Hukum Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga

Salah satu permasalahan yang kerap terjadi terhadap pasangan suami istri pada kehidupan setelah menikah adalah keterlibatan mertua dalam rumah tangga mereka. Hal ini memang sulit dihindari. Sekalipun memutuskan ngontrak atau membeli rumah sendiri, tapi itu tak menjadi jaminan. Mertua tetap bisa mengawasi. Bahkan berusaha selalu terlibat dalam setiap masalah yang terjadi.

Nah, kira-kira bagaimana islam memandang hal tersebut? Sebenarnya bolehkah mertua ikut campur dalam rumah tangga ataukah tidak diperbolehkan? Berikut ulasannya.

Sebelum memutuskan boleh atau tidaknya, hendaknya kita mengkaji dulu tentang masalahnya. Mengapa mertua tersebut ikut campur? Apakah untuk kebaikan atau malah berunsur kebencian? Terkadang keterlibatan mertua dalam rumah tangga bisa diartikan menjadi nasehat, bisapula sebagai rasa iri. Ini bergantung pada presepsi masing-masing.

Apabila mertua ikut campur dalam hal kebaikan, misalnya:

Maka tindakan-tindakan tersebut diperbolehkan. Sebab pasangan yang baru menikah juga belum terlalu mengerti tentang kehidupan rumah tangga, jadi mereka butuh bimbingan untuk menghindari perceraian.

Sebaliknya, jika mertua ikut campur secara berlebihan. Misalnya saja setiap hari datang ker rumah anaknya, merasa berkuasa atas anaknya, merendahkan dan menganggap menantunya tidak becus, atau bahkan selalu terlibat dalam setiap masalah maka itu hukumnya tidak diperbolehkan.

Di dalam ajaran islam, pasangan yang telah menikah lebih dianjurkan untuk tinggal di rumah sendiri guna menghindari konflik dengan mertua. Tidak apa-apa walau hanya ngontrak rumah kecil, yang terpenting istri tidak tertekan. Dengan ngontrak rumah maka pasangan bisa belajar hidup mandiri, berjuang dari awal secara bersama-sama dan menciptakan kehidupan yang islami. Tapi demikian anak tetap wajib berbakti pada orang tua. Jadi walau telah menikah tidak boleh melupakan orang tua. kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah dan kewajiban anak perempuan terhadap orang tua setelah menikah adalah tetap harus sering mengunjungi dan memperhatikan kedua orang tuanya ataupun mertua.

Batasan Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga

Beberapa pendapat mengatakan bahwa tidak mengapa mertua ikut campur dalam rumah tangga asalkan itu dalam hal kebaikan. Apabila mertua memang punya niat baik, pasti beliau tidak akan memihak. Entah itu anaknya atau menantu, mana yang benar pasti dibela. Mertua harus bersikap adil.

Begitupun dengan menantu, hendaknya menyayangi mertua sebagaimana kasih sayangnya terhadap orang tua. Menyenangkan hati mertua sama halnya dengan membahagiakan suami. Dan dalam islam, istri yang dapat membuat suami bahagia maka akan diberikan pahala berlipat ganda. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist shahih:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah wanita yang paling baik? Jawab beliau, ‘Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai)

[AdSense-B]

Cara Menyikapi Mertua yang Selalu Ikut Campur

Sebenanarnya perilaku mertua ikut campur dalam rumah tangga bukanlah hal baru. Ini sudah sering terjadi dan bisa dikatakan cukup wajar. Lalu bagaimana sikap kita sebagai menantu untuk menghadapinya? Berikut ini ulasannya!

  1. Jangan Dibalas dengan Kejahatan

Apabila mertua melakukan hal-hal yang membuat hati kita jadi sakit, misalnya selalu mengeluh terhadap perbuatan kita, memerintahkan ini itu tiada henti, banyak menuntut dan sejenisnya. Maka jangan dibalas dengan kejahatan juga. Islam memerintahkan agar kejahatan dibalas dengan kebaikan. Mintalah petunjuk kepada Allah ta’ala. Perbanyak berdoa dan Anda bisa mendiskusikan baik-baik dengan suami. Namun bila sudah tidak tahan, Anda boleh bercerita kepada orang tua.

  1. Tinggal Terpisah

Tinggal di rumah terpisah adalah cara terbaik untuk menghindari konflik dengan mertua. Setidaknya jika Anda berumah tangga sendiri, kemungkinan mertua ikut campur lebih minim. Selain itu, Anda juga lebih bebas mengatur kehidupan Anda sendiri tanpa ada rasa sungkan.

Sekali lagi, tindakan ini bukan berarti memisahkan suami dari orang tuanya. Toh, Anda juga sudah berani meninggalkan rumah. Kalian bisa mencari kontrakan atau kos-kosan yang letaknya berdekatan dengan orang tua. Jadi bisa sering-sering berkunjung.

  1. Berusaha Memahami Keinginan Mertua

Daripada terus mengeluh atas tindakan mertua, mengapa Anda tidak mencoba memahami keinginannya? Cobalah memposisikan diri Anda sebagai anaknya. Bayangkan beliau adalah orang tua Anda. Dengan begitu akan terjalin ikatan yang kuat dari hati ke hati. Apabila beliau melakukan sedikit kesalahan, misal ucapannya menyakiti hati Anda maka maklumi saja. Cari tahu apa yang diinginkan beliau. Coba dekati secara perlahan, curi perhatiannya dan berusahalah menjadi pribadi yang ramah.

  1. Berbicara dengan Suami

Apabila Anda masih bingung apa yang diinginkan mertua atau mungkin Anda merasa tidak nyaman, maka cobalah berdiskusi dengan suami. Ceritakan tentang apa yang terjadi, perasaan Anda, dan apa yang Anda mau. Cobalah membuat keputusan yang adil dan tidak mendzolimi salah satu pihak.

[AdSense-A] Sebagai suami, tentunya punya tanggung jawab yang besar atas kebahagiaan istri. Suami harus bisa melindungi istrinya sekaligus berbakti pada orang tua. Suami juga tidak boleh memihak. Mana yang benar itulah yang harus dibela.

  1. Mengajak Mertua Sama-Sama Belajar Agama

Tak ada salahnya sesekali mengajak mertua untuk ikut kajian agama. Anda bisa berbicara dengan sopan dan santun. Bilang saja Anda ingin jalan-jalan bareng selagi ada waktu senggang.  Aktivitas ini bisa mendekatkan hubungan Anda dengan mertua. Selain itu, dengan belajar ilmu agama maka mertua juga akan lebih mengerti tentang bersikap sesuai syariat islam. InsyaAllah berkah sebab tujuan Anda juga baik.

  1. Berbicara dengan Orang Tua

Apabila masalah sudah terlalu runyam, dan Anda tidak mampu menyelesaikannya sendiri. Sementara suami juga berpihak pada mertua. Maka tak ada jalan lain kecuali Anda meminta bantuan kepada orang tua.Saat menjelaskan masalahnya kepada orang tua jangan sambil marah-marah, karena itu bisa menyulut emosi mereka. Ujung-ujungnya malah bertengkar. Jadi lebih baik ceritakan dengan baik-baik, gunakan bahasa yang sopan. Sebisa mungkin cobalah menyelesaikan masalah dengan cara yang damai.

Oiya, Anda juga perlu tahu bahwa menikah itu perjuangan dan pengorbanan. Tidak ada pernikahan yang cuma senang-senang aja. Pastilah ada masalah. Namun bila kedua pasangan bisa tetap berkomitmen, memegang teguh agama dan bersikap saling percaya maka insyaAllah segala permasalahan bisa dilalui dengan baik.

Jangan takut menikah sebab menikah itu ibadah. Selain itu, setiap manusia memang sudah diciptakan berpasangan. Menikah bisa membuat hati lebih tenang dan menghindarkan dari perbuatan zina. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (Qs. An Nahl: 72).

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pernah Terlibat Dalam Masalah Rumah Tangga Anaknya

Adanya batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya, bukan berarti mereka tidak boleh ikut campur sama sekali. Kita bisa melihat dari kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang pernah terlibat dalam pertikaian anaknya, Siti Aisyah radiyaallahu anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Diceritakan bahwa suatu hari Aisyah radiyaallahu anha bertikai dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sebab tertentu. Nabi pun mengusulkan untuk memanggil Abu Bakar sebagai penengah atas konflik yang terjadi. Dan Aisyah menyetujuinya.

Saat Abu Bakar tiba, ia mengetahui bahwa Aisyah telah berbicara dengan nada keras kepada Rasulullah SAW. Hal itu membuat Abu Bakar murka dan hendak menampar muka Aisyah. Hal itu membuat Aisyah merasa ketakutan, lalu bersembunyi di balik tubuh Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi pun memaafkan Aisyah. Beliau malah tersenyum dan berbicara baik-baik dengan Abu Bakar agar memaklumi Aisyah.

Selang beberapa hari, Abu Bakar datang kembali ke rumah Aisyah. Beliau merasa khawatir atas pertikaian yang telah terjadi, namun tampaknya Aisyah dan Nabi telah berbaikan bahkan bercanda bersama. Hal itu lantas membuat Abu Bakar menjadi senang.

Jadi itulah hukum mertua ikut campur dalam rumah tangga anaknya menurut padangan islam. Semoga bermanfaat dan bisa membantu kita dalam membangun rumah tangga yang berdasarkan rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia.

