyak teman, bawaanya berwibawa dan orang yang tidak suka marah juga dijanjikan surga oleh Allah Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah k akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR.Ahmad, Dawud, Tirmidzi, dan Ibu Majah)

Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR. At-Thabrani)

  1. Menjaga Komunikasi

Komunikasi yang lancar perlu dijaga untuk menghindari ataupun mengatasi masalah rumah tangga. Dengan berkomunikasi maka salah paham bisa dihindari. Perkara apapun itu, besar kecil sebaiknya selalu dikomunikasikan dengan pasangan.

  1. Saling Percaya

Untuk mengatasi masalah rumah tangga juga diperlukan sikap saling percaya. Apabila kepercayaan sudah hilang maka apapun yang dilakukan pasangan pasti dianggap salah. Sebisa mungkin hindari sikap suudzon atau prasangka buruk karena itu bisa menyesatkan hati.

Allah Ta’ala berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain.” (Al-Hujurat: 12)

  1. Belajar dari Pengalaman

Masalah yang datang di kehidupan keluarga wajib diselesaikan. Setelah itu, Anda harus bisa mengambil pelajaran dari masalah tersebut. Sehingga bisa dihindari agar tidak terulang kembali.

  1. Menerima Perpedaan Pendapat

Perbedaan pendapat dalam rumah tangga adalah sesuatu yang biasa. Tidak mungkin juga Anda menyamakan pendapat Anda dengan pasangan. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah mencari jalan tengah dan berusaha menerima perbedaan tersebut.

[AdSense-C]

  1. Menyadari Bahwa Hidup Sementara

Masalah yang datang di kehidupan, entah itu masalah rumah tangga ataupun lainnya hendaknya tidak dipandang terlalu serius. Yang ada malah Anda jadi stress. Pahamilah bahwa hidup cuma sementara. Apabila ditimpa musibah maka kembalikan pada Allah ta’ala. Anda juga tidak perlu membeci orang lain (sekalipun dia memang salah) secara berlebihan.

  1. Sabar dan Ikhlas

Kunci untuk mengatasi masalah rumah tangga secara islam berikutnya adalah menerapkan sabar dan ikhlas. Kedua sikap ini memang tidak mudah. Tapi jika Anda mampu bersabar atas perkara yang menimpa maka kelak Allah akan mendatangkan kebahagiaan dan pahala.

  1. Bersikap Jujur

Cara terakhir adalah bersikap jujur. Ketika ada masalah jangan malah berbohong hanya demi menghindari amarah pasangan. Lebih baik berkata jujur. Jujur itu adalah sifat yang disukai oleh Allah Ta’ala dan bisa mempermudah penyelesaian masalah.

Demikianlah beberapa cara mengatasi masalah rumah tangga dalam islam. Semoga info ini bisa bermanfaat bagi Anda dan kita semua. Sehingga bisa menjadikan pernikahan jadi lebih damai, bahagia dalam Islam, keluarga sakinah dalam Islam, keluarga harmonis menurut Islam, keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

8 Tugas Ibu Rumah Tangga Dalam Islam

Seorang wanita pada hakikatnya ditakdirkan menjadi seorang istri dan ibu, hal tersebut guna tercapainya salah satu tujuan penciptaan manusia dalam islam. Kesempurnaan seorang wanita akan terasa sempurna dan lengkap setelah menjadi seorang ibu dan istri yang merupakan salah satu peran wanita dalam Islam. Setelah menikah wanita akan secara otomatis menjadi seorang ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah pilihan, namun itu merupakan hakikat diciptakannya wanita. Peran dan fungsi ibu rumah tangga dalam Islam sangatlah berarti karena hampir semua urusan rumah tangga menjadi kewajiban wanita setelah menikah, yang harus ditanggungnya. Mulai dari melayani suami, mengurus dan mendidik anak serta mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya. Di dalam Islam dijelaskan apa saja tugas seorang ibu rumah tangga.

Tugas-tugas Ibu Rumah Tangga Menurut Islam

Allah telah mewajibkan kepada seorang wanita yang telah menikah untuk mengurus suami, mengurus anak dan mengurus rumah tangganya. Menurut ajaran Islam, istri tidak dituntut atau diwajibkan untuk keluar rumah mencari nafkah. Karena perihal mencari nafkah adalah kewajiban suami terhadap istri dalam Islam, seorang istri justru diperintahkan untuk tinggal dirumah dan melakukan tugas-tugas rumah tangga, sebagai berikut :

  1. Sebagai pendamping suami dan melayani suami

Tugas ibu rumah tangga yang pertama adalah mendampingi suami dan melayani suami. Di dalam Islam sendiri hubungan antara suami dan istri sudah diatur dengan jelas. Wanita yang baik adalah wanita yang taat pada suaminya, hal ini diterangkan dengan jelas di dalam surah An-Nisa ayat 34. Di dalam surat tersebut tertulis dengan jelas bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin wanita, dan mencari nafkah merupakan tugas suami sedangkan tugas utama wanita yang solehah ialah menuruti perintah suaminya.Seorang istri juga wajib untuk selalu menjaga diri dan martabat suaminya, baik saat ada suami maupun tidak. Istri yang bekerja juga harus mendapat restu atau ijin dari suami. Meskipun bekerja, seorang wanita yang sudah menikah dan menjadi istri tidak boleh lupa dengan kewajiban utamanya, yaitu untuk selalu berbakti dan mendampingi suaminya.

  1. Pengasuh dan penjaga bagi anak-anaknya

Sejak anak lahir ibu menjadi pengasuh dan penjaga bagi anaknya. Merawat dan membesarkan anaknya agar kelak dapat tumbuh berkembang menjadi anak yang sehat dan menjaga anaknya setiap waktu. Kasih sayang seorang ibu dalam mengasuh anaknya membuat ibu menjadi pengasuh terbaik dalam perjalanan hidup sang anak.

  1. Guru bagi anak-anaknya

Selain mendampingi suami, tugas ibu rumah tangga yang tak kalah penting adalah mendidik anak-anaknya. Anak akan belajar banyak ha setelah dilahirkan dan guru pertama bagi seorang anak adalah ibunya. Oleh sebab itu, Islam menganjurkan seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya dengan baik. Jika orangtua berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang soleh dan soleha, maka anak tersebut nantinya akan menyelamatkan mereka dari neraka.

Hal tersebut termasuk salah satu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari : pendidikan yang diperoleh anak pertama kali juga berasal dari orangtuanya, khususnya seorang ibu karena sebelum bersekolah seorang anak tentu akan belajar dengan orangtuanya terlebih dahulu, seperti meniru perbuatannya, mendengarkan ucapannya, dan lain sebagainya. Didikan orangtua kepada anaknya juga akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. [AdSense-C]

  1. Sahabat bagi anak-anaknya

Seorang istri bukan hanya menjadi ibu, tapi juga dapat menjadi sahabat untuk anak-anaknya. Anak-anak membutuhkan seorang ibu yang sekaligus bisa menjadi sahabat untuk mereka. Dengan begitu hubungan yang lekat bagai sahabat akan menumbuhkan ikatan emosional yang sangat kuat dan hal inilah yang saat ini kian terkikis di tengah arus dunia yang sibuk dengan diri sendiri.

  1. Motivator atau penyemangat bagi suami dan anak-anaknya

Seorang istri sekaligus ibu harus mampu menjadi penyemangat bagi keluarganya, baik untuk suami maupun anak-anaknya. Saat suami atau anak-anak merasakan momen terburuk dalam hidupnya, tentu orang pertama yang menjadi sandaran keluh kesahnya adalah istri atau ibu. Hal tersebut seperti saat suami dan anak membutuhkan teman curhat atau butuh solusi untuk masalahnya, biasanya seorang istri atau ibulah yang akhirnya menjadi motivator pertama mereka. Ia akan sangat pandai untuk memberikan semangat untuk keluarganya.

  1. Manager dalam rumah tangga

Menjadi seorang ibu rumah tangga membuat mereka dituntut untuk mampu mengatur kehidupan dalam berumah tangga. [AdSense-B] Seorang istri harus mampu mengatur fungsi-fungsi manajemen keuangan, dapur, pendidikan anak, kesehatan, dan juga rencana jangka panjang keluarga. Begitu besar peran yang diembannya, ia dituntut untuk cakap dalam mengatur berbagai kebutuhan keluarga dan juga dituntut untuk cakap dalam mengatur suasana rumah agar tetap kondusif dan nyaman.

  1. Perawat bagi suami dan anak-anaknya

Secara alamiah, seorang wanita adalah perawat ulung bagi orang-orang di sekitarnya. Karena limpahan kasih sayang yang dimilikinya begitu besar, menjadikan seorang wanita cocok menjadi seorang perawat bagi keluarganya ketika sedang dalam kondisi tidak sehat. Kemampuannya menjadi perawat tak dapat diragukan lagi, bayangkan saja saat seluruh keluarga sakit dan ia sendiri pun sakit, namun ia masih saja mampu mengurusi anak, dan suami hingga mereka sembuh. Itulah mengapa seorang ibu rumah tangga disebut perawat.

  1. Koki(juru masak) untuk keluarganya

Seorang ibu juga berperan menjadi koki bagi keluarganya, yang memasak dan menyediakan makanan yang sehat dan bergizi untuk keluarganya di rumah. Masakan terenak bagi suami dan anak-anaknya di manapun mereka berada adalah masakan dari seorang istri atau ibu.

Menjadi ibu rumah tangga yang mencurahkan seluruh waktunya untuk dirumah dan mengurus keluarganya, itu merupakan pekerjaan yang mulia. Dan jangan pernah memandang rendah seorang ibu rumah tangga, karena setiap wanita belum tentu dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik.

 

Sekian. semoga bermanfaat (:

14 Cara agar Disayang Suami Menurut Islam Paling Efektif

Segala hal yang ada di dunia ini memiliki dua sisi, begitupun dengan rumah tangga yang pastinya ada senangnya dan ada susahnya. Namun susah dan senang tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk saling emosi,membenci terlebih perpisahan. Justru dari susah dan senang yang dirasakan dalam rumah tangga tersebut harus dijadikan pembelajaran untuk saling introspeksi diri dan mempertahankan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

Baca juga:

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh seorang wanita agar rumah tangganya senantiasa dilimpahi kebahagiaan salah satunya adalah dengan cara menyenangkan suami agar kita selaku istri semakin disayang oleh suami dari hari ke hari. Berikut adalah beberapa tips yang harus bisa diterapkan untuk mendapatkan kasih sayang lebih dari suami. (Baca juga: Ibu Rumah Tangga dalam Islam)

  1. Meluruskn Niat Pernikahan Untuk Ibadah

Hal utama adalah dengan cara meluruskan niat kita sebagai istri, bahwa pernikahan yang kita jalani adalah semata-mata sebagai kewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT sehingga hati akan lebih tenang dan senantiasa bahagia tanpa harus menuntut apapun dari suami karena Allah akan senantiasa menjaga keharmonisan keluarga yang lurus niatnya hanya untuk mencapai keridhaan dari-Nya. (Baca juga: Ayat Al-Quran Tentang Cinta )

  1. Mentaati Suami

Suami adalah imam dan pemimpin dalam rumah tangga maka seorang istri wajib mentaatinya. Mentaati suami adalah fondasi dasar rumah tangga yang tak hanya merupakan kewajiban syariah akan tetapi juga dapat membuat suami lebih menyayangi istrinya. Ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan dalam hal yang positif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, jika suami memerintahkan untuk hal-hal negatif maka sang istri wajib untuk mengingatkan dan menolak perintah tersebut. (Baca juga: Hukum Istri Melawan Suami Menurut Islam)

  1. Memupuk Rasa Syukur Dan Selalu Ceria

Seorang istri yang senantiasa menunjukkan syukur dan keceriaan pada perangainya merupakan ‘rumah’ tempat pulang ternyaman dan termenyenangkan bagi suami. Karena dari syukur dan keceriaan yang terpancar akan mengalirkan energi positif pada suami, anak dan seisi rumah. (Baca juga: Cara Mempercantik Diri Menurut Islam Tips Menjadi Istri Salehah )

  1. Melayani Suami Dengan Sepenuh Hati

Jika surga seorang anak berada di telapak kaki sang ibu, maka surga seorang istri terletak pada suaminya. Dengan melayani dan menyenangkan hati suami akan menjadi ladang pahala bagi seorang istri. Melayani di sini mencakup semua hal seperti melayani kebutuhan biologis suami dan psikologisnya misalnya kebutuhan melakukan hubungan suami istri, memasak dan menyiapkan makanan, menyiapkan pakaian dan lainnya. (Baca juga: Siksa Neraka Bagi Wanita)

[AdSense-B]

  1. Menjaga Kehormatan Diri Sebagai Seorang Wanita

Terjaga atau tidaknya kehormatan seorang wanita menjadi hal mendasar yang menentukan pandangan, anggapan, kepedulian dan kasih sayang seorang suami terhadap istri. Jika diketahui sang istri tidak dapat menjaga kehormatan selama gadisnya maka suami akan cenderung kecewa bahkan mungkin tidak terima dengan perzinahan yang dilakukan saat sebelum menikah dengannya. (Baca juga: Siksa Neraka Bagi Pezina)

  1. Menjaga Kesetiaan

Kesetiaan adalah harga mati yang harus dijaga oleh seorang istri terhadap suaminya setelah sah menjadi pasangan suami istri. Islam secara jelas mengatur hal ini, yakni seorang istri boleh berhubungn atau berkomunikasi dengan laki-laki lain kecuali seijin suaminya dan dilakukan dengan tujuan, waktu dan tempat yang tepat misalnya ditemani oleh suami atau keluarga. (Baca juga: Perselingkuhan dalam Rumah Tangga)

  1. Menerapkan Kesabaran

Kesabaran seorang istri dalam melayani dan menghadapi suaminya sangat penting untuk diterapkan dalam mengarungi rumah tangga. Hal ini akan menjadi suatu hal yang sangat diidam-idamkan seorang suami. Yakni memiliki istri yang penyabar.

  1. Memberikan Penghargaan

Suami adalah imam dalam keluarga yang wajib memberikan nafkah secara lahir dan batin. Hal tersebut bukan hal yang mudah untuk dilakukan tentunya, oleh karena itu apresiasi atau penghargaan sangat penting untuk diberikan atas usaha atau pekerjaan sekecil apapun yang telah dilakukan oleh suami untuk menafkahi kita selaku istri baik secara lahir maupun batin.

Penghargaan yang kita tunjukkan kepada suami akan senantiasa membuatnya lebih bersemngat dan merasa jerih payahnya sangat berguna bagi rumah tangga sehingga akan menambah kasih sayangnya terhadap sang istri. (Baca juga: Indahnya Menikah Tanpa Pacaran)

  1. Selalu Terbuka Dan Transparan

Suami adalah cerminan bagi seorang istri begitupun sebaliknya. Oleh karena itu sebagai seorang istri kita diwajibkan untuk selalu terbuka pada suami mengenai hal apapun itu. Selain menghindari dosa, hal ini juga sangat efektif untuk menanamkan dan menumbuhkan rasa kepercayaan suami terhadap istri. Karena semakin banyak rahasia dalam sebuah rumah tangga maka akan semakin sedikit rasa kepercayaan bahkan mungkin yang ada hanya kecurigaan yang akhirnya  pemicu konflik antara suami dan istri. (Baca juga: Tips Keluarga Bahagia dalam Islam)

  1. Tidak Membanding-Bandingkan Suami Dengan Orang Lain

Manusia adalah makhluk yang dikaruniai keunikan tersendiri baik dalam hal fisik, psikis maupun sosilnya. Setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing dengan kondisi yang berputar seperti roda, terkadang di atas dan terkadang di bawah. Oleh karena itu janganlah sekali-kali membandingkan suami kita dengan orang lain yang mungkin lebih berada atau beruntung dari suami kita. Misalnya soal keadaan fisik, rezeki atau perilaku yang sekiranya dapat merendahkan dan menyakiti hati suami kita.

  1. Selalu Meminta Ijin Suami

Sebagai manusia pastinya kita membutuhkan sedikit ruang kebebasan untuk bertemu teman atau keluarga walaupun sudah berstatus sebagai seorang istri, namun setelah sah menjadi istri maka segala kegiatan kita haruslah atas sepengetahuan dan seijin dari suami karena seorang istri yang keluar tanpa ijin suami akan mendapat dosa yang pedih di akhirat nanti. Selain itu, dengan meminta ijin dari suami akan membuat suami merasa dihargai dan dihormati oleh istri.

[AdSense-C]

  1. Membantu Memberi Solusi Bagi Suami

Walaupun menafkahi adalah kewajiban suami namun tidak ada salahnya jika kita sebagai istri turut membantu meringankan kebutuhan ekonomi rumah tangga dengan cara sama-sama mencari alternatif atau membantu usaha suami.

  1. Memberi Nasihat Dan Kritik

Nasihat dan kritik dibutuhkan oleh setiap manusia, termasuk suami kita karena manusia tidak pernah luput dari kekurangan dan kesalahan yang harus diingatkan oleh orang-orang disekitarnya terlebih oleh istri. Oleh karena itu tidak salahnya kita memberikan nasihat dan kritik untuk kebaikan dari suami kita tersebut. Namun yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaian dan waktu yang tepat dalam menyampaikan nasihat dan kritik. Jangan sampai nasihat dan kritik yang kita sampaikan justru merendahkan dan menyinggung perasaan suami kita. Sampaikanlah dengan lembut secara perlahan dan dengan memilih kosa kata yang baik supaya lebih mudah diterima dan sampaikanlah pada waktu santai dan saat sedang berdua saja.

  1. Pandai Mengatur Keuangan

Salah satu kriteria istri idaman adalah pandai mengyiasati kebutuhan dan mengatur keuangan. Hal ini sangat penting dilakukan karena kebutuhan rumah tangga tidak sedikit dengan biaya yang juga tidak murah. Maka dari itu skill mengatur keuangan akan sangat membantu melegakan suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Baca juga:

Demikian artikel mengenai cara agar disayang suami menurut islam ini. Semoga artikel ini dapat meningkatkan khazanah keilmuan dan keimanan kita semua. Amin.

Hukum Istri Memarahi Suami dan Dalilnya

Kewajiban menikah memang menjadi salah satu anjuran dalam agama Islam, namun sekarang ini, seringkali kita melihat para wanita yang sudah menjadi istri memarahi atau membentak suami mereka dan dilakukan tanpa diikuti dengan rasa bersalah atau berdosa dan menganggapnya seperti hal yang biasa. Ini mungkin dilakukan karena faktor ketidaktahuan mereka atas hukum istri memarahi suami. Untuk itu, dalam kesempatan kali ini, kami akan memberikan informasi penting bagi para istri dan juga wanita yang akan menikah dan menjadi seorang istri tentang apa dasar hukum Islam dari memarahi suami tersebut dan mengetahui jika kehidupan rumah tangga menurut Islam tidaklah semudah seperti membalikan telapak tangan.

Hukum membentak atau memarahi suami adalah tidak boleh dan masuk ke dalam jenis dosa besar dalam Islam sebab suami adalah orang yang harus paling dipatuhi dan dihormati oleh wanita sebagai istrinya dan sudah menjadi kewajiban istri terhadap suami dalam Islam. Seperti yang kita ketahui jika Rasulullah SAW dalam beberapa hadits mengatakan jika sangat tinggi kedudukan suami untuk istrinya.

“Seandainya saya bisa memerintahkan seorang untuk sujud pada orang lain, pasti saya perintahkan seorang istri utk sujud pada suaminya.” (HR Abu Daud, Al-Hakim, Tirmidzi)

“Tidaklah layak untuk seorang manusia untuk sujud pada manusia yang lain. Kalau pantas/bisa untuk seorang untuk sujud pada seorang yang lain pasti saya perintahkan istri untuk sujud pada suaminya karena besarnya hak suaminya terhadapnya…” (HR. Ahmad)

“Dan sebaik-baik istri yaitu yang taat pada suaminya, bijaksana, berketurunan, sedikit bicara, tak sukai membicarakan suatu hal yg tidak berguna, tak cerewet serta tak sukai bersuara hingar-bingar dan setia pada suaminya.” (HR. An Nasa’i)

Apabila memang suami berbuat sebuah kesalahan, memang sudah seharusnya bagi sang istri untuk mengingatkan suami namun harus dilakukan dengan cara yang baik, tutur kata yang lemah lembut, tidak membentak atau menggunakan suara yang keras dan juga jangan sampai menyinggung perasaan suami sebab ada hukum istri melawan suami menurut Islam yang akan diterima apabila dilakukan.

Istri yang menunjukan sikap kasar pada suami ataupun suami yang bersikap kasar pada istri memperlihatkan jika mereka memiliki akhlak yang buruk dan juga pengetahuan yang kurang diantara mereka.

Hadits yang Berkaitan

Rasulullah SAW bersabda, Sebaik-baiknya wanita untuk suami  adalah yang menyenangkan saat diliat, taat saat diperintah, dan tak menentang suaminya baik dalam hatinya serta tak membelanjakan (memakai) hartanya pada perkara yang dibenci suaminya” (H. R. Ahmad)

Bidadari Murka Dengan Istri Yang Memarahi Suami

Apabila suami dimarahi, dibentak atau didzalimi yang merupakan ciri ciri istri durhaka terhadap suami ini, para bidadari surga akan sangat murka pada istri yang sudah memarahi suaminya tersebut.

[AdSense-B]

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya didunia, tetapi istrinya dari kelompok bidadari bakal berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu ; nyaris saja ia bakal meninggalkanmu menuju pada kami” (HR. At-Tirmidzi)

Sudah seharusnya para istri untuk menjauhi sikap dzalim pada suami sebab saingan para istri sangatlah berat dan bukan karena madu atau perempuan lain namun bidadari Allah SWT yang mensifatkannya dalam Al Quran diantara sifatnya, yakni:

  • “Sebenarnya orang-orang yang bertaqwa memperoleh kemenangan, (yakni) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya.” (QS an-Naba’ : 31-33)
  • “demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari” (QS. Ad-Dhukhan : 54)
  • “Mereka bertelekan diatas dipan-dipan berderetan dan kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli” (QS. At-Tur : 20)
  • “(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah” (QS. Ar-Rahman : 72)
  • “Didalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik” (QS. Ar-Rahman : 70)
  • “Sebenarnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan segera. Dan kami menjadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya” (QS. Al-Waqi’ah : 35-37)

Hadits Abdullah Ibnu Mas’ud Radiyallahu

“Kelompok pertama kalinya yang masuk surga, seakan muka mereka cahaya rembulan pada malam purnama. Grup kedua seperti bintang kejora yang paling baik di langit. Untuk setiap orang dari pakar surga itu dua bidadari surga. Pada setiap bidadari ada 70 perhiasan. Sumsum kakinya bisa terlihat dari balik daging dan perhiasannya, sebagaimana minuman merah bisa diliat di gelas putih.” (HR. Thabrani dengan sanad shahih)

[AdSense-C]

Dalam beberapa hadits diatas sudah dikatakan dengan jelas yakni larangan istri untuk mendzalimi, memarahi atau membentak suami sebab akan kelak akan mendapatkan saingan yang berat yakni bidadari Allah SWT sehingga sudah seharusnya sangat dijauhi dan tidak boleh dilakukan.

Apabila memang istri merasakan kemarahan yang tidak bisa ditahan, maka tetap tidak diperbolehkan untuk memperlihatkan amarah tersebut dengan emosi yang berlebihan. Alangkah lebih baik jika mengatakan istighfar dan memohon ampun pada Allah SWT sebab istighfar akan lebih meringankan hati yang sedang panas tersebut. Jangan mengikuti nafsu karena sedang emosi namun usahakan untuk menahan emosi tersebut.

Apabila dirasa sudah agak tenang, maka awali bicara dengan suami untuk mencari jalan keluar dan lakukan secara baik sambil memberikan nasehat terbaik atas kesalahan yang sudah dilakukan oleh sang suami. Demikian ulasan dari kami mengenai hukum istri memarahi suami sehingga para wanita bisa menjadi kriteria calon istri menurut Islam yang baik, semoga bisa bermanfaat dan menjadikan keluarga anda yang sakinah mawadah warahmah.