10 Amalan Hari Jumat Bagi Wanita dalam Islam

Di dalam islam, tentu sangat banyak sekali amalan-amalan yang bisa dilakukan dan akan mendapatkan pahala yang berlipat atas yang dilakukan tersebut. Salah satunya adalah keutamaan hari jumat bagi seorang wanita muslimah jika ia benar-benar melaksanakan ibadah tersebut dengan baik dan benar.

Hari Jumat dianggap seperti hari yang spesial bagi umat islam, apalagi di hari Jumat ini khusus laki-laki adalah hari wajib untuk mereka shalat jumat. Shalat Jumat memang bukan amalan wajib bagi wanita, tetapi selain melaksanakan shalat jumat, wanita bisa melakukan hal-hal lainnya yang bisa mengumpulkan pahala tersendiri.

Untuk itu, bisa juga kita mengetahui tentang hari Jumat seperti : Keutamaan Hari Jumat Bagi Wanita yang Istimewa, Keutamaan Sedekah di Hari Jumat yang Istimewa, Amalan Hari Jumat Untuk Wanita dalam Islam, dan Azab Meninggalkan Shalat Jumat dan Dalilnya. Apalagi jika wanita muslimah menjalankannya sesuai syariat islam, tentu keutamaan tersebut akan didapatkan oleh wanita.

baca:

Hari Jumat dalam Islam

Sebetulnya, di dalam islam sendiri tidak hari khusus untuk beramal. Artinya, islam mendorong umatnya untuk terus beribadah dan beramal baik tanpa terkecuali waktunya. Kecuali pada waktu-waktu tertentu yang memang khusus. Misalnya shalat idul fitri hanya dilaksanakan di Hari Idul Fitri, Shalat Idul Adha di hari Qurban, dilarang berpuasa di hari tasyrik, berzakat fitrah di waktu sebelum lebaran dsb. Di luar hal-hal yang diatur, tentu amalan boleh dilakukan kapan saja. Apalagi jika memang amalan tersebut sangat dibutuhkan dan bermanfaat.

Untuk itu, termasuk di hari Jumat kita bisa melaksanakan berbagai amalan dan ibadah sebagaimana bisa yang kita lakukan. Tidak perlu juga kita menunggu hari Jumat untuk bisa melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya, karena Allah menilai ibadah kita bukan hanya di hari Jumat melainkan di waktu-waktu lainnya juga. Sebagaimana Allah menghisab dan menghitung segala amalan kita di setiap detik, menit, dan langkah-langkah kita setiap harinya.

Mengenai keutamaan shalat jumat juga berkaitan dengan hal : Hukum Sholat Jumat Bagi Wanita , Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Dengan Sengaja, Larangan Puasa Hari Jumat dalam Islam, Sunnah Rasul Malam Jumat Dalam Islam, dan Amalan Sunnah di Malam Jumat serta Haditsnya.

Secara pengertian jumat sendiri memilliki arti persahabatan, atau persatuan. Sebagaimana orang-orang nasrani atau yahudi memiliki hari Sabtu atau Sabat sebagai hari persatuannya. Begitupun orang islam dengan hari Jumat sebagai hari persatuan, dimana seluruh muslim diwajibkan untuk shalat berjamaah dan mendengarkan khutbah. Sedangkan untuk muslimah tidak diwajibkan, hanya boleh saja jika memang memungkinkan.

baca juga:

[AdSense-B]

Amalan di Hari Jumat yang Bisa dilaksanakan Muslimah

Ada beberapa keutamaan atau menjadi keistimewaan ketika kita mengatakan hari Jumat. Hal-hal ini disampaikan dalam beberapa hadist dan Al-Quran. Tentu untuk penafsirannya kita bisa mempelajarinya lebih dalam dari para guru dan ulama yang memahami.

  1. Sebaik-Baiknya Hari adalah Hari Jumat

”Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari Jum’at, (karena) pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim).

Dalam hadist ini dijelaskan bahwa sebaik-baik hari adalah hari Jumat. Hal ini jika dikaitkan dengan hari jumat berarti hari persatuan atau persahabatan, tentu kita bisa memahami bahwa kebaikannya adalah saat itu umat islam dapat berkumpul dan bersatu di masjid. Berbeda dengan hari-hari biasanya. Itulah keistimewaannya bukan berarti di hari-hari lain tidak ada keistimewaan atau menspesialkan khusus pada hari Jumat.

  1. Perintah Shalat Jumat Untuk Muslim

Sebagaimana perintah lainnya, shalat jumat juga merupakan perintah shalat wajib yang harus dilakukan bagi laki-laki muslim. Apakah seorang muslimah boleh melaksanakannya walaupun tidak wajib? Sejauh ini tidak ada pelarangan, hanya saja teknis pelaksanaannya yang harus diperhatikan, karena tentunya masjid-masjid seluruhnya akan penuh dengan para muslim.

Tetapi, muslimah bisa melaksanakannya dengan cara lain seperti mendengarkan khutbahnya, berdoa, dan membaca Al-Quran yang berkenaan dengan hari Jumat. Tentu saja hal ini juga diperbolehkan dan menjadi keistimewaan jika dilakukan dengan baik.

Selain itu juga perlu diperhatikan bahwa muslimah tidak wajib shalat jumat, namun ia masih bisa melaksanakan ibadah lainnya seperti menjaga rumahnya saat suami tidak ada atau para laki-laki berkumpul di masjid. Tentu ini juga menjadi pahala tersendiri jika dilakukan.

baca juga:

  1. Diijabahnya Doa

”Sesungguhnya di dalam hari Jum’at ini, ada suatu waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya (hari Jum’at) sedangkan ia dalam keadaan berdiri sholat memohon sesuatu kepada Alloh, melainkan akan Alloh berikan padanya.” (Muttafaq ’alaihi)

Keutamaan ini adalah salah satu keutamaan di hari Jumat menurut beberapa pendapat. Akan tetapi ada juga pendapat yang berbeda-beda mengenai hal ini termasuk yang diutarakan oleh Ibnu Masud. Akan tetapi Allah sendiri tidak membatasi dan juga tidak akan memberikan informasi detail apakah doa kita akan diijabah atau tidak. Manusia walaupun bukan di hari Jumat dapat melaksanakan doa dan meminta apapun pada Allah SWT.

  1. Keutamaan Bersedekah

”Bersedekah di dalamnya lebih besar (pahalanya) daripada bersedekah pada hari lainnya.” (Hadist Mauquf Shahih)

Di hari Jumat ini jika kita melakukan sedekah, maka akan mendapatkan keutamaan tersendiri. Untuk itu, jika kita melaksanakannya dengan sebaik-baiknya sedekah maka akan mendapatkan keutamaan dibanding hari-hari selainnya. Hari Jumat ini didorong sebagai hari bersedekah, walaupun tentu jika kita bersedekah di hari-hari lainnya juga akan mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah SWT asalkan dengan niat dan hati yang ikhlas.

[AdSense-A]

  1. Keutamaan dan Mandi dan Bersuci

”Tidaklah seorang hamba mandi pada hari Jum’at dan bersuci dengan sebaik-baik bersuci, lalu ia meminyaki rambutnya atau berparfum dengan minyak wangi, kemudian ia keluar (menunaikan sholat Jum’at) dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), kemudian ia melakukan sholat apa yang diwajibkan atasnya dan ia diam ketika Imam berkhutbah, melainkan segala dosanya akan diampuni antara hari Jum’at ini dengan Jum’at lainnya.” (HR Bukhari)

baca juga:

  1. Ibadah yang Mendapat Keutamaan Pahala

”Barangsiapa yang mandi lalu berwudhu pada hari Jum’at, lalu ia bersegera dan bergegas (untuk sholat), kemudian ia mendekat kepada imam dan diam, maka baginya pada setiap langkah kaki yang ia langkahkan (ada pahala) puasa dan sholat setahun, dan yang demikian ini adalah sesuatu yang mudah bagi Alloh.” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunnan)

Dalam hadist diatas dijelaskan bahwa dengan melaksanakan ibadah di hari Jumat, bergegas untuk shalat, maka akan mendapatkan pahala yang lebih dari puasa dan shalat setahun. Hal ini tentu saja berhubungan dengan pengertian hari Jumat bahwa Jumat adalah persahabatan atau persatuan.

  1. Memperbanyak Shalawat

Dari Abu Umamah, “Perbanyaklah shalawat kepadaku  pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.”

Dalam hadist diatas dijelaskan bahwa dengan memperbanyak shalawat, maka kita akan mendapatkan keutamaan di hari Jumat. Untuk itu, shalawat adalah ibadah yang memiliki keutamaan jika wanita lakukan di hari jumat. Walaupun tidak mengikuti Shalat Jumat di Masjid, tetapi shalawat bisa kita lakukan dengan pelaksanaannya di rumah atau dimanapun kita berada.

  1. Membaca Surat Al Kahfi

Dalam sebuah hadist disampaikan, “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi sebagaimana diturunkan, maka ia akan mendapatkan cahaya dari tempat ia berdiri hingga Mekkah. Barangsiapa membaca 10 akhir ayatnya, kemudian keluar Dajjal, maka ia tidak akan dikuasai. Barangsiapa yang berwudhu, lalu ia ucapkan: Subhanakallahumma wa bi hamdika laa ilaha illa anta, astagh-firuka wa atuubu ilaik (Maha suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku senantiasa memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), maka akan dicatat baginya di kertas dan dicetak sehingga tidak akan luntur hingga hari kiamat.”

Perintah membaca surat Al Kahfi ini adalah salah satu yang sering disebarluaskan agar umat islam membacanya di hari Jumat. Sebetulnya membaca surat Al Kahfi bisa dihari apapun dan selain bacaan Al Kahfi juga bisa kita baca di hari-hari yang lainnya. Untuk itu, kita bisa menyesuaikan dengan kebutuhan kita membaca Al-Quran di surat yang mana.

Namun, di hadist tersebut, diriwayatkan keutamaannya dari membaca Al Kahfi di hari Jumat. Untuk itu, kita bisa membacanya juga dengan mendapatkan dan sebagai keutamaan di hari Jumat.

  1. Memperbanyak Dzikir

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk shalat pada hari jum’at, maka bersegeralah mengingat Allah.” (QS Al Jumuah : 9)

Di dalam Al-Quran Surat Al Jumuah disebutkan bahwa di hari Jumat kita bisa memperbanyak Dzikir agar mendapatkan keutamaan dari Allah. Untuk itu, bersegeralah diri kita mengingat Allah untuk mendapatkan keutamaan tersebut di hari Jumat.

  1. Memotong Kuku dan Mencukur Bulu Ketiak

Syekh Muhammad bin Ismail Al-Muqaddam menyampaikan bahwa ada beberapa hadist yang mengatakan bahwa memotong kuku dan mencukur bulu ketiak termasuk dalam Sunnah Rasul di Hari Jumat yang bisa dilaksanakan oleh umat Islam. Untuk itu, salah satunya adalah hal ini.

Tentu saja melaksanakan hal ini memiliki keutamaan yang banyak, walaupun tidak dilakukan di hari Jumat. Diantaranya adalah menjaga kebersihan dari berbagai kuman, bakteri, atau penyakit yang mengganggu.

Semoga dengan hal keutamaan istimewa ini bisa menjadikan kita semangat untuk melaksanakan  Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama. 

 

6 Azab Meninggalkan Shalat Jumat dan Dalilnya

Azab meninggalkan shalat jumat khususnya bagi kaum laki-laki yang sudah baligh tentunya sudah di atur dalam Al-Qur’an. Shalat jumat hukumnya wajib bagi mereka kaum laki-laki yang sudah baligh seperti halnya shalat lima waktu.

Baca juga :

Larangan Meninggalkan Shalat Jumat

Dilihat dari sabda Rasulullah Saw, yang menjelaskan mengenai shalat jum’at sebagai berikut :

“Sungguh harus berhenti orang-orang yang terbiasa meninggalkan sholat Jum’at, atau sungguh Allah benar-benar akan menutup hati-hati mereka, kemudian sungguh benar-benar mereka akan termasuk orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma)

Pelajaran yang bisa kita petik pelajarannya dari sabda Rasulullah di atas yakni seperti :

  • Bagaimana bahaya seseorang yang diwajibkan untuk melaksanakan shalat jum’at, namun ia meninggalkan tanpa adanya suatu alasan yang jelas sesuai dengan syariat yang sudah dibenarkan.
  • Mengandung peringatan untuk segera bertaubat karena ssudah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu melaksanakan shalat jum’at.
  • Wahyu yang diterima oleh Rasulullah pasti akan disampaikan kepada umat-umatnya khususnya umat muslim. Berikut penjelasan haditsnya :

“Maknanya, bahwa satu dari dua perkara mesti terjadi pada siapa pun tidak mungkin tidak, yaitu apakah segera berhenti meninggalkan sholat Jum’at, atau kalau tidak maka Allah akan menutup hati-hati mereka, karena terbiasa meninggalkan sholat Jum’at menyebabkan dominasi noda hitam di hati, menjadikan jiwa malas dalam melakukan ketaatan, dan itu semua mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (Al-Mirqoh, 3/1023)

Allah Swt akan memberikan adzab dengan menimpanya pada bagian hati mereka yang sudah memalingkan kebenaran dari kehidupannya dan tidak mempunyai niat untuk mengamalkan apa yang sudah diperintahkan-Nya. Adzab tersebut spesifiknya adalah Allah akan menutup hati umatnya yang lalai sehingga mereka tidak akan lagi mengenal kebenaran itu seperti apa. Selanjutnya jika adzab pada hatinya selesai, Allah akan melanjutkan dengan adzab yang akan ditimpakan pada seluruh bagian tubuhnya.

Dijelaskan mengenai syarat seseorang yang mempunyai kewajiban melaksanakan shalat jum’at, seperti halnya seorang laki-laki muslim yang sudah baligh, mempunyai akal yang sehat, merdeka dan juga muqim. Maka selain syarat yang disebutkan di atas, tidak mempunyai kewajiban untuk melaksanakan shalat jum’at. Namun untuk seorang kafir tentunya akan mendapat balasan karena kekafirannya tersebut.

Baca juga :

Ancaman bagi Mereka yang Meninggalkan Shalat Jumat

Selain itu terdapat beberapa ancaman bagi mereka yang wajib menjalankan shalat jum’at namun tidak melaksanakannya sebanyak 3 kali berturut-turut, yuk simak penjelasannya sebagai berikut :

1. Berdasarkan penjelasan dari Ibnu Abbas, perkataannya sebagai berikut :

”Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut, berarti dia telah membuang islam ke belakang punggungnya.” (HR. Abu Ya’la secara Mauquf dengan sanad yang shahih – shahih Targhib: 732).

2. Berdasarkan penjelasan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yakni sebagai berikut :

“Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali berturut-turut tanpa udzur, Allah akan mengunci mati hatinya.” (HR. At-Thayalisi dalam Musnadnya 2548 dan dishahihkan al-Albani dalam shahih Jami’ as-Shaghir).

3. Berdasarkan penjelasan dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yakni sebagai berikut :

Siapa yang mendengar adzan jumatan 3 kali, kemudian dia tidak menghadirinya maka dicatat sebagai orang munafik. (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, dan dihasankan al-Albani dalam Shahih Targhib, no. 728).

[AdSense-B]

4. Berdasarkan penjelasan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yakni sebagai berikut :

“Siapa yang meninggalkan jumatan 3 kali, bukan karena darurat, Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ibnu Majah 1126 dan dishahihkan al-Albani)

5. Berdasarkan penjelasan dari Abul Ja’d ad-Dhamri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yakni sebagai berikut :

”Siapa yang meninggalkan 3 kali jumatan karena meremehkan, maka Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ahmad 15498, Nasai 1369, Abu Daud 1052, dan dinilai hasan Syuaib al-Arnauth)

6. Berdasarkan penjelasan dari Ibnu Umar dan juga Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yakni sebagai berikut :

”Hendaknya orang yang suka meninggalkan jumatan itu menghentikan kebiasaan buruknya, atau Allah akan mengunci mati hatinya, kemudian dia menjadi orang ghafilin (orang lalai).” (HR. Muslim 865)

Baca juga :

Hikmah

Dari penjelasan mengenai beberapa riwayat yang sudah diulas di atas, dapat kita ambil banyak pelajaran penting untuk kehidupan yang akan datang, seperti halnya :

Pelajaran Pertama, maksud dari ‘Allah kunci hatinya’ ialah Allah Swt akan menutup semua bagian hatinya, kemudian akan menghalangi hidayah serta rahmat yang masuk ke bagian dalam hatinya. Selanjutnya akan diambil alih dengan sifat beringas, keras kepala dan juga kebodohan di dalam hatinya tersebut. Bisa dikatakan bahwa hatinya akan seperti halnya hati orang yang munafik. Itulah penjelasan dari al-Munawi dalam Faidhul Qodir (6/133).

Pada saat bagian hati seseorang telah dikunci rapat oleh Allah Swt, maka ia akan menjadi lebih kebal terhadap hidayah. Berapa banyak suatu peringatan yang telah ia dengarkan, pasti sia-sia dan tidak akan memberikan pengaruh, manfaat serta tidak bisa membuat hatinya menjadi tergerak. Seakan-akan terdapat suatu jarak dan penghalang untuk ia bertaubat kembali ke jalan yang benar.

baca juga:

[AdSense-A]

Hukuman seperti ini serupa terhadap hukuman kepada iblis, yang diberikan oleh Allah Swt. Karena ketidak patuhannya terhadap kewajiban yang harus dilakukan, maka Allah tidak memberikan suatu kesempatan untuk melakukan taubat bagi iblis. Hukuman tersebut terlihat sangat menakutkan bukan.

Sama halnya dengan kondisi orang yang tergolong dalam kategori sebagai orang munafik. Karena di dalam batin mereka memang menjauhi sebuah kebenaran. Lalu Allah Swt akan kunci mati semua bagian hatinya, sehingga mereka secara perlahan akan menjadi bodoh terhadap hidayah yang diberikan oleh Allah.

”Lalu hatinya dikunci mati, sehingga mereka tidak memahami.” (QS. Al-Munafiqun: 3).

Baca juga :

Pelajaran Kedua, ialah semua tindakan yang mengarah ke dosa dan juga maksiat, akan menjadi salah satu penyebab utama tertutupnya hati. Jika seseorang semakin banyak melakukan dosa yang telah dilakukannya, maka akan semakin banyak pula hatinya menjadi tertutup. Berdasarkan penjelasan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi 3334, dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).

Mengabaikan kewajiban melaksanakan shalat jum’at tanpa adanya udzur bisa dikatakan masuk dalam kategori melakukan dosa yang berbahaya, kemudian nantinya akan menyebabkan hati seseorang tersebut menjadi dikunci mati.

Baca juga :

Pelajaran Ketiga, yang didapatkan apakah harus berturut-turut?

Terdapat dua kemungkinan maksud di dalamnya, berdasarkan penjelasan dari As-Syaukani yakni sebagai berikut:

Maksud pertama ialah, suatu ancaman bisa terjadi pada saat dia mengabaikan shalat jum’at, baik secara berturut-turut atau pun secara terpisah-pisah. Sehingga pada saat ada seseorang yang mengabaikan shalat jum’at sebanyak 1 kali dalam satu tahun, maka Allah Swt akan mengunci seluruh hatinya terhadap suatu pelanggaran ketiga yang ia lakukan. Itulah zahir hadis.

Maksud kedua, suatu ancaman bisa terjadi pada saat dia mengabaikan shalat jum’at sebanyak 3 kali secara berturut-turut, berdasarkan pada hadits Anas yang telah disebutkan disebutkan. Karena apabila melakukan suatu dosa dengan cara berturut-turut ataupun secara terus-menerus, berarti hal tersebut secara tidak langsung akan memperlihatkan sedikitnya rasa takutnya.

Baca juga :

Pelajaran Keempat, suatu ancaman bisa terjadi bagi orang yang mengabaikan shalat jum’at tanpa adanya udzur, berdasarkan yang sudah ditegaskan di dalam banyak penjelasan mengenai hadis di atas. Sedangkan bagi orang yang mempunyao udzur untuk tidak melaksanakan shalat jum’at, seperti misalnya karena ia sakit, sedang dalam safar (perjalanan), berada di laut, atau pun sedang udzur lainnya, bisa dikatakan tidak masuk dalam kategori mendaptkan ancaman ini.

Pada zaman Umar, ada seseorang yang mempunyai sebuah rencana ingin melakukan perjalanan tepat pada hari jumat. Lalu dia mempunyai niat untuk membatalkan rencananya tersebut, dikarenakan ingat bahwa ia berkewajiban untuk melaksanakan shalat jum’at. Selanjutnya ia ditegur oleh Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, yakni sebagai berikut :

”Berangkatlah, karena jumatan tidaklah menghalangi orang untuk melakukan safar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 5107).

Baca juga :

Dapat diambil kesimpulan bahwa artikel mengenai azab meninggalkan shalat jum’at yang diulas secara detail dan dikemas dengan menarik, diharapkan akan memudahkan anda dalam mempelajari serta memahami lebih dalam lagi, sehingga mungkin bisa anda jadikan sebagai referensi untuk menambah wawasan baru.

Sampai disini dulu ya artikel kali ini yang membahas mengenai azab meninggalkan shalat jum’at. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel saya ini

Hukum Sholat Jumat Bagi Wanita dan Dalilnya

Semua umat muslim di dunia sudah mengetahui dengan baik jika sholat Jumat hukumnya wajib bagi laki-laki. Akan tetapi, bagaimana tentang hukum sholat Jumat untuk wanita? Bisakah wanita ikut sholat Jumat dan apa wajib melaksanakan sholat Dzuhur apabila wanita sudah mengikuti sholat Jumat?. Untuk lebih lengkapnya, silahkan simak ulasan dari kami berikut ini.

Pengertian Sholat Jumat

Sholat Jumat merupakan ibadah sholat yang dilaksanakan pada hari Jumat dan hukumnya wajib bagi kaum laki-laki atau pria dewasa yang beragama Islam, merdeka sudah mukallaf, sehat badan serta muqaim. Ini semua diperoleh berdasarkan dari hadits Rasulullah, “Shalat Jum’at itu wajib bagi atas setiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah kecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil, dan orang sakit.” (HR. Abu Daud, Dan Al Hakim).

Artikel terkait:

Walau wanita tidak diwajibkan untuk melaksanakan sholat Jumat, akan tetapi masih diperbolehkan untuk wanita melakukan sholat Jumat. Berikut beberapa hukum sholat jumat bagi wanita menurut Islam, diantaranya:

  1. Wanita Tidak Wajib Sholat Jumat

Para ulama mencapai kesepakatan jika wanita tidak wajib melaksanakan sholat Jumat seperti sabda dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Shalat Jum’at adalah kewajiban secara berjamaah atas setiap muslim, kecuali empat orang yaitu hamba sahaya, wanita, anak kecil dan orang sakit” (HR. Abu Dawud; hasan menurut banyak ulama, shahih menurut Imam Nawawi).

  1. Wanita Bisa Mengikuti Sholat Jumat

Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim memberi penjelasan jika para ulama juga sudah mencapai kesepakatan jika wanita muslim bisa mengikuti sholat Jumat di masjid seperti yang dilakukan wanita pada jama Rasulullah yang juga pernah ikut sholat Jumat di masjid. Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah dalam Fiqih Wanita juga memberi penjelasan jika wanita bisa mengikuti sholat Jumat seperti yang dilakukan pada jaman Rasulullah.

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah. Juga mengatakan, “kaum wanita banyak juga yang hadir di dalam masjid dan melakukan shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Ummu Hisyam binti Al Harits radhiyallahu anha mengatakan, “Tidaklah aku hafal surat Qaf kecuali dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat” (HR. Muslim).

  1. Wanita Yang Shalat Jumat Tidak Perlu Sholat Dzuhur

Wanita memang tidak diwajibkan untuk menunaikan sholat Jumat, akan tetapi diwajibkan untuk menunaikan sholat Dzuhur yang dilakukan bersama dengan imam. Jika wanita sudah melakukan sholat Jumat, maka itu sudah cukup sehingga tidak diwajibkan lagi untuk melakukan sholat Dzuhur tersebut. Semua ulama juga sudah mencapai sepakat jika wanita diperkenankan untuk menghadiri sholat Jumat dan melakukan sholat Jumat tersebut bersama dengan imam seperti yang dijelaskan oleh Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim.

baca juga:

[AdSense-B]

  1. Wanita Bisa Sholat Jumat Jika Mendapat Izin Suami

Menurut pendapat yang rajih dari beberapa pendapat adalah wanita boleh menghadiri sholat Jumat dengan syarat jika sudah mendapatkan izin dari suami atau walinya sehingga tidak timbul fitnah. Selain itu, wanita juga tidak boleh memakai perhiasan serta wewangian saat akan menghadiri sholat Jumat tersebut.

  1. Wanita Boleh Sholat Jika Tidak Menimbulkan Fitnah

Para wanita juga diperbolehkan untuk menghadiri sholat Jumat apabila tidak menimbulkan fitnah. Namun jika menimbulkan fitnah, maka wanita dilarang untuk ikut sholat Jumat.

Seperti yang tertulis dalam kitab “Al-Majmu'” Imam Nawawi menukil pendapat Syekh Al-Bandaniji yang memberi pernyataan jika disunatkan bagi wanita yang sudah tua untuk mengikuti sholat jum’at, sedangkan bagi wanita yang masih muda dimakruhkan untuk mengikuti sholat jum’at bersama para pria. Karena pada umumnya wanita yang masih muda, apalagi masih suka berdandan dan banyak tingkahnya itulah yang seringkali menimbulkan fitnah.

baca juga:

  1. Sholat Jumat Sendiri di Rumah Tidak Sah

Para ulama juga sepakat jika sholat Jumat hanya bisa dilakukan secara berjamaah. Tanpa jamaah, maka sholat Jumat tidak akan sah dan ini berlaku untuk wanita dan juga pria.

“Hanya saja jumatan itu sah dikerjakan wanita (bersama imam). Karena mereka shalat jamaahnya sah (maksudnya: wanita boleh shalat jamaah, pen.). Dulu para wanita shalat berjamaah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Mughni, 2:243).

  1. Wanita Tidak Boleh Sholat Jumat Antar Jamaah Wanita

Wanita juga tidak diperbolehkan untuk melakukan sholat Jumat antar jamaah wanita, sebab pelaksanaan sholat Jumat untuk wanita hanya mengikuti sholat Jumat yang diadakan kaum muslimin pria. Mereka berkumpul dalam satu tempat untuk melaksanakan sholat, mendengarkan khutbah dan melakukan syiar Islam dan ini semua tidak mungkin dilakukan oleh para wanita.

Artikel terkait:

Hal Yang Harus Dilakukan Wanita di Masjid Sebelum Khutbah

Mengerjakan sholat sunnah tahaiyyatul masjid. Jika wanita masuk ke dalam masjid dan ternyata imam sudah menyampaikan khutbah, maka dianjurkan mengerjakan sholat tahiyyatul masjid. Namu jamaa’ah dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunnah tahiyyatul masjid pada saat masuk ke dalam masjid dan jamaa’ah tidak boleh melaksanakan sholat sunnah sesudah adzan.

[AdSense-A]Yang Dilakukan Wanita Saat Imam Khutbah

  • Wajib mendengarkan khutbah: Akan tetapi, jika tidak bisa mendengar khutbah karena beberapa sebab tertentu, maka boleh di ganti dengan membaca Al-Quran atau dzikir dalam hati.
  • Tidak boleh bicara dengan teman: Seperti sabda Rasulullah Saw, “Jika pada hari jum’at engkau berkata kepada temanmu, ‘diam’, saat imam menyampaikan khutbah, maka engkau telah mengerjakan perkara yang sia-sia.” [HR. Bukhari dan Muslim]. (baca juga: Hukum Semir Rambut Warna Hitam )
  • Tidak boleh melewati baris an orang lain: Wanita juga tidak boleh melewati leher atau barisan orang lain, kecuali untuk menuju ke tempat duduk, akan tetapi orang tersebut harus geser dan memberikan tempat untuknya. (baca juga: Ibu Rumah Tangga dalam Islam )
  • Apabila mengantuk saat khutbah, maka rubah posisi duduk.
  • Jika wanita ingat dirinya pernah meninggalkan sholat fardhu sebab lupa atau tidur saat imam sedang menyampaikan khutbah, maka hendaknya berdiri dan mengqadha sholatnya.

Artikel terkait:

Keutamaan Hari Jumat Menurut Islam

Selain itu, banyak sekali keutamaan hari jumat Menurut Islam yang dapat memberi pahala karena keistimewaannya, antara lain:

  • Pada hari itu, Allah menciptakan Adam.
  • Pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi. (baca juga: Cara Memilih Pendamping Hidup Dalam Islam)
  • Pada hari itu, Allah mewafatkan Adam. (baca juga: Hukum Belum Membayar Hutang Puasa Ramadhan)
  • Pada hari itu, ada satu saat yang tidaklah seorang hamba meminta pada Allah sesuatu melainkan Ia pasti memberikannya selama yang di minta bukanlah sesuatu yang haram.
  • Pada hari itu, kiamat akan terjadi.

baca juga:

Hikmah Adanya Hukum Sholat Jumat Untuk Wanita

Adanya hukum sholat jumat bagi wanita memberikan pencerahan tersendiri terkait kebingungan para wanita tentang boleh atau tidaknya melakukan shalat jumat, antara lain:

  • Tidak memberatkan wanita: Ini dikarenakan tugas sebagai ibu yang harus merawat anak dan istri harus melayani suaminya serta keadaan tidak nyaman untuk wanita untuk melaksanakan sholat Jumat.
  • Apabila sholat Jumat memang diwajibkan untuk wanita, maka kemungkinan tidak bisa melaksanakannya dengan benar dan peluang dosa yang dilakukan semakin banyak. Sebab konsekuensi ibadah wajib adalah saat pelaksanaan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa, sebab Islam merupakan agama arif dan bijak. (baca juga: Ayat Pernikahan Dalam Islam)
  • Untuk wanita yang mempunyai kesempatan juga ingin, maka akan diperbolehkan atau juga ada yang menyunnahkan untuk melaksanakan sholat Jumat di masjid sehingga mendapat pelajaran dari khutbah sholat Jumat yang disampaikan.

Artikel terkait:

Sholat jamaah di masjid untuk wanita hukumnya adalah mubah dengan syarat sudah mendapat ijin dari suami atau walinya, tidak menimbulkan fitnah dan tidak mengenakan wewangian serta tidak berhias. Akan tetapi akan lebih baik jika sholat dilakukan di rumah saja. Adapun hikmah tidak diwajibkan wanita untuk sholat Jumat supaya wanita tidak ada dalam tempat berkumpulnya para lelaki yang bisa menimbulkan tindakan yang tidak diharapkan seperti khtilat, semoga bisa bermanfaat.

Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Dengan Sengaja

Hukum meninggalkan shalat jumat adalah haram, karena laki-laki yang sudah baligh wajib hukumnya menjalankan ibadah yang satu ini ialah ibadah shalat jumat. Shalat jumat merupakan ibadah wajib seperti halnya shalat 5 waktu khususnya bagi para kaum lelaki.

Baca juga :

Hukum Islam Terkait Meninggalkan Shalat Jumat Bagi Kaum Pria

Hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Jumu’ah ayat 9 mengenai shalat jumat, penjelasannya sebagai berikut :

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( QS. Al-Jumu`ah : 9) (baca juga: Keutamaan Shalat Fajar)

Nah penjelasan di Al-Qur’an tersebut diperkuat dengan penjelasan pada hadits yang diriwayatkan oleh Thariq bin Syihab berdasarkan sabda Rasulullah Saw :

“Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali atas 4 orang, (yaitu) Budak, Wanita, Anak kecil dan Orang sakit.” (HR. Abu Daud).

baca juga artikel Islam lainnya:

Bagaimana apabila seseorang tidak melaksanakan ataupun meninggalkan sholat jumat? penjelasannya sebagai berikut :

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Abu Hurairah karena mereka melihat dan juga mendengar sabda Rasulullah Saw :

“Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh Abi Al-Ja`d Adh-dhamiri ra berdasarkan sabda Rasulullah Saw :

“Orang yang meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah akan menutup hatinya.” (HR. Abu Daud)

Abul Hasan Mubarakfuri rahimahullah berkata, “Tiga kali Jumat” Asy-Syaukani berkata, “Kemungkinan yang dimaksud adalah meninggalkannya secara mutlak, apakah terus menerus atau terpisah-pisah, walaupun dalam setiap tahun dia meninggalkan satu kali Jumat, maka Allah akan tutup hatinya jika dia meninggalkan yang ketiga kalinya. Inilah zahir haditsnya. (baca juga: Keutamaan Berbakti Kepada Orang tua)

Kemungkinan juga maksudnya adalah tiga kali Jumat berturut-turut. Sebagaiman disebutkan dalam sebuah hadits Anas, dari Ad-Dailamy dalam musnad Al-Firdaus, karena terus menerus melakukan perbuatan dosa menunjukkan tidak adanya perhatian.” Aku katakan bahwa kemungkinan makna yang kedua, “tiga kali berturut-turut” adalah yang lebih jelas, dikuatkan oleh prinsip membawa makna mutlak kepada makna terikat. Hal ini dikuatkan oleh hadits Anas yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan perawi yang shahih dari Ibnu Abbas, bahwa siapa yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut, maka dia telah melempar Islam ke belakang punggungnya.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih). (baca juga: Keutamaan Shalat Ashar Berjamaah )

[AdSense-B]

Hadits yang diriwayatkan Oleh Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah berdasarkan sabda Rasulullah Saw :

“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali tanpa kebutuhan darurat, Allah akan tutup hatinya.” (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

Maksudnya adalah sebagai berikut :

Al-Manawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud ditutup hatinya adalah Allah tutup dan cegah hatinya dari kasih sayangnya, dan dijadikan padanya kebodohan, kering dan keras, atau menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.” (Faidhul Qadir)

Baca juga :

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairh berdasarkan sabda Rasulullah Saw :

“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa uzur, maka Allah akan tutup hatinya.”

Dalam hadis lainnya pun juga dijelaskan bahwa yang dimaksud Allah kan menutuop hatinya bukan menjadikan seseorang tersebut menjadi golongan orang-orang yang kafir, melainkan hanya memberikan ancaman ataupun peringatan yang memang sudah ditetapkan sesuai dengan syariat terhadap semua umat muslim dan juga kaum kafir. (baca juga: Keutamaan Ibadah Umroh)

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berdasarkan dengan sabda Rasulullah Saw :

“Sesungguhnya, jika seorang hamba melakukan satu kesalahan, akan dibuatkan satu titik hitam dalam hatinya. Jika dia cabut dengan istighfar dan taubat, maka hatinya menjadi bersih kembali. Jika dia kembali, maka semakin bertambah titik hitamnya hingga mendominasi hati. Itul Ar-Raan yang Allah sebutkan, ‘Sekali-kali tidak, pada hatinya terdapat Ar-Ran atas apa yang mereka lakukan.” (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

Berikut juga terdapat beberapa penjelasan tambahan agar bisa lebih dimengerti :

  • Berdasarkan ucapan Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah dari Mujahid, “Mereka mengartikan Ar-Ran adalah sebagai penutup hati.” (Fathul Bari). (baca juga: Keutamaan Doa Kanzul Arasyi )
  • Berdasarkan ucapan Ibnu Qayim rahimahullah, “Dosa, jika banyak, akan menutupi hati seseorang, maka dia menjadi orang yang lalai. Sebagaiman ucapan sebagian salaf tentang firman Allah Ta’ala, “Sekali-kali tidak, pada hati mereka terdapat Ar-Raan atas apa yang mereka perbuat.” Dia berkata, “Itu adalah dosa di atas dosa.” (Al-Jawabul Kafi). (baca juga: Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh)
  • Berdasarkan ucapan Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah, “Siapa yang tidak melakukan shalat Jumat bersama kaum muslimin karena uzur syar’i, baik berupa sakit, atau lainnya, maka dia hendaknya shalat Zuhur. Demikian pula halnya jika seorang wanita shalat, hendaknya dia shalat Zuhur. Begitupula dengan musafir dan penduduk yang tinggal di pedusunan (yang tidak ada shalat Jumat), maka hendaknya mereka shalat Zuhur, sebagaimana disebutkan dalam sunah. Inilah pendapat mayoritas ulama, tidak dianggap bagi yang berpendapat menyimpang. Demikian pula bagi yang meninggalkannya dengan sengaja, hendaknya dia bertaubat kepada Allah dan dia melakukan shalat Zuhur.” (Majmu Fatawa Ibnu Baz)

Baca juga :

1. Shalat Jumat Harus Lebih Diutamakan Daripada Pekerjaan Apapun.

[AdSense-A] Jika sudah datang waktu shalat jumat sebaiknya anda bergegas meninggalkan aktivitas apapun yang sedang anda lakukan. Karena sholat jumat akan membawwa kebaikan bagi anda sendiri. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat Al-Jumu’ah ayat 11, penjelasannya sebagai berikut :

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri. Katakanlah: `Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan`, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (QS.Al-Jumu’ah : 11)

2. Waktu Pelaksanaannya Adalah Di Waktu Dzuhur

Shalat jumat yang bisa dikatakan sah sebaiknya dilaksanakan pada waktu dzuhur. Jika dikerjakan pada waktu lainnya shalat jumat yang dikerjakan bisa dikatakan tidak sah. Hal ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas Ra, penjelasannya sebagai berikut :

“Rasulullah Saw biasa shalat Jum’at setelah matahari condong.” (HR. Bukhari).

baca juga artikel Islam lainnya:

3. Tidak Boleh Dilakukan Pada Beberapa Tempat Dalam Satu Daerah

Shalat jumat sebaiknya dilakukan dalam satu tempat saja pada satu daerah, karena memang tidak dianjurkan melaksanakannya dengan berpencar-pencar. Jika dilakukan berpencar-pencar maka pahala yang di dapatkan kurang maksimal.

Boleh dilakukan di beberapa tempat jika memang sangat sulit untuk mengumpulkan para jamaah di satu tempat, bisa juga karena jarak yang ada terlalu jauh, sehingga sangat sulit untuk menjangkau tempat tersebut.

4. Wajib Dilaksanakan Dengan Cara Berjamaah

Kutamaan sholat jumat wajib dilaksanakan dengan cara berjamaah dijelaskan di beberapa hadits, penjelasannya sebagai berikut :

“Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi ijma’ (kata sepakat) para ulama.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa, kecuali dua belas orang.” (HR. Muslim no. 863)

As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi An Nabit dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, “Waktu itu, ada berapa orang?” Dia menjawab, ”Empat puluh.” (HR. Abu Daud no. 1069 dan Ibnu Majah no. 1082)

Baca juga :

Seharusnya setiap muslim selalu beriman dan bertakwa kepada Allah, hindari melakukan suatu sikap lalai terhadap semua kewajiban yang sudah ditetapkan oleh Allah. Apabila dengan sengaja seseorang melalaikan kewajibannya, maka dia akan mendapatkan petaka dari Allah. Pandai-pandailah menjaga perintah yang Allah tetapkan, niscaya pahala dari Allah tidak akan pernah putus. Selain itu Allah akan memberi karunia dan keberkahan dalam hidupnya kepada siapa saja yang memang Allah kehendaki.

baca juga artikel Islam Lainnya:

Dapat diambil kesimpulan bahwa penjelasan di atas yang sudah saya ulas sedemikian rupa secara detail dan rinci sehingga anda sebagai pembaca bisa dengan mudah memahami dan dapat anda jadikan sebagai wawasan baru untuk menjalani hidup di masa yang akan datang dengan lebih baik lagi. Sampai disini dulu artikel kali ini yang membahas mengenai hukum meninggalkan sholat jumat. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca artikel saya ini.

8 Syarat Wajib Khotib

Sudah tak asing lagi bagi kita saat disebutkan istilah khotib, dimana pada umumnya khoib diartikan sebagai orang yang menyampaikan khutbah di atas mimbar pada moment-moment tertentu seperti shalat jum’at, shalat hari raya, maupun shalat istisqa’. Shalat jumat adalah shalat wajib yang hukumnya fardhu ain, sehingga untuk kaum lelaki di hari jumat shalat dzuhur di ganti dengan shalat jumat.

Kata “Khotib” berasal dari bahasa Arab “Khotibun” yang artinya adalah orang yang berkhutbah (memberikan ceramah tentang agama islam). Khotib merupakan orang yang menyampaikan dakwah mengenai ajaran agama islam, yaitu agama Allah SWT yang dibawa oleh Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam.

Khotib telah dianggap memiliki peranan yang begitu penting, salah satunya adalah dalam dunia pendidikan, terutama di era modern yang kebanyakan masyarakatnya berada dalam kondisi mora yang memprihatinkan serta terjadinya pengikisan nilai-nilai luhur budaya yang terdapat dalam masyarakat.

Rosulullah Sholallahu Alaihi wassalam bersabda :

نضر الله أمرأ سمع منا حد يثا فحفظه حتى يبلغه غيره

Artinya “Allah menjadikan bagus, seseorang yang mendengar Hadits dari kami, lantas dia menghafalnya sampai kemuadian ia sampaikan kepada orang lain.”

Dengan demikian, menjadi seorang khotib merupakan suatu tugas yang mulia, dan tidak semua orang bisa menjadi seorang khotib, dan untuk menjadi khotib diperlukan pribadi yang mampu memenuhi berbagai macam syarat. Seperti :

  1. Seorang khotib haruslah seorang laki-laki

Pada dasarnya tidak ada ketentuan yang mendasar yang dijadikan persyaratan bagi seseorang untuk menjadi khotib. Akan tetapi pada zaman Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam dan Khulafaur Rosidin telah berlaku bahwa tugas menjadi seorang khotib bisa dirangkap oleh seorang imam.

Dan seorang imam hendaknya diutamakan yang berasal dari kaum pria, karena pria adalah pemimpin bagi para wanita. Allah SWT berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

Artinya “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki).” (QS. An Nisaa ayat 34)

Jadi kesimpulannya, seorang wanita tidaklah diperkenankan untuk menjadi khotib.

  1. Baligh

Karena khutbah berisikan hal-hal yang menyangkut tentang peribadahan, maka sudah seharusnya jika khotib yang membawakan khutbah tersebut paling tidak telah baligh.

  1. Memiliki pengetahuan yang luas tentang agama

Seorang khotib haruslah orang yang memiliki pengetahuan yang luas, khususnya pengetahuan dalam bidang agama. Mengapa demikian? Karena biasanya isi dari khutbah yang dibawakan oleh khotib sangat berkaitan erat dengan  masalah keagamaan, seperti penyampaian kabar gembira maupun peringatan-peringatan dari Allah SWT.

Selain itu, seorang khotib juga harus bisa memberikan nasihat-nasihat untuk mengajak para jama’ah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Berkaitan dengan hal ini, juga ada beberapa alasan  mengapa seorang khotib haruslah orang yang berpengetahuan luas tentang agama, yaitu :

  • Khotib merupakan seseorang yang bertugas untuk menyampaikan Risalah Nabi yang sumbernya adalah dari Al Qur’an dan Al Hadits. Oleh karena itu, seorang KHotib harus memiliki kemampuan dalam bidangm Agama serta mengatahui agama dari sumber-sumbernya yang asli. Hal tersebut bertujuan agar ia tidak melakukan kekeliruan atau kesalahan yang justru dapat menyesatkan bagi para jamaah dalam menyampaikan Risalah-risalah Nabi.
  • Seorang khotib haruslah mempersaksikan hal atau masalah yang dibicarakan dalam khutbah dengan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, hadist-hadist Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam, maupun praktik-praktik kehidupan Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam dan para sahabatnya.
  • Khutbah yang disampaikan hendaknya diperkuat dengan adanya kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Qur’an dan As- Sunnah. Dan apabila terdapat kesan abstrak dari kisah-kisah tersebut, maka khotib harus berusaha mendiskripsikannya dengan hal-hal yang mampu ditangkap oleh panca indera. Hal ini dilakukan agar para jama’ah mudah memahami dan meyakini apa yang disampaikan oleh khotib.

4. Suci dari hadast dan najis

Seorang khotib juga harus suci dari adanya hadast baik itu hadast besar maupun hadast kecil. Selain itu, seorang khotib juga harus suci dari adanya najis di tubuhnya, terutama jenis najis yang tidak dapat dimaafkan .
[AdSense-A]

5. Menutup Aurat

Salah satu syarat sahnya suatu khutbak yaitu apabila  sang khotin telah menutup auratnya dengan sempurna. Jadi sebaiknya sebelum menaiki mimbar ada baiknya jika khotib memerikasa kembali dirinya apakah auratnya sudah tertutup dengan baik ataukah belum.

6. Khotib hendaknya dalam posisi berdiri ketika menyampaikan khutbahnya.

Khutbah hendaknya disampaikan dalam posisi berdiri jika mampu, akan tetpi jika khotib tidak mampu untuk berdiri dikarenakan keudzuran atau karena sakit, maka ia bisa menyampaikan khutbahnya dengan posisi duduk.

Akan tetapi khotib haruslah memberikan tanda atau jeda guna memisahlkan antara khutbah pertama dan khutbah kedua, yaitu dengan diam sejenak atau seukuran melebihi diamnya orang yang sedang mengambil nafas.

7. Khotib haruslah seseorang yang bersemangat.

Khotib harus membawakah khutbahnya dengan suara yang keras karena khutbah memiliki karakteristik yang berbeda dari ceramah biasa. Minimal khutbah yang ia bawakan dapat didengarkan oleh 40 orang jamaah yang hadir. Jadi sudah sepatutnyalah apabila yang menjadi seorang khotib itu adalah orang yang bersemangat, sehingga ia dapat membawakan ceramahnya dengan baik, layaknya khutbah-khutbah yang dibawakan oleh Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam.

Jabir Bin Abdullah pernah berkata:

 “Rasulullah saw jika berkhotbah, kedua matanya memerah, suaranya keras, dan semangatnya bangkit bagaikan seorang komandan perang yang mengatakan akan datangnya musuh di pagi hari atau sore hari.” (HR Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ahmad)

8. Khotib harus bisa membedakan antara sunnah dan rukun khutbah

Inilah pentingnya memilih khotib dari golongan orang-orang yang memiliki pengetahuan yang luas terutama dalam bidang agama, agar orang tersebut bisa membedakan apa-apa yang disunnahkan dalam khutbah dan apa-apa yang menjadi rukunnya khutbah, karena tidaklah diperbolehkan mengubah sesuatu yang diwajibkan menjadi sunnah dalam berkhutbah.

Adapun rukun khutbah mneurut Madzab Syafi’i ada 5, yaitu :

  • Membaca hamdallah pada kedua khutbah
  • Membaca Sholawat atas Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam pada kedua khutbah
  • Berwasiat kepada para jamaah untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT
  • Membaca ayat Al-Qur’an di salah satu khutbah minimal satu ayat lengkap dengan maknanya.
  • Membacakan do’a bagi seluruh kaum muslimin pada khutbah yang kedua.

Sunnah dalam khutbah, diantaranya :

  • Disunnahkan bagi Khotib untuk mendoakan kaum muslimin serta pemimpin-pemimpin mereka

Adapun do’a yang diucapkan adalah untuk meminta kebaikan bagi kaum muslimin dan para pemimpinnya baik itu kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak, serta agar mereka mendapatkan taufik dari Allah SWT.

  • Seorang khotib disunnahkan untuk menjadi imam, begitu juga sebaliknya.

Dari Jabir Bin Abdullah, bahwasannya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

Artinya “Apabila kalian datang ke masjid pada hari jumat, sementara imam sedang berkhutbah, lakukanlah shalat tahiyatul masjid. Namun jangan terlalu lama.” (HR. Muslim)

  • Khotib disunnahkan untuk berkhutbah di atas mimbar

Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam, dimana dalam menyampaikan khutbahnya, Beliau memilih tempat yang lebih tinggi agar apa yang disampaikan mudah dipahami oleh jama’ah.

  • Khotib disunnahkan untuk duduk sejenak di antara dua khutbah

Hal ini juga merupakan ajaran yang diberikan oleh Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam, yaitu untuk memisahkan antara khutbah yang pertama dengan khutbah yang kedua.

  • Khotib disunnahkan untuk memendekkan khutbah yang disampaikan

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :

إِنَّ طُولَ صَلاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ ، فَأَطِيلُوا الصَّلاةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطَبَ

Artinya “Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah merupakan tanda kedalaman fiqihnya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah.” (HR. Muslim)

  • Khotib disunnahkan untuk mengucapkan salam, baik ketika memasuki masjid maupun ketika naik ke atas mimbar sebelum berkhutbah

Jabir Bin Abdullah Radiyallahu Anhuma pernah berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ سَلَّمَ

Artinya “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam,” (HR Ibnu Majah)
[AdSense-B]

  • Khotib disunnahkan untuk duduk hingga muadzin selesai mengumandangkan adzan
  • Khotib disunnahkan untuk memegang tongkat atau semisalnya

Al Hakam bin Hazan Radhiallahu anhuma pernah mengatakan bahwa dia melihat Rasulullah SAW berkhutbah seraya bersandar pada busur panah atau tongkat (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

  • Khotib disunnahkan untuk menghadap ke arah makmum ketika berkhutbah

Menjadi khotib adalah salah satu hal yang mulia, dimana dengan menyampaikan khutbah merupakan salah satu jalan dakwah yang tujuan utamanya adalah menyiarkan agama Allah kepada orang-orang yang belum mengetahui atau memahaminya. Dan Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam merupakan contoh seorang khotib yang baik yang patut untuk dicontoh, karena setiap ucapan Beliau adalah bimbingan serta Risalah yang berasal dari Allah SWT melalui Al-Qur’an.

Khotib merupakan teladan dalam hal moralitas, dimana ia harus mampu menafsirkan semua pesan-pesan dakwahnya kepada masyarakat. Jadi selain berfokus pada pengetahuan keagamaan, seorang khotib juga harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada saat ini, agar nantinya ia bisa menjawab tuntutan realita yang dihadapi oleh masyarakat.

Shalat Jum’at – Hukum, Ketentuan, Tata Cara Shalat dan Bacaan Doanya

Hari yang paling utama dalam satu tahun dalam islam adalah hari arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) dan hari Nahar (tanggal 10 Dzulhijjah). Sedangkan hari yang paling utama dalam satu minggu bagi umat Islam ialah hari jum’at, sehingga umat muslim khususnya bagi mereka kaum laki-laki maupun mukallaf karena Hukum Sholat Jumat Bagi Laki Laki adalah wajib. Untuk menunaikan shalat jum’at, yaitu shalat yang dilaksanakan pada waktu dzhuhur secara berjama’ah di tempat-tempat tertentu. Shalat jum’at merupakan Shalat Fardhu dilaksanakan sekaligus sebagai pengganti Shalat Wajib yaitu sholat dhuhur, artinya bagi mereka yang sudah melaksanakan shalat jum’at maka ia tidak perlu bahkan dilarang untuk mengerjakan shalat dzhuhur. Mengapa jum’at dikatakan hari yang utama diantara hari yang lain dalam satu minggu?(Baca : Keutamaan Bulan Dzulhijjah)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ : فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ قُبِضَ وَفِيْهِ النَّفْخَةُ وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ ) قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ عَلَيْكَ صَلاَتُنَا وَقَدْ أَرَمْتَ ؟  فَقَالَ : ( إِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ حَرَّمَ عَلىَ الْاَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْاَنْبِيَاءِ

Artinya:

Sesungguhnya di antara hari yang paling utama adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, Adam diwafatkan, sangkakala ditiup dan pada hari itu terjadi kematian (setelah ditiup sangkakala). Oleh karena itu, perbanyaklah bershalawat kepadaku, karena shalawatmu akan ditampakkan kepadaku.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami ditampakkkan kepadamu sedangkan Engkau telah menjadi tanah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Nasa’i).

Hukum Sholat Jum’at

Hukum Meninggalkan Shalat Jumat adalah fardhu ain bagi tiap muslim, mukallaf, laki-laki, sehat, dan bermukim.(Baca : Azab Meninggalkan Shalat Jumat)

Adapun Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :

اَلْجُمُعَةُ حَقٌ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ : عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيْضٌ

Artinya:

Shalat Jumat itu wajib bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang; budak, wanita, anak-anak atau orang yang sakit.” (HR. Abu Dawud, Daruquthni, Baihaqi dan Hakim)

Dari Ibnu Umar, bahwasannya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ

Artinya:

Bagi musafir tidak wajib shalat Jumat.” (HR. Daruquthni)

Jadi, mereka yang wajib melaksanakan sholat jum’at adalah :

  • Laki-laki, artinya kaum wanita tidak diwajibkan untuk melaksanakan sholat jum’at.(Baca :  Hukum Sholat Jumat Bagi Wanita)
  • Berakal, artinya orang gila tidak diwajibkan untuk melaksanakan sholat jum’at.(Baca : Keutamaan Malam Jum’at Dalam Islam)
  • Akil baligh, artinya anak-anak tidak diwajibkan untuk melaksanakan sholat jum’at.
  • Mukim, artinya seorang musafir (mereka yang sedang dalam perjalanan jauh) tidak diwajibkan untuk melaksanakan sholat jum’at
  • Sehat, artinya orang yang sedang sakit juga tidak diwajibkan untuk melaksanakan sholat jum’at

Ketentuan Shalat Jum’at

Terdapat beberapa ketentuan yang menjadi syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan shalat jum’at, yaitu :

1. Tempat

Shalat Jum’at harus dilakukan di tempat-tempat tertentu, dan tempat untuk tersebut adalah  tempat-tempat yang telah diperuntukkan untuk melaksanakan shalat jum’at misalnya di masjid, dan pelaksanaan shalat jum’at tidak perlu dilakukan di tempat-tempat shalat sementara misalnya di tanah lapang, kebun kosong, dan lain sebagainya.(Baca : Keutamaan Sedekah di Hari Jumat)

2. Jumlah Jama’ah

Kita tahu bahwa shalat jum’at dilaksanakan secara berjama’ah, akan tetapi para Ulama memiliki perbedaan pendapat tentang berapakah jumlah minimal jama’ah yang hadir dalam sholat tersebut.(Baca : Keutamaan Sholat Berjama’ah)

Beberapa pendapat tersebut antara lain adalah :

  • Pendapat dari Imam Syafi’i

Imam Syafi’i dan para ulamadari madzab Maliki berpendapat bahwa shalat Jum’at dilaksanakan sekurang-kurangnya oleh 40 (empat puluh) orang laki-laki.(Baca : Larangan Puasa Hari Jumat)

Ketentuan ini sesuai dengan sebuah hadist yang artinya

Telah berkata Abdurrahman bin Ka’ab : “Bapak saya ketika mendengar adzan hari jum’at biasa mendo’akan bagi As’ad bin Zararah. Maka saya bertanya kepadanya : Apabila mendengar Adzan mengapa ayah mendo’akan untuk As’ad bin Zararah? Lalu ayahnya menjawab : karena dialah orang yang pertama kali mengumpulkan kita untuk sholat Jum’at di desa hamin Nabit. Maka bertanya saya kepadanya : Berapakah waktu itu orang yang hadir? Ia menjawab : Empat puluh orang laki-laki.” (HR. Abu Dawud)

Jabir Radliyallaahu ‘anhu berkata:

مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ فَصَاعِدًا جُمُعَةً

Artinya:

Sunnah telah berlaku bahwa pada setiap empat puluh orang ke atas wajib mendirikan sholat Jum’at.” (HR. Daruquthni dengan sanad yang lemah)

  • Pendapat dari Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi)

Imam Hanafi menyatakan bahwa cukup dengan empat orang termasuk seorang imam, bisa melaksakan ibadah shalat jum’at. Hal ini sesuai dengan sebuah hadist yang telah diriwayatkan oleh Thabrani, yang artinya:

 “Jum’ah itu wajib bagi tiap-tiap desa yang ada padanya seorang imam, meskipun penduduknya hanya empat orang.”

  • Pendapat dari Imam Aw-Za’i

Pendapat lain datang dari Imam Aw-Za’i yang menyatakan bahwa sholat jum’ah cukup dengan 12 orang saja.(Baca : Pahala Sedekah di Hari Jumat)

Pendapat ini sesuai dengan hadist yang artinya:

Orang yang pertama kali datang ke Madinah dari kaum Muhajirin ialah Mush’ab bin ‘Umair, dan dialah orang yang pertama mendirikan sholat jum’at di situ pada hari jum’at, sebelum Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam datang. (dan waktu itu) mereka dua belas orang.” (HR. Thabrani)

3. Waktu pelaksanaan

Sebagian besar para ulama menyatakan bahwa sholat jum’at dilaksanakan ketika telah masuk waktu dhuhur atau pada saat tergelincirya matahari. Ini sesuai dengan sabda Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam :

اَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ

Artinya:

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Jumat ketika matahari bergeser (ke barat).” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Saamah in Al Aqwa’ pernah berkata :

كُنَّا نُجَمِّعُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

Artinya:

Kami shalat Jum’at bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tergelincir matahari, kemudian kami pulang mencari bayangan (untuk berlindung dari panas).”

Akan tetapi sholat jum’at juga dapat dilaksakan sebelum tiba waktu dhuhur. Ini sesuai dengan ucapan Jabir radhiyallahu ‘anhu ketika ia pernah ditanya tentang “Kapankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Jumat?” lalu ia pun menjawab:

كَانَ يُصَلِّى ثُمَّ نَذْهَبُ إِلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَا حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ

Artinya:

Beliau shalat Jumat. Setelah itu, kami pergi mendatangi unta kami dan mengistirahatkannya ketika matahari telah tergelincir.” (HR. Muslim)

Baca juga :

4. Ketentuan Lain

[AdSense-A]Sebelum pelaksanaan sholat jum’at didahului dengan adanya dua khutbah yang menjadi salah satu syarat sahnya sholat jum’at. Khutbah tersebut disampaikan oleh khotib, dimana dalam berkhutbah seorang khotib hendaknya memperhatikan hal-hal seperti :

1. Seorang Khotib harus mengetahui rukun-rukun khutbah

Adapun rukun dari khutbah yang disampiakan oleh khotib adalah :

  • Khutbah disampaikan sambil berdiri ; dan disela-sela khutbah tersebut diselingi dengan duduk yaitu setelah mengucapkan salam saat menaiki mimbar.(Baca : Syarat Wajib Khotib)

  Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا ثُمَّ يَجْلِسُ ثُمَّ يَقُومُ

Artinya:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkhutbah dengan berdiri pada hari Jum’at, kemudian Beliau duduk, kemudian Beliau berdiri” (HR Muslim)

2. Khutbah jum’at dianjurkan untuk dimulai dengan membaca khutbatul jannah sebagai berikut :

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

“INNAL HAMDA LILLAH NAHMADUHU WANASTA’INUHU WANASTAGHFIRUH. WANA’UDZUBILLAHI MIN SYURURI ANFUSINA WAMIN SAYYI’ATI A’MALINA. MAN YAHDIHILLAHU FALA MUDILLA LAH WAMAN YUDLIL FALA HADIYA LAH.”

3. Membaca Kalimat Syahadat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ

Artinya:

Tiap-tiap khutbah yang tidak ada tasyahhud (syahadat) padanya, maka khutbah itu seperti tangan yang terpotong” (HR Abu Dawud)

Adapun kalimat syahat tersebut adalah :

اَشْهَدُاَنْالَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَاَثْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًا رَسٌؤلُ اللهِ

“ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH.”

Artinya:

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

4. Membaca Shalawat Nabi

Dari Aun bin Abi Juhaifah, dia perah berkata :

كَانَ أَبِي مِنْ شُرَطِ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ وَكَانَ تَحْتَ الْمِنْبَرِ فَحَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَعْنِي عَلِيًّا رَضِي اللَّهُ عَنْهُ فَحَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ خَيْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَالثَّانِي عُمَرُ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ يَجْعَلُ اللَّهُ تَعَالَى الْخَيْرَ حَيْثُ أَحَبَّ

Artinya:

Dahulu bapakku termasuk pengawal Ali Radhiyallahu ‘anhu, dan berada di bawah mimbar. Bapakku bercerita kepadaku bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu naik mimbar, lalu memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyanjungNya, dan bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata: “Sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, yang kedua adalah Umar Radhiyallahu a’nhuma“. Ali Radhiyallahu juga berkata: “Alloh menjadikan kebaikan di mana Dia cintai” (HR.  Ahmad)

Adapun Lafadz shalawat atas Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam adalah :

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

“ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMADAD WA ALA ALIHI WA ASHABIHI WAMAN TABI’AHUM BI IHSANIN ILA YAUMIDDIN.”

Baca juga :

5. Dalam menyampaikan khutbahnya, khotib menghadap ke makmum

Dari Ibnu hajar pernah mengatakan bahwa

Diantara hikmah makmum menghadap kepada imam, yaitu bersiap-siap untuk mendengarkan perkataannya, dan melaksanakan adab terhadap imam dalam mendengarkan perkataannya. Jika makmum menghadapkan wajah kepada imam, dan menghadapkan kepada imam dengan tubuhnya, hatinya, dan konsentrasinya, hal itu lebih mendorong untuk memahami nasihatnya dan mencocoki imam terhadap apa yang telah disyari’atkan baginya untuk dilaksanakan.” (Fathul Bari, 2/489). (Baca : Hukum Membaca Al-Fatihah Bagi Makmum)

6. Khotib berwasiat pada para jama’ah untuk bertaqwa kepada Allah SWT di dalam kedua khutbahnya, misalnya dengan bacaan :

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

“YA AYYUHALLADZINA AMANUTTAQULLAHA HATTA TAQATIHI WALA TAMUTUNNA WA ANTUM MUSLIMUN.”

7. Membaca ayat-ayat Al-qur’an

Di salah satu khutbahnya, khotib dianjurkan untuk membaca ayat-ayat Al-qur’an yang mengandung makna lengkap (bukan potongan ayat). Dan khotib bebas menentukan ayat mana yang ingin ia baca pada khutbahnya tersebut.

Baca :

8. Berdo’a

Do’a biasanya diucapkan pada kedua khutbah. Contoh bacaan do’a dalam khutbah jum’at :

Pada khutbah pertama :

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“BARAKALLAHU LII WA LAKUM FILL QUR’AANIL AZHIIM WA NAFA’NII WA IYYAAKUM BIMA FIIHI MINAL AAYAATI WA DZIKRIL HAKIIM. AQUULU QOWLII HADZAA WA ASTAGHFIRULLAAHA LII WA LAKUM WA LISAA IRIL MUSLIMIINA MIN KULLI DANBIN FASTAGHFIRUUHU INNAHU HUWAL GHAFUURUR RAHIIMU.”

Pada khutbah kedua :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين

“ALLAHUMMAGH FIR LILMUSLIMIINA WAL MUSLIMAATI, WAL MU’MINIINA WAL MU’MINAATIL AHYAA’I MINHUM WAL AMWAATI, INNAKA SAMII’UN QORIIBUN MUHIIBUD DA’WAATI.

ROBBANAA LAA TUAAKHIDZNAA IN NASIINAA AW AKHTHO’NAA. ROBBANAA WALAA TAHMIL ‘ALAYNAA ISHRON KAMAA HALAMTAHUU ‘ALALLADZIINA MIN QOBLINAA.ROBBANA WALAA TUHAMMILNAA MAA LAA THOOQOTALANAA BIHI, WA’FUA ‘ANNAA WAGH FIR LANAA WAR HAMNAA ANTA MAW LAANAA FANSHURNAA ‘ALAL QOWMIL KAAFIRIINA.

ROBBANA ‘AATINAA FIDDUNYAA HASANAH WA FIL AAKHIROTI HASANAH WA QINAA ‘ADZAABANNAAR. WALHAMDULILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN.”

[AdSense-B]

  • Seorang khotib harus menjiwai isi dari khutbah yang ia sampaikan.

Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ

Artinya:

“Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya tinggi, dan kemarahannya sungguh-sungguh. Seolah-olah Beliau memperingatkan tentara dengan mengatakan:’ Musuh akan menyerang kamu pada waktu pagi’, ‘Musuh akan menyerang kamu pada waktu sore’.” (HR Muslim).

Hendaknya khotib mempersingkat khutbah yang ia sampaikan

Dalam kitabnya yang berjudul Imamatul Masjid, Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Al ‘Ablaani berkata

Memanjangkan khutbah merupakan cacat yang seharusnya ditinggalkan oleh para khathib. Mereka lebih mengerti daripada yang lain, bahwa pengunjung masjid pada shalat Jum’at ada pemuda, ada orang tua pikun yang tidak mampu menahan wudhu’ dan kesucian sampai waktu yang lama, ada orang yang memiliki kebutuhan lain, ada orang yang lemah, orang sakit, dan ada orang-orang yang memiliki halangan. Sehingga memanjangkan khutbah akan sangat menyusahkan mereka. Selain itu, memanjangkan khutbah akan membangkitkan kebosanan, bahkan kejengkelan terhadap khathib dan khutbahnya. Sebagaimana dikatakan (dalam pepatah): Sebaik-baik perkataan adalah yang ringkas dan jelas, dan tidak panjang lebar yang membosankan.”

Dalam Al ‘Ujalah Fi Sunniyyati Taqshiril Khutbah, Syaikh Ahmad bin Muhammad Alu Abdul Lathif Al Kuwaiti berkata:

Wahai, khathib yang membuat orang menjauhi dzikrullah (khutbah), karena engkau memanjangkan perkataan! Tahukah engkau, bahwa diantara sunnah khutbah Jum’at adalah meringkaskannya dan tidak memanjangkannya. Dan sesungguhnya memanjangkan khutbah Jum’at menyebabkan para hadirin lari (tidak suka), menyibukkan fikiran, dan tidak puas dengan tuntunan Nabi Pilihan (Muhammad) n serta para pendahulu umat ini yang baik-baik.”

Khutbah disampaikan dengan suara yang jelas dan tidak disampaikan dengan berbicara terlalu cepat sehingga makmum yang mendengarkan akan dapat memahami isi khutbah yang disampaikan oleh khotib.(Baca : Amalan Hari Jumat Untuk Wanita)

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha :

لَمْ يَكُنْ يَسْرُدُ الْحَدِيثَ كَسَرْدِكُمْ

Artinya:

Beliau tidak berbicara cepat sebagaimana engkau berbicara cepat.” (HRBukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi menyebutkan bahwa :

وَلَكِنَّهُ كَانَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ بَيِّنٍ فَصْلٍ, يَحْفَظُهُ مَنْ جَلَسَ إِلَيْهِ

Artinya:

 “Tetapi Beliau berbicara dengan pembicaraan yang terang, jelas, orang yang duduk bersama Beliau dapat menghafalnya.”

  • Khotib diperbolehkan menghentikan sementara khutbahnya

Dalam keadaan tertentu, seorang khotib bisa menghentikan khutbahnya, seperti untuk menenangkan jama’ah yang ramai, mengingatkan para jama’ah untuk menunaikan sholat tahiyatul masjid, dan lain sebagainya.(Baca : Shalat Subuh)

Dalam sebuah Hadist Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah berkata ketika menjumpai Sulaik masuk ke dalam Masjid sementara Beliau (Rasulullah) sedang berkhutbah  :

يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ثُمَّ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

Artinya:

Hai, Sulaik! Berdirilah, lalu shalatlah dua raka’at, dan ringkaskanlah dua raka’at itu.” Kemudian Beliau bersabda,”Jika salah seorang diantara kamu datang, pada hari Jum’at, ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaklah dia meringkaskan dua raka’at itu.” (HR Muslim)

  • Pada saat berdo’a, cukup diisyaratkan dengan mengangkat telunjuk saja

عَنْ عُمَارَةَ ابْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

Artinya:

Dari ‘Umarah bin Ruaibah, dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar sedang mengangkat kedua tangannya. Maka ‘Umarah berkata: “Semoga Allah memburukkan dua tangan itu! Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah lebih dari mengisyaratkan dengan tangannya begini”. Dia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.” (HR Muslim)

Tata cara Pelaksanaan Sholat Jum’at

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam menganjurkan untuk memperpendek khutbah jum’at dan juga tidak memperpanjang waktu sholatnya.(Baca : Keutamaan Hari Jumat Bagi Wanita)

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

Artinya:

Aku biasa shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka shalat Beliau sedang, dan khutbah Beliau sedang”. (HR Muslim)

قَالَ أَبُو وَائِلٍ خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا

Artinya:

“Abu Wa’il berkata: ’Ammar berkhutbah kepada kami dengan ringkas dan jelas. Ketika dia turun, kami berkata,”Hai, Abul Yaqzhan (panggilan Ammar). Engkau telah berkhutbah dengan ringkas dan jelas, seandainya engkau panjangkan sedikit!” Dia menjawab,”Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Sesungguhnya panjang shalat seseorang, dan pendek khutbahnya merupakan tanda kefahamannya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah! Dan sesungguhnya diantaranya penjelasan merupakan sihir’.” (HR Muslim)

Lalu seharusnya seberapa lama sholat jum’at itu dilaksanakan?

Dari An Nu’man pernah berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

Artinya:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at dengan: Sabbihisma Rabbikal a’la dan Hal ataaka haditsul ghasyiyah” (HR Muslim).

Dan Abu Hurrairah pernah berkata :

إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ

Artinya:

Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca keduanya (surat Al A’la dan Al Ghasyiyah) pada hari Jum’at” (HR Muslim).

Baca juga :

Niat Sholat Jum’at

1. Niat sholat jum’at bagi seorang makmum, yaitu :

أُصَلِّي فَرْضَ الُجْمَعةِ رَكْعَتَيْن أَدَاءً مُسْتَقْبِلَ الِقبْلَةِ مَأمُومًا ِللهِ تَعاليَ

“USHALLI FARDAL JUM’ATI ADA’AN MUSTAQBILAL QIBLATI MAKMUMAN LILLAHI TA’ALA.”

(Baca : Bacaan Utama Doa Shalat Tahajud)

2. Niat Sholat Jum’at bagi seorang imam yaitu :

أُصَلِّي فَرْضَ الُجْمَعةِ رَكْعَتَيْن أَدَاءً مُسْتَقْبِلَ الِقبْلَةِ إمَامًا ِللهِ تَعاليَ

“USHALLI FARDAL JUM’ATI ADA’AN MUSTAQBILAL QIBLATI IMAMAN LILLAHI TA’ALA.”

Bacaan Do’a setelah Shalat Jum’at

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من قرأ بعد صلاة الجمعة : قل هو الله أحد ، وقل أعوذ برب الفلق ،وقل أعوذ برب الناس ، سبع مرات ، أعاذه الله عز وجل بها من السوء إلى الجمعة الأخرى

Artinya:

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang membaca (setelah shalat Jum’at) surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas sebanyak tujuh kali, Allah akan mengindarkannya dari keburukan (kejahatan) sampai Jum’at berikutnya.”

[AdSense-C]

Untuk bacaan do’a setelah shalat jum’at tergantung atau terserah pada imam yang memimpin sholat tersebut. Akan tetapi dianjurkan untuk membaca doa’ berikut ini sebanyak 3 kali :

اَللَهُمَّ يَا غَنِيُ يَا حَمِيدُ يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيدُ يَا رَحِيْمُ يَاوَدُوْدُ أَغْنِنِي ِبحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Dan diakhiri dengan :

إلَهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أهْلًا وَلَا أَقْوَي عَلَي النَارِ الجَحِيْمِ

فَهَبْ ِلي تَوْبَةًوَاغْفِرْ ذُنُوْبِي فَإنَكَ غَافِرُ الذَنْبِ العَظِيمِ

Artinya:

Ya Tuhanku, aku bukanlah ahli surga, tapi aku juga tidak kuat berada di neraka. Karena itu, ampuni dosa-dosaku sesungguhnya Engkau maha memaafkan dosa-dosa besar.”

(Baca : Hukum Shalat Berjamaah dengan Wanita)

Keutamaan Sholat Jum’at

Allah SWT telah berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا  قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ  وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki” (Al Jum’ah ayat 9-11)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Artinya:

Sebaik-baiknya hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, masuk dan keluar dari syurga dan hari kiamat hanya akan terjadi pada hari Jum’at.”

Dalam Hadist yang lain, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Artinya

Shalat yang lima waktu, Jumat yang satu ke Jumat berikutnya dan (puasa) Ramadhan yang satu ke (puasa) Ramadhan berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya jika dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Lalu bagaimana bagi mereka yang meninggalkan sholat jum’at?

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

Artinya

Hendaknya orang-orang berhenti meninggalkan shalat Jumat atau jika tidak, Allah akan mengecap hati mereka, sehingga mereka tergolong orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim dan Nasa’i)

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ

Artinya

Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali tanpa uzur, maka akan dicatat termasuk orang-orang munafik.” (HR. Thabrani)

Artikel lainnya :