Hukum Istri Memarahi Suami dan Dalilnya

Kewajiban menikah memang menjadi salah satu anjuran dalam agama Islam, namun sekarang ini, seringkali kita melihat para wanita yang sudah menjadi istri memarahi atau membentak suami mereka dan dilakukan tanpa diikuti dengan rasa bersalah atau berdosa dan menganggapnya seperti hal yang biasa. Ini mungkin dilakukan karena faktor ketidaktahuan mereka atas hukum istri memarahi suami. Untuk itu, dalam kesempatan kali ini, kami akan memberikan informasi penting bagi para istri dan juga wanita yang akan menikah dan menjadi seorang istri tentang apa dasar hukum Islam dari memarahi suami tersebut dan mengetahui jika kehidupan rumah tangga menurut Islam tidaklah semudah seperti membalikan telapak tangan.

Hukum membentak atau memarahi suami adalah tidak boleh dan masuk ke dalam jenis dosa besar dalam Islam sebab suami adalah orang yang harus paling dipatuhi dan dihormati oleh wanita sebagai istrinya dan sudah menjadi kewajiban istri terhadap suami dalam Islam. Seperti yang kita ketahui jika Rasulullah SAW dalam beberapa hadits mengatakan jika sangat tinggi kedudukan suami untuk istrinya.

“Seandainya saya bisa memerintahkan seorang untuk sujud pada orang lain, pasti saya perintahkan seorang istri utk sujud pada suaminya.” (HR Abu Daud, Al-Hakim, Tirmidzi)

“Tidaklah layak untuk seorang manusia untuk sujud pada manusia yang lain. Kalau pantas/bisa untuk seorang untuk sujud pada seorang yang lain pasti saya perintahkan istri untuk sujud pada suaminya karena besarnya hak suaminya terhadapnya…” (HR. Ahmad)

“Dan sebaik-baik istri yaitu yang taat pada suaminya, bijaksana, berketurunan, sedikit bicara, tak sukai membicarakan suatu hal yg tidak berguna, tak cerewet serta tak sukai bersuara hingar-bingar dan setia pada suaminya.” (HR. An Nasa’i)

Apabila memang suami berbuat sebuah kesalahan, memang sudah seharusnya bagi sang istri untuk mengingatkan suami namun harus dilakukan dengan cara yang baik, tutur kata yang lemah lembut, tidak membentak atau menggunakan suara yang keras dan juga jangan sampai menyinggung perasaan suami sebab ada hukum istri melawan suami menurut Islam yang akan diterima apabila dilakukan.

Istri yang menunjukan sikap kasar pada suami ataupun suami yang bersikap kasar pada istri memperlihatkan jika mereka memiliki akhlak yang buruk dan juga pengetahuan yang kurang diantara mereka.

Hadits yang Berkaitan

Rasulullah SAW bersabda, Sebaik-baiknya wanita untuk suami  adalah yang menyenangkan saat diliat, taat saat diperintah, dan tak menentang suaminya baik dalam hatinya serta tak membelanjakan (memakai) hartanya pada perkara yang dibenci suaminya” (H. R. Ahmad)

Bidadari Murka Dengan Istri Yang Memarahi Suami

Apabila suami dimarahi, dibentak atau didzalimi yang merupakan ciri ciri istri durhaka terhadap suami ini, para bidadari surga akan sangat murka pada istri yang sudah memarahi suaminya tersebut.

[AdSense-B]

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya didunia, tetapi istrinya dari kelompok bidadari bakal berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu ; nyaris saja ia bakal meninggalkanmu menuju pada kami” (HR. At-Tirmidzi)

Sudah seharusnya para istri untuk menjauhi sikap dzalim pada suami sebab saingan para istri sangatlah berat dan bukan karena madu atau perempuan lain namun bidadari Allah SWT yang mensifatkannya dalam Al Quran diantara sifatnya, yakni:

  • “Sebenarnya orang-orang yang bertaqwa memperoleh kemenangan, (yakni) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya.” (QS an-Naba’ : 31-33)
  • “demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari” (QS. Ad-Dhukhan : 54)
  • “Mereka bertelekan diatas dipan-dipan berderetan dan kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli” (QS. At-Tur : 20)
  • “(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah” (QS. Ar-Rahman : 72)
  • “Didalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik” (QS. Ar-Rahman : 70)
  • “Sebenarnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan segera. Dan kami menjadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya” (QS. Al-Waqi’ah : 35-37)

Hadits Abdullah Ibnu Mas’ud Radiyallahu

“Kelompok pertama kalinya yang masuk surga, seakan muka mereka cahaya rembulan pada malam purnama. Grup kedua seperti bintang kejora yang paling baik di langit. Untuk setiap orang dari pakar surga itu dua bidadari surga. Pada setiap bidadari ada 70 perhiasan. Sumsum kakinya bisa terlihat dari balik daging dan perhiasannya, sebagaimana minuman merah bisa diliat di gelas putih.” (HR. Thabrani dengan sanad shahih)

[AdSense-C]

Dalam beberapa hadits diatas sudah dikatakan dengan jelas yakni larangan istri untuk mendzalimi, memarahi atau membentak suami sebab akan kelak akan mendapatkan saingan yang berat yakni bidadari Allah SWT sehingga sudah seharusnya sangat dijauhi dan tidak boleh dilakukan.

Apabila memang istri merasakan kemarahan yang tidak bisa ditahan, maka tetap tidak diperbolehkan untuk memperlihatkan amarah tersebut dengan emosi yang berlebihan. Alangkah lebih baik jika mengatakan istighfar dan memohon ampun pada Allah SWT sebab istighfar akan lebih meringankan hati yang sedang panas tersebut. Jangan mengikuti nafsu karena sedang emosi namun usahakan untuk menahan emosi tersebut.

Apabila dirasa sudah agak tenang, maka awali bicara dengan suami untuk mencari jalan keluar dan lakukan secara baik sambil memberikan nasehat terbaik atas kesalahan yang sudah dilakukan oleh sang suami. Demikian ulasan dari kami mengenai hukum istri memarahi suami sehingga para wanita bisa menjadi kriteria calon istri menurut Islam yang baik, semoga bisa bermanfaat dan menjadikan keluarga anda yang sakinah mawadah warahmah.

Hukum Perselingkuhan dalam Islam dan Dalilnya

Sebuah hubungan dalam ikatan pernikahan harus dipertahankan dengan baik sehingga butuh perjuangan dan juga pengorbanan besar untuk mewujudkan rumah tangga menurut Islam yang baik ataupun sebuah hubungan khususnya dalam permasalahan selingkuh. Bagi orang yang berkata jika selingkuh adalah hal indah, pada kenyataannya hanya dirasakan pada orang yang menjalani perselingkuhan tersebut. Namun bagi pasangan yang sudah dikhianati, maka hanya akan merasa sakit hati dan menderita akibat pasangan yang berselingkuh tersebut. Untuk penjelasan mengenai dasar hukum Islam mengenai perselingkuhan yang dilihat dari fungsi agama selengkapnya, bisa anda temukan jawabannya pada ulasan yang akan kami berikan berikut ini.

Pengertian Selingkuh Dalam Islam

Jika dilihat secara garis besar, maka selingkuh memiliki arti menyimpan atau menyembunyikan sesuatu hal hanya demi kepentingan sendiri dan tidak diberitahukan pada pasangan. Seseorang yang berselingkuh biasanya akan memperlihatkan tanda orang berbohong dari psikologi dan juga fisiknya.

Selingkuh atau zina dalam Islam dikenal dengan nama al khianah az zaujiyyah yang berarti seseorang yang sudah berpaling pada orang yang bukan menjadi pasangannya. Selingkuh dalam Islam memiliki arti berkhianat dan tidak memegang amanat yang sudah diberikan pada pasangannya untuk setia.

Dalil Perselingkuhan Dalam Islam

Meskipun perzinahan tidak dilakukan secara fisik, perselingkuhan dan juga perzinahan juga bisa dilakukan secara hati dan seseorang yang tidak mengerti tentang cara menjaga kesehatan hati serta pandangan mata sangat mudah terhanyut dalam hal tersebut khususnya jika sudah melibatkan fisik dalam perselingkuhan tersebut dan ini sudah jelas mengartikan jika itu adalah zina. Dalam hal ini, ada beberapa dalil agama Islam yang mengulas tentang perselingkuhan.

  1. QS. Al – Isra’ 32

Allah SWT berfirman dalam Alquran mengenai zina, “Dan janganlah kalian mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”

Dari firman diatas, sudah terlihat dengan sangat jelas jika selingkuh merupakan perbuatan yang menjurus bahkan sudah sama dengan zina dan sebagai umat muslim yang baik tentunya harus bisa menghindar dari perbuatan tersebut.

  1. HR. Bukhari dan Muslim

Rasulullah SAW bersabda melalui hadits Abu Hurairah RA, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian dari zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan hal itu tidak bisa dihindari. Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan akan membenarkan atau mendustakan semuanya.”

Dalam hadits kedua ini dikatakan jika beberapa ciri yang dapat memperlihatkan jika seseorang suami atau istri yang berselingkuh.

Bentuk Perselingkuhan Dalam Islam

Pada hadits Rasulullah SAW yang sudah ditulis diatas, ada beberapa bentuk yang bisa dikategorikan dalam bentuk selingkuh menurut Islam, yakni:

  • Pandangan yang haram: Melihat berbagai hal yang sudah diharamkan seperti contohnya lawan jenis yang lebih rupawan, gambar yang tidak senonoh, aurat dari lawan jenis dan berbagai hal lain.
  • Perbincangan yang haram: Perbincangan atau percakapan yang dilakukan dengan maksud untuk merayu atau tebar pesona serta menarik perhatian dari lawan jenis.
  • Pertemuan haram: Pertemuan yang dilakukan untuk bersenang senang dan juga hanya mencari kepuasan semata dan tidak dilakukan dengan pasangan sah.
  • Hubungan badan haram: hubungan badan atau perzinahan yang dilakukan dengan orang yang bukan pasangan sah.

[AdSense-B]

Hukum Perselingkuhan Dalam Islam

Perselingkuhan adalah perbuatan yang menjurus pada perzinahan dan bisa dikatakan perselingkuhan adalah perbuatan zina yang dilakukan secara berulang kali oleh pelaku. Perselingkuhan bisa dipastikan menjadi cara seseorang lebih cepat masuk ke dalam api neraka jika tidak segera bertaubat serta menjalankan amalan penghapus dosa zina dan ini sudah menjadi akibat yang pastinya harus ditanggung para pria atau wanita yang berselingkuh.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW berkata jika pada sebuah mimpi-Nya, ia melihat hukuman yang akan diberikan Allah SWT pada pelaku zina, “Kemudian kami berlalu dan sampai ke sebuah bangunan seperti tungku pembakaran. Perawi hadits berkata, “sepertinya beliau juga bersabda, ‘tiba  tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan’. Beliau lalu melanjutkan, ‘kemudian aku menengoknya, kemudian mendapati di dalamnya ada laki  laki dan perempuan yang telanjang. Tiba  tiba mereka didatangi nyala api di bawah mereka, dan berteriak  teriak.” Nabi bersabda, ‘Aku bertanya (kepada malaikat Jibril dan Mika’il), siapa mereka?’ Jawab keduanya, ‘laki  laki dan perempuan yang ada di tungku pembakaran, mereka adalah para pezina.’” (HR.Bukhari)

Perselingkuhan adalah perbuatan curang, penyelewengan dan juga pengkhianatan yang dilakukan seseorang pada pasangannya. Pada dasarnya, semua pengkhianatan, kecurangan dan juga penyelewengan merupakan perbuatan yang dilarang dalam agama Islam dan berikut ini adalah beberapa ayat serta hadits dari firman Allah SWT.

An-nur:4, Allah SWT berfirman, “dan orang –orang yang menuduh para wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera.”

An-Nur/24:2, “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.”

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya”. [an-Nur/24: 30-31]

[AdSense-A] Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka. [an-Nur/24: 31]

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. [al-Ahzab/33: 59]

Akibat Perselingkuhan Menurut Islam

Berikut ini terdapat beberapa akibat dari perselingkuhan dalam agama Islam, antara lain:

1. Akibat Perselingkuhan di Dunia

Akibat atau hukuman yang dilakukan untuk menebus dosa yang tak terampuni yakni zina dengan melakukan perselingkuhan adalah sangat berat yakni dengan dilempari batu sampai orang tersebut mati.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah dariku, ambillah dariku! Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. (jika berzina) perejaka dengan gadis (maka hadnya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. (Apabila berzina) dua orang yang sudah menikah (maka hadnya) dicambuk seratus kali dan dirajam.”

Apabila perselingkuhan suami diketahui istri atau sebaliknya, maka kemungkinan yang terjadi adalah saling mula’anah atau saling melaknat antara suami dan istri tersebut yang akhirnya akan menggoyahkan pernikahan dan tidak ada ruju’.

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar.

Dan juga sumpah kelima jika la’nat Allah atasnya dan bahwa orang tersebut masuk ke dalam golongan orang berdusta. Istri akan dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya sebanyak empat kali atas nama Allah dan sesungguhnya suaminya benar benar masuk dalam golongan orang dusta.

Janganlah kamu masuk menemui wanita-wanita (yang bukan mahram-pent)! Seorang laki-laki bertanya: “Bagaimana tentang kerabat suami?” Nabi menjawab: “Kerabat suami (jika berduaan dengan wanita itu menyebabkan kehancuran seperti) kematian”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Nabi bersabda: “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya, dan seorang laki-laki tidak boleh masuk menemui wanita kecuali kalau ada mahram yang menemani wanita itu”. Lalu salah seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkehendak keluar dalam tentara ini dan itu, sedangkan istriku berniat melakukan ibadah haji”. Maka Nabi bersabda: “Keluarlah engkau (berhaji) bersama istrimu!”. [HR. Bukhari, no. 1862; Muslim, no. 1341]

  • Segi Sosial

Dilihat dari segi sosial sudah terbukti jika perselingkuhan bisa berujung pada kehancuran yang disebabkan karena perselingkuhan dalam rumah tangga dan akhirnya anak anak akan merasakan dampak buruk yang ditimbulkan dari perselingkuhan dimana anak yang tidak bersalah menjadi korban.

  • Segi Kesehatan

Dari segi kesehatan, perselingkuhan akan mengakibatkan risiko yang jauh lebih tinggi terhadap sakit kepala atau dikenal dengan nama aneurisma dan ini membuktikan jika perselingkuhan akan menimbulkan tekanan atau stres bagi pelakunya.

2. Akibat Perselingkuhan di Akhirat

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kemudian kami berlalu, lalu sampai pada sebuah bangunan seperti tungku pembakaran.” Auf, perawi hadits, berkata, “Sepertinya beliau juga bersabda, “Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan.’”” Beliau melanjutkan, “Kemudian aku menengoknya, lalu aku dapati di dalamnya laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba mereka didatangi nyala api dari bawah mereka, mereka pun berteriak-teriak.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertanya (pada Jibril dan Mika-il), ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, Adapun laki-laki dan perempuan yang berada di tempat seperti tungku pembakaran, mereka adalah para pezina.”

Selain berdampak pada pelaku perselingkuhan, selingkuh juga akan memberikan pengaruh buruk pada orang atau pasangan yang menjadi korban perselingkuhan yakni mengalami masalah pada kesehatan mental.

Demikian penjelasan lengkap terkait hukum perselingkuhan dalam Islam yang haram hukumnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal A’lamin.

Hukum Istri Melawan Suami Menurut Islam

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, menjadikan mereka berpasang-pasangan supaya diantara keduanya menjadi tentram. Adanya suami dan istri tentu saja akan menimbulkan hak dan kewajiban. Tanggung jawab antara suami dan istri tentu saja ada sebagai bentuk menjalankan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama.

Walaupun dalam islam, laki-laki adalah imam atau kepala keluarga, akan tetapi bukan berarti ia bisa semena-mena dan seenaknya saja dalam mengatur keluarga tanpa nilai dan pertanggungjawaban yang baik. Seorang laki-laki tentu sebagaimana seorang yang dikatakan pemimpin dalam perusahaan, organisasi, ataupun negara. Tidak sama dengan seorang pemimpin selalu benar, dan selalu harus diikuti. Sebagai pengikut pemimpin kita pun juga harus memberikan masukan dan kritik agar berjalan lebih baik lagi.

Hal ini sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34)

Begitupun dalam keluarga. Suami dan istri memiliki hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing. Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya, yang berbeda hanyalah fungsi dan perannya saja.

Kewajiban Istri Terhadap Suami

Istri juga memiliki kewajiban terhadap suami. Walaupun seorang suami memiliki kewajiban menafkahi dan memberikan harta yang cukup untuk keluarga, istri juga memiliki peran. Wanita dalam islam juga memiliki peran dan tanggung jawab yang besar.

Tidak heran jika hadist nabi mengarakan bahwa masyarakat ditentukan oleh perempuannya. Perempuan yang menjaga aurat dan perempuan yang bisa menjadi madrasah bagi anak-anak dan keluarganya adalah wanita yang luar biasa. Mampu menjadi penyelemat umat.

Tentu saja dalam islam ada Kewajiban dalam Rumah Tangga Menurut Islam, Kewajiban Wanita Setelah Menikah Menurut Al-Quran dan Hadist, Kewajiban Laki-Laki Setelah Menikah dalam Islam, Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, dan Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam. Hal-hal tersebut dalam islam wajib dilakukan dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Berikut adalah kewajiban istri terhadap suaminya.

  1. Menjadi Pendamping yang Baik

Menjadi pendamping yang baik bukan saja hanya menjadi orang yang selalu mengikuti dan selalu mentaati apa yang dikatakan oleh suami. Menjadi pendamping yang baik adalah yang mampu menjaga dan mengembangkan suaminya dengan hal yang benar. Istri harus bisa menjadi tempat berkeluh kesah suami, memberikan saran-saran yang membangun, serta kritik yang membuat seseorang menjadi evaluasi, bukan malah menjadi down atau berhenti dalam berjuang. Misalnya saja mengingatkan suami tentang Cara Menjaga Pandangan Menurut Islam dan Cara Menjaga Pandangan Mata.

Istri yang baik tidak harus selalu menjadi lemah di hadapan suaminya. Istri harus kuat, karena cobaan dan tantangan membangun keluarga akan selalu ada. Untuk itu yang harus memiliki kekuatan bukan hanya seorang suami, melainkan keseluruhan anggota keluarga. Sering kali ini menjadi masalah, padahal istri juga manusia yang memiliki hak untuk bisa berkembang.

Baca:

  1. Memenuhi Kebutuhan Biologis dan Psikologis

Seorang istri juga harus mampu untuk memberikan kebutuhan biologis dan psikologis. Di sisi yang lain, wanita juga memiliki kebutuhan tersebut. Untuk itu, wanita yang menjadi istri juga berhak atas hal tersebut. Kebutuhan biologis dan kebutuhan psikologis adalah kebutuhan yang pasti dimiliki oleh setiap anggota keluarga. Tidak ada yang tidak membutuhkan kebutuhan tersebut.

Dalam hal ini yang terpenting adalah istri dan suami bisa terbuka, berkomunikasi, dan menyampaikan masalah, agar ketenangan batin dan hati bisa tetap terjaga. Yang terpenting dalam keluarga bukan hanya sekedar bagaimana hidup bersama, namun lebih penting dari itu adalah mampu berjuang bersama.

[AdSense-B]

  1. Membantu Peran dalam Rumah Tangga

Istri mendapatkan nafkah dan harta dari suami. Istri harus mampu untuk mengelola harta yang diberikan suaminya agar menjadi harta yang produktif dan jauh dari penggunaan yang konsumtif atau kontra produktif. Istri harus cerdas dan mampu untuk mengambil keputusan. Peran dalam rumah tangga tentu saja bukan hanya salah satunya, namun kedua-duanya.

Peran dalam rumah tangga terkadang dilimpahkan kepada istri. Sebetulnya, jika dipahami, maka suami pun juga berkewajiban membantu istrinya. Suami bukan Tuhan, yang selalu benar. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama dan semangat bersama dalam membangun rumah tangga.

Baca:

[AdSense-C]

Istri yang Melawan Suaminya

Dari kewajiban-kewajiban tersebut, maka sejatinya seorang istri memang tidak boleh untuk melawan suaminya. Sebagaimana disampaikan oleh ayat diatas, Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya, maka bisa dipahami bahwa wanita tidak boleh untuk melawan suaminya.

Istri yang melawan suami ini tentu saja kerangkanya bukan pada suami yang berlaku sewenang-wenang dan melakukan kemaksiatan. Ketaatan ini adalah dalam rangka menegakkan perintah Allah, dan juga melaksanakan perintah Allah.

Wanita-wanita jahiliah di masa lalu sering kali melakukan kejahiliahan dan kemaksiatan, untuk itu jika suaminya memberi tahu dan melarangnya untuk berbuat jahil, maka ia pun harus mengikutinya. Kerangka berpikir ini bukan hanya sekedar taat pada suami. Melainkan harus ada pertanyaan lagi: Suami yang seperti apa, suami yang melaksanakan tanggung jawab apa, dan konteks seperti apa.

Tentu saja kita tidak ingin jika melaksanakan ketataan dan memberikan kepatuhan pada suami namun pada hal-hal yang menentang pada hukum Allah dan bertentangan dengan ketetapan Allah. Untuk itu, ketaatan pada Allah adalah diatas segala-galanya dan rangka menjalankan Rukun Iman, Rukun Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan,  dan Hati Nurani Menurut Islam.

Semoga kita kelak menjadi seorang istri yang benar-benar menjalankan hukum Allah, dan meninggalkan kemaksiatan agar mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Sesunggunya hanya Allah sebaik-baik tempat untuk kembali.

Hukum Khitan Bagi Perempuan Menurut Islam

[box title=”” align=”center”]“Ibrahim ‘alaihissalam telah berkhitan dengan qadum(nama sebuah alat pemotong) sedangkan beliau berumur 80 tahun.” (HR. Bukhari Muslim)[/box]

Sejak Zaman nabi Ibrahim AS, khitan sudah diterapkan dan dilakukan di masyarakat. Hal ini tentu sangat sejalan sebagaimana sunnah yang telah Nabi Muhammad contohkan. Bagi laki-laki khitan memiliki manfaat untuk mensucikan dan membersihkan diri, serta kesehatan vital lainnya. Berikut adalah penjelasan mengenai khitan dalam pendapat islam.

Pendapat Ulama Fiqh Mengenai Khitan

Ada beberapa pendapat yang berkenaan mengenai khitan wanita dalam islam. Pendapat ini didasarkan oleh ulama yang mengambil hukumnya atau melakukan istimbath pada hukum tersebut. Tentu istimbath yang masih berdasarkan atas Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Ada beberapa fuqaha atau ahli fiqih mengenai masalah khitan. Berikut adalah penjelasannya.

[AdSense-B]

  1. Hukum Khitan Terhadap Laki-Laki

Imam Hanafi dalam Hasiyah Ibnu Abidin, Imam Maliki dalam Asy Syarhu Ash Shagir, dan Imam Syafii dalam Al Majmu, memiliki pendapat atau pandangan bahwa hukum khitan adalah wajib bukan hanya sunnah. Mereka mengatakan bahwa jika penduduk negeri sepakat untuk tidak melakukan khitan, maka pemerintah berhak untuk memerangi seperti jika masyarakat islam tidak melaksanakan ibadah shalat dan mengumandangkan adzan.

Terkait khitan terhadap wanita, pandangan ulama fiqih tersebut menyatakan bahwa hukumnya adalah sunnah. Hal ini didasarkan kepada hadist “Khitan itu sunnah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita.” (HR Ahmad dan Baihaqi).

Hukum Khitan adalah  disebutkan juga sebagai wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan. Hal ini didasarkan juga pada dalil Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah` (HR. Asy Syafi`i)

  1. Hukum Khitan Bagi Perempuan

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa khitan wajib bagi laki-laki namun tidak bagi perempuan. Hal ini sebagaimana Rasulullah pernah sampaikan “Sayatlah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.”

Untuk itu, bagi perempuan hanya dianjurkan sedikit saja dan tidak sampai pada pangkalnya. Hal ini juga berbeda sebagaimana laki-laki karena laki-laki bertujuan untuk kesucian dan kebersihan, sedangkan wanita hanya untuk kemuliaan.

Untuk itu, tidak wajib bagi wanita untuk berkhitan. Akan tetapi semuanya itu menurut para ulama dikembalikan pada budaya di tiap negeri. Apakah mereka melakukan khitan bagi kaum perempuan atau tidak. Dan untuk wanita, khitan biasanya dilakukan saat masih kecil.

Jika sudah dewasa maka, wanita tidak masalah jika tidak dikhitan. Berbeda dengan laki-laki yang masih wajib walaupun sudah dewasa. Khitan diantara laki-laki dan perempuan dapat menambah kebahagiaan dalam menjalankan Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam, Kewajiban Wanita dalam Islam.

[AdSense-C]

Tujuan dan Manfaat Khitan bagi Perempuan

Pelaksanaan khitan bagi wanita tentu saja memiliki tujuan dan manfaatnya tersendiri. Di masing-masing wilayah atau budaya hal ini juga terdapat perbedaan. Hukum Khitan Bagi Perempuan dalam islam sendiri hal ini disunnahkan. Walaupun tidak wajib atau disunnahkan akan tetapi masih memiliki manfaat. Berikut adalah tujuan dan manfaat khitan bagi wanita, sesuai dengan ajaran islam.

  1. Mengikuti Sunnah Rasulullah

Khitan ini merupakan hal yang disunahkan oleh Rasulullah SAW. Jika wanita mengikuti ini tentu ia telah mengikuti apa yang telah Rasulullah sarankan. Seorang muslim tentu akan mengikuti apa yang telah Rasulullah contohkan sebagai bentuk seorang yang mengikuti teladannya. Termasuk Hukum Khitan Bagi Perempuan. Tentu saja ini juga dapat mendukung Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam.

  1. Mengikuti Hal yang Fitrah

“Fithrah itu ada lima: Khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.“ (HR. Bukhari Muslim)

Fitrah adalah hal yang menjadi fitrah. Untuk itu, wanita yang dikhitan tentu wanita yang mengikuti hal fitrah yang diberikan Allah SWT.

  1. Mendapatkan Kemuliaan

Wanita yang dikhitan menurut Rasulullah SAW adalah wanita yang mendapatkan kemuliaan. Untuk itu, kemuliaan ini hendaklah dilakukan sejak masih kecil dan belum baligh agar setelah dewasa tidak perlu dikhitan dan merasakan kesakitan.

Manfaat Khitan dalam Kesehatan

Setiap perintah yang Allah berikan kepada manusia tentu memiliki manfaat dan tujuan tersendiri. Semua yang Allah perintahkan sejatinya bukan untuk kepentingan Allah sendiri, melainkan untuk kemaslahatan dan kebaikan manusia. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Allah dalam Al-Quran.

  • (Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS Ali Imran : 182)
  • Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS An Nisa : 40)
  • Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (QS Yunus : 44)

Untuk itu, begitupun dengan perintah berkhitan tentu memiliki manfaat dan tujuan yang baik untuk manusia. Berikut adalah manfaat khitan bagi kesehatan manusia.

  1. Menjaga Kebersihan

Khitan membuat kita terjaga kebersihannya terutama pada organ vital atau organ intim. Tentu saja dengan menjaga kebersihan ini juga akan membawa kesehatan yang baik dalam diri kita. Alat vital atau organ intim menjadi lebih bersih dan jauh dari tumpukan kotoran yang keluar dari tubuh.

  1. Mencegah Infeksi

Bagi kaum laki-laki, khitan juga bisa mencegah infeksi saluran kemih atau penyakit berbahaya lainnya yang diakibatkan dari menumpuknya kotoran atau tidak lancarnya pengeluaran melalui alat vital tersebut. Untuk itu, dengan khitan yang lebih dini, akan mencegak terjadinya infeksi.

Banyak penyakit infeksi pada pria diakibatkan karena ia belum dikhitan. Untuk itu, sebagai pencegahan dan ketaatan kepada Allah hal ini perlu dilakukan.

  1. Mencegah Penyakit HIV

Salah satu penyakit yang berbahaya adalah HIV. Dengan khitan, maka resiko terkenanya HIV lebih rendah dan dapat terkurangi. HIV tentu berasal dari seks bebas atau penularan karena berganti-ganti pasangan. Untuk itu, penyakit HIV dapat tercegah salah satunya dengan khitan.

  1. Mencegah Kangker

Dengan khitan juga bisa mencegah penyakit kangker dan potensi berkurangnya kangker serviks atau leher rahim juga bisa terjadi pada wanita. Dengan begitu, bukan hanya mencegah pada laki-laki namun juga mencegah pada perempuan. Tentu suami istri tidak ingin saling menularkan penyakit atau menyebabkan penyakit pada masing-masing.

Selain dari manfaat tersebut tentu saja khitan bisa menambah keharmonisan antara suami istri, sebagaimana Keluarga Dalam Islam, Keluarga Sakinah Dalam Islam, Keluarga Harmonis Menurut Islam, Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah yang juga dapat memberikan kebutuhan kebahagiaan dalam hubungan suami istri.

5 Kunci Rumah Tangga Bahagia Menurut Islam

Rumah tangga yang bahagia adalah dambaan setiap pasangan yang sudah menikah. Rumah tangga yang bahagia tentu tidak dapat terjadi tanpa adanya proses dan pembelajaran dari masing-masing pasangan. Hal ini dikarenakan kebahagiaan dalam rumah tangga bukanlah sebagai hasil yang tiba-tiba melainkan tahapan yang membutuhkan jatuh bangunnya usaha.

Islam sendiri memerintahkan agar manusia yang menikah hendaknya mengurus keluarganya, agar tercipta rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Tentu bukan hal mudah, namun juga bukan berarti tidak bisa. Yang jelas rumah tangga sakinah mawaddah dan rahmah adalah proses yang berkelanjutan dan harus dipertahankan bukan sekali tercapai dan terus menerus akan ada di setiap pasangan. Berikut adalah beberapa  Kunci Rumah Tangga Bahagia :

Kesatuan Rumah Tangga

Kesatuan dalam rumah tangga tentu sangat diperlukan dan harus disiapkan sebelum pasangan ini lebih lanjut menjalankan kehidupan berumah tangga. Kesatuan ini berkaitan dengan bagaimana arah dan dengan apa rumah tangga ini akan dijalankan. Hal-hal dasar ini jika tidak ditentukan dari awal, maka tidak akan membuat rumah tangga menjadi satu kesatuan yang utuh karena tidak dibangun oleh dasar atau pondasi yang kuat.

Untuk itu, hal-hal berikut adalah yang harus diperhatikan dalam membangun kesatuan dan keutuhan rumah tangga.

  1. Tujuan Berumah Tangga

Tujuan berumah tangga dari masing-masing pasangan haruslah jelas. Apa motif dan tujuannya. Adakah juga kesamaan tersebut ada. Perbedaan tujuan tentu menjadi potensi untuk meretakkan rumah tangga tersebut dan membuat rumah tangga tidak harmonis. Apa artinya jika hidup bersama namun berbeda tujuan. Untuk itu memperjelas tujuan adalah hal yang harus dilakukan agar mendapat kebahagiaan rumah tangga.

Berumah tangga juga tidak lepas dari tujuan dasar kehidupan manusia sesuai dengan konsep Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, yaitu menjalankan misi khalifah fil ard dan memakmurkan kehidupan di muka bumi.

  1. Nilai-Nilai yang Diterapkan di dalam Rumah Tangga

Sebagaimana sebuah organisasi, rumah tangga adalah seperti organisasi. Dalam menjalankan dan menggerakkan fungsinya maka harus ada nilai-nilai dan landasan yang digunakan. Hal ini berperan untuk menghidupkan budaya di rumah tangga, menyelesaikan masalah yang ada, dan lain sebagainya.

Jika tanpa ada nilai-nilai yang sama maka sulit suatu masalah dapat terpecahkan secara baik. Dalam hal ini islam memerintahkan agar kaum muslimin hendaknya menikah dengan satu agama stau sesama muslim. Selain dari agar saling memperkuat umat muslim, juga berhubungan dengan bagaimana keluarga tersebut menjalankan fungsinya.

Perbedaan agama otomatis akan mempengaruhi nilai-nilai yang ada. Untuk itu kebahagiaan akan dicapai jika nilai-nilai yang diterapkan sama dan konsisten.

Niat Ibadah

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, bahwa setiap amalan tergantung kepada niatnya. Niat yang buruk walaupun amalan terlihat baik tentu bernilai buruk dan keliru. Tentu saja hal ini tidak bisa menjadi pahala di hadapan Allah SWT.

Ada banyak niat yang dimiliki setiap orang untuk berumah tangga. Ada yang sekedar karena cinta manusia, ada yang karena harta, ada yang karena prestis, dan lain sebagainya. Tentu saja umat islam harus menjalankan rumah tangga atas niat karena ibadah. Niat ini tentunya adalah niat diatas segala niat.

Niat ibadah ini sebagaimana disampaikan Rasulullah bahwa menikah adalah menggenapkan setengah dien-agama. Untuk itu, menjalankan rumah tangga tentu saja bagian dari ibadah karena di dalamnya suami istri bisa saling membangun akhlak, mengingatkan, mensupport, menghasilkan keturunan, dan lain sebagainya.

Menjalankan Peran Istri

Kunci kebahagiaan yang juga sangat penting adalah menjalankan peran dari masing-masing suami istri, yaitu sesuai dengan Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam, Kewajiban Wanita dalam Islam. Menjalankan peran istri tentu saja menjadi kunci kebahagiaan dari rumah tangga. Peran istri ini sangat penting karena selain dari melayani dan mensupport suami, istri ini juga berperan sebagai ibu dan pendidik bagi anak-anak.

Peran istri yang menjadi kunci adalah sebagai berikut:

  • Mengelola Amanah dan Harta Suami
  • Melayani dan Mensupport Pekerjaan Suami, tentunya adalah pekerjaan yang halal
  • Sebagai ibu jika sudah memiliki keturunan, dan berperan untuk mendidik anak-anak
  • Memberikan kenyamanan dan kasih sayang pada suami, serta menjaganya dari perbuatan maksiat
  • Tidak mempersulit suami dalam menghasilkan nafkah yang halal
  • Menglola Aset rumah tangga

Peran dan fungsi di atas sangat penting dan dibutuhkan dari kehidupan rumah tangga suami istri. Jika peran tersebut tidak dilaksanakan oleh istri, maka kebahagiaan dalam rumah tangga tentunya sulit untuk tercapai. Walaupun bukan kepala keluarga, istri juga memiliki peran penting dan mempengaruhi kebahagiaan rumah tangga. Untuk itu, hal-hal tersebut, sebagai peran istri harus dijalankan dengan baik.

[AdSense-B]

Menjalankan Peran Suami

Rumah tangga juga sebagaimana organsasi yang membutuhkan pemimpin untuk mengarahkan dan mengatur rumah tangga menjadi harmoni dan sesuai tujuan. Islam menjadikan laki-laki sebagai pemimpin dari wanita.

Untuk itu, tugas-tugas dari suami adalah sebagai berikut:

  • Menjadi pemimpin keluarga
  • Memberikan nafkah dan memastikan finansial keluarga dapat terpenuhi
  • Memberikan nafkah batin pada istrinya
  • Menjadi pendidik bagi istri dan anak anaknya
  • Mengatur keluarga dengan nilai-nilai yang sudah ditetapkan sebelumnya, sesuai dengan nilai-nilai islam

[AdSense-C]

Saling Memahami dan Menutupi Kekurangan

Suami dan istri dalam rumah tangga masing-masing memiliki fungsi tersendiri, karater yang berbeda, dan juga latar belakang yang bermacam-macam. Untuk itu,dalam rumah tangga yang ingin bahagia tentu saja harus saling memahami dan menutupi kekurangan.

Setiap perbedaaan dan kekurangan maka tidaklah harus menjadi perdebaan dan menjadi hal yang membuat pertikaian atau perceraian. Masing-masing kekurangan harus ditutupi dengan kelebihan masing-masing. Tidak ada pasangan yang sempurna dan tidak ada pula rumah tangga yang pasti paling bahagia atau paling sempurna.

Semua yang ada di dunia ini pasti memiliki kekurangan atau cacatnya, karena hanya Allah lah yang Maha Sempurna. Untuk itu, jalan satu-satunya untuk dapat bahagia adalah saling memahami dan menutupi kekurangan dengan kelebihan yang ada.

5 hal tersebut adalah kunci agar keluarga atau rumah tangga mendapatkan kebahagiaan. Tentunya membutuhkan proses dan pembelajaran hingga tercapainya keluarga sesuai konsep Keluarga Dalam Islam, Keluarga Sakinah Dalam Islam, Keluarga Harmonis Menurut Islam, Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah ,

Keluarga Bahagia Menurut Islam dan Dalilnya

Keluarga adalah bagian terpenting dalam kehidupan. Setiap orang pasti mendambakan memiliki keluarga bahagia dan harmonis. Namun yang jadi pertanyaan, bilamanakah keluarga dikatakan bahagia? Apakah mereka yang memiliki banyak harta? Mempunyai suami tampan? Istri cantik rupawan? Ataukah yang dikaruniai banyak anak?

Ketika ada orang yang menikah, Rasulullah SAW selalu membaca doa “barokallahulaka, wa baroka’alaika, wajama’a bainakuma fii khoir” yang artinya “Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.”  Dari doa tersebut, kita bisa melihat bahwa Rasul tidak mengatakan supaya suatu keluarga jadi kaya-raya, melainkan agar diberkahi Allah SWT. Maksudnya berkah adalah hidupnya selalu dikarunia Tuhan, rezekinya tercukupi dan bisa membawa kebaikan.

(Baca juga: Tips Keluarga Bahagia dalam Islam dan Keluarga Dalam Islam: Pengertian dan Perannya)

Keluarga Bahagia Dalam Prespektif Islam

Tidak ada orang yang menginginkan kegagalan dalam kehidupan berumah tangga. Setiap orang pasti berlomba-lomba untuk mencapai keharmonisan di keluarganya. Sebab keluarga adalah kunci utama kebahagiaan seseorang. Keluarga bisa menjadi surga namun bisa juga menjadi neraka dunia.

Tahukah kamu, kebahagian keluarga tidak hanya bergantung pada materiil. Keluarga bahagia menurut islam adalah sebuah keluarga yang berjalan sesuai dengan akidah dan syariat agama, sehingga tercapai kehidupan yang barokah, sakinah, mawaddah, warahmah. Nah, dibawah ini beberapa tanda keluarga bahagia menurut islam:

  1. Istri yang shalehah

Laki-laki mana sih yang tidak ingin mendapatkan pasangan yang shalehah? Pastinya seorang wanita yang shalehah adalah idaman setiap lelaki. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Dunia adalah harta dan sebaik-baiknya harta adalah wanita yang shalehah.” Dari hadist tersebut, telah jelas bahwa kedudukan wanita shalehah lebih mulia dibandingkan harta di dunia.

Seorang istri shalehah mampu menciptakan surga dalam kehidupan keluarganya. Ia patuh kepada suaminya, penyabar, taat kepada perintah Allah SWT, mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama, senantiasa menjaga melindungi diri dari perbuatan maksiat, dan tidak mengumbar aib suaminya. Sungguh, suami manapun pasti akan jatuh cinta dengan istri yang shalehah. Oleh karena itu, apabila hendak mencari istri, carilah yang baik akhlaknya sebelum melihat rupa, harta, dan kedudukan wanita tersebut.

Baca juga: Cara Membahagiakan Istri Tercinta Menurut Islam dan Kriteria Calon Istri yang Baik Menurut Islam)

  1. Anak-anak yang berakhlakul karimah

Anak adalah salah satu elemen penting dari keluarga. Diriwayatkan oleh Dailami, dari Ibn Asaskir, Rasulullah SAW bersabda: “Ada empat kunci kebahagiaan bagi seseorang muslim, yaitu mempunyai isteri yang salehah, anak-anak yang baik, lingkungan yang baik dan pekerjaan yang tetap di negerinya sendiri.”

Selain memiliki istri shalehah, kriteria kebahagiaan keluarga juga diukur dari sifat sang anak. Bayangkan saja anda mempunyai anak yang bandel dan nakal, pasti ketenangan keluarga juga akan terusik. Sebaliknya, seorang anak yang dididik sesuai agama semenjak kecil,maka ia akan tumbuh menjadi generasi rabbani nan qurani. Akhlaknya pun akan baik. Kelak anak tersebut bisa menjadi kebanggaan orang tua di dunia, dan mereka juga merupakan penolong ayah ibunya di akhirat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

(Baca juga: Cara Mendidik Anak yang Baik Menurut Islam dan Pendidikan Anak Dalam Islam)

  1. Keluarga yang barokah

Ciri ketiga keluarga bahagia menurut islam adalah keluarga yang barokah. Ingat, kebahagian bukan diukur dari harta yang melimpah ruah. Tetapi bagaimana kita memanfaatkan rezeki yang ada menjadi lebih berkah. Antara suami dan istri haruslah saling bahu-membahu. Tidak apa-apa walaupun kita tak kaya, yang penting harta kita diperoleh dengan cara yang halal. Kemudian jangan lupa untuk bersedekah dan senantiasa bersyukur. Dengan demikian, jiwa kita akan lebih tentram dan kebahagian bisa diperoleh.

Di samping harta, umur dan waktu kita juga seharusnya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Hidup di dunia memang menyenangkan, tapi jangan melupakan kehidupan di akhirat karena disitulah kita akan kekal selama-lamanya.

[AdSense-B]

  1. Keluarga sakinah (Penuh Ketenangan)

Sakinah memiliki arti ketenangan, kedamaian, ketentraman, dan keamanan. Untuk mencapai keluarga sakinah yaitu keluarga yang penuh kedamaian, pasangan suami istri harus bisa menjalani hidupnya sesuai dengan prinsip keimanan, saling menyayangi satu sama lain, menerima kekurangan masing-masing, dan saling melengkapi.

(Baca juga: Keluarga Sakinah Dalam Islam dan Keluarga Harmonis Menurut Islam)

  1. Keluarga mawaddah (Saling Mencintai)

Secara bahasa, mawaddah didefinisikan sebagai  rasa cinta. Keluarga yang mawaddah berarti keluarga yang kehidupannya diliputi dengan cinta dan penuh harapan. Apabila suami-istri bisa saling mencintai, maka insyaAllah rumah tangganya akan terasa lebih indah, harmonis, dan langgeng. (Baca juga: Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam dan Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam)

Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚإِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar-Rum: 21)

[AdSense-C]

  1. Keluarga yang rahmah (Saling Menyayangi dan dirahmati Allah SWT)

Wa Rahmah merupakan kelanjutan dari mawaddah (cinta), dimana Wa berarti “dan”, Rahmah berarti “rahmat atau karunia atau anugerah Allah SWT”. Rahmah juga bisa didefinisakan sebagai kasih sayang.

Kebahagiaan keluarga akan semakin lengkap bilamana seorang suami memberikan kasih sayang kepada istrinya, menghargai, tidak membentak-bentak, dan menafkahi secara ikhlas. Begitupun dengan seorang istri, ia juga harus memberikan cinta tulus kepada suami dan anak-anaknya. Serta tak melupakan menjalankan perintah agama dan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW agar kelak kehidupan rumah tangga memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Baca juga: Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah Menurut Islam dan Kehidupan Setelah Menikah Menurut Islam)

Itulah beberapa ciri keluarga bahagia menurut islam. Semoga kita bisa membangun bahtera rumah tangga yang berprinsip pada islam, dengan tetap menjalankan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman sehingga didapatkan kebahagiaan yang hakiki. (Baca juga: Hidup Bahagia Menurut Islam: Penjelasan dan Dalil-nya dan Tips Hidup Bahagia Menurut Islam)

Kehidupan Setelah Menikah Menurut Islam

Kehidupan setelah menikah pastinya berbeda dengan saat masih single. Ada banyak perubahan yang dirasakan oleh kedua pasangan. Sebut saja sosok istri, dia yang mungkin dulunya selalu malas-malasan atau sering hang out bersama teman, setelah menikah waktunya pasti akan tersita dengan mengurus suami, anak, dan membersihkan rumah. Begitupun dengan suami yang harus lebih giat bekerja demi menafkahi keluarga.

Pada dasarnya, kehidupan setelah menikah itu tidak semudah yang dibayangkan. Terkadang di tengah-tengah pernikahan ada permasalahan dan pertengkaran yang datang silih berganti. Hal semacam itu wajar, namun bila tidak cepat diselesaikan bisa membahayakan keutuhan rumah tangga. Untuk itu, suami dan istri haruslah mengetahui kewajiban dan hak masing-masing.

Nah, bagi kalian yang hendak menapaki kehidupan baru ataupun yang telah menjalani bahtera rumah tangga, marilah kita belajar bersama-sama cara membangun keluarga yang islami agar kelak kehidupan kita bisa lebih tentram dan bahagia.

(Baca juga: Tips Keluarga Bahagia dalam Islam dan Keluarga Dalam Islam: Pengertian dan Perannya)

Menikah Menurut Ajaran Islam

Pernikahan adalah salah satu sunnah rasul yang sangat dianjurkan bagi seluruh umat muslim. Menikah itu fitrah dan merupakan sarana untuk membentuk keturunan dengan jalan yang diridhoi Allah SWT. Dengan menikah, seseorang berarti telah menyempurnakan separuh agamanya.  Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21 yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”

Untuk hukum pernikahan sendiri, ulama mengatakan bahwa menikah itu hukumnya bisa wajib dan kadang menjadi sunnah. Hal itu tergantung pada situasi dan kondisi orang tersebut. Bila orang itu sudah mampu secara finansial dan memang takut terjerumus ke dalam perzinaan, maka diwajibkan atas dirinya untuk menikah. Sedangkan untuk orang yang merasa kurang dalam segi ekonomi dan khawatir tidak bisa memenuhi nafkah, maka hukum menikah menjadi sunnah.

Walau demikian, kita tidak boleh takut miskin hanya karena menikah. Asalkan kita mau berusaha, Allah SWT pasti akan memberikan kelapangan rizki bagi seseorang yang telah berumah tangga.

 

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS An Nur : 32).

(Baca juga: Kewajiban Menikah – Menurut Al-Quran dan Ulama dan Perencanaan Keuangan Keluarga dalam Islam)

Membangun Keluarga Sakinah dan Islami

Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan kehidupan keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah, dan wa rahmah. Namun di zaman sekarang ini, rasanya cukup sulit mewujudkan hal tersebut kecuali kita bisa berpedoman pada konsep ajaran islami.

Nah, berikut ini beberapa cara membangun keluarga islami:

  1. Didasarkan dengan niatan ibadah

Sejatinya, menikah itu merupakan bentuk ibadah. Tidak sekedar menyatukan dua insan, tetapi juga mengubah sesuatu yang awalnya haram menjadi halal bahkan bernilai pahala. Rumah tangga yang dibentuk dengan niatan ibadah kepada Allah SWT,  insyaAllah bisa lebih berkah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seorang hamba (manusia) telah menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agama, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625).

  1. Dihiasi oleh sunnah-sunnah Nabi SAW

Banyak sekali orang yang membangun rumah megah dengan tujuan agar rumah tangganya lebih bahagia. Membeli perkakas yang mewah, liburan ke luar negeri, dan memuaskan kebutuhan batin setiap saat. Mereka berpikir semua itu bisa menjamin keharmonisan berumah tangga. Padahal belum tentu.

Keutuhan pondasi keluarga akan kuat bila kita mengamalkan sunnah-sunnah rasul di rumah kita. Misalnya membaca Al-Quran, bersolawat, puasa sunnah, sholat dhuha, berdzikir, dan amalan lainnya. Sungguh, akan ada cahaya yang menerangi rumah tangga kita sehingga menjadi lebih terang dan mentetramkan. (Baca juga: Sunnah Rasul Malam Jumat Dalam Islam dan Macam-Macam Puasa Sunnah dalam Agama Islam)

[AdSense-B]

  1. Memahami kewajiban masing-masing

Ketika seseorang  membangun bahtera rumah tangga, hal utama yang harus disadari adalah kewajiban sebelum ia menuntut haknya. Seorang istri, ia berkewajiban merawat suaminya serta memberikan pendidikan yang sesuai ajaran islam kepada anak-anaknya, agar kelak mereka bisa tumbuh menjadi generasi rabbani nan qurani.

Sedangkan seorang suami, mereka adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga. Tugasnya adalah membimbing keluarganya menuju jalan yang lurus. Suami harus bisa bersikap tegas demi kebaikan. Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Namun perlu diingat, suami tidak boleh kasar terhadap istri. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri diibaratkan seperti tulang rusuk. Jika diluruskan dengan paksa, tulang itu akan patah. Sebaliknya jika dibiarkan akan tetap bengkok. Oleh karena itu, suami diharuskan mengingatkan istri dengan cara yang baik dan lemah lembut.

(Baca juga: Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam dan Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam)

[AdSense-C]

Meneladani Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah suri tauladan bagi seluruh umat, baik dalam hal beribadah, bermasyarakat maupun cara beliau menjalani kehidupan rumah tangga. Rasulullah dikenal sangat lembut terhadap istri-istrinya. Bahkan pada urusan sepele sekalipun, beliau selalu berusaha menyenangkan hati istrinya. Misalnya saja, ketika sang istri memasak makanan yang hambar atau keasinan, nabi tidak pernah mengeluh namun justru mengatakannya lezat.

Di samping itu, Rasul juga tidak pernah menampakkan wajah masam di hadapan istinya. Sesulit apapun masalah yang dipegangnya, ia selalu berusaha ceria, menunjukan wajah cerah, dan terkadang bersenda gurau. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, ”Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan, memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”

Perilaku lainnya dari Rasulullah SAW yang bisa kita contoh adalah cara beliau mengekspresikan cintanya kepada sang istri. Beliau sering mencium istrinya, dan memanggil sang istri dengan sebutan-sebutan yang indah, misalnya “Ya Humairo” yang artinya “wahai si pipi merah jambu”. Bayangkan saja, kira-kira wanita mana yang tidak senang bila dipanggil “humairo”? Pastilah setiap wanita akan tersipu malu jika disebut dengan panggilan demikian.

Dijelaskan dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih).

Ya, begitulah islam mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan setelah menikah. Yaitu dengan sikap saling menyayangi, menghormati, memahami tanggung jawab masing-masing, dan tak lupa menghiasi rumah dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, serta mengamalkan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Dengan begitu, keutuhan rumah tangga bisa terjaga dengan baik.

5 Cara Membahagiakan Istri Tercinta Menurut Islam

Membahagiakan orang tercinta adalah keinginan setiap orang. Salah satunya adalah membahagiakan istri. Seorang istri tentu saja juga mengharapkan kebahagiaan yang didapatkan juga dari suaminya. Untuk itu, suami dan istri harus saling memberikan kebahagiakan.

Seorang suami, terkadang bingung bagaimana untuk bisa memberikan kebhagiaan pada istrinya. Hal ini karena ada beberapa suami yang tidak benar-benar mengetahui psikologis dan karakteristik dari istrinya. Akhirnya ia pun bingung, harus seperti apa terhadap istrinya. Padahal, istrinya mengharapkan pemberian kebahagiaan yang lebih. Berikut adalah cara-cara bagaimana membahagiakan istri dalam 5 langkah.

Rasulullah Membagiakan Istrinya

Di dalam islam, membahagiakan istri adalah juga menjadi tanggung jawab suami. Seorang istri memiliki kewajiban terhadap suami, namun suami juga wajib untuk memperlakukan istrinya dengan baik juga. Ada kalanya suami yang selalu berpendapat bahwa istrilah yang harus memperlakukan dan melayani dirinya dengan baik. Tentu hal ini tidak sesuai.

Rasulullah, adalah seorang suami yang baik. Ia menunaikan kewajiban untuk istrinya, baik dalam hal psikologis, material, dan spiritual. Seorang Nabi, ia pun juga memperhatikan betul kebutuhan istrinya dan tidak pernah berbuat kasar. Hal-hal berikut yang Rasulullah lakukan :

  • Memanggil istrinya dengan panggilan kesayangan, humairah, yaitu pipi yang kemerah-merahan
  • Menemani istrinya dan berdikusi atau bercanda dengan istrinya
  • Memberikan kebahagiaan berupa kebutuhan biologis

Hal-hal di atas adalah sebagai contoh yang telah Rasulullah lakukan. Tentunya, sebagai umat islam yang mengikuti Rasulullah, termasuk dalam membahagiakan istri pun harus kita ikuti dan contoh. Keluarga Rasulullah adalah keluarga yang didalamya masing-masing suami istri melaksanakan, Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam, Kewajiban Wanita dalam Islam.

Manfaat Membagiakan Istri dalam Pembangunan Keluarga

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(QS : Ar-Ruum:21)

Di dalam islam, Allah telah menyampaikan bahwa laki-laki diftrahkan berpasangan dengan wanita sebagai istrinya dan diorientasikan agar kehidupannya dapat merasa tentram dan nyaman dengan kasih sayang. Untuk mencapai hal tersebut, tentu saja bukanlah suatu yang mudah atau singkat. Untuk itu, membahagiakan istri adalah salah satu langkah yang dapat membentuk keluarga tersebut.

  1. Menjaga Keharmonisan Keluarga

Keharmonisan keluarga dapat tercapai jika masing-masing dari pasangan saling berbahagia dan mendapatkan kenyamanannya masing-masing. Banyak pasangan yang senantiasa bertengkar atau mengalami konflik karena berbagai masalah yang menempa dan tidak bisa menyelesaikannya. Sedangkan, konflik keluarga dapat menyebabkan pada pecahnya keluarga tersebut jika tidak mampu diselesaikan.

Dengan membahagiakan istri, istri akan merasakan kebahagiaan yang akan juga memberikan kembali kebahagiaan tersebut kepada suaminya. Istri yang tidak mendapatkan kebahagiaan akan merasa sulit dan tidak akan bisa juga memberikan kebahagiaan kepada suaminya. Untuk itu, saling memberikan kebahagiaan harus dimulai juga oleh salah satu pihak agar sama-sama memberikan kebahagiaan tersebut.

  1. Membentuk Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah adalah keluarga yang nyaman, berkah, dan penuh rahmat dari Allah. Keluarga Dalam Islam, Keluarga Sakinah Dalam Islam, Keluarga Harmonis Menurut Islam, Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah , adalah hal yang ingin dicapai oleh setiap orang. Tentu saja hal ini tidak akan bisa diperoleh jika masing-masing dari suami atau istri tidak bisa memberikan kebahagiaan atau mencari jalan untuk bisa membahagiakan masing-masing.

Untuk itu, suami sebagai imam keluarga bisa memberikan contoh untuk dapat memberikan kebahagiaan tersebut pada istrinya. Jika masing-masing sudah bahagia, maka pasti akan mudah untuk terus menerus memelihara keluarga, menggapai berkah, dan rahmat Allah. Keluarga yang tidak bahagia, selalu bertengkar, tentu saja akan sulit mendapatkan keberkahan karena yang ada dalam dirinya hanyalah emosi dan pertengkaran.

  1. Mempengaruhi Psikologis Anak-Anak

Istri yang bahagia tentunya juga mempengaruhi pada anak-anak. Seorang istri atau ibu adalah orang yang paling pertama dan sering untuk bertemu dan mendidik anak-anak. Jika seorang istri tidak bahagia tentu akan mempengaruhi anak-anak yang diurus dan dididiknya. Tidak jarang seorang ibu marah dan emosi karena ia tidak mendapatkan kebahagiaan, stress yang menerpa, dan hal lainnya yang memicu emosi.

Untuk itu, membahagiakan istri adalah salah satu jalan atau manfaatnya terhadap psikologis anak anak. Anak-anak yang tumbuh sehat salah satunya adalah karena keluarganya juga sehat dan bahagia.

[AdSense-B]

Langkah-Langkah Membahagiakan Istri

Memberikan kebhagiaan kepada istri tercinta tentu saja bukanlah hal yang sulit. Hal-hal kecil bisa membuat istri tersenyum dan bahagia. Seorang suami yang memberikan kebahagiaan tersebut, tidaklah berarti suami tersebut tidak memiliki wibawa atau kehormatan, justru akan membuat istri semakin hormat dan juga merasa bersyukur atas suaminya. Berikut adalah beberapa cara membahagiakan istri tercinta :

  1. Memberikan Kejutan

Memberikan kejutan pada istri tidaklah harus dengan hal yang mewah dan mahal. Istri diberikan bunga, makanan kesukaannya, banju baru, atau sekedar membelikan hal yang diiginkan istri juga menjadi hal yang istimewa bagi wanita. Memasakkan sesuatu untuk dirinya dengan hasil tangan sendiri juga menjadi hal yang istimewa bagi istri.

  1. Menggantikan Tugas-Tugasnya

Menggantikan tugas-tugas istri seharian atau membantu tugasnya di rumah adalah hal yang juga membahagiakan bagi istri. Misalnya saja, membantunya memasak, membersihkan rumah, merapihkan kamar, dan lain sebagainya. Satu hari menggantikan seorang istri bekerja di rumah tentu saja membuat istri menjadi bahagia.

Tugas-tugas istri tentu saja bisa digantikan suami karena sama-sama bagian dari Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam.

[AdSense-C]

  1. Memuji dan Bersikap Romantis

Memuji dan memanggilnya dengan panggilan yang romantis tentu saja membuat istri akan bahagia. Hal ini biasanya jarang dilakukan oleh mereka yang sudah lama berumah tangga. Melakukan hal ini akan membuat istri bahagia dan merasa dihargai selayaknya seorang wanita dan istri yang baik. Tentu saja mereka membutuhkan hal ini, atas apa yang telah dilakukannya sehari-hari untuk suami dan keluarganya.

  1. Meluangkan Waktu Bersama

Meluangkan waktu bersama adalah hal yang dapat juga membahagiakan istri. Hal ini misalnya saja berjalan-jalan bersama, berdiam di rumah sambil berdiskusi atau mengobrol atau bercerita, dan lain sebagainya. Terkadang keharmonisan keluarga tidak timbul hanya karena-karena minimnya waktu bersama dan kurangnya waktu untuk masing-masing memberikan kebahagiaan.

  1. Melakukan Pendidikan yang Baik

Melakukan pendidikan yang baik untuk istri adalah salah satu yang dapat membahagiakan mereka juga. Tentu saja, pendidikan pada seorang istri adalah kewajiban dari seorang suami sebagai imam keluarga. Sebagai seorang imam keluarga tentu saja melakukan pendidikan pada istri harus dilakukan secara baik, lembut, dan tidak boleh bersikap kasar.

Pendidikan suami terhadap istri yang shalehah tentunya adalah yang diharapkan dari mereka. Menanamkan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman adalah bagian dari kebahagiaan istri shalehah.

6 Tips Keluarga Bahagia dalam Islam

Keluarga adalah bagian dari hidup yang sangat penting posisinya bagi kita. Dalam keluarga lah akan muncul keturunan, potensi untuk berkembang, menghidupi diri, bekerjasama dengan suami istri, dan juga muncul cinta dan kasih sayang. Tentunya keluarga lah tempat pertama dimana kita akan meminta bantuan dan menyelesaikannya.

Keluarga juga menjadi bagian dari proses mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam .

Keluarga yang baik dalam islam tentunya harus sesuai dengan bagaimana nilai-nilai islam. Dengan mengikuti aturan islam, akhirnya adalah kebahagiaan yang dicapai. Hal ini sebagaimana disampaikan Allah dalam ayat berikut, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS:  Ar-Rum : 30)

Untuk bisa mencapai keluarga bahagia tersebut, berikut adalah tips cara membangun keluarga yang bahagia, sesuai dengan landasan dan nilai-nilai islam.

Membangun Keluarga Bahagia dalam Islam

Setiap orang yang membangun keluarga tentunya menginginkan kebahagiaan. Tidak ada satupun orang yang menginginkan keluarganya hancur dan berantakan. Walaupun ada berbagai ujian dan cobaan yang menerpa, tentu saja keluarga muslim harus dapat mengatasinya. Untuk itu, agar mencapai kebahagiaan tersebut berikut adalah tips keluarga bahagia dalam islam :

  1. Membangun Kekuatan Keluarga dengan Visi Ketauhidan

Ketauhidan adalah nilai dasar yang harus ada dalam diri seseorang ketika akan membangun keluarga. Ketika keluarga tidak dibangun atas landasan atau visi ketauhidan, maka keluarga tersebut juga tidak akan menjalankan kehidupan berkeluarganya dengan nilai-nilai yang sesuai islam. Untuk itu, membangun visi ketauhidan adalah hal yang harus dilakukan sebelum menikah dan seterusnya selama masa pernikahan atau berkeluarga dilakukan.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan dalam Al-Quran, bahwa Allah adalah segala tempat untuk kembali dan tidak boleh ada yang dapat menjadikan hal lain sekutu atau penentang Allah, termasuk dalam hal keluarga. Keluarga yang mengikuti aturan Allah, tentu saja akan mendapatkan keberkahan dan keselamatan dunia dan akhirat.

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 22)

  1. Membangun Podansi Keluarga dengan Cinta dan Kasih Sayang

Rasa cinta dan kasih sayang ini adalah sebagai alat untuk dapat bersama-sama pasangan membangun Keluarga Dalam Islam. Jika tanpa cinta dan kasih sayang, tentu saja satu sama lain tidak akan bisa berkorban dan memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Untuk itu, pasangan suami istri harus senantiasa mencari jalan dan cara untuk senantiasa merawat dan memupuk cinta atau kasih sayang yang tercurah untuk keluarganya.

 “Di antara tanda- tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, sehingga kamu merasa tenteram (sakinah) dengannya, dan dijadikan-Nya diantara kalian rasa cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Dan di dalam itu semua terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS: Ar-Ruum : 21)

Dalam hal ini, menumbuhkan cinta dan kasih sayang tentu harus dilakukan oleh pasangan suami istri. Bentuk dan teknisnya, tentu bergantung kepada masing-masing kebiasaan dan karakter diri.

[AdSense-B]

  1. Membangun Potensi Ekonomi

Ekonomi atau financial keluarga adalah hal penting yang harus dibangun oleh keluarga. Tanpa ekonomi tentu saja akan sulit berkembang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Banyak sekali pasangan yang bercerai, keluarganya retak, dan berakibat kepada kelangsungan hidup serta anak-anaknya karena masalah ekonomi. Untuk itu, kekuatan ekonomi harus menjadi pondasi dari keluarga, agar sejahtera dan bahagia. Salah satu caranya dengan membuat Perencanaan Keuangan Keluarga.

Namun, tentunya tidak perlu mengkhatirkan bagaimana rezeki itu datang. Allah akan memberikan rezeki, potensi ekonomi, dan kecukupan bagi orang-orang yang berpikir dan berusaha sebaik-baiknya dengan jalan yang halal. Untuk itu, sebagaimana disampaikan dalam ayat berikut,

“Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (QS Saba : 24)

  1. Selalu Berusaha Menunaikan Hak Lahir dan Batin Pasangan

Masing-masing pasangan, baik suami atau istri harus dapat menunaikan hak-hak dari pasangannya masing-masing. Hal ini pun juga menjadi hal yang dapat mengatur kebahagiaan dalam keluarga. Hak lahir dan batin tentu saja bukan tugas dari salah satu pihak saja melainkan keduanya karena keluarga dan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama.

Untuk itu, masing-masing harus pintar memahami dan memenuhi apa yang diinginkan oleh masing-masing. Keinginan dan kebahagiaan dari masing-masing sangat mempengaruhi terwujudnya Keluarga Sakinah Dalam Islam  dan Keluarga Harmonis Menurut Islam. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Allah dalam Al-Quran,

“Dan pergaulilah pasanganmu dengan ma’ruf (baik). Apabila kamu tidak menyukai (salah satu sifat) mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (di sisi lain)”. (QS. An-Nisa:19).

[AdSense-C]

  1. Memberikan Manfaat untuk Lingkungan

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. (QS Al-Isra :26)

Jika keluarga memiliki potensi ekonomi atau energi lebih, tentu saja hal ini bisa dioptimalkan untuk membantu sesama. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam ayat diatas bahwa harta jangan dihambur-hamburkan dan dikeluarkan secara boros. Lebih baik dioptimalkan untuk kebermanfaatan lebih di lingkungan masyarakat.

Banyak keluarga yang hanya membesarkan keluarganya saja tanpa memperdulikan orang lain atau keluarga yang kekurangan. Tentu hal ini menjadi kewajiban keluarga yang mampu agar dapat membantu sesamanya. Untuk itu, kebersamaan dalam keluarga dan saling menyayangi akan semakin kuat antar suami istri, jika dalam keluarganya penuh keberkahan.

  1. Evaluasi dan Saling Membenahi Diri

Akhlak dan kesabaran menghadapi perjuangan rumah tangga adalah hal yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan suami istri. Keluarga, baik suami, istri, ataupun anak-anak sejatinya adalah ujian. Tidak selalu keluarga akan mendapatkan kebahagiaan dan juga tidak selalu sulit. Untuk itu kesabaran dan istiqomah memegang visi adalah hal yang harus dilakukan.

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS : Ath-Taghabun : 14-15)

Saat seperti ini terjadi, masing-masing dari pasangan harus memperbaiki diri, mengevaluasi diri, dan tentu membangun bersama satu sama lain. Bukan dengan cara menghina, merendahkan pasangan, apalagi membuatnya sakit hati, terluka yang dapat memicu Konflik dalam Keluarga